Beberapa saat rumah Naruto hening, tanpa ada satu suara pun, kecuali suara semut, ya Cuma orang beriman yang bisa denger. Gaara pun langsung menatap Shikamaru sambil mengerutkan keningnya seolah mengerti apa yang telah direncanakan Shikamaru.

"Jadi.. rencana lo apa?"Naruto mulai memasang wajah parno nya.

"Bego, kalau otak lo jalan, pasti lo bisa langsung ngerti rencana gue."sambil menatap Naruto.

"Sejak kapan otak bisa jalan? Kalau kaki ya mungkin aja."balas Naruto sambil memonyongkan bibirnya dengan mata melirik Shikamaru.

"Tunggu apa lagi? Sms sekarang aja."kata Sasuke sambil menatap hp yang dipegang Shikamaru.

"Okee, tenang aja."Shikamaru pun mulai mengetik pesan dari hp nya.

"Sebenernya rencana lo apa sih, gue nggak ngerti?"Naruto pun celingak-celinguk menatap mereka bertiga, sementara Kiba yang sama-sama nggak tau, Cuma diem-diem aja, biar dikata ngerti gitu.

"Masih belum ngerti juga? Dasar autis!"ejek Sasuke, Naruto pun langsung menoleh kearah Sasuke tanpa berkedip.

"Dasar, nih ya gue jelasin hal yang sebenernya nggak perlu dijelasin, ngerepotin aja, ini kan hp Temari, kalau kita kirim pesan ke bokap Gaara, ngajak ketemu, otomatis bokap Gaara pasti mau ketemu, Karena dia pikir ini pesan dari Temari, ya dia mana tau kalau kita yang kirim, nah ini peluang kita buat mempertemuin Gaara ama bokapnya."sambil terus mengetik pesan di hp.

"Ohh, gitu ya."

"Dasar bego, Kiba aja ngerti."kata Shikamaru sambil menatap Kiba.

"Yaa, e.. iya dong, rencana cemen kayak gitu, konohamaru aja pasti tau."Kiba pun tertawa terbahak-bahak, Naruto hanya menyipitkan matanya menatap Kiba dengan sinis seolah mencurigai Kiba.

"Sekarang jam berapa?"Shikamaru melihat jam yang ada disebelah tempat tidur Naruto.

"Udah jam 09.30, kenapa?"kata Naruto sambil melihat jam.

"Kata bokap lo, kita ketemuan jam 10.30, berarti sejam setelah ini."sambil menatap Gaara. Gaara hanya menunduk dengan lesu.

"Hehe, lo pasti seneng banget kan? Bisa ketemu bokap lo lagi?"Naruto pun nyeringai menatap Gaara. Gaara hanya membalas tatapan Naruto, seolah membenarkan apa yang dikatakan Naruto.

"Cepet siap-siap, ini pertemuan pertama kan?"Shikamaru menatap Gaara.

"Perlu didandan nggak nih? Biar gue dandan mirip gue."Sasuke nyeringai, bola mata Naruto pun langsung terfokus ke wajah Sasuke.

"Haaah, nggak usah, malu-maluin aja, daripada mirip lo, mending gue yang dandan mirip Tonton."

"Jadi lo mau dandanin gue mirip babi?"Gaara mempertajam tatapan matanya. Naruto hanya bisa membalas tatapan Gaara dengan senyum khasnya dengan bunyi gigi, 'cling'

.

.

.

Gaara mulai berjalan menuju sunagakure diikuti teman-temannya. Naruto dan yang lainnya terus berdoa agar pertemuannya berhasil (idih lebay) Setelah melihat sosok yang berdiri tegak didepan ayunan, Naruto dan yang lainnya pun langsung sembunyi dibalik batuan pasir. Gaara berdiri tepat dibelakang ayahnya. Menyadari ada seseorang dibelakang, ayah Gaara pun langsung menoleh kebelakang, dan terkaget melihat sosok yang telah lama tidak menampakkan dirinya kini telah berada dihadapannya.

"Kenapa kamu disini? Mana Temari?"sambil terheran-heran menatap Gaara. Gaara hanya terdiam tanpa sepatah kata pun sambil terus menatap ayahnya.

"Aku tidak berniat bertemu denganmu."sambil membelakangi Gaara. Gaara kembali terdiam sambil menundukan kepalanya.

"Tak ada yang mau ku katakan padamu Gaara."Gaara pun mengangkat wajahnya seraya menatap wajah ayahnya.

