Hai,.. Minna san. Long time not see nee,….
Akhirnya saya bisa juga meng-update chapter ini. Terima kasih untuk review-nya yang membangun. ^^
Btw,… sempat juga kehilangan semangat waktu menuliskan kelanjutan fic ini. Waktu memikirkan alur cerita yang ada malah saya ketiduran, fic ini saya kerjakan tidak lebih dari seminggu. Jadi saya mohon maaf bila mungkin akan banyak miss typo.
Baiklah, kita mulai saja Chapter ini,….
City of Copernicus, sebuah kota koloni yang terletak dibulan. Koloni ini dibentuk dan diperuntukkan untuk mendidik para generasi muda dan Copernicus Academy adalah sekolah tunggal.
Setiap siswanya merupakan pilihan dari proses penyaringan yang sangat ketat, jika bukan karena kepintaran dan bakat, pastilah mereka merupakan putra dan putri petinggi-petinggi negara yang tersebar diseluruh dunia.
Karena itu, meski membebaskan setiap siswanya untuk keluar dari kawasan Academy dan berjalan-jalan di kota, tapi akan mustahil untuk bisa keluar dari koloni.
Disclaimer : Lagi-lagi Gundam SEED & Destiny bukan milik saya
Genre : Angst and Tragedy
Rating : T
Warning : OOC, Typo, membosankan, bahasa kasar, tidak jelas dan ketidak-nyambungan lainnya.
Dia melihat sosok mantan kekasihnya itu masih duduk diranjang rumah sakit dan menatap langit yang dipenuhi bintang malam. Tubuhnya gemetar menahan tangis mengingat apa yang telah dialami gadis itu beberapa bulan ini.
"Cagalli." Panggilnya lembut begitu masuk dan menutup pelan pintu ruang rawat itu.
Cagalli tidak bereaksi, masih menatap langit dan cahaya penerangan yang minim akibat hasil pekerjaannya membuat sosok gadis itu terlihat semakin pucat.
'Aku membentuknya untuk tidak menanggapi apapun selain suaraku.'
Direngkuhnya gadis itu dengan segenah perasaan, berharap rasa hangat yang biasa mereka dapatkan saat berpelukan dulu dapat membuat gadis dalam pelukannya itu bereaksi.
"Bagaimana bisa dia dengan kejam tega melakukan ini?"
Namun gadis dalam pelukannya itu tidak memberikan respon, hanya sorot mata penuh keputus-asaan yang tersirat dikedua bola matanya, membuat Shinn semakin tidak ingin menyerahkan mantan kekasihnya itu kepada siapapun. Tapi,… jika dia membiarkan Cagalli disini, Itu sama saja menyerahkan Cagalli kepada Yuna. Dia kenal Yuna, dia tahu wataknya. Dalam keadaan seperti ini dia hanya akan mencari keuntungan.
"Aku akan membebaskanmu, Cagalli." Ucapnya lirih dan terisak mencoba menghentikan tangisannya.
"Betapapun aku membencinya,… betapapun aku ingin membunuhnya, betapapun aku ingin membawamu pergi, aku tahu... Aku tahu,… Aku tahu kau adalah gadis yang memegang janji. Kau sudah menyerahkan hidupmu untuknya. Karena itu,… Karena itu aku hanya bisa berdoa,… berdoa untuk kebahagiaanmu. Semoga tuhan memberikanmu kebahagiaan yang tidak dapat kuhadiahkan untukmu. Love you, Cagalli."
Oo…oO
AsuCaga Fanfiction
You and I, Unfullfilled Feelings
By : Orenji Lushin
Oo…oO
Flashback…
"APA! JANGAN BERCANDA DENGANKU, DULLANDAL! AKU SAMA SEKALI TIDAK INGIN BERCANDA SEKARANG." Ujarnya membentak lawan bicara di saluran telephon.
"Saya sedang tidak bercanda Yuna-Sama. Sekarang Hime-Sama ada ditempat praktek saya dan saya sudah dua kali memeriksa hasil test-nya."
