Vocaloid Fanfiction
Disclaimer : Yamaha and Cripton Media Future
WARNING!
There will be so much Typo, OOC, AU, and so much more
Read First and give me your review... Thats my pleasure
Pemeran Utama :
Kaito Shion
Miku Hatsune
Please Enjoy ^.^
Chapter 4 : Melanggar Jam Malam
Luka tidak tidur di kamar kami. Aku berasumsi ia tidur di kamar Teto atau IA malam ini lagipula aku tak akan bisa tidur jika ia satu kamar denganku.
Aku mendesah sambil memandangi langit-langit kamar tempatku menginap. Aku tidak bisa tidur dan aku juga tidak mau tidur. Kamarku sepi sekali, dan aku mendengar suara berisik dan tawa dari kamar lain. Paradoks!
Otakku sibuk mengenang memori setengah jam yang lalu. Memori ketika Luka marah dan meninggalkanku sendirian. Aku memejamkan mata sejenak berusaha mengusir memori menyebalkan itu dari otakku namun semakin aku memejamkan mata, semakin jelas memori itu berputar di otakku.
Aku menggeram kesal dan frustasi.
Kenapa? Kenapa Luka dan Gakupo? Kenapa Luka tidak memberitahuku jika ia berpacaran dengan Gakupo? Kenapa mereka tega melakukan itu padaku? Kenapa? Kenapa?
Pertanyaan sejenis itu berputar terus-menerus di dalam kepalaku sampai aku tak sanggup berpikir karena rasa pusing yang melanda kepalaku. Aku berdecak dan akhirnya menyerah.
Aku bangkit dari tatami tempatku tiduran dan membuka jendela kamar yang ku tempati. Dan Luka, namun ia tak akan tidur disini malam ini.
Semilir angin langsung menyerbu masuk ke dalam kamar yang gelap tempatku berada. Aku duduk di pinggir jendela dan memejamkan mata. Jika seperti ini aku ingin sekali memohon, meminta, bahkan mengemis sekalipun akan kulakukan pada angin malam agar ia membawa jauh-jauh semua perasaan gundah, sedih, kecewa, marah yang kurasakan saat ini.
Kalau bisa sekalian dia membawa pergi kenangan dan perasaanku ini.
"Haaah…" Tanpa sadar aku menghela napas.
"Kata orang jika kau menghela napas artinya kau membuang sebuah kebahagian," kata sebuah suara yang familier dan sukses membuatku terlonjak kaget hampir jatuh.
Aku mendelik pada sumber suara, "kau ini suka sekali membuat orang jantungan ya," kataku berdecak pada Kaito. Dia menatapku dengan senyuman jail dan tengil seperti biasanya.
Dia tergelak. "Kau saja yang mudah kaget. Ah, aku tahu. Kau sedang memikirkan aku ya?" godanya dengan suara yang membuat perutku mulas. Aku memutar bola mataku.
"Astaga! Aku akan berdoa pada Tuhan supaya mata hatimu yang rabun diterangkan," desahku sambil menatapnya dengan tatapan sok prihatin.
Dia mengibaskan tangannya tak sabar. "Sebenarnya kau ingin berdoa agar kau bisa menjadi pacarku 'kan?" tanyanya narsis.
Aku mengerang tertahan. "Kau ini menyusui pada mahluk amfibi ya saat masih bayi?" sindirku.
"Ngomong-ngomong tumben sekali kau tidak berkumpul dengan teman-temanmu yang pecicilan?" tanyanya. Aku mendesah tertahan.
"Aku capek sekali hari ini. Berbicara denganmu saja membuat semangatku habis terkuras," desahku malas. Aku menyandarkan punggungku pada bingkai jendela dan menatap langit malam yang penuh bintang.
Di Tokyo aku jarang sekali bisa melihat bintang. Lampu-lampu bangunan sudah menyelimuti kota Tokyo dan membuat bintang pun minder untuk muncul. Tapi di Kyoto aku bisa melihat bintang dengan jelas.
"Kau suka melihat bintang?" tanya Kaito tiba-tiba. Aku menatapnya sekilas dan mengangguk. Aku mendengar dia mendesah. "Kau ingin melihat bintang dengan lebih jelas?" tanyanya lagi.
Kali ini aku menatapnya penasaran. Aku memandang lurus ke matanya dan menemukan kilatan semangat yang liar. Darahku berdesir cepat untuk sesaat. "Bukankah disini kelihatan?" tanyaku balik. Dia mengelengkan kepalanya dramatis.
