Draco sengaja berlama-lama di asrama sebenarnya. Entah kenapa ada sedikit perasaan enggan untuk memulai tahun keduanya di Hogwarts. Mungkin karena ada begitu banyak hal menyebalkan yang memaksa pikirannya didominasi tanda negatif. Harry Potter, misalnya.

Cowok itu mendobrak hidupnya setahun lalu, menantangnya di depan hidung, dan memohon-mohon supaya dia sudi ikut misi bunuh diri. Tidak perlu pengingat untuk mengembalikan memorinya yang satu itu, karena toh Harry bertahan di benaknya hampir sepanjang musim panas.

Draco melangkahkan satu kaki di depan kaki lainnya dalam perjalanan ke Aula Besar, menyiapkan diri seakan tahu bakal terjadi hal buruk. Belakangan ini firasatnya selalu aneh-aneh, sejak ayahnya mewanti-wanti soal jaga dirimu baik-baik tahun ini— seolah-olah dia harus ekstra berhati-hati agar tidak mati. Kalau maksud ayahnya adalah dia harus lebih waspada dari tahun lalu.. kalau maksudnya adalah entah bagaimana akan terjadi bencana yang lebih parah dari sebelumnya.. wah, wah.

Tahun ini pasti bakalan menarik.

Dan kesimpulannya dibuktikan sewaktu Draco mendapati Aula Besar sedang ricuh— terkait surat beramplop merah dan berasap yang meledak di meja Gryffindor. Ia tidak tahu kenapa Merlin mengharuskannya mengawali pagi dengan suara marah ibu-ibu yang menggema di seluruh ruangan, tapi siapa pula yang tahu jalan pikiran Merlin? Rupanya suara itu cuma nyonya besar Weasel yang sedang mengamuk perihal mobil suaminya (yang dicuri duo idiot), dan bagaimana tindakan Kementerian Sihir nanti—

Dan kenapa pula wanita itu memutuskan menyimpan raungannya dalam surat yang bisa meledak..

Mungkin bakalan sulit. Ayah Draco bilang pria rambut merah yang belakangan mereka temui di Flourish and Blotts, alias ayah Weaselman, adalah seorang pegawai Kementerian Sihir, di departemen yang masih sehubungan dengan Muggle. Draco menyikapi keadaan dengan tidak bertanya bagaimana orang itu bisa memperoleh alat transportasi gila Muggle. Kementerian Sihir menyita barang Muggle dan macam-macam untuk mempertahankan kabut tipis di antara dunia mereka, tapi mungkin memodifikasinya (dalam artian menambah sihir di sana-sini) itu sudah kelewatan. Jelas merupakan pelanggaran, dan kalau justru penegak aturannya lah yang melanggar..

Draco paham ganjaran apa yang bisa Mr. Weaselman terima. Mungkin beberapa bulan Azkaban? Tidak kalau seluruh keluarga besarnya (yang mungkin merupakan sebagian populasi masyarakat sihir) memohon-mohon di ruang sidang. Mungkin beberapa minggu.

Tapi ini Azkaban, yang dia bicarakan, penjara sihir dengan makhluk-makhluk mengerikan (yang tidak mau ayahnya ceritakan pada Draco secara gamblang). Sehari penuh di sana mungkin sudah cukup untuk membuat manusia mana pun gila.

Yah, itu sepadan. Siapa yang menyuruh mereka terlibat dengan urusan Muggle? Tidak ada. Siapa yang menyuruh mereka merendahkan diri dengan memodifikasi dan menggunakan benda-benda hina itu? Tidak ada.

Dunia ini dipenuhi orang-orang idiot dan cara mereka berbagi dunia dengan masyarakat non-sihir. Muggle itu binatang. Kecoak-kecoak yang perlu diinjak. Menjijikkan.

Dan betapa Draco berterimakasih karena dilahirkan di kalangan darah murni terhormat yang suci.

Slytherin itu melangkah ke meja asramanya, sementara kehebohan masih berlanjut di meja Gryffindor. Dia bisa melihat sebagian besar teman-temannya sudah duduk di satu bagian. Draco mendekat, dan seperti mendapat perintah, mereka otomatis bergeser untuk menyisakan satu tempat duduk. Tempatnya yang biasa.