"BRENGSEK! AKAN KUBUNUH PRIA KURANG AJAR ITU! BERANI SEKALI DIA! AGHTT! TUNGGU AKU DISANA!" Bentaknya lagi dan membanting telephonnya.
Segala jenis sumpah serapah dilontarkannya, dia ingin sekali mencekik orang yang telah berani menyentuh pujaan hatinya itu. Susah payah dia menjilat sana-sini untuk mendapatkan restu atas perjodohannya dengan calon ratu negerinya, tapi langkahnya harus terhenti disini.
"Aku tidak akan diam saja." Ujarnya kesal, menubrukkan tubuhnya kekursi kerjanya setelah menekan nomor yang akan menyambungkannya dengan sekretarisnya.
"Ya. Yuna sama."
"Carikan aku tiket ke-bulan sekarang!"
.
Athrun menekan-nekan pelipisnya, mencoba sedikit menghilangkan rasa sakit kepalanya yang menumpuk beberapa hari ini. Sejak dia mengetahui kenyataan bahwa Cagalli sedang mengandung benihnya, dia harus berfikir double untuk setiap tidakannya. Sekarang memang belum terlihat, tapi perut Cagalli tidak lama lagi akan membesar dan pihak Academy pastilah akan ribut dan serangkaian masalah lainnya akan datang. Memang semua orang tidak akan sembarangan melakukan sesuatu kepadanya, bagaimanapun dia adalah anggota keluarga Zala, tapi bukan berarti mereka tidak akan tinggal diam saja.
"Kenapa aku bisa seceroboh ini?" gumamnya sendiri dan melemparkan kaleng kopi kedalam bak sampah dihadapannya.
"Shitl!" umpatnya kesal melihat lemparannya tidak tepat sasaran.
"Merasa sakit kepala, Zala?" suara khas itu tepat disampingnya. Tanpa menoleh dia tahu siapa itu.
"Mau apa lagi?" Tanyanya membentak.
"Kenapa emosi begitu? Aku hanya menyapa. Lagi pula aneh rasanya kau tidak membawa'NYA' di sampingmu sekarang. Apa kau sedang menunggu selingkuhanmu disini hingga tidak mau diganggu olehnya." Tanya orang itu balik, sedikit menuduh tampaknya cukup membuatnya tampang pria itu kesal. Suatu kemajuan besar menurutnya, kemudian ternyum simpul.
"Cagalli masuk rumah sakit."
"….? APA?"
Athrun tersentak dengan ucapannya sendiri, tampaknya perasaan yang menyesakkan dadanya dua hari belakangan ini tidak membuatnya pandai menyimpan rahasia. Lagipula, dari banyak orang, kenapa dia malah harus keceplosan mengatakan kondisi Cagalli sekarang. Terlebih lagi pada pria dihadapnnya ini, pastilah orang ini akan terus merecokinya dan semakin menambah sakit kepalanya, menekan sekali lagi pelipisnya untuk mengurangi sedikit, ia bangkit dari kursi yang didudukinya. 'Akan lebih baik untuk menghindari pria ini' menurutnya.
"Jangan menambah masalahku lagi, Asuka. Aku sedang tidak mood untuk ribut."
"Aku juga tidak mau ribut, makanya kau harus mengizinkanku untuk menjenguk."
Terkadang Athrun sering bertanya, apa sebenarnya Shinn ini lemot atau memang rasa cintanya pada Cagalli tidak sebesar yang pernah dirinya bayangkan.
'Aku disini sainganmu tahu, bukan sekedar saingan, tapi kita bahkan musuh! Kenapa kau bisa menunjukkan wajah tanpa emosi padaku begitu? Bahkan apa itu? Sorot matamu itu menjijikkan tahu!'
Shinn tidak peduli Athrun meng-iyakan atau tidak, yang pasti dia harus memastikan keadaan Cagalli sekarang dan sejujurnya dia lupa kalau mereka bahkan musuh sejak beberapa bulan belakangan ini.
