Sebenernya dari chap 3 Kai kena WB… makanya tuh fic absurd –yang walaupun semua fic Kai absurd- Sekarang juga masih kena WB ==" fic kemarin aja, Kai minta tolong temen Kai buat bantuin.
Kai ragu buat ngelanjutin fic ini karena reviewnya makin lama makin sedikit. Karena Kai mikir "Sebenernya orang-orang itu suka fic Kai ngga sih?!" intinya Kai minta pendapat minna-san apa fic ini pantes lanjut atau engga. Dan kalau diatas 4 review yang bilang lanjut, Kai lanjut. Maaf atas keegoisan Kai m(_ _)m Arigatou
Disclaimer: KHR punya Amano Akira! Kalau ada yang bilang itu punya Kai, suer, itu hoax… tapi Kai harap, hoax-nya jadi nyata :v
Warning: YAOI (Kai ngga sadar kalo chap sebelumnya ngga nyantumin ini)AU, OOC, OOT, abal-abal, typo, gaje, EYD ga ada dan lain-lain.
Rated: T.
BAB 3 :I'll Swear I Never Let Go.
.
.
"Byakuran!" Tsunayoshi langsung berlari ke arah Byakuran.
Tsunayoshi tanpa disadarinya, ia belum melepaskan gandengan tangannya dari Hibari. Hibari sendiri hanya diam saja saat Tunayoshi menggeretnya. Sebenarnya Hibari sedang tidak fokus karena ia tadi tersenggol secara tidak sengaja oleh seorang gadis. Dan sekarang badannya jadi tidak enak semua.
Seseorang bernama Byakuran itu berambut perak dengan tattoo berwarna ungu dipipi sebelah kirinya. Ia memakai jas berwarna putih dengan corak ungu dibagian tengahnya. Disebelah pemuda itu terdapat seorang gadis berambut biru muda panjang yang mengenakan gaun Lolita berwarna hitam.
"Tsunayoshi-kun?! Hei!" Byakuran yang menolehkan wajahnya untuk melihat siapa yang memanggilnya langsung tersenyum lebar.
"Hai, Byakuran! Kau lebih tinggi daripada yang terakhir kali kulihat!" kata Tsunayoshi.
"Kau saja yang pendek, Tsunayoshi-kun~~" goda Byakuran.
"Jahaaaatt!" Tsunayoshi memanyunkan bibirnya.
"Aku akan menunggu diluar." Suara Hibari menginterupsi percakapan mereka. "Cepatlah!"
Setelah itu Hibari langsung melangkah keluar aula hotel.
"Jadi, Tsunayoshi-kun, kau mau menanyakan tentang Yamamoto kan?~~" Byakuran memulai percakapan.
"Un!" Tsunayoshi mengangguk mantap. "Bagaimana keadaannya?"
"Tsunayoshi-kun," Byakuran menatap Tsunayoshi. "Dia baik, sangat baik."
.
.
Sementara itu, Hibari yang sedang berada diluar aula hanya duduk diatas pohon sembari menatap bulan purnama. Pikirannya kalut akan suatu hal. Selain itu, badannya juga sedang tidak sehat gara-gara ada insiden penyenggolan tadi. Sebenarnya Hibari sendiri sudah mempunyai firasat bahwa ia akan begini.
'Tadi aku menggandeng tangan herbivore itu' batin Hibari sambil melihat telapak tangannya. 'Aku bisa merasakannya. Kesedihan yang besar'
"Sepertinya kita memang sama, herbivore" kata Hibari.
.
.
"Tsunayohi-kun mau?~~" Byakuran menawari Tsunayoshi sekantong marsmallow.
"Tidak, terima kasih Byakuran…" tolak Tsunayoshi dengan sopan. "Omong-omong, siapa yang ada disampingmu, Byakuran?"
"Oh, dia Blue-chan~~" jawab Byakuran.
"Salam kenal…" gadis bernama Bluebell itu memperkenalkan diri.
"Kau belum bisa melupakan Yamamoto, Tsunayoshi-kun?~" Byakuran kembali ke topic.
"Tidak sopan! Seumur hidup aku tak akan pernah melupakannya!" Tsunayoshi memanyunkan bibirnya berpura-pura marah.
