"Siapa...? —kau siapa?"
"Eh?"
"...?"
"Maaf, Namikaze Temari ada?"
"Kau temannya nee-chan?"
"Iya..."
"Nee-chan bakal di rumah Inoichi-jiichan sampe minggu depan."
"Aa... mendokusei~"
"Oh, ya."
"Hn?"
"N-na... namaku Ino! Yoroshiku!"
太陽のMelody
[Senandung Sang Surya]
©Andromeda no Rei
.
Standard Desclaimer Applied
.
.
Warning :
Alternate Universe, (a little)OOC, Typo, (maybe)Fluffy, aneh-ngaco-abal
.
.
Simfoni ke-3 :
Hari Itu...
.
.
.
Konnichiwa~ Namikaze Ino di sini. Masih ingat, 'kan? Aku seorang gadis belia cantik dari keluarga Namikaze, seorang kakak-lima-menit dari Namikaze Naruto, dan juga salah satu cewek populer di sekolah—meski nggak sepopuler beberapa senior, sih. Ah, tapi aku cukup bahagia jadi diriku.
Hari ini nggak jauh beda dari hari-hari sekolah seperti biasanya. Mungkin agak menantang karena seharian ini aku harus menguntit seorang kakak kelas—lebih tepatnya ketua OSIS kami. Baiklah, menguntit bukan pilihan kata yang bagus. Aku nggak mau dibilang stalker! Tapi memang aku sedang memata-matai dari jauh, sih.
Ada yang bertanya kenapa aku harus mengikuti Hyuuga Neji-senpai seharian ini? Karena cowok yang memiliki rambut bak iklan shampoo itu gebetanku? Bukan! Ini misi yang kubagi rata dengan kembaranku, Naruto.
Ah, sebenarnya mudah saja deketin Neji-senpai dengan client kami, Tenten-senpai—yang notabene pernah satu kelas dengan ketua OSIS. Kupikir dengan Hinata memberikan nomor ponsel kakaknya itu, semua bakal beres. Tapi ternyata nggak sama sekali! Hinata nggak mau memberitahu nomor Neji. Lebih tepatnya nggak bisa. Cewek pemalu itu bilang Neji memberinya amanat untuk nggak sembarangan memberitahu nomor ponselnya pada siapa pun tanpa izin dari si empunya.
Hee... pelit sekali~
Tapi wajar saja, ya. Neji-senpai 'kan ketua OSIS yang kepopulerannya di atas rata-rata. Nggak sedikit makhluk yang memujanya di sekolah ini. Dan hampir setiap saat dia dilirik—bahkan dibuntuti—oleh penggemarnya hanya untuk sekedar melihat mata keperakan dan rambut indahnya! Oh, yang benar saja.
Lalu bagaimana denganku?
Sejak jam makan siang tadi aku terus mengekorinya—seperti anak ayam yang mebuntuti ke mana pun induknya berjalan. Hahh menyebalkan! Aku jadi kayak fangrils menggelikan itu! Hei—aku 'kan juga punya gebetan—oops!
Lupakan.
"Ada yang bisa kubantu, Namikaze?"
Suara Neji-senpai cukup menyadarkanku akan posisi yang seharusnya kusembunyikan. Sial—aku ketahuan.
"A-aa... Ng-nggak ada kok, Senpai," jawabku sambil berusaha terlihat sewajar mungkin. Kumainkan helaian rambut pirang yang menutupi sebagian wajah kananku dan tersenyum semanis mungkin. "Aku mau ke ruang klub ikebana."
"Semua ruang klub ada di gedung sebelah." Neji-senpai berujar dengan suara beratnya yang terdengar berwibawa. Ia bersedekap. "Ini koridor menuju ruang OSIS."
Ino bodoh! Ino bodoh!
"Aa... benar juga, ya." Aku menggaruk pipi tembemku yang nggak gatal. Sedikit gugup karena kecerobohanku dalam memilih alasan. "Kalau begitu aku permisi dulu, Senpai. Terima kasih," ucapku seraya membungkukkan badan dan beranjak dari tempat itu.