Menarik nafas panjang, Athrun membungkuk mengambil kaleng kopi yang tadi meleset dilemparnya, menyingkirkan pikiran yang hanya menambah pusing kepalanya, lalu melemparkan kembali kaleng kopinya ke-bak sampah yang letaknya hanya satu meter di depannya, berharap sakit kepalanya juga akan ikut masuk ke dalam bak sampah.
"Terserahmu saja-lah."
Shinn melengkungkan senyum dua belas jari trademark-nya, sedikit terkekeh heran dengan Athrun yang cukup berbeda hari ini. Tapi apa pedulinya, kesempatan untuk melihat Cagalli sudah didepan mata, dan pastinya dia tidak akan melewatkan kesempatan penting saat menjenguk Cagalli nanti. Meski segalanya harus berubah, Ah,… bukan hanya harus, tapi telah berubah mereka tetaplah sahabat baik, kan?
.
.
Wajah cengok itu setengah bersemu merah, setengah berasap menahan marah. Persiapan mental yang diupayakannya untuk menghadiahi Cagalli senyum terbaiknya sedari tadi sia-sia karena ruangan yang dimasukinya hanyalah ruangan kosong tanpa penghuni. Bisa-bisanya dia percaya begitu saja pada Athrun, mana mungkin Athrun begitu mudahnya membiarkan dia bertemu Cagalli, apalagi tanpa mengekor dibelakangnya untuk mengawasi. Diliriknya lagi pintu ruangan yang di masukinya ini, mencoba untuk tidak marah sembarangan, tapi dia sama sekali tidak memasuki ruangan yang salah.
"Brengsek!" Umpatnya.
Merasa percuma tetap berdiri mematung disana, dia memutuskan keluar tanpa menutup pintu, bersiap untuk mencari Athrun dan menonjok keras tepat di wajah.
Tuhan berpihak padanya, tidak perlu mencari sosok Athrun muncul sendiri di koridor depan dan melangkah tepat kearahnya.
"Sialan. Kau bilang mengizinkanku bertemu Cagalli!" Bentaknya setengah berteriak. Meski marah, Shinn tahu rumah sakit bukan tempat untuk berkelahi.
"Heh?"
"Chee? Heh kamu bilang? Tidak usah sok polos begitu. Dimana Cagalli?" Shinn menaikkan volume teriakannya, mencengkram kerah kemeja hijau muda yang dikenakan Athrun, emosinya tidak bisa dikontrol, melihat sosok di hadapannya ini tidak memasang seringai tapi tampang heran. 'Seperti bukan dia saja! Apa ini trik barunya?'
"Cagalli didalam." Ujarnya kaget, menunjuk ruang rawat yang pintunya terbuka tadi.
"Ada didalam kamu bilang? Didalam mana, huh?" Tanya Shinn kesal, menarik Athrun untuk mengikutinya secepatnya, masuk keruangan yang dituju, dan pemandangan yang dilihatnya di kamar itu membuatnya terbelalak. Dia yakin tadi sebelum pergi untuk mencari udara segar, Cagalli masih duduk di ranjang rawat itu.
"Cagalli!" Panggil Athrun panik, pikirannya menolak kalau Cagalli sudah tidak lagi di ruangan ini. Menatap pintuk toilet yang tertutup, tanpa ragu dia langsung membuka pintu.
"Cagallii!" Panggilnya lagi berharap menemukan sosok Cagalli yang sedang membungkuk di wastafel seperti pemandangan yang sering dilihatnya beberapa minggu ini.
Shinn semakin emosi, menurutnya bercanda Athrun kali ini tidak lucu. Tapi sedetik kemudian dia sadar selama ini meski sering bertengkar, dan bahkan hampir berkelahi, dia tahu Athrun bukan tipe yang suka bercanda.
"Hoi,.. kau serius tidak tahu, Zala?" Tanyanya ikut panik.