"Kau tidak menjawab pertanyaanku. Kau ingin melihat bintang tidak?" tanyanya lagi. Aku menatapnya curiga.
"Apa yang kau rencanakan?" tanyaku penuh selidik. Dia berdecak berlebihan.
"Astaga! Apa susahnya menjawab pertanyaanku dulu sebelum kau bertanya padaku?" katanya. Aku menghela napas tak sabar.
"Aku harus tahu dulu apa rencanamu baru aku akan menjawab pertanyaanmu," kataku mendebatnya.
"Bagaimana kalau kau jawab dulu pertanyaanku baru aku menjawab pertanyaanmu? Lagipula aku sudah bertanya dari tadi," debatnya.
Aku memutar bola mataku. "Bisakah kau tidak membuatku penasaran?" tanyaku jengkel pada akhirnya.
"Bisakah kau menjawab pertanyaanku?" tanya Kaito balik. Aku menggeram.
"Baiklah. Aku mengakui bahwa aku memang ingin melihat bintang. Puas? Nah, sekarang jawab pertanyaanku," kataku.
"Baik. Aku ingin mengajakmu melihat bintang," jawab Kaito. Aku melongo. Aku tidak langsung menjawabnya, namun masih mempelajari kilatan di balik matanya. Aku berusaha mencari kilatan jail yang biasanya selalu bertengger di balik bola matanya ketika ia berbicara denganku, namun kali ini aku tidak menemukannya.
"Apa… kau serius?" tanyaku perlahan.
Kaito mendesah dramatis. "Tidak, aku hanya bercanda. Tentu saja aku serius Hatsune Miku," katanya dan dia memanggilku lengkap dengan margaku.
Aku mengerutkan keningku sesaat seolah berjengit namun kemudian mengangguk perlahan. Dia tersenyum lebar begitu mendengar jawabanku.
"Bagus. Ayo kita melihat bintang," ajaknya semangat. Aku mengerutkan kening bingung.
"Melihat bintang? Kapan? Dimana?" tanyaku bingung. Bukankah kami sudah melihat bintang?
"Kau tahu kuil tempatmu berteriak seperti orang gila? Ku dengar disana tempat yang bagus untuk melihat bintang," usul Kaito. Aku menaikkan alisku. Janutngku berdebar. Adrenalinku terpacu.
"Maksudmu kita akan melanggar jam malam?" tanyaku lagi. Dia mengangguk antusias. Adrenalinku sekarang benar-benar terpacu. Tiga kata itu terus terngiang-ngiang di kepalaku. Melanggar Jam Malam. Melanggar Jam malam. Melanggar Jam Malam.
"Kedengarannya seru," ujarku jujur. Senyumnya makin berkembang. Dia menatapku lekat.
"Jadi…?" tanyanya memastikan. Aku melirik pintu kamarku yang tertutup rapat. Perasaan bimbang menyelimutiku.
"Bagaimana kalau…"
"Tidak akan ketahuan selama kau tidak bertindak ceroboh," potong Kaito. Aku menatapnya ragu. Dia mendengus dan melanjutkan kalimatnya. "Taruh saja futon-mu di tempat biasa kau tidur. Selama kita pergi tak bersuara tak akan ada yang tahu. Kalaupun sensei masuk, mereka tak akan benar-benar mengecek," jelas Kaito.
Aku mengangguk. "Kedengarannya rancu," kataku jujur.
"Memang, tapi mau bagaimana lagi? Untuk menemukan sesuatu yang menakjubkan dibutuhkan perjuangan yang setimpal 'kan?" kata Kaito sambil menggidikkan bahu.
"Aku tak menyangka, seorang Shion Kaito mampu berkata seperti itu," dengusku. Dia tergelak sesaat.
"Ya sudah. Aku menunggumu tiga menit untuk menyiapkan futon dan memakai sweater," jelas Kaito. Aku mengangguk mengiyakan. Dan, aku pun masuk kembali ke dalam kamar.
.
.
.
Bagimana cara kami keluar dari Hanakiya? Keluar lewat jendela yang terbuka lebar. Aku menutup kembali jendela kamarku namun aku mengganjalnya dengan selembaar kertas yang sudah kugulung kecil-kecil. Bisa runyam masalah jika aku dan Kaito terkurung di luar 'kan?
Kami keluar dari penginapan Hanakiya secara sembunyi-sembunyi dan aku merasa seperti perampok yang kabur dari penjara. Menegangkan namun juga mengasyikkan.
Selama kami berdua berusaha keluar dari penginapan Hanakiya, aku selalu berjalan di belakang Kaito dan menggenggam erat jaket warna biru tua yang ia kenakan.
