Terima kasih review-nya...

Rata-rata mengomentari karena kependekan ya? Wah, gimana nih? Soalnya hana juga ini gak bermaksud bikin fic. Cuma kebetulan ada dan coba-coba bikin cerita.

Jadi panjang pendeknya bergantung sama mood aja

Chapter 4

Sakura

Kepala ayam menyebalkan

Kepala ayam kurang ajar

Kepala ayam gila

Kepala ayam iblis

Makian demi makian terlintas di kepalaku, spesial teruntuk kepala ayam sialan itu. Gila! Dia bisa mengatakan kata munafik di depan mataku dengan wajah biasa saja. Dasar iblis!

Munafik...munafik...munafik...

Kata itu terus terngiang di kepalaku. Kepala ayaam...awas kau!

Aku benar-benar tidak mood belajar, pertengkaran itu membuatku luar biasa kesal. Ku putuskan berbelok ke atap untuk menenangkan diri. Masa bodoh dengan pelajaran Kakashi sensei. Sensei yang hobi telat itu semakin membuat moodku bertambah buruk. Apa sih yang membuatnya telat setiap hari? Grr...parah sekali aku ini, kenapa Kakashi sensei jadi ikut ku cela?

Ku dorong pintu atap. Dapat ku rasakan helaian rambut merah mudaku tertiup angin. Ku rasakan angin itu bergesekan dengan kulitku, menimbulkanrasa dingin. Ini lebih baik. Angin yang berhembus cukup membuat kepalaku dingin dan tenang.

Aku belum beranjak dari tempatku berdiri. Masih merasakan belaian angin yang menusuk tiap centi permukaan kulitku hingga detik demi detik berlalu. Menikmati angin, tidak buruk.

Setelah puas, aku melangkah menuju kawat pembatas di sisi gedung untuk melihat halaman sekolah dari atas. Jemariku mencengkram celah kawat di pagar. Aku tersenyum. Semua terlihat sangat kecil dari sini.

Aku sering berpikir, apa ayahku di surga melihatku seperti aku melihat mereka dari sini? Hanya dapat memperhatikan, tak dapat di sentuh, hanya merindukan...

Tiba-tiba perasaan yang aneh menyusup ke dadaku. Perasaan sedih, hm...mungkin rindu. Aku merindukan ayahku sepertinya. Aku segera menghapus perasaan aneh ini.

Benar-benar tidak penting untuk merindukan orang yang tak bisa kau temui saat ini. Cepat atau lambat bukankah aku akan menyusul juga? Itu bukan berarti sekarang ya. Jalanku masih panjang.

Di sela lamunanku aku mendengar suara pintu terbuka di belakangku.

"Hei idiot."

Suara itu begitu familiar bagiku, berikut kata-katanya juga. Keduanya sepaket dan itu membuatku yakin yang memanggilku itu si kepala ayam.

Aku pura-pura tidak mendengarnya. Masa bodohlah. Kepala ayam itu mau bicara apa.

"Hn...tak ku kira selain idiot kau juga tuli." Ejek orang yang aku belakangi.

Hah, dia benar-benar menguji kesabaranku! Tenang Sakura, ayam itu akan merasa sangat amat bahagia bila kau berteriak kesal padanya. Tenanglah...tenang sakura...

Sakura-end

Sasuke

Aku baru memasuki atap, dari tempatku dapat ku lihat helaian merah muda tersapu angin. Sosoknya dari belakang sangat indah. Aku tak dapat memungkiri jantungku berdegup lebih cepat ketika melihatnya.

Gadis ini berbeda. Beberapa saat di kantin telah membuktikannya. Ia gadis yang menarik. Aku tak bilang aku menyukainya, tapi aku suka melihatnya kesal karena tingkahku.

Sepertinya gadis ini tak kan mudah ditaklukan. Lihat saja, ia mencoba menyembunyikan kekesalannya dariku. Entah kenapa ada rasa senang tersendiri ketika ia berteriak kesal padaku. Seperti memiliki mainan baru eh? Coba ku lihat, berapa besar kau mampu tahan menghadapiku.

