Waaaa! Ini dia chapter terakhir dari "I hate you, my private teacher"!
Uuuu... kenrai sempat down ketika membaca review dari para pembaca. Tapi,beberapa hari sebelum kenrai posting fic ini,temen kenrai bilang," kritik itu bagus,loh. lagian, mereka bukan nyuruh kamu berhenti! Ceritamu dibaca publik, jadi jangan putus asa!". Jujur, kenrai terharu dan jadi semangat lagi setelah itu. terima kasih sekali, "A"(inisialnya A).
Kenrai sadar sekali, kalau fic ini berisi sejibun kesalahan dan kenrai akan mengolah kesalahan itu menjadi pupuk buat fic-fic selanjutnya kenrai (alah, sok pinter!).
Yup, trims untuk kalian yang sudah membaca fic ini dari chapter 1- 4 dan bahkan memberi masukan untuk kenrai. Tanpa kalian, kenrai mana bisa menulis dengan lebih baik lagi. Juga untuk temen-temen kenrai yang tidak bisa disebutkan namanya di sini. Pokoknya, untuk semuaaaanya! Origatou gozaimasu! Sebelum lupa, kenrai berjanji akan menghubungi temen-temen yang me-review fic ini melalui PM. Supaya lebih bisa akrab~~tolong dibalas,ya~~
Ok, dari pada membaca tulisan tak bermakna diatas,langsung saja, let's start!
Disclaimer: naruto adalah milik masashi kishimoto yang saya hormati.
Warning!:oc, ooc,typo,alur agak cepat,gaje. Seiapkan obat P3K untuk jaga-jaga. Kalau miasalnya tiba-tiba migren,diare,patah tulang(?) saat membaca fic ini.
Dont like dont read!
"Namaku Kakeru. Apa kau ada urusan dengan Kushina-chan?Ah,dia pasti membencimu jika tahu kau membawa setumpuk buku tebal itu. " jawabnya. Mataku terbelalak. Jadi dia kakeru, cowok yang namanya disebut kuhina saat tidur?. Aku akui kalau dia terlihat jantan dengan tatapannya. Tapi, aku tidak suka tatapannya itu. Cowok seperti itu tIdak pantas untuk masuk dalam mimpi kushina. "Bukan urusanmu.", Kataku. Aku mengertakakan gigiku. Dia berjalan mendekatiku. Dia mengeluarkan sesuatu dari kantongnya.
.
.
.
.
Chapter 4, finally?
.
.
.
.
"Ah,aku lupa...kau guru privat Kushina kan? Minato Namikaze. Ini kartu namaku." Tawarnya. Aku mengerutkan keningku dan langsung menepis tangannya.
"Aku tidak butuh apapun darimu!" Bentakku lalu dengan hentakkan kaki yang keras,aku keluar dari perpustakaan itu dan menuruni tangga. Aku akan pulang sekarang. Kepalaku pusing dan aku sangat bad mood. Aku akan bilang ke tuan Uzumaki kalau aku akan mengundurkan diri menjadi guru privat Kushina nanti.
Kushina po'v
"Halo,Mina..." Tutuuutu
Cih, lagi-lagi Hp Minato tidak aktif, padahal sebentar lagi aku akan latihan karate dan hari ini jadwal latihan ditambah sehingga akan bertabrakkan dengan jadwal privat. Aku aharus memberi tahu Minato tentang hal ini. Aku tidak mau dia menunggu dirumahku bersama para maid-maid genit dirumahku itu (aku tahu, waktu aku tinggal Minato sendirian diperpustakaan, ada maid yang menggoda Minato. Dan itu membuatku geram)
Trrrrtrrrtrr. Hpku bergetar. Akupun segera menerima panggilan itu. Aku berharap telepon ini dari Minato. Kuharap
"Halo,Mi..ah,Tou-san. Ada apa? Ya... Eeh! Bukannya dia akan pulang bulan depan? Apa? dia mengambil cuti panjang? Ah. Baik. Dagh.."
Aku menelan ludah. Seseorang yang tidak kusangka akan datang, hari ini datang. Akupun mengutak - atik hpku. Kucari kontak bertuliskan 'Kakeru' disana. Kuharap aku bisa berbicara dengannya sebentar saja.
"Halo. Kakeru? Ya, sekarang ada dimana? " sapaku tepat ketika dia mengangkat teleponku. Aku mulai mondar-mandir, entah kenapa.
"Di rumah..ah,ada seorang pria menunggumu di sini. Apa tidak masalah? "
"Minato? Eh,maksudku pria berambut kuning dengan mata safir dan berperawakan tinggi?"
