Dia tidak punya ingatan tentangdad dan mum.

Karenanya, ia lebih menyayangiku dan lebih mendengarkanku daripada siapapun.

Semua itu ia lakukan untuk menuntaskan rasa putus asa dan kesedihannya

saat tiap kali ia menatap lukisan orangtua kami,

dan tidak mengingat satu halpun tentang mereka.

Scorpius Draco Malfoy.


"Kau tidak akan meninggalkanku, 'kan?"


.

.

.

THE OLDER BROTHER

Rozen91

Harry Potter © J. K. Rowling

Mahoushoujo Kazumi Magica - The Innocent Malice © Hiramatsu Masaki & Magica Quartet


[kakak kami, Orpheus Alexandre Malfoy,

[kau adalah...]


.

.

.

Seperti Atropa dan aku, Scorpius mewarisi wajah dad. Namun, Atropa dan Scorpius tidak memiliki satu dua jumput berwarna coklat di rambut mereka sepertiku. Oh, dan perbedaan yang dapat dilihat dari kami berempat adalah cuma aku yang bentuk rambutnya berombak, sementara ketiganya lurus.

Semenjak Scorpius lahir, aku tidak pernah menggendongnya. Mum bilang, aku bisa menggendongnya kalau Score sudah agak lebih besar. Tapi, dad pernah mengajariku cara menggendong Score bayi saat mum tak di rumah. Aku sangat gugup karena jika mum tahu dad pasti akan diomeli dan aku tidak ingin ada di rumah jika hal itu terjadi— dad pasti akan menyeret namaku sebagai alasan. Tapi, aku juga terlalu bersemangat untuk melewatkan kesempatan kali ini.

Aku masih tawa khas-nya yang terdengar begitu imut saat pertama kali aku menggendongnya. Lantas aku dan dad saling bertatapan. Kemudian ikut tertawa.

Gelak tawa yang bergema di kamar biru itu selalu teringat tiap kali aku menggendongnya di punggungku.

Jikapun nantinya kau berubah dan tawamu tidak lagi terdengar menggemaskan, aku akan tetap menyayangimu.

Adik kami tersayang.

xxx

Tidak mudah untuk menebak pandangan bayi. Aku bahkan tidak tahu apa yang Scorpius pikirkan saat ia kududukkan di pangkuanku. Tangannya yang gemuk bergerak-gerak gelisah, tapi tatapan matanya terus menatapku.

Dengan sedih aku bertanya,

"Apa kau sudah menganggapku orang asing sekarang?"

Sering kali hal ini membuatku ketakutan. Memikirkan bahwa Scorpius jauh dari kami dan perlahan melupakan kami. Aunt Lavender menepuk pelan pipiku. "Duh. Apa aku sudah pernah menceritakan bagaimana Scorpius menangis semenjak aku membawanya kemari?" Sudut bibirnya berkedut, "Dia rindu kakak-kakaknya."

(Kalau mengingat-ngingat tentang hari itu lagi, sepertinya aunt Lavender ingin berkata bahwa Score rindu mum. Aunt Lavender sengaja menggantinya dengan 'kakak' agar aku tidak bersedih—karena mum sebenarnya sudah tidak di dunia ini lagi.)

"Apa dia akan mengingatku, auntie? Kami akan jarang bertemu dan Score pasti..."

Aunt Lavender memutari sofa dan duduk di sampingku. "Sepertinya tidak ada masalah." Ia menunjuk Scorpius, "Lihat. Dia menatapmu seolah tahu kau itu siapa."

Kalimat itu langsung menarik senyumdi wajahku. Dan, yah, aunt Lavender berkata benar. Di kunjungan selanjutnya, biarpun Scorpius masih begitu kecil dan hanya melihatku beberapa kali saja, ia terus menjulurkan tangan padaku begitu melihatku masuk ke rumah keluarga Weasley.

Dan karena 2 tahun dirawat oleh uncle Ron dan aunt Lavender, saat aku membawanya pulang, Score terkandang menangis karena merindukan mereka. Oleh karena itu, kini peran kami terbalik. Kali ini paman dan bibi Weasley kami yang berkunjung dan aku menjadi tuan rumah. Waktu itu, aunt Lavender sedang mengandung Primrose, jadi kunjungan tidak bisa sesering sebelumnya. Dan saat Primrose lahir, uncle Ron dan aunt Lavender mulai sibuk dan kunjungan berkurang.

