DeiDei : Kur, lo kok lesu gitu sih? Mau syuting nih! Jangan lesu dong!
Sakura : bisa nggak sih panggilnya jangan Kur? Gue berasa kayak ayam tauk!
Sasuke : ada yang manggil gue, ya?
DD & Sk : nggak ada tuh... *sweatdrop*
Sasuke : ohh... terus yang tadi kur-kur itu siapa?
DeiDei : dia menyadari kalau dirinya ayam... – bisik-bisik ke Sakura –
Deidara : sakura, sasuke, kalian udah mau maen tuh! Cepetan siap-siap sana! Gue udah selese syuting!
Ss & Sk : emang lo syuting apaan? Jatah lo di fic ini kan ga ada.
Dei : syuting buat iklan terbaru gue.
DD : iklan apa, Dei-kun? *baby face*
Dei : eh, mukanya biasa aja dong! Gue abis maen buat di iklan shampoo terbaru gue.
GUBRAKK!!
DD : oke deh.. sasu en saku, ayo cepetan syuting!
Sk : nggak mau...
DD & Ss : kenapa?
Sk : gue mau mogok kerja aja!
DD : loh kok gitu?! Lo tau nggak sih gue bayar berapa ke Kishimoto cuma buat minjem elo?! Itu aja cuma minjem! Gue minta beli kagak boleh!
Ss : siapa juga yang mau dibeli ama orang kayak elo...
Dei : udah-udah.. Saku-chan ngambek kenapa?
Sk : gue capek main disini! Tiap hari disiksa terus!
DD : ahaha... itu mah udah nasib elo kali!
Sk : *nyanyi mode on* begini nasib jadi Sakura... kemana-mana, slalu disiksa... tak ada, orang yang membela... sasuke-kun dei-senpai deidei... selalu menyiksaku...
Ss : nggak nyambung ama lagunya deh!
Dei : lagunya yang asli judulnya Bujangan kan?
Sk : huhuhuhuhuhuhuhu...
DD : udahan dong nangisnya! Kalo telat syuting ntar dimarahin readers lho!
Sk : terserah... yang dimarahin kan elo!
DD : tau aja ini orang..
Ss : ayo cepet syuting! Sebagai bayaran ganti i-pod gue!!
Sk : pengorbanan gue kemaren masih kurang??? *dideathglare sasu, nyalimenciut* ahh... oke deh...
DD : thanks, sas... gue berhutang ama elo...
Ss : hah? Kalo gitu, 4 juta.
DD : maa... maksudnya apaan tuh?
Ss : harga i-pod gue! kudu lo ganti! Katanya lo ngutang kan ama gue?!
Dan author pun akhirnya kerja rodi buat ngebayar hutang pada si pelit Uchiha...
-
Author : Ceprutth DeiDei
Disclaimer : Sasuke ama Sakura punya gue!!! Udah gue rental dari Kishimoto-sensei buat main di fanfic ini. Bayarnya mahal lho! Jadi, yang baca juga harus pada bayar semua! *dilemparin tomat ama para readers, sampe rumah dijilatin Sasuke gara-gara berlumuran tomat XD*
Genre : Romance/General
Rate : T
Pair : Sakura H./ Sasuke U.
Summary : "Sasuke, buruan dong! Lama banget sih!" Sakura merebut gelas itu dari Sasuke. "Minta!" GLUK! "Ah—itu, ciuman tidak langsung, ya?". BHUUEEEKK!! "APA?!". Gaje! RnR???
WARNING : Judulnya ngasal doang! Tapi jangan permasalahkan judulnya tapi ceritanya!! Oke?
"bla bla bla" : orang lagi cuap-cuap alias ngomong
'bla bla...' : dalem hati!
bla bla bla... : seperti akan sangat jarang untuk dipakai (loh?).
(bla bla...) : omongan-omongan gaje dari gue!!
-
All My Life
-
"Hhh..." Kedua mata Sakura menutup rapat. Rasa pegal menjalari setiap lekuk tubuhnya. Didepan kelas, Anko-sensei masih dengan serius mengajar pelajaran Biologi. Ino berkali-kali mencoba membangunkan Sakura yang tertidur lelap dimejanya.
"Saku..."
"Mmmh... kanapa sih, Ino?" balas Sakura enggan. Matanya masih mengatup rapat, malas untuk membalas tatapan sebal yang terpasang diwajah Ino. "Kau ini kenapa, sih? Bangun dong! Jangan tidur di pelajaran Anko-sensei! Kau bisa mati!"
"Berisik ah... ngantuk..." balas Sakura, tak menghiraukan nasihat dari sahabatnya. Tiba-tiba sepasang mata tajam dari depan kelas tertuju pada rambut pink mencolok milik Sakura yang terlihat lusuh karena sejak pagi belum disisir itu.