"Tepat. Kenalanmu?"
"Ya..bisa dibilang seperti itu. Ngomong-ngomong dimana dia sekarang?"
"Pergi. Dia langsung pergi ketika aku menawarkan kartu namaku di perpustakaan. Dia kasar sekali,Kushina~~"
"Ooh..terima kasih,Kakeru. Aku akan ke rumah segera setelah selesai latihan. Daagh.."
Akupun menekan tombol off yang berwarna merah di handphoneku. Aku tidak butuh celotehannya sekarang. Yang pasti, hubunganku dengan guruku itu menjadi semakin kusut . Aku menggaruk kepalaku perlahan sambil menghela nafas.
"Kushina! kau ini, kalau harus menunggumu, kapan kita akan mulai latihannya?" Teriak pelatihku dari kejauhan. Akupun mengangguk mantap dan berlari kearah pelatihku yang sudah berkacak pinggang dari tadi.
"Maaf,Sensai...ayo kita mulai!" Kataku setelah berada di hadapan pelatihku dan memasang kuda-kuda.
" Pemanasan, push-up 50 kali dan back-up 50 kali,seperti biasa.." Perintah pelatihku. Akupun mengangguk dan mulai melakukan pemanasan.
.
.
.
~2 jam kemudian~
"Ah, akhirnya selesai. Sensai, ngomong-ngomong, kapan turnamen karate itu dimulai? " Tanyaku. Sang pelatih yang sudah melatihku sejak berumur 7 tahun itupun mengelus dagunya.
" Lusa. Kau harus bersiap-siap,ok! Kamu tidak mau kalah lagikan?" Pelatihku itu mengacungkan jepolnya sambil tersenyum. Aku tertawa kecil lalu ikut mengacungkan jempolku.
"Tentu! Akan kuhancurkan pemenang tahun lalu! Sensai lihat saja!" Terikku,ikut terbawa suasana.
" Bagus! Itu baru muridku! Sekarang kamu boleh pulang." Kata pelatihku. Akupun menggangguk dan mengambil ransel kecilku lalu berjalan keluar dari ruangan yang luas itu.
'Ah,iya...aku harus segera pulang! Kakeru menungguku dirumah.' Pikirku. Akupun segera mempercepat langkahku. Aku tidak menyangka kalau hari ini Kakeru datang kerumah. Yah,aku juga nggak menyangka kalau Minato akan bertemu Kakeru hari ini. Benar-benar di luar dugaan. Aku tidak yakin kalau besok aku bisa berbicara dengan Minato. Padahal, ada beberapa hal yang ingin kusampaikan padanya. Bagaimana ini?
Trrrtrrr...hpku bergetar dan itu secara otomatis menghentikan langkahku .
" E-mail?" Gumamku lalu segera membaca e-mail itu. e-mail yang dikirim dari Minato itu membuat aku terkejut.
From: Minato
To: Kushina
Aku berhenti jadi guru privat. Maaf tiba-tiba. Lagipula, mulai lusa aku sibuk.
Aku menatap layar hp ku. Apa dia marah karena tadi pagi aku membentaknya?. Apa yang harus aku lakukan?
Aku kembali melangkah. Kali ini dengan tatapan sayu. Kepalaku pusing. Aku ingin segera pulang ke rumah. Dan memukuli Kakeru dengan guling.
.
.
"Aku pulang." Kataku setelah membuka pintu dan memasuki rumahku yang luas ini. Tou-san memang sedang berada di filipina untuk menemui klien. Tapi, hari ini aku tidak sendiri. Kakeru datang menemuiku. Parahnya,dengan telanjang dada. Uukh...
"Kushina-chan~~apa kabar!" Katanya lalu memelukku.
" Jadi begini caranya kamu menyambut seorang gadis? Setidaknya...PAKAI BAJUMU!" Teriakku lalu memukul perutnya sekuat tenaga hingga pria separuh baya itu jatuh terpelanting. Para maidpun langsung berdatangan untuk membantu Kakeru berdiri. Dasar tidak tau malu.
"Aduh... kushina tetap perkasa seperti dulu,ya.." katanya setelah berhasil bangkit sambil memegangi perutnya.
"Perkasa? Apa maksudmu?" Tanyaku. Kakeru menggeleng lalu mundur beberapa langkah. Aku mendengus lalu berjalan santai menuju kamarku.
