"Ne.. ini aku Luhan mu"
Luhan saat ini benar ingin menangis, menumpahkan semua kegusaran hatinya selama ini, namun apa boleh buat ia tak boleh menangis, ia harus tegar.
"A-aku tak percaya ini"
TES
Air mata itu pun jatuh membasahi pipi tirusnya, mengalir dengan derasnya. Entahlah Sehun tak pernah seperti ini, dan semoga saja ini yang terakhir.
Memeluk Luhan disana, memeluk dengan erat seakan tak ada hari esok untuk bertemu dengan Luhan. Memalukan memang, yang seharusnya memeluk dan menjadi sandaran itu seharusnya dirinya, tapi entah mengapa air matanya tak ingin berhenti mengalir, bahkan semakin deras saja seraya Luhan berujar sayang, berbisik dengan lembutnya, mengelus dengan sayang punggung dan pucuk kepala Sehun.
"Jangan menangis lagi Hun-ah.. Lulu sudah di sini, maafkan Lulu ne?"
"Hyung.. Lulu hyung, jangan seperti itu.. aku-aku tak sanggup jika jauh darimu, kemana saja kau selama ini, apa kau begitu membenciku sampai kau tak mau bertemu sangat lama denganku, ah apa jangan jangan aku memiliki kesalahan padamu?"
"Hun-ah.. kau tak punya salah apa-apa padaku, dan kenapa kau berpikir jika aku membencimu hmm?"
"Karena kau menjauhiku hyung, aku takut" semakin meringsuk masuk ke pelukan Luhan, entah kenapa Sehun seperti adik kecil Luhan. Tapi memang itu adanya.
"Maafkan aku ya Sehun, aku tak bermaksud melakukan itu padamu, aku hanya tak ingin kau terluka"
"Terluka karena apa hyung?" mendongakkan kepalanya dan matanya menatap lurus ke mata bening rusa milik Luhan.
"Itu ku ceritakan setelah sepenuhnya aku bisa menepati janjiku ya Sehun, untuk sekarang ini mungkin belum waktunya"
"Tapi hyung janji kan akan menemui Sehun lagi?"
"Hyung janji, adik kecil hyung yang manis"
Entah kenapa Luhan sangat suka ketika melihat Sehun bersikap manja padanya, padahal jika biasanya Sehun akan bersikap dingin pada teman-teman satu sekolahnya. Luhan memang setiap saat memata-matai Sehun, dimana Sehun, sedang apa Sehun, dengan siapa Sehun, itu benar-benar harus diketahuinya karena ia takut jikalau terjadi sesuatu pada Sehun dan ia tak ada disana. Tapi untung saja ada adiknya Kyungsoo yang ikut membantunya dan Kyungsoo pula lah yang menawarkan diri padanya.
Saat Luhan tak mampu untuk terlihat nyata dihadapan Sehun setiap saat, saat itu jugalah Kyungsoo menyadari bahwa Luhan harus mempererat hubungan mereka berdua, namun tak semudah itu untuk melakukannya, karena Luhan memiliki kekuatan yang tak terbatas untuk melintasi ruang dan waktu, ia harus berhati-hati untuk melakukannya sehingga Luhan harus meredam kekuatannya itu. Jika Luhan lepas kendali semua yang ada di dunia Luhan berada dan di dunia Sehun berada akan berantakan karena Luhan menempati zaman yang berbeda dengan Sehun. Anggap saja Luhan berada di masa depan namun kebiasaan Luhan dan saudaranya tak berbeda dengan kebiasaanya orang-orang di dunia Sehun, hanya saja orang-orang di sekitar Luhan dan saudaranya sajalah yang berbeda tingkah lakunya.