"Sejak awal, ibumu nggak pernah mau bertemu denganmu, dia telah meninggal dengan tenang tanpa ada kau didekatnya. Dia tidak pernah menganggapmu anaknya, dan tidak pernah mengharap kau lahir kedunia ini."sambil terus membelakangi Gaara.

"Tapi.."perkataan Gaara langsung dipotong.

"Cepat pulanglah."sambil menoleh Gaara yang berada dibelakangnya.

"Apa?"Gaara mengerutkan keningnya tanda tak terima perlakuan ayahnya.

"Pergi."kembali membelakangi Gaara.

"Tapi ayah.."

"Jangan panggil aku ayah."sambil berlalu dari hadapan Gaara. Gaara hanya tercengang menyaksikan pertemuan sesaat antara dia dan ayahnya. Naruto dan teman-temannya pun langsung menghampiri Gaara yang masih membatu tanpa bergerak sedikit pun dari tempat tadi.

"Gaara? Elo.."Kiba tak sanggup berbicara apa pun kepada Gaara.

"Ayo pulang."Gaara pun berlalu dari hadapan teman-temannya sambil terus menunduk, mereka tak tau apa ekspresi yang ditunjukan Gaara pada saat itu, tapi yang mereka tau, pasti kecewa berat yang dirasakan Gaara. Naruto pun tak terima hal itu, dan berusaha mengejar ayah Gaara, tapi Gaara telah mengetahui hal itu, dia pun menyeret kaki Naruto dengan pasirnya.

"Hei, Gaara? Apaan lo?"sambil terus terseret pasir.

"Jangan ikut campur Naruto, kalian cuma cukup bantu sampe sini."Gaara terus berjalan tanpa menoleh teman-temannya. Sasuke pun membantu Naruto berdiri.

"Kita biarin Gaara sendiri dulu, untuk sementara pikirannya pasti lagi kacau."kata Shikamaru ikut membantu Naruto. Mereka pun terdiam dan membiarkan Gaara meninggalkan mereka.

.

.

.

Pagi itu disekolah, tampak murid-murid memadati kelas-kelas. Naruto pun hampir terlambat datang kesekolah, emang biasa telat kok. Dia berlari sekencang-kencang mungkin menuju kelasnya. Saat sampai dipintu kelas, dia menatap seluruh teman-temannya yang duduk mengobrol di kursi. Tapi Naruto kehilangan satu sosok temannya.

"Loh, Gaara belom dateng?"sambil berjalan menuju bangkunya.

"Gaara nggak masuk, katanya demam menggigil gitu deh, tadi Kankuro-senpai yang anter suratnya."kata Kiba sambil mengerjakan pr. Naruto pun mengerutkan keningnya menatap Kiba.

"Lo lagi apa?"

"Nih, ngerjain pr dari Guy-sensei."sambil terus mengerjakan pr nya.

"Emang punya pr ya? Sini gue liet."kata Naruto sambil mengambil buku yang dicontek Kiba.

"Udaah, gue tau, lo pasti nggak bikin kan?"sambil kembali mengambil buku yang dipegang Naruto.

"Emang nggak bikin, bodo amat, palingan dihukum lari keliling lapangan basket."sambil duduk bermalas-malasan dikursinya.

"Eh, pulang sekolah nanti jenguk Gaara yuk."usul Shikamaru pada teman-temannya.

"Boleh juga tuh, gue juga nggak punya kerjaan."sambung Sasuke.

"Boleh-boleh, lumayan tuh, dapet makanan dari Gaara, biasanyakan orang sakit kan, banyak diantar makanan, aseeeeek."kata Naruto sambil berjoget-joget sendiri.

"Yee, yang ada, harusnya kita bawa makanan buat dia, bukannya minta makanan kedia."Shikamaru menjitak Naruto. Sekolah pun selesai, semua siswa berhamburan lari keluar. Padahal baru aja Naruto masuk kelas, eeeh udah pulang, mau juga ada sekolah kayak gitu..

.

.

Tok tok tok

Bunyi pintu sebuah rumah diketok, Kankuro pun membukakan pintu untuk tamunya.

"Haduh, kirain siapa, ngapain kalian?"bentak Kankuro seolah sedang tidak menerima tamu yang datang.

"Jelek banget, kita mau ketemu Gaara."Kiba pun langsung nyelonong masuk.

