Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

Aisu Kurimu © Aoi Haruno

Warning: AU, CRACK, OC, OOC, TYPO(S), kayak sinetron, lebay, gaje, bahasa berantakan, bahasa tidak baku.

Bicara langsung: "Blablabla"

Bicara dalam hati: 'Blablabla'

Tidak menggunakan Japanese honorifics

Gaara, Shikamaru: 24-25 tahun

Hinata, Kiba, Lee: 23-24 tahun

Hanabi, Naruto, Chōji: 20-21 tahun

Hōbi: 2-3 tahun

.

.

.

Shaniechan, Rufa Kha, NN, hinata-hime, Merai Alixya Kudo, SoraHinase, harunaru chan muach, Hina bee lover, Meiko Namikaze, Enigam Cyrus Uchiha Tisdale, Lyner Croix Rosenkrantz, Mayyurie Zala males sekali login, HaruZumaki HyuuChiha, Yuuaja, demikoo, Ind, Mayraa, Kouro Ryuki, Sasa, Putri Luna, Dindahatake, Kurosaki Kuchiki, Vany Rama-kun

Terima kasih banyak untuk semuanya…

.

.

~Aisu Kurimu~

-4-

.

.

.

Hinata, Hanabi, dan Hōbi sedang makan siang bersama seperti biasanya. Hōbi yang biasanya duduk di samping Hinata, kini lebih memilih untuk duduk di samping Hanabi. Menurut Hinata, ini aneh.

"Ada apa dengan kalian?" Hinata sedikit heran melihat Hanabi dan Hōbi yang dari tadi terlihat berbisik-bisik. Lebih heran lagi karena melihat mereka akur.

"Rahasia… Iya 'kan, Hōbi…" jawab Hanabi seraya menyumpit nasinya sambil senyum-senyum tidak jelas.

Hōbi mengangguk setuju. "Lahasia…" ucapnya menirukan nada bicara Hanabi.

"Wah… sekarang Hōbi main rahasia-rahasiaan sama Bunda, ya?" Hinata sedikit menggoda Hōbi tapi sepertinya tidak mempan.

Hōbi yang sedari tadi terlihat senang, kini malah mengabaikan ibunya dengan terus menyendokkan nasinya ke mulutnya.

Hinata menghela nafas lelah saat melihat Hōbi yang lagi-lagi menyisihkan potongan sayurnya. "Hōbi, jangan menyisakan sayurnya…" Hinata mengatakannya dengan lembut, berharap Hōbi akan menurut padanya.

"Hōbi nggak suka, Bunda…" ucap Hōbi setengah merengek.

Lagi-lagi Hinata menghela nafas lelah. Lebih baik menyerah saja daripada melihat Hōbi merajuk hanya karena masalah sayur. 'Mungkin lama-lama juga suka,' pikir Hinata.

"Hōbi, nasimu nempel tuh…" kata Hanabi sambil menunjuk butiran nasi yang ada di pipi Hōbi.

"Ambilin dong, Bi…" pinta Hōbi manja.

"Kecil-kecil udah main suruh…" gerutu Hanabi. Walaupun begitu, ia juga mau mengambil butiran nasi yang menempel di pipi Hōbi. "Panggil Kakak… Masih muda begini masa' dipanggil Bibi…" gerutunya lagi.

"Bibi…" goda Hōbi.

"Panggil Kakak…!" perintah Hanabi sambil menjewer kedua pipi gembul Hōbi.

"Wiwi…" ucap Hōbi dalam keadaan dijewer. Niatnya sih mau mengatakan 'bibi'.

"Masih nggak mau nyerah nih?" Sekarang Hanabi malah menekan kedua pipi Hōbi sampai bibir Hōbi mengerucut. Hanabi malah tertawa girang karena gemas.

Hinata hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil membereskan piring dan mangkuk kotor yang ada di meja makan.

.

.

.

Hinata kembali bekerja di dapur café seperti biasa. Walaupun pegawainya cukup banyak karena ditambah pekerja paruh waktu, tapi Hinata sebagai pemilik café masih tetap melakukan beberapa hal sendiri. Ia melakukannya karena kesenangan saja. Dulu ia mengambil jurusan tata boga juga karena gemar memasak.