"Walaupun kau kehilangan setengah ingatanmu tentang dia?"
"Ya… karena sebagian diriku dipenuhi oleh Yamamoto.." Tsunayoshi tersenyum getir
"Baiklah~ kenapa kau tidak bertanya pada Giotto saja? ia kan sampai sekarang tetap bertemu dengan Yamamoto.." kata Byakuran sambil terus memakan marsmallownya.
"Tidak. Giotto-nii tidak menjawab setiap kali aku bertanya soal Yamamoto. Karena itu aku bertanya kepadamu, Byakuran.." jawab Tsunayoshi.
"Ngomong-ngomong, aku punya hadiah untukmu… " Byakuran merogoh kantung jasnya.
"Apa itu?" Tsunayoshi memperhatikan Byakuran.
"Ini.." Byakuran memberikan sebuah buku pada Tsunayoshi.
"Ini… novel Yamamoto.." Tsunayoshi tak percaya dengan apa yang ada dihadapannya. "Benarkah ini untukku?"
"Tentu saja~~"
Setelah Tsunayoshi mengantongi novel pemberian Byakuran, ia mohon pamit karena Hibari pasti sudah suntuk diluar sana. Tsunayoshi takut jika Hibari yang sedang bosan malah memilih untuk mengkamikorosu orang tak bersalah. Segera, ia langsung berlari kearah pintu keluar aula. Byakuran yang melihat itu langsung terkikik geli.
"Ah~ Tsunayoshi, kau belum berubah~" kata Byakuran. "Mungkin lebih baik jika ingatanmu itu terhapus semua, Tsunayoshi~"
Bluebell melihat ke arah wajah Byakuran. "Ada apa, Byakuran-sama?"
"Ahaha… tidak ada apa-apa…" Kata Byakuran yang menatap ke arah Tsunayoshi yang semakin menjauh. "Hanya teringat sesuatu yang seharusnya tak boleh diingat~"
.
"Tsunayoshi! Awas!" teriak Byakuran saat melihat Tsunayoshi yang akan ditabrak sebuah truck.
GREEPP!
Yamamoto kemudian langsung merangkul Tsunayoshi untuk menyelamatkannya dari kecelakaan.
BRAAAK!
"YAMAMOTOO! TSUNAAA!" teriak Giotto histeris.
"…" Byakuran membeku seketika.
.
"Haahh.. seharusnya aku tak ada ditempat itu~" Byakuran kembali ke dunia nyata.
"Kenapa?" tanya Bluebell dengan alisnya yang terangkat satu.
"Taka pa.. Blue-chan~ tak apa~"
.
.
"Hibari-san! Maaf menunggu lama!" Hibari melihat Tsunayoshi berlari kearahnya.
"Hn," setelah menjawab, Hibari kembali memperhatikan bulan purnama.
"Ah, bulan purnama… indah…" Tsunayoshi berdiri disamping Hibari. Tampaknya Hibari sudah turun dari pohon.
Hening.
Tak ada yang memulai percakapan. Hanya ada suara musik dansa diantara mereka.
"Hei, Hibari-san! Besok hari Minggu lho!" sepertinya Tsunayoshi mendapatkan bahan pembicaraan. "Aku akan kerumahmu~"
"Hn, siapa yang kau panggil Byakuran itu, herbivore" Hibari tampaknya tak perduli dengan hari Minggu besok.
"Ng.. dia itu teman Yamamoto.." kata Tsunayoshi sembari menatap Hibari. "AKu sangat senang ketika bisa bertemu dengan Byakuran karena hanya dia yang bisa menceritakan kepadaku tentang keadaan Yamamoto saat ini.."
"Memang kenapa kau tak menemuinya, hm?" Hibari pun menoleh kearah Tsunayoshi.
"Aku tak bisa…" Tsunayoshi menggeleng pelan. "Aku belum siap untuk bertemu dengan Yamamoto, setelah insiden itu.."
"Insiden..?"
"Ya, Yamamoto mengorbankan dirinya untukku, ia rela tertabrak sebuah truck gara-gara aku.." cerita Tsunanyoshi.
