An Annoying Boy Special Chapter~

OMAKE Chapter

Disclaimer Tadatoshi Fujimaki


Serius, ada apa sih yang terjadi belakangan ini? Sampai semua temanku–ralat, teman perempuanku tergila-gila. Ah, bukan gila maksudnya. Tapi gila karena memikirkan kado ulang tahun. Memang ulang tahun siapa sih, sampai mereka begini?

Kalau aku disuruh menebak ulang tahun siapa, pasti ulang tahun seorang model Kise Ryouta yang ada di kelas sebelah. Tapi ulang tahun Kise-san bukan Desember.

Aku malas menyebutkan namanya, tapi pasti penyebab kegilaan temanku karena orang yang berambut merah itu. Ya, dia. Siapa lagi kalau bukan dia. Kalian pasti tahu siapa orangnya. AKU MALAS MENYEBUTKAN NAMANYA!

Hah, walaupun orang itu lahir di bulan Desember, aku tidak tahu atau lebih tepatnya lupa tanggal berapa. Siapa juga yang mau mengingatnya!

"Nee, [Name]-chan, hadiah apa yang ingin kau persembahkan pada Akashi-kun?" Tanya salah satu temanku yang bernama Ran.

"Hn? Mungkin aku tidak memberinya." Jawabku enteng. Dan oh, dia menunjukkan wajah terkejut.

"[Name]-chan! Kita wajib memberinya hadiah!" Dan sekarang, ia menggoyang-goyangkan kedua pundakku.

Tunggu! Wajib? Wajib katanya?

"Hah? Tidak ada peraturan seperti itu!"

"Memang tidak ada, tetapi itu aturan yang tidak tertulis yang diturunkan secara turun menurun..." Ran menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

Ini anak satu bisa banget ngarangnya!

"Ya... terserah padamu, aku tak peduli!"


Karena banyak omongan-omongan, aku tahu tanggal ulang tahunnya, yaitu besok! Sepertinya besok akan menjadi hari Valentine.

Aku memang tidak peduli, yang sekarang aku mau adalah menonton serial terakhir dari The Hunger Games ditemani dengan coklat panas.

Walaupun aku sudah membayangkannya, aku takkan lengah di trotoar ini.

Tunggu, tunggu! Itu kan... AKASHI! Tapi dia bersama dengan... anak kecil! Lebih tepatnya ia sedang memenangkan anak yang sedang menangis itu.

Beberapa memori terputar kembali di otakku.

Walaupun begitu, sebenarnya Akashi baik. Sangat baik malah. Aku apaan sih, sering ditolong olehnya tetapi memberi hadiah saja tidak peduli. Kalau kupikir lagi, aku malah yang sering menyusahkan Akashi.

Gawat, dia melihatku! Aku harus lari sebelum ditagih olehnya.

Dan dengan langkah seribu, aku berhasil menghindarinya.


Film yang terputar di hadapanku ini sudah tidak kumengerti alurnya. Jelas, pandanganku ke film tetapi pikiranku entah kemana.

Kado apa yang akan kuberikan?

Kado apa yang akan kuberikan?

Kado apa yang akan kuberikan?

Kado apa yang akan kuberikan?

Walaupun aku sepusing ini, lebih pusing jika memikirkan kado untuk Takuna-kun.

Coklat? Ya kali dia mau menerimanya! Jam tangan? Sama saja! Gunting? Ah, aku semakin ngawur!

AAAAHHHH! AKU TIDAK TAHU!


Hari H tiba, aku merasa sangat buruk. Di sekolah sudah banyak yang membicarakannya, padahal ini masih sangat pagi.

Orang yang sudah ditunggu akhirnya datang juga. Apa yang harus aku lakukan?

Baru saja masuk gerbang sudah disambut dengan meriah. Dan sekarang teman-temanku turun dan tinggal aku di kelas. Takuna-kun bilang ia izin karena ada acara keluarga. Aku menghela napas. Tidak mungkin kan, orang memberi selamat tanpa hadiah?

Sejak semester baru–setelah liburan musim panas tempat duduk tentunya diubah. Dan sekarang, tempat duduk Akashi tetap ada di barisan paling depan. Hanya bergeser 2 bangku–tempat yang ditempati Takuna-kun semester lalu. Sementara aku berada di paling pojok dengan jendela. Untunglah, kegiatan mengerjahiku berkurang. Sementara Takuna-kun? Dia di depan sebelah kananku–nyerong. Aku merasa sangat senang masih berdekatan dengan Takuna-kun.

Dari tadi pagi sampai pulang aku belum berbicara sepatah katapun padanya. Berbicara juga tidak bisa. Ia pasti dapat pesta kejutan dari OSIS, klub basketnya, atau dari penggemarnya. Tapi aku tak yakin ia akan meladeni yang terakhir. Yah, hari ini aku tidak ada klub. Kalau begitu aku akan langsung pulang saja.