Dulu niat Luhan hanya melarikan diri dari ibunya yang selalu menyiksanya, namun sampai sekarang ia masih tetap di sana karena sang ibu yang masih mencari keberadaannya entah untuk apa. Ibunya juga tahu kalau anak-anaknya memiliki keistimewaan semenjak lahir dan Luhan pernah mendengan bahwa ibunya ingin memiliki semua keistimewaan itu dengan cara membunuh anak-anaknya sendiri. Saat itulah Luhan yang masih berumur 10 tahun membawa adik-adiknya pergi melintasi ruang dan waktu dan pergi meninggalkan Sehun. Tapi Luhan ragu keinginan dang ibu masih tetap deperti dulu, tapi tetap saja Luhan harus selalu waspada dan mengatur semua pertemuannya dengan Sehun.
Tentang Kyungsoo, adiknya satu ini sangat membantunya karena Kyungsoo lebih leluasa pergi ke dunia Sehun bahkan bisa menetap lebih lama disana. Kenapa begitu karena kekuatan Kyungsoo lebih mudah disamarkan dan diredam bahkan kekuatan Kyungsoo lebih stabil dari Luhan. Hal itu terjadi karena Kyungsoo berhubungan langsung dengan kekuatan inti bumi jadi bisa saling bekerja sama tak saling bertentangan.
.
.
.
"Kyung dimana Luhan hyung?"
"Tidak kukatakan pun kau sudah tau bukan, jika hyung tak ada di sini berarti dia pergi menemui Sehun" sungguh sebenarnya pertanyaan yang tadi itu tak perlu ia jawab karena mereka pasti tau kemana Luhan jika sudah tidak ada di sini. Tapi sayangnya saudaranya yang satu ini benar-benar tak pernah sadar juga tentang hyung mereka. Terkadang Kyungsoo merasa geram sendiri jika setiap hari saudara pecinta eyeliner itu bertanya tentang hyungnya dan pertanyaan yang dilontarkan selalu pertanyaan yang sama.
"Ah bertemu kekasihnya, baiklah aku juga akan bertemu kekasihku" sambil tersenyum yang menurut Kyungsoo itu senyuman orang gila. Bahkan Kyungsoo jarang mengganggap saudaranya ini adiknya.
"Terserah kau mau kemana, aku lelah mendengarnya" melenggang pergi ke kamarnya karena hari ini ia sangat lelah setelah bertemu dengan kekasihnya yang ternyata adalah teman dari seorang Oh Sehun.
"Dunia memang sempit" sembari merebahkan tubuhnya di ranjang yang sangat empuk itu, berniat memejamkan matanya sebelum suara yang ia benar-benar tak suka masuk ke telinganya.
"KYUNGSOO! DI MANA PERLENGKAPANKU!?"
"Astaga, tak bisakah dia berhenti berbicara, telingaku sakit" mengambil bantalnya untuk menutupi telinganya yang saat ini sudah berdenyut.
BRAK
"KYUNGSOO! CEPAT BANGUN, DI MANA KAU LETAKKAN PERALATAN RIASKU!?"
"CK! TAK BISAKAH KAU DIAM DAN TAK BERTERIAK, TELINGAKU SAKIT KAU TAU HAH!?"
sadarlah Kyungsoo kau juga baru saja berteriak, bahkan lebih kencang dari Baekhyun.
"Satu lagi bisakah kau ketuk pintunya dulu dan berucap yang sopan, kau bahkan tak memanggilku dengan 'hyung' kau benar-benar"
"Sudahlah, kembalikan semua prlengkapanku jangan disembunyikan lagi, dan untuk apa aku memanggilmu hyung jika kita hanya beda 1 tahun astaga bahkan kau lebih pendek dariku"
"A-apa? Kau!? Baiklah jika itu katamu, alat-alatmu itu akan aku hancurkan sekarang juga di hadapanmu!" berjalan dengan amarah yang sudah memuncak, membuka pintu lemarinya dengan kasar dan sukses membuat Baekhyun bergidik ngeri karena melihat kemurkaan hyung keduanya ini. Merutuki dalam hati karena sudah membuat seorang yang irit bicara menjadi murka.