"Tamatlah riwayatmu, Sakura..." bisik Ino sambil menolehkan kembali kepalanya ke depan kelas. "Aku tak mau ikut campur kalau ada apa-apa..." lanjutnya lirih.
"Tenang aja kenapa sih? Orang lagi ngantuk juga..." balas Sakura santai dan meremehkan.
BLETAK!!
"AOOOUUWW!!!" jerit gadis berambut merah muda cerah itu seraya membuka lebar kedua mata emeraldnya yang berkantung sambil mengelus-elus kepalanya. Ia menatap sekeliling dengan malas. "Huh... siapa, sih? Kurang ajar banget!" runtuk Sakura dengan nada yang lumayan keras.
"Siapa yang kaubilang kurang ajar, Haruno-san?" tanya seorang wanita berambut cokelat berwajah sangar dari depan kelas. Sakura menoleh ke arah guru galak itu. Matanya mengerjap. "Oh... Anko-sensei, ya...?"
Anko-sensei masih terdiam di depan kelas. Tangan kirinya kini sudah tak menggenggam penghapus papan tulis lagi karena penghapus itu sudah melesat ke kepala Sakura. Beberapa detik kemudian, mata emerald Sakura tiba-tiba langsung membelalak lebar.
"AH—ANKO-SENSEI?!!" teriak Sakura shock.
"Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba kaget begitu?" tanya Anko-sensei sambil terus mendeathglare Sakura yang mulai berkeringat dingin. Mulut Sakura menutup rapat, rasanya sulit untuk membuat bibir mungil itu bicara barang satu kata saja. "A...anko...se-sensei...a-ano...a-aku..." bibir Sakura terasa begitu berat.
"Ya? Apa yang mau kaukatakan, Haruno-san? Silakan katakan, sebelum pikiranku berubah lagi" tawar Anko-sensei membuat kepala Sakura langsung menggeleng cepat. "Ti-tidak ada, sensei..." jawab Sakura lirih.
"Kalau begitu, berjalanlah ke depan kelas. Ada sesuatu yang mau kuberikan untukmu sebagai hadiah spesial..." kata Anko-sensei dengan nada datar. Sakura semakin gemetar. Ia melirik ke arah Ino sebentar, berharap mendapat pertolongan. Namun tampaknya Ino tidak mau ikut campur dalam masalah ini. Dengan takut-takut, Sakura berjalan perlahan ke depan kelas.
"Sakura..." panggil Ino lirih. Ia berjalan mendekati Sakura yang berdiri mematung di depan kelas. Kedua mata Sakura ditutup dengan kain rapat-rapat hingga membuat gadis itu sangat kesulitan melihat keadaan disekitarnya.
"Apa, Ino-pig?" jawab Sakura sambil memasang tampang sebal. Ino merengut dipanggil babi oleh Sakura. "Hei, jangan panggil aku dengan nama itu!" bentak Ino.
"Kau menyebalkan!" balas Sakura geram. Alis Ino semakin berkerut. Beberapa urat kepalanya mulai berkedut-kedut menahan marah. "Kenapa kau tak mau menolongku tadi?" lanjut Sakura, membuat kedua mata torquise milik Ino sedikit membelalak.
Ino menghela napas. "Aku kan sudah bilang padamu kalau aku tidak mau ikut campur" jawabnya sambil menyandarkan tubuhnya ke tembok sebelah Sakura. "Anko-sensei benar-benar marah tadi. Mana berani aku menyelanya."
"Huh! Guru galak itu memang menyebalkan!" geram Sakura sambil menghentakkan kakinya ke lantai.
"KYAA!!" Ino melompat kaget menjauhi Sakura. "Hei! Hati-hati dong!" bentaknya marah. Tetapi Sakura hanya mendiamkannya.
"Sakura..." Terdengar suara lain yang memanggil-manggil nama Sakura.
"Apalagi?! Jangan tertawakan aku terang-terangan! Atau aku akan memukul wajahmu pulang sekolah nanti!" bentak Sakura sebal sambil mengancam orang yang memanggilnya tadi tanpa tahu siapa sebenarnya orang itu.
"Heh? Galak amat!" Pemuda jangkung berambut merah itu tersentak. "Padahal aku kesini cuma mau mengajakmu makan di kantin."
"Eh?" Sekelebat wajah Sakura berubah merah semerah tomat. Ia malu sekali begitu tahu siapa orang yang barusan ia maki tadi. "Ternyata Gaara-kun, ya...?"
""Kenapa kau sampai dihukum separah ini?" tanya Gaara heran sambil memandangi Sakura dengan wajah kasihan. Benar-benar kasihan. Kekasihnya itu harus berdiri didepan kelas sambil menenteng dua ember penuh air dengan mata yang ditutupi kain. "Gara-gara tidur sewaktu pelajaran Anko-sensei, nasibku jadi begini..." jawab Sakura sambil menunduk.