Lama kemudian, saat mereka datang bersama Primrose yang berumur 1 tahun, Scorpius yang empat bulan lagi akan berumur 3 tahun, tidak lagi bersikap sama seperti dulu. Aku sendiri terlalu canggung untuk berkata bahwa sepertinya Scorpius sudah lupa dengan mereka.

"Apa menurutmu Score sudah melupakan kita?"

Ah, well... tipikal uncle Ron untuk bertanya terus-terang seperti itu. Aunt Lavender membenarkan. "Uh-huh. Balita memang begitu."

xxx

"Siapa mereka?"

"Dad dan mum."

"Dimana mereka sekarang."

"Di langit."

"Kenapa mereka tinggal begitu jauh dari kita?"

"Uh...karena..." Elliot tampak berpikir keras. Tidak tahu harus menjawab apa.

Elliot tidak pernah bertanya perihal dad dan mum padaku. Tapi, aunt Pansy pernah mengatakan bahwa uncle Viktor sudah memberitahu kalau orangtua kami sudah meninggal saat Elliot memasuki umur 4 tahun. Uncle Viktor memang tegas seperti bentuk rahangnya.

"Itu semua agar dad dan mum bisa lebih mudah menjaga kita," aku menimpali sembari beranjak dari bingkai pintu, menghampiri mereka berdua yang sedang melihat pigura foto sebatas dada.Aku bisa melihat bagaimana kedua alis Elliot menekuk dalam, seolah mencoba menemukan kelogisan dari jawabanku—seolah-olah jawabannya sendiri memang logis.

Namun, ada perbedaan mencolok antara Scorpius dan dua kakaknya.

Yakni, dengan mudahnya, tanpa bertanya apapun,

ia mengangguk dan menerima jawabanku.

Lalu, Elliot akan berwajah tidak puas. "Kenapa dia langsung menerima jawabanmu, tapi terus bertanya jika aku yang menjawab?"

Aku hanya melempar senyum. Sementara Scorpius menatap Elliot seperti baru saja mendengar pertanyaan paling absurd di dunia ini.

"Tentu saja, karena Orphe yang mengatakannya," selalu begitu jawaban Scorpius.

xxx

Aku sempat ingin mendiskusikan hal ini dengan uncle Harry—karena pengalamannya mengurusi 3 anak, yang salah satunya adalah James. Pastinya uncle Harry bisa membagi beberapa tips dan solusi, bukan?

Namun, acara untuk Luna yang diadakan di Godric's Hollow, mengarahkanku ke solusi yang lebih baik.

"Apa yang terjadi?" tanyaku khawatir, dengan cepat merangkul bahu Scorpius mendekat. Scorpius mendongak, memperlihatkan senyum lebar penuh semangat.

"James mengerjainya." Score menunjuk ke arah anak laki-laki yang menangis—yang sedang berusaha ditenangkan oleh kedua orangtuanya.Tak jauh kulihat James berusaha menahan tawa, dengan wajah iba yang gagal oleh kuluman senyumnya. Sepertinya bukan hanya aku saja yang melihatnya. Uncle Harry baru saja meliriknya tajam.

Karena anak itu membuat keributan dengan tangisannya, orangtuanya yang tampak tak enak, buru-buru pamit. Selanjutnya, James langsung diinterogasi. Atropa terlihat senang saat uncle Harry memarahi James—well, aku tidak tahu kenapa, tapi di antara anak-anak Malfoy, hanya Atropa yang hubungan paling dingin dengan James.

"Jangan marahi James, uncle." Scorpius ikut berbicara tanpa diminta, menarik perhatian semua orang. Aku menatapnya lama, cukup terkejut karena Scorpius tidak pernah bersikap seperti ini. "James memberinya pelajaran karena Canterbury sudah menggangguku." Scorpius melirikku seolah meminta bantuan untuk memihak sahabatku. Aku sebenarnya tidak peduli dengan tatapan memelas James, tapi Scorpius sudah meminta, aku tentu tidak bisa menolak. Aku menghela nafas, mengabaikan air muka cerah James karena tahu bahwa kali ini dia akan selamat lagi—entah untuk ke berapa kalinya.

"Uncle, ini pertama kalinya James melakukannya pada muggle. Lagipula apa yang ia lakukan itu tidak berbahaya. Dan," tambahku, "dia melakukannya untuk alasan yang tepat, bukan untuk bersenang-senang." (seperti yang biasanya ia lakukan.)