" Jangan ge-er,ku mau istirahat dulu. Dan...JANGAN GANGGU!" Ancamku tanpa menoleh ke arah Kakeru. Aku segera memasuki kamarku yang tidak terlalu luas ini dan membanting tubuhku dikasur. Kuraih hpku yang masih berada disakuku. Cukup lama memang aku memandangi layar hitam pada hpku itu. aku tidak menyangka kalau Minato akan menyerah mengajariku. Setahuku, dia orang yang tidak pantang menyerah. Kalau begini kenapa tidak dari saat-saat pertama saja menyerah. Kalau begini aku akan menjadi sakit hati. Dasar Minato sialan!.
Akupun menghela nafas untuk kesekian kalinya. Kepalaku pusing. Mungkin lebih baik aku tidur sebentar. Kucoba memejamkan mataku ,tapi tak bisa. Jadi ini yang namanya sakit hati?. Sebelum ini aku tidak pernah jatuh cinta dan tak pernah sakit hati. Dimanapun,kapanpun selalu terbayang wajahnya. Cih!
"Dasar SIALAN!" Teriakku begitu saja. Aku tidak bisa mengontrol diriku lagi. Andai ada Minato didepanku, akan kupukuli dia sampai aku pingsan!. Aku tidak bisa tidur,aku jadi aneh, semua karena dia!.
"Ada apa kushina? kenapa teriak-teriak?" Tanya kakeru dengan wajah polosnya dari balik pintu. Aku menggertakkan gigiku. Dan, tanpa basa-basi, aku melempar guling sekuat tenaga kearah pintu(atau lebih tepatnya, ke arah kakeru).
"Bukan urasanmu,baka!" Teriakku lalu menarik selimut sampai menutupi kepalaku. Samar-samar aku mendengar suara hentakan kaki yang lembut. Tak salah lagi, itu pasti Kakeru. Cih!.
"Kau bisa ceritakan semuanya padaku,Kushina-chan. Seperti dulu waktu Kaa-san masih bersama kita. Lagipula, kamu'kan adikku. " Tawar Kakeru. Aku terdiam sejenak. Benar, setelah Kaa-san pergi untuk selamanya, kami menjadi semakin jauh dan sibuk dengan acaranya masing-masing. Harusnya, aku bisa memanfaatkan waktu ini untuk lebih dekat dengan Kakeru. Aku merasakan tangan Kakeru mengelus kepalaku dengan lembut. Akupun menoleh kearahnya. Memandangnya dengan sayu.
"Ah, aku punya ide!bagaimana kalau kita berdua pergi ketaman bermain besok? Pasti seru~~!" Tawarnya lagi. Aku tersenyum. Sejak 3 tahun yang lalu,tak ada yang mengajakku ke taman bermain.
"Ok! Terima kasih,kakeru~~~~kau memang yang paling baik~~!" Teriakku lalu merangkul Kakeru. Ah, aku tidak sabar menunggu besok datang. Aku dan Kakeru, berdua saja ke taman bermain.
"Ah,ayo ikut aku, kita makan malam di restouran ramen yang 'itu'!" Pintanya lalu menarik lenganku dengan paksa.
"Tapi aku belum ganti baju,Kakeru!" teriakku lalu membanting pria itu kebelakang. Aku mendengus dan mengacungkan jari telunjukku kearah pintu. Kakerupun berlari tergepoh-gepoh keluar dar kamarku.
"Ada-ada saja..." Helaku. Sebenarnya,sejak Kaa-san meninggal, aku memutuskan tidak memanggil Kakeru dengan sebutan Nii-san. Itu karena Kakeru ingin aku memanggilnya dengan nama panggilannya. Aku yakin, akan banyak pihak yang salah menilai bahwa aku dan Kakeru adalah sepasang kekasih. Tapi apa boleh buat, dia memohon dengan sangat. Aku tidak sadar kalau itu akan membuat Minato tertipu.
.
.
.
.
"Ada apa kushina? tumben kau tersenyum saat berangkat kesekolah!" Tanya Mikoto saat sedang berjalan menuju sekolah. Hari itu aku memang sedang senang,mengingat sore nanti aku akan ke taman bersama Kakeru.
"Ah,kau tak akan mengerti,mikoto~~tak akan mengerti~~" Jawabku sambil mengelus dagu.
"Apa minato mengajakmu kencan di akhir minggu?" Tebak Mikoto sambil tersenyum licik. Aku berhenti dan terdiam, mencerna satu persatu ucapannya tadi.
"Eh? Apa aku salah,ya?"
"Sudah,ayo cepat! Bentar lagi kita telat,tauk!"
"Ok,ok.."
