(PART 4)
Author: Hwang Min Gi
Untuk cinta yang tak memihakku...
Bisakah tidak melukai
Bisakah hanya kumiliki
Aku tidak suka berbagi
Aku hanya ingin memiliki untukku sendiri
Jadi, bisakah...
-Heechul POV-
"Mianhae...jeongmal mianhae. Chullie-ah...aku...aku...Chullie...aku mencintainya. Mianhae...". Aku seperti dihujam ribuan jarum di sekujur tubuhku. Tak kusangka kalimat itu meluncur dengan indahnya dari bibir Hankyung oppa.
"Oppa...", gumamku lirih. Entah dia mendengar atau tidak. Aku tak lagi punya cukup tenaga untuk menjerit. Mataku menatap dalam ke arah matanya yang merah dan bercucuran air mata. Aku terus saja meyakinkan pada diriku sendiri bahwa Hankyung oppa sedang berbohong. Entah dengan alasan apa pun aku akan memaafkannya asalkan dia bilang bahwa dia sedang berbohong.
Kulihat Wookie berlari entah ke mana. Apakah dia kabur? Benar-benar di luar nalarku, Wookie yang kukenal tak pernah kabur dari masalah. Kini hanya ada aku dan Hankyung oppa, namun kulihat dia tak beranjak dari posisinya semula. Dia masih saja membisu di hadapanku. Hujan mulai deras kembali. Tubuhku yang belum kering kini semakin basah olehnya. Aku tak lagi bisa membedakan mana air hujan dan mana air mata. Semua menjadi satu menyerang batinku yang pilu.
###
-Yesung POV-
Sudah pukul 7 malam. Kupandangi halaman rumahku dari sudut jendela kamar. Sisa-sisa tetesan air hujan tadi sore berjatuhan dari ranting dan dedaunan. Sudah begitu malam, namun tak kulihat tanda-tanda kedatangan Ryewook. Pesanku tak dibalas olehnya, bahkan ketika kutelpon berkali-kali, operator mengatakan bahwa HP-nya sedang tidak aktif. Ada apa lagi ini? Mengapa aku gelisah sekali? Apa sedang terjadi sesuatu padanya? Atau dia hanya sedang membalasku? Tiba-tiba kudengar eomma berteriak dari lantai bawah,
"Yesung-ah...ada temanmu datang!"
Aku melonjak dari tempat tidur. Kini kulihat wajahku di depan cermin. Aku tak tahu apa yang bisa kulakukan agar wajahku tampan dalam sekejap ketika di hadapan Ryewook, namun yang jelas aku berusaha untuk merapikannya (?). Bergegas kuturuni anak tangga berharap segera dapat melihatnya.
"Ya! Yesung-ah!", teriak seseorang yang membuat senyumku memudar. Kupikir yang datang adalah Ryewook, namun ternyata tiga namja kurang kerjaan yang selalu saja bikin onar ketika ke rumahku. Lagi pula apa yang mereka lakukan di rumahku malam-malam begini? Seingatku besok tidak ada tugas atau pun ulangan, karna biasanya mereka datang hanya untuk hal-hal semacam itu, kurasa kalian mengerti maksudku. Rupanya eomma menangkap wajah kecewaku,
"Yesung-ah, apa kau sudah baikkan?"
"Wae gurae? Apa Yesung sakit? Tadi pagi dia baik-baik saja", serobot Siwon sok tau.
"Ne~, eomma. Aku baik-baik saja. Hanya tadi sedikit pusing karna hujan", jawabku tak berselera.
"Aigo~ kau seperti anak kecil saja. Baru kena air hujan sedikit sudah sakit", celetuk namja bernama Eunhyuk dibenarkan oleh anggukan Shindong. Mereka bertiga adalah teman sekolahku. Siwon seperti yang sudah kalian tau adalah teman sekelasku yang sering sekali meminjam buku tugasku. Lalu Eunhyuk dan Shindong berbeda kelas denganku, namun juga sering sekali ke rumahku untuk menanyakan tugas atau pelajaran yang tidak mereka mengerti. Namun, kebanyakan pelajaran tidak dimengerti oleh mereka. Hufh...benar-benar melelahkan berteman dengan mereka.
Aku mengenal Eunhyuk dan Shindong dari Siwon. Eunhyuk dan Shindong membentuk sebuah perkumpulan untuk anak-anak pecinta dance. Ketika pertama kali perkumpulan itu dibuka, banyak sekali anak yang ikut, namun setelah 2 bulan, satu per satu anggotanya menghilang tanpa jejak (?). Kemudian mereka berdua sengaja mengajak Siwon yang notabene memang tampan, bergabung untuk menarik anggota. Dan sepertinya usaha itu sedikit membuahkan hasil. Namun seperti yang sudah diduga, kebanyakan anggota baru adalah yoeja.