"Siapa yang nyuruh lo masuk, ayoo pulang-pulang."Kankuro pun menarik tangan Kiba sampai keluar rumah.

"Kenapa sih?"Kiba melepaskan tarikan tangan Kankuro.

"Gaara nggak mau diganggu, ngerti?"

BRAK

Keadaan hening sesaat, mereka saling berpandangan satu sama lain.

"Kenapa dia sewot banget, biasanya nggak pernah gitu."kata Kiba sambil membersihkan pasir yang ada dilengannya.

"Pasir?"pikir Shikamaru dalam hati.

.

.

.

Naruto, Shikamaru, Sasuke dan Kiba pun mulai berjalan-jalan mengelilingi perkampungan. Kaki mereka terus berjalan melangkahkan kaki tanpa henti, Naruto yang merasa kelelahan pun mulai menghentikan langkahnya.

"Aduuuh, udah deh, gue capek! Kita tuh mau jenguk Gaara, bukannya keliling kampung!"sambil terduduk diatas tanah.

"Kan Kankuro bilang Gaara nggak mau diganggu, berisik banget lo."bentak Kiba.

"Kalian berdua bisa diem nggak?"bentak Sasuke pula.

"Coba kita dateng sekali lagi, siapa tau aja Gaara udah mau ketemu kita."pinta Naruto sambil merengek.

"Tadi kita udah diusir Kankuro, mau diusir lagi?"jawab Kiba yang merasa kesal dengan Naruto. Shikamaru mulai kesal dengan mereka bertiga dan membuang wajahnya. (dibuang kemana?) tatapan matanya pun tertuju pada kakak-kakak kelas mereka yang baru pulang sekolah. Shikamaru terdiam sesaat dan kemudian matanya terbelalak seperti telah mengetahui sesuatu.

"Apa?"teriak Shikamaru yang membuat tiga temannya terkejut.

"Apanya yang apa? Ngagetin gue lo."kata Naruto sambil mengusap dadanya..

"Sekarang kita kerumah Gaara."Shikamaru mulai berjalan meninggalkan temannya.

"Setujuuuuu."teriak Naruto dengan senangnya sambil mengikuti Shikamaru.

"Apa?"kata Sasuke heran.

"Balik lagi?"Kiba pun ikutan heran.

.

.

.

Tok tok tok

Pintu kembali diketok, dan kali ini Temari lah yang membukakan pintu.

"Ahh, Shikamaru.."perkataan Temari terhenti karena Shikamaru langsung nyelonong masuk.

"Mana Gaara? Gaara dimana?"perkataan Shikamaru membuat teman-temannya bingung.

"Gaara?"Temari mengerutkan keningnya.

"Iya, Gaara dimana?"

"Bukannya Gaara biasa main sama kalian, emangnya dia nggak pulang bareng kalian ya?"Temari pun kembali mengerutkan keningnya.

"Apa? Emangnya tadi dia berangkat sekolah?"Kiba pun terheran-heran.

"Iya, emangnya kenapa?"

"Loh, tadikan Kankuro anter surat sakitnya Gaara ke kita."Sasuke pun menunjukan surat yang tadi dibawa Kankuro. Temari langsung mengambil surat itu dan membacanya.

"Malahan, tadi kita diusir Kankuro."Temari langsung menatap Kiba.

"Kankuro?"

"Itu bukan Kankuro, tapi itu Gaara."semua temannya menatap Shikamaru dengan heran.

"Gaara? Maksudnya."Sasuke yang cerdas pun ikutan nggak ngerti.

"Tadi Kankuro narik tangan Kiba kan, dan pasir tertinggal dibaju Kiba, dan tadi gue liet kakak kelas kita baru pulang, otomatis Kankuro juga baru pulang, dengan kata lain, Kankuro yang sejak tadi itu bukanlah Kankuro, tapi itu Gaara."jelas Shikamaru.

"Jadi apa maksud Gaara?"Sasuke masih belum mengerti.

"Itu gue nggak tau."

"Gaara? Apa lagi yang dia rencanain?"Temari menunduk kebawah.

"Apa ini gara-gara kemaren."ceplos Naruto.

"Kemaren? Maksudnya?"Temari langsung mengangkat kepalanya dan menatap Naruto.

"Iyaa, kemaren.. WADAAAW!"perkataan Naruto terpotong karena kakinya diinjak Shikamaru.