.

Aku merapatkan jaket pemberian aniki saat berjalan di trotoar ini–menuju lapangan basket yang biasa di singgahi Taiga. Asal kalian tahu, ini sudah lewat jam 9 malam.

Seharusnya aku akan dilarang atau dimarahi oleh orang rumah jika keluar lewat jam 7. Apalagi seorang diri. Tetapi seperti kata-kata terkenal seorang murid saat mencotek atau membawa barang yang dilarang sekolah. 'Boleh asalkan tidak ketahuan'.

Lagipula di rumah gabut, tidak ada kerjaan. Keluarga Akashi tidak mungkin mengadakan pesta. Masaomi ouji-san memang seperti itu.

Aku berjalan pelan menuju bench di sisi lapangan yang hanya ada aku. Aku mengambil bola basket orange yang terletak dalam box.

Asal kalian tahu, aku telah berbohong. Ya, aku telah berbohong pada kalian. Ya, kalian. Yang sedang membaca cerita ini.

Aku sudah menemukan kado untuknya. Tetapi aku hanya tidak yakin ia akan menerimanya.

Aku mendribble bola basket itu. Lalu menshotnya.

Masuk!

Aku mencoba yang kedua kalinya. Dan... gagal.

Aku menghela napas. Saat aku akan mencoba yang ketiga kalinya, turun salju dengan perlahan.

Kucoba lagi dan... berhasil.

Aku memandang bola basket ini. Bukan, bukan itu yang aku fokuskan. Aku terfokus pada tulisan yang kutulis sendiri dengan tanganku.

Oh ya, soal salju yang turun, Kuroyuki–kudaku, lahir hari ini. Hari itu, 15 tahun yang lalu, saat usiaku belum mencapai satu tahun. Aku menghela napas lagi.

"Aku tak menyangka, kemampuan basketmu bagai langit dan bumi dengan sepupumu sendiri."

Aku tersentak karena terlalu fokus pada tulisan di hadapanku. Sampai tidak menyadari ada orang–Akashi. Akashi yang sedang memayungi dirinya dengan payung merah.

"Akashi." Ucapku pelan–tanpa nada terkejut. Lalu membalik tubuh tapi dengan pandangan ke bawah.

Akashi mendekat. Lalu menjitak kepalaku dilanjutkan menyentil jidatku.

Aku tak sempat bereaksi karena ia melakukannya dengan cepat.

"O-oi! Apa kau marah hanya karena aku tidak–"

"Kau ini benar-benar bad girl!" Aku bungkam.

Bola basket dan payung yang dipegangnya jatuh bergelinding.

"Akashi." Kataku pelan. "Sedang apa kau di sini? Bukankah harusnya kau berkumpul dengan Ouji-san dan kerabat-kerabatmu?" Aku diam sebentar lalu melanjutkan, "Dan kau malah di luar."

"Bukan urusanmu." Jawabnya dingin. Aku terdiam lagi. Ya, memang bukan urusanku. Dia memang berbeda denganku.

Akashi mengambil bola basket yang tergelinding tadi lalu menshotnya.

"Aku..." Aku memperhatikan apa yang akan dikatakannya. "... selalu menunggu kehadiran seseorang saat ulang tahunku." Dia diam sebentar. "Orang yang melahirkan padaku pada 20 Desember. Orang yang mengenalkanku pada basket. Aku... selalu ingin ia melihat kemampuanku saat ini."

Dia menpass bola basketnya padaku. Rupanya dia belum menyadari tulisannya.

Kurasa aku harus memberikannya. Aku pass kembali bola basket tersebut ke arahnya.

Dia menangkapnya. Menatapku sebentar lalu menatap bola basket.

OTANJOUBI AKASHI!
TERSENYUMLAH, KARENA AKU YAKIN OBA-SAN AKAN TERSENYUM.

Tanpa disadari oleh dirinya sendiri, Akashi tersenyum tipis. Lalu menatapku lagi.

"Jadi selama ini kau yang memilikinya? Bola basket ini."

Ya, itu adalah bola basket yang diproduksi Akashi Corp. Tetapi hanya ada dua buah yang diproduksi. Entah apa alasannya.

"Ini bola basket yang pertama kali aku tahu. Merk yang sama yang Kaa-san kenalkan padaku." Dia menatap bola basket lagi.

"Terima kasih."

Apa yang ia bilang barusan? Apa dia mengatakan terima kasih?

Dia mengambil payungnya lagi.

Tanpa mengatakan apapun ia berlalu begitu saja. Saljunya sudah mulai banyak.

Tak peduli. Yang terpenting, hatiku sudah lega.

Aku sudah memberinya hadiah.

END


Lama tidak berjumpa...

Maaf banget ya, waktu itu gak jadi update.

Sekarang update malah dikit XD

Dan maaf kalau telat~


Thank you for reading!