Selain Siwon, Hankyung hyung juga merupakan anggota dari perkumpulan yang diberi nama Happy Together itu. Dia belum lama bergabung, mungkin baru sekitar 3 bulan yang lalu. Sedangkan aku sendiri tak mau ikut campur dalam perkumpulan yang kurasa aneh itu. Lagi pula aku tak pandai menari layaknya Eunhyuk, Shindong, maupun Hankyung hyung.
"Mau apa kalian ke sini?" tanyaku ketus.
"Ya! Kenapa kau tak pernah menyambut kami dengan baik. Selalu saja seperti itu", jawab Siwon yang kesal.
"Meski aku menyambut kalian dengan seperti ini, toh kalian tetap saja datang ke rumahku", jawabku tak peduli. Mereka bertiga lebih tak peduli lagi. Tak mendengarkan apa yang baru saja kukatakan. Mereka malah ngeloyor pergi, upz...mereka menuju kamarku seperti biasa. "Dasar menyebalkan", gerutuku dalam hati.
Kulirik jam dindingku yang sudah menunjukkan pukul 8 malam. Mereka bertiga masih asyik bermain game di kamarku tanpa memperdulikanku. Berteriak-teriak seakan ini rumah mereka sendiri. Sesaji yang disiapkan eomma-ku juga sudah berpindah dari piring ke perut mereka. Kini kamarku sudah layaknya seperti kapal titanic yang tenggelam ratusan tahun yang lalu.
Aku kembali memperhatikan HP-ku. Tak ada satupun pesan maupun telpon dari Ryewook. Aku kembali cemas. Aku ingin sekali pergi ke rumah Ryewook yang sebenarnya tak jauh dari rumahku. Namun, aku tak mungkin meninggalkan ketiga namja tak tau diri ini di kamarku dengan keadaan seperti ini. Aku juga tidak tau harus menjawab apa ketika ketiga namja ini tau bahwa aku akan ke rumah Ryewook. Ya, aku memang tak memberi tahu siapa pun tentang perasaanku pada Ryewook. Aku lebih suka memendamnya sendiri daripada memberi tahu namja-namja yang bermulut ember ini.
"Yesung-ah, apa yang kau lakukan? Kenapa hanya menatap HP-mu seperti orang tolol? Ayo ikut main bersama kami!" tanya Eunhyuk membuyarkan lamunanku.
"Bukan urusanmu", jawabku menatapnya sekilas.
"Apa kau tau, akhir-akhir ini Hankyung hyung sering sekali bolos latihan", tanya Shindong entah pada siapa, karna tatapannya masih pada game-nya.
"Hm...anio", jawab Siwon, yang akhirnya kumengerti bahwa pertanyaan itu untuknya.
"Bagaimana dia bisa tau, dia sendiri saja jarang latihan", kata Euhyuk mempertegas.
"Itu karna aku sibuk", jawab Siwon membela diri. Mereka bertiga masih asyik dengan game dan perdebatan mereka. Sedangkan aku masih asyik memandangi HP-ku yang kuharap segera berbunyi. Namun, pertanyaan Shindong yang kurasa aku tau jawabnya, mulai menghantuiku lagi. Bayangan kejadian di sekolah tadi kembali menyesakkan dadaku. Aku benar-benar ingin malam ini segera berakhir.
###
-Author POV-
Ryewook berjalan lemas menuju gerbang sekolah. Di sana seperti biasa sudah menunggu Yesung dengan senyum terbaiknya yang selalu dia siapkan untuk menyambut sang pujaan hati. Namun, melihat Ryewook yang tak bersemangat seperti biasanya, membuat senyuman manis itu pun memudar. Ditunggunya dengan sabar Ryewook yang berjalan perlahan mendekatinya. Saat Ryewook tersadar bahwa Yesung ada di sana, dia tersenyum dipaksakan. Yesung tak senang melihat ini. Ketika yoeja mungil itu sudah di hadapannya, dia pun menatap yoeja yang kini menundukan pandangannya itu.
"Wae gurae? Gwaenchana?", tanya Yesung dengan lembut. Ryewook melangkahkan kakinya lebih dekat dengan Yesung. Kemudian tanpa komando dari siapa pun, ditempelkannya kepalanya ke dada Yesung dengan posisi masih menunduk. Dihembuskannya nafas kuat-kuat seakan-akan dia tengah kelelahan.
Yesung membatu. Dia menahan hasratnya sendiri, berusaha agar tak kehilangan kendali. Ditahan nafasnya agar tak memburu, dan digigit bibir bawahnya agar tak bergetar. Otaknya berputar-putar memikirkan bagaimana caranya agar Ryewook tak mendengar detak jantungnya yang kini hampir saja meledak.