"Nggak ada apa-apa kok, kami permisi dulu."sambil menarik tangan Naruto dan teman-temannya yang lain. Temari hanya menatap kepergian mereka dengan penuh pertanyaan.

.

.

.

"Gila lo, ini kan rahasia kita sama Gaara."Shikamaru terus mengoceh nggak jelas.

"Maaf deh."kata Naruto sambil memegangi kepalanya yang ditumbuhi 3 benjolan by Shikamaru, Sasuke dan Kiba.

"Jadi kita cari Gaara dimana nih?"Sasuke menghentikan perdebatan temannya.

"Jangan-jangan Gaara bunuh diri lagi."sambung Kiba.

Beltak !

"Gue juga bingung, karena emang Gaara orangnya tertutup banget, jarang cerita masalahnya."kata Shikamaru.

"Iya juga, Gaara bukannya tertutup, tapi dia itu pendiem."Sasuke menatap Shikamaru.

"Iya, dia pendiem."sambung Naruto.

"Hei kalian, gue kok ditinggalin?"Kiba pun menyusul ketiga temannya itu sambil memegangi kepalanya yang habis dijitak Shikamaru.

"Gue coba telpon deh."Naruto pun mengeluarkan hp dari saku celananya. Dan sebuah buku note terjatuh dari sakunya.

"Apaan tuh?"kata Sasuke sambil memungut note itu.

"Aduuuh, gue lupa, tadi kakashi-sensei nyuruh gue ngasih ke nenek Tsunade."sambil mengambil note itu dari tangan Sasuke.

"Ya udah, kita langsung kasih aja ke Tsunade-sama."Kiba menarik tangan Naruto.

.

.

.

Sampainya di ruangan Tsunade-sama.

"Permisi dulu."

"Udaah, langsung masuk aja, biasanya gue juga begitu."Naruto pun langsung memegang gagang pintu dan membukanya. Dan betapa kagetnya mereka..

"Haaa, elo?"mata Naruto pun terbelalak.

"Ngapain kalian disini?"

"Harusnya kami yang nanya, ngapain lo disini? Sampai-sampai nggak sekolah dan nyamar jadi Kankuro."bentak Kiba.

"Ketahuan ya?"Gaara pun menatap keempat temannya.

"Gaara?"Shikamaru menatap Gaara.

"Klan nara emang jenius, pantes aja jadi saingan kejeniusan klan uchiha."kata Gaara yang telah mengetahui terbongkarnya penyamaran ini karena Shikamaru.

"Hei hei hei, jangan berisik diruangan ku."bentak Tsunade-sama yang sejak tadi tidak mereka hiraukan.

"Ahh, maaf Tsunade-sama."sambil membungkukan tubuh.

"Jadi begitu."sambil melipat kedua tangannya dan mengangguk.

"Apa lagi Naruto?"Tsunade-sama mengangkat satu alisnya.

"Hebat juga ya nenek Tsunade, bisa pacaran ama Gaara."spontan tangan Tsunade-sama langsung melayang, alhasil Naruto pun ikutan melayang. Keempat temannya langsung ketakutan melihat Tsunade-sama yang menyeramkan.

"Jangan dengerin, gue Cuma ada perlu sebentar."Gaara mulai berdiri.

"Kok lo nggak cerita, kami kan temen lo."Sasuke merangkul tangan Gaara.

"Kayaknya ada sedikit yang nggak mau gue ceritain."

"Loh, kenapa?"Kiba mengerutkan alisnya.

"Mana Naruto? Belum balik?"Gaara menatap keluar berusaha mengalihkan perhatian teman-temannya.

"Tolooooooong…."kata Naruto sambil babak belur.

"Hahaha, rasain lo."teriak Kiba sambil tertawa terbahak-bahak.

"Naruto? Mana note dari kakashi."Tsunade-sama pun menghampiri Naruto.

"Ahh, iya, lupa, ini note nya."sambil memberikan note itu pada Tsunade-sama.

"Baik terimakasih."sambil mengambil notenya.

"Haa, ini ngerepotin aja."kata Naruto sambil meletakan kedua tangan kepinggangnya.

"Nah Gaara, sekarang kamu boleh pulang."

"Makasih Tsunade-sama."Gaara pun meninggalkan ruangan Tsunade-sama diikuti teman-temannya.

.

.

.

"Eh Gaara, lo abis ngapain sih keruangan nenek Tsunade?"