"Astaga hyung jangan hyung aku tadi hanya bercanda, kau tau aku tak sungguh sungguh mengatakan itu" memelas dan berlutut di belakang Kyungsoo yang mana masih pada posisinya, tak berniat membalikkan tubuhnya untuk melihat adiknya ini.
"Oh jika kau mengataka itu hanya bercanda saja, apalah dayaku yang tak bisa bercanda sepertimu dan menanggapi semua perkatanmu dengan serius" mengambil satu buah bedak dan satu buah eyeliner kepunyaan Baekhyun dan
KRETEK PRAK
Menghancurkannya.
"Eh maaf aku aku tak sengaja. Tanganku terpleset" pergi dengan santainya meninggalkan Baekhyun dengan wajah pucat pasinya serta mulut yang terbuka lebar.
"KYUNGSOO! AKU MEMBENCIMU DASAR KAU SIALAN!"
.
.
.
"Hyung aku mengantuk, tapi aku ingin kau tetap disini bersamaku hyung. Bisakah kau tetap di sini bersamaku?" Mendaratkan kepalanya pada paha Luhan sambil memejamkan matanya yang terasa sangat berat.
"Aku sangat ingin Sehun, tapi aku tak bisa" mengelus rambut Sehun yang terasa sangat lembut dan halus di tangan Luhan.
Sehun pun membuka matanya dan menatap wajah Luhan yang terlihat bersedih. Ia pun menegakkan tubuhnya dan menghadap ke arah Luhan sambil menangkup wajah Luhan yang terlihat sangat cantik di mata Sehun.
"Hyung aku tak mengerti dengan diriku jika berada di dekatmu, aku seperti hilang kendali jika bersamamu, seperti tadi aku.. aku sangat manja bahkan bertingkah seperti anak kecil di depanmu, tapi sekarang bolehkan aku bertindak seperti pria dewasa di depanmu?"
"A-apa maksudmu Hun-ah" pertanyaan Luhan tak dijawab oleh Sehun, bahkan ia mengabaikannya. Yang Sehun lakukan terus merapatkan dirinya ke tubuh Luhan dan mendekatkan wajahnya ke wajah Luhan sehingga otomatis Luhan memejamkan matanya.
"Kau bahkan terlihat cantik dengan rona merah di pipimu"
"Jangan menggoda ku-hmmpphhh"
Diraupnya bibir manis itu, dilumatnya dengan tempu yang lambat dan lembut. Dirasakannya setiap inci dari bibir Luhan yang terasa sangat manis bahkan sampai memabukkannya. Setelah lama melumat bibir mungil itu, Sehun memberanikan diri untuk menggigit bibir bawah Luhan untuk mendapatkan akses lebih. Gigitan Sehun dibalas lenguhan merdu oleh Luhan dan sedikit membuka bibirnya. Sehun tak menyia-ngiakan kesempatan itu, ia pun melesatkan lidahnya masuk ke dalam rongga mulut Luhan yang hangat, mengabsen setiap bagian dari mulut Luhan dan menjerat lidah Luhan.
Masih dengan posisi yang sama Sehun terus memainkan lidahnya dengan lidah Luhan hingga benang saliva entah milik siapa menetes melewati dagu Luhan. Lenguhan demi lenguhan tercipta dari aktivitas mereka hingga perpagutan mereka berakhir saat Luhan tak sanggup lagi dan memukul kecil dada Sehun. Sehun pun melepas pagutan mereka dan menatap Luhan yang masih terengah-engah dan terus meraup rakus oksigen di sekitarnya. Melihat wajah Luhan yang memerah dan ada sedikit bekas saliva di sudut bibirnya hingga dagu membuat Sehun ingin memakannya sekarang juga. Tapi Sehun masih bisa untuk menahannya lebih jauh karena ia tahu bahwa Luhannya sebentar lagi akan pergi.
"Lu... tidurkan aku"
.
.
.
TBC
