Balasan Review:
Qhisthina
Oke, akan aku perbaiki di chap-chap selanjutnya. Makasih buat jempolnya. Hihihi.
Waaah, masih panjang nih fic selesai. Hiks. Tapi tak apa. Dengan penasaran sama Qisthina-san seenggaknya ada yang bikin aku tetap semangat untuk update fic ini. Hehe.. Hountoni Arigatou.. :) dan maaf juga karna lama update. Selamat membaca.
Fic of Delusion
Lebih tepatnya, The Power Of Author. :v hahahaha
Hrsstja
Iya, Semangat!
Terimakasih atas dukungannya. Dan terima kasih juga karna telah meluangkan waktunya untuk membaca dan meninggalkan review. :)
~ Based on Fairy Tail by Hiro Mashima ~
Genre : Romance, Friendship, etc
Pairing : Natsu Dragneel, Lucy Heartfilia
Rate : T
.
A Fairy Tail Fanfiction Story
-YOUR SMILE -
Chapter 4 : By Your Side
"Aku serius. Ada lima orang disekitar sini yang mengawasi kita."
"Natsu. Hentikan." Keluh Lucy yang terlihat semakin takut
"Aku serius loh, Luce!" Kesal Natsu.
.
.
Hembusan angin terlihat melambaikan rambut kuning seorang gadis berpita merah muda di kanan kepalanya dan rambut merah muda laki-laki yang duduk tepat disebelah kanannya. Dedaunan pun ikut menari pelan, meramaikan suasana diantara keduanya.
"Gak mungkin mereka ada disekolah Natsu. Kau ini ada-ada saja." Sanggah Lucy seraya mencibirkan mulut.
"Sudah ku bilang aku serius!" Jelas Natsu makin kesal.
"Tapi ini sekolah! Mana mungkin mereka bisa masuk ke..." Lucy kontan menahan suaranya. Matanya terlihat membulat dan bibirnya tak bisa ia katupkan. "..sekolah." lanjutnya pelan. Mendadak, bayangan lelaki paruh baya berjas coklat muncul di benaknya. Jelas ia teringat akan satu hal.
"Terserah kau mau percaya atau tidak, Luce!" Seru Natsu. Sementara Lucy masih termakan oleh pikirannya sendiri. Urat dahinya sedikit berkerut saat bayangan itu memenuhi ruang di kepalanya. Ah, ayah.. Tidak ada yang mustahil untuknya, bukan?
"Luce?"
Aduh, bagaimana ini? Apa ayah memperketat pengawasan karna Natsu membanting Glenn kemarin? Batin Lucy. Tidak Luce! Tidak! Lupakan soal Ayah. Dan jangan percaya sama omongan Natsu barusan. Semua terlalu mustahil!
"Luce!" Sentak Natsu kuat. Lucy kontan tersentak hebat. Bagaimana tidak, selain suara lantang barusan, wajah Natsu saat ini sudah berjarak 10 cm dari depan matanya.
"Gyaaa.. Natsu!" Pekik Lucy yang refleks menjauh seraya menghalau semburat merah yang lagi-lagi menjalar ke wajahnya.
"Haaah, kau ini penakut sekali." Gubris Natsu seraya ikut menjauhkan diri, merebahkan tubuh pada sandaran bangku dan membuka minuman kaleng ditangannya.
"Siapa yang kau bilang penakut? Aku tidak takut sama sekali dengan mereka." Omel Lucy. Kecuali jika diseret paksa pulang. Batinnya.
"Hahaha. Gak apa kalau kau takut." Tawa Natsu. "Sudah ku bilang kan, aku akan melindungimu." Jelas Natsu seraya menampilkan Grins khasnya.
Lucy tersentak, lagi-lagi semburat itu muncul di kedua pipinya. Entah kenapa, Grins milik Natsu selalu bisa membawa ujung bibirnya untuk ikut tersenyum.
"Hahahaha, kau percaya diri sekali Natsu." Timpal Lucy seraya menutupi semburat merah yang kini sudah memenuhi wajahnya.
"Kau meremeh kan ku? Aku ini jago bela diri, tahu!" Balas Natsu.
Lucy malah benar-benar tertawa sekarang melihat wajah polos didepannya itu.
