Ga tau mau bilang apa, yang jelas only one…

Thankyouuuu buat para reders yg dah ngereview…

Ehm! Di chap ini sedikit ada bara api'nya…

Tapi maaf, akan sedikit menecewakan…

Gomennasai… end… semoga kalian semua suka…

Prisoner of Love

Author : Meyrin Hawk

Disclaimer : Bleach © Tite Kubo

Pairing : Rukia K. x Ichigo K.

Rate : T

Warning : AU, OOC, Typo

Summary : Cinta… Cinta membuat Rukia meninggalkan Ichigo. Cinta juga membuat Inoue menutup mata terhadap perasaan Ichigo & Rukia. Cinta juga yang membuat Ichigo mengejar Rukia hingga ke Soul Society. Dan… cinta pula yang membuat seseorang dari masa lalu ingin merebut Rukia dari kehidupannya di Karakura & Soul Society.

Chapter 4 : Anxiety

"Pantas saja! Bersikap baik padaku, mengajakku bergabung di pesta, mentraktirku makan. Rupanya ini tujuanmu." Rukia terus menggerutu di sela-sela pejalanan.

"Jangan mengoceh terus, tidak ada gunannya," kata Renji.

"Kau menjebakku, babon! Aku punya urusan lebih penting daripada harus mengikuti misi ini!"

"Sudahlah, Kuchiki. Tenagnkan dulu dirimu," nasehat Inoue.

Ya, ya, ya…

Pagi ini Rukia telah diculik dari ruang kerjannya untuk mnghadap Yamamoto-taichou. Ternyata dengan sengaja Renji telah mengajukan permohonan agar Rukia dilibatkan dalam ekspedisi ke pinggiran hutan di Rukongai.

Sebenarnya itu bukanlah masalah bagi Rukia. Rukia adalah seorang prefesional dalam tugas, ia pasti dengan senang hati mau dilibatkan. Yang membuatnya enggan adalah rekan-rekannya. Rukia pikir, ia hanya pergi berdua saja dengan Renji. Ruanya Ichigo, Orihime, Ishida, serta Sado turut serta dalam misi ini.

Niat awal Rukia mengikuti misi adalah untuk menghindari Ichgio, kini malah berbalik menjadi peluang kebersamaan. Benar-benar mmuakkan…

Rukia benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Ichigo dalam memanfaatkan ksempatan ini. Di Kuchiki Mansion –yang sudah jelas-jelas ada Byakuya saja Ichigo berani mendesaknya, apalagi ditempat yang beribu-ribu meter jauhnya dari Kuchiki Mansion.

"Kyaaa!" jerit Orihime tersandung akar pohon.

"Inoue, kau baik-baik saja?" tanya Ishida.

"Kakiku sedikit terkilir."

"Sepertinya kita memang harus istirahat sekarang, lagi pula matahari akan terbenam," usul Renji.

"Disana!" Sado menunjuk tempat rinang di pinggiran sungai. "Aku melihat tempat yang cocok disana."

"Ayo kita kesana!" ajak Renji. "Inoue, apakah kau masih bisa berjalan?"

"Perjalanan kita masih jauh, jangan paksa Inoue berjalan. Suruh Kurosaki menggendongnya. Kau mau kan Kurosaki?" tanya Rukia.

Ichigo tampak larut dalam lamunannya, ia sama sekali tidak sadar bahwa teman-temannya sedang menuggu jawaban darinya.

"Kurosaki?" ulang Rukia.

"Ah, iya?" Ichigo tersentak dari lamunannya.

"Bagus!"

Rukia bershunpo ke tepian sungai.

"Apa?" Ichigo masih bingung.

"Cepat gendong Inoue, jeruk!" jelas Renji menertawakan kelinglungan Ichigo.

Rukia berjalan ke pinggirang sungai. Gemercik air sungai menimbulkan alunan indah di telinganya. Rukia sungguh takjub melihat bayang-bayangan cahaya matahari terbenam terpantul dari aliran air.

Renji tiada hentinya memperhatikan Rukia. Sudah sejak lama ia tidak melihat Rukia yang seperti ini. Tingkah Rukia sekarang mengingatkan Renji pada kenangan masa kecil mereka.

Rukia berdiri ditengah-tengah sungai. Air sungai yang dangkal merendam kakinya hingga sebatas paha. Ini lebih mirip dejavu ketika Rukia memungut setangkai bunga liar mengalir didepannya. Seperti itu lah Renji pertama kali jatuh cinta kepada Rukia.