Nggak.
Aku nggak sepenuhnya beranjak. Aku bersembunyi di balik belokan koridor utama, memperhatikan Neji-senpai sampai ia sudah nggak menyadari keberadaanku lagi dan kembali melangkahkan kaki menuju ruang OSIS.
Dan saat itulah aku melihatnya.
Siluet seseorang berambut merah muda, berjalan tergesa-gesa dari arah berlawanan, dan berhenti tepat di depan pintu ruang OSIS—di mana Neji-senpai masih berdiri—sambil sedikit terengah-engah.
Itu Haruno-senpai.
Ia tersenyum kecut pada Neji-senpai dan membungkukkan badannya beberapa kali. Mungkin minta maaf atas keterlambatannya.
Tangan kanan Neji-senpai bergerak perlahan, meraih pucuk kepala Haruno-senpai dan mengusap-usapnya pelan. Cowok bermata lavender itu tersenyum tipis dan menggumamkan sesuatu nggak jelas.
Tunggu.
Hyuuga Neji—tersenyum? Tipis?
Dan pandangan matanya itu...
—HELL NO!
.
.
"SASUKE-KUUUUUUUNNN~~!"
"Berisik! Jangan teriak-teriak pake toa napa sih, Ino?" gerutu Naruto ketika aku menghampirinya dan Sasuke yang sedang bersantai di halaman belakang sekolah.
Dan itulah saat ketika aku menemukan sosok lain bersama mereka. Seorang cewek berpostur tinggi dengan model rambut brunette yang dicepol layaknya telinga panda. "Eh? Tenten-senpai di sini juga?"
"Konnichiwa, Ino~" sapa Tenten-senpai sambil tersenyum dan melambaikan tangan kanannya. "Iya nih, lagi ngobrol sama Naruto dan Uchiha."
Aku menelan ludah. Pelipisku sekarang terasa agak nyeri. Kuperhatikan Naruto yang menatapku dengan sebelah alis terangkat, dan Sasuke yang hanya melirikku sekilas sebelum kembali bergelut dengan buku kimianya.
Ini nggak baik. Ini jelas-jelas bukan keadaan yang baik! Aku datang membawa kabar buruk dan sekarang dua orang yang seharusnya nggak mendengar kabar ini malah berkumpul! Kami-sama, aku cuma ingin membantu~ Tapi kenapa malah jadi serumit ini, sih?
Sasuke melirik arloji hitam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya dan menutup buku kiminya. Tangan kanannya bergerak menaikkan frame kacamatanya yang melorot. Ia hendak pergi.
"Kau mau ke mana, Sasuke-kun?" tanyaku pelan.
Sasuke menoleh ke arahku sejenak sebelum akhirnya meraih beberapa buku tebal yang dipinjamnya di perpustakaan. "Ruang OSIS. Ada janji sama Aburame," jawabnya santai.
"JANGAN!" seruku sambil menarik lengannya agar tak beranjak dari tempatnya berdiri.
"Hn?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya.
Naruto mengernyit. "Memangnya kenapa, Ino?"
"Di sana—aa, maksudku Shino-kun ada di perpustakaan kok!" kulepaskan lengan Sasuke dan mengusap-usap tengkuk sambil nyengir kuda. Sial. Aku nggak jago akting. "Iya, di perpustakaan. Benar. Tadi aku ketemu kok. Hehe..."
"Masa?" Sasuke menatapku curiga. "Tadi aku disuruh ke ruang OSIS dulu."
"Aku juga nggak tahu, Sasuke-kun. Tapi bener kok, tadi aku melihatnya di perpustakaan."
"Hn, ya sudah." Sasuke bergumam kemudian tanpa protes lagi melangkahkan kaki menuju gedung perpustakaan.
Aku menghela napas lega. Paling nggak, Sasuke nggak harus melihat kedekatan Neji-senpai dan Haruno-senpai yang agak ganjil.
"Ino?" Tenten-senpai menegurku.
"Ya, Senpai?"