"Oh, ya? Mengalahkan Erza saja kau tidak bisa!" Ledek Lucy yang kontan menancapkan tiga kerut siku di surai pink itu.
"Sudah kubilang, Erza itu berbeda. Dia itu Monster!" Pekik Natsu tidak terima. Tapi orang didepannya semakin tertawa lebar.
"Kenapa ter.." Natsu sedikit menahan suaranya begitu menatap wajah Lucy. "..tawa?"
Angin tiba-tiba saja berhembus halus, mengeluarkan perasaan aneh yang langsung menyeruak hati sang pemilik surai pink itu. Suasana senja mendadak muncul dibenaknya. Pelataran jingga dan rumput hijau memenuhi bayangannya. Lambayan rambut kuning terlihat menari disekitarnya. Tak lupa dengan wajah tawa seorang gadis kecil yang muncul sesaat menimpah wajah tawa gadis berpita pink didepannya kini. Natsu kontan tersentak. Bayangan itu langsung pergi ketika Natsu mengerjap.
"Gak apa-apa." Balas Lucy.
Natsu semakin mengerutkan dahi, "Gak apa-apa." Suara barusan pun kembali terngiang dikepalanya. Kali ini sedikit lebih jelas dari kemarin pagi, suara kecil menggemaskan yang terasa sangat merindukan. Natsu kontan memegang dahinya. Melempar pandang ke dasar taman dan menggerutu pelan.
Tadi itu apa? Lirih Natsu dalam hati sekaligus menghentikan ilusi yang terasa semakin menekan relung hatinya.
"Oh iya, Natsu." Kali ini suara Lucy berhasil menyelamatkannya dari perasaan aneh barusan. Natsu menoleh. "Kemarin, ada apa?" lanjut Lucy.
Natsu sedikit tersentak, walau tak ia perlihatkan. Ah, aku kelupaan lagi soal itu. "Aa.. eum.." Apa yang harus ku katakan padanya? Astaga Natsu.
"Kenapa?" Tanya Lucy lagi begitu hanya mendapatkan gumaman aneh dari lelaki didepannya.
"Aku..." Gumam Natsu seraya berpikir. "..Aku hanya.. ingin berterima kasih soal plester kemarin dan... maaf karna menabrakmu." Lanjut Natsu penuh gumaman dan jelas semua itu adalah fake. Meski memang benar ia ingin berterima kasih dan meminta maaf soal kemarin, tapi jelas hal itu tak ada sangkut pautnya dengan rasa penasaran Natsu akan senyuman dan suara dibenaknya.
"Hanya itu?" Heran Lucy. "Mou, Natsu. Sudah ku bilang itu sebagai ucapan maafku karna telah menabrakmu kemarin. Dan juga kau tak perlu minta maaf. Haha.." Jelas aku baik-baik saja, dan kepalamu jadi korbannya. Jadi buat apa minta maaf? Jelas Lucy, meski sebagian besar berada dalam benaknya.
"Kau ini aneh sekali." Lanjut Lucy seraya tertawa. Meski mengatakan kepalsuan, ujung bibir Natsu terlihat bergerak menatap tawa dari gadis didepannya. Rasa nyaman untuk tetap berada disampingnya terasa semakin menyesakkan dada. Entah kenapa, senyuman itu selalu membawa gejolak aneh yang berhasil menggoreskan cat merah muda ke atas pipi Natsu.
Ne, Luce, Apa lebih baik aku tidak mengatakannya padamu? Senyummu dan suaramu terasa hangat di hatiku. Mungkin hanya perasaanku saja, atau memang kau bagian dari hidupku yang pernah hilang ? Ne Luce, andai aku berani mengatakannya. Kau siapa? Kau mencuri perhatianku, hatiku, benakku, pikiranku, dan kendali diriku. Kau tahu, Luce, aku ingin bilang, Aku Sangat Merindukan Senyumanmu..
Teng.. Teng.. Teng..
Bell masuk terdengar nyaring, menyentak kedua pasang orang yang masih saja duduk di bangku tengah taman sekolah.
"Aaah, cepat sekali." Seru Natsu begitu mendengar suara maut yang memekakkan telinga.
"Ayo, kembali ke kelas Natsu." Ajak Lucy sembari mendorong tubuhnya berdiri. Natsu mengelus tengkuk, melempar kaleng kosong ke tong sampah disudut sana dan ikut berdiri.
