[WARNING! FIC MENGANDUNG UNSUR MATURE MESKI SEDIKIT, YANG BELUM 17TH AKU TAK LARANG KALIAN BUAT BACA FIC INI, TAPI BAGI YANG BELUM SIAP MENTAL DAN TERUTAMA YANG KENCINGNYA BELUM LURUS BETUL, SILAHKAN KLIK TOMBOL BACK. SATU LAGI, DOSA DITANGGUNG MASING-MASING PEMBACA!]

Strike the Pose

4

CN Scarlet

.

.

.

.

Fairy Tail©Hiro Mashima

.

.

.

.

.

.

Jellal F & Erza S

.

.

.

.

.

.

Semua begitu singkat, selalu singkat. Terlalu singkat bagi Jellal Fernandes untuk berfikir secara logis selama perjalanan. Apalagi saat model berambut scarlet panjang yang menariknya berbelok ke Love Hotel Resort. Habislah sudah kepalanya dipenuhi hal yang iya-iya. Secara. Detail.

"Ahh..."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

...

.

.

.

.

Akhirnya dia memutuskan untuk berhenti berfikir. Membiarkan saja Erza melakukan apapun sesukanya, apapun. Sungguh diluar dugaannya gadis itu ternyata menyeretnya ke dalam restoran di dalam hotel alih-alih menghampiri resepsionis untuk memesan kamar. Jellal Fernandes bingung harus bereaksi seperti apa.

Seorang pelayan perempuan dengan setelan maid menatap genit ke arahnya sembari menghidangkan dua cangkir cappuchino latte dan seporsi cake strawberry. Itu piring ke tiga sejak mereka berdua duduk di tempat itu, Jellal nyaris tidak percaya kalau di hadapannya itu seorang wanita. Karena setahunya, perempuan akan memilih semangkuk salad daripada dessert manis-manis.

Apa dia tidak takut gemuk, lelaki Fernandes itu hanya bisa membatin. Erza menatap semangat cake di hadapannya sebelum melahapnya tanpa ragu dengan garpu. Dia sangat menikmati setiap gigitannya. Terlihat jelas bagaimana raut wajah berseri gadis scarlet itu, juga bagaimana dia tersenyum setiap merasakan wipped cream cake strawberry itu meleleh di mulutnya.

"Kau sangat menyukai cake?" tanya Jellal berbasa-basi di suapan ketiga Erza. Gadis itu hanya mengangguk. Kemudian meja itu kembali hening.

Jellal tidak banyak bertanya lagi. Lelaki itu hanya duduk diam sambil menonton model seksi di hadapannya melahap makanan yang dihindari kebanyakan perempuan tanpa rasa takut sedikitpun. Para maid dan pelanggan perempuan yang ada di restoran itu menatap terus ke arahnya, seperti tatapan Erza pada potongan-potongan strawberry di cake-nya, dia berusaha tidak peduli.

"Ayo pergi!"

Jellal tersentak dari lamunannya, seorang maid centil beraroma gucci kawe berlebihan datang membawa bill. Erza sudah keluar mendahului bersama sepotong strawberry di tangannya. Lelaki bersurai azure itu mendengus pasrah. Mengeluarkan dompet cokelat lusuh untuk membayar. "Berapa?" ucapnya, si centil langsung girang.

"Semuanya 35.000 Jewell, Jellal-samaaahh..."

Lelaki itu menghitung isi uang cash yang dia bawa, nyaris semuanya. Dia segera membayar cepat-cepat sebelum seisi restoran yang mempunyai peluang fans dan paparazzy, oh, jangan lupakan sekumpulan maid yang menatap lapar dari tadi, menggila. Duh. Terkadang pamour seorang entertaiment memang mengerikan!

Erza menunggu di pintu masuk hotel. Bersandar pada tiang besar berwarna emas, tepat disebelah pot bonsai, dia bersedekap malas menatap si rambut biru yang masih menghitung sisa uangnya. Tinggal tiga lembar uang recehan. Selembar uang 10 Jewell, bergambar pria botak membawa trisula dan dua lembar uang 5 Jewell bergambar ikan bersayap aneh.

"Aku miskin sekarang,"Jellal merenggut menggemaskan "...terimakasih sudah merampokku malam ini." guraunya, gadis scarlet itu tersenyum samar.