"Gimana? Kau sudah dapat nomor hape Neji?" iris coklat Tenten-senpai berbinar-binar. Tampak sekali dia mengharapkan hal yang baik untuk didengar. Aku jadi merasa sedikit bersalah.
"Gomen-nasai, Tenten-senpai," ucapku pelan sambil menunduk lesu. "Belum berhasil kali ini. Aku benar-benar minta maaf."
"Ah, nggak pa-pa, kok!" Tenten-senpai tersenyum lebar dan berdiri—merapikan roknya yang agak kusut dan penuh rumput. "Aku harus kembali ke ruang klub sekarang. Makasih ya, Naruto, Ino! Sampai nanti~" serunya seraya melambaikan tangan dan berlari ke arah gedung utara. Tubuh tingginya semakin menjauh dan menghilang di balik pintu besar.
Aku menghela napas panjang dan menjatuhkan diri di sebelah Naruto. Ia mengaduh kecil ketika tanpa sengaja kududuki tangan kirinya, men-deathglare-ku sejenak.
Aku merangkak dan duduk menyandarkan punggungku pada punggung Naruto. Membenturkan belakang kepala kami hingga terdengar bunyi 'duk' pelan. Kami mendongak—menatap awan yang berarak dengan ringannya di langit sana.
Ah, kalau sudah saling diam seperti ini rasanya jadi kangen sama kaa-chan. Dulu, kami berempat suka sekali bermain di padang rumput di dekat hutan di belakang rumah Tsunade-baachan, nenek kami. Kalau sudah lelah, kami tiduran di bawah pohon oak sambil memandangi langit. Lalu kaa-chan bakal datang membawa buah-buahan segar dan menyanyikan lagu tentang awan sampai kami tertidur pulas. Dei-niichan dan Temari-neechan biasanya tidur bersandar pada masing-masing bahu kaa-chan. Dan aku dan Naruto tidur dalam pangkuannya.
Meski sederhana, kami sangat bersyukur.
Karena saat-saat itu—
—nggak mungkin terulang lagi.
"Ino..."
Suara Naruto membuyarkan lamunanku.
"Hnn~ ada apa, Naruto...?"
"Tadi kenapa?"
"Cuma khawatir sama Sasuke-kun dan Tenten-senpaii, kok."
"Cuma?"
"Aa... Nggak—maksudku... Haahh... Sepertinya Neji-senpai dan Haruno-senpai cukup dekat."
"Eh?"
"Serius. Kalau nggak segera diselesaikan, Sasuke-kun dan Tenten-senpai bakal kehilangan harapan."
"Sepenuhnya."
"Ya, sepenuhnya."
"Haaahh... ada-ada saja."
"Kau sendiri Hinatanya gimana, bodoh?"
"Entahlah, Ino..."
"Ck, terdengar seperti keputusasaan."
"Aku takut..."
"...?"
"...takut kalau nanti Hinata malah membenciku."
"Dasar bodoh."
"Ino..."
"Hinata nggak bakal membencimu, tahu."
"Kau nggak mengerti, Ino~"
"Kau yang nggak mengerti."
"Eh?"
"Aku cewek kok. Aku sama halnya dengan Hinata."
"..."
"Aku tahu bagaimana rasanya."
"Aku..."
"Jadi kalau aku bilang Hinata nggak bakal membencimu, itu sudah pasti."
"Apa itu juga yang kau rasakan terhadap Shikamaru-nii?"
"..."
"... Ino—"
"IYA."
Hei, air mata—kumohon jangan meleleh. Nggak sekarang. Aku mohon...
"Kau menangis lagi... Ino..."
Kurasakan tangan Naruto meraih pundakku dan menekannya lebut. Entah sejak kapan, tangan kanannya bergerak—menghapus jejak sungai kecil di pipiku dan mencubitnya pelan. "Shakhiiiittt... Naruto~"
"Percuma menyembunyikan semua dari adik kembarmu yang ganteng ini, tahu." Naruto semakin ganas mencubit pipi kananku. "Dasar bodoh."