Sebenarnya aku ingin menambahkan, 'coba pikir, bagaimana seandainya Atropa atau Elliot yang saat itu ada di sana, bukan James? Entah apa yang akan terjadi. Kemungkinan terburuk adalah kita harus melakukan Jampi Memori pada semua tamu.' Tapi aku berubah pikiran saat menyadari perubahan ekspresi Atropa dan Elliot saat mendengar si 'Canterbury' ini sudah mengganggu Score. Bukan hal yang tepat untuk menaruh perhatian semua orang pada mereka mereka berdua sekarang. Jika nantinya terjadi sesuatu pada Canterbury, maka Atropa dan Elliot yang akan jadi tersangka utama. Dan sebelum itu terjadi, aku harus menenangkan mereka berdua.

Dan mengenai James, well, karena aku sudah turut bicara, uncle Harry melepaskannya dengan peringatan untuk tidak melakukannya lagi. Biarpun James berkata 'ya', kami semua tahu bahwa ia akan melakukannya lagi. Pemandangan ini sudah terlalu familiar bagi kami.

Aku melirik ke bawah, tertegun saat melihat semangat yang menguar dari air muka Scorpius. Ah, ini menarik. Sepertinya ulah James sudah membuat Score tertarik padanya.

xxx

Yang mengikat Elliot padaku adalah rasa percayanya. Maka dia bertanya, dan menerima semua jawabanku. Berbeda dengan Scorpius.

Scorpius selalu mendengarkanku. Apapun yang kuminta untuk ia lakukan, maka ia akan lakukan tanpa bertanya. Seolah-olah maksud dari semua permintaan itu tidaklah penting baginya. Terkadang aku khawatir jika ia hanya melaksanakannya saja tanpa tahu arti di baliknya. Pengalaman adalah pelajaran yang berharga dan aku ingin ia mengambil sisi positif dari kesuksesan ataupun dari kegagalannya. Namun, dia hanya mendengar dan melakukannya. Aku cukup cemas jika memikirkan bahwa ia tidak pernah bertanya apakah hal itu baik atau buruk. Oleh karena itu, aku selalu memberi penjelasan seperlunya kenapa dan untuk apa ia harus melakukannya.

Aku menduga Scorpius melakukannya bukan karena berpikir bahwa semua itu adalah untuk kebaikannya. Tidak juga berpikir bahwa itu adalah perbuatan yang baik.

Namun, karena aku yang mengatakannya—seperti yang selalu ia katakan.

Ini adalah kepolosan yang mengerikan. Karenanya, aku selalu berhati-hati dengan ucapanku dan berusaha membuatnya mengerti tentang apa yang harus dan apa yang dilarang untuk dilakukan. Dan sangat sulit untuk membuatnya memahami hal itu. Scorpius menganggapnya tidak penting dan tidak mengerti kenapa ia harus memerhatikan hal seperti itu. Mengetahui sikap Score yang seperti itu cukup membuatku membeku seolah baru tersiram air dingin.

Atropa berujar dengan nada yang terdengar kalem. "Brother, Score tidak mendengarkan orang lain selain dirimu. Dia tidak peduli apakah hal itu baik atau buruk. Dan aku rasa dia mempelajari konsep itu dengan cara yang... tidak lazim."

Aku hanya meliriknya. Sudah lama kutahu alasannya dan tetap diam, tapi sekarang aku ingin dengar pendapat Atropa. "Apa maksudmu?"

"Mungkin, dia tahu itu larangan jika kau menegurnya. Tapi, dia terus mengulang, sedikit demi sedikit mengurangi tahap, seperti ingin melihat sampai batas mana kau tidak akan menegurnya. Lalu jika sampai pada tahap dimana kau tidak menegurnya lagi, berarti perbuatan itu sudah termasuk aman dan bukan sesuatu yang dilarang." Ada kilatan-kilatan di iris kelabu Atropa saat ia menyandarkan sikutnya di meja, menopang pelipisnya dengan jari-jarinya. "Kemudian dia melakukan tahap aman dari perbuatan itu, dan menganggapnya sebagai sesuatu yang boleh dilakukan. Dengan kata lain, dia berpikir bahwa itulah kebaikan."

Aku melempar senyum, puas dengan analisanya—yang cukup cerdas untuk anak 8 tahun. "Ya, aku juga berpikir demikian."