"Hn, "
"Ngomong-ngomong," Tsunayoshi mengalihkan pembicaraan. "Kenapa Hibari-san phobia dengan perempuan?"
"Karena pernah ada wanita yang mencoba untuk membunuhku salah satunya Ibuku" jawab Hibari sambil memandang bulan.
"Ah..? begitu ya… maaf.." Tsunayoshi menunduk sedih.
"Kau tak bilang bahwa ceritaku bohong herbivore?" Hibari kembali menatap Tsunayoshi sembari mengangkat sebelah alisnya.
"Tidak.." Tsunayoshi menggeleng. "Aku tau cerita itu benar.."
"Hn, kita mempunyai masalah yang sama-sama tidak biasa hm?"
"Ya.." jawab Tsunayoshi.
.
Hening
.
"Bahkan saat itu rasanya hanya ada warna darah.." kata Hibari dan Tsunayoshi berbarengan. Padahal maksud mereka hanya untuk memecah keheningan.
Tsunayoshi membelalakkan matanya dan menoleh ke Hibari. Hibari sendiri cukup tertegun dengan apa yang dikatakan oleh Tsunayoshi.
"Ahahaha…." Tsunayoshi mulai tertawa. "Kita memang sama ya?"
Hibari yang melihat Tsunayoshi tertawa pun mulai tergerak hatinya untuk tersenyum tipis.
"Hei, Hibari-san, sebenarnya aku ingin berdansa.."Tsunayosi tersenyum ke Hibari. "Tapi aku tidak bisa.. eheh.."
Hibari melirik Tsunayoshi kemudian ia memegang pinggang Tsunayoshi dengan sebelah tangannya lalu memutar posisi Tsunayoshi sehingga sekarang Tsunayoshi dan Hibari saling berhadapan.
"Awawawa! Apa yang kau lakukan, Hibari-san?!" dan Tsunayoshi nampak kaget dengan hal itu.
"Mengajarimu." jawab Hibari singkat. "Sekarang, pegang tanganku."
"U-um!" Tsunayoshi menuruti perintah Hibari.
"Kemudian, letakkan tanganmu yang satunya dipundakku"
"U-um!" jujur, sekarang perasaan Tsunayoshi tak karuan.
"Sekarang, langkahkan kaki kirimu ke depan." Perintah Hibari lagi.
"I-iya"
Saat Tsunayoshi mulai melangkah. Sayangnya ia salah melangkahkan kaki -seharusnya kaki kiri, namun justru kaki kanannya yang bergerak terlebih dahulu. Tak ayal, hal itu membuatnya limbung dan hampir terjatuh.
"WAAAA!"
GREPPP.
Hibari dengan cekatan menyangga Tsunayoshi yang hampir jatuh. Wajah Tsunayoshi langsung memerah ketika wajahnya berada di dada bidang Hibari.
"Hn, kau sangat ceroboh, herbivore" Hibari menyeringai.
"Ma-maaf!" Tsuna langsung menjauhkan wajahnya dari dada bidang Hibari.
"Hn, langkahkan kakimu dengan benar"
"U-um.." Tsunayoshi menundukkan wajahnya karena malu.
Wajah Tsunayoshi memerah karena menahan malu dan juga ia mendapati satu hal tentang Hibari hari ini. Ternyata aroma tubuh Hibari sangat nyaman.
Tsunayoshi perlahan-lahan mulai bisa berdansa klasik dengan benar. Hibari sendiri entah kenapa hari ini dia juga sangat sabar. Pengaruh dari bulan purnama mungkin?. Dan akhirnya mereka berdansa sendiri dibawah naungan bulan purnama.
.
.
.
Masih pagi. Jam menunjukkan pukul enam pagi. Tetapi Hibari sudah terbangun dari tidurnya dan saat ini ia sedang memasak makanan. Hibari itu mandiri. Ia bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangganya sendiri –ini berkat Fon-. Karena itu Hibari mau memilih resiko hidup sendiri.
'Hari ini herbivore itu akan kemari… semoga tak membuat masalah…" batin Hibari sembari memotong sebuah kentang.
'Kenapa kemarin aku bisa menceritakan sesuatu yang begitu sensitive kepada dia, hm?' Hibari jadi tidak fokus ke kentang yang sedang ia potong. 'Mungkin karena ia juga mempunyai depresi?'