Sebuah tangan kekar dirasakan Sakura menusup ke belakang kepalanya yang ia tempelkan pada dinding. "Ah.." Kedua mata emerald bening milik Sakura terbuka perlahan. Ditatapnya lelaki berambut merah darah itu dengan terkaget-kaget. "Ga-Gaara-kun?"
"Kain penutup mata itu sudah aku lepas. Dan cepat turunkan ember yang kaubawa-bawa itu kalau kau tak mau kelelahan" katanya dengan nada datar. Sakura nampak masih ragu dengan perintah lelaki dihadapannya ini.
"Tapi, bagaimana kalau Anko-sensei sampai tahu?" tanya Sakura dengan nada takut.
"Tak usah pedulikan guru galak itu. Merepotkan saja!" sahut Gaara sambil membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar kelas. Sakura tersenyum. Diturunkannya kedua ember ditangannya dan ia tinggalkan ember itu di depan kelas dan buru-buru menyusul Gaara. "Ya."
"Hai, teman-teman!" sapa Sakura ramah pada keempat sahabatnya—Ino, Tenten, Hinata, Temari. Dan keempat orang itu langsung menoleh ke arah Sakura dan bersama-sama membelalakkan mata saking kagetnya.
"Sakura, bagaimana kau bisa..." kata-kata Tenten keburu dipotong oleh Ino. "Kau kabur dari hukumanmu?!"
Sakura mengangguk sambil tersenyum. "Aku kabur bersama Gaara" kata Sakura sambil menoleh ke arah lelaki disampingnya sementara lelaki itu tetap membisu.
Ino, Tenten, dan Temari tersenyum. "Duduklah disini. Masih ada tempat kosong untuk kalian berdua" kata Temari mempersilakan. Sakura dan Gaara mengangguk. Keduanya pun duduk bersebelahan bersama yang lain.
"Untung saja aku bisa kabur dari Anko-sensei" ujar Sakura dengan nada lega. "Aku benci guru galak itu!" umpatnya didepan teman-temannya.
Mendengar Sakura mengata-ngatai Anko-sensei, Temari langsung mengisyaratkan Sakura untuk diam. "Kau jangan bicara begitu keras-keras. Kalau orangnya kebetulan dengar gimana?" nasihatnya.
"Aku memang sudah dengar." Sebuah suara tak jauh dari meja tempat Sakura dan kawan-kawannya duduk terdengar bak deledek dipagi hari bagi mereka. Seketika, murid-murid itu langsung menoleh ke arah datangnya suara itu dengan jantung berdegup kencang.
"HEH—?!" Semuanya terkaget-kaget. Disalah satu meja yang tak jauh dari meja mereka, Anko-sensei dengan lahap memakan sandwich miliknya sendirian sambil mendeathglare Sakura. Yang dideathglare pun menelan ludah. "A-Anko-sensei..."
"Gawat...!" bisik Ino sambil meremat tangan Sakura yang mulai berkeringat dingin.
Anko-sensei menghentikan aktivitasnya memakan sandwich, kemudian beralih berbicara pada gadis berambut pink yang tengah ketakutan itu, "Haruno-san, hukumanmu akan kutambahkan agar kau menyesali perbuatanmu yang salah ini. Dan kau, Gaara-san, kau juga akan kuhukum bersama gadis pembuat onar itu."
"Cih." Gaara memandangi Anko-sensei dengan tatapan membunuhnya. Sementara Sakura masih mencoba membela diri. "A-aku bukan pembuat onar... aku baru sekali ini ketiduran di kelas..."
"Sekali?" Anko-sensei mengernyitkan sebelah alisnya, pertanda bahwa ia sama sekali tak percaya pada kata-kata Sakura tadi. Kening Sakura makin berkerut. "Jangan berani bodohi gurumu sendiri!" bentak Anko-sensei sambil berdiri dari kursinya.
'Aduuuh... ini guru nggak percayaan amat sih!' gumam Sakura sambil mengencangkan genggaman tangannya ke tangan kiri Gaara.
"Sakura..." Keempat sahabatnya menoleh ke arah Sakura seakan mengisyaratkan agar Sakura melakukan sesuatu. Sakura yang tak mengerti apa maksud mereka hanya bisa menatap mereka dengan bingung.
"Kemari, murid nakal!" perintah Anko-sensei dengan nada tinggi.
"Sakura..." suara berat Gaara terdengar memanggil nama Sakura. Gadis bermata emerald itu menoleh dan mendongak. Tetapi kekasihnya itu masih memandangi Anko-sensei yang tengah berdiri didepan sana.
Tangan kekar Gaara menarik Sakura berdiri kemudian mengajak Sakura untuk berlari pergi. Sakura tersentak kaget begitu Gaara tiba-tiba menarik tubuhnya. "Sakura, lari!!" bisik Gaara. Sakura terdiam sejenak. Kemudian ia mengangguk sambil tersenyum lebar. "Bye bye, Anko-sensei..."