Keduanya berlari mengelilingi koridor, berharap menemukan sosok pirang disekitar tempat yang mereka lewati.
"Suster, apa anda melihat pasien yang tinggal dikamar 302?" Tanya Athrun begitu melihat suster yang menangani Cagalli beberapa hari ini.
Suster yang dengan beth nama Thalia Gladys itu melirik kamar yang berada di koridor seberang mereka dan memberikan senyum miris.
"Pasien itu sudah dibawa keruangan khusus dan minggu depan akan dipindahkan ke rumah sakit di negaranya."
"Dipindahkan?"
"Ya! Keluarganya datang dan mengajukan surat-surat untuk memindahkan pasien."
"Apa? Dimana ruangan itu?"
"Kamar 103, gedung sebelah. Selain pihak keluarga dan dokter, tidak seorangpun boleh masuk kesana."
End of flashback
Pemandangan seluruh kota yang gelap-gulita merupakan sejarah langka yang terjadi di Copernicus City. Bahkan pembangkit cadangannyapun butuh waktu yang cukup lama untuk bisa diaktifkan. Diantara kepanikan ratusan petugas dan kelamnya lorong – lorong kota terdengar derap langkah kaki yang berlari cepat. Entah siapa dan kenapa, tapi tak seorangpun yang berniat untuk sekedar melihat apakah yang sebenarnya terjadi.
Dan bagi sosok yang sedang berlari itu, tidak terpikirkan dalam benaknya akan menggunakan bakat hacker tersembunyi bahkan rangkaian virus komputer berbahaya miliknya untuk hal yang sejujurnya tidak ingin dilakukannya, apalagi menggunakan bakat olahraganya untuk berlari maraton sambil menggendong seseorang dalam pelukannya. Larinya tentu semakin cepat saja mengingat bobot dalam gendongannya yang semakin ringan hanya dalam beberapa bulan, dia harus berhati-hati untuk tidak membahayakan kondisi orang dalam gendongannya.
Jika berfikir egois, dia akan mati-matian mempertahankan orang dalam gendongannya ini, membawanya pergi untuk dirinya sendiri, dan tentunya tidak akan menyerahkannya seperti ini kepada saingannya. Terlebih musuhnya, bahkan orang yang telah melukai tubuh dalam gendongannya ini sampai sedemikian parah. Tapi apa yang sekarang dilakukannya pastilah yang terbaik menurutnya. Meski hatinya sakit serta tidak merelakan, tapi sekarang tubuh dalam pelukannya ini bukan lagi miliknya.
"Shinn…" Panggil tubuh dalam gendongannya itu pelan, matanya sedikit terbuka meski akhirnya tertutup kembali.
Tapi dia tidak mendengar, dia mengabaikan suara yang paling dirindukannya dan berfikir suara itu hanyalah khayalan baginya, tetap melajukan larinya lebih cepat dan tidak melewati rute-rute yang membuat dirinya terlihat.
.
Cahaya merah redup ditengah bukit yang kulambaikan adalah tanda yang dicarinya Shinn dan kini dia hanya tinggal beberapa ratus meter di depanku.
"Cagalli." Panggilku mendekat, begitu melihat sosok Cagalli dalam gendongan Shinn.
"Berhenti!" Seru Shinn, menghentikan langkahku yang hendak mendekat.
Nafasnya terengah-engah, pastilah staminanya sudah habis untuk membawa Cagalli sampai ditempat ini.
"…"
"Aku ingin kau berjanji sesuatu padaku terlebih dahulu." Lanjutnya lagi, memeluk Cagalli erat dalam pelukannya. Aku sedikit kesal, aku tidak mau berbagi Cagalli dengan siapapun.
"! Apa itu?" Tanyaku sedikit cemberut.
