Disclaimer: Vampire Knight bukan milikku, tapi milik dari Matshuri Hino.

Warning: Slash, AU, OOC, OC, Mpreg, typo, etc

Rating: T

Genre: Family, Hurt/comfort

Pairing: KanaZero


THE KURAN FAMILY'S REUNION

By

Sky


Touya's Manor

Satu tahun telah berlalu sejak Rei tinggal di rumah keluarga Touya, dalam kurun waktu itu ia menghabiskan waktunya untuk berhibernasi di salah satu ruangan kamar yang mereka siapkan. Rencananya sedikit berubah memang, ia tidak jadi tidur dalam waktu beberapa tahun ke depan sebab sebelum tidur panjangnya itu Rei mendapatkan sebuah penglihatan yang tidak membiarkannya tidur nyenyak dalam waktu lama. Jadi di sinilah dia sekarang, Rei menatap salju yang turun dari balik jendela besar yang ada di kamarnya di rumah keluarga Touya.

Pangeran vampire generasi kedua itu menatap butiran salju yang turun dengan tatapan kalem seperti biasanya, bahkan wajah manisnya itu tidak mengisyaratkan emosi sedikitpun. Dalam benaknya Rei tengah mengatur sebuah rencana yang menurutnya adalah yang terbaik, layaknya seperti seorang raja yang tengah mengatur bidaknya dalam sebuah permainan. Tujuan Rei saat ini hanya satu, ia ingin melihat semuanya yang akan terjadi dalam jarak yang dekat, kalau apa yang ia lihat dalam penglihatannya itu benar-benar terjadi di masa depan, maka tidak lama lagi Rei akan mendapat kebahagiaannya. Di mulai dari keluarga Kuran sebelum beralih ke keluarga Kiryuu, sebuah senyum kecil muncul di wajahnya ketika memikirkan itu.

Ingatan Rei kembali pada sepasang anak kembar yang ia temui di bawah tempat spesial milik ibunya setahun yang lalu, sebuah senyum muncul di wajahnya setiap kali ia mengingat kejadian itu. Anak itu adalah reinkarnasi ibunya, Rei memejamkan kedua matanya dengan perasaan puas di sana. Entah apa yang tengah Tuhan rencanakan, tapi ibunya yang seorang ancient pureblood vampire terlahir kembali menjadi manusia adalah sebuah lelucon yang sangat besar, dan ibunya bukanlah manusia biasa tapi ditakdirkan menjadi seorang pemburu vampire, musuh terbesar bagi kaum vampire. Mungkin kalau Rei bukan tipe orang yang lebih menyukai kesunyian seperti ini, ia akan tertawa histeris ketika pertama kali mendapatkan pengetahuan itu.

Zero Kuran terlahir kembali menjadi Zero Kiryuu, Rei tidak sabar untuk melihat bagaimana ekspresi ayahnya ketika ia menemukan kalau ratunya adalah seorang pemburu rasnya sendiri, bisa ia bayangkan bagaimana kisah cinta Kaname dan Zero di masa depan kalau mereka saling mengingat satu sama lain, apakah itu mirip dengan bencana? Entahlah, Rei tidak bisa menebaknya. Tapi, Rei sendiri merasa senang karena jiwa ibunya tidak benar-benar hancur. Bahkan liontin yang tergantung di leher Rei bisa membuktikan kalau anak kecil yang ia temui setahun yang lalu adalah reinkarnasi ibunya. Kalung tersebut bergetar hebat dan Rei bisa merasakan energinya mencoba memanggil anak itu, dan dari sanalah Rei sangat yakin kalau itu ibunya. Sang vampire generasi kedua tersebut menyentuh liontin yang terbuat dari jantung ibunya dari balik atasan piyama yang ia kenakan, bahkan saat ujung jarinya menyentuh benda itu ketika ingatan akan Zero kembali ia ulang di benaknya, Rei bisa merasakan pendaran sihir yang samar-samar keluar dari benda itu.

"Aku ingin datang ke hadapan Okaa-sama dan memeluknya, menceritakan apa yang aku alami dan bermanja dengannya, tapi itu bukanlah waktu yang tepat." Gumam Rei pada dirinya sendiri, "Suatu saat, kita bertiga akan dipertemukan lagi dalam waktu yang tepat. Aku yakin akan hal itu."

Rei menggenggam liontinnya dengan erat, ia menerima energi yang ditimbulkan oleh liontin tersebut, "Dan takdir keluarga Kuran akan berakhir pada malam ini." gumamnya lagi. "Tepat pada purnama ketiga."

