Beauty and Kyuubi
Chapter: 4
Pairing: Namikaze Naruto x Haruno Sakura
Rate: T+
Genre: Fantasy, Family, Friendship, romance, and little gore
Inspired from Beauty and The beast and many other story
Disclaimer: i don't own Naruto, you know who own Naruto actually, right?
WARNING!
Fiction ini mengandung banyak Typo, alur gaje, abal, OOC, AU, many Dialogue, RUSH, and bejibun warning!
The last piece in chapter 3
"Ukh ittai," Sakura terjungkal kedepan ketika ia melangkahkan kaki-kaki jenjangnya dihutan Konoha. Sesuatu yang mencolok menyita perhatiannya ketika akan berdiri. Diambilnya benda yang menyita perhatian itu, benda itu berwarna biru terang seperti batu kristal itu merupakan lionting dari kalung. Sepertinya aku pernah melihat kalung ini, Sakura melihat kearah Chiyo-baasan.
"Hati-hati Sakura," Chiyo-baasan nampak sedang mengambil sesuatu didalam tas usangnya.
"Lumos!" tongkat sihir yang dipegang sang nenek bercahaya bagaikan ssebuat lampu senter.
"Apa yang kau temukan itu Sakura?" Sakura mengerjap melihat sihir Chiyo-baasan, ia serahkan kalung yang ia temukan.
"kalung ini," Chiyo-baasan terbelalak tidak percaya.
"Crystal Gem"
Don't Like? Don't Read! Please ^^v
Dua pasang suami istri sedanng sibuk mengobrak-abrik sebuah peti digudang istana, "M-minato!?" seorang wanita dengan rambut merah darah panjang terlihat kaget ketika membuka sebuah kotak peti yang terlihat seperti suudah dibuka belum lama, "Ada apa Kushina?" sang raja yang sedang membawa sebuah kotak peti antik dengan ukira-ukiran elegan berlapiskan emas, kotak tempat tongkat sihir sang raja, ia menoleh ke arah sang ratu, " tongkat sihir Orochimaru hilang!" ujar Kushina dengan tangan yang bergetar membawa kotak peti hitam legam itu tempat dimana kotak tongkat sihir Orochimaru berada. Sontak raja Minato, Jiraiya dan Tsunade kaget, pertempuran tujuh tahun yang lalu akan terulang lagi.
"Mau tidak mau kita arus menggunakan sihir kita lagi, dengan segenap kekuatan sihir yang kita punya kita harus mengalahkan Orochimaru kalaupun naya taruuhannya!" ujar sang raja Konoha.
Dengan segera mereka berempat mulai mencoba memperkuat segel ketika memasuki gerbang hutan konoha, setela memastikan segelnya benar-benar kuat dengan Maito Gai sebagai bahan percobaan ntuk melintasi gerbang hutan konoha, sang bahan percobaan langsung terpental dengan sangan jauh saat mencoba masuk, raja merasa prihatin melihat sang korban mencoba membantunya.
Namun ia urung ketika Maito Gai berteriak dengan kencangnya "AKU BAIK-BAIK SAJA MINATO-SAMA, SEMANGAT MASA MUDAKU MASIH MEMBARA JADI JANGAN KHAWATIRKAN AKU!" perajurit terpercaya sekaligus guru olah raga di KKA melambaikan tangannya, ketika raja, ratu serta Jiraiya dan Tsunade masuk dan menghilang ditelan oleh gelapnya malam.
Mereka berempat berhenti disebuah pohon besar."Dissendium," raja Minato merapalkan sebuah mantra yang membuat pohon besar nan tua itu memunculkan sebuah pintu di badan pohon itu, dengan segera mereka memasukinya dan tak lupa raja Minato menutup kembali pintu rahasia itu dengan manteranya.