"Anak itu!!" geram Anko-sensei sambil meremat sisa sandwichnya yang belum sempat ia makan.
"Gaara-kun, setelah ini kita mau ngapain?" tanya Sakura sambil memandang Gaara yang sedang menyetir mobil kesayangannya. Kepala Gaara menoleh dan mata hijau Gaara menatap balik Sakura.
"Bagaimana kalau nonton?" saran Gaara sambil menyunggingkan senyum tipis diwajah tampannya. "Kita belum pernah kan nonton berduaan selagi bolos sekolah?" lanjutnya dengan nada jahil.
Sakura terkikik. Kemudian gadis itu menjawab ajakan pacarnya dengan mantap, "Boleh."
EVENING
Di dalam ruang teater 2 bioskop besar itu, Gaara dan Sakura duduk berdampingan di bangku penonton yang paling strategis. Film yang sedang diputar di teater itu adalah film drama mellow yang berjudul Evening. Awalnya Gaara meminta Sakura untuk menonton film lain yang lebih menantang, namun Sakura tetap bersikukuh untuk menonton film itu sampai akhirnya Gaara menyerah untuk menentangnya.
Lampu-lampu teater satu persatu padam. Menandakan kalau film itu akan segera diputar. Layar besar didepan mata mereka mulai memutar beberapa trailer film-film yang sedang beken saat itu. Sampai akhirnya film yang ditunggu-tunggu pun dimulai. Sakura menontonnya dengan seksama.
Film itu berawal dari kejadian di tahun 1950-an. Pada waktu itu, seorang penyanyi kabaret bernama Ann Grant datang ke sebuah kota kecil untuk menghadiri pesta pernikahan sahabatnya, Lila. Selama tinggal di rumah Lila, Ann selalu ditemani oleh adik laki-laki Lila yang seorang pemabuk yang manja bernama Buddy. Namun, Ann selalu perhatian pada Buddy. Dan hal itu pun membuat Buddy menjadi jatuh hati pada Ann. Buddy pun gencar mendekati Ann. Sementara itu, tiba-tiba Lila memperkenalkan sahabatnya, Harris, pada Ann. Dan ternyata, Harris juga adalah sahabat lama Buddy yang kini telah berprofesi menjadi dokter. Ann terpesona dan jatuh cinta pada Harris. Tetapi Harris malah mengira bahwa Ann dan Buddy berpacaran, mengetahui hubungan mereka yang begitu akrab dan terasa dekat. Alhasil, Ann pun mencoba menjaga jarak dari Buddy yang begitu mencintainya.
Seusai pesta pernikahan Lila, Ann dan Harris diam-diam pergi ke tempat persembunyian Harris. Keduanya pun saling menyatakan perasaan cinta mereka. Dalam keadaan mabuk berat, Buddy ternyata pergi mencari Ann untuk menyatakan perasaan cintanya pada Ann yang begitu mendalam. Dalam perjalanan mencari Ann, Buddy mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Sementara itu, Ann dan Harris buru-buru kembali ke rumah Lila untuk berpamitan. Tapi betapa kagetnya hati Ann begitu mendengar kabar Buddy telah meninggal. Ann sangat bersalah dan akhirnya memutuskan untuk pergi sendirian dan tidak akan lagi berhubungan dengan Harris. Ketiga sahabat—Ann, Lila, Harris—pun putus kontak.
Lima puluh tahun kemudian, Ann telah menikah dengan Ralph Haverford dan memiliki 2 orang anak perempuan. Tapi hati Ann merasa tidak tenang dan masih merasa sangat bersalah. Sepanjang sisa hidupnya, Ann selalu berkhayal, dan meminta maaf kepada kedua anaknya.
"Sakura, apa yang kaulakukan kalau kau jadi Ann?" tanya Gaara tiba-tiba, membuat Sakura langsung menoleh pada lelaki yang duduk disampingnya itu. Alis Sakura naik sebelah. Sakura berpikir sejenak.
"Entahlah. Kehidupan seperti itu terlalu membingungkan untukku."
"Hmm..." respon Gaara seakan tak puas dengan jawaban dari Sakura tadi.
Tiba-tiba Sakura teringat akan sesuatu penting yang harus dikerjakannya hari ini. "Ohya, sekarang sudah jam berapa, ya?" tanyanya pada Gaara yang masih tetap mematng dibangku penontonnya. Mengetahui pacarnya sama sekali tak memperdulikannya, Sakura buru-buru mengambil handphonenya untuk melihat jam.
