Waaa maaf ya aku kayaknya vakum setahun. Soalnya ada urusan sekolah yang penting banget. Hontou ni gomenasai. But I'm here now ^^.Hehe oh iya, ada beberapa notes buat chapter ini :

1. buat kata kata "Ayah" ,"Ibu" ,"bibi",dan "paman" anggap saja seperti mengucapkannya dalam bahasa jepang. Soalnya agak ga nyambung waktu ditulis dalam bahasa jepang

2. chapter ini diceritakan dalam sudut pandang Azzura

3. aku ga tau nama sebutan buat pelontarnya apa. Tapi anggaplah namanya pelontar

please enjoy the 4th chap ;) glad to read your review

Dislaimer : CLAMP©

Author : Shishou maki-san©

Archer no Kuni

Chapitre 4 : even if I cannot be stronger, I'll always protect you

Kisah 9 tahun yang lalu..

Sebuah cerita yang seharusnya tak boleh kukenang.

Ayahku bernama Ryuuzaku Tarou, pemimpin pasukan utama Archer no Kuni. Dia adalah seorang jendral besar yang sangat dipercaya oleh kerajaan. Sedangkan ibuku adalah seorang miko. Namanya adalah Ryuuzaku Miharu. Dia bertugas melindungi negeri ini dengan kekkai.

"Ayaaaaaaah!"

"Azzura! Jangan lari-lari seperti itu! Nanti kamu jatuh!" teriak ibu dari ruang tamu

Bugh! "aduuh sakiiit"

"nah kan tadi ibu sudah bilang jangan lari-lari. Ayo bangun sini ibu bantu"

"Ada apa Miharu? Azzura?" tanya ayah yang baru keluar dari kamarnya. Ia mengenakan pakaian perang jepangnya dengan gagah.

"Hehe tidak apa apa kok" jawab ku sambil tertawa. Aku bangun dan tersenyum kepada ayahku. Ibuku mengenakan baju miko yang sangat cantik! Pas sekali dengan pakaian ayah saat itu.

"Ayah sudah siap ya? Panahnya mana? Tanya ibuku

"Oh iya! Hahaha rasanya aku sudah mulai pikun"

"Aku ambilkan ya,yah! Ada dimana?"

"Terima kasih Azzura. Panah dan pelontarnya ada diruang pertemuan" kata ayah sambil menunjuk ke ruang pertemuan keluarga

Aku berlari dengan sangat cepat menuju ruangan itu. pelontar ayah bukanlah panah biasa. Panah itu mempunyai kekuatan yang luar biasa. pelontar itulah warisan turun temurun keluarga kami.

"ini ayah" kataku seraya memberikan panah itu dengan hati hati kepada ayah

"Terima kasih banyak Azzura. Oh ya, kamu mau ikut bersama ayah ke Dojo atau dirumah saja?"

"Hmm.. sebenarnya aku mau tapi kan kasihan ibu sendirian menjaga Ogawa"

Ibu memegang bahu ku dan berkata,

"Tidak apa apa,sayang. Kau ikut saja dengan ayah. Ibu bisa kok jaga Ogawa sendiri. Lagipula pengawal dan bibi Kaho kan ada"

"Benar nih tidak apa apa?" tanyaku

"Iya. Pakai dulu baju latihanmu. Panah dan pelontar nya ada di kamar ibu"

"Baik bu!"

Aku pun segera berlari kekamar ibu dan mengenakan pakaian latihanku. Pakaianku berwarna biru tua dengan model yang sama dengan baju kendo. Ku kuncir kuda rambutku dan mengenakan Head band dengan segera.

"Kami berangkat dulu ya. Jaga diri baik-baik. Itekimasu!" kata ayah sambil membuka pintu keluar"

"Iterasshaimase" jawab ibu sambil tersenyum dengan manis

**Archer no Kuni **

Jalanan kota yang tak pernah sepi , bermandikan cahaya matahari yang terik.

Seandainya aku tahu apa yang akan terjadi nanti, mungkin aku takkan tersenyum dan tertawa seperti apa yang kulakukan sekarang. Tapi tetap saja..

Tidak ada seorang pun yang tahu akan masa depan.

"Ohayou Gozaimasu, Taichou!" seru para prajurit setiba kami di Dojo. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Melihat 'miniatur perang' Negara kami disini secara langsung. Dimana Ksatria-ksatria tangguh memainkan panah-panahnya dengan anggun.

"Ayah..apakah aku juga bisa menjadi seperti mereka?" tanyaku sambil menunjuk kepada seorang Ksatria panah yang tak lain adalah ksatria utama dari divisi penyerang.

Ayah mengeluh kepalaku dan tersenyum

"Apa yang membuatmu berpikir kau tidak bisa menjadi salah satu dari kami?"

Aku tundukkan kepalaku.

"Tidak tahu. Aku hanya ingin keren" jawabku

"Percaya. Pasti kau bisa!" teriak ayah untuk menyemangatiku.

Aku hanya memberikan senyum kecil pada ayah.

**Archer no Kuni **

"FUAH! Aa capeknya.. aku istirahatdulu ya ayah" aku duduk di pinggir Dojo dan meletakkan panah panahku di lantai.

"Baiklah. Kau tunggu ayah disini ya. Kami ingin ke istana utama dulu karena ada panggilan penting. Jangan nakal ya, Azzura."

"Oke! Perintah diterima!" Jawabku sambil memberikan hormat pada ayah.

"Kamu ini kan bisanya bilang oke saja. Setelah ayah pergi, pasti kau mengendap-endap mengikutiku. Iya kan?" Kata ayah sambil tertawa kecil.

"Tidak kok tidaaak.. hari ini aku akan tepat janji. Hehehe"

Aku melihat langkah mereka semua keluar dari Dojo.

"Mereka semua pergi. Yah mungkin ini hal biasa. Mereka kan ksatria-ksatria raja. Apa boleh buat? Lagi pula menghadap raja dan ke istana bukanlah hal yang istimewa bagiku"

Tanpa kusadari, dengan pikiran simpel itulah aku terselamatkan dari bencana ini.

- To Be Continued -


Chapter selanjutnya adalah part 2 nya.

Mohon dukungannya ya. R&R please