"Sekarang, kau tidak tinggal bersama orang tuamu?" Hinata mengawali pembicaraan di dapur café yang hanya terisi dirinya dan Naruto. Hinata tahu kalau Naruto tinggal di sebuah flat kecil karena Kiba yang memberitahunya. Waktu itu, Kiba tidak sengaja mendengar percakapan Naruto dan Chōji yang memang satu kampus dan bersahabat itu. Ternyata, selain tukang nguping, Kiba juga ember lho…

"Iya. Aku kabur," jawab Naruto santai sambil meletakkan beberapa loyang berisi adonan ke dalam oven.

"Apa karena tidak mau dijodohkan?" tebak Hinata tanpa melihat lawan bicaranya, karena saat ini Hinata sedang meletakkan beberapa ice cake ke dalam freezer.

Naruto terlihat terkejut dengan pertanyaan Hinata. "Hey, apa kau peramal?" tanya Naruto dengan sedikit bercanda.

"Ternyata, yang sering membuat para Tuan Muda kabur dari rumah karena masalah itu, ya?" gumam Hinata.

"Apa maksudmu dengan 'Tuan Muda'?" Naruto mengangkat satu alisnya tanda tak mengerti.

"Seperti dirimu. Kau seorang Namikaze. Putra dari Tuan Minato Namikaze yang anggota legislatif itu, 'kan?"

Sekarang Naruto terlihat lebih terkejut daripada sebelumnya. "Ba..bagaimana kau bisa tahu?"

"Mudah saja… Karena marga Namikaze sangat jarang," jawab Hinata tenang.

Naruto tersenyum tipis. "Harusnya aku ganti marga nih… Hehe…" Naruto nyengir.

Hinata hanya tersenyum kecil.

"Sepertinya kau mengenal orang lain yang senasib denganku?" terka Naruto yang sebenarnya sedikit ragu.

"Iya, aku sangat mengenalnya," jawab Hinata seraya menyunggingkan senyum lepasnya kepada Naruto.

Naruto hanya diam. Yang bisa dilakukan selanjutnya hanyalah membalas senyum Hinata. Sebenarnya ada rasa penasaran juga pada orang yang 'senasib' dengannya itu.

"Aku tinggal dulu ya, Naruto…" Tanpa menunggu balasan dari Naruto, Hinata langsung berjalan meninggalkan Naruto sendirian di dapur.

Naruto hanya menghela nafas panjang sambil duduk di depan oven. Ia terlihat merenung. Entah apa yang direnungkannya. Mungkin merenungkan nasibnya… Memangnya apa yang harus dipikirkan dari nasibnya? Ia kaya dan berasal dari keluarga terpandang. Apa lagi yang kurang? Entahlah…

.

.

.

"Paman Kib… Paman Kib… Bunda dimana?" tanya Hōbi sambil menarik-narik lengan kemeja panjang Kiba yang ada di depan counter café.

"Bundamu… mungkin di dapur…" jawab Kiba ragu-ragu.

Hōbi langsung menuju dapur setelah Kiba selesai mengatakannya. Dengan semangat, ia sedikit berlari masuk ke dapur.

"Paman Kib? Kib? Pasti Hanabi yang mengajarinya memenggal namaku sembarangan. Lebih bagus Kiba. Kenapa dipanggil Kib? Apaan tuh Kib?" gerutu Kiba yang terdengar seperti orang bergumam.

Lee yang melihat Kiba seperti orang yang berbicara sendiri hanya geleng-geleng kepala sambil mengelus dada.

"Bunda…" panggil Hōbi saat memasuki dapur.

Tidak ada jawaban. Sepi. Hōbi mengedarkan pandangannya ke sekeliling dapur. Ia memang tidak melihat bundanya dimanapun, tapi pandangannya terhenti pada sosok yang sedang melamun di depan oven. Hōbi mendekati sosok berambut kuning itu, dan menarik lengan baju kokinya.