Beralih ke Sakura dan Chiyo-baasan
Mereka berdua dengan hati-hati menyusuri hutan konoha yang lebat, ketika mereka baru sampai pertengahan jalan menuju kastil tempat pangeran Naruto tinggal Sakura berhenti dan menarik Chiyo-baasan.
"Ada apa Sakura?"
"Lihat bukankah itu terlihat seperti Orochimaru dan temannya yang berambut abu-abu, baa-san?" jelas Sakura dengan suara yang lirih.
" ini gawat jika mereka sampai di kastil pangeran lebih dulu," dengan panik Chiyo-baasan merapalkan sebuah mantra dan mengarahkan tongkat sihirnya ke araha Sakura.
"Protego Horribilis!" Sakura terkaget dengan apa yang dilakukan oleh Chiyo-baasan terhadapnya.
"Aku mem buat mantera agar kau terlindung dari kutukan Sakura," jelas Chiyo -baasan ketika melihat wajah Sakkura yang sepertinya meminta penjelasan.
"Namun tunggu Chiyo-baasan, sepertinya Orochimaru tidak membawa tongkat sihir, namun temannya yang membawa sebuah tongkat hitam," ujar Sakura ketika memperhatikan Orocimaru yang sedang berjalan menjauh dengan dituntun oleh temannya yang diketahui bernama Kabuto.
"Tunggu jadi ini kesempatan kita untuk menyusup ke markas Orochimaru,!" ujar Chiyo-baasan.
"T-tapi bagaimana dengan pangeran Naruto baa-san?" rasa khawatir Sakura tiba-tiba saja datang.
"Tenang Sakura, sepertinya Kabuto berniat untuk menyembuhkan Orochimaru dan membawanya ketempat Kabuto tinggal, Aku yakin Orochimaru tidak bisa menggunakan tongkat sihirnya, karena aku baru ingat dulu, tongkat Sihir Orochimaru sudah aku musnahkan dengan diam-diam dan menggantinya dengan tongkat kayu biasa," Ah kenapa aku bisa melupakannya, pikir sang penyihir tua.
"Kalau begitu kita tiidak perlu ke markas Orochimaru, baa-san." Ujar Sakura.
"namun kita tetap harus berhati-hati Sakura, Kabuto lumayan kuat dengan sihir yang dimiilikinya," bisa saja Kabuto membuat tongkat baru untuk Orochimaru kan?
" kalau begitu bagaimana kita buntuti mereka diamdiam Sakura? Kau berani?"
"Aku tidak yakin, bagaimana kalau kita ketahuan baa-san?" Ujar Sakura ragu dengan ajakan Chiyo -baasan, didalam lubuk hatinya terdalam ia ingin ke kastil pangeran Naruto, entah kenapa ia ingin sekali bertemu dengan sang pangeran lagipula ia sekarang membawa crystal gem, hey itu merupakan kunci agar pangeran tidak berubah seutuhnya menjadi seekor kyuubi kan?
"Bagaimana dengan ini Chiyo-baasan? Apakah sebaiknya kita memberi crystal gem ini pada pangeran?" Chiyo-baasan sepertinya lupa akan crystal gem itu dan memutuskan agar ia yang akan membututi Orochimaru dan Kabuto, Sakura sendiri pergi kekastil pangeran untuk menolong sang pangeran.
Dengan hati-hati ia, Sakura berlari dengan menggunakan jubah agar tidak terlihat, ia terus berlari mengikuti kunang-kunang kecil sebagai petunjuk arah kastil dengan sihir Chiyo-baasan, namun sepertinya Sakura tidak sadar ada orang mengikutinya, orang berjalan dengan terseok-seok, sebuah jubah hitam menutupi seluruh tubuhnya.
.
.
.