"Hmm." Gumamnya singkat, meng-iya-kan ajakan barusan. Lucy tersenyum dan mulai berjalan ke koridor tengah sana mendahului pemilik surai pink itu.
Natsu menahan langkahnya saat hendak mengikuti gadis kuning itu. Ia menengadahkan kepala keatas dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana.
5 orang.. Gumamnya begitu menatap koridor penghubung dilantai dua yang kini tak terjamahi seorang pun. ...termasuk Erza dan Gray ?
"Natsu!" Panggil Lucy yang sepertinya baru menyadari kalau surai pink itu tak berada didekatnya. Natsu tersentak, dan tersenyum simpul melirik Lucy yang kini sudah berdiri didepan pintu gedung kelas 1.
Natsu mulai melangkah dengan kepala yang masih sempat kembali melirik sejenak koridor diatas sana.
"Heh, Dasar mereka berdua." Gumam Natsu seraya mengelus tengkuk.
"Sepertinya kita akan berpisah disini, Natsu." Seru Lucy begitu menginjakkan kaki tepat diujung lantai dua.
"Huh?" Melihat Lucy menghentikan langkah, Natsu yang berada tepat dua anak tangga dibelakang Lucy ikut berhenti menatapnya.
"Apa yang kau bicarakan?" Tanya Natsu enteng sembari berlalu melewati Lucy dan berbelok menuju tangga ke lantai 3.
"Eh? Kau mau kemana?" Tanya Lucy seraya menyampakkan manik matanya ke surai pink yang baru saja menginjak anak tangga pertama. "Kelasmu kan disana, Natsu!" Lanjut Lucy sekaligus menunjuk kelas 1-D yang berada tepat 3 ruangan didepan mereka.
"Aku akan mengantarmu ke kelas dulu." Jawab Natsu ketus.
"Hah?" Pekik Lucy kaget, bahkan membuat beberapa anak yang masih diluar kelas berpaling ke mereka sejenak. E-E-Eh, apa-apaan si Pinky ini?
"I-Itu gak perlu, Baka!" Mati aku. Jika teman-teman sekelas ku melihatnya, sudah jelas aku akan jadi korban gosip mereka.
"Kenapa gak perlu? Orang-orang aneh kemarin ada disini, dan kau masih bilang itu gak perlu?" Tanya Natsu yang sekarang malah melempar kerut ke dahi Lucy.
"Kau terlalu berlebihan, Natsu." Kesal Lucy. "Sudah ku bilang kan, mereka tidak mungkin ada disini!"
"Ya, terserah." Balas Natsu sambil kembali meniti tangga.
"Natsu!"
Natsu lagi-lagi menghentikan langkahnya dan menatap Lucy sejenak. "Harus berapa kali aku bilang padamu?" Kesal Natsu. "Aku akan melindungimu. Walau kau mengusirku pun, aku akan tetap melakukannya. Jadi jangan katakan apapun lagi, mengerti?!" Jelas Natsu. Lucy tersentak, lagi-lagi rona merah menyebar cepat kewajahnya begitu menatap onyx hitam Natsu yang langsung menyeruak pandangannya.
"Ayo!" Ajak Natsu seraya melanjutkan langkahnya.
Lucy menggelengkan kepala kuat saat onyx itu tak menatapnya lagi. Aaaaargh, bagaimana ini? Bagaimana ini? Aaaaaargh, kalau tahu akan berakhir seperti ini, aku gak perlu susah-susah mencarinya tadi. Ya ampun, habis sudah aku!
Rasanya kali ini Lucy ingin memukul-mukul kepalanya ke tembok.
Apa yang harus ku lakukan? Kami-sama, tolong aku...
"Luce!" Panggil Natsu lantang begitu menyadari gadis dibelakangnya sama sekali belum bergerak. Suara itu kontan membuang seluruh pikiran Lucy.
"Y-Ya?"
Natsu seketika menghela kuat, mengusap tengkuk, dan memutar haluan kembali ketempat Lucy berpijak. Begitu sampai, Natsu meraih tangan Lucy dan membawanya meniti anak tangga.
"Cepat lah Luce! Aku akan dihajar Gildart-sensei jika terlambat masuk kelasnya." Omel Natsu dan masih menarik paksa tubuh Lucy.