Oh, mungkin kalau sudah begini dia jadi senang kembali ke Hogwarts. Dia punya asrama leluhurnya dan orang-orang yang derajatnya cukup tinggi. Draco baru saja mau mengambil sepotong daging panggang ketika ada suara jepretan kamera di belakang pundaknya.

"OOOHH." Theo langsung menggerutu sebal dari seberang meja. "Menyingkirlah, Creevey!"

Daann, sampai di situ lah rasa senangnya terwujud. Selanjutnya Draco menggertak gigi berang. Dia melempar pandang tanya ke Theo, untuk memastikan tebakannya.

Demi-kotoran-telinga-Salazar-Slytherin! Jangan bilang ini Crevey si bocah edan yang kemarin malam berkeliling meja Slytherin sambil bertanya-tanya kemanakah perginya Anak-Laki-Laki-Yang-Bertahan-Hidup, satu-satunya harapan kita semua untuk menyelamatkan dunia sihir?

Sayang sekali, dengus Draco, pahlawan kesiangannya masuk Daily Prophet gara-gara naik mobil terbang dan kecelakaan menabrak pohon langka.

"Kau Harry Potter yang asli?"

Pekikan kegirangan itu cukup untuk memastikan mimpi buruk Draco.

"A-aku Colin Creevey, tapi kau bisa panggil aku—"

"Pergi sana, kecoak."

Kali ini yang bicara Pansy, dan anak perempuan biasanya sudah terlatih menuangkan es batu ke pita suaranya. Cewek itu terdengar sedingin lantai batu sekarang. Draco menoleh untuk melihat Creevey menelan ludah.

"O-oke, aku tahu kalian teman-teman Harry Potter sangat mencemaskan keamanannya, tapi—"

Kesalahan.

"Siapa yang kau panggil teman-teman Harry Potter, idiot?" Draco membalik tubuh sepenuhnya, ekspresinya geram. Beberapa anak Hufflepuff di meja mereka tampak buru-buru memalingkan wajah ke piring masing-masing, takut ketahuan menguping.

"Dan pertama-tama," Draco mendecih jijik, "bagaimana kalau kau jauhkan benda itu dariku?"

Si bocah melesatkan kameranya ke belakang punggung. "A-aku tahu keluargamu tidak suka barang-barang Muggle.. m-maaf, Malfoy."

"Keluargaku?" Draco meninggikan nada tajamnya tujuh oktaf.

Pansy berdeham gusar. Semua orang di meja Slytherin sekarang bertatapan gugup. Draco bisa dengar pikiran mereka: memangnya si bodoh mana yang cukup edan untuk membawa-bawa nama keluarga Malfoy ke dalam percakapan?

Creevey serta merta mengerut di bawah pelototan Draco, melirik Harry untuk mohon pertolongan. Sayang sekali idolanya itu cuma mengedikkan bahu— kau masuk ke liang kuburmu sendiri, anak muda.

Dia masih bica mencicit. "M-maaf—"

"Ayolah, sweetie, kurasa kau sudah tahu dari tadi kenapa kau harus cepat-cepat pergi," dengus Pansy tak sabaran. Gadis itu masih mengunyah bubur oatmeal-nya seolah tidak ada yang terjadi. Atau lebih tepat lagi tidak ada yang bisa mengganggu sarapan tenangnya. Pansy sekeras kepala itu, Draco tahu.

Maka pirang platina itu cuma menimpali dengan pelan, sekali pun dia yakin suaranya terdengar sampai ujung karena orang-orang mendengarkan. "Aku bisa mencium kotoran di darahmu," dia mendecih. "Siapa pun tahu itu bukan hal yang bagus."

Harry menghela napas. "Pergilah sekarang, Colin."

Sebelum semuanya bertambah buruk, dia pasti ingin menambahkan.

Bocah itu tampak gemetar sekali waktu dia mundur ke meja Gryffindor, kamera bergoyang-goyang dari tali di lehernya. Draco masih memandanginya dengan dendam kesumat sampai Pansy berdeham lagi. Dia segera berbalik ke meja.