"Berhenti menyakiti Cagalli dan kau harus memberinya kebahagiaan bahkan nyawamu! Jangan siksa Cagalli lagi,… Jangan jadikan dia boneka lagi,… hargai dia sebagai manusia dan berikan seluruh hidupmu untuk kebahagiaannya. Jadikan pernikahannya anugerah, bukan musibah. Bisakah?" Tanya Shinn parau, aku sedikit kaget mendengar semua itu terucap hanya dalam satu tarikan nafasnya.
"Ya,… Aku berjanji. Aku berjanji akan menjaga dan melindungi Cagalli dengan nyawaku."
Shinn terlihat lega, dan aku melangkah mendekatinya. Aneh rasanya melihat Cagalli bisa tertidur begitu damai dalam pelukan Shinn. Meski lemah, aku sadar Cagalli merasa begitu nyaman dalam pelukannya.
Aku mengambil Cagalli dari gendongannya, dan entah kenapa ekspresi tidur Cagalli berubah sedikit, dia seperti tidak merasa nyaman dalam gendonganku. Memang apa bedanya? Apakah karena tubuhku yang dingin? 'Tapi aku rasa bukan itu.'
"Boleh aku memelukmu?"
"He?" Ujar Shinn kaget.
"Boleh aku memelukmu?" Tanyaku lagi.
"Wh.."
"Aku hanya ingin tahu bagaimana rasa pelukanmu. Aku heran kenapa Cagalli tadi terlihat begitu nyaman dalam pelukanmu." Jawabku menyela pertanyaannya, wajah Shinn sedikit memerah, tapi ada ekspresi kelegaan disana.
Lama kami berpelukan, sambil mengapit Cagalli tentunya. Angin malam begitu dingin, tapi aku merasa aneh. 'Hangat. Pantas saja Cagalli merasa nyaman.'
.
.
Tubuh Shinn ambruk begitu sosok keduanya menghilang dari pandangannya. Tubuhnya gemetar, dadanya sakit dan sesak nafas menyerangnya.
'Perasaan apa ini?'
Gambaran-gambaran saat menyerahkan Cagalli kepelukan Athrun terngiang-ngiang dipikirannya. Dia, Shinn Asuka dengan tangannya sendiri menyerahkan kekasihnya pada orang yang telah menghancurkan hatinya.
'Mengapa rasanya sesakit ini?'
Dikepalkannya tangannya untuk menahan sakit yang melandanya, tubuhnya meringkuk diatas rerumputan, air matanya mengalir, lalu perlahan kedua bola mata ruby miliknya tertutup, seiring dengan rasa sesal atas apa yang terjadi dan cintanya yang telah ia lepas pergi.
"Jika kehidupan kedua itu ada. Aku tidak ingin melepasmu untuk kedua kalinya, Cagalli."
.
.
Plant Junius Seven
4 bulan kemudian
.
Dia mengangkat kedua tangannya keatas, menerbangkan rambut biru tengah malamnya yang tidak tertutup sepenuhnya dalam topi caping miliknya. Sekarang dia sudah memutuskan menetap di plant pertanian ini. Suasana tentram disini juga bagus untuk kondisi Cagalli, dia perhatikan Cagalli sedikit lebih berwarna sekarang.
"Hari ini pekerjaanya berjalan lancar, Cagalli." Gumamnya sendiri, membayangkan senyum sang istri saat menyambutnya pulang nanti.
"Pulang dari sini aku akan membawamu berkeliling Plant ini lagi." Lanjutnya lagi.
"Alex!" Panggil seorang wanita separuh baya, melambai-lambaikan tangan untuk memanggilnya.
"Ini ada sedikit sayuran yang bisa kamu bawa pulang." Ujar wanita itu, tangannya menjulurkan satu kantong penuh sayuran.
"Didalamnya juga aku masukkan beberapa buah-buahan, aku dengar istrimu sedang hamil kan?" lanjut wanita itu lagi setengah berbisik ditelinganya.
"Te,… terima kasih bu." Ucapnya malu.
"Hahahaha,… tidak usah bersemu begitu. Nanti suamiku pikir aku menggodamu lagi."
"Heh!"