Rukia yang kasar, Rukia yang galak, Rukia yang punya tekanan roh lebih kuat darinya, serta Rukia yang selalu kuat seperti anak laki-laki. Semua itu tidak membuat membuat Renji berhenti jatuh cinta kepadanya.

"Te-te-terimakasih, Kurosaki-kun." Orihime tampak kikuk ketika turun dari punggung Ichigo, Ichigo hanya menimpalinya dengan senyum.

Suara Orihime barusan menyadarkan Renji bahwa bukan cuma dirinya yang sedari tadi memperhatikan Rukia. Ichigo juga turut serta. Itu membuat Renji kesal.

Ichigo mengingatkan Renji pada sebuah kenyataan bahwa Rukia sekarang tidak sepenuhnya menjadi miliknya lagi. Sejak Rukia ditugaskan ke Karakura, bocah jeruk itu telah berhasil memasuki hati Rukia scara perlahan.

"Dia milikku, Ichigo. Tidak akan kubiarkan kau memilikinya kalau hanya akan terus membuatnya terluka," gumam Renji.

Di satu sisi, Rukia sadar ia sedang di perhatikan oleh dua orang temannya. Rukia tersenyum. Kalau ia tidak bisa mencegah Ichigo untuk tidak mendekatinya, setidaknya Rukia bisa membuat Ichigo tahu kalau ia tidak ingin berada di dekat Ichigo. Pikir Rukia saat itu.

Rukia berbalik ketepian sungai, ia menghampiri Renji yang berdiri tidak jauh dari Ichigo. Kali ini Rukia tersenyum manis, beda dari biasanya.

"Rukongai distrik 59 dekat sini kan?" tanya Rukia ke Renji.

"Ya. Memangnya ada apa?"

"Ayo kita pergi berdua, Renji."

"Cu-cuma berdua?" Renji setengah tidak percaya.

"Ya, berdua. Aku merasa tidak enak sudah marah-marah padamu tadi. Lagi pula, sudah lama kita tidak mengunjungi makan teman-teman kita. Mau?

Renji tersenyum lebar. Rukia mengajaknya, bukan laki-laki berambut orange itu.

"Oi, teman-teman! Aku pergi berdua dengan Rukia dulu ya!"

Renji pergi penuh semangat, meniggalkan Ichigo yang semakin berwajah cemberut.

mmmmm

"Kata Kuchiki-taichou… kau mulai melirik para bangasawan yang melamarmu ya?" Renji memberanikan diri setelah Rukia selesai berdoa di depan makam teman-temannya.

"Hn, ya."

"Apakah kau ingun menikah dengan orang yang tidak kau kenal, Rukia?"

"Jangan khawatir, Renji. Aku tahu betul dengan pilihan hidupku."

"Tapi… bukannya jauh lebih baik kalau kau menikah dengan orang yang kau kenal."

"Yang aku kenal? Dengan siapa? Kau tahu kan, tidak banyak orang yang merasa pantas bergaul dengan keluarga Kuchiki."

Rukia melempar pandang kearah langit, matahari semakin terbenam. Rukia menemukan alasan agar mereka berdua lekas kembali, ia tidak ingin melanjutkan pembicaraan konyol ini.

"Sudah hampir malam, kita harus kembali," ujar Rukia melewati Renji.

"Bagaimana dengan aku?" tanya Renji tiba-tiba.

Rukia membalikan badanya tanda tidak mengerti.

"Bagaimana dengan aku, Rukia? Kau sudah mengenalku sejak kecil. Aku mau menghabiskan seluruh hidupku di Soul Society bersamamu. Aku mau menikah denganmu, aku mencintaimu…"

Seorang Renji Abarai telah mengakui perasaanya dihadapan Kuchiki Rukia. Perasaan sahabat kini telah berubah menjadi cinta.

Rukia menhembuskan nafas berat. Ia sudah menduga akan menjadi seperti ini. Sejak Renji membantu Ichigo menyelamatkannya dari tiang eksekusi, Rukia sudah mulai menyadari perasaan sahabatnya itu terhadap dirinya.

"Aku mau menghabiskan seluruh hidupku di Soul Society ini bersamamu, Renji. Tapi… aku tidak bisa kalau harus menikah denganmu."

"Kenapa, Rukia? Aku akan berusaha membuatmu mencintaiku kalau kau memberiku kesempatan."