"Astaga! Kenapa udah jam segini? Gaara-kun, aku harus pergi!" kata Saura kelabakan begitu selesai melihat jam. Ia langsung berdiri dan membungkukkan badannya di depan Gaara. Gaara menatapnya bingung. Kemudian gadis itu pun berlari ke arah pintu keluar teater itu, meninggalkan Gaara sendirian. "Maaf, ya..."
"Huh—" Gaara meremat kedua tangannya erat-erat. Matanya menatap tajam ke arah layar yang menampilkan gambar ketika Ann bertemu kembali dengan Lila. Dipejamkannya mata hijau tajamnya itu dan menghela napas berat. "Lagi-lagi..."
TING TONG TING TONG
Pintu rumah mewah itu terbuka lebar. Seorang pria berambut hitam panjang bermata onyx menyambut Sakura yang datang terengah-engah dengan begitu ramah. "Oh, Sakura-chan, selamat datang!"
Itachi menuntun Sakura masuk ke dalam. Dan gadis itu menurutinya dengan senang hati. "Terimakasih, Itachi-san."
"Tumben terlambat" kata Itachi tanpa mengalihkan pandangannya untuk menatap Sakura. Sakura sedikit tersentak mendengarnya. "Hehe... iya. Maafkan aku" jawab Sakura sambil nyengir. Itachi menoleh. Mata onyxnya yang menyala menatap wajah manis Sakura yang merona malu sambil tersenyum lebar. "Tak apa. Masuklah" balas Itachi ikut tersenyum. Dan mereka kini telah berada di ruang santai rumah Uchiha Sasuke.
"Konnichiwa, Sasuke" sapa Sakura seramah-ramahnya pada majikan Uchiha Sasuke-nya yang sedang asyik menonton acara di televisi flat besarnya.
Sasuke tetap terdiam. Itachi menatapnya jengkel dari belakang. Dan kemudian suara berat bernada dingin dan kasar khas Uchiha terdengar diruangan itu, "Mana rasa hormatmu pada majikan? Kenapa datang terlambat?"
"Maaf, tadi aku ada urusan sebentar" jawab Sakura sekenanya sambil menundukkan kepala.
"Apa menurut otak bodohmu itu terlambat 3 jam lebih itu bisa dimaafkan? Memangnya kau ada urusan sebentar apa selama 3 jam itu?" tanya Sasuke penuh penekanan tanpa sedikitpun menoleh pada gadis SMA yang sedang diajaknya bicara itu. "Kau mau kupecat?" lanjutnya sambil kemudian menoleh ke belakang.
'Uuuh... cowok ayam ini...' geram Sakura dalam hati. Kedua tangannya ia remat keerat-eratnya. Mata emeraldnya memincing. "Tidak."
"Sudahlah, Sasuke. Maafkan saja dia. Dia kan masih baru disini" bela Itachi sambil berjalan kearah Sasuke yang terduduk di sofa empuknya.
"Hn?" Sasuke mengernyitkan alisnya. Ditatapnya wajah kakak semata wayangnya itu dengan tatapan mengejek. "Kau mau membelanya lagi, eh? Kalau kau suka padanya, kenapa tidak langsung bilang saja? Pake acara sok membela segala!"
Mata onyx Itachi memincing kearah Sasuke. "Hei, jaga mulutmu itu! Kau tau aku tak suka padanya, kan?" bentak Itachi dengan nada marah. Sesaat wajahnya ditolehkan kearah Sakura yang masih mematung. "Sakura-chan, maaf ya. Sasuke memang kasar. Dia lagi badmood soalnya."
Sakura tersenyum. Ia menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak apa-apa, Itachi-san. Aku juga sudah terbiasa."
"Sakura-chan, bisa kesini sebentar?" panggil Itachi dari ruang tengah pada Sakura yang masih sibuk membersihkan debu-debu yang menempel di perabotan-perabotan rumah Sasuke. mata hijau emerald gadis itu menengok. Ia hentikan aktivitasnya sejenak untuk memenuhi panggilan itu. "Ya, tentu."
"Ada apa?" tanya Sakura ramah begitu ia sampai dihadapan Itachi yang sedang duduk santai disofa ruang tengah bersama majikan pantat ayam Sasuke.
"Kau mau kan menolongku dan Sasuke?" kata Itachi balik bertanya. Sakura mengangguk-angguk. "Tentu saja. Memangnya kalian perlu bantuan apa?" tanya Sakura lagi.
"Tolong ambilkan kotak makanan di dapur. Yang warnanya merah" pinta Itachi sambil menunjukkan tangannya ke dapur. Sakura pun segera berjalan menuju dapur dan mengambilkan barang pesanan kakak dari majikannya itu. Sebuah kotak makanan berukuran sedang yang berwarna merah cerah.
"Ini." Sakura menyerahkan kotak makanan itu pada Itachi sambil tersenyum. Dan si sulung Uchiha itu menerimanya dengan senang hati. "Terimakasih" ucapnya dengan nada lembut.