Sang pangeran vampire itu menatap ke arah langit, sebuah bulan purnama besar yang berwarna kemerahan tergantung di sana. Kedua pasang mata merah marun milik Rei berubah menjadi berwarna merah darah saat menatap bulan itu. Rei memejamkan kedua matanya untuk beberapa saat, otaknya kembali bekerja dengan begitu keras.

Legenda yang mengatakan makhluk malam akan menjadi lebih kuat ketika cahaya bulan purnama menyinarinya adalah hal yang benar. Ayahnya pernah menceritakan kalau vampire pertama dan makhluk malam lainnya terlahir dari sihir yang berasal dari pendar cahaya bulan, dan mereka akan bertambah semakin kuat saat sang purnama pun muncul. Rei tidak pernah meragukan perkataan sang ayah, sebab dari apa yang ia lihat selama ribuan tahun mengembara di seluruh penjuru tempat, ia bisa mengatakan kalau legenda itu memang benar adanya.

Anak itu membuka kedua matanya, kedua matanya masih berwarna merah darah, memperlihatkan sosok vampire yang sebenarnya ada dalam tubuh kecil Rei.

"Sepertinya sudah akan dimulai. Takdir dari putra pertama keluarga Kuran memang tidak pernah beruntung. Selalu ditimpa kemalangan yang berturut-turut sampai kematian menjemput." Sebuah senyum kecil yang penuh melankolis muncul di wajah Rei, "Bukankah itu yang selalu kami rasakan sebagai putra pertama?"

Bayangan wajah ayahnya, dirinya, dan saudara tirinya yang bernama Rido Kuran terbesit dalam benak Rei. Mereka bertiga adalah putra pertama dari keluarga Kuran, dan tidak ada satupun dari mereka yang mendapatkan kesempatan bahagia. Dalam usianya yang masih muda Rei harus kehilangan keluarganya dan lari dari kenyataan, ayahnya yang terlahir dalam kesempatan kedua juga mengalami hal yang sama, ia akan menderita kehilangan dua orang yang dicintainya dalam kehidupan pertamanya dan akan dibenci oleh pihak vampire setelah mereka mengetahui kebenaran yang ada. Sementara Rido Kuran adalah orang yang selalu kalah, kecemburuannya akan menjadi martir dalam hidupnya dan tentu saja mengakhiri hidupnya. Benar, tidak ada yang bahagia menjadi putra pertama meskipun mereka adalah pewaris.

Menjadi putra pertama keluarga Kuran adalah kutukan yang harus kami rasakan. Pikir Rei. Kalau Rei bisa memainkan kartunya dengan baik, ia bisa mengubah semua itu. Mungkin tidak akan menolong Rido Kuran, tapi Rei bisa membantu ayahnya menemukan kebahagiaan sejatinya. Setidaknya itu bisa menebus dosa-dosanya selama ini.

"Tapi masalahnya adalah Yuuki Kuran." Kedua mata Rei kembali pada warna semula sebelum sebuah senyum kecil muncul di wajahnya, "Tidak ada yang tidak mungkin, aku bisa mengubah semua itu. Sekarang yang perlu kulakukan adalah mengunjungi keluarga tersayangku."

Rei beranjak dari tempat berdirinya di ambang jendela, ia mengganti piama yang ia kenakan dengan sebuah kemeja berlengan panjang berwarna putih dan celana bahan kain berwarna hitam sebelum ia mengenakan sebuah mantel perjalanan berwarna abu-abu. Rei menatap bayangannya dari balik cermin besar yang ada di hadapannya. Anak itu masih terlihat sama seperti 10,000 tahun yang lalu, rambut berwarna silver kemilau pendek, kulit berwarna alabaster, wajah manis yang memperlihatkan statusnya sebagai pureblood dan sepasang mata merah marun lembut. Dalam artian singkat ia terlihat seperti seorang malaikat, namun sayangnya ia bukanlah makhluk suci yang bernama malaikan, sebab tidak ada seorang malaikat yang meminum darah untuk hidup kecuali mereka adalah malaikat yang telah jatuh ke bumi untuk menjadi seorang iblis. Ia adalah Rei Kuran, pangeran vampire, seorang ancient pureblood generasi kedua yang merupakan putra dari Kaname dan Zero Kuran, dan juga pewaris tahta dari kerajaan vampire yang ditinggalkan orangtuanya sejak zaman Monarchy.