Rukia mengeleng pelan. "Aku menyayangimu, Renji. Sungguh… aku tidak ingin mengubah persahabatan kita menjadi ikatan lain seperti pernikahan."

Renji mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia ingin terus meyakinkan Rukia terhadap perasaanya, tapi ia tahu itu akan jadi sia-sia. Pendirian Rukia tidak mudah diubah bila telah ditetapkan.

"Apakah… karena kau sudah mencintai Ichigo, Rukia?"

Rukia menundukkan kepalanya. Ia harus memilih antara berbohong atau berkata jujur kepada Renji.

"Kau mencintai Ichigo kan?"

"Tidak, Renji." Rukia menatap Renji setenang mungkin. "Ini semua tidak ada hubungannya dengan Ichigo. Ichigo adalah milik Inoue."

Sungguh sulit menjelaskan ekspresi Rukia saat itu. Antara sedih, galau, ataupunputus asa. Renji benar-benar tidak bisa menebaknya.

"Dan aku milikmu, karena aku sahabatmu…" sambung Rukia tersenyum lebar.

"Sudahlah, ayo kita pulang."

mmmmm

Ichigo duduk menyendiri di bawah pohon rindang di pinggiran sungai. Malam telah larut saat itu, semua teman-temannya telah tidur semua. Kecuali dirinya sendiri.

Pekatnya malam seoalah-olah memperolok dirinya. Tentang perasaan Ichigo yang benar-benar kacau. Bukan karena kecemburuannya pada Renji tadi sore, tapi karena ada hal lain yang jauh lebih menyita perhatian Ichigo sejak kemarin.

Kaien.

Nama itu yang terus berputar-putar dikepala Ichigo dari kemarin. Banyak pertanyaan yang muncul dari nama Kaien seorang.

Siapa Kaien?

Bagaimana kisah hidup Kaien?

Dan… kenapa Rukia bisa mencintai Kaien?

Ichigo benar-benar cemburu begitu mendengar nama Kaien meluncur begitu saja dari mulut Rukia. Perasaan cemburunya malah sempat membuat Ichigo ingin membunuh orang yang bernama Kaien. Tapi sebelum hal itu terjadi, Ichigo telah memutuskan untuk mencari jawaban paling tidak satu pertanyaan tentang Kaien. Yaitu…

Siapa Kaien?

Flashback…

Secara diam-diam Ichigo menyelinap ke ruangan taichou divisi 13. satu-satunya petunjuk Ichigo untuk mencari tahu tentang Kaien.

Sekarang dihadapan Ichigo telah duduk taichou divisi 13, Ukitake Juushiro. Laki-laki ramah itu menyambut Ichigo dengan tangan terbuka.

"Nah… apa yang bisa kulakukan untukmu, Kurosaki?"

"Aku ingin tahu siapa Kaien," ujar Ichigo tanpa basa-basi.

Senyum diwajah Ukitake berganti menjadi guratan kecil di dahinya. Nama Kaien sepertinya terdengar berat bagi Ukitake.

"A… pasti ada hubungannya dengan Rukia. Hmm… Shiba Kaien…"

"Dimana aku bisa menemukannya? Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padanya."

"Aku sungguh menyesal, Kurosaki. Kau tidak bisa menemuinya."

"Ke-napa? Aku tidak akan mencari ribut dengannya, aku hanya ingin tahu hubungannya dengan Rukia."

"Dia sudah lama meninggal, Kurosaki."

"Meninggal?"

"Rukia yang membunuhnya."

"Ru-kia? Tidak mungkin! Rukia tidak mungkin membunuhnya!" tolak Ichigo. 'Rukia… mencintainya," lanjut Ichigo dalam hati.

"Haah… memang kedengarannya mustahil, tapi itulah yang terjadi. Kaien sendiri yang meminta Rukia untuk membunuhnya."

"Lalu… apa yang terjadi setelah itu?"

"Pastinya Rukia sangat terpukul, mengingat Shiba Kaien adalah satu-satunya orang yang sangat dekat dengannya. O ya, saat pertama kali melihatmu bermitra dengan Rukia rasanya seperti melihat Rukia saat bersama Kaien. Mungkin karena wajahmu cukup mirip dengan Kaien."

"Mirip? Aku dan Shiba Kaien?"

"Iya. Kalau kau ingin tahu lebih banyak tentang Shiba Kaien, kusarankan kau menemui keluarga Shiba saja. Kau cukup dekat dengan mereka bukan?"