"Sudah, kan?" tanya Sakura memastikan. Sakura ingin cepat melanjutkan pekerjaannya yang sempat terbengkalai karena terlambat masuk kerja. Gadis itu pun melangkah pergi. Namun tangan besar milik Itachi menahan pergelangan tangan Sakura dan membuat Sakura berhenti berjalan. Berbalik menatap Itachi lagi yang masih tersenyum. "Oh, belum. Duduklah disini."
Sakura mengangguk. Ia pun duduk di tempat yang sudah dipersilakan oleh Itachi. "Apalagi yang kalian perlukan?" tanya Sakura penasaran. Mata emeraldnya terus mengamati tangan-tangan Itachi yang masih mencoba membuka tutup kotak makanan itu. Begitu terbuka, tampaklah didalamnya sekotak penuh keripik kentang berwarna sedikit kemerahan. "Bantu kami menghabiskan makanan ini, ya?" pinta Itachi lagi dengan wajah memelasnya yang sungguh nista.
"Ini kan cuma keripik kentang? Memangnya kalian segitu susahnya makan keripik kentang sampai-sampai butuh bantuanku untuk menghabiskannya?" tanya Sakura semakin bingung.
Tanpa disadari oleh Sakura, mata onyx milik pemuda berambut pantat ayam yang duduk disebelah Itachi itu sedaritadi mengamati setiap gerak-geriknya. "Menghabiskan makanan ini lebih sulit dari yang kau duga, pembantu" katanya tiba-tiba. Sakura tampak sedikit tersentak.
"Heh? Memang apa susahnya makan keripik kentang?" tanya Sakura masih tak percaya. Itachi menghela napas. Sasuke menolehkan wajahnya ke arah wajah Sakura bulat-bulat. "Jangan remehkan makanan itu" kata Sasuke dengan nada sedikit mengancam.
"Kalian ini kenapa sih? Sama keripik kentang aja kok kayaknya takut banget" kata Sakura meremehkan. Itachi cuma bisa terdiam sementara mata onyx Sasuke sudah semakin memincng tajam ke arah Sakura. "Sudah kubilang jangan remehkan keripik kentang itu."
"Ya. Ini keripik kentang spesial buatan Okaa-san. Kalau tidak dihabiskan, bisa-bisa Okaa-san mengamuk-ngamuk" jelas Itachi masih sempat beramah-tamah ditengah aura membunuh yang terpancar dari kedua pemuda didekatnya itu.
"EH?" Sakura tersentak. "Tante Mikoto ternyata begitu ya, orangnya?" tanyanya. Itachi mengangguk-angguk pasrah. "Tapi, kalau cuma menghabiskan keripik kentang, aku bisa bantu."
"Kau yakin bisa membantuku menghabiskannya?" tanya Sasuke dengan nada meremehkan. Sakura menatap majikannya yang dingin itu dengan tatapan kesal. "Tentu saja" jawab gadis pink itu mantap.
"Hn. Kalau begitu kau saja yang makan semuanya sekalian" kata Sasuke singkat. Sakura dan Itachi terdiam sejenak sampai akhirnya tiba-tiba Itachi membentak adik semata wayangnya itu, "Sasuke, jangan jahat begitu!"
Sakura mengernyitkan dahinya tak mengerti. "Aku bingung deh dengan kelakuan aneh kalian! Memangnya segitu seramnyakah keripik kentang ini menurut kalian?" kata Sakura lagi-lagi dengan nada meremehkan. Dua pasang mata onyx Uchiha didepan emerald itu pun langsung memberikan deathglare ampuh mereka. "Ah, baiklah. Terserah kalian."
"Hei!" Nada berat milik Sasuke seakan mengundang Sakura untuk menatapnya. "Ada apalagi, Tuan Sasuke?" tanya Sakura dengan nada kesal.
"Makan juga bagian jatah keripik kentangku" perintah Sasuke pada Sakura. Dan Sakura hanya menjawabnya singkat. "Tidak mau."
"Kau berani membantah?" tanya Sasuke lagi, mencoba membuat Sakura patuh padanya. "Aku berani, Tuan."
"Kau mau kupecat?" tanya Sasuke lagi, dengan ancaman ampuhnya yang pasti akan membuat Sakura patuh seperti biasa. "Tidak."
"Kalau begitu, makan semuanya" titah Sasuke. Sakura menggeleng-geleng. "Tidak mau."
Sakura tersenyum licik, membuat Sasuke bingung. kemudian kata-kata terlarang itu meluncur dari bibir merah merekah Haruno muda itu, "Aku baru sadar kalau ternyata majikanku yang berbadan lebih besar dariku ini tidak berani memakan keripik kentang. Hanya keripik kentang." Dalam lubuk hatinya, emosi Sasuke sudah benar-benar meledak-ledak mendengar kata itu tadi. "Kau menantangku?" tanya Sasuke dengan nada marah. Sakura terkikik geli. Baru kali ini ia melihat majikannya yang bersifat kekanak-kanakan seperti ini.