"Nggak kenapa-napa."Naruto pun menatap Gaara yang memasukan sesuatu kedalam tas gentongnya. Tiba-tiba dari kejauhan tampak Kiba sedang berlari.

"Iya deh Akamaru sorry, dagingnya gue ambil, kalau mau, tangkep gue dulu."sambil berlari dengan wajah menoleh kebelakang. Kiba terus berlari dan tanpa sadar..

BRAK….

Kiba menabrak Gaara hingga mereka berdua jatuh tersungkur.

"Waah, Gaara, sorry sorry."sambil berdiri dan berusaha membantu Gaara berdiri.

"Udah, nggak usah bantu gue, ambilin tas gue."pinta Gaara sambil menunjuk tasnya yang berhamburan dilantai.

"Apaan nih?"kata Naruto sambil mengambil sesuatu yang keluar dari tas Gaara.

"Ini kan obat, tapi obat apa ya?"kata Shikamaru sambil melihat sesuatu yang dipegang Naruto.

"Balikin."Gaara langsung bergegas berdiri dan mengambil benda tersebut dari tangan Naruto.

"Obat? Lo beli obat buat siapa Gaara?"Shikamaru mendekati Gaara. Gaara hanya terdiam sambil kembali menyembunyikan benda itu kedalam tasnya.

"Gaara, sorry…"kata Naruto pelan.

"Jangan ngomong sama gue."sambil melototi Naruto DLL dan langsung pergi menjauh dari mereka.

"Gaara? Tunggu dulu."Sasuke pun menyusul Gaara.

"Ini bukan urusan kalian."wajah Gaara pun mengisyaratkan bahwa dia tidak ingin teman-teman berada didekatnya. Teman-temannya pun menghentikan langkah mereka dan diam membatu.

.

.

.

"Gaara? Lo abis dari mana."Temari telah menyambut Gaara didepan pintu.

"Maksud lo?"

"Ini apa?"Temari menunjukan sepucuk surat yang diberikan Sasuke tadi kehadapan Gaara.

"Ngapain lo nulis surat sakit? Seharian ini lo kemana aja kalau lo nggak sekolah, kenapa baru pulang sekarang?"Gaara pun langsung mengambil surat yang dipegang Temari.

"Pernah gue bilang kan? Jangan urus masalah gue!"sambil mencengkram kertas ditangannya.

"Gaara?"Temari pun menatap Gaara dengan sendu. Beberapa saat mereka berpandangan, Gaara langsung berbalik dan masuk ke kamarnya. Temari hanya menatap Gaara tanpa mampu mengatakan sepatah kata pun.

"Gue pulang nih…"sambil masuk kedalam rumah, Kankuro pun langsung disambut suasana dingin oleh Temari.

"Kenapa lo?"sambil menatap Temari yang masih mengeras didepan pintu masuk. Temari hanya menatap Kankuro, lalu kembali terdiam.

"Kenapa sih? Gue nggak tau apa-apa juga."Kankuro pun langsung menuju kamar Gaara dan membuka pintu.

"Gaara, gue masuk ya."sambil mengintip didepan pintu, kepala didalam kamar, sisa badannya diluar. Sisa yang lainnya nggak tau kemana. Gaara menatap Kankuro dan mengangguk pelan.

"Kenapa sih? Kok lo aneh banget dari kemaren?"sambil duduk di tempat tidur dan melihat Gaara yang berdiri didepan jendela.

"Nggak."

"Cerita aja, gue kan kakak lo."

"Ayah.."Gaara kembali terdiam. Mata Kankuro pun terbelalak mendengar perkataan Gaara.

"Gue mau ayah denger, gimana sebenernya gue cinta sama dia, gue mau buktiin, gue bisa jadi apa yang dia mau."lagi-lagi mata Kankuro pun kembali terbelalak, bahkan kali ini udah hampir keluar.

"Maaf ya Gaara."sambil menunduk lesu, Gaara pun langsung menoleh kebelakan menatap Kankuro.

"Untuk?"

"Nggak apa-apa kok."sambil cengegesan. Gaara menatap Kankuro dengan tajam, tiba-tiba Kankuro langsung berubah menjadi dua, kemudian tiga, dan semakin banyak, pandangan Gaara pun berubah menjadi gabur, Kankuro bergegas menghampiri Gaara karna merasa ada yang aneh dengan Gaara.

"Gaara, kenapa lo?"sambil berdiri didekat Gaara.