Raja Minato dan yang lain kini telah berada di dalam kastil besar, mereka nampak berlari mencari pangena Naruto, Minato merutuk dirinya karena membuat kastil yang sangat besar dengan banyak ruangan-ruangan didalamnya, hal ini menyulitkan mereka untuk mencari sang pangeran. "Minato, bagaimana kalau aku pergi mencari Sakura di hutan?" Jiraiya tahu tujuan awalnya ke Konoha mencari anak semata wayangnya, namun bukan berarti ia tidak ingin membantu sang Raja.
"Baiklah, namun kau harus hati-hati senpai," ujar sang raja, ia memakluminya.
"aku juga ikut denganmu Jiraiya!" Tsunade menatap Jiraiya yang bersiap pergi ke luar kastil.
"tidak, kau tetap disini membantu raja dan ratu, Tsunade." Dengan kecupan singkat yang Jiraiya berikan di kening isterinya, ia melesat pergi dengan materanya.
"Aku yakin senpai pasti menemukan Sakura, nee-san." Ujar ratu Kushina. Tsunade hanya mengangguk menanggapi ucapan sang ratu.
"Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, dua jam lagi Naruto akan berubah total menjadi kyuubi dan kita harus cepat menemukannya," ujar raja Minato.
"Selama ini anda bersembunyi dimana Chiyo-baasama?" ujar Kabuto yang tiba-tiba menoleh kebelakang mencari keberadaan sang penyihir tua.
"Aku dan Orochimaru-sama sudah tahu jika anda dan gadis kecil berambut merah muda itu mengikuti kami," dengan seringaian licik ia mengarahkan tongkat sihirnya ke arah pohon samping kanannya.
"Confringo!" seketika pohon itu hancur, "Aku tahu ada disitu Chiyo-baasama," dengan nada mengejek ia melemparkan pandangannya keara pohon yang tadi ia hancurkan.
"Gah, ternyata aku tidak boleh meremehkanmu Kabuto!" sang penyihir tua akhirrnya menampakan dirinya. Chiyo-baasan melemparkan pandangannya kearah Orochiaru yang sedari tadi diam, tanpa bersuara, ia curiga jangan-jangan itu-
"Haaaah sepertinya anda baru menyadari jika dia bukanlah Orochimaru-sama," dengan terkaget Chiyo-baasan mundur melihat Orochmaru palsu telah diledakkan oleh Kabuto.
"Sial, berarti Sakura!" ah gara-gara terlalu memfokuskan pikirannya dengan membuntuti Kabuto, ia malah tidak berfikir kemungkinan buruknya.
Dengan geram ia menatap Kabuto yang sedari tadi tidak berhenti menyeringai, "Expellia-," tiba-tiba saja seringaian Kabuto digantikan oleh geraman, ketika ia jatuh kesebuah lubang. "Deprimo!" ternyata ia kalah cepat dengan Chiyo-baasan.
"Expelliarmus!" dengan cepat sang penyihir tua merapalkan mantera sehingga semua senjata yang Kabuto punya sekarang berada ditangan Chiyo -baasan.
"jangan sekali-kali kau meremehkan penyihir tua sepertiku ini, Kabuto!" ujar Chiyo-baasan yang kini telah menyeringai puas, ia dengan cepat memusnahkan tongkat sihir milik Kabuto.
"Tergeo!"
"dan sekarang giliranku, untuk memberi hadiah terakhir untukmu Kabuto." Chiyo-baasan kini dengan berat hati merapalkan mantera siksaan untuk mantan muridnya.
"Crucio," tongkat sihir Chiyo-baasan terarah ke bawah tempat Kabuto terjebak di alam lubang yang ia buat.
"ARGHH, MAAFKAN AKU CHIYO-BAASAMA, ARRRGHH!" Kabuto berteriak kesetanan, terus berteriak kesakitan dan minta maaf kepada sang mantan gurunya.
"maaf aku Kabuto, mantera itu berhak untuk ku rapalkan, mantera ini hanya bertahan 15 menit, dan setelah itu kau terbebas dari siksaan serta meninggalkan dunia ini," dengan sendu Chiyo-baasan meninggalkan Kabuto yang tidak henti-hentinya berteriak kesakitan.
