Hetalia – Axis Powers © Hidekaz Himaruya, penulis tidak mengambil keuntungan material apapun dari pembuatan karya transformatif ini.
romance; AU. untuk spabelweek 2017: hari 3 – children.
Antonio pernah ke Bratislava satu kali. Pertandingan tenis, dia bilang, saat dia masih SMP. Perjalanan dari Barcelona ditempuh dengan kereta, dan Antonio tak menganggap perjalanan itu cukup menyenangkan karena teman satu bangkunya mabuk darat. Isabeau bilang jika saja Antonio menghadiri turnamen yang sama di Brussels pada bulan yang sama pula, mereka pasti akan bertemu lebih cepat daripada yang dikira.
"Tapi, pertemuan yang terlalu cepat, bisa memberikan hasil yang berbeda," Antonio bersandar pada jendela bus yang membawa mereka berkeliling Bratislava, "saat itu kita masih SMP. Masih banyak yang belum kita ketahui. Kita belum banyak menjelajah. Bagaimana kalau ternyata kita berpisah di tengah jalan?"
"Ah, waktu terbaik selalu dijamin oleh pengalaman, ya?" Isabeau mengarahkan kamera kecil ke sekeliling bus, kemudian pada jendela, ia menggasak Antonio.
"Mungkin begitu. Mungkin pula hal terbaik untuk kita adalah bertukar tempat duduk, ayolah, Bella, kau menggangguku!"
Isabeau tertawa tepat ketika bus berhenti. Mereka saling berpandangan.
"Sudah sampai?"
"Sudah sampai." Isabeau mengangguk, lalu berdiri dan mengambil ranselnya dari atas. "Kamera lebih baik jika di luar ruangan. Ayo!"
Sore itu Bratislava sedang dilewati oleh angin dingin. Antonio terpaksa memakai jaket, sementara Isabeau yang lebih sering melompat daripada melangkah, terlalu cuek untuk hal itu. Dia memotret lebih banyak gedung daripada yang seharusnya ia lakukan, dan ia juga memotret Poetica-nya Aristoteles yang ia beli murah di toko buku di bandara Praha beberapa hari lalu, dengan latar belakang sebuah toko besar yang menjual baju anak-anak.
Tak seberapa jauh dari sana, kedai makanan memberikan mereka aroma yang mengingatkan Antonio bahwa mereka belum makan sejak pagi. Beberapa langkah dari situ, mereka mendapati seorang anak kecil sedang memengang sesuatu dari dalam mangkok yang Antonio bilang seperti batok kelapa. Seakan sadar diperhatikan, anak itu menatap mereka. Usianya mungkin delapan atau sembilan, rambutnya panjang, terurai melewati bahunya.
"Tuan, Nyonya! Mampirlah ke kedai kami! Kami baru buka hari ini—dan kami bisa menjamin rasanya benar-benar enak!" katanya, dengan bahasa Inggris yang terpatah-patah, menawarkan masakan di dalam batok kelapa barusan. Tidak terlalu panas lagi, tetapi aromanya sangat menggoda.
"Apa ini, Nak?"
"Ini garlic soup, di dalam roti bundar. Silakan cicipi!"
Ketika rasa lapar dan lezatnya makanan digabungkan, tidak ada yang bisa dibohongi lagi. Isabeau mengangguk pada isyarat mata Antonio dan mereka pun memasuki tmepat itu, setelah si gadis kecil menjanjikan banyak makanan yang bisa mereka pilih di dalam.
Sembari menunggu menu pesanan mereka dihidangkan, mereka mengamati gadis kecil itu dari dalam. Dia mengeluarkan sendok baru dari saku celemeknya, membungkusnya dengan tisu, kemudian menaruhnya di samping roti lagi. Mencari target yang potensial untuk ditawari. Antonio melempar pemikiran secara spontan bahwa mungkin anak itu bisa mendeteksi tingkat kelaparan orang-orang yang berlalu-lalang.
"Anak kecil," Isabeau menelengkan kepala ke arah si anak, "punya daya magis yang lebih hebat daripada kita. Lihatlah, betapa mudah kita tertarik dan mengiyakan tawarannya."
"Suatu pesona yang susah dibuat oleh kita sebagai orang dewasa," Antonio menupukan dagunya pada tangan, "kita harus berbuat baik-baik, menahan diri, membuat-buat sikap, kadang-kadang tidak jarang menjadi bermuka dua demi menarik perhatian. Kenapa kita tidak jadi anak-anak saja selamanya?"
"Kadang-kadang aku berpikir begitu," Isabeau memerhatikan mata Antonio—begitu hijau dan hidup, begitu ramah untuknya, "tapi, bagaimana mungkin dunia berputar tanpa orang dewasa?"
Pesanan mereka tiba sebelum diskusi menjadi lebih panjang lagi, dan Antonio berpendapat bahwa apa yang ada, lebih baik-baik saja daripada mengandaikan diri dia terus berada pada masa-masa terindahnya di Barcelona.
.
.
.
[ tripadvisor (titik) co (titik) nz: garlic soup in a bread bun ]