"Bercanda Alex,… bercanda..It's a joke, okey! Meskipun seratus persen benar kalau suamiku itu pencemburu. Wahahahaha!"
"Siapa yang pencemburu?" tanya seorang pria besar yang entah sejak kapan ada disamping wanita itu.
"Tentu saja kamu, lah!"
"What's? YOU…"
"Anata,… Alex akan menjadi ayah, berhenti cemburu padanya!" seru wanita itu sedikit dongkol.
"HOI,… yang cemburu itu siapa?" Tanya pria itu lagi.
"Aku kesini hanya ingin menambahkan kubis-kubis ini untuk Dino…." Lanjutnya lagi setengah memerah, mengeluarkan beberapa kubis dari keranjangnya dan memasukkannya kekantong sayuran, kemudian menyerahkannya kepada pria muda didepannya.
Wanita itu tersenyum lembut, inilah alasannya mengambil pria disampingnya itu sebagai pendamping hidup. Meski tidak dikarunia seorang anak, tapi mereka tetap bahagia hingga sekarang.
.
Terlihat beberapa mobil memasuki kawasan pertanian tempatnya bekerja. Melihat jenis mobil yang diluar kebiasaan itu, Athrun sedikit memberikan perhatiannya untuk melihat siapakah gerangan orang yang datang.
"Sialan. Kenapa dia bisa ada disini?" Ucapnya geram begitu melihat warna ungu menyembul keluar dari salah satu mobil itu.
Tidak perlu menunggu apa tujuan pria berambut ungu itu dipertanian ini, dia langsung berlari menuju cottage tempatnya tinggal.
"Cagalli! Kita harus pindah lagi sekarang." Serunya begitu tiba.
Sosok yang sedang tiduran itupun segera bangkit dari posisinya yang sedang berbaring diranjang, meraih selendang dan mengikuti langkah suaminya.
Melewati area perbukitan adalah alternatif yang tersisa mengetahui tim pencari mereka telah menyebar diseluruh pertanian. Bahkan mereka hanya bebarapa ratus meter dibelakang.
"Kita harus lebih cepat lagi,…" Ucapan Athrun terhenti, ekspresi horor terlukis diwajahnya begitu matanya melihat jalanan dibelakang, bercak-bercak darah ada disekitar perumputan, pantas saja mereka begitu cepat mengejar dan pandangannya langsung beralih kesosok istrinya yang memucat disampingnya.
"Cagalli!" Panggilnya dan menangkap tubuh istrinya yang hampir menyentuh tanah.
"Athrun sama. Saya baik-baik saja!" Ucapnya pelan, dari wajahnya yang pucat dan dihiasi oleh bulir-bulir keringat, siapapun tahu kalau sosok itu tengah menahan rasa sakit yang begitu hebat.
Gelombang kepanikan melandanya, rasa bersalah yang dulu pernah dirasakannya kembali lagi, dia mengerti, dia ingat akan janjinya pada Shinn. Dia tidak ingin mereka tertangkap, tapi dia juga tidak bisa mengabaikan sosok Cagalli yang membutuhkan pertolongan darurat.
Matanya melihat jalan lintas yang sudah berada dibawah tempatnya berpijak. Sambil menggendong Cagalli dia menuruni bukit curam dan suara klatson yang memekakkan telinga, lalu sebuah truk besar yang melaju cepat kearahnya adalah pemandangan yang terakhir dapat ia lihat.
.
Segalanya terasa cepat, tubuhku sekarang tidak lagi mau mengikuti perintahku. Hanya ada kegelapan, apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa aku tidak bisa melihat apapun.
"Athrun-sama! Bangun! Kenapa diam tidak bergerak begini?"
'Ah,… Cagalli. Kenapa aku mendengar dia menangis? Aku tidak sedang memukulnya lagi, kan? Aku tidak mengancamnya lagi, kan?'