Hari ini, aku baru sadar kalau aku punya sedikit urusan dengan Minato. Makanya aku ingin lebih cepat datang kesekolah. Sesampainya disekolah, aku segera mencari Minato di seluruh bagian kelas. Tapi, dia tidak terlihat dimanapun.
"Mencari Minato,kushina?" Tanya Mikoto. Akupun terkejut. Aku bahkan tak sadar kalau Mikoto ada didekatku. Aku menatap matanya sebentar lalu memalingkan wajahku. Cih,Mikoto memang tidak bisa dibohongi!uuurgh!
"Bu...bukan urusanmu!" Teriakku.
" Bukankah kita berpapasan dengannya tadi di gerbang? Mungkin baru sampai diruang loker. Kamu juga,sih, pakai lari-lari segala. Lain kali santai saj.."
"Ah! Benar! Aku bahkan belum mengambil buku pelajaranku di loker!" Potongku. Aku memang belum mengambil buku pelajaranku. Aku juga ingin bertemu minato segera berlari menuju ruang loker yang nyatanya, cukup jauh dari kelasku. Namun, begitu sampai di ruang loker, minato tetap tidak terlihat. Aku menghela nafas dan mengambil kunci lokerku dari saku rok. Setelah berhasil membuka loker, aku menukan secarik kertas disana.
"Dari Minato,hari ini temui aku jam 4 sore di belakang sekolah. Mmm..tapi'kan jam 4 sore aku dan Kakeru akan...ketaman bermain..bagaimana ini?" Lirihku pelan. Belpun berbunyi. Aku berdecih dan berlari menuju kelas lagi. Kebimbangan mulai menggerogoti hatiku.
.
.
Sepanjang pelajaran pikiranku penuh dengan pertanyaan yang tergiang-iang di kepalku," Keluarga atau Mianto? Keluarga atau Minato? keluarga atau Minato?" Pikirku. Namun tiba-tiba, seseorang menepuk pundakku. Akupun langsung menoleh dan mendapatkan Mikoto yang masih meminum susu kotaknya. Oh,iya, sekarang sedang istirahat. Aku bahkan tidak sadar.
"Ada apa kushina?" Tanya Mikoto setelah membuang susu kotaknya. Aku hanya menggeleng kecil lalu tersenyum. "Aku punya pertanyaan untukmu,Mikoto! Kalau disuruh memilih, kamu pilih keluarga atau Fuga-fuga?" Tanyaku balik.
"Em? maksudmu Fugaku? hm...aku lebih pilih keluarga." Jawabnya. Aku memiringkan kepalaku.
"Kenapa?" Tanyaku.
"Karena, keluargaku jarang sekali berkumpul. Kau tahukan, keluargaku bagaimana? Lebih baik aku berkumpul bersama dengan keluarga. Lagipula, Fugaku pasti mengerti,kok. Memangnya kenapa,Kushina?" Jawab Mikoto. Aku menggeleng. Aku tidak ingin membuat Mikoto tambah khawatir. Akupun tersenyum. Mikoto adalah sahabatku,dan aku percaya padanya. Ya, sudah kuputuskan! Jadi, nanti, aku akan pergi bersama Kakeru ke taman bermain, setelah itu baru bertemu Minato disekolah.
"Kushina,tadi pagi kau mencari Minato'kan? Itu dia orangnya!" kata Mikoto sambil menunjuk Minato yang berdiri dipojok kantin. Aku mengangguk dan berjalan santai ke arah Minato.
"Minato..." Sapaku. Minato menoleh kearahku dan menatapku tajam. Jujur,ini baru pertama kalinya aku ditatap Minato dengan tatapan tajam.
"Ada banyak hal yang ingin kusampaikan. Hal yang ingin kusampaikan sebulan lalu saat pertama kali bertemu denganmu." Katanya pelan. Tanpa basa-basi lagi Minato berbalik dan pergi meninggalkanku dengan wajah meronaku. Tunggu dulu, apa maksudnya!
.
.
.
"Aku pulang..." Sapaku seperti biasa saat melewati pintu rumah. Kali ini kakeru muncul secara tiba-tiba dari balik pintu.
"Jadi? Tidak ada les karate?" Tanyanya. Dia memutar-mutar kunci mobil ditangannya. Aku yakin dia juga tidak sabar untuk ke taman bermain.
"Latihan karate,bego! Yah, kata sensai,sih..aku harus istirahat buat turnamen besok. Jadi,hari ini libur!" Jawabku dengan riang setelah memberinya sebuah pukulan diperut, biasalah..