"Hn. Terserahlah." Dan Sasuke pun mengambek (bahasa tidak baku!!! 8l) seperti biasa. "Sasuke..." suara Itachi terdengar menyebut nama Sasuke.
Sasuke menoleh dengan tampang jengah. "Apa sih, bakaaniki?" tanyanya dengan nada cuek.
"Bagaimana kalau kau dan Sakura-chan berlomba memakan keripik kentang ini?" usul Itachi, sukses membuat Sasuke tersendak. "Yang paling banyak menghabiskannya adalah pemenangnya. Bagaimana?"
"Ogah" jawab Sasuke amat singkat.
"Tapi boleh juga tuh!" ujar Sakura setuju pada usul Itachi. "Hei kau!" pekik Sasuke kaget,
"Apa?" jawab Sakura sambil menatap Sasuke dengan pandangan melecehkan. "Dasar anak kecil!" ejek Sasuke sambil memalingkan wajahnya ke televisi flat besarnya.
"Hei, apa salahku sampai kau mengataiku anak kecil begitu, hah? Sebenarnya siapa sih yang anak kecil? Aku atau kau, orang yang mau makan keripik kentang saja masih minta bantuan orang lain?" omel Sakura panjang lebar.
"Kau benar-benar menantangku, hah?!" bentak Sasuke yang mulai terpancing emosinya. "YA!" jawab Sakura.
"Oke. Mari duel makan keripik kentang!" ujar Itachi sambil senyum-senyum.
"Aku akan menang" bisik Sakura pada Sasuke saat akan memulai lomba makannya. "Bodoh! Terlalu cepat 100 tahun kalau kau mau menghabiskan keripik kentang ini lebih cepat dariku!" balas Sasuke. Sakura memincing. "OHYA?!"
Dan keduanya pun dengan lahap dan rakus menghabiskan keripik kentang di dalam kotak makanan berwarna merah itu, diiringi sorak Itachi sebagai penonton (?).
"HUAAAAAAAH!!!!" Sakura membuka mulutnya lebar-lebar. Seluruh wajahnya memerah semerah tomat. Sasuke menatapnya sambil tersenyum licik.
"Hah hah hah..." Napas Sasuke terengah-engah. Wajah lelaki itu juga sudah mulai memerah seperti Sakura. "Ssss..sudah kubilang kau takkan bertahan..!!"
Sakura menatap majikannya tajam. "Be... berisik..! huh... huh..."
"Ayo, tinggal sedikit lagi, Sakura-chan, Sasuke!" sorak Itachi.
"Diam kau!" bentak Sasuke dan Sakura bebarengan. Itachi langsung terdiam seribu bahasa.
BRAK!!
Sakura tersentak kaget. Bagaimana tidak? Kedua tangan Sasuke tiba-tiba dihentakkan ke meja dengan keras. Sasuke buru mengelap mulutnya dengan punggung tangannya yang putih bersih.
"Ssssh...shh... haaah... kau ini apa-apaan sih?" bentak Sakura sambil terus menahan rasa pedas dimulutnya. "A...aku sudah tak tahan lagi!" kata Sasuke sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Lelaki itu pun dengan buru-buru berlari ke dapur dan menyambar gelas kaca bening berisi air minum. Kemudian meneguknya habis-habis.
"Tu-tunggu..! haah.. ka-kalau begitu... aku... juga menyerah...!" ujar Sakura sambil ikut berlari ke dapur menyusul Sasuke. Itachi terkikik. Pemuda Uchiha yang usil itu pun juga ikut menyusul ke dapur.
"Yah, dua-duanya kalah!" kata Itachi didepan Sasuke dan Sakura yang sedang berebut gelas minum.
DUAAK!!
Berkat pukulan keras dari Sasuke dan Sakura, kepala Itachi pun akhirnya tumbuh benjolan besar.
"Sasuke, buruan dong! Lama banget sih!" kata Sakura sambil mendesah tak karuan. "Nanti dulu. Aku belum selesai" balas Sasuke santai sambil terus meneguk air.
Sakura merebut gelas itu dari Sasuke sementara Sasuke tidak sempat mengelak. "Minta!" Dituangkannya air minum dingin dari botol besar itu ke gelas dan diteguknya dengan terburu-buru.
GLUK!
Itachi diam mematung melihat Sakura meminum air putih dari gelas minum yang tadi dipakai Sasuke itu. "Ah—itu..." Itachi menunjukkan jari telunjuknya ke arah gelas Sasuke yang masih bersentuhan dengan bibir Sakura. "Ciuman tidak langsung, ya?".
BHUUEEEKK!!
Air dalam mulut Sakura langsung muncrat keluar. Sasuke terlihat shock. "APA?!"