"Oh, kau jahat sekali. Mentalnya pasti terluka." Daphne Greengrass nyengir, sementara tangannya menunjuk sesuatu di tengah meja. "Operkan selai jeruknya, Potter."

Harry mengoper dengan malas. "Aku tidak mengerti apa motivasinya."

"Selain kena sindrom menyembah-nyembah Harry Potter?" tawa Theo. "Entahlah, barangkali dia cuma menduga-duga apa yang akan terjadi kalau pewaris tunggal kita marah."

"Tidak lucu," gerutu Draco.

"Setuju." gerutu Harry. Rupanya bertemu dengan pengagum berat tidak serta merta menyembuhkan suasana hati yang buruk.

"Mungkin," Draco mengangkat bahu, mencari hiburannya sendiri, "dia cuma mengagumi sebangsa pencuri mobil dan perusak pohon."

"Diam sajalah, Malfoy," Si iris hijau menukas jengkel. "Tidak susah-susah amat, kok."

Draco memutar mata.

"Kau dengar Howler tadi, Drake?" cetus Pansy setelah menyilangkan sendok dan garpunya. "Aku tidak percaya mereka benar-benar membiarkan Howler meledak di sini. Maksudku," dia memelototi awan yang berarak di langit sihiran Aula Besar, "ya ampun, ini masih hari pertama!"

Theo terkekeh. "Apa yang kau harapkan setelah kemunculan spektakuler tadi malam?"

Harry merengut. "Tapi apa itu Howler?"

"Surat yang marah-marah itu tadi," jelas Theo, alisnya bertaut. "Kau benar-benar tinggal bareng Muggle, ya?"

"Tidak heran kau sewot sekali pagi ini, Potter." sindir Draco. "Pasti serasa dimarahi Mummy Weasel juga."

"Weasley." Harry menggertakkan gigi. "Dan tidak, aku tidak— surat itu sama sekali bukan urusanku." Dia menandaskan ucapannya dengan getir.

Sejenak meja hening dengan denting garpu dan pisau.

"Kecuali fakta kecil bahwa mungkin kau telah menyeret seseorang ke ruang interogasi Kementerian."

Harry meletakkan peralatan makannya, berasap dari telinga. "Yah, itu salah ayah Ron!" Dia memandang Draco dengan kesal, seolah pirang itu adalah penyebab semua tragedi dalam hidupnya. "Siapa suruh dia menyimpan benda Muggle dan diam-diam memodifikasinya? Tidak ada!"

Draco mengerutkan kening. "Kau yang membawa mobil itu dan menyengsarakannya."

Harry menelan kata-katanya dengan berang. "Lalu apa? Aku harus mengajukan diri menggantikannya di ruang interogasi? KAU PIKIR AKU SEHEROIK GODRIC ATAU APA?"

Draco sadar suasana hati cowok itu sedang benar-benar buruk sampai-sampai Pansy menyikutnya dan bicara tanpa suara: ayolah, cerdas, jangan ganggu dia.

Tapi Draco yakin ada yang salah dengan Harry. Dia bahkan rela menyongsong maut untuk merebut batu kebangkitan dari tangan penyihir terjahat sepanjang masa, tapi tidak mau berempati sedikit pun pada ayah temannya yang dia jebloskan ke dalam masalah hukum?

Well, itu lebih dari sekedar aneh.

Draco baru akan mulai bicara lagi ketika Albus Dumbledore, Kepala Sekolah mereka, akhirnya memulai sambutan awal tahun dengan topi kelinci bodoh yang dikenakannya.

Awalnya hanya kata-kata tidak penting yang biasa, sebelum ia memperkenalkan Gilderoy Lockhart, guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang baru— mengingat guru yang lama mengalami sedikit kecelakaan.

Harry segera saja bertambah muram. Draco tahu persis apa penyebabnya. Musim panas lalu di Flourish and Blotts, Lockhart menarik si kacamata itu untuk berfoto— yang jelas saja dicetak super besar di halaman depan koran-koran sihir. Untuk apa? Tentu untuk menyebarluaskan ketenaran penulis buku yang merangkap calon guru Hogwarts itu. Lebih parah lagi, sekarang dia bahkan sudah resmi jadi guru.