Mereka berdua berjalan beriringan menyusuri bahu jalan kota Magnolia yang ramai. Menyebrang di lampu merah, menelusuri pinggiran taman bunga yang penuh cahaya lampu malam, lalu berhenti di sebuah butik. Erza memandang lama pada sebuah gaun pengantin indah yang dipajang di manequeen dalam etalase kaca.

Jellal penemu pandangan berbinar di wajah cantik itu untuk malam ini. Dia merasa banyak tahu tentang Erza, tapi, dia tidak berani sok tahu soal yang satu ini. Tentang. Betapa terobsesinya seorang model majalah vulgar di hadapannya pada sebuah gaun pengantin.

"Sayang, lihat! itu Erza-san dan Jellal-san,"

Jellal menoleh ke arah sumber suara sedangkan Erza masih asyik memandangi etalase kaca. Seorang lelaki berambut hitam pendek kalem dan seorang perempuan manis berambut pirang panjang yang sama-sama memakai baju santai dan jaket, berjalan beriringan menuju ke arah mereka berdua. "Hai," sapa pria berambut biru spyke itu sembari melambai, Erza baru menoleh.

"Hooo..." luntur sudah image kalem si rambut hitam, wajah charmingnya tampak antusias sekali mengucapkan "akhirnya kalian memutuskan untuk menikah! Astaga.. cepat sekali kalian merencanakannya!" dengan penuh semangat.

"Ayo, ayo kita masuk! Aku akan memilih gaun juga!" Mavis tampak lebih bersemangat lagi, menyeret kedua muda-mudi itu ke dalam. Suaminya mengekor dari belakang.

Mereka berempat disambut oleh seorang pelayan perempuan berambut keemasan dicepol, juga seorang pak tua pendek yang wajahnya masam. Sangat masam. Pelayan perempuan itu segera menuntun Mavis dan Erza ke deretan baju pengantin yang sangat banyak jenisnya. Kedua mata Erza tidak bisa berhenti berbinar.

Sementara para perempuan memilih, para laki-laki duduk manis menunggu di sofa telur yang sudah disediakan sejak awal. Zeref mengajak ngobrol ngaler-ngidul dan Jellal menjawab sekadarnya saja, lelaki biru itu bahkan bingung kenapa dia ikut duduk di sana.

"Ah, aku jadi ingat waktu menemani Mavis memilih baju pengantin dulu.."

"Yah itu kenanganmu, kenapa aku juga harus ikutan bernostalgia bersama kalian sih?" Jellal mulai jengkel, tapi pria beristri di sebelahnya malah tertawa.

"Percayalah, ini akan menyenangkan!"

SREEEK...

Jellal tidak sempat menggerutu lebih lanjut, Zeref pun bungkam. Begitu tirai di hadapan mereka dibuka, seorang gadis berambut merah disanggul dalam balutan baju pengantin, berdiri membelakangi mereka. Mavis, yang berjinjit-jinjit membenahi hiasan kepala gadis itu tersenyum gembira ke arah dua lelaki yang ada di sana.

"Nah Erza, coba kau berbalik sana!"

Gadis scarlet itu berpaling, membuat kedua manik kehijauan Jellal membulat tanpa sadar. Wajah cantik itu dipoles make up tipis dan rambutnya ditata rapi serta diselipi tiara berkerlap-kerlip dan juga lance sampai menutupi punggung.

Gaun tanpa lengan yang dipilihkan Mavis untuknya, berwarna peach dengan hiasan mawar kain di sekeliling pinggang dan dada kanan, rok yang mengembang panjang, membungkus sempurna tubuh sintal Erza. Terutama bagian dada, yang sangat pas membungkus area sana dan memperlihatkan sebagian buntalan sebelah atasnya. Juga belahannya.

Berapa detik Jellal Fernandes tidak berkedip?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jellal dan Erza keluar lebih dulu sebenarnya, tapi demi dalih kesopanan, mereka berdua menunggu pasangan suami istri di dalam membeli pakaian. Setelah kejadian tadi tentu saja suasana mereka canggung bukan main.

"Jellal!/Erza!"

Seperti dalam telenovela, mereka saling memanggil nama. Kompak. Suasana kembali canggung."Kau duluan!"

hell yeah, ladies first!