Si pemilik baju yang ternyata adalah Naruto itu, sedikit tersentak saat tangannya yang semula berada di pangkuan, kini jatuh terkulai di samping tubuhnya.

"Paman…" panggil Hōbi dengan mata berbinar. "Mana Bundaku?" tanyanya.

Naruto mengernyitkan keningnya. "Bundamu? Siapa?" tanyanya sambil memberi tatapan heran pada Hōbi.

"Bunda, ya Bunda…"

Ternyata jawaban Hōbi yang tidak jelas membuat Naruto yang sedang sensitif menjadi jengkel. "Kau anak siapa sih?" Naruto sedikit meninggikan suaranya, membuat Hōbi sedikit mengerucutkan bibirnya.

"Bunda…!" jawab Hōbi tegas yang terdengar setengah berteriak.

"Anak ini…" desis Naruto yang rasa jengkelnya sudah di ubun-ubun. Ternyata ia memang tidak bisa menghadapi anak kecil dengan sabar. Terakhir ia bertemu dengan anak kecil di taman, ia malah membuatnya menangis dan tidak bisa menenangkannya. Alhasil, ia malah kena omelan ibunya. Apes!

Hōbi menggembungkan pipinya dan tatapannya seolah menantang Naruto. Ia memandang Naruto tanpa rasa takut. Di mata Naruto, anak kecil di depannya itu terlihat seperti sedang memelototinya.

"Bundaaa…!" teriak Hōbi histeris saat Naruto balas memelototinya. Ia berlari keluar dapur dan dikejar Naruto yang sudah gemas ingin memberi 'pelajaran' pada anak kecil itu. "Bundaaa…!" teriak Hōbi di luar dapur, membuatnya menjadi pusat perhatian pegawai café ibunya dan beberapa pengunjung yang hampir pulang karena mendekati jam tutup café.

"Hey, anak kecil…" desis Naruto dengan nada geram saat berjalan keluar dari dapur café.

Naruto menjadi bengong karena saat ini Hōbi sudah berada di gendongan Hinata. Hōbi menyembunyikan wajahnya dari Naruto karena takut melihat wajah sangar Naruto.

"Bunda… Paman itu jahat…" ucap Hōbi setengah merengek.

"Bunda?" gumam Naruto tak percaya. Mulutnya sedikit terbuka saat Hinata menatapnya. Naruto hanya bisa menelan ludah setelahnya. Ia sama sekali belum percaya bahwa wanita yang masih terlihat muda itu sudah menjadi seorang ibu.

"Hōbi pasti nakal, ya… Maaf, Naruto…" Hinata mengucapkannya dengan menunjukkan wajah menyesal.

Naruto hanya bisa membalasnya dengan mengangguk pasrah. Sedangkan Hōbi yang masih cemberut, asyik menumpukan kepalanya di pundak bundanya.

"Selamat datang…!" teriak Chōji, yang menandakan kalau ada tamu yang baru masuk.

Hinata dengan refleks melihat siapa yang datang. Ia hanya bungkam saat melihat sosok mirip Hōbi dalam versi dewasa. Bahkan Hinata tidak membalas senyum tipis yang diarahkan pemilik mata emerald itu kepadanya.

"Ayaaah…!" teriak Hōbi saat melihat pria yang kini masih berdiri di depan pintu itu. Wajah Hōbi yang semula terlihat senang, kini berubah takut saat beralih melihat Hinata. Ia mengira ibunya akan marah. Tapi Hōbi yang melihat wajah tersenyum ibunya, akhirnya meronta untuk turun dan berlari ke arah ayahnya.

"Wah… Kak Gaara sudah datang…" ucap Hanabi riang sambil sesekali melirik Hinata yang hanya berwajah datar dan saat ini sedang berada di belakang counter café.

"Oi, Gaara," sambut Shikamaru yang mendekat pada Gaara seraya memberikan pelukan antar lelaki. "Bagaimana kabarmu?" tanyanya.

"Seperti yang kau lihat," jawab Gaara tenang seraya tersenyum tipis.

"Ayah…" panggil Hōbi riang dengan kedua tangan ingin menggapai Gaara yang lebih tinggi darinya.