"Uugh...baik, kamu ganti baju dan bersiap-siap. Aku akan menyiapkan mobil. Cepet,ya~~" Katanya lalu melambai kecil kearahku. Aku mengangguk. Sebelum memasuki kamarku, aku melihat jam dinding sekilas. Memastikan berapa waktu yang kuperlukan untuk bermain di taman, jadi tidak membuat minato terlalu lama menunggu.
" Jam setengah 3? Aku akan sempatkan kesekolah. Jadi,tunggu aku minato!" Kataku. Yah, akan ku usahakan secepat mungkin kesekolah. Aku berhasil dibuatnya mati penasaran tadi siang dikantin. Pokoknya, aku akan datang kesekolah!
.
.
.
Mianato po'v
Tik...tikk...tik...
Untuk kesekian kalinya aku mengangkat lenganku dan melihat jam tangan. Sudah lewat 10 menit dari jam 4. Apa Kushina sudah tidak menganggapku penting lagi? Aku tahu keputusanku untuk tidak menjadi guru privat Kushina sangat mendadak. Tapi, aku tidak sanggup dibenci Kushina lebih lama lagi. Yah, bagaimanapun, aku adalah lelaki normal. Lagipula,aku sudah yakin kalau Kushina sangat ingin bersama Kakeru untuk seterusnya. Kalau sudah begini aku bisa apa?. Kuambil hpku. Tidak ada e-mail ataupun telepon dari Kushina.
"Baik, aku akan tetap menunggu sampai kushina datang!" Kataku. Aku sangat optmis kalau Kushina akan datang. Sampai kapanpun akan terus kutunggu.
Trrrtrrrr...ah, hpku begetar. Ternyata ada e-mail datang dari pelatih karateku. Aku membaca e-mail itu berkali-kali. Sebenranya aku cukup terkejut saat membacanya.
" 'Pertandingan pertama kali ini seperti ditakdirkan untuk mengulang final tahun lalu,ya?'. Maksudnya, aku akan bertanding melawan Kushina?" Lirihku. Tanpa sadar aku tersenyum kecut. Benar juga, aku sudah membohongi Kushina selama hampir satu bulan ini. Bahkan, Kushina tidak tahu nama lengkapku sampai sekarang. Tapi sebenarnya, aku selalu memperhatikannya sejak satu tahun yang lalu.
'Sayaka-chan, kamu pasti sedang memperhatikanku dari kejauhhan. Apa nii-san bilang, Kushina itu mirip sekali denganmu. Orangnya polos dan manis.' Pikirku. Ya, kalau diingat-ingat dari awal, memang tekesan biasa-biasa saja. Tapi, begitu kenal sedikit, aku langsung terpesona olehnya. Baru kali ini aku harus susah-susah memperebutkan seorang gadis. Lucu juga..
"Lewat 15 menit. Lebih baik aku tunggu di gerbang saja." Pikirku. Akupun berjalan menuju gerbang yang terhitung jauh(namanya juga dari belakang sekolah). Entah kenapa perasaanku menjadi semakin tidak enak. Begitu sampai gerbang, aku melihat rambut merah kushina dan langsung berlari mendekat. Tapi, begitu dekat, aku melihat seorang pria yang kemarin baru saja kutemui,'kakeru', sedang mencium dahi kushina. Cih,ini dia, aku paling tidak suka melihatnya.
"Kushina..." Lirihku membuat Kushina tersentak dan berbalik .
"Minato...ka...kau bilang ingin bertemu di belakang sekolah..." Jawab Kushina terbata-bata.
"Ah, kamu yang kemarin,Minato namikaze. Penerus Namikaze Group Company, sang jenius karate. Pemenang karete selama 5 tahun berturut-turut. Kau tahu,Kushina sangat ingin mengalahkanmu." Jelas Kakeru. Aku menelan ludah. Apa yang ingin kukatakan kepada Kushina telah direbut oleh pria itu.
"Apa benar itu minato?" Tanya Kushina. Sepertinya dia sedikit terkejut mendengar identitasku itu. Tapi, apa boleh buat,itu semua benar dan aku hanya bisa mengangguk kecil.
"Jadi selama ini kamu sudah..." Lirih Kushina. Matanya sayu. Aku menggeleng kecil. Bukan ini akhir yang kuinginkan.
"Kushina-chan! Sudahlah jangan menangis. Ini bukan salah Namikaze-san! Pasti ada makna dibalik semua ini, Kushina-chan.." Rayu Kakeru lalu memeluk Kushina yang mulai menangis. Aku berdecih. Aku sudah tidak tahan melihat ini semua.