"Hei idiot." Kataku sembari berjalan ke arahnya.

Ia masih tidak memperdulikan panggilanku.

Eh, idiot juga panggilan kan?

Aku berjalan ke arahnya. Berdiri membelakangi kawat pembatas dan menyandarkan tubuhku disana, menghadap ke arahnya.

Aku bersandar di dekat cengkraman jarinya. Aku dapat melihat matanya berkilat tajam dan bibir mungilnya ia gigit untuk menahan dirinya untuk tidak menganiayaku. Heh, seperti kau bisa menganiayaku saja Haruno.

Meskipun wajahnya sedang marah, ia terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Tunggu, lucu dan menggemaskan? Tidak, aku tak akan mengatakan itu, itu menggelikan.

Nafasnya memburu. Mungkin ia berniat membuatku takut dengan kegarangannya. Hei Haruno, kau tak akan membuatku takut bila wajahmu manis begitu.

"Apa yang membuatmu begitu kesal?" tanyaku dengan enteng. Aku menyembunyikan seringaianku dan mencoba berwajah sepolos mungkin.

Hey, jarang-jarang aku berbicara lebih dulu. Biasanya para gadis yang tak penting itu selalu berbicara, eh ralat, berteriak tak jelas ketika melihatku.

"Kau bernapas saja sudah merupakan musibah bagiku Uchiha." Sahut gadis merah muda itu.

Hn. Akhirnya kau buka mulut pink. Dalam hati aku menertawakannya yang lagi-lagi berhasil ku pancing amarahnya.

"Hn. Aku kan tidak melakukan apa-apa idiot." Balasku berharap dia semakin kesal.

Gadis itu memalingkan wajahnya dariku, aku bisa mendengar dia mendecih pelan.

Oke. dia mulai mengabaikanku lagi.

Tidak ada gunanya juga menggodanya lebih lama, meski aku memang menikmatinya. Masih banyak waktu melihat gadis ini murka kok. Santai saja.

"Cokelat." Akhirnya aku mengatakan kata kunci hal yang ingin aku bicarakan saat berada dengannya di kantin tadi.

Gadis yang bernama sakura itu menatap tajam kepadaku dengan pandangan menyelidik. Dia memang hanya diam, tapi aku tahu dia memandangku awas.

"Aku akan memberi cokelat sebanyak yang kau inginkan jika kau menerima pertunangan ini." Kalimat itu meluncur lancar dari mulutku.

Gadis itu melotot ke arahku, ia tak dapat menyembunyikan keterkejutannya.

Hn, idiot. Aku juga sebenarnya tak mau. Kalau bukan tousan yang sedang sakit, aku tak akan mau menjalani pertunangan konyol itu. Tapi tousan terus menghantuiku dengan kalimat 'janji' dan 'mati'. Siapa yang tahan diteror seperti itu oleh tousanmu sendiri?

"Apa-apaan kau?! Kau pikir aku bisa kau beli dengan cokelat?!" nadanya meninggi menanggapi ucapanku.

Aku menatapnya dengan sebelah alis terangkat.

"Hn. Kau tak akan bisa menolak."

Tak kan ada yang bisa menolak keinginan Uchiha. Bagaimanapun caranya, aku, atau mungkin seluruh anggota keluargaku akan membuatmu menerima pertunangan ini. Baik sukarela maupun terpaksa!

"Hidupku itu milikku Uchiha! Jadi aku bisa melakukan apapun yang ku mau!" teriaknya padaku.

"Hn. Kau tetap akan bertunangan denganku." Sahutku datar.

Ia mengerucutkan bibirnya dan menggembungkan pipinya kesal. "Itu tidak adil!" protesnya.

Hn. Kalau saja aku bukan Uchiha, mungkin aku sudah mencubit pipimu pink.