Gaara semakin melebarkan senyumnya saat berjongkok untuk membawa Hōbi dalam gendongannya. Ia kembali melihat Hinata yang kebetulan juga melihat ke arahnya. Gaara masih saja tersenyum senang karena Hinata sudah tidak lagi menghalanginya untuk bersama Hōbi. Hinata dengan segera mengalihkan pandangannya dari mata emerald yang menyejukkan itu. Kalau tidak salah lihat, Gaara seperti menangkap rona merah di pipi Hinata.

"Duduk, Kak…" ajak Hanabi kepada Gaara untuk duduk di kursi yang paling dekat dengan counter.

"Hoi! Kau jadi sombong, ya!" seru Kiba sambil menepuk punggung Gaara dengan sedikit keras. Ralat, sangat keras.

"Kau ini… Kapan melamar Hanabi?" tanya Gaara dengan santainya.

"EEHHH?" Kiba dan Hanabi tiba-tiba menjadi kompak. Mereka berdua berpandangan, lalu dengan cepat saling membuang muka. Tapi mereka sama-sama tidak bisa menyembunyikan rona merah di pipi mereka.

"Kalau anak kecil itu manggil 'bunda' ke Hinata, berarti Hinata ibunya. Terus kalau dia manggil pria itu 'ayah' berarti ayahnya. Kalau ayahnya, berarti suami Hinata," gumam Naruto yang belum beranjak dari depan pintu dapur café. "Kenapa Hinata bersikap dingin? Apa pria itu benar-benar suaminya?" lanjutnya berbicara sendiri. "Tidak mungkin… tidak mungkin…" gumamnya sambil menggelengkan kepalanya seraya berjalan ke dapur untuk meneruskan pekerjaannya.

"Selamat datang…!" teriakan Chōji kali ini terdengar lebih bersemangat. Pantas saja karena yang datang perempuan muda nan ceria.

Perempuan itu mengedarkan pandangannya sejenak. Senyumnya mengembang saat melihat Gaara. Ia langsung duduk di kursi terdekat dengan Gaara, karena kursi di seberang Gaara sudah diduduki Hanabi.

Hanabi memandang Gaara dengan tatapan yang seolah menanyakan, 'Siapa dia?'

Gaara hanya membalasnya dengan senyum tipis. Itu membuat Hanabi penasaran. Bukan hanya Hanabi, tapi Hinata yang sedari tadi sesekali melirik Gaara, kini merasakan perasaan yang tidak nyaman.

"Hai… Cantik…" sapa Lee sambil mengedipkan matanya kepada perempuan berambut merah muda itu.

"Hai…" balas perempuan itu sambil melambaikan tangannya pada Lee.

Lee mencengkeram dada kirinya sambil menyerukan, "Jantungku~ Ooohhh~" Ia menyerukannya dengan lebay-nya. All sweatdropped.

"Sakura, kau mau es krim strawberry?" tanya Gaara dengan nada tenangnya.

"Wah… ternyata Kak Gaara masih ingat rasa es krim kesukaanku~" seru perempuan yang bernama Sakura itu dengan riangnya.

"Strawberry Ice Cream segera datang…!" seru Lee tanpa menunggu Gaara yang hampir mengeluarkan suaranya.

Hanabi menunjukkan wajah tidak suka. Hinata masih mempertahankan wajah datarnya, tapi perhatiannya tidak pada panekuk yang sedang dipanggangnya.

"Oi, Hinata. Kau apakan panekuknya? Nggak berbentuk tuh!" seru Lee yang sudah berdiri di belakang Hinata.

"Aku makan sendiri," jawab Hinata sedikit ketus. Memangnya siapa yang akan memakannya kalau bukan Hinata sendiri? Karena, tidak ada tamu yang memesannya. Siapa juga yang mau memesan kalau tamunya hanya tinggal Gaara dan Sakura…

"Aiiihh… lucunya~ Ini pasti Hōbi, ya?" seru Sakura seraya mencoba mencubit pipi chubby Hōbi, tapi Hōbi segera menghindar dan meronta di pangkuan Gaara.

