Title: Jelaousy
Disclamer: Seluruh cast yang berada dalam naugan YMC ini, adalah milik Sang Pencipta
Pairing: JinSeob
Cast: Wanna One, Ahn Hyeongseob, Jung Sewoon
Note: Sequel of DUNIA HYBRID WANNA ONE
•
JEALOUSY JINSEOB
•
Drap drap drap drap
Derap langkah cepat menggema di sepanjang koridor Brand New apartment, lebih tepatnya koridor lantai 7 dimana salah satu unit yang ada adalah milik seorang Park Woojin, pemilik kaki yang menjadi sumber suara malam itu. Segera ketika ia mencapai pintu hitamnya, lengan kekar yang ia miliki bergerak gelisah mencari kartu kunci yang seingatnya ia lesakan di saku jaket merahnya. Dan ingatan Woojin tidak berkhianat, tak sampai menit berganti sebuah kartu hitam ada dalam genggamannya.
PIP
BLAM
Seperti sedang dikejar pembunuh berantai, Woojin masih saja bertindak sangat tergesa-gesa, membiarkan sang pintu terbentur dinding.
"SEOBI!"
"AHN HYEONGSEOB"
Kini bibirnya pun tak tinggal diam, dan matanya pun. Mata tajam itu melirik setiap sudut yang ada. Tak melepaskan bahkan setitik dari pandang.
"Sudah pulang?"
Woojin menghela napas berat mendapati pemuda yang ia serukan sejak masih di halaman kampus keluar dari kamar mereka dengan polosnya. Tak sadar sudah menciptakan kekacauan dalam kepala Woojin.
"Kau kemana huh? Aku mencarimu kemana-mana," nada suara Woojin secara otomatis melembut.
Pikirannya ingin melontarkan semua rasa panik yang melandanya selama 2 jam terakhir, namun egonya selalu saja menguap dihadapan Hyeongseob. Bagaimana tidak panik jika saat Seoul mulai gelap Woojin tidak dapat menemukan mantan kelinci itu di kelasnya, di cafetaria kampus, atau bahkan di klub tari mereka, ditambah lagi ia belum sempat memberikan Hyeongseob ponsel untuk berkomunikasi. Hyeongseob yang sangat polos dan mudah percaya dengan orang asing semakin membuat Woojin khawatir ketika tak satu pun sahabatnya tau bersama pemuda itu.
"Tadi aku pergi dengan Daehwi,"
Oh Daehwi! Bagaimana bisa Woojin melupakan seseorang yang sudah bagai adiknya itu dari daftar pencariannya?! Padahal sudah sangat jelas Daehwi sangat akrab dengan Hyeongseob.
"Mandilah, ku buatkan ramyun," titah Hyeongseob memecah lamunan Woojin.
Hyeongseob cukup peka untuk tidak berpikir Woojin bisa makan malam di luar dengan tenang saat ia pergi tanpa kabar. Melihat Woojin menghilang di balik pintu kamar mandi, Hyeongseob beralih pada perabotan dapur dan mulai dengan kegiatannya memasak.
"Seob?"
Sedikit terkejut, Hyeongseob membalikan tubuhnya pada sosok pemuda tan berbalut kaus hitam sedikit tipis dan rambut berhias bulir air segar.
"Hm?"
"Tadi pergi kemana dengan Daehwi?" tanya Woojin tak melepas tatapan khawatir untuk Hyeongseob meski tangannya mulai bergerak meraih sepasang sumpit.
"Hanya pergi ke Gangnam sebentar. Ini makan dulu, nanti kalau dingin tidak enak lagi."
Lagi. Tubuh Woojin kembali mengikuti permintaan Hyeongseob. Setelah mengurangi isi mangkuknya, Woojin mengangkat wajahnya, menatap pemuda Ahn yang sedang menyesap sesuatu dari cangkir putih.
"Lain kali beri aku kabar kalau kau ingin pergi,"
"Hm-m"
"Lagi pula kenapa sih kau tidak bilang dari awal?"
Hyeongseob diam.
"Seob?"
"Huh?"
"Aku bertanya," nada bicara Woojin mulai terdengar menuntut.
"Aku lupa."
Woojin menatap mata kelinci Hyeongseob lekat. Seakan masih menunggu jawaban.
"Apa? Aku kan sudah bilang aku lupa,"
"Kau mengharapkan aku percaya alasan seperti itu?"
"Tapi itu benar," Hyeongseob mengeratkan genggamannya pada cangkir tak berdosa.
"Seob... kau bahkan ingat hal-hal kecil tentangku, tak mungkin kau lupa begitu saja untuk mengabariku."
Keheningan kembali melanda ruang makan itu. Selang beberapa menit Hyeongseob bangkit dari duduknya memindahkan peralatan makan yang ada ke tempat pencucian lalu menunduk melewati tubuh Woojin. Menghindari tatapan menuntut seorang Park Woojin. Woojin yang menyadari hal itu dengan cepat mengulurkan tangannya, menarik lengan Hyeongseob untuk membawa pemuda itu dalam pangkuannya.
"Ahn Hyeongseob, tatap aku,"
Tak mendapat tanggapan apa pun dari lawan bicaranya yang tertunduk, Woojin menyentuh lembut dagu Hyeongseob dan mengangkat wajah kelinci itu perlahan.