"Yesung-ah...eottoke?" tanya Ryewook memecahkan pikiran Yesung.
"Mwo?" ucap Yesung tak paham. Seketika Ryewook mendongakkan kepalanya menatap Yesung dari bawah (karena Yesung beberapa cm lebih tinggi dari Ryewook). Mereka begitu dekat. Wajah Yesung memerah. Dialihkan pandangannya dari wajah Ryewook yang kini hanya berjarak beberapa cm saja dari wajahnya. Yesung salah tingkah. Dia melangkah mundur untuk menjaga jarak dari Ryewook. Ryewook hampir saja tersungkur gara-gara itu. "Ehm...ayo masuk ke kelas. Sebentar lagi bel masuk", ucap Yesung mengalihkan pembicaraan. Dia langsung saja melangkah meninggalkan Ryewook yang masih bingung dengan sikapnya.
###
-Yesung POV-
Akhirnya setelah semalaman aku tak bisa tidur karna mengkhawatirkannya, dia muncul juga. Aku sudah siap menyambutnya dengan senyum terbaikku. Namun, kulihat dia berjalan lemas dan tak bersemangat. Kurasa benar-benar terjadi sesuatu kemarin. Banyak hal yang ingin kutanyakan padanya. Tentang janjinya untuk menemuiku di rumah, tentang HP-nya yang tak bisa kuhubungi, tentang keadaannya yang membuatku cemas semalaman. Ketika jarak kami semakin dekat, kulihat dia tersenyum dipaksakan. Aku tak suka melihat itu. dan saat dia telah di hadapanku, kutatap wajahnya yang kini menunduk.
"Wae gurae? Gwaenchana?", tanyaku dengan lembut. Kulihat dia melangkahkan kakinya lebih dekat denganku. Kemudian tiba-tiba dia menempelkan kepalanya yang masih menunduk, ke dadaku. Dihembuskannya nafas kuat-kuat membuat darahku berdesir.
Tubuhku membatu seketika. Kutahan nafasku dan kugigit bibir bawahku. Aku berusaha mencari cara agar dia tak mendengar detak jantungku yang hampir saja meledak.
"Yesung-ah...eottoke?" tanya Ryewook memecahkan pikiranku.
"Mwo?" ucapku tak mengerti. Seketika Ryewook mendongakkan kepalanya menatapku dari bawah. Kami begitu dekat. Kurasa wajahku memerah. Kualihkan pandanganku dari wajah Ryewook yang kini hanya berjarak beberapa cm saja dari wajahku. Kemudian aku melangkah mundur untuk menjaga jarak dari Ryewook. Ryewook hampir saja tersungkur gara-gara itu. "Ehm...ayo masuk ke kelas. Sebentar lagi bel masuk", ucapku yang berusaha mengalihkan pembicaraan. Setelah itu aku melangkah menuju kelas untuk menghindari tatapan curiganya padaku.
"Yesung-ah...aku kan belum selesai cerita! Yesung-ah pabo!" kudengar dia berteriak di belakang. Beberapa anak menoleh ke arahku maupun ke arahnya. Aku makin mempercepat langkahku. Berharap dia tak mengejarku. "Ya, aku memang pabo!" umpatku dalam hati.
###
-Heechul POV-
Hari ini aku datang lebih pagi dari biasanya. Aku tak bisa tidur semalam. Aku hanya menangis dan menangis sampai mataku bengkak. Usahaku memakai kacamata untuk menutupi mata ini tak berhasil. Teukie yang jahil itu berhasil merampas kacamataku dan menemukan benjolan besar yang kini tengah dia tertawakan.
"Ya! Wae gurae?" tanyanya sambil tertawa. Tak seperti Teukie yang menjengkelkan, Minnie lebih bersimpati padaku. Dipegangnya pundakku sambil menungguku bercerita. Tadinya aku berniat menceritakan pada mereka tentang kejadian kemarin. Belum sempat aku bercerita kulihat Yesung masuk kelas dengan wajah merah yang aku tak peduli apa penyebabnya. Selang beberapa menit, dia masuk. Dia. Orang yang telah membuat hidupku berantakkan hanya dalam semalam. Orang yang tak pernah ingin kukenang namanya di sisa hidupku. Dia, pengkhianat itu!
Kutatap wajahnya. Kurampas kembali kacamataku dari Teukie. Aku tak ingin dia melihat mataku yang sejak kemarin tak berhenti mengeluarkan air mata. Dia melangkah takut-takut ke arah kami. Setelah berada di hadapku, dia tak bisa berbicara apa pun. Hanya diam sambil menatapku dengan wajah sok polosnya yang dibuat-buat itu. Sepertinya Teukie dan Minnie menangkap gelagat aneh dari kami.