"Hōbi, itu Bibi Sakura. Ayo beri salam…" pinta Gaara lembut sambil membelai rambut Hōbi.

"Nggak mauuu…!" teriak Hōbi yang masih memasang wajah cemberutnya.

Hinata yang melihat apa yang terjadi, menjadi percaya kalau ikatan batin antara ibu dan anak memang kuat. 'Bagus, Hōbi! Hōbi memang putraku,' batin Hinata dengan ekspresi wajah yang masih menunjukkan ketenangan yang luar biasa.

"Eh? Kok begitu?" Gaara menatap Hōbi yang kini dihadapkan ke arahnya, tapi Hōbi malah memandanginya dengan wajah yang semakin cemberut.

"Nggak apa-apa, Kak…" ucap Sakura lembut. "Eh, ngomong-ngomong…" Suara Sakura tertelan karena setelahnya hanya bisa didengar Gaara yang dibisikinya.

Semua mata mengarah pada mereka, begitupun dengan Hinata. Gaara hanya mengangguk pelan dan tersenyum tipis setelah Sakura selesai membisikinya.

'Mereka ngapain sih?' batin semua mata yang memperhatikan Gaara dan Sakura yang seolah mengabaikan kehadiran orang lain di sana.

"Ayah." Suara Hōbi membuat Gaara memusatkan perhatiannya kepada Hōbi lagi.

"Hm?" balas Gaara masih dengan senyum tipisnya.

"Ayo jalan-jalan!" seru Hōbi riang.

"Kemana?" tanya Gaara saat matanya bertemu dengan mata Hōbi yang berdiri di pangkuannya.

Hōbi terlihat sedang berpikir keras.

"Kak, jadwal mengajar Kak Gaara untuk besok… penuh. Dari pagi sampai sore," kata Sakura yang terkesan seperti memotong konsentrasi Hōbi.

Lagi-lagi Hōbi cemberut saat Sakura bicara kepada Gaara.

'Siapa sih dia? Sampai tahu jadwal Kak Gaara… Aku saja baru tahu kalau Kak Gaara mengajar… Memangnya mengajar siapa?' batin Hinata bertanya-tanya. Dengan wajah dinginnya, Hinata menghempaskan tubuhnya di kursi yang ada di belakang counter sambil memandangi panekuk tak berbentuknya yang sudah diletakkannya di piring.

"Hmm~ es krimnya lembut sekali… Manisnya pas, rasa strawberry-nya juga alami…" seru Sakura sambil menyuapkan es krim strawberry ke mulutnya.

"Itu jelas, karena café kami menggunakan strawberry segar," tutur Lee dengan bangganya.

"Aku harus pulang," ucap Shikamaru datar sambil menguap. Ia berjalan keluar café sambil melambaikan tangannya pelan kepada semua yang masih ada di dalam café. Semua bahkan tidak tahu kapan Shikamaru mengganti seragamnya dengan celana jeans dan kaos oblongnya.

Saat ini di dalam café ada Hinata yang duduk di counter dengan menopang dagu, Sakura yang masih menikmati es krimnya, juga Gaara yang asyik mendengar celotehan Hōbi di pangkuannya. Lee duduk di belakang counter bersama Hinata, dan sesekali mencuri-curi pandang kepada Sakura. Hanabi dan Kiba sudah tidak terlihat lagi. Tidak ada yang tahu kemana Hanabi dan Kiba menghilang. Chōji sepertinya sedang membantu Naruto memanggang beberapa cake di dapur café.

Telepon di counter café tiba-tiba berdering. Sedikit mengagetkan Hinata yang setengah melamun. Hinata lalu mengangkat gagang telepon hitam yang ada di depannya itu.

"Aisu Kurimu Café…" sambutnya.

"Masih ingat denganku, menantu?"

Hinata sedikit membulatkan matanya saat mendengar suara di seberang. Jantungnya mendadak berdebar-debar dan keringat dingin membasahi telapak tangannya.

"Tentu," jawab Hinata yang mencoba berbicara setenang mungkin.