Kini yang ada dipikiran Chiyo-baasan adalah bagaimana dengan Sakura, ia yaakin kalau Sakura sekarang dalam bahaya, jika tadi Kabuto dan Orochimaru tahu ia dan Sakura sempat membuntutinya, berarti Sakura akan berhadapan dengan Orochimaru!.
"Sakura, semoga kau bisa lari dari Orochimaru," gumam Chiyo-baasan yang kini dengan tergesa-gesa berlari melintasi pohon-pohon yang tinggi menjulang, ketika ia akan merapalkan mantera untuk mempercepat jalannya menuju tempat Sakura, tiba-tiba dirinya tertabrak oleh seseorang, tubuhnya yang sudah rentan kini terpental.
"AUWW..aduh siapa itu?" sang tersangka mengayunkan tongkat sihir yang ia pengan sembari merapalkan sebuah mantera.
"Lumos," ketika cahaya yang keluar dari tongkatnya menyinari seseorang yang Jiraiya tabrak, ia membulatkan matanya, ya yang menambrak Chiyo-baasan adalah Jiraiya.
"Chiyo-baasama?" dengan segera ia membantu sang nenek berdiri.
"Jiraiya? Bagaimana kau bisa ada disini?" dengan dibantu Jiraiya untuk berdiri ia menatapnya dengan tatapan bingung.
"Aku sedang mencari puteriku, Sakura namanya," ujar Jiraiya.
"O-oh, eh t-tunggu kau bilang Sakura? Gadis berambut merah muda?" spontan Chiyo-baasan menatap Jiraiya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Iya! apakah anda pernah bertemu dengannya baa-sama?"dengan tatapan berbinar Jiraiya menatap Chiyo-baasan.
"iya, namun sekarang Sakura dalam bahaya, Jiraiya kita harus menemukannya , nanti akan aku ceritakan bagaimana aku bisa bertemu Sakura." Jelasnya sambil menerawang.
"Sakura sekarang sedang berhadapan dengan Orochimaru,"
"Homenum Revelio," Jiraiya nampak terkejut melihat Sakura yang kini terus berjalan, ia tahu tempat itu, daerah yang tidak jauh dari kastil pangeran Naruto. Jiraiya menggeram marah ketika melihat sosok yang memakai jubah hitam dengan jalan terseok-seok, itu pasti Orochimaru, tidak salah lagi, dugaannya diperkuat ketika tiba-tiba ular besar keluar dari jubah hitam, perlahan ular itu mengikuti langkah Sakura yang kian melambat.
"Kita Harus cepat ke tempat Sakura berada Chiyo-baasama,"
"namun Jiraiya, aku lupa mantera itu, sudah terlalu tua untuk mengingat mantera-mantera seperti itu." Jiraiya mengayunkan tongkat sihirnya,
"tenang Chiyo-baasama, aku akan mencobanya."
"Apparate Disapparet!" dan seketika mereka berdua menghilang.
.
.
.
"ARGHH, kaa-sama, tou-sama!" sebuah teriakan terdengar di ruangan ujung kastil lantai ratu yang mendengar teriakan kesakitan yang sudah ia kenali berlari, menuju asal suara. Begitupula dengan raja Minato dan Tsunade.
Ratu Kushina langsung meneteskan air mata dan menghambur memeluk sang putera yang kini terlihat kesakitan tangan kirinya memegang dadanya sedangkan tangan kanannya memegang sebua mahkota bunga yang bisa dikatakan mahkota bunga kering.
"Kaa-chan disini Naru," sambil terus memeluk Naruto, ratu Kushina tak henti-hentinya menangis terisak-isak.
"Sebaiknya kita bawa Naruto ke lantai dasar, Kushina." Ujar raja Minato sembari melepas pelukan ratu Kushina dan mengangkat tubuh Naruto, memindahkannya ke lantai dasar tepatnya ke sebuah aula.