"HIBARI-SAAAANNN!" tiba-tiba saja Tsunayoshi sudah berada di pintu dapur Hibari.
SRAAT!
Pisau yang digunakan Hibari tanpa sadar mengenai jarinya dan membuat luka.
"Au…" Hibari mengaduh dengan datarnya.
"WAA! Maaf kan aku Hibari-saannn!" Tsunayoshi panik. "Waa! Waaa! Wa-"
DUAAAKK!
Tsunayoshi yang panik langsung dihentikan oleh tonfa Hibari –yang entah darimana ia dapatkan-
"Adududuh…" Tsunayoshi mengaduh.
"Hn, itu salahmu.. yang terluka aku, tapi kau yang berisik, herbivore.." kata Hibari sembari mencuci jarinya yang berdarah di wastafel.
"Ma-maaf…." Kata Tsunayoshi sembari merogoh kantung jaketnya. "Ini, plester luka…"
"Hn," Hibari mmengambil plester itu dari tangan Tsunayoshi.
"Hei Hibari-san, aku bawa makanan lho!" kata Tsunayoshi sembari memperlihatkan deretan giginya.
"Siapa…-" kata Hibari sembari membereskan potongan kentangnya.
"Aku, aku bawa makanan, dimasakin Gio-nii!" tambah Tsunayoshi.
"-Tanya.." Hibari menyeringai. Entah kenapa ia ingin menggoda Tsunayoshi.
"Siapa… tanya..?" tampaknya TSunayoshi masih loading. "KEJAAAAMM!"
"Hmf…" Hibari mendengus geli. "Kau tak lihat apa, aku sedang memasak.."
"Kan bisa buat makan siang, toh Hibari-san juga baru memotong kentang saja kan?" jawab Tsunayoshi.
"Hhh.." Hibari menghela napas. "Baiklah. Akan kuambilkan piring.."
"Um! Setelah makan, aku akan menjelajahi rumah ini~" kata Tsunayoshi riang.
"Jangan bikin berantakan, atau…"
BATS. Hibari menempelkan tonfanya ke leher Tsunayoshi.
"Kau akan berakhir diakhirat.." lanjut Hibari.
"Hi-hiyaaa" Tsunayoshi mengangguk.
"Hn, bagus" Hibari menarik kembali tonfanya.
.
.
.
Teng. Teng. Teng.
Bunyi bel tanda masuk jam pelajaran pertama tanmpak menggema diseluruh penjuru sekolah Namimori High School. Hibari sedang bersandar pada jendela lorong sekolah sambil melamunkan suatu hal. Raut wajahnya tidak bisa dibaca, akan tetapi seperti menampakkan suatu kekhawatiran.
'Kemarin ia tidak menemukan ingatannya kembali dan dan sebuah foto yang katanya sangat penting.' Batin Hibari sembari mengingat kejadian dirumahnya kemarin .
.
"Bagaimana, hm?" tanya Hibari pada Tsunayoshi yang sedang menundukkan kepalanya.
Tsunayoshi hanya menggeleng perlahan kemudian berkata, "Aku tidak menemukan apapun… aku tidak menemukan ingatanku maupun foto itu"
"Foto?" Hibari mengangkat sebelah alisnya.
"Dulu sebelum kau membeli rumah ini, siapa yang tinggal disini?" tanya Tsunayoshi yang masih tetap menundukkan kepalanya.
"Ini rumah pemberian Fon." Jawab Hibari. "Ia membelinya dari orang bernama Takeshi.."
"Kalau itu aku sudah tahu… tapi yang kutahu hanya bahwa setelah Yamamoto menempati tempat ini, tempat ini dijual dua kali hingga yang kedua berada ditanganmu.." Jelas Tsunayoshi.
.
'Dan ia sekarang membolos pelajaran..' batin Hibari lagi. 'Tampaknya herbivore itu sangat depresi…'
Hibari kemudian beranjak dari tempatnya dan mulai berjalan untuk mencari Tsunayoshi. Ia khawatir. Bukan, bukan pada Tsunayoshi, tapi pada sekolahnya. Hibari takut jika Tsunayoshi putus asa dan bunuh diri, itu berarti herbivora itu telah mengotori sekolah Namimori tercintanya ini.