"Khau jugha bodoo~"
.
.
.
"Waa... Dan-jiichan sama Tsunade-baachan dekat sekali, yaa~"
"Iyaa~ Sepelti kaa-chan dan too-chan."
"Itu karena jii-chan dan baa-chan adalah orangtua too-chan dan kaa-chan."
"Eh? Apa nanti Ino juga jadi sepelti itu, Kaa-chan?"
"Tentu saja, Ino-chan..."
"Naluto juga, Kaa-chan?"
"Iya, Naruto-kun..."
"WAA..."
"Nanti kalau kalian sudah besar, kalian akan punya teman yang banyak. Lalu punya teman yang paling istimewa di antaranya."
"Benalkah?"
"He'em... Tapi, Naruto-kun dan Ino-chan nggak akan bisa melihat pelangi tanpa adanya hujan."
.
.
.
DEIDARA-NIICHAN NO BAKA!
Tiba-tiba saja ia menelpon saat pulang sekolah dan menyuruhku untuk membeli beberapa roti dan kue di Bakery di pusat kota. Sedangkan Naruto janjian main game di rumah Kiba sama Chouji dan Sora. Jadi aku harus pulang jalan kaki. Menyebalkan!
Lalu apa lagi yang lebih buruk dari ini?
ZRAAAAAAAAASSSSSSHHHH
Langit yang tadinya biru cerah, kini berubah drastis menjadi kelabu gelap—lengkap dengan siraman hujan deras yang mengguyur seluruh kota. Hebat.
Aku nggak bawa payung.
Terjebak di toko roti di pusat kota.
Dan hanya bisa pasrah menatap rinai hujan membasahi trotoar dan jalan raya, membuat bagian dalam kaca toko sedikit berembun.
Berharap hujan akan berhenti secepatnya.
Namun saat itulah langit terdengar marah. Awan cumulus yang tadinya hanya kelabu, kini semakin menghitam dan tebal. Tetesan air yang berlomba turun ke bumi itu pun semakin cepat, semakin deras. Seolah menertawakanku yang terjebak di tempat yang beraroma ragi itu.
"Haahh... Hujan sialan," umpatku pelan. Kueratkan genggaman pada kantung plastik roti dan memutuskan untuk menunggu sampai hujannya benar-benar reda.
Tapi rasanya benar-benar membosankan. Aku ingin cepat-cepat pulang dan memarahi nii-chan—dan Naruto juga kalau perlu! Kenapa pula di saat-saat seperti ini cowok mirip rubah itu nggak nongol? Heh, awas saja nanti kalau kubocorkan semua rahasianya pada Hinata!
"Ino?"
HE? Suara itu 'kan...
"Ino, ya?"
Suara itu lagi. Kok bisa...?
Aku menoleh pelan, mendapati seorang cowok bertampang bete dengan rambut hitam yang diikat tinggi membentuk buah nanas. Mata gelapnya yang sipit menatapku intens, seakan menyusuri setiap ombak biru pada kedua irisku.
Shikamaru-nii...
"Aaa... Iya. Selamat sore."
DIG DAG DIG DUG
Shikamaru-nii masih menatapku dengan ekspresi ngantuknya. Eh, tunggu dulu. Sejak kapan dia ada di sini? Kapan masuknya? Kok tiba-tiba nongol—
"Kau menunggu siapa?" tanyanya pelan. Sebelah tangannya bertengger di dalam saku celana jeans-nya, dan satunya lagi menenteng bungkus plastik roti kecil. Tas slempang berwarna lime melingkar di bahu kekarnya. T-shirt biru laut yang dikenakannya tampak sedikit kedodoran.
DIG DAG DIG DUG
"Nunggu hujannya reda," jawabku seraya menggeleng pelan dan menatap ke luar kaca toko. Aduh, sepertinya pipiku menghangat. Apa-apaan ini? Memalukan sekali kau, Ino~!
"Ayo pulang sama-sama. Aku bawa payung."
HEEEEEEEEE~~?