"Um... itu..."Erza mulai gugup. Jellal menoleh ke arahnya, menunggu gadis itu melanjutkan kalimatnya. "...Thanks untuk hari ini.."

"Y-ya, sama-sama." kedua pipi pria itu menghangat.

Hening.

Semakin malam kota Magnolia semakin ramai. Berpasang-pasang manusia mulai berlalu lalang di jalan. Tak jarang, wanita-wanita molek mulai bermunculan menggoda iman kaum adam. Seorang waria di jalan, bersama dua lainnya yang membawa majalah De La'tauroue bersampulkan gadis berambut ungu dengan topi lebar berhiaskan krisan dan dress silky selutut, duduk diatas rerumputan sembari menyodorkan sejumput bunga aster tanpa tangkai.

Mereka saling berbisik, sembari sesekali menoleh ke arah Jellal dan Erza duduk. Jemari jenjang ber nail-art nan kekar yang dilentik-lentikan itu sesekali menunjuk isi majalah, lalu si rambut biru, dan kembali ke majalah. Terus seperti itu.

Tiga menit serasa bagai tiga jam bagi Jellal, akhirnya Zeref dan Mavis keluar juga. Mereka bergandengan membawa banyak sekali kantung belanjaan. Salah satunya, yang paling mengembung, diberikan pria bersurai kelam itu pada Erza. "Hadiah dariku, terimakasih sudah mau menjadi model De La'tauroue edisi bulan depan.."

"Ah, tentu Zeref-san!" balas Erza, dia belum membuka kantung kertasnya. Mavis langsung menggandeng tangannya setelah gadis berambut merah itu mengucapkan "terimakasih kembali."

"Oh ya Jellal, aku lupa bilang..." kata Zeref sembari membagi barang belanjaan istrinya itu, Jellal membantu tanpa berkomentar. "Aku akan jadi ayah!" bisiknya pelan.

"Hah?!" sentak Jellal tidak percaya, membuat para gadis yang mendahului mereka menoleh.

"Sayang, kau memberi_ ya ampun!" Mavis hendak protes, tapi kemudian matanya terbelalak saat melihat sesuatu jauh di belakang para pria. Erza juga begitu.

"Minna..."

"JELLAL FERNANDES – SAMAAAAAAAAAAA!..."

"LARII!..."

Erza dengan cepat menarik lengan Jellal yang tidak membawa kantong belanjaan, begitu pula Mavis pada suaminya. Mereka berempat berusaha lari secepat mungkin dari pasukan absrud di belakang sana. Dari sekumpulan besar masa, dengan berbagai macam bentuk dan pakaian, semuanya membawa smartphone. Mengejar dengan brutal sampai menabraki apapun halangan. Baik itu tong sampah atau pot tanaman, siapa peduli.

Pokoknya, sekarang selamatkan dulu diri sendiri. Jangan sampai tertangkap!

Dan berhenti membayangkan bagaimana jadinya kalau sampai tertangkap!

Berbelok di tikungan supermarket, tempat Jellal berpapasan dengan Erza sore tadi, lelaki biru itu masuk ke dalam mobil mewah hitamnya. Diikuti oleh gadis bersurai merah di jok disamping sang rambut biru yang siap menyetir, juga diikuti sepasang suami istri beserta belanjaan mereka di jok penumpang. Jellal menyernyit.

"Kenapa kalian tidak pakai mobil sendiri?" kedua mata kehijauannya mendelik dari kaca spion belakang.

"Kami ingin menghabiskan waktu sore bersama sebelum bertemu kalian. Cepat jalan!" jelas Zeref lalu berteriak panik di dua kata terakhir. Tiga orang waria sudah berhasil berbelok kemari ternyata.

Mobil mewah hitam itu bermanuver macam di film-film laga Hollywood. Jellal membanting stir dan menginjak gas sekeras-kerasnya meninggalkan tempat itu tanpa menabrak apapun, Mavis dan Erza sempat memekik kencang tadi. Selamat tinggal, para wanita, pria, dan waria fans Jellal yang mendesah kecewa dengan smartphone di tangan masing-masing tanpa menghasilkan satupun foto sang idola.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Jellal, pelankan mobilnya!" teriak Erza, memegangi seabelt dan memeluk erat tas karton berisi pemberian CEO De La'taroue di dadanya.