Makam Shiba Kaien

Ichigo berdiri di depan sebuah batu nisan bertuliskan Shiba Kaien, disamping Ichigo telah berdiri Shiba Ganju tengah menatap lurus batu nisan kakaknya.

"Jadi… kau tidak ingin menceritakannya padaku, Ganju? Kau tahu, ini sangat berarti bagiku," kata Ichigo mencoba meyakinkan Ganju.

"…"

Dilirknya sekilas Ganju. Masih diam dan berwajah serius. Sama sekali tidak memberikan tanda bahwa ia akan bicara.

"Haah… baiklah! Aku akan tanya pada Kukkaku saja. Aku yakin dia akan lebih terbuka," ujar Ichigo mulai beranjak pergi.

"Kakak sangat mencintainya," akhirnya Ganju buka suara.

"Hingga akhir hayat, wanita yang dicintainya tetaplah wanita shinigami itu. Hah! Aku tidak habis pikir, bisa-bisanya Kak Kaien lebih mecintai wanita lain ketimbang istrinya sendiri."

"Apakah istrinya atau Rukia tahu tentang perasaannya?"

"Tentu saja tidak. Kak Kaien menyimpam perasaannya rapat-rapat hingga akhir hayat."

"Kau… membenci Rukia?"

"Sulit untuk tidak membencinya, Ichigo. Aku masih mengingat jelas ketika gadis shiningami itu membawa mayat Kak Kaien kerumah. Bau amis darah bercampur hujan tercium jelas, dengan dingin dia mengatakan 'aku yang membunuh kakakmu'. Kebencianku langsung bertambah saat itu juga, walaupun… Kak Kaien cukup bahagia bisa meninggal di tangannya."

Flashback end…

'Aku akan membuatmu mencintaiku, Rukia. Bukan karena aku mirip Shiba Kaien, tapi karena aku memang Kurosaki Ichigo,' batin Ichigo terlihat muram.

Namun…

Semenit kemudian muncul seringai kecil di bibirnya. Rupanya ada sesuatu yang cukup menghibur untuk dilihat tengah malam seperti ini, pikir Ichigo.

mmmmm

Lima belas menit sudah Rukia membenamkan tubuhnya hingga sebatas leher di sungai. Ia sengaja memilih waktu tengah malam ini untuk berada disana, karena pada jam seginilah teman-temannya sudah terbuai oleh mimpi mereka masing-masing.

Hari ini cukup melelahkan bagi Rukia. Ia harus menghadapi perasaan Renji, dan Rukia sudah menolaknya. Belum lagi Rukia harus menahan kecemburuannya ketika melihat Ichigo mengendong Orihime.

Cukup aneh.

Padahal Rukia sendirilah yang menyuruh Ichigo untuk menggendong Orihime.

"Sepertinya hawa disini sedikit panas ya."

"Shirayuki?" Rukia sedikit tercekat melihat sosok Sode no Shirayuki telah berubah wujud menjadi seorang wanita cantik duduk mengambang diatas air.

"Kau sedang cemburu kan?"

"Cemburu? Cemburu pada siapa?"

"Bocah nekad itu."

"Maksudmu Ichigo?"

"Memangnya siapa lagi? Semakin lama dia semakin hebat."

Rukia mencibir. "Hebat apanya? Satu tahun terjebak di Karakura sama sekali tidak memberi kesempatan baginya menghadapi Hollow. Kemarin saja dia langsung cedera begitu mnghadapi Hollow."

"Kau tidak sadar, Rukia-chan? Waktu dia menggodamu di kamarmu, shunpo'nya semakin cepat. Dan sekarang… dia sudah bisa menghilangkan jejak tekanan roh miliknya dengan sangat baik."

"Yah, kuakui kemampuan shunpo'nya semakin cepat," aku Rukia tersipu malu karena kembali mengnang kejadian ketika Ichigo merayunya (baca chapter 2). "Tapi…. Tunggu dulu! Apa maksudmu dengan kata 'sekarang'?"

Shirayuki tersenyum simpul, membuat Rukia sulit menerjemahkan arti senyumannya.

"Apakah… Ichigo disini? Sekarang?" tanya Rukia pelas dan sedikit cemas.

"Yap! Tepat di belakangmu, di bawah pohon sebelah kiri," bisik Shirayuki.

"Tenang saja, dia tidak bisa melihatku kok. Hmm… tapi… dia bisa melihatmu," goda Shirayuki sebelum menghilang.

Cepat-cepat Rukia memutar tubuhnya, membuktikan kebenaran kata-kata Shirayuki.