APA KATANYA TADI? Pulang sama-sama? Kami-sama, ini Shikamaru-nii yang mengatakannya! Oke, tenanglah Ino, tenang. Bertingkah wajar, dan jangan norak.
Bibir merah mudaku melengkung, membentuk seulas senyum girang. "IYA!"
Dan—apa itu? Sudut-sudut bibir Shikamaru-nii terangkat. Jika aku nggak salah lihat, sebuah senyum tipis terkembang di wajah tampannya. Dan jika aku nggak salah mengartikan, senyuman itu ditujukannya untukku.
Ya.
Hanya untukku.
Bukan nee-chan.
—paling nggak, untuk saat ini saja.
.
Tahukah dia bahwa itu semua sudah cukup memekarkan kembali bunga yang telah layu
—dalam sanubariku?
.
.
.
Kami berjalan beriringan di bawah payung hijaunya menyusuri jalanan yang sudah agak sepi. Ah, padahal ini masih sore. Orang-orang pasti merasa malas untuk keluar rumah yang hangat dan nyaman karena sejak tadi hujan nggak juga berhenti.
Dingin. Sebenarnya udara cukup dingin dan menusuk kulitku yang hanya berseragam sailor musim panas yang cenderung pendek. Tapi entah kenapa, di dekat orang ini—Shikamaru-nii—rasanya jadi lebih hangat. Apa karena panas tubuhnya yang memancar sampai padaku, ya?
Kami berjalan dalam diam.
Shikamaru-nii bukan tipe yang suka membuka topik awal pembicaraan. Dia juga bukan tipe yang suka menanggapi hal-hal yang menurutnya nggak penting—meski bagi orang lain cukup bermasalah.
Tanpa sadar, aku terus memperhatikannya. Memperhatikan lekuk wajahnya yang oval dengan garis rahang tegas yang menunjukkan dia telah dewasa. Tatapan matanya sayu, seolah dunia ini adalah hal paling membosankan dalam hidupnya. Rambutnya hitam lurus, terikat mencuat di puncak kepalanya.
Entah bagaimana aku jatuh hati pada orang aneh ini.
Orang yang pertama kali kukenal melalui sebuah foto di kamar nee-chan beberapa tahun lalu. Ya, hanya karena sebuah foto berbingkai kayu ukir sederhana. Dan itu cukup menarik perhatianku. Sejak saat itulah, aku hanya bisa terus melihatnya dari kejauhan.
Suka.
Nggak lebih—kurasa.
Pada teman istimewa kakak perempuanku sendiri.
Kaa-chan, aku salah nggak, ya?
"Oi."
Sedikit tersentak mendengar teguran Shikamaru-nii, aku mendongak—menatapnya sedikit gugup. "Y-ya?"
"Jarimu berdarah, tuh," ujarnya sambil menunjuk tangan kananku yang sedari tadi bertengger mengelus-elus dagu tak berjenggotku.
"EH? Ah, aku lupa!" ternyata jari tengahku berdarah. Hn, bagaimana aku bisa lupa belum mengobatinya tadi? "Ini tadi karena bantuin anak-anak klub bisbol bikin spanduk. Ketusuk, deh."
"Jilat saja, nanti juga sembuh."
"Nggak mau ah."
"Hahh... merepotkan," gumam Shikamaru-nii entah pada siapa. "Sini."
Tanpa aba-aba, ia menarik tangan kananku ke dekat mulutnya dan mengemut pelan luka goresan pada jari tengahku. Pelan, dan singkat.
Tapi—
PEEEEEEEEESSSSSSSHHHHH
HIYAAAAA~~ APA-APAAN ORANG INI?
Nggak sadar apa dia baru saja melalukan sesuatu yang bisa bikin jantungan? Kalau aku kena serangan jantung mendadak trus mati dan gentayangan gimana? Memangnya dia mau tanggung jawab? Astagaaa~ perasaanku campur aduk antara bingung, senang, susah, kaget, dan saaaangat nggak percaya!
"Sudah," ucapnya sambil melepaskan tanganku dari genggamannya.
Merah.
Mukaku pasti sudah merah banget!