Aku berusaha menyembunyikan ekspresiku. Aku tak tahan untuk tidak tersenyum melihat wajahnya saat ini.

"Dunia memang tidak adil pink." Sahutku sedatar yang aku bisa.

Ekspresinya itu...ah, aku harus pergi sebelum aku menggodanya lagi dan membuatnya murka lagi.

Aku bersiap meninggalkannya, melangkah dengan tenang meninggalkannya. Aku tak mau ia menyadari kalau aku berdebar di dekatnya.

Aku seorang Uchiha.

Dan aku bukan Uchiha yang akan segampang itu tertarik pada seorang gadis, yang mungkin sama sekali tak ku kenal.

Oke. Maksudku bukan kenal yang bagaimana. Aku tahu namanya Haruno Sakura, tapi aku bahkan tak pernah bicara sebelumnya dengannya sebelum ini.

Aku melangkah sambil terus bergumam dalam hati. Berspekulasi tentang tertarik atau tidaknya aku terhadapnya yang mungkin tidak penting. Tertarik atau tidak, dia tetap akan menjadi tunanganku.

Ketika hendak menutup pintu atap, aku menyeringai. Tiba-tiba terlintas keinginan untuk menggodanya sekali lagi.

"Idiot." Panggilku padanya sedikit berteriak.

Ia mengengok ke arahku.

Bodoh, secara tidak langsung ia mengakui bahwa ia memang idiot.

Aku menyembunyikan tawaku, dan malah menyeringai ke arahnya.

"Kau tahu, berdiri di dekat kawat pembatas dengan memakai rok seperti itu akan mengundang lelaki dibawah terus menengok ke arahmu." Jawabku santai.

Dapat ku lihat wajahnya memerah malu dan matanya menatapku tak percaya.

Aku tak dapat menahan diri untuk menggodanya lagi.

"Hn. Tapi ku rasa kau sengaja. Jadi...maafkan aku." Ucapku manis kemudian menutup pintu.

Aku tersenyum sambil menuruni tangga. Aku dapat membayangkan wajahnya setelah ku tutup pintu itu. Ah...menyenangkan.

Senyumku semakin lebar ketika ku dengar teriakan 'Ayam sialan' dengan volume yang tak bisa dikatakan kecil di belakangku.

Satu yang dapat ku simpulkan setelah ini. Ini akan jadi menarik.

Sasuke-end

O_O

Matahari tidak seterik biasanya, awan-awan seolah melindungi para manusia dari sengatan matahari terik siang itu. Ternyata di musim panas seperti in angin masih bisa bertiup, menyegarkan hari dan pikiran sebagian orang. Oke Sebagian orang.

Sepasang remaja terlihat berjalan bersama sepulang sekolah. Seorang gadis dengan rambut merah muda berantakan menenteng tas sekolahnya dengan cara yang jauh dari kata anggun. Sementara lelaki di sebelahnya hanya memperhatikan gadis berantakan itu yang sedang bergumam tidak jelas.

"Jadi, ada apa antara kau dengan Uchiha itu?" tanya lelaki berambut merah itu memulai pemmbicaraan pada sahabat yang ia sayangi, hm...entahlah, apa lelaki itu mencintainya. Yang jelas mereka berdua sudah lama bersama dan lelaki berambut merah itu selalu berada di dekat si gadis.

Gadis yang ditanya mengacak-acak rambutnya yang memang sudah berantakan itu. Kemudian dia melotot ke arah sahabatnya.

"Ayam! Panggil dia ayam!" ujar gadis itu memberi penekanan pada kata ayam.

Lelaki benama Gaara itu hanya mengangguk. "Baiklah, apa masalahmu dengan ayam itu?" dengan enteng dia memenuhi permintaan gadis itu. Seolah tak perduli siapa ayam yang dimaksud. Yang ia perdulikan hanya sahabatnya yang dalam keadaan aneh itu.

Gadis itu tampak puas mendengar sahabatnya menyebut 'calon tunangan'nya itu ayam.