"Jadi kenapa kau tidak memberitahuku?"
"Aku... aku hanya tidak ingin mengganggumu. Daehwi bilang ini alasan bodoh."
"Memang. Kau tidak akan pernah menggangguku Seob."
Woojin melingkarkan lengannya hati-hati pada pinggang di pangkuannya.
"Aku melihatmu... dengan Sohye tadi siang," Hyeongseob terdiam sesaat memberi kesempatan pada Woojin jika ingin menanggapi, namun Woojin memilih diam membiarkan kekasihnya itu bicara lebih jauh, "Kau tertawa dengan sangat bahagia bersamanya. Ekspresi wajah seorang Park Woojin paling bahagia yang pernah kulihat. Kalau aku menghampirimu, wajah itu akan hilang. Aku tidak mau itu hilang. Jadi aku pergi... tanpa memberitahumu."
Woojin mengangkat kedua sudut bibirnya, mengulas senyuman yang sangat lembut.
"Jadi kau pergi tanpa kabar karna aku tertawa bahagia hm?"
"Iya. Aku tak ingin merusak kebahagiaanmu."
"Seobie, kau itu kebahagianku juga."
"Tapi kau tidak pernah menunjukan wajah itu padaku. Kau terlihat jauh lebih bahagia dengan Sohye."
"Aku tertawa bukan berarti aku lebih bahagia bersamanya. Begini, ketika kau tertawa melihat Daehwi bertingkah lucu, apa kau merasa lebih bahagia dengan Daehwi dibanding denganku?"
"Tentu saja tidak! Aku lebih bahagia saat bersama Woojin!"
"Begitu juga denganku Seob. Tak peduli seberapa banyak Sohye atau teman-teman lain membuatku tertawa, kau tetap membuatku lebih bahagia," bisik Woojin lembut tepat di indra pendengaran Hyeongseob sebelum mengecup lembut telinga besar itu, "paham?"
"Hm-m," Hyeongseob mengangguk singkat tak berani menatap mata Woojin.
"Lain kali jangan menghilang tanpa kabar. Aku mengkhawatirkanmu," ucap Woojin lembut bersamaan dengan jemarinya mengusap surai Hyeongseob yang bersandar pada bahunya.
"Maafkan aku Jinie. Kau mau memaafkanku kan?"
Sepersekian detik, semirik menodai wajah tampan Woojin begitu mendengar suara manis Hyeongseob.
"Kau pikir setelah aku berlarian menyusuri kampus dan memacu mobil ke berbagai tempat hanya karna aku tertawa lalu aku akan memaafkanmu begitu saja?"
"Lalu aku harus apa agar kau memaafkanku?" Hyeongseob mengerucutkan bibirnya dengan ekspresi sedih menatap kekasihnya.
"Cium," seru Woojin singkat, "di sini," Woojin meletakan telunjuknya pada bibir mungilnya membuat Hyeongseob tertawa kecil, lalu mengalungkan tangannya pada leher tan dan mendorong kepala tampan itu dengan jemari susunya. Menghapuskan jarak di antara mereka. Hingga kedua bibir itu bersatu. Hanya menempel satu sama lain, setidaknya itulah intensi Hyeongseob. Woojin? Tentu saja tidak. Tepat ketika Hyeongseob akan menarik diri, Woojin menahan kepala mungil itu. Menyesap ceri merah kesayangannya sebelum menyapa kehangatan di dalam sana dan bermain dengan benda tak bertulang. Hyeongseob dengan senang hati permaian lidah Woojin, memberikan sensasi lebih untuk matenya itu. Lengan di pinggang Hyeongseob pun tak tinggal diam dan meremas lembut pinggang itu membuat sang pemilik menggeram kecil dalam ciuman mereka.
"Ngh Jinie," Hyeongseob menggenggam erat lengan Woojin yang tengah beranjak ke suatu tempat di dekat sana.
"Hm?" Woojin hanya balas menggumam tanpa melepaskan bibir lembutnya dari perpotongan leher Hyeongseob.
"Berhentihh... ngggh.. sebentar,"
"Ada apa hm?" setengah hati Woojin menampakan wajahnya kepada Hyeongseob.
"Kita sedang di ruang makan Jinie," Hyeongseob menenggelamkan jemarinya pada surai Woojin, mengusaknya gemas.
"Lalu? Tidak ada orang lain di sini," ujar Woojin memutar bola matanya mengitari ruangan itu, "Lagi pula ini ruang makanku, aku bebas menggunakannya untuk apa saja kan?"
"Ruang makan seharusnya untuk makan Jinie-ya," sahut Hyeongseob polos namun justru mengundang semirik nakal di wajah Woojin. Melihat senyum itu, Hyeongseob seketika merona. Tubuhnya memanas. Terutama saat Woojin menekan tubuh mereka semakin erat.
•
JEALOUSY JINSEOB
•
Rurulala,
Akhirnya aku update JinSeob nih..
Semoga ada yang sukak..
Trims buat yang pada review dan baca~ jangan lupa mampir ke ffku yang lain ya~
Again...
Review juseyong~