"Ah, satu lagi, brother," tambah Atropa. Entah kenapa kali ini sorot matanya terlihat tidak suka. "Walaupun tidak seperti kepadamu, tapi Scorpius juga mendengarkan seorang lagi." Nada suaranya turun. "James Potter. Kurasa Score menganggapnya orang yang menyenangkan."

"James...hm, cukup menyenangkan," aku diam sebentar, "well, kalau dia tidak bersama kejahilannya. Tapi, dia baik dan...uh, setidaknya punya kebijaksanaan. Aku pikir sangat bagus jika Score bisa belajar darinya."

"Oh, brother," Atropa tampak gusar, "kita lihat ke mana pemikiran itu akan berujung."

Well, siapa yang bisa mengira kalau pengaruh James akan sebegini besarnya?

Dan hampir tiga bulan lamanya Atropa tidak pernah berhenti mengingatkanku tentang 'kutu' James yang menular pada Score. Hingga kemudian adik perempuanku itu terpikir oleh percakapan kami sebelumnya. Oh, tentu saja, adikku. Aku kenal separah apa kelakuan James. Dan ada alasan tersendiri kenapa kubiarkan Scorpius untuk bergaul dengannya.

Waktu itu aku sedang berada di taman, memeriksa tanaman-tanaman yang berpotensi terkena hama. Atropa mendatangiku dengan wajah gelap. Ia lantas menyipitkan kedua matanya, menatapku penuh kecurigaan.

"Orphe, jangan-jangan kau," mulainya, "memang sudah merencanakan ini?"

Aku menatapnya sejenak. Kusembunyikan senyum kecil saat bangkit berdiri. Sepertinya Atropa sangat marah hingga butuh waktu berbulan-bulan untuknya bisa melihat keganjilan. Ah, kalau aku tersenyum di depannya, dia pasti akan meledak—sudah pasti karena merasa terhina, well, Atropa sudah seperti itu jika menyangkut soal James.

"Well," kualihkan mataku, berwajah seperti orang yang tidak bersalah, "kau bisa bilang bahwa aku hanya membiarkannya saja."

"Kenapa?" tanyanya, seperti sedang mencoba bersabar untuk mendengarkan alasanku. Atropa bukanlah anak penyabar. Mungkin karena sedang berbicara denganku, dia mencoba untuk tidak kurang ajar.

"Kau pernah bilang, bukan?" Kulepas sarung tangan berkebunku, menaruhnya di keranjang rumput. Iris kelabuku melirik Atropa dari ujung mata, menari-nari dalam rahasia. "Scorpius hanya mendengarku. Melakukan apapun yang kusuruh. Tidak mengerti arti dari baik dan buruk kecuali aku menegurnya. Dan kau sendiri bisa melihatnya, bukan?" tanyaku retoris, "Atropa, yang kutahu adik bungsu kita bukanlah boneka. Bukan juga robot. Tapi, Scorpius tidak akan melakukan sesuatu jika aku tidak mengatakannya."

Mata kelabu Atropa melebar. "...Jadi, karena itu...kau..."

"Ya, karena itu aku membiarkannya bergaul dengan James. Aku ingin Score memiliki keinginan...memikirkan sendiri apa yang ingin ia lakukan tanpa perlu mendengarnya dariku. Dan aku berpikir bahwa James bisa membantunya dalam hal itu."

Atropa diam, namun tatapannya tajam dan tidak senang. Seolah sedang mencari-cari alasan untuk tidak menyetujui pendapatku, ia berkata, "well, sekarang dia punya ide yang sama gilanya seperti orang itu."

Aku hanya mengatupkan bibir ketika Atropa memutar tumit, masuk kembali ke manor dengan langkah gusar. Lebih baik tidak 'memuji-muji' nama James di saat perasaan Atropa sedang buruk-buruknya. Well, hubungan mereka memang tidak...terlalu baik, namun Atropa tidak akan berhenti menyayangi Scorpius hanya karena pertemanannya dengan James. Ikatan persaudaraan kami tidaklah serapuh itu.

Aku menghela nafas, memandang langit biru musim panas.

Sebenarnya aku hanya takut akan satu hal, yakni bahwa Scorpius akan hilang arah jika aku tidak ada di dekatnya. Bisa saja nanti dia tidak mengerti perasaan orang lain. Kalau seperti itu, ia tidak akan bisa bertahan di tengah-tengah masyarakat. Dan jika hal itu sampai membuatnya tersingkir dari pergaulan, aku khawatir ia akan depresi. Aku tidak ingin masa depan Scorpius hancur. Jika kepribadian James bisa membantunya, aku tidak akan ragu untuk memilih opsi itu.