Draco baru saja memikirkan bakal semenarik apa tahun keduanya ini (apa nasihat ayahnya soal ekstra hati-hati berhubungan dengan seorang guru selebriti?) ketika salah satu gadis Gryffindor dengan jubah bekas kebesaran masuk tergesa-gesa ke dalam aula. Rambut merahnya lah yang menyulut api.

"Bukankah," dia menggertakkan gigi, "itu pacar barumu, Potter?"

Harry mendongak ke arah yang dimaksud. "Maksudmu Ginny?" Ia memutar bola mata dengan malas. "Dia adik Ron."

"Dan dia suka padamu."

"Jangan buat aku menendang panekuk ini ke mukamu—"

"Oh, bilang saja iya." Draco mendengus. "Dia membelamu habis-habisan waktu itu, aku ingat."

Harry terdiam sebelum membalas. "Yah, kalau cara kerja otakmu begitu, maka Colin Creevey pastilah menyukaiku juga, dan—"

"Bagaimana dengan aku?"

"Bagaimana dengan kau?"

Draco mengiris dagingnya keras-keras. Ya, bagaimana dengan aku, Potter?

Iris kehijauan itu mengeluh jengkel. "Apanya yang bagaimana, Malfoy?"

Apa aku menyukaimu?

Harry mengetukkan jemari ke meja, menunggu. Draco mengedikkan bahu.

Apa dia menyukai cowok berkacamata ini? Apa dia menyukai segala hal tentangnya? Apa dia sebegitu sukanya sampai bakal mengikutinya kemana pun bahkan jika itu ke dekapan kematian seperti tahun lalu?

Aku tidak tahu. Dia merajuk kepada pertanyaan-pertanyaan itu. Aku tidak bisa menjawabnya.

Maka seperti yang sudah dilakukannya sepanjang musim panas, dia menyuruh otaknya untuk berhenti berpikir. Lupakan saja, dengusnya getir.

"Malfoy?"

"Lupakan saja, Potter."

.

.

.

A STRANGER IN THE MIRROR

.

sequel of Change Me, Malfoy

GinevraPutri

.

Harry Potter © J.K. Rowling

Saya tidak mengambil keuntungan materiil apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini

.

.

.

Chapter 4 - Dengar

Harry Potter sudah tahu guru baru itu payah. Siapa pun yang menghabiskan waktu dengan memenangi kategori senyum ter-apalah apalah dari tabloid Witch Weekly pastilah payah. Maksudnya, ada banyak hal lebih penting yang bisa dilakukan oleh penyihir dewasa, kan?

Memang sih, setumpuk bukunya menceritakan soal betapa hebatnya si Lockhart ini membantai Banshee (hantu cewek mengerikan yang tidak bakalan mau kau dengar detilnya) atau mengalahkan manusia serigala di bawah sinar rembulan (kedengarannya saja sudah mustahil, kan?), tapi itu semua di buku. Di depan kelas, Lockhart cuma mirip pesulap sok ganteng yang suka tebar pesona.

"Bodoh." Dan korban pesulap itu akhirnya merutuk untuk kesekian kalinya pagi itu. Jadwal Harry yang sebelumnya baik-baik saja segera molor lima belas menit, gara-gara harus menangkapi jutaan Pixie Cornwall (ratusan, jutaan, pokoknya banyak?)— makhluk-makhluk kecil bersayap ganas yang dilepaskan Lockhart dari sangkarnya. Hasilnya sekarang dia sudah terlambat masuk kelas Herbologi di rumah kaca nomor dua, yang mana sangatlah dekat sampai harus dicapai dengan menyebrangi sayap barat ke sayap timur kastil dan terseok-seok di antara rerumputan setinggi tulang kering.

Cowok itu menggeram. "Dia-beruntung-Longbottom-hidup."

Draco Malfoy, beberapa langkah di depannya, balas mendengus. Memang Fortuna hari ini lagi berpihak pada Neville Longbottom, cowok Gryffindor yang diterbangkan Pixies sampai menyangkut di langit-langit kelas, namun secara ajaib berhasil selamat. Hermione (satu lagi teman Harry yang dia ajak cari mati kemarin-kemarin) menyelamatkan teman seasramanya itu dengan mantra Immobulus yang tepat waktu. Yah, sayang sekali, kata Draco, karena setidaknya kalau si bodoh itu mati, Lockhart bakal dipecat.