"Kurosaki!" jerit Rukia sedikit tertahan.

Shirayuki berkata benar. Ichigo memang berada di bawah pohon, memandang langit yang sama sekali tidak ada bintangnya.

"Ada apa?" tanya Ichigo malas. Ia benci dipanggil Kurosaki oleh Rukia.

"Sedang apa kau disana?"

"Kau tidak bisa lihat sendiri ya?"

Rukia menyipitkan matanya tanda curiga. "Kau mengintipku mandi?"

"Tch, buat apa aku mengintipmu! Asal kau tahu saja ya, aku jauh lebih lama disini. Bahkan seblum kau datang dan melepas pakaianmu dipinggiran sungai, aku sudah satu jam lebih lama darimu."

"Heh! Yang dirugikan itu aku. Seharusnya aku yang marah, bukannya kau!"

Ichigo sedikit tertawa. "Kau tidak sadar ya? Kaulah yang merugikan dirimu sendiri. Kalau kau tidak memanggilku, aku tidak akan menoleh ke arahmu. Atau… jangan-jangan ini adalah bagian dari rencanamu."

"Rencana?"

"Kau ingin menggodaku ya, Rukia? Kau ingin aku bergabung di air?" tanya Ichigo tersenyum lebar.

"Ichigo!" geram Rukia mulai berjalan ke tepi untuk menghajar Ichigo.

"Terus saja maju!" seru Ichigo menghentikan langkah Rukia. "Lihatlah! Kau semakin terlihat olehku."

Rukia melirik dirinya sendiri. Rupanya langkahnya tadi membuat air yang merendam tubuhnya telah mencapai batas pundaknya.

Muka Rukia kini merah karena menahan emosi, sementara Ichigo asyik menertawakan ktidak berdayaan Rukia.

Kalau saja Rukia tidak di dalam air, dan kalau saja Rukia berpakaian lengkap, mungkin Rukia sudah menghajar Ichigo habis-habisan.

"Kau terlihat konyol disana. Malam-malam dingin malah berendam, itu kan bukan air hangat. Cepat naik dan berpakaianlah!"

"Ugh! Balikan badanmu!"

"Ya, ya, ya…" dengan patuh Ichigo membalikkan badannya.

"Oi, Rukia! Sudah?" tanya Ichigo beberapa menit kemudian.

Tak!

Tulang kering Ichigo terasa nyeri berkat tendangan Rukia.

"Rukiaaa! Sakit!"

"Itu hukuman untukmu karena sud… hmp!"

Tiba-tiba saja Ichigo membekap mulut Rukia dengan tangannya, menarik Rukia bersembunyi di balik pohon.

"Hmp!" Rukia mencoba melawan.

"Ssst!"

"Apakah ada orang disini?"

Sosok Ishida Uryuu muncul dari kegelapan menuju pinggir sungai.

Baik Ichigo maunpun Rukia, nafas keduanya sama-sama tertahan. Tidak ada yang berani bergerak dari tempatnya.

'Tunggu dulu! Kenapa aku harus ikut-ikutan bersembunyi bersama jeruk sialan ini?' pikir Rukia berniat menampakkan dirinya pada Ishida.

Gerakan Rukia terbaca oleh Ichigo. Dengan sigap tangan kekar Ichigo telah meraih pinggang Rukia agar merapat padanya.

"Huaaah… seprtinya aku salah dengar tadi. Lebih baik aku tidur lagi," ujar Ishida meniggalkan pinggiran sungai.

Beberapa menit kemudian Ichigo melepaskan tangannya dari mulut Rukia, ia yakin Ishida sudah berada jauh dari sana.

"Baka! Kenapa kau mengajakku bersembunyi, Kurosaki?" marah Rukia tanpa sadar kalau tangan Ichigo masih melingkar di pinggangnya.

"Haah… panggil aku Ichigo, kalau tidak kau akan menyesal."

"Buat apa? Namamu memang Kurosak…"

Kata-kata Rukia terhenti karena Ichigo mendekatkan wajahnya dengan gerakan cepat. Mungkin kalau sedikit lagi Ichigo maju, bibir mereka akan bersentuhan.

"Kurosaki?" tanya Ichigo tepat didepan bibir Rukia. "Kau sangat menyukai nama itu, Rukia-chan?"

"…" Rukia diam.

Rukia takut bila sedikit saja bibirnya bergerak, maka akan bersentuhan dengan milik Ichigo. Ia yakin makhluk orange ini hanya ingin menggodanya.