"Naruto pasti akan baik-baik saja ratu," Tsunade mencoba menenangkan ratu Kushina dengan memeluk dan mengusap punggungnya.
"tapi sebentar lagi nee-san, setenga jam lagi, jika Naruto t-tidak –" ucapan ratu terpotong.
"Sshh, jangan putus asa dulu ratu, aku yakin pangeran Naruto akan kembali norma, aku yakin itu."ucapan Tsunade membuat ratu terdiam, menatap puteranya ang kini sedang kesakitan, mereka tidak bisa berbuat apa-apa sekarang.
.
.
.
Sakura terus berlari namun, ia sudah kehabisan tenaga ketika ia berhenti, tiba-tiba Sakura, merasa akan terjadi sesuatu yang buruk jika ia berhenti, sibuk dengan pikirannya. Sakura kaget ketika seekor ular yang tidak bisa dikatakan kecil mencoba menggigitnya, ia dengan sigap menghidar dan berlari.
Sakura tidak sadar jika didepannya ada orang, sehingga ia terjatuh karena menabrak orang yang didepannya, "Mau kemana, hm gadis kecil?" mata Sakura membola ketika orang itu menampakkan wajahnya yang ditutupi tudung jubah hitamnya.
"K-kkau Orochimaru!" kini Sakura baru tersadar jika jubah yang ia pakai untuk membuatnya tak terlihat sudah terlepas, saat menghindari gigitan ular.
"khukhukhu, kau pasti tahu dari penyihir tua itu kan?" dengan seringaian licik ia menatap tajam kearah Sakura yang memundurkan badannya yang masih terduduk.
"Manda, jaga dia."
'A-apa dia bicara dengan ular itu!, oh astaga ular yang di panggil Manda itu menuju arahku, akh sekarang ular ini melilit tubuhku' pikiran Sakura kacau, kini yang ia rasakan tubuhnya seperti digilas.
"Sakura!" Teriak Jiraiya yang tiba-tiba muncul,.
"Vipera Evanesca!" sebuah mantera dirapalkan Chiyo-baasan yang ini berada tak jauh dari Sakura, seketika ular yang membelit tubuh Sakura lenyap.
"Ukh, tou-san? Baa-san?" ujar Sakura lemah, ia berusaha mengumpulkan tenaganya kembali.
"Kau tidak apa-apa, sayang?" Jiraiyaa menghambur ke pelukan Sakura.
"Jangan dipeluk begitu kencang tou-san, sakit!" tegur Sakura marah.
"A-aah maaf, sayang."
"dimana Orochimaru Sakura?" tanya Chiyo-baasan
"Ah! Dia pergi ke kastil baa-san, kita harus cepat menyusulnya!"
"dan untungnya dia tidak tahu jika aku membawa crystal gem ini, jadi mungkin kita masih bisa menyelamatkan pangeran," Ujar Sakura dengan wajah sumringah, Jiraiya tak terkejut ketika mendengar ucapak Sakura, karena ia sudah diberi tahu tentang semua itu.
Ketika Jiraiya ingin merapalkan mantera untuk menghilang lagi, sebuah tongkat melayang keatas kepala Jiraiya, memukul kepalanya. Ternyata itu tongkat sihir Chiyo-baasan.
"Biar aku kali ini yang mencoba mantera itu, Jiraiya!" seringaian sang nenek tua itu membuat Jiraiya kesal, hei tongkat sihirnya itu memukul kepalanya terlalu keras.
.
.
.
Pintu gerbang kastil yang terbuat dari kayu tiba-tiba terdobrak, mengakibatkan raja Minato, ratu Kushina, Tsunade kaget, kecuali Naruto yang mengerang kesakitan tidur di sebuah sofa kastil.
"Orochimaru!" ucap raja Minato geram, ratu Kushina dan Tsunade sendiri menatap Orochimaru dengan tatapn terkejut.