Udara semakin dingin dan aku semakin menggigil. Aku merapatkan jaket Reebok yang kupakai dan mengikuti Kaito keluar dari gerbang penginapan. Lalu kami berlari. Setelah jaraknya cukup jauh dari Hanakiya, kami melambatkan pacu kaki kami dan mulai berjalan santai.
Selama perjalanan tak ada yang bersuara. Dan, lagi aku menyukai keheningan ini. Ada sensasi asing merayap di sekujur tubuhku yang membuatku kegirangan. Aku tetap berjalan di belakang Kaito, dan ini pertama kalinya kami jalan bersama.
Maksudku, aku jelas tidak pernah jalan berdua dengan Kaito seperti ini sebelumnya. Kami memiliki kehidupan masing-masing. Dia berpacaran, dan aku pun pernah berpacaran. Aku menyukai Gakupo dan dia berpacaran dengan Meiko. Lihat? Kami mempunyai kehidupan masing-masing dan tak berniat mengganggu atau mencampuri kehidupan yang lain.
Dan sekarang, kami jalan berdua. Benar-benar berdua. Tak ada Gakupo dan Meiko. Hanya berdua. Dua orang teman masa SMP yang berjalan berdua. Titik.
Semilir angin membungkus kami berdua dan menghantarkan wangi Kaito padaku. Aku mempu mencium wangi Lemon yang segar darinya. Mungkin efek dari shampoo yang ia gunakan. Ternyata seleranya bagus juga.
Kami melewati jalan setapak yang kulewati ketika aku berlari tanpa tujuan sejak kejadian di 'Batu Buta' tersebut.
Aku kembali mengingatnya dan rasa sesak kembali melandaku. Perih yang sempat terlupakan sejenak kembali menyeruak ke permukaan memori menjadi kepingan tajam untuk menusuk hati.
Aku menarik napas dan mengerjap-ngerjapkan mataku yang mulai panas. Tidak! Aku tidak boleh menangis! Pikirkan hal-hal bahagia! Pikirkan!
Aku menyugestikan diri sendiri dan aku berpikir tentang melihat bintang. Aku melanggar jam malam dan kabur berdua dengan Kaito untuk melihat bintang. Adrenalinku mulai terpacu lagi dan kegairahan itu menghapus sedikit kesedihanku.
Ya! Banyak sekali kebahagiaan yang dapat kupikirkan!
.
.
.
Kaito tidak berbohong, dan aku juga tidak mau berbohong. Bintang-bintang terlihat jelas dari halaman kuil tua tersebut. Banyak dan bercahaya.
Aku mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali aku dapat menyaksikan bintang yang bertebaran di seluruh langit seperti ini? Kurasa sudah lama dan aku sudah lupa.
Jantungku berdebar dan aku merasa bahagia sekali bisa melihat bintang seperti ini. Tak sia-sia aku melanggar jam malam dan melihat bintang. Ternyata mengagumkan.
"Kirei," bisikku kagum pada diriku sendiri. Tapi sepertinya Kaito mendengarku dan dia bergumam singkat.
"Berterima kasihlah padaku," ujarnya bangga. Aku menatapnya dan tersenyum singkat.
"Arigatou," kataku. Dia menelitiku sejenak dan mendegus geli.
"Lihat ekspresimu tadi! Kau benar-benar menyukai bintang ya," katanya dan aku mengangguk setuju. Dan mataku terkunci pada sebuah rasi bintang yang selama ini hanya dapat kulihat dari buku dan internet.
"Gemini," bisikku takjub. Benar, itu Rasi bintang Gemini! Astaga, aku beruntung sekali bisa menyaksikannya! Jantungku berdebar tak terkendali saat ini. Dalam waktu empat hari saja aku mampu melihat hal-hal yang selama ini kuinginkan. Sugoi nee…
Aku menatap Kaito yang sedang asyik menatap langit malam. Wajahnya terlihat berbeda saat ia menatap langit. Ia mendongak, dan rambut birunya tertiup angin sehingga terlihat berantakan. Matanya fokus pada benda-benda langit tersebut dan bibirnya menyunggingkan sebuah senyum yang tak pernah kulihat sebelumnya.
"Nee Kaito," aku memanggilnya.
Dia menatapku dan aku menatap wajahnya dengan sungguh-sungguh.
"Arigatou nee," ucapku sekali lagi.
To Be Continued
Tanpa banyak bacod, langsung ke BALASAN REVIEW!
BALASAN REVIEW:
Aosaki Sakurai
Ini udah update..
Last word
RnR please...