"Ada yang ingin kubicarakan, menantuku~"

"Katakan sekarang," ucap Hinata pelan.

"Tidak bisa sekarang~ Bisakah besok bertemu di tempat biasa?"

"Baiklah," balas Hinata dingin.

Hinata meletakkan kembali gagang telepon dengan tangan yang gemetar. Tangannya masih saja berkeringat dingin. Ia menarik nafas dalam-dalam untuk mengurangi ketegangannya. Tidak lama ia sudah berdiri dari tempat duduknya dan mendekati Hōbi. Ia mencoba menarik Hōbi dari pelukan Gaara, tapi Hōbi malah mencengkeram kemeja biru muda Gaara.

"Ada apa, Hinata?" tanya Gaara lembut.

Hinata tidak menjawab pertanyaan Gaara. Hinata bahkan menghindari kontak mata dengan Gaara. "Ayo pulang, Hōbi. Sudah saatnya makan malam," kata Hinata tenang.

"Sama Ayah…" rengek Hōbi dengan jemari yang masih mencengkeram erat kemeja Gaara.

Hinata hanya menghela nafas. "Iya, sama Ayah…" ucap Hinata pasrah.

"Kalau begitu aku pulang naik taksi saja, Kak," celetuk Sakura yang masih belum menghabiskan es krimnya.

"Kalian pulang saja, biar aku yang menemani Sakura…" sahut Lee dengan senyum iklan pasta giginya. Lee menjadi kegirangan mengingat dirinya dan Sakura akan ditinggal berdua di café.

.

.

.

"Hōbi, sayurnya…" Hinata sudah mengingatkan Hōbi untuk kesekian kalinya, tapi Hōbi malah membalas Hinata dengan wajah memelas, membuat Hinata menghela nafas lelah.

"Ayah~" panggil Hōbi manja, berharap ayahnya yang duduk di sebelahnya akan membelanya.

"Bunda benar, Hōbi harus makan sayurnya," tutur Gaara lembut. "Sini, Ayah suapi," lanjutnya seraya menyuapkan sayur ke mulut Hōbi.

Hōbi awalnya tidak mau membuka mulutnya. Wajahnya juga semakin cemberut. Tapi melihat wajah tersenyum Gaara membuatnya membuka mulutnya dengan pasrah.

"Enak 'kan?" tanya Gaara setelah Hōbi mengunyah sayurnya.

Hōbi hanya mengangguk dan membuka mulutnya lagi. Gaara senang melihatnya.

"Ayah juga suka?" tanya Hōbi dengan polosnya.

Gaara hanya menelan ludah di balik wajah tenangnya. "Lihat," perintah datar Gaara seraya memakan sayur yang ada di piringnya.

Hōbi terlihat semakin bersemangat saat memakan sayurnya. Hinata tersenyum kecil, dan menjadi sadar bahwa Hōbi membutuhkan Gaara.

.

.

.

"Sejak kapan suka sayur?" tanya Hinata di ambang pintu saat Gaara berjalan keluar dari pintu rumahnya.

Pertanyaan Hinata membuat Gaara berbalik dan menyunggingkan senyumnya kepada Hinata. "Sejak barusan," jawab Gaara tenang. Ekspresinya memang tenang dan datar-datar saja. Tapi, rasa bahagia di hatinya sudah meluap-luap karena akhirnya Hinata mau mengajaknya bicara.

"Terima kasih telah membuat Hōbi mau tidur," ucap Hinata yang kini disertai senyum tipis.

"Hn," jawab Gaara singkat. Ia benar-benar tidak tahu lagi harus berkata apa, karena mendadak ia merasa grogi.

"Dia takut kalau Kakak meninggalkannya, jadinya dia nggak mau tidur…" Hinata mengatakannya dengan disertai tawa kecil, yang membuat Gaara merasa ikut senang saat melihatnya. "Maaf ya, Kak…" lanjut Hinata dengan wajah yang mendadak sendu.

"Untuk apa?"

"Untuk semuanya," jawab Hinata dengan suara bergetar.