Lucy dengan sigap menahan tubuhnya. "Kalau gitu kau langsung saja ke kelasmu, aku bisa ke kelas sendiri."
Perkataan Lucy barusan kontan mendapat tatapan tajam dari Natsu, jelas sekali lelaki didepannya itu tak akan menerima tawaran Lucy barusan. Natsu sedikit mempercepat langkahnya yang nyaris membuat Lucy kehilangan keseimbangan karna ditarik Natsu dengan paksa. Bahkan genggaman tangan Natsu terasa makin erat ditangan.. Eh? Lucy seketika membelalak lebar. Ia baru sadar kalau tangan si pinky ini menggenggam tangannya. Dan bahkan mereka hampir sampai dilantai tiga.
"Natsu, lepaskan tanganmu!" Pinta Lucy. Tapi, sudah terlambat. Mereka sampai dilantai 3. Kalau saja bisa, rasanya nyawa Lucy ingin melayang sekarang juga. Entah apa yang merasuki gadis itu, tapi kini rasanya seluruh mata orang yang masih diluar kelas tertuju pada Natsu dan dirinya, khususnya para perempuan.
Natsu sedikit melonggarkan genggamannya tapi tidak berniat melepaskan tangan itu dan ia masih tetap berjalan menyusuri koridor menuju kelas 1-A didepan sana. Dan Lucy hanya bisa pasrah saat menyadari mereka hampir sampai di depan kelasnya.
"Natsu, bisa kau lepaskan tanganmu sekarang?" lirih Lucy pelan. Dan entah kenapa permintaannya terkabul seketika. Lucy terperangah ketika hangat tangan itu tak lagi menyelimuti tangan kanannya. Tapi semua memang sudah terlambat, jelas saja Natsu melepaskan genggamannya karena papan bertanda 1-A sudah berada diatas kepala mereka. Dan Lucy hanya bisa menelan ludah saat menyadari hal itu.
"Masuklah. Aku akan kembali ke kelas." Kata Natsu sembari berbalik menatap gadis itu.
Tak mau berlama-lama berada didekat Natsu, Lucy hanya membalasnya dengan tersenyum dan segera berlalu ke pintu kelas.
"Oh iya Luce." Panggil Natsu lantang, kali ini suara Natsu terdengar sampai kebeberapa telinga disekitarnya. Bahkan Lucy terasa seperti mendengar petir, karna terlihat tersentak dahsyat.
"Mulai sekarang, jangan menjauh dari pandanganku." Seru Natsu yang langsung membuat seluruh gadis disekitarnya mengeluarkan semburat merah. Termasuk Lucy yang kini sedikit membuka bibir, tak lupa pula dengan semburat merah yang kini terasa memanas di seluruh wajahnya.
"Eh?" Lirih Lucy kaget seraya menatap Natsu yang kini meninggalkan lambayan singkat dan berjalan meninggalkannya.
Natsu duduk dibangkunya seraya memegangi kepala yang kini terlihat membenjol besar. Jelas saja, ketika dia sampai, Gildarts-sensei sudah berdiri didepan kelas seraya meletakkan tumbukan buku di atas meja. Nice Timing bagi Gildarts-sensei dan Bad Timing bagi Natsu. Guru satu itu memang paling suka jika ada salah satu muridnya yang terkena sial atau bisa dibilang melanggar aturannya. Dan begini lah hasilnya, kepala Natsu berhasil mendapatkan hadiah timpukan keras dari gulungan buku yang selalu menjadi senjata bagi guru Matematika satu itu.
"Argh, dasar sial! Perasaan dari kemarin kepalaku jadi korban terus." Rintih Natsu yang berhasil membuat Gray terkekeh penuh kemenangan. Pasalnya, setiap Natsu menderita adalah kebahagian untuknya. Begitu juga dengan Natsu.
"Salahmu sendiri." Timpal Gray pelan.
"Cih." Balas Natsu.
"Sudah. Perhatikan depan kalian berdua atau Gildarts-sensei akan menghajar kalian." Potong Erza melerai pertengkaran yang nyaris terjadi lagi. Keduanya tersentak. Erza ada benarnya juga. Gildarts-sensei terasa seperti copy-annya Erza. Hanya saja, yang ini tak semenyeramkan gadis merah yang duduk dibelakang Natsu itu.