"Apa kau tidak cukup membuat Naruto menjadi monster haa! Apa kau tidak cukup membuat anakku menderita seperti itu HAH!" teriak raja Minato murka,
"Avada ka-" rapalan mantera raja Minato terpotong ketika Orochimaru berujar, " Apakah dengan membunuhku, pangeran akan kembali semula Minato-sama?!"
"jangan dengarkan omongan penyihir ular itu Minato!" teriak Jiraiya yang kini berada di kastil tepatnya di lantai dua bersama Sakura dan Chiyo-baasan.
"Senpai?!" Minato melihat keatas, menatap ketiga orang yang tiba-tiba muncul, ketika mereka lengah Orochimaru dengan tongkat sihir yang seperti duplikat milik Kabuto mengayun kearah pangeran Naruto.
"Levicorpus!" mantera itu membuat tubuh pangeran Naruto melayang kearah Orochimaru.
"Ukh, Tou-sama~" ujar pangeran Naruto lemah yang kini berada di samping Orochimaru.
Ketika Orochimaru bersiap merapalkan mantera dan mengayunkana tongkat sihirnya tiba-tiba Sakura melompat dari lantai dua menubruk Orochimaru, entah apa yang merasuki Sakura, karena pada saat itu waktu berjalan cepat, sehingga sang raja dan yang lainya tidak mengetahui jika pangeran Naruto sudah digenggaman penyihir ular Orochimaru.
"Kau penyihir ular breng**k! rasakan ini." Sakura terus memukuli wajah Orochimaru, tak lupa ia rebut tongkat sihirnya dan mematahkannya dengan mudah. Mereka semua terkejut dengan aksi Sakura sekaligus merasa tidak berguna, ketika tidak sadar pangeran dalam bahaya.
Orochimaru yang setengah sadar, melihat sesuatu dileher Sakura, ia tahu itu. dengan tangan yang bebas ia raih kalung Sakura dengan paksa lalu melemparkannya kesembarang arah hinggak liontin yang merupakan crystal gem terbentur tembok dan pecah berkeping-keping.
"Hahaha satu-satunya benda yang dapat menyelamatkan pangeran sudah tidak ada gunanya lagi, bersiaplah kerajaan Konoha hancur ditangan anak dari raja Konoha sendiri, dengan begini aku tidak akan keberatan jika kau merapalkan mantera kematian itu Raja, khukhukhu~" kekahan Orochimaru menggema diseluruh kasti, dengan murka raja Minato mengayunkan tongkat sihirnya serta merapalkan mantera.
"AVADA KADAVRA!" Orochimaru berteriak kesakitan, Sakura bergegas membopong tubuh Naruto, membawanya menjauh dari Orochimaru yang sekarat.
"P-pangeran, Apakah kau mengenalku?" sebuah pertanyaan yang tiba-tiba terlontar dari bibir Sakura membuat Naruto membuka matanya.
"P-pergi Sakura-chan!" Naruto yang tadinya tersenyum, dengan kasar mendorong tubuh Sakura menjauh darinya.
"ARRRGGHHH, UKHH!" Pangeran Naruto berguling-gulig dilantai dengan tangan kirinya terus-terusan memegang dadanya.
"NARUTO!" ratu Kushina hendak berlari kearah Naruto tapi ditahan oleh raja Minato.
"mungkin ini adalah kesempatan terakhir kita bersama anak kita Kushina," ujar raja Minato memeluk ratu Kushina dengan erat mencegah isterinya berlari menerjang anaknya.
"Chiyo-baasama, apakah anda tidak bisa, menghambat kutukannya lagi?" Jiraiya kini tidak bisa menahan suaranya agar tidak bergetar, sang penyihir tua hanya menggeleng lemah sebagai jawaban, satu-satunya yang bisa mencegah kutukan itu adalah crystal gem, namun kini crystal itu hancur tidak berbentuk lagi, hanya sebuah kepingan-kepingan yang tidak berguna.