Semerah tomat kesukaan Sasuke, semerah lobster dan udang rebus, semerah selai stroberi, semerah bunga camellia yang ditanam kaa-chan di halaman, dan bahkan semerah darah yang mengalir dari ujung kaki ke ujung kepala—eh salah, maksudnya dari jantung ke seluruh bagian dalam tubuhku!
"A-a-a... a... ari-ariga...to..."
Aku nggak sanggup menatapnya lagi.
"Oi, ayo jalan lagi," tegurnya pelan. "Tinggal dua blok lagi kok."
"I-iya..."
.
.
.
Kami berhenti di depan rumah sederhana berpagar kayu setinggi satu meter itu. Rumahku. Rumah bercat putih pucat dengan dua lantai. Di halaman depan tumbuh pohon kenari besar yang dahan-dahannya bercabang hingga ke dekat jendela loteng. Kediaman sederhana kami, tempat yang selalu menjadi tujuan setiap anggota keluarga Namikaze untuk pulang.
"Terima kasih banyak, Shikamaru-nii," ujarku seraya membungkuk kecil ke arah Shikamaru-nii, sedikit berusaha menyembunyikan wajahku yang sepertinya masih saja merona.
"Ya," katanya singkat. Ia membalikkan badan, hendak pergi.
"Ano... Kau nggak mau mampir dulu?" tanyaku takut-takut.
Shikamaru-nii membalikkan kembali badannya. "Nggak usah. Aku mau pulang saja."
"Aa... baiklah~"
"Hn, jya na~" ucapnya pelan sambil melambaikan sebelah tangan dan melangkah pergi. Punggungnya yang tegap semakin menjauh. Jauh.
Dan terus menjauh.
Hingga akhirnya menghilang dari pandangan.
Detik itu juga aku baru sadar; hujan telah berhenti. Langit telah bersih, kembali biru seperti hari-hari cerah lain di musim panas. Mata saphire-ku mengarah pada hal indah lain di sebelah timur. Di sana, di atas bukit—melengkung dengan menakjubkannya spektrum pelangi menuju horizon.
Kedua sudut bibirku terangkat, mengembangkan senyum lebar.
Aku ingin tertawa lepas. Menertawakan kebodohan diriku sendiri.
Karena sebenci apa pun aku pada hujan, pada akhirnya rinai-rinai itu pulalah yang bisa membuatku kembali tersenyum—dan sangat bersyukur karenanya.
"Kau nggak akan bisa melihat pelangi tanpa adanya hujan."
Aku berlari-lari kecil menerjang pagar rumah, membuka pintu depan dan merapikan sepatuku di genkan. Kulirik foto kaa-chan yang masih terpajang rapih di meja dekat getabako. Masih cantik, masih tersenyum.
"Ne, Kaa-chan." Senyum lebar masih terlukis jelas pada wajahku. "Mau dengar ceritaku hari ini nggak?"
"Nii-chan juga mau dengar dong, un~"
Deidara-niichan muncul dari balik pintu utama sambil tersenyum jahil. Kedua lengannya bersedekap di depan dada.
"Nii-chan! Oke, nanti malam saja, ya!"
"Ahahaha... mentang-mentang lagi senang, un~"
"Biarin! Wek."
"Dasar! Mana rotiku, un?"
"HE?"
"Rotiku, INO-CHAAANN~"
Duh, aku lupa tentang 'itu'.
"HUAAAAA MAAF, NII-CHAN! KETINGGALAN DI BAKERY!"
"UAPAAAHH~?"
.
.
.
Ponselku berdering ketika aku sedang berkutat dengan majalah fashion langgananku di atas single-bed. Kuraih ponsel flip oranye yang bertengger nggak jauh dariku itu dan membukanya. Ternyata sebuah email dari—he? Sasuke-kun?
From : Sasuke-kun
Subject : hn
Aku di toko buku dekat RS Konoha. ada Haruno-senpai. Harus gimana?
サスケ
Duh, cowok cupu itu.
Harus bagaimana katanya? Dasar bodoh.