"Kushina! aku...selalu memperhatikanku sejak tahun lalu. Aku sampai kapanpun akan selalu mencintaimu. Gadis unik seprti dirimu tidak ingin aku lepaskan. Tapi, berbahagialah bersama Kakeru,sampai jumpa." Kataku lalu berlari menjauhi mereka berdua. Hatiku sakit memang, tapi untuk kali ini aku sudah putus asa. Setidaknya, aku sudah menyatakan apa yang ingin kunyatakan. Sedikit lega. Sedikit.
.
.
.
"Minato, aku akan duduk dengan mikoto-chan. Tidak apa-apa'kan?" Tanya Fugaku saat kami sedang berjalan menuju kelas. Aku tersenyum. Sedikit iri melihat Fugaku dan Mikoto.
"Em...tentu." Jawabku. Rasanya, kalau mengingat kejadian kemarin, hatiku sakit sekali. Tapi aku sudah memutuskan untuk melupakan Kushina dari hidupku.
Akupun memasuki kelas. Mm...Hari ini, Kushina tidak masuk sekolah. Ah, apa urusanku. Aku tidak ada hubungannya dengan Kushina sekarang. Tapi, memang, tanpa Kushina, sekolah terasa membosankan.
" Minato boleh aku duduk di sini?" Tanya cewek yang sering bersama dengan Kushina, Sasame. Aku mengangguk. Gadis itupun duduk disampingku. Jujur saja, aku berharap kalau Kushina yang duduk disebelahku. Bel berbunyi dan tak lama kemudian Tsunade-sensai memasuki ruang kelasku ini untuk kesekian kalinya. Aku menghela nafas dan mengeluarkan buku biologi dari dalam tasku.
"Sebentar lagi, akan memasuki liburan musim panas. Tugas kali ini adalah penelitian bebas. 1 kelompok terdiri atas 2 orang. Ah, Kushina tidak masuk,ya?" Kata Tsunade-sensai. Semua langsung mengangguk mantap. Tapi, sesaat setelah itu, pintu terbuka dengan kasarnya dan Kushina muncul dari luar.
" Maaf telat,Tsunade-sensai. Saya mengantar nii-san ke bandara subuh tadi." Kata Kushina lalu membungkuk 90 derajat di hadapan Tsunade sensai.
"Iya,terserahlah..." Hela Tsunade-sensai diikuti hembusan nafas panjang. Kushina terlihat memandangi seluruh kelas. Aku yakin dia sadar kalau dia tidak kebagian tempat duduk. Diapun berjalan lesu ke bangku pojok kelas. Akupun segera fokus ke pelajaran. Aku tidak peduli lagi dengan Kushina. Tapi, aku tidak bisa. Sesekali aku menoleh kearah Kushina yang tampak lesu. Aku khawatir.
"Em...Minato...kalau tidak salah dengar,hari ini kamu akan ikut turnamen karate'kan? Siapa lawanmu?" tanya Sasame ditengah-tengah pelajaran. Aku terkejut.
"Em...tidak ingat." Bohongku. Aku tahu kalau hari ini yang menjadi lawanku adalah Kushina dan aku belum siap secar mental untuk melawannya. Apa yang harus kulakukan?.
.
.
.
" Ada apa,Minato? Sakit?" Tanya pelatihku. Aku tersentak. Aku baru sadar kalau sedari tadi pikiranku kosong. Akupun menggelengkan kepalaku.
" Tidak, Sensai. Hanya saja ada sedikit masalah." Jawabku. Aku tahu, sebentar lagi tibalah giliran ku bertanding. ' Kami-sama, aku belum siap! Kumohon, tundalah sedikit lagi!' Jeritku dalam hati. Tapi, sepertinya, Kami-sama sedang sibuk sekarang dan tidak mendngarkan jeritan hatiku. Karena, barusan aku dipanggil pelatihku untuk memasuki arena pertandingan. Aku menelan ludah. akupun memasuki arena yang cukup luas itu. Untuk petama kalinya jantungku berdetak dengan kencang saat bertanding seperti ini.
Kushina sudah menungguku ditengah arena. Aku tahu, aku sangat bodoh, mengikuti turnamen campuran seperti ini! Harusnya aku pilih yang hanya cowok-cowok perkasa yang menjadi lawanku! Uurgh!.
" Selamat pagi, Namikaze-san." Sapa Kushina setelah membungkuk dihandapanku. Apa dia sudah gila? Barusan dia memanggilku 'Namikaze-san'!