"Kau menginginkan nama itu? Aku bisa membawamu pulang ke Karakura malam ini juga, dan… aku jamin besok kau sudah berubah menjadi Kurosaki Rukia, istri Kurosaki Ichigo. Itukah yang kau mau, Rukia?"

"…" Rukia mencoba menghidari kontak mata dengan Ichigo, ia tidak ingin terhanyut oleh pesona seorang Kurosaki Ichigo

"Kau tahu, Rukia? Kau semakin membuat kesabaranku habis."

"Kuro… hmp!"

Rukia tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Ichigo telah menutup bibir Rukia dengan bibirnya. Menguasai bibir Rukia seolah-olah hanya milik Ichigo seorang.

"Ichigo…" desah Rukia sulit bernafas.

Ichigo sama sekali tidak memberikan kesempatan banyak untuk Rukia bernafas. Rukia bisa sedikit mengambil nafas ketika Ichigo melepaskan ciumannya, itupun cuma sebentar. Setelah itu Ichigo kembali menghujani Rukia dengan ciumannya.

Ichigo terlampau kalut. Ia bahkan sudah menghancurkan rencananya untuk merebut ciuman pertama Rukia disaat gadis itu telah mengakui perasaanya pada Ichigo.

"I.. chi… go…"

Ichigo tidak mendengarnya.

Semua situasi yang Ichigo hadapi, membuatnya ingin bergerak lebih cepat. Ia benci di abaikan, ia benci Rukia lebih memilih bersama Renji ketimbang dirinya, dan ia benci mendengar Rukia mencintai Kaien.

Shiba Kaien.

Sungguh kebencian Ichigo banyak tertanam di nama itu.

"I…chi…"

Rukia berciuman pertama kali dengan dirinya, Rukia membalas ciumannya, dan yang Rukia sebutkan sekarang juga adalah namanya. Tapi kenapa hanya Kaien yang bisa Rukia cintai?

"Ichigo… to-long… jang..an terla-luu… ce-pa.." Rukia terus berusaha berbicara di sela-sela ciuman Ichigo.

Ichigo mendengarnya.

Rupanya Rukia telah menyerah dan mengiukuti keinginan Ichigo. Rukia sadar, ia tidak berdaya menolak ciuman dari Kurosaki Ichigo. Karena Rukia juga menginginkannya. Hanya saja keinginan itu selalu Rukia kubur dalam-dalam.

"Kemari…" bisik Ichigo menyandarkan Rukia di pohon agar Ichigo bisa lebih lama menahani Rukia supaya tidak merosot kebawah.

Merka berdua sudah satu tahun menyimpan kerinduan, serta sentuhan kulit mereka yang terus bergesekan memberi rangsangan bagai listrik statis. Tentu saja kedua hal itu saling mendukung tidakan gila mereka untuk terus dilanjutkan.

Nafas keduanya terputus-putus, sungguh ini diluar kendali mereka berdua. Namun meskipun begitu, belum ada yang berminat untuk menghentikan semua itu.

"Tidak! Jangan berheti…" rengek Rukia hendak meraih punggung Ichigo.

Ichigo sebenarnya juga tidak ingin behenti, ia ingin meraih Rukia lagi kedalam pelukannya, ia ingin lebih lama mencium Rukia. Tapi tangan seseorang telah mencengkram kerah shikakuso'nya dari belakang. Menarik paksa Ichigo agar menjauh dari Rukia.

"Berhenti menyentuhnya, Kurosaki!" ujar seseorang dengan mata berkilat meninju rahang Ichigo.

To be continued…

Duh… tobat Mey…

Bulan puasa buat yang kek ginian…

Fuih… ^_^'

Maaf mengecewakan,

Mey terpaksa membuat ada pengganggu di bagian 'first kiss'nya, karena belum saatnya untuk bergerak lebih maju…

Oiya…

Di ch 3 en ch 4 masih bebayang-bayang gitu orang ke-3 nya, ntar di ch 5 bakalan lebih diperjelas kug…

Bagi yang dari kemaren berharap Ashido tuk jadi orang ke-3, Mey cuma bisa bilang maaf…

Ashido emang keren en cakep… tapi dia ga lulus audisi waktu dah nyampe final kemaren… kehidupan Ashido terlampau misterius…

Trus kalu Mey buat Ashido, ntar alur ceritanya jadi ga cocok ma pemikiran Mey…

Gomen…

Oaky,

I need review…