Pandangan mata Gaara mendadak sayu. "Aku yang harusnya minta maaf…" ucap Gaara lirih seraya menarik Hinata dalam pelukannya.

Hinata hanya menggelengkan kepalanya pelan dalam pelukan Gaara. Pelukan pertama Gaara setelah sekian tahun berpisah. Hinata sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak jatuh. Jujur, ia merindukan saat-saat seperti ini. Saat Gaara memberikannya ketenangan dan kenyamanan hanya dengan pelukannya. Tapi, Hinata masih terlalu ragu untuk membalas pelukan Gaara. Ia menjatuhkan kembali kedua lengannya yang hampir menyentuh punggung Gaara.

"Aku sangat merindukanmu, Hinata…" ucap Gaara lirih seiring dengan semakin mengeratnya pelukannya.

Kalau Hinata sekali saja mengedipkan matanya, maka ia yakin kalau air matanya akan jatuh pada saat itu juga.

"Pulanglah…" perintah Hinata lembut.

Gaara memperlebar jaraknya dengan Hinata. Walaupun ia sekali lagi menyunggingkan senyum kecilnya, tapi Hinata bisa menangkap sedikit kekecewaan di wajah Gaara.

"Sampai jumpa," ucap Gaara sebelum berbalik.

.

.

.

"Dari mana?" tanya Hinata pada Hanabi yang baru masuk ke dalam rumah.

"Aku tahu kalau perasaan Kakak tidak pernah berubah…" ucap Hanabi mengabaikan pertanyaan Hinata. Saat ini, Hinata tidak menemukan sedikitpun candaan yang terselip dalam nada bicara Hanabi.

"Kau salah jika mengatakan perasaanku tidak berubah…" gumam Hinata.

Hanabi sedikit tersentak setelah mendengar gumaman Hinata, tapi ia tidak bisa berkata-kata lagi.

"Yang benar… aku semakin menyukainya setelah bertemu lagi dengannya…" gumam Hinata yang menunduk dengan wajah merona, membuat Hanabi yang mendengarnya menjadi kikuk dan ikut merona. "Tapi… masih ada yang membuatku takut…" Kini ekspresi Hinata berubah muram. "Rasa takut yang memaksaku untuk selalu menghindarinya…"

Hanabi mengernyitkan keningnya dan menatap Hinata dengan tatapan yang tidak terbaca. Lalu berkata, "Kak Gaara pergi ke luar negeri untuk belajar, Kak… Untuk mendapatkan gelar agar diakui para pemegang saham hotel yang saat ini dikuasai Karin… Selama ini, Kak Gaara juga menunggu umurnya dua puluh lima tahun untuk bisa mendapatkan kuasanya, agar bisa menyingkirkan Karin. Kak Gaara bahkan rela mengorbankan kebahagiaannya juga kebahagiaan Kakak agar Karin tidak lagi menguasai hidupnya…"

Hinata hanya bungkam saat mendengar penuturan panjang Hanabi.

"Kak Gaara pergi meninggalkan Kakak bukan semata-mata karena takut harta warisannya dimiliki Karin… Tapi, karena Kak Gaara tidak mau terus-menerus dikuasai Karin. Juga… karena Kakak membiarkannya pergi…"

"Aku sudah tahu tentang semua itu." Hinata mulai menitikkan air mata. "Aku sudah tahu semuanya, bahkan sebelum dia memutuskan untuk pergi…" lanjutnya dengan suara bergetar.

"Lalu? Kenapa waktu itu Kakak membiarkannya pergi? Apa lagi yang Kakak ragukan dari Kak Gaara? Apa lagi yang membuat Kakak menghindarinya? Apa lagi yang membuat Kakak takut?" Suara Hanabi terdengar semakin meninggi.

"Ada yang belum kau ketahui…"

.

.

.

~To Be Continued~

.

.

.

Pelukan antar lelaki? Apaan tuh? Saya tidak tahu harus pakai istilah apa…

Kritik?

Saran?

Flame?

Silahkan…

Monggo…

.

.

.

~Go Koui~

~Arigatou Gozaimashita~

.

.

.

~Review Please~

.

.

.