"Dia itu gila Gaara-kun...Gila! Ku pikir semua Uchiha itu memang memiliki gangguan di otak mereka! Eh, bukan, maksudku semua ayam!" katanya mengoreksi ucapannya sendiri.

Yang disebelahnya hanya diam saja. Seperti biasa, ia hanya harus menjadi pendengar yang baik untuk menengangkan sahabatnya ini. Ia hanya memperhatikan dengan sekasama mimik yang di tunjukan sahabatnya, dan menunggu gadis itu bercerita lebih lanjut. Seperti biasa...

"Kau tahu, kakak kepala ayam itu juga gila!" Sakura menceritakannya, oh dia memekik rupanya, dengan mimik seolah tak percaya pada apa yang dia katakan sendiri. "Aku baru tahu kalau Uchiha yang punya perusahaan raksasa itu adalah sekumpulan orang-orang gila!"

Gaara menatap Sakuraa bingung. "Kakak?" tanyanya. 'Kakaknya siapa? Uchiha itu?' tanya batinnya.

Sakura tampak antusias menjawabnya. "Ya! Kakak kepala ayam itu menghampiriku, memujiku tidak jelas dan tadaaa...sore hari dia menyatakan diri sebagai kakak iparku. Apa itu kurang gila hah?" sakura menatap Gaara meminta persetujuan kalau Itachi Uchiha yang ia bicarakan memang gila.

Gaara tidak menyahut, wajahnya memucat. Ia mencerna pelan-pelan tiap kalimat yang dilontarkan sakura. Menelitinya, takut-takut ada kesalahan dalam pemahamannya terhadap hal yang terjadi.

Sakura yang tidak menyadari keadaan sahabatnya malah terus berceloteh.

"Dan kau tahu, si kepala ayam itu juga sama gilanya. Dia membuatku kesal hingga setengah gila! Dan kemudian dia bilang mau tak mau aku akan jadi tunangannya? Heh, memangnya dia siapa hah?" ejek Sakura.

"Tunggu." Gaara melangkah ke depan Sakura untuk menghentikan langkah Sakura. Sakura terlihat kaget melihat sahabatnya. Dia menatap Gaara bingung.

Gaara menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mengerti."

"Apanya?" tanya sakura ikut bingung.

"Yang kau ceritakan."

Sakura memiringkan kepalanya menatap Gaara. "Oh ya, aku baru ingat belum bercerita padamu." Sakura terlihat berpikir. "Hm, baiklah. Ayo kita ke taman, aku akan ceritakan disana sambil makan cokelat." Sahut sakura riang. Dia mengingat masih ada cokelat dari Neji Hyuga yang meminta pertolongannya waktu itu. Wajahnya langsung sumringah mengingat cokelat.

'Aku juga tak mau cepat pulang ke rumah, mengingat Itachi mengatakan akan menjemputku hari ini.' Lanjut batin sakura senang tidak langsung pulang ke rumah.

Dengan senang hati ia menjauhi jalan menuju rumahnya dan berbalik arah diikuti sahabatnya yang masih tidak mengeluarkan kata apapun lagi.

Mereka berjalan beriringan tanpa mengobrol. Tapi masih terdengar senandung nada yang didendangkan gadis berwarna pink di setiap langkah kakinya menunju taman.

Mereka akhirnya sampai di taman dan duduk di bangku yang kosong. Sakura mulai menceritakan apa yang terjadi padanya dan hubungannya dengan keluarga Uchiha. Ia menceritakannya sambil terkadang menggigit dan mengunyah cokelat dalam gengamannya sampai habis. Terkadang muncul geraman kekesalan dari bibir gadis itu, terkadang juga ia memaki dua Uchiha yang menurutnya gila dan juga diiringi nada ceria ketika merasakan rasa enak coklat dalam gengamannya. Tentu saja ia tak akan mau menceritakan bagian terakhir pertemuannya dengan Sasuke Uchiha. Itu memalukan.