Sebuah suara ketukan pintu membuat perhatian Rei beranjak dari cerminnya, ia menggunakan kekuatannya untuk membuka pintu tersebut. Rei tidak terkejut lagi ketika melihat seorang anak perempuan berusia sembilan tahun yang mengenakan gaun berwarna merah marun berdiri di sana. Rambut orange milik anak perempuan itu dikuncir dua, sementara wajah imutnya terlihat tidak berekspresi, tapi Rei bisa melihat sebuah ketakjuban dari balik sepasang mata berwarna biru milik anak itu.

"Hello, Rima. Apa ada yang bisa kubantu?" tanya Rei, ia berjalan menghampiri anak itu.

"Selamat malam, Rei-sama." Sapa anak yang bernama Rima dengan sopan. "Saya hanya ingin menghabiskan waktu bersama anda, Rei-sama, itu kalau anda mengijinkannya."

Sebuah senyum kecil muncul di wajah Rei, "Maaf, Rima. Malam ini aku tidak bisa menemanimu bermain, ada suatu hal yang harus aku selesaikan malam ini."

"Anda mau pergi?" sebuah ekspresi penuh kekecewaan bisa terlihat di wajah Rima, namun ekspresi itu berubah menjadi penasaran untuk beberapa saat. "Apa saya boleh ikut anda, Rei-sama?"

Rei menatap anak perempuan yang berdiri di depannya itu untuk beberapa saat, ia tidak ingin mengajak Rima sejak ia tahu tempat tujuannya saat ini sangat berbahaya. Rei tidak mungkin mengajak vampire level B yang baru berusia sembilan tahun ke manor keluarga Kuran yang Rei ketahui saat ini tengah dikepung oleh Level E dan Rido Kuran sendiri, tapi pikiran itu berubah ketika Rei melihat sebuah keyakinan dan harapan di balik mata Rima.

"Baiklah, Rima, tapi aku ingin kau tetap berada di belakangku apapun yang terjadi." Pinta Rei dengan nada lembut.

"Tentu, Rei-sama." Jawab Rima.

Sang pangeran Kuran itu tersenyum sebelum dirinya mengacak rambut Rima dengan lembut, ia menutup pintu kamarnya sebelum beranjak dari sana dengan Rima mengikutinya dari belakang.


Salju yang turun dengan lebatnya itu tidak menghalangi langkah Rei berjalan menuju kediaman keluarga Kuran, bahkan payung kecil berwarna biru langit yang ia gunakan itu tidak menghalangi beberapa salju menempel pada mantelnya. Di belakang Rei, Rima juga terlihat begitu tenang, gadis kecil itu menghiraukan abu level E yang ada di tempat itu maupun warna merah yang merembes pada salju putih.

Rei berjalan dengan tenang melewati semua itu, di sepanjang perjalanan banyak pemandangan horror yang mereka berdua temui di sana. Bahkan keadaan itu semakin bertambah buruk ketika mereka berdua tiba di mana rumah utama berada.

Sang pangeran vampire itu menatap ke arah rumah yang dulu pernah menjadi tempat tinggalnya dengan sedih, pembantaian yang dilakukan oleh Rido Kuran benar-benar terjadi, sama persis dengan yang terlihat di dalam penglihatan yang ia peroleh beberapa saat yang lalu. Rei berjalan pelan, kedua mata merah marunnya menemukan sebuah baju laki-laki dewasa dengan serpihan Kristal yang ada di sekelilingnya.

"Dua orang pureblood tewas pada malam berdarah ini, Rima. Haruka Kuran dan Juuri Kuran, cucu dari ayahku." Gumam Rei kepada Rima yang ada di belakangnya, memberitahukan apa yang tengah terjadi padanya.

Gadis kecil itu melihat Rei berjalan menuju serpihan kristal yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berdiri, wajahnya terlihat begitu tenang ketika ia berlutut di hadapan serpihan kristal dari tubuh Haruka Kuran, namun setenang apapun Rei, sorotan mata sedih dari balik mata sejernih merah marun itu tidak bisa membohongi perasaannya yang sebenarnya.. Rima tidak mengerti dengan emosi yang ada di wajah Rei, seperti seseorang yang kehilangan sesuatu yang sangat disayanginya namun lebih dalam dari itu, dan Rima juga tidak mengerti mengapa Rei-sama memeluk mantel milik Haruka Kuran dengan begitu erat, bahkan gadis kecil itu bisa melihat sebuah tetes air mata jatuh dari pelupuk mata Rei-sama.