Natsu menghela, melepaskan tangannya dari atas kepala dan memperhatikan papan hitam yang kini bertuliskan angka-angka maut yang bahkan tak masuk dalam nalar otaknya. Atau bahkan lebih seperti pengganti pil tidur, karna setiap kali melihatnya mata terasa kehabisan watt. Tapi tidur adalah hal tabu untuk kelas sekarang. Jika saja kau tertidur, maka kau akan terbangun dalam kandang harimau. Yah, begitulah. Paling tidak, jaga mata agar tetap terbuka meski otak tak dapat mencerna.
Natsu seketika mengerjap, ia segera mengeluarkan ponsel disaku celananya dan segera membuka kontak mencari nama gadis yang tadi pagi memegang ponselnya.
Ketemu! Lucy Heartfilia. Orang yang senyumnya selalu saja membuat Natsu terjerat. Dan ia segera menulis pesan untuknya.
Natsu : Luce, istirahat makan siang nanti, kau keluar?
Dengan lincah Natsu menggerakkan jemarinya pada layar touchscreen itu. Tak lama, bahkan hanya selang 1 menit dari terkirimnya pesan barusan. Lucy sudah membalasnya. Entah kenapa, tapi sepertinya gadis itu tidak memperhatikan pelajaran pula. Atau mungkin juga terganggu oleh seutas pesan dari orang yang menggenggam tangannya di depan seluruh teman-temannya tadi.
Lucy : Sepertinya tidak. Essay Bahasa Inggrisku belum selesai dan aku bawa bento. Kenapa?
Natsu tersenyum, bahkan hanya dengan melihat pesan dari gadis itu, senyumannya terasa menyeruak dipikiran.
Natsu : Baguslah, bilang padaku jika kau ingin ke. . .
BRAK! Belum sempat Natsu mengelesaikan ketikannya, gulungan buku tebal sudah mendarat telak ke atas ubun-ubunnya.
"Aw!" Teriak Natsu sekaligus kaget.
"Perhatikan! Atau aku akan menyita handphonemu!" Seru suara dibelakang Natsu yang bahkan membuat Natsu tak berani menoleh ataupun melakukan hal lain selain memegangi kepala dengan kedua tangannya.
"Natsu!" Panggil Gildarts-sensei begitu jam pelajaran matematika berakhir. Bukan hanya sang empunya nama. Seluruh kelas juga kaget begitu mendengar suara parau nan buas barusan. "Kemari." Pinta Gildarts-sensei yang kontan membuat Natsu menelan ludah. Ia bangkit dan langsung berjalan menuju meja guru didepan sana.
"Ini." Kata Gildarts-sensei seraya mengeluarkan sesuatu dari dalam laci mejanya. Natsu membelalak. Ia kira guru killer satu ini akan menghantamkan pukulan lagi keatas kepalanya entah karna keterlaluan bodoh dalam ujian ataupun tak memperhatikan pelajaran.
"Eh?" Heran Natsu menatap sebungkus plastik putih itu.
"Sudah hampir sebulan aku menyita syal kucelmu ini. Aku rasa kau sudah terbiasa tidak mengenakannya di sekolah kan? Ambillah." Seru Gildarts-sensei yang membuat Natsu-bahkan seisi kelas heran melihat Sensei yang biasa mengamuk itu terlihat lebih seperti guru pada umumnya. "Jangan di pakai lagi didalam sekolah, Mengerti?!"
"Makasih banyak sensei." Seru Natsu seraya meraih bungkusan plastik itu, membukanya dan langsung melingkarkan syal itu dilehernya.
BRAK! "Baru saja ku katakan padamu, JANGAN DI PAKAI DISEKOLAH!" Pekik Gildart-sensei menggelegar seraya melayangkan gulungan buku ke pucuk pink didepannya.
"Argh!" Rintih Natsu.
Seluruh pelajaran berakhir. Seperti biasanya, ini lah saat-saat yang paling dinantikan murid-murid di sekolah. Gadis berambut biru berbandana kuning terlihat meraih tasnya yang bertengger disamping meja, memasukan buku-buku kedalamnya dan sesegera mungkin berpaling menatap si Pirang di belakangnya.
"Lu-chan, Ayo pulang." Ajak gadis berbandana kuning itu, Levy.