Dan tidak akan ada yang sengsara begini lagi di kemudian hari.

"Mungkin Hogwarts sedang tidak punya pilihan." Dia mendengar pirang platina itu menjawab. "Dumbledore—"

"Profesor Dumbledore, maksudmu."

"Yeah," Si pirang memutar mata, "orang tua itu. Dia pasti bingung mencari guru baru."

"Kenapa?"

Draco mencebik. "Kau lupa apa yang terjadi pada guru sebelumnya?"

Harry balas mengangkat alis. "Memangnya kenapa? Bukan berarti semua guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam bakal ketempelan Voldemort."

Dan bukan, batin Harry, bukan berarti yang terjadi tahun lalu itu serta merta adalah salahnya. Nah, nah, dia benar-benar sudah mencapai tahap sentimen terhadap semua orang dan semua keadaan. Memangnya siapa yang menyuruh guru mereka mengabdi pada penyihir hitam mengerikan? Tidak ada. Memangnya siapa yang menyuruh Voldemort menciptakan bencana berkelanjutan bagi Hogwarts? Tidak ada.

Jadi itu bukan salah Harry, dan jangan, oh please, jangan bicara seolah entah bagaimana dia ada sangkut pautnya dengan setiap kesialan yang sekolah ini hadapi.

"Bisa tidak," desis Draco, "kau jaga bicaramu, Potter? Tidak ada yang mau dengar nama itu, tahu."

"Yah, aku bertanya-tanya kenapa. Mungkin karena nama itu sudah membunuh orang tuaku?" Harry menyindir. "Dan menyisakan paman bibi sialan yang mengurungku sepanjang musim panas. Oh, tentu banyak yang tidak mau dengar nama penyihir sekejam itu."

"Jangan begitu," kata Draco defensif. Well, tidak setiap hari dia mendengar seseorang mengoceh soal orang tuanya yang dibunuh.. "Kau cuma— kesal, aku tahu. Dunia ini berjalan seolah-olah kita butuh siksaan lain."

"Tepat sekali." Harry mendesah keras saat mereka berhasil keluar dari kastil, sol sepatu menginjak rerumputan. Iris hijau itu terjebak ke arah deretan rumah kaca di sisi lain halaman cuma untuk mendapati bangunan nomor dua sudah dipenuhi murid-murid. Mereka jelas-jelas terlambat. "Dunia ini memang berjalan seolah kita masih butuh potongan poin asrama."

"Dan dunia bilang mungkin kita harus cepat-cepat kalau tidak mau kena detensi tambahan."

"Tidak adil," keluh Harry.

"Yah, Potter, dunia memang berjalan tidak adil." Draco menguliahinya. "Biasakanlah."

Harry merutuk di belakangnya. "Aku ini jauh lebih terbiasa darimu."

.

"Mandrake, atau Mandragora, adalah obat penyembuh yang khasiatnya sangat manjur. Digunakan untuk mengembalikan orang yang sudah ditransfigurasi atau dikutuk ke wujudnya semula." Profesor Sprout membuka pelajarannya pagi itu dengan mengulurkan pot-pot ukuran sedang secara estafet ke setiap anak sambil berbicara.

"Mandrake bisa dibilang bahan utama bagi banyak obat penangkal racun. Ada yang tahu kenapa?"

Tangan Hermione Granger dari Gryffindor terangkat begitu tinggi sewaktu pintu rumah kaca berkeriut, sementara seluruh kelas menoleh penasaran.

"Nah, nah, anak-anak nakal. Kebetulan Tentakula Berbisa sedang lapar hari ini."

"Maaf, Profesor Sprout. Kami harus membereskan—" Harry melirik Draco yang tampak kalem, "—kekacauan di kelas Profesor Lockhart tadi."

"Orang itu," Profesor Sprout menggertak gigi. "Mencoba memberitahuku cara menangani kerusakan pada Dedalu Perkasa! Dia pikir siapa yang merawat pohon itu selama ini? Siapa yang membesarkannya seperti anak sendiri?"