Si rambur biru agak mengangkat kakinya dari gas, memelankan laju mobil hitam yang meluncur indah di tengah jalanan kota yang sepi dengan latar lampu gemerlap. Dua wanita dalam mobil mendesah lega.

"Jadi, sudah berapa bulan?" tanya Jellal, melirik ke belakang melalui spion depan.

"Dua bulan jalan. Kami baru periksa betul-betul tadi, dia tidak percaya!" jawab Mavis dengan malu-malu sambil mencubit pelan siku suaminya yang tampan itu.

"Wah, selamat ya!"

Setelah Erza mengatakan itu, keadaan kembali hening. Hanya ada suara deru mesin mobil, bising mesin pemanas, dan melodi lagu di radio yang baru diputar dengan suara rendah. Mobil hitam itu meluncur memasuki kawasan jalan alternatif distrik strawberry, lalu melewati jembatan sebelum keluar kembali ke jalan raya. Tak ada yang memulai percakapan selama itu.

"Hei, apa kalian tidak mau merayakannya?" tanya Jellal, memecah kesunyian.

"Kalian berdua orang pertama yang kami beritahu," jawab Zeref enteng, lalu menambahkan "aku berencana merayakannya bersama adikku, Natsu, dan kawan-kawannya malam ini juga jika saja tuan Fernandes tidak dikejar-kejar kumpulan waria."

Erza dan Mavis tertawa, Jellal membalas "yah, terimakasih pada pemimpin De La'taoroue yang telah berbaik hati membuatku terkenal sampai seperti itu!"

"Kami tersanjung, sama-sama Jellal. Oh ya, sebaiknya kita langsung ke rumahmu saja!"

Jellal menepikan mobilnya, berbalik melongok ke belakang untuk memastikan pendengarannya tidak salah. "Apa?"

"Tidak usah mengantar sampai rumah kami, langsung ke rumahmu saja Jellal!"

"Bagaimana kalau mengantarku dulu sampai Fairy Hills?" usul Erza, "besok aku ada pemotretan pagi-pagi sekali."

"Kau yakin tidak mau ikut kami, Er-chan?" tanya Zeref, "kulkas rumah Jellal dipenuhi berbagai cake terbaik se-Fiore!"

Mendengar kata 'cake', membuat kedua mata Erza kembali berbinar. Jellal penemu mimik itu sepanjang waktu dalam fic ini, firasatnya buruk. Apalagi kedua orang di belakang sama kompaknya dengan gadis scarlet di sebelah. "Why not, Jellal?"

Dan sekali lagi, Jellal Fernandes menuruti keinginan mereka.

.

.

.

"Sedaaaaapppp!"

Jellal Fernandes selalu bersumpah pada dirinya sendiri agar tidak pernah memasukan orang-orang dengan nama belakang Dragneel ke dalam rumah, terutama dapur, dan dia selalu melanggar sumpah itu. Seperti sekarang. Dia sama sekali tidak mempermasalahkan keberadaan Mavis karena wanita hamil itu makannya sedikit tapi lihat suaminya!

Nyumm-nyumm...

Mangkuk-mangkuk berjejer dan piring-piring bertumpukan semuanya kosong di atas meja. Dua maid yang manis masih mengantarkan makanan dari dapur ke ruang makan, namun semuanya kembali kosong dalam kurun waktu dekat. Zeref yang seorang CEO itu seperti seorang anak kelaparan. Jellal menghela nafas.

Dia melangkah menuju kulkas. Dimana ada Erza yang sedang berjongkok memakan sekotak France cheese cake sendirian. Sama seperti ketika di hotel, gadis itu menampilkan senyuman puas dan kedua pipi memerah yang menggemaskan. Membuat Jellal menarik kedua sudut bibir kissable-nya tanpa sadar.

"Jellal, Erza..."

Mavis dengan tingkah cerianya, melangkah riang membawa sebotol anggur tahun tujuh satu dan empat tumpuk gelas "ayo kita rayakan hari yang bahagia ini!"

Para maid bekerja sangat gesit. Baru lima belas menit terhitung sejak Jellal Fernandes meninggalkan tempat itu, kini ruang makan luas dengan meja beserta jejeran kursi mewah itu sudah bersih. Zeref Dragneel dan perut mengembungnya terduduk pasrah di salah satu kursi paling ujung.

"Sayang, ayo kita minum anggur!"