"Hm. Lagi-lagi aku merepotkanmu." Keluh Lucy pelan seraya berdiri.
"Hahaha, apanya yang merepotkan. Ini bukan pertama kalinya kau tinggal dirumahku kan?" Tawa Levy.
"Justru karna itu aku merepotkanmu."
"Oh, ayolah Lu-chan. Kita sudah dekat sejak SD. Ayah dan Ibuku bahkan sudah menganggapmu seperti putri mereka sendiri."
"Tapi aku tidak mau merepotkan mereka terus."
"Apanya yang merepotkan sih? Sudah lah ayo!" Ajak Levy sembari meraih pergelangan tangan gadis itu.
"Aku janji akan pindah begitu dapat pekerjaan." Kata Lucy lagi.
"Mou, sampai kapanpun kau boleh tinggal dirumahku." Seru Levy seraya tersenyum.
"Makasih banyak, Levy-chan."
Levy mengangguk dan tersenyum manis menatap sahabatnya itu. Melihat Lucy sudah tak selemas tadi, Levy melepaskan tangannya dan berjalan menuju pintu diikuti dengan Lucy yang berjalan dibelakangnya.
"Kira-kira ada lowongan pekerjaan lagi gak ya untuk anak SMA?" Kata Lucy membuka obrolan baru.
"Tidak tahu, terakhir kita cari bukannya cuma restauran itu ya?" Balas Levy yang kini ikut bingung.
"Eh, dia ngapain?"
"Kyaaa.. dia nunggu siapa sih?"
"Bukannya sudah jelas?"
"Uh, si pirang itu kah?"
Suara bisikan yang dapat terdengar keras itu terlihat memenuhi koridor depan kelas 1-A, bahkan bisa mencapai Lucy dan Levy yang masih berada jauh dari pintu itu.
"Diluar ramai sekali." Gumam Levy seraya mempercepat langkah, lebih tepat penasaran akan apa yang terjadi diluar sana. "Ada ap.." Lucy seketika membungkam mulutnya begitu menatap beberapa teman sekelasnya yang menatapnya sinis. Bahkan Levy ikut terkejut begitu beberapa orang didepan sana menatap mereka sedikit tajam.
"Itu dia." Kata salah satu anak didepan sana dengan tampang yang tidak menyenangkan.
"Lu-chan, perasaanku tidak enak." Kata Levy seraya menyamakan langkah dengan gadis pirang yang tadi masih berjalan dibelakangnya. Lucy mengangguk, tapi tak berniat sama sekali untuk menghentikan langkah kakinya. Memangnya dia salah apa sampai harus ketakutan melihat tatapan tajam dari orang-orang diluar sana. Apa dia pernah menyinggung mereka atau merebut pacar kesayangan mereka? Tentu saja jawabannya tidak. Merebut pacar orang? Ugh! Pacaran saja Lucy belum pernah. Dekat dengan cowok saja tidak pernah. Kalau ada yang menyatakan suka sih banyak. Tapi, ayolah siapa yang bisa menerobos pertahanan hati Lucy yang seperti 'batu' itu. Sebutan batu memang pernah dilontarkan oleh Levy untuk sahabat baiknya itu ketika SMP dulu. Memang benar, gadis berambut sekuning kulit pisang ini tak pernah membuka hati untuk siapapun yang suka padanya.
Jadi, ada apa dengan tatapan mereka? Mereka terlihat seperti haters menyebalkan di film-film drama yang melihat karakter utamanya pacaran dengan cowok idaman mereka. Eh? Tunggu! Lucy seketika tersentak. Cowok idaman? Pikirannya seketika melayang begitu ia hampir menginjakkan kaki keluar pintu. Apa ini ada hubungannya dengan..
"Yo, Luce!" Natsu?! Lucy tersentak, ia segera melemparkan pandang ke arah suara barusan berasal. Didapatnya Natsu tengah menyandar pada tembok samping pintu kelasnya, dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana, serta syal kotak-kotak yang istirahat tadi saja tak terlihat di lingkar lehernya.
"Siapa, Lu-chan?" Tanya Levy yang menyelonongkan diri keluar pintu kelas juga. "Eh?" Kagetnya.
"Sedang apa kau disini?" Tanya Lucy. Ia sampai menghiraukan kekagetan Levy yang berdiri disampingnya.