Harry menyikut Draco. Um.. kita harus ngapain?

Profesor Sprout mendesah. "Maaf, anak-anak. Musim gugur ini tidak terasa begitu baik. Dan sangat disayangkan harus kuambil sepuluh poin dari Slytherin."

Gumam kecewa pecah. Draco memelototi Pansy yang memasang wajah memelas di sudut: Apa? Bukan sepenuhnya salahku!

"Ambil pot kalian, Mr. Malfoy, Mr. Potter. Dan Nona Granger, silakan lanjutkan penjelasanmu."

Hermione memandang Harry sedikit sebelum mulai bicara. "Jeritan Mandrake bisa berakibat fatal bagi siapa saja yang mendengarnya," katanya segera.

"Sepuluh angka untuk Gryffindor."

Pansy menggembungkan pipi. Rasanya Harry mau menonjoknya saja. Ralat, dia mau menonjok semua orang di sini.

"Nah, kita punya Mandrake yang masih sangat muda hari ini. Jeritannya mungkin tidak akan separah yang dewasa," terang Profesor Sprout dengan semangat, kendati perkara jejeritan ini membuat beberapa anak menciut. "Tugas kalian adalah memindahkannya dari pot sebelumnya ke pot yang baru. Tapi sebelum itu, pastikan kalian memakai penutup telinga yang sudah disediakan— ya, ayo, pakai betul-betul. Rapatkan, Mr. Longbottom, kalau kau tidak mau pingsan."

Kemudian mereka semua memasang penutup telinga dan mulai bekerja. Awalnya segalanya baik-baik saja, hingga Draco mencabut salah satu bayi Mandrake sampai ke akar-akarnya dan tidak, oh tidak (demi Merlin, kutukan apa lagi ini?!), dia justru menemukan wajah jelek yang menangis meraung-raung sebegitu kencang sampai membuat kedua telinganya berdenging.

Harry sendiri tidak percaya ada makhluk seaneh itu, tapi Mandrake-nya bersikap seolah tidak ingin berpisah dengan potnya yang lama. Profesor Sprout bilang mereka hanya perlu meletakkan bocah jelek itu ke pot baru dan cepat-cepat menutupi akarnya dengan tanah— ayolah, mereka cuma kedinginan, bayi-bayi mungil itu. Jelas baik Harry maupun Draco tidak menganggap si Mandrake bayi mungil, tapi mereka berdua memutuskan untuk tidak berkomentar. Lagi pula Pansy bisa mengoceh tanpa ujung kalau mereka mengurangi poin asrama lagi.

Maka mereka berusaha menjalani apa yang tersisa di hari pertama dengan baik, dengan tenang, dan sebisa mungkin, dengan normal.

.

Harry benci melewatkan makan malam. Dia tidak bisa meredam perutnya yang keroncongan lebih lama lagi. Apalagi kalau dia harus menghabiskan waktu dengan cara seperti ini.

Dia pikir Merlin sedang bercanda waktu memutuskan untuk memisahkan detensi Harry dengan Ron. Tapi sekali pun begitu kenapa, dia juga tidak tahu, kenapa Ron diberi detensi menggosok kuali-kuali gosong bekas ramuan, sementara dia ditugasi membantu Lockhart menjawab surat penggemar?

Anggap saja dia sedang sial, meskipun dia selalu sial sejak tahun keduanya dimulai. Tapi maksud Harry, apa-apaan nih?

Kuali gosong terdengar sejuta kali lebih menarik ketimbang membaca berpuluh-puluh perkamen memuakkan yang kurang lebih isinya persis sama.

Aku mencintaimu, Gilderoy!

Masih bagus dia tidak muntah, ya, kan?

Belum lagi perkara mendengarkan Profesor itu bicara soal Aku tahu kau juga mengagumiku, Harry dan Soal mobil itu? Aku tahu kenapa kau melakukannya. Aku memberimu ketenaran sedikit musim panas lalu dan kau tak sabar untuk tampil lagi, bukan?

Yeah. Tentu saja ini hukuman yang pas baginya. Melewatkan makan malam demi menemani artis sinting menjawab surat penggemar. Perutnya merintih. Sekarang Harry merasakan perpaduan antara ingin muntah dan ingin meluncurkan kutukan ikat-tubuh-sempurna supaya dia bisa kabur untuk makan malam.