"Kankuro, tolong…"tiba-tiba tubuh Gaara menjadi lunglai dan sulit untuk menyeimbangkan berat tubuhnya sendiri, alhasil Gaara pun langsung tersungkur dan dengan sigap Kankuro menangkap tubuh Gaara sebelum menyentuh lantai.

"Temari… Temari…"teriak Kankuro dengan keras. Tak lama kemudian Temari datang sambil tegopoh-gopoh.

"Apaan sih, teriak-teriak, lo panggil sekali juga gue pasti…"mata Temari langsung terfokus melihat Gaara.

"PINGSAAAAAAAN!"

"Hah, makanya gue nggak mau manggil lo sekali, yang ada ntar lo pingsan lagi."

"Bukan, maksud gue yang pingsan Gaara."

"Enak aja, gue nggak manggil Gaara sekali kok, dia pingsan sendiri, bukan gara-gara gue, lo asal nuduh nih."

"Lagian siapa yang nuduh lo! Gue kan Cuma bilang Gaara pingsan aja."sambil bertekan pinggang.

"Lo emang nggak nuduh, tapi secara nggak langsung, mata lo bilang gitu."sambil menunjuk mata Temari.

"Sejak kapan mata gue bilang gitu?"Temari menaikkan nada suaranya.

"Sejak tadi, nah sekarang malah matanya bilang, pelototin Kankuro, iya kan? Mendingan lo ngaku deh."

"Nih anak ya, cari gara-gara kayaknya."sambil menggulung lengan bajunya.

"Lo yang mulai, kenapa gue yang cari gara-gara."tak lama kemudian, Gaara langsung terduduk dari posisi tidurannya. Reflek mata Kankuro dan Temari langsung meloncat keluar.

"Ahh, berisik."sambil memegangi dadanya. Beberapa saat ruangan itu menjadi hening.

"Gaa.. Gaara, lo udah sadar?"Temari pun menghampiri Gaara.

"Ngapain kalian berdua teriak-teriak dikamar gue? Awas aja kalau pasir-pasir disini pada longsor."Gaara mulai berdiri.

"Gaara.. lo nggak apa-apa kaan?"kata Kankuro dan Temari serentak sambil memeluk Gaara.

"Aduuh, lepasin, gue bisa sesek napas nih."sambil melepaskan pelukan kedua kakaknya itu.

"Hahaha, maaf-maaf."kata Kankuro sambil garuk-garuk kepala.

"Gue mau tidur, kalian bisa keluar?"pinta Gaara.

"Gue nggak mau keluar."jawab Kankuro.

"Kalau gitu, bisa ninggalin gue sendiri dikamar?"

"Nah, kalau yang itu, bisa."sambil berjalan keluar.

"Bego, kan sama aja."Temari pun ikut berjalan keluar, tapi tanpa sengaja Temari menedang sebuah botol, Temari pun langsung mengambil botol itu dan melihat tulisan yang ada disisi luar botol. Melihat hal itu, Gaara langsung mengambil botol itu dengan pasirnya.

"Punya gue."sambil menggenggam botol tersebut.

"Gaara, itu kan obat… jadi selama ini lo pakai itu untuk.."

.

Apakah yang akan dikatakan Temari? Akankah Temari mengetahui penyakit Gaara, dan apa yang akan dilakukan Gaara?

To be continue


o genki desu ka minna? ^_

udah lama tak jumpeeee (ayam guriiiiiiing) :P

huftt, sebenernya udah lama sih chapter 4 ini selese, yeeaa tapi apa boleh buat, pulsa modem kagak ada (jadi maliuuuu) tapi akhirnya berkat yasinan tadi malem, chapter ini bisa di publihs ugaaaa ^^ #kemplak

moga yang baca seneng, yang nulis puyeng, hehehe

buat dr.k == fojushi apa sih? #kemplak hehe, kagak uga sih ya, naruto ma gaara temenan doank, pasti ngirainnya gaara ama naruto pacaran yaa? nggak mungkin la, pacar gaara kan aku :P (fans gaara, kalau mau bejek-bejek aku ga papa kok, hehe)

buat Rewinsan == hehe, kepikiran lah, kalau nyulik kamu, entar ribet lagi :P bertahan gak yaaa? mikir dolo yaah, hehehe

makasih nih review nyaaaa _ domo arigato dr.k ama Rewinsan :** baca aja terus ya, walau rada-rada kagak nyambung.. hehe

ja mata ne minna ^_