Sakura kini termenung melihat pangeran Naruto yang berteriak kesakitan, sebuah potongan-potongan kejadian yang selalu muncul di mimpinya kini terlintas begitu saja ketika melihat pangeran Naruto.
"Dia namanya Kurama, Rubah kesayanganku lucukan?"
"Sakura-chan..aku membuat mahkota bunga, baguskan?"
"Kau tau mahkota ini untuk siapa?"
"Rahasia~"
"Aku akan memberikan mahkota bunga ini pada orang yang aku cintai, saat hari ulang tahunku nanti...kau harus datang!"
"Kata Okaa-sama, jika kita berada didekat seseorang jantung kita berdetak lebih kencang dan jika orang itu disakiti kita akan marah, berarti kita mencintai orang itu~"
"Maukah anda berdansa denganku, Puteri?"
"Jangan tinggal kan aku Sakura-chan~"
Mata Sakura terbelalak, itu bukan hanya mimpi tapi itu sebuah kenagan masa kecilnya. Ttangan Sakura menggenggam potongan crystal gem yang pecah, dengan langkah pasti ia kembali mendekat ke arah pangeran Naruto yang kini tubuhnya ditumbuhi bulu-bulu tipis berwarna orange, jadi pangeran Naruto benar-benar telah dikutuk oleh Orochimaru. Tsunade ingin berlari mencegah Sakura mendekati pangeran Naruto, namun Jiraiya berteriak kearah Tsunade.
"Biarkan dia Tsunade!"
"Pangeran Naruto, kau punya janji untuk memberi tahu gadis yang beruntung dicintai olehmu kan?" kini Sakura mendekap tubuh pangeran Naruto yang mulai membesar, ia tak bergeming ketika pangeran Naruto terus memberontak, dan ketika ia terlempar Sakura kembali memeluk tubuh pangeran Naruto.
"A-aku tagih janjimu pangeran!" Sakura meletakkan tangan kanannya yang menggenggam potongan crystal gem tepat kedada pangeran Naruto. Sakura tidak bisa membendung airmatanya lebih lama lagi.
"Aku mencintaimu pangeran Naruto," ucap Sakura disela isakan tangisnya, airmatanya kini jatuh tepat diatas crystal gem. Dan tanpa Sadar ia berjinjit meraih wajah pangeran Naruto, Sakura mencium lembut bibir penuh gigi taring yang tajam itu.
Sebuah cahaya menyilaukan berwarna hijau kebiruan terpancar dari crystal gem yang ada di dada pengeran Naruto, semua orang yang ada dikastil ternganga melihat apa yang terjadi diantara pangeran Naruto dan Sakura, kecuali Orochimaru yang sekarang tinggal abu hitam.
Crystal gem itu lam-kelamaan menembus masuk ke tubuh pangeran, disaat yang bersamaan tubuh pangeran sedikit demi sedikit berubah menjadi normal.
Sakura membuka matanya ketika merasakan ciumannya dibalas oleh pangeran Naruto, bibir yang penuh dengan gigi taring itu digantikan dengan bibir lembut yang hangat, Sakura melepas ciumannya dengan paksa.
"P-pangeran Naru-" ucapan Sakura terputus ketika bibirnya terbungkam oleh ciuman manis sang pangeran mantan kyuubi.
"Aku juga mencintaimu Sakura-chan," melepas ciumannya ia tersenyum lembut sambil terus menatap wajah cantik Sakura yang kini merah padam, dengan gugup Sakura mengalihkan pandangannya kearah lain, enggan menatap wajah pangeran Naruto.
"Ee-ehh-" Sakura merasakan ada sesuatu berada diatas kepalanya, itu adalah mahkota bunga (kering), ahh ia ingat!.