Selesai ia bercerita, ia menatap sahabat di sampingnya dan menunggu sahabatnya itu bicara. Cukup lama mereka terdiam. Gaara terlihat berpikir untuk memahami situasi yang ada, sedangkan Sakura tidak mau mengganggu sahabatnya yang terdiam. Ia memutuskan untuk melahap potongan terakhir cokelat yang ia miliki.

"Kau menyukainya?" tanya Gaara akhirnya.

Sakura cemberut. "Apa aku terlihat sudah gila?" balasnya tanpa menjawab pertanyaan Gaara. "Sudah ku katakan berkali-kali mereka itu gila! Dan siapa yang mau betunangan dengan kepala ayam jelek sialan itu!" maki Sakura sekali lagi.

Baiklah, ini fitnah yang cukup kejam bagi Sasuke. Mungkin bagian kepala ayam dan sialan itu benar (maafkan aku Sasuke), tapi untuk jelek, rasa-rasanya itu tidak mungkin, mengingat ia dinobatkan sebagai pria tertampan di majalah sekolah. Mungkin saat ini Sakura memiliki kelainan mata, makanya sasuke terlihat jelek di matanya.

"Atau...dia yang menyukaimu?" tanya Gaara memulai spekulasi baru.

Sakura mendengus mendengar pertanyaan Gaara. "Hello Gaara...kalau dia menyukaiku bukankah ia akan memperlakukan aku dengan baik. Bukannya membuatku hampir mati karena kesal." Bantah Sakura lagi sambil memutar bola matanya.

Gaara tampak berpikir lagi.

Sakura menghela napas. "Kau tahu Gaara, aku tak mengerti apa yang terjadi disini. Aku juga tak mengerti kenapa Uchiha itu tidak melupakan perjanjian bodoh mereka. Yang aku mau hanya ingin bersama orang yang mencintai dan menyayangiku, bukan terikat pertunangan tak jelas seperti ini." Keluh Sakura.

"Aku hanya berharap berada di dekat orang yang menjagaku tulus sepertimu Gaara. Yang menerimaku apa adanya." Lanjut Sakura sambil terus menatap langit.

Kesunyian kembali menerpa mereka. Tiba-tiba saja suasananya mendadak canggung. Hm...ralat, mungkin kecanggungan hanya milik Gaara, sementara Sakura yang terkadang lemot itu toh tak menyadari suasana romantis yang diciptakannya sendiri.

Entah apa yang merasuki Gaara, ia perlahan-lahan mengelus punggung tangan Sakura, menatapnya lembut.

Sakura membalas tatapan Gaara dengan senyuman, disertai tatapan mata yang mengisyaratkan terima kasih pada pemuda merah itu.

Melihat Sakura tersenyum, Gaara meraih tangan mungil sakura dan menggenggamnya.

Oh sakura...kamu masih belum sadar juga dari kelemotanmu?

"Aku akan menjagamu..." si rambut merah itu pelan, sepelan semilir angin, sambil menunduk untuk menyembunyikan rona wajahnya.

"Terima kasih Gaara..." balas Sakura riang. Ia balas menggenggam tangan Gaara. Balik menggenggam tangan besar yang hangat.

Oke, mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang masih malu-malu kucing meski sebenarnya ini tak seperti yang terlihat.

Mereka berdua terdiam. Gaara masih saja menunduk sementara Sakura mengadahkan kembali wajahnya ke langit.

Entah datang darimana, suara itu menyusup diantara mereka berdua. Suara yang terkesan dingin dan protektif. Suara yang familiar di telinga sakura baru-baru ini.

"Bisa kau lepaskan gengamanmu dari calon istriku?" tanya lelaki di belakang mereka berdua dengan suara yang terdengar licik.

Sakura mematung mendengar suara itu, tubuhnya langsung merinding entah mengapa. Sementara Gaara secara perlahan menengokan kepalanya pada suara yang mengintrupsi suasana romantisnya dengan sakura.

To Be Continue

See u next time...