"Oh, aku tahu kau senang detensimu kuubah jadi menyenangkan begini, tapi aku tidak bisa melakukannya setiap waktu, tahu." Lockhart mengedip. "Tapi kalau kau butuh bantuan, apa saja, Harry-Harry-Harry—"

Salazar, akhiri ini.

"—kau selalu boleh datang kemari!"

"Bunuh dia!"

Darah Harry berdesir.

"Bunuh.. bunuh.. mati.."

Tangannya terhenti di udara.

"Profesor, apa Anda mendengarnya?"

Demi Salazar, apa itu?

Lockhart menatapnya dengan bingung. "Mendengar apa, Harry?"

"Sini.. biar kurobek kau.. BIAR KUBUNUH!"

"Suara itu!" Harry mendesak. "Anda harus menghentikannya! Dia mau membunuh seseorang!"

Lockhart jelas menatapnya seakan dia gila. "Mm.. mungkin kau kelelahan, Harry? Ah, jam berapa ini— astaga! Sudah jam sepuluh, ternyata. Kau pasti keasyikan membaca. Aku akan senang ditemani, tapi nanti Kepala Asramamu tidak akan setuju." Dia tersenyum seolah itu akan menenangkan kepanikan Harry. "Nah, mari, mari, selamat tidur, Harry!"

Harry keluar dari kantor itu dengan sorot mata tidak percaya. Dia berhasil keluar dari tempat terkutuk itu dan bisa menikmati makan malam, tapi entakan dalam perutnya bilang dia tidak akan sanggup memakan apa-apa. Suara.. suara itu membalikkan isi perutnya.

Tapi kenapa Lockhart tidak bisa mendengarnya? Kenapa hanya Harry yang bisa?

Dia berjengit waktu seseorang menepuk bahunya.

.

"Hei," Draco mengerutkan kening. "Kenapa kau kaget begitu?"

Harry gelagapan. "A-aku dengar.. sesuatu."

Draco menatapnya keheranan. Umm.. apa dia jadi gila karena terlalu lama bersama Lockhart? Atau ini semacam lelucon? "Dengar apa?"

Harry kelihatan ketakutan. Dan Draco belum pernah melihatnya setakut ini. "Aku bisa mendengarnya," dia berbisik. "Tapi aku tidak tahu di mana dia."

Sekarang Draco yakin cowok itu serius, walaupun dia masih agak sangsi.

Iris kehijauan itu memandangnya penuh-penuh, seolah berharap Draco memercayainya. Dia menyambar lengan Draco waktu sesuatu membuatnya berjengit.

"N-nah! Kau dengar itu, kan?" Dia memekik. "Malfoy!"

Harry menatapnya dengan memelas, tapi setajam apa pun Draco memasang telinganya, dia masih tidak mendengar apa-apa. Apa sih, yang cowok ini maksud?

Harry menelan ludahnya, bergerak merapat. Draco menahan jantungnya meloncat waktu jemari itu menarik kerahnya, memaksa tubuhnya mendekat.

"D-dengar, Potter. Kau tahu, mendengar sesuatu yang tidak kelihatan itu bisa jadi pertanda buruk." Draco memulai, tapi sulit berkonsentrasi saat Harry meremas kemejanya dengan putus asa. "A-apalagi kalau orang lain tidak bisa mendengarnya.."

"Tapi tidakkah kau mendengarnya?" Ia mendesak. "Desisan itu!"

.

to be continued

.

a/n:

halooo! bisa dibilang pada akhirnya saya menyesuaikan waktu publish di ffn dan di wattpad ;) supaya semua pembaca bisa menikmati chapter baru di waktu yang sama!

terima kasih banyak untuk apresiasi dan dukungan kalian, terutama aisyah prionggo, BreezeCookie, MicharuRyou, Eros47, fazira. cwiiwiiw, riseraph, almaidah97, shianata55, saturdae night, finchleyxchan, fadclouds, OniiDayo, ScarheadFerret, dan dini :)

sampai ketemu minggu depan!

Putri.