"kamu adalah orang yang aku cintai puteri Sakura," ujar pangeran Naruto meraih wajah Sakura untuk berhadapan dengannya.
"Aku sudah menepati janjiku bukan?"
Raja Minato, ratu Kushina, Jiraiya, Tsunade dan Chiyo-baasan. Terlihat menahan tangis bahagia, dengan perlahan raja dan ratu berjalan kearah pangeran Naruto dan Sakura, melihat kedua orang tuanya pangeran Naruto melepas pelukannya pada Sakura, dan menarik lembut tangan gadis yang dicintainya itu membawanya kearah raja dan ratu.
"Tou-sama, kaa-sama, aku sudah kembali normal." Ujar Naruto saat ia berhadapan dengan orangtuanya. Kushina yang tidak tahan, lansung memeluk anaknya.
"Naruto! Hiks-"
"jangan menangis kaa-sama," sembari membalas pelukan sang ibunda Naruto tersenyum ketika ayahnya menepuk pundaknya serta mengacak armbutnya dengan airmata yang terlihat menetes dari pelupuk mata sang raja.
"Aku senang kau kembali Naruto, apapun yang kau inginkan pasti akan tou-san kabulkan," ujar raja Minato.
"Kalau begitu, aku ingin menikah dengan Sakura-chan, tou-sama!" dengan lantang ia mengucapkan permintaan yang mengejutkan semua orang yang berada di kastil itu. tangan pangeran Naruto yangsedari tadi menggenggam tangan Sakura, meremas pelan tangan mungil gadisnya.
"Tentu aku akan mengabulkan permintaanmu itu anakku tersayang, minggu depan ah! Kalau bbisa lusa kita adakan upacara pernikahan sekaligus pesta pernikahanmu bagaimana?" dengan semangat ratu Kushina meng 'iya' kan permintaan pangeran Naruto bahkan sudah memikirkan harinya juga.
Sakuro melotot mendengar ucapan sang ratu, yang sepertinya akan menjadi mertuanya, Jiraiya dan Tsunade ternganga, Chiyo-baasan hanya tersenyum tipis sama dengan raja Minato, sengankan Naruto tidak bisa menahan senyuman lebarnya, dan berkali-kali menciumi pipi sang ibu.
"A-ano Ratu Kushina, bukannya pangeran Naruto terlah bertunangan dengan Shion?" Sakura menutup mulutnya dengan tangannya yang bebas, merasa lancang dengan ucapannya.
"jangan dengarkan gosip murahan itu Sakura-chan, persiapkan saja dirimu besok lusa, dan jangan pangil aku 'Ratu' panggil aku kaa-san oke~" ujar sang Ratu sambil mengedipkan sebelah matanya. Sakura kaget ketika ratu Kushina tiba-tiba mencium keningnya dan memeluknya erat.
"Arigatou sudah menyelamatkan Naruto, Sakura-chan arigatou gozaimasu,"
.
.
.
~OWARI~
A/n: Haloo minna-san~ hisashiburi, akhirnya Haru bisa juga namatin satu fic,kyaaa *mulai heri* Ah pasti kalian pada nunggu fic haru yg satunya bukan? Sebenarnya MST chapter depan udah hampir 60%, sudah mulai proses sejak bulan januari malah, namun sayangnya Haru bulan februari ada program sama temen" duta selama satu bulan, di kediri *sapa yang nanya* abaikan. Btw Haru nyelesaiin fic ini ngebut hlo dari jam 8 malem sampe dini hari hoah jam 2.40. so maafkan Haru jika ficnya ngebut dan typo tersebar dimana-mana T.T
Karena Haru sudah sangat mengantuk dan besok Haru, harus berangkat ke solo buat ngurusin masalah pkl, sampai jumpa di fic haru yang laen, thanks buat yang udah ngeriview fic abal ini :*
Psst kalo ngerasa ngegantung endingnya, tunggu aja epilog nya yak =,=
Mind to Review?