.
.
.
Disudut sebuah ruangan, tampak Tsunayoshi sedang berbaring lemah. Ia nampak malas menggerakkan tubuhnya walaupun itu hanya seujung jarinya. Pandangan kosongnya menatap langit-langit plafon sekolah.
"Kalau sudah begini, harus aku cari kemana foto itu coba…" Tsunayoshi berbisik. "Padahal aku hanya iri dengan mereka…"
"Kau benar-benar bodoh herbivore!"
Tsunayoshi tersentak kemudian menoleh kesumber suara. Hibari. Hibari tampaknya telah menemukan Tsunayoshi.
"Cepat masuk kekelasmu atau kamikorosu!" kata Hibari dengan aura ungu disekelilingnya.
"Terserah.." Tsunayoshi mengalihkan pandangannya. "Aku tidak perduli…"
"Hooohh! Baiklah!" Hibari langsung berlari dengan cepat kearah Tsunayoshi yang masih berbaring.
DUAAAK!
Dengan cepat dan kerasnya Hibari memukul Tsunayoshi sehingga Tsunayoshi terlempar ke belakang.
BRUUK
Terdengar suara Tsunayoshi terjatuh dalam posisi duduk. Punggungnya menempel ditembok. Hibari kira Tsunayoshi akan langsung menjerit kemudian masuk ke kelasnya.. Tapi kali ini aneh, Tsunayoshi tidak menjerit maupun mengaduh seperti biasanya. Matanya hanya menampakkan kekosongan seperti boneka. Lemah. Tidak berdaya.
Hibari yang melihat hal ini langsung berjalan menuju Tsunayoshi. Tsunayoshi mengira setelah ini ia akan dipukul lagi. Tapi kenyataan berkata lain. Hibari kemudian berjongkok tepat didepan Tsunayoshi kemudian memegang dagunya.
"Katakan, apa masalahmu…" kata Hibari sembari menatap mata Tsunayoshi.
"…" Tsunayoshi hanya diam. Ia mencoba untuk menunduk akan tetapi ditahan oleh tangan Hibari. "Le-lepaskan.."
"Tidak. Sampai kau menceritakan masalahmu!" kata Hibari dengan nada seperti memerintah.
"Aku… aku hanya ingin menebus kesalahanku…" mata Tsunayoshi menatap Hibari.
Sedetik kemudian mata Tsunayoshi mengeluarkan air mata. Hibari cukup terkejut dengan hal ini. Tsunayoshi tak mampu berkata apa-apa lagi. Bibirnya hanya bergetar disertai dengan seluruh tubuhnya. Tangannya menggenggam erat celana seragamnya hingga kusut.
Sumpah, Hibari lebih baik melihat darah berceceran dimana-mana atau organ tubuh yang keluar dari tempatnya daripada melihat seseorang menangis sambil gemetaran. Ini mengingatkannya akan dirinya dimasa lalu. Dirinya yang begitu mengenaskan. Akhirnya Hibari melepaskan tangannya dari dagu Tsunayoshi dan kemudian-
GREEEPP!
Hibari memeluk Tsunayoshi. Tsunayoshi sendiri tampaknya kaget dengan hal ini.
"Kalau kau tak bisa menceritakannya, setidaknya menangislah…" kata Hibari.
"Uuhhh…" tangan Tsunayoshi membalas pelukan Hibari dan mencengkeram erat punggung Hibari. "HUWAAAA!"
"…" Hibari merasakan seragam bagian pundaknya basah karena air mata Tsunayoshi.
"Hiks! Hiks!" Tsunayoshi masih menangis.
Perlahan-lahan tangan kanan Hibari pindah ke kepala Tsunayoshi dan mengelusnya perlahan. Seakan menenangkannya. Akhirnya, yang ada hanya suara tangisan dari Tsunayoshi yang memecah keheningan.
.
.
.
To Be Continued (Mungkin, tergantung readers)
Special Thanks for:
VandQ x Kyuushirou x Hikage Natsuhimiko x Kazue Ichimaru
KAI