Mavis, bersama Jellal dan Erza di belakang, mengangkat riang botol anggur yang masih tersegel. Meletakkan gelas, berjejer lalu menuangkan isi botol itu seperempat gelas. Dia mengangkat gelas miliknya tinggi-tinggi sambil bilang "cherie!" diikuti dengan yang lainnya.

"Tunggu Mavis-san, bukankah anda sedang hamil? Wanita hamil tidak boleh minum alkohol loh!" interupsi Erza membuat kerutan di jidat Mavis, kemudian istri Zeref itu tersenyum.

"Astaga, aku lupa. Terimakasih Erza Scarlet-san. Beruntung kau mengingatkanku."

"Uhukh!..."gadis berambut merah itu tersedak minumannya sendiri. "Scarlet?"

"Ah, kau tidak tahu ya, sejak wajahmu muncul di De La'taoroue bulan depan para editor menambahkan Scarlet di belakang namamu. Itu atas usul dari pemimpin saat rapat redaksi, dan kami semua setuju. Bukankah Scarlet nama yang cantik?" Zeref mendelik ke arah Jellal saat menyebut-nyebut soal rapat itu, tapi Erza tidak menyadarinya.

"Erza.. Scarlet," dia tersenyum.

"Scarlet, warna rambutmu..."

Semua orang yang ada di sana langsung melirik ke arah Jellal yang mengisi penuh gelasnya dengan anggur tahun tujuh satu. Meminumnya sekali teguk, lalu mabuk seketika. Zeref dan istrinya pamit menuju kamar tamu, yang sudah mereka hafal letaknya di sana, menyerahkan sang empunya rumah mewah itu pada si rambut scarlet.

"kamar tuan Fernandes ada di sebelah sana, naik dari tangga di sebelah kiri lalu belok kanan."

Jelas maid itu singkat, lalu mengangkat gelas-gelas dan sisa anggur dari atas meja menuju cucian. Tidak berniat sama sekali membantu Erza menggusur pemuda itu masuk kamar. Butuh perjuangan penuh sampai di sana, dan setelah menemukan pintu yang dinamai kamar utama, gadis itu harus kembali bersusah payah. Jarak dari pintu ke ranjang king size berkulambu beludru itu sama seperti jarak dari pintu masuk lobby Fairy Hills sampai tangga terdekat, yang mana, ruang pertama gedung kosan itu bisa dipakai pesta dansa satu kampung!

BRUKKK...

Dia membanting lelaki berambut biru itu ke atas kasur yang mengampul sebanyak lima kali. Keringat bercucuran membasahi tubuhnya. Erza terlalu lelah malam ini, apalagi pengaruh alkohol dari anggur tua itu, yah, meskipun dia hanya meminumnya sedikit dan tidak sampai mabuk separah Jellal. Dia tetap tidak bisa melawan saat tangan kekar itu menariknya ke atas sana.

Detik berikutnya entah apa lagi yang terjadi. Tanyakan pada dua ekor 'cecak' yang menempel di pintu kamar, lalu menutupnya perlahan. Suara tawa tertahan memecah keheningan rumah mewah di sudut kerajaan Fiore.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

A/N: terserang wabah wb, membuat fic ini telat updet. Gomenne minna-san, kemarin aku memang niat banget bikin ehemlemonehem tapi setelah dipikir-pikir... kok feelnya nggak dapet banget?

Afterly, aku menghapus adegan syuuurrr yang udah setengah maen (p_q) dan menggantinya demi alur cerita yang sudah kususun ulang [alur cerita awal yang sudah ending terlanjur dibaca dan diejek orang yang menjitakku waktu itu, katanya kayak alur sinetron, sekalian si Erza tabrakin truk terus Jellal nangis kejer2 tamat deh. Sumpah nyebelin tuh orang!] mungkin alurnya akan agak mengepang nanti, tapi aku janji fic ini bakalan kutulis sampai ending selama masih ada yang suka.

Aku mengakui betapa jeleknya grammar bahasa Inggrisku, jadi aku sengaja menggunakan bahasa asing itu buat cracker. Supaya kalian tersenyum membacanya. Hell, jangan meremehkan fic rated M!

So, makasih yaaa atas semua dukungan di kotak review, bahkan ada yang sampai pm, well pokoknya thankyou so much and I love you all!