" Aku akan membalas kekalahanku tahun lalu dan beberapa hal yang akhir-akhir ini terjadi." Katanya sebelum mengambil kuda-kuda. Aku hanya bisa terdiam dan mengambil kuda-kuda. Wasitpun meniupkan peluitnya.
Kushina tanpa ragu-ragu menyerangku dengan berbagai teknik tingkat tinggi. Aku memang sedikit kewalahan. Tapi, aku mendengar kushina berbisik disetiap serangannya," cih, kamu ini memang menyusahkan,baka!". Aku terdiam. Sambil menahan serangannya, aku tahu kalau Kushina sengaja mengurangi tenaganya sedikit demi sedikt. Apa yang dipirkannya?. Ada yang janggal dari serangan kushina. Tapi apa maksudnya?.
Dan benar saja, tiba-tiba kushina berhenti dan mengangkat tangannya.
" Wasit, aku menyerah. Pria ini keras kepala sekali." Katanya. Aku melongo. Dan aku yakin, semua orang di sini juga melongo. Seorang gadis bernama Kushina mengalah?
"Hey, aku belum menyerah." Kataku.
"Diam,kau. Aku sudah lelah. Setelah ini kamu harus mentraktirku makan,huh!" Jawabnya sewot lalu keluar arena. Aku hanya bisa mengangkat bahu dan mengikutinya dari belakang. Sementara wasit ,pelatih dan penonton tetap melongo.
Aku mengikuti Kushina sampai keluar aula serba guna itu. Begitu sampai keluar, Kushina berbalik dan entah kenapa mulai menangis. Dia menarik bajuku. Menatapku dengan pandangan campur aduk.
" Minato! Kamu tahu apa saja yang telah kau lakukan padaku selama ini!" Teriaknya. Aku terkejut. Menurut ingatanku, aku tidak pernah melakukan kesalahn selama menjadi guru privatnya.
" Aku tidak bisa tidur, wajahku memerah, kepalaku pusing, hatiku sakit dan masih banyak lagi! Waktu aku mau tidur, wajah sialanmu muncul dipikiranku dan membuat wajahku memerah! Aku pusing karena bingung kanapa jadi begini!. Walaupun kamu Cuma guru privatku, aku merasa perasaa ini tidak benar. Aku menahannya. Dan itu menyusahkan! Lalu tiba-tiba kau menyerahkanku kepada kakakku sendiri! Aku tidak mengerti!" celotehnya panjang lebar. Aku terdiam. Wajah Kushina tampak semerah rambutnya. Tunggu dulu, tadi Kushina bilang,'menyerahanku kepada kakakku sendiri'? maksudnya Kakeru? Berarti selama ini aku salah.
" Jadi, maksudmu...Kakeru itu adalah kakakmu?" Tanyaku ragu-ragu. Kushina mengangguk dan menatap mata safirku.
" Nama aslinya Kakegawa Uzumaki." Jelasnya. Aku kembali terdiam. Tanpa sadar wajahkupun memanas.
" Kenapa tidak bilang dari dulu?" Tanyaku lalu mendekati Kushina.
" Minato sendiri yang salah! Aku mencarimu kemarin tapi kamu malah mengajakku bertemu dibelakang sekolah dan saat itu aku ada janji dangan Kakeru untuk bermain ketaman bermain!" bantah Kushina.
"Kalau begitu kenapa tadi kamu mengalah padaku?" Tanyaku lagi. Kushina menunduk. Aku tahu ia ingin menangis. Akupun menarik tangan kushina.
"Ok, kita bicarakan di belakang saja." Kataku sambil berjalan.
.
.
"Ini minum dulu." Kataku sambil menawarkan minuman kaleng kepada Kushina. Dia mengangguk dan menerima minuman kaleng itu.
"Jadi?" Tanyaku.
"Aku...aku...aku tidak tahu mau ngomong apa. Pokoknya kamu harus terus bersamaku!" katanya lalu mulai meminum minuman tadi. aku mengangkat alis.
" Maksudku, kenapa kamu mengalah tadi? kamu membenciku,kan?" Tanyaku lagi. Kushina tersentak .
" Aku tidak membenci minato sedikitpun!" Jawabnya lalu melempar minuman keleng itu.
"Oh'ya? Bukannya kamu benci guru privat?" Tanyaku lagi. Aku ingin sebuah kepastian.
"...Tentu saja aku benci guru privat! Mereka cerewet dan sok pintar,huh!" Jawabnya. Aku tersenyum kecut. Benar dugaanku.