"Menunggumu." Jawab Natsu singkat.
"Hah?" Ah, sekarang aku tahu kenapa mereka melihatku seperti itu.
"Ayo pulang!" Seru Natsu seraya bangkit dari sandaran dan berjalan mendahului Lucy.
"Eh?" Kaget Lucy lagi. Ia masih saja bingung melihat tingkah Natsu. Lucy menelan ludah, ditatapnya beberapa gadis disekitarnya. Meski ada yang terlihat tersenyum iri dan ada pula yang terlihat memancarkan deathglare mengerihkan kearah dirinya.
"Lu-chan, kau sudah pacaran dengan Natsu?" Tanya Levy bingung. Lucy tersentak. Sepertinya pertanyaan dari gadis mungil disebelahnya ini mewakili pertanyaan yang ingin dilontarkan beberapa mata menakutkan di sekitarnya.
"Tidak. Tentu saja tidak." Jawab Lucy cepat sebelum dia menjadi korban pembunuhan oleh Fans Girly Natsu Dragneel itu.
"Lucy! Ayo pulang." Teriak Natsu lagi yang kontan membuat Lucy makin menerima deathglare dari sekitarnya.
Lucy segera menarik tangan Levy, secepat mungkin dia harus pergi dari kerumunan gila ini. Dan sedikit memelankan langkah begitu mendekati Natsu.
"Aku hari ini pulang dengan Levy, Natsu. Kau tidak perlu mengantarku." Jelas Lucy dan dengan cepat mempercepat langkah kakinya untuk meninggalkan koridor dimana Natsu dan kerumunan itu berada.
Natsu tersentak. Ia segera menjulurkan tangannya dan dengan sigap menghentikan langkah kaki dua gadis didepannya.
"Apa maksudmu, Luce?" Tanya Natsu Heran, sembari menggenggam erat lengan tangan Lucy. Hal itu kontan membuat Lucy kembali menatapnya.
"A-aku.."
"Sudah kubilang kan, jangan menjauh dari pandanganku!" Seru Natsu tajam, bahkan matanya sampai menusuk ke dalam mata Lucy. Dan itu cukup untuk melunakkan gadis bawel nan keras kepala didepannya itu.
"Aku akan mengantarmu pulang." Lanjut Natsu seraya menurunkan tangannya dilengan lucy tepat ke pergelangan tangan Lucy. Hal itu kontan membuat Lucy terperangah. Ia hanya diam dan dapat dirasakannya tangan Natsu menggantikan tangan Levy yang tadi digenggamnya. Dan ia hanya bisa mengikuti langkah kaki laki-laki bersurai pink itu tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Levy terdiam. Seutas senyuman melebar diwajahnya.
Lu-chan, sepertinya ada orang yang bisa menerobos hati batumu itu ya? Hihi Lirihnya dalam hati.
"Lu-chan, tunggu aku!"
-to be continued-
Yo Minna..
Maaf ya baru bisa update sekarang. Kemarin aku baru UTS dan aku terjebak diantara Persamaan Differensial, Statistika Matematika, Program Linear, Bahasa Pemrograman, dan Statistika Non Parametrik. Hiks.T3T *numpang curcol. Mungkin kalian bisa menebak jurusan ku apa. Hahahaha.. yang pasti bukan jurusan yang luar biasa. Wkwkwk :v
Oh iya, tadinya chapter ini mau ku tulis lebih panjang dari ini. Tapi karna takut ngebosenin, aku tutup sampai bagiannya Levy aja. Aku rasa fic ku akan semakin membosankan. Karna aku pun antara semngat dan enggak menulisnya. *Maklum mood lagi rusak. Bahkan aku sempat ingin berhenti menulis sanking mood sudah porak poranda. Tapi idenya selalu muncul dikepalaku. Aku jadi sayang untuk berhenti. Hiks.
Gomennasai kalau mengecewakan ya. Aku sudah menulisnya semampuku. T_T
Terima kasih banyak sudah mau membaca fic ku ini.
Maaf kalau ceritanya terlalu Gaje, OOC dan Typo bertebaran dimana-mana. Hehe
Jangan lupa tinggalkan Review ya..
Happy Reading Minna-san
Dont be a silent reader
Sampai jumpa di chapter selanjutnya~