Erm, walaupun opsi itu membuat Scorpius berubah total, tapi setidaknya sorot mata tidak setuju Atropa dan tatapan kesal Elliot akan membuat Scorpius untuk tetap terkontrol dan tidak seenaknya berbuat ulah di saat yang tidak tepat. Dengan demikian, tanpa perlu aku bicarapun, dia bisa mengerti apa yang bisa dan tidak boleh ia lakukan.

xxx

"Orphe, aku tidak akan kesepian," ucap Score, tapa ragu melanjutkan, "Karena kau ada bersamaku."

"...Mungkin akulah yang akan kesepian. Kau juga akan pergi ke Hogwarts. Dan aku akan tetap di sini bersama Peri Rumah."

"Kalau begitu, aku tidak akan masuk ke Hogwarts. Tidak akan masuk ke sekolah manapun. Aku akan tetap di sini bersamamu."

Aku tertawa kecil seraya mengacak-acak rambut pendek peraknya. "Sayang sekali, kau harus sekolah. Itu akan lebih membuatku tenang. Dan itu juga akan membuat mum dan dad bangga."

Scorpius mengedikkan bahu. "Baiklah, jika kau berkata begitu."

Aku mengangkat alis, bertanya tanpa suara saat Scorpius masih menatapku. Iris kelabunya yang polos dan belia itu penuh cerita, namun Score tidak menyuarakannya. Bibirnya terbuka lalu tertutup seolah ia berubah pikiran.

Aku menunggu.

Scorpius hanya menggaruk-garuk pelipisnya seraya tersenyum malu.

"Ada apa?"

"Tidak, aku hanya..." Scorpius menjatuhkan tatapannya, "...memikirkan sesuatu yang konyol..."

"Kau bisa mengatakannya padaku. Aku tidak akan menertawaimu. Kau tahu, terkadang aku berpikir kalau jerapah itu seharusnya punya sayap," candaku. Scorpius tertawa dan sekilas aku melihat kesedihan di matanya saat ia mengangkat wajah. Pikiran konyol macam apa yang bisa membuatnya berwajah seperti itu?

Lalu, Scorpius mengeluarkan isi hatinya. Yang dari bagaimana cara ia mengatakannya, membuatku berpikir bahwa pertanyaan itu sudah sangat lama terpendam dan mengusiknya. "Brother," katanya pelan, "kau tidak akan meninggalkan kami, 'kan?"

Tanpa menunggu tanggapanku, ia kembali berujar, "Aku tidak pernah mengenal orangtua kita, tapi kau merawat dan memberikan waktumu untukku. Karena itu, aku tidak pernah mengeluh, tidak juga merasa kekurangan karena tidak punya orangtua seperti Primrose, James, dan Albus. Dan aku, Elliot, serta Atropa sangat menyayangimu." Lalu ia mengulang pertanyaannya, "Orphe, kau tidak akan meninggalkan kami, 'kan?"

Lantas aku tertawa, refleks menjulurkan tangan untuk mengacak-acak rambutnya lagi.

"Ah! Apa yang kau bicarakan, Score?" Aku menatapnya hangat, "Kalau aku pergi, siapa yang akan merawat kalian bertiga?"

Diam-diam aku ingin menjawab pertanyaan itu dengan 'Peri Rumah'. Tapi, rasanya sekarang bukan saat yang tepat untuk bercanda. Scorpius terlihat bersungguh-sungguh dengan pertanyaannya. Dan aku sudah bangga hanya dengan melihat keseriusannya saja.

Serta senyum menggemaskan dari adik bayi yang dulu selalu kugendong dengan kedua tanganku.

xxx

xxx

Sejak hari itu, aku tidak pernah menyadari

betapa rasa sayang Scorpius padaku

akan membawa sebuah malapetaka bagi keluarga ini.

xxx

xxx

Orpheus Malfoy tidak pernah mengetahui

Pikiran-pikiran menakutkan

yang selalu menghantui

Scorpius Malfoy

_bersambung_

.

.

.

(Lalu hari-hari berlanjut,

jarum panjang dan pendek menuju angka yang sama.

Orpheus tidak pernah berpikir bahwa peristiwa menyedihkan bisa terjadi

kepada mereka berempat.

Kepadanya.)