"Ayo tampar saya lagi… lakukan apa yang biasa anda lakukan. Kenapa diam begini? Ayo siksa saya lagi…"
'Aku tidak akan memukulmu lagi, Cagalli. Aku tidak akan menyakitimu lagi. Aku janji. Kumohon jangan menangis lagi.'
"Jika anda diam begini saya tidak mengerti anda ingin saya berbuat apa?"
'Tenanglah, Cagalli. Aku hanya ingin kau bahagia.'
"Apa anda ingin saya temani? Anda tidak mau pergi sendirian, kan? Anda ingin saya disana ikut menemani anda seperti biasanya, kan?"
'Ti,… Tidak Cagalli. Jangan pergi bersamaku. Kau bebas.'
"Benarkah? Kalau begitu tunggu saya disana. Saya akan datang. Saya pasti akan menyusul anda kesana."
'Ca… Cagalli. Tidak!Jangan ikut bersamaku.'
.
Cagalli meraih tangan yang lemas dan berlumuran darah itu, menempelkan tangan itu dipipi, tidak perduli dirinya juga akan berwarna sama dengan tubuh dihadapannya.
"Dia sudah mati Cagalli!" Ucap Yuna, menendang tubuh yang bersimbah darah dibawahnya.
"Diam! Berisik! Hei, apa yang kamu lakukan? Nanti Athrun-sama bangun."
"Berhentilah berlaku seperti orang gila, Cagalli. Tinggalkan tubuh menjijikkan itu!"
"Athrun sama,… aku akan senantiasa disisimu." Ucapnya, membuat Yuna yang berdiri disampingnya jengah.
Tidak peduli dengan suara-suara yang memanggil namanya, juga suara hatinya sendiri.
"Athrun sama bilang aku tidak perlu mendengarkan apapun." Bisiknya pelan.
Tanpa ragu direngkuhnya tubuh yang tergeletak itu dalam pelukannya, menutup mata dan kegelapan yang menyambutnya.
"CAGALLI!" Panggil Yuna berteriak.
'Summer Day Star, Why is it red?
Last night I had sad dreams
Crying as I spoke
With red eyes
Summer Day Stars, Why is it lost?
I'm searching for a child who vanished
And so I will see sad dreams.'
To be Continued,…
A/N:
YOSH! Akhirnya cukup sampai disini saja Chapter kali ini. Jadwal saya lumayan padat bulan depan, jadi mau hiatus dulu. Tapi saya janji akan saya usahakan meng-update untukl chapter selanjutnya. /(_)\
Terima kasih buat reviewnya, dan sedikit ucapan dari saya selaku Author. (/)
%%%%
Ofiai17
Makasih,.. ^^
Semoga chapter kali ini tidak membuat kecewa.
%%%%
Aihsire Atha
Iya nih. Semoga kagak ngorbanin scene-scene yang akan datang juga.
%%%%
asranZARA
Makasih, ^^
Iya nih,… ==" kok bisa-bisanya saya ngebuat Athrun jadi versi begini, jauh banget dari image yang saya diawal. T-T
Tapi di Chapter depan saya akan buat dia balik ke image Athrun yang biasanya.
%%%%
Pearl Jeevas
Hola juga, Pearl –san. :D
Makasih buat review-nya. Iya nih, artinya salah satu lagu GSD, tapi yang Kimi wa boku ni teiru. ~_~
Iya! Chapter 1 & 2 memang ancur dan gak sempat perbaiki, chapter ini juga udah disempat-sempatin. ( _ )
Makasih atas koreksinya.
%%%%
Mydear
Saya pingin ngebuat dia tobat kok,… T-T
%%%%
Kuon suah log-in
Ini udah diusahakan update kok,.. :3
%%%%
Akhir kata,… Review lagi please,… (^_^")
Kalau gak direview gimana saya bisa semangat buat chapter lanjutannya, kan? ("^_^)
Yah, meskipun saya tidak akan membuat fic ini berhenti ditengah jalan. Jaa nee,…. ^O^
With smile, Orenji Lushin.