"Ya! Wae gurae? Apa kalian bertengkar?" tanya Teukie tepat sasaran. Dia tersentak, namun tetap tak menjawab. Aku sendiri tak menjawab, aku sengaja menunggu dialah yang akan menjelaskan semuanya. Aku mau tau, sejauh mana dia memiliki keberanian untuk itu. Atau dia mau menjadi pengecut yang bersembunyi di balik wajah polosnya?
Sayangnya bel masuk berbunyi tidak pada waktunya. Semua anak bergegas duduk di tempat duduk mereka masing-masing. Seperti biasanya dia duduk bersama Minnie di belakangku. Sedangkan Teukie dan Minnie masih menatap kami penuh tanda tanya.
###
-Author POV-
Bel istirahat akhirnya berbunyi. Keempat yoeja itu telah berkumpul di balkon lantai 3 sekolah. Mereka masih saling diam. Teukie yang tak tahan akhirnya membuka suara,
"Ya! Ada apa sebenarnya? Jangan membuatku bingung!" masih tak ada jawaban dari Wookie maupun Chullie.
"Baiklah, kalau kalian tak mau bicara, aku akan marah pada kalian. Aku tak akan mau bicara lagi dengan kalian", gertak Teukie yang akhirnya mendapat respon dari Chullie.
"Sebenarnya aku ingin sekali menjelaskannya. Namun, kurasa ada yang lebih berhak untuk melakukannya", ucap Chullie sambil menatap sinis pada Wookie.
Mendengar ucapan Chullie yang kasar, Wookie pun menangis. Minnie secara naluriah memeluk sahabatnya itu. Minnie yang tak banyak bicara berusaha menenangkan Wookie. Namun, hal tersebut justru membuat Chullie makin gerah.
"Ya! Hentikan sandiwaramu itu! Apa kau sedang berusaha mencari simpati?" bentak Chullie membuat Wookie makin terisak.
"Chullie-ah! Wae gurae? Kenapa kau bicara sekasar itu pada Wookie? Memang apa yang telah dia perbuat hingga membuatmu begitu marah?" bentak Teukie tak kalah hebat. Dia tau Chullie, sahabatnya, takkan semarah itu jika bukan karena hal besar telah terjadi.
"Benarkah harus aku yang menjelaskan? Benarkah?" tanya Chullie yang tiba-tiba ikut terisak. Kini Teukie dan Minnie hanya bisa tertegun melihat sikap kedua sahabatnya yang membingungkan itu. Mereka tak tau harus berbuat apa. "Ok, kau yang minta! Teukie, Minnie, apa kalian tau apa yang telah dia perbuat?" jawab Chullie pada akhirnya sambil menunjuk ke arah Wookie.
"Ne~" ucap Teukie.
"Dia...dia...", Chullie berhenti bicara. Dia kembali terisak. "Aish...bahkan aku jijik menyebut namanya" lanjut Chullie. Teukie dan Minnie masih menunggu. Sedang Wookie makin deras mengucurkan air mata. "Dia adalah pengkhianat!" ucap Chullie akhirnya. Teukie dan Minnie terkejut bukan main. Tak percaya bahwa satu sahabatnya bisa mengatakan hal sekejam itu pada sahabatnya yang lain. Wookie memeluk erat Minnie yang kini tengah menyatukan pikiran-pikirannya yang terpecah. Chullie masih terisak dan nafasnya mulai memburu.
"Chullie-ah, apa kau sadar dengan apa yang kau katakan?" bentak Teukie untuk yang kesekian kali.
"Wae? Wae? Apa kalian tak percaya bahwa yoeja berwajah malaikat ini bisa berbuat hal semacam itu? Kalian pikir aku percaya? Hingga sekarang aku masih berusaha meyakinkan diriku sendiri. Tapi masalahnya aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Dan aku mendengar dengan telingaku sendiri" suara Chullie mulai parau.
"Memang apa yang kau lihat? Apa yang kau dengar?" tanya Teukie yang kini mulai memerah matanya. Hatinya perih melihat kedua sahabatnya seperti ini.
"Aku melihat dia berpelukan dengan Hankyung oppa, dan aku mendengar Hankyung oppa mengatakan cinta padanya!" jerit Chullie disusul oleh Wookie,
"Anio...anio...! Keadaannya tidak seperti itu."
"Lalu seperti apa? Katakan seperti apa? Bisa kau jelaskan seperti apa?" Chullie mulai hilang kendali. Diraihnya tubuh Wookie dan diguncang-guncangkan. Minnie yang tanggap berusaha melerai mereka. Sedangkan Teukie masih membatu tak percaya dengan semua yang dia dengar. Chullie menyerah. Dia jatuh bersimpuh masih terisak. Wookie melepaskan tangan Minnie dan berlari entah ke mana. Minnie yang bingung harus berbuat apa, akhirnya memutuskan untuk mengejar Wookie.
###
To be continue