Aaa... baiklah, karena semangatku telah seratus persen bangkit, sudah saatnya kembali pada misi utama The Charming Namikaze Twins!
Eh, ngomong-ngomong~ Kok Naruto belum pulang, ya?
Dia beneran main ke rumah Kiba apa...
—nyasar ke mansion Hyuuga?
.
.
.
.
つづく
[to be continued]
Author's Note :
Hulalalala akhirnya bisa apdet juga! Seneeeeeeng~ setelah melewati perjuangan tiada henti untuk menghadapi SNMPTN dan~ akhirnya rei luluuuuussss~! YEAH! *loncat-loncat* #abaikan Err... pengumumannya udah akhir juni kemaren sih, Cuma ya sibuk sama daftar ulangnya itu (=="a) lambret banget! *malah curhat* makanya baru bisa apdet fic sekarang~ maaf ya minna~
Yosh~ bales review anonymous dulu~
Yamanaka Chika :
Makasih chika~ ^^ iya inih akhirnya rei bisa apdet juga. Makasih yaa :* R&R lagi?
Uchiha Murasaki :
Iyap! Meski ShikaTema nya kurang berasa sih, menurut rei (=="a) makasih ya ^^ ini uda apdet, R&R lagi ne? Arigato~
el Cierto :
waa makasih cierto-san ^^ *blush* hehe... sayangnya Gaara jarang muncul nih (malah belum pernah) *dijewer* ShikaTema slight kok makasih yaa~ R&R lagi? ^^
zoroutecchi :
eh? Sebelumnya gak suka ya? Suka aja ya? Ya? *dijitak* ohh hinata itu memang Cuma buat naruto! Iya kan hina-chan? *nyenggol2 hina* aa... itu rei bingung mau pasangin gaara sama siapa (=="a) yosh! Nih udah apdet ^^ R&R lagi? Arigato~
Moe Chan :
Hai juga moe! *tereak pake toa masjid* ahaha... iya~ rei juga suka sama Shion dan Sarah ^^ mereka cantik, meski Shion awalnya nyebelin (==") *plakk* nah itu Moe udah bisa nebak pair nya~ gak papa kan? Makasih yaa~ nih apdet! R&R lagi?
Yukira Mirabelle :
Halo Yuki ^^ err... siapa yaa? Tanya naruto sana! *nendang Yuki sampe ke Konoha* yup yup nih apdet. Makasih yaa~ R&R lagi? ^^
agusthya :
yosh! Ini udah apdet ^^ makasih yaa~ R&R lagi? Arigato~
Maya :
He? Kamu memperkirakan apa emang? (o.O)a wehehe... rei suka SasuSaku soalnya ^^ mereka nyata! Makasih ya~ nih udah apdet! R&R lagi?
namikaze vic'ky :
sou! Sasuke wa kawaii! ^^ ahaha... kalo gak bisa bayangin biar ntar rei bikin fanart buat fic ini deh (emang niat dari awal sih) hehe... He? Kushina dibikin gitu biar lebih dramatis aja Xd *digetok kushina* Gak kok, temari gak tau kalo ino juga naksir shika. Hihi... makasih yaa~ inih udah apdet R&R lagi?
Dan~ makasih juga buat : Sukie 'Suu' Foxie, kira tiqa-Alegra Maxwell, NaraUchiha'malfoy, hompimpa, Sabaku no Uzumaki, vaneela, Devil's of Kunoichi, Deidei Rinnepero13, Jee-zee Eunry, faricaLucy, Nyx Quartz, Uchiha Reiko Ichihara, Blue Rainnossa, Rere Aozora, dan juga semua silent readers sekaliaaaaann~! YO ARIGATOU GOZAIMASHITA NE~ ^^
Fic pembuka setelah hiatus sementara rei~ dipersembahkan buat readers sekalian~ gomen kalo jelek dan banyak typo (=="a)
akhir kata, REVIEW PLEASE? #pelukpeluk
Salam,
Al-Shira Aohoshi
a.k.a Andromeda no Rei