Rei meletakkan mantel itu perlahan kembali pada tempat asalnya, meskipun mereka adalah keturunan dari wanita pengganti ibunya tapi Rei sangat menyayangi keluarganya, tidak peduli dengan apapun. Darah memang lebih kental dari air, itulah yang bisa menjelaskan perilaku yang Rei lakukan saat ini. Sang pangeran vampire tersebut berlutut perlahan dan dalam hati berdoa semoga jiwa Haruka dan Juri bisa tidur dengan tenang dalam waktu yang cukup lama, dalam artian singkat adalah selamanya.

Aku harap kau senang dengan semua ini, Otou-sama, aku mendoakan cucumu yang berasal dari wanita itu. Kata Rei dalam hati, ia memejamkan kedua matanya untuk beberapa saat sebelum membukanya lagi. Perasaan sedih yang tadi terlihat jelas dari bola matanya kini menghilang, digantikan oleh emosi tenang dan kalem seperti biasanya.

"Rei-sama!" Panggil Rima lirih, gadis itu merasakan kehadiran beberapa orang yang mendekati tempat itu. Seperti mereka adalah dewan senat untuk melihat keadaan Kuran manor setelah penyerangan yang diadakan oleh Rido.

"Aku tahu, Rima. Kita harus segera pergi dari tempat ini." ujar Rei dengan kalemnya, ia berdiri dari posisi sebelumnya dan menatap gadis kecil itu dengan lembut. "Kemarilah."

Rima mematuhi apa yang dikatakan oleh Rei, ia berjalan mendekati pangeran vampire itu sampai tubuhnya tepat dihadapan Rei. Pewaris tahta keluarga Kuran tersebut memberikan anggukan kecil sebelum memeluk tubuh kecil Rima, ia menggunakan kemampuan vampirnya untuk memindahkan tubuh mereka berdua jauh dari kawasan Kuran Manor, sehingga kehadiran para vampire yang tidak lain berasal dari senat mengetahui keberadaannya.


Tiga bulan telah berlalu sejak kedatangan Rei di rumah kediaman Kuran, dan tiga bulan pula ia ikut berkabung akan nasib yang menimpa keluarganya. Salju putih yang masih turun bahkan turut merasakan perasaan sedih yang anak itu rasakan, dinginnya menggambarkan bagaimana perasaan Rei. Malam itu adalah minggu terakhir dari musim dingin yang datang di tahun yang baru, namun waktu yang berputar pun tidaklah menghapus jejak sang pangeran vampire bersosok remaja berusia 14 tahun tersebut.

Tiga bulan yang lalu dirinya berdiri untuk melihat bekas pembantaian yang dilakukan keponakan tirinya pada keluarganya, dan tiga bulan pula anak itu tidak keluar dari dalam kamarnya, bahkan posisinya pun sama sekali tidak berubah, tetap terbaring di atas tempat tidur dengan kedua matanya terpejam. Dalam tidur panjangnya selama tiga bulan itu, Rei melihat sekelebat ingatan mengenai keluarganya di masa lalu.

Ia melihat sang ayah yang mengajarinya berjalan untuk pertama kalinya, bagaimana Rei kecil yang selalu gagal dalam melangkahkan kakinya akan terus terjatuh namun Kaname akan ada di sana untuk menangkapnya, lalu ingatan akan bagaimana Zero yang akan menyenandungkan sebuah lagu lembut di malam harinya untuk membuat Rei tidur, dan ingatan-ingatan membahagiakan lainnya. Tapi tidak jarang pula Rei akan memimpikan tentang masa kelamnya. Ia melihat di mana para manusia yang menyebut diri mereka pemburu vampire menangkap ibunya yang saat itu tengah lemah, Rei juga melihat bagaimana para pemburu itu meminum darah vampire tua milik Zero Kuran sementara ayahnya hanya menatap dari kejauhan, namun yang paling menyedihkan dari semua ingatan itu adalah bayangan ketika sang ibu melepaskan jantungnya dan menyembunyikannya, memberikan benda itu yang telah berubah menjadi liontion pada Rei.

Sebuah linangan air mata keluar dari pelupuk mata Rei yang terpejam, ia ingin menghapus semua itu, tapi ia tidak sanggup melakukannya. Tiba-tiba kedua matanya yang terpejam terbuka, memperlihatkan sepasang mata merah marun kepada dunia.

"Malam ini ya…. Kita akan bertemu lagi…Okaa-sama." Gumam Rei untuk beberapa saat.

Bayangan berdarah yang menyelimuti rumah keluarga Kiryu pun tergambar jelas di dalam benaknya.

Aku akan membunuh vampire itu. Tidak akan aku ijinkan dia menyentuk Okaa-sama-ku


AN: Terima kasih sudah mampir dan membaca

Author: Sky