" Tapi...tapi, aku tidak bisa membenci Minato. Baik sebagai guru privat ataupun lawan karate. Aku bingung saat harus berhadapan di depanmu,makanya aku mengalah." Jelasnya. Aku belum puas mendengar jawabannya itu. Aku mendekati kushina.
" Dengar, aku tidak akn mengulangi ini sekli lagi..." Kataku. Aku mendekatkan bibirku kearah telinga kushina dan membisikkan sesuatu. Kushina tampak kembali memerah.
" Aku...aku juga!" Teriaknya. Aku tersenyum dan memeluknya. Aku mengelus kepalanya dengan lembut. Aku lega. Sangat lega. Terima kasih, Kami-sama.
" Aku...aku mencintaimu, minato." Lirih Kushina dalam pelukkanku. Cih, aku sudah tdak tahan lagi. Aku menyentuh pipinya dan menempelkan bibirku dengan bibirnya.
"Nnng..." Lirih Kushina. Tapi aku tidak peduli lagi. Aku ingin Kushina menjadi milikku selamanya.
.
.
.
End of minato po'v
Normal po'v
Seorang pemuda berambut kuning dengan jaket birunya berdiri di depan rumah besar milik keluarga Uzumaki. Tak lama kemudian pintupun terbuka dan tanpa disangka, seorang pria paruh baya muncul dari balik pintu.
" Wah, Namikaze-san! Ada apa ? tidak liburan ke Hawaii?" Tanya pria paruh baya itu kepada Minato Namikaze, pemuada dengan rambut kuning tadi.
" Berisik!. Ah, Kakegawa, Kushina-chan dimana?" Tanya pemuda itu.
" A! Ada seoarng pemuda mencari adikku yang manis dan polos itu! Tidak ku izinkan kamu melangkahi pintu masuk ini! Tidak akan kubiarkan kau menodai adikku tersay..uuuugh!". Seorang gadis berambut merah tiba-tiba muncul setelah melayangkan sebuah pukulan kepada kakaknya itu.
" Sudah,Kakeru! Jangan ganggu Minato-kun! Sana pergi,pergi!" kata gadis itu.
" Apa! Lihat, adikku jadi terpengaruh pemuda sepertimu! Kamu harus tanggung jawab!" jawab Kakeru histeris. Minato hanya bisa menggeleng. Dia yakin dia tidak mempengaruhi kushina selama ini.
"Sudah,Minato-kun! Biarkan saja dia mengomel sendiri disini! Ayo masuk!" Gadis itu menarik tangan Minato dan membawanya masuk ke rumah itu.
"Mm... Kushina, apa aku boleh menciummu lagi?" Tanya pemuda itu pelan. Sang gadis terdiam dan menatap mata pemuda itu dengan wajah merona.
"Tidaak!" Jawab Kushina tegas.
"Ayo'lah, Kushina.."
" Tidak, tidak, tidaaaaaaaak!" jawab gadis itu lagi. Sang pemuad tampak tidak kehabisan akal. Setelah memasuku perpustakaan , pemuda itu memeluk gadis itu dan mencium keningnya.
" Sudah,Minato! Jangan dilanjutkan!" Teriak Kushina sambil menutup mulutnya untuk jaga-jaga.
" Hmmph! Wajahmu merah sekali, Kushina-chan. Aku'kan hanya bercanda." Minato lalu mengambil sebuah buku tebal berjudulkan 'Kumpulan Soal-soal Fisika.'.
" Sekarang, ayo kita mulai bejar." Kata Minato lalu mulai membuka buku itu. Kushinapun ternganga.
" A..apa? Buku setebal itu?" Tanya gadis itu. Dia masih belum percaya kalau harus mengerjakan soal dari buku setebal itu. Minato hanya tersenyum dan mengangguk .
" Uuuukh! aku benci guru privaaaat!" Teriak Kushina lagi. Minato menggeleng dan berkata,"tapi kau tidak bisa membenciki'kan?".
~~~Owari~~~~
Uuuukh! Akhirnya owari juga! Bagaimana? Ada perubahan dengan cara menulis kenrai? Tolong kasih tahu kenrai,ya! Biar fic ketiga yang sudah kenrai siapkan nanti akan lebih bisa diterima.
Chapter 4 ini kenrai buat dengan lebih teliti dari chapter-chapter sebelumnya,loh~~(bangga). Oh, iya..terima kasih buat kritikan dari pembaca kenrai memang tidak cocok dengan cerita bersambung. Tapi, kenrai nggak akan jera untuk terus bikin fic lagi. Jadi, sampai bertemu di cerita lainnya. Sampai jumpa~~~
Tapi, kenrai mohon dengan sangat memohon, review,please!