Dipojokan ruangan dapur itu, tergeletak seorang pria tampan berambut hitam panjang acak-acakan dengan tidak berdaya. Dari sisi lain, sepasang manusia bernama Sasuke dan Sakura itu sudah jatuh terduduk—juga tak berdaya. Kepala Sakura sedikit menyender pada bahu Sasuke. keduanya terengah-engah. Wajah Sakura masih memerah sejak tadi.
"Akan kupastikan kalau aniki benar-benar sudah mati sekarang!" kata Sasuke sambil meremat kedua tangannya kuat-kuat. "Kau ini... jahat juga... pada kakak sendiri.." ledek Sakura sambil tersenyum lemah.
"Biar saja... orang seperti itu... menyebalkan..." balas Sasuke. Lelaki bermata onyx itu menunduk dan menatap lantai dapur rumahnya dengan tatapan sayu. Rabut emonya tampak begitu acak-acakan.
"Hahaha.." tawa Sakura lirih, mengundang tanya dihati lelaki disampingnya itu. "Kenapa?" tanya Sasuke mengernyitkan alisnya.
"Tidak. Tidak apa-apa" jawab Sakura singkat. "Aku baru tahu kalau keripik kentang buatan tante Mikoto itu pedas sekali! Tidak kelihatan dari wujudnya!"
Tangan kekar Sasuke meraih wajah Sakura dan menutup kedua mata Sakura. Kepalanya perlahan mendekat ke wajah Sakura. Ia dekatkan lagi jarak antara mulutnya dengan telinga Sakura. "Aku sudah memperingatkanmu kan tadi...?" bisiknya lirih.
—tbc—
Chapter 4 sudah selesai. Gaje kan? Gaje kan? Hohoho... kok aku merasa di chapter ini, Sasuke malah jadi kalah cool dari Sakura. apa kalian setuju pendapatku???
Ss : nggaaaaaaaaaaaakk...!!!
Sk : setujuuuuuuuuuuuuuuuuuu!!!!!!!
Dei : 50:50...
Engkau nggak jelas ama sih, Dei-kun...
Dei : bacot!
Hahaha... Dei-kun lagi dapet ya? Kok galak begeto sih?
Dei : enak aja! Emang gue cewek?!
Loh? Emang gender aslinya Dei-kun itu cewek apa cowok?
Ss : hoi, author abal! Gue mau protes ama elo!!
Ya. Protes apa, saudara Sasuke Uchiha?
Ss : perasaan kok gue jadi nista banget sih di chapter ini?
Terserah gue kan?
Sk : he-eh...
Dei : udahlah... bales ripiu aja!
Ho-oh...
Ritsukika Sakuishi : wah wah... ternyata Ritsuka-chan juga malesan kayak Sasu ya? Kalo gitu kita samaan dong! Kamarku juga kayak bangkai titanic (?)
Ruki_ya : ga bisa lagi kubertahan... author ini terlalu kejam... mendingan tadi gue jadi mogoknya aja! Huh! – Saku –
hehe : makasih udah suka fic ini... – Dei –
oi, harusnya gue yang itu!!! Dei-kun kok nyerobot!!?
Dei : bacot!
Tsukiyomi Mizore : gender blended? Kayaknya aa' gak mampu… ugh… jangankan jadi cewek, jadi cowok aja gue ogah! – Sasu –
Sk : - shocked –
Dei : naujubileh… ini makhluk lazy amat sih!
Ss : hahah..
Oi! Sasu, lo kok ikut-ikutan ngerebut jatah gue sih? Yang bikin ceritanya kan gue!
Ss : emang lo bisa bikin yang kayak begitu?
Kagak tauk... ahaha...
Sk : lanjut!
Chiwe-SasuSaku : hmmmm.... hanya Tuhan yang tahu... – SasuSaku –
Beby-chan : udah apdet nih!!! ;DD – DeiDei –
Hyori Sagi : aku juga mau gabung grup anti SasuDei!!!! – Dei –
Ss : nggak boleh.
Dei : knapa???
Ss : karna lo teroris, ntar kalo lo gabung, ntar dikiranya grup kita ajaran sesat lagi!
Orihime Faatin Aikogaara : kula asli wong jogja… tapi ga terlalu fasih basa jawanya! Hahaha!!! Wong jawa ilang jawane deh! – DeiDei –
Haruchi Nigiyama : anda terlalu banyak nanya, saya jadi bingung harus milih siapa – Saku –
And the last review…
DeiDeiDeiSasuSaku : MARI KITA BALES BARENG-BARENG!!!
Evey charen : iya!!! DeiDei orang jawa asal jogja… tapi blasteran antara orang jepara ama orang tegal..
Evey charen : ga ada yang Tanya!
DeiDei : hahaha… cukup sekian. Mohon ripiuwnya!!
