Tepat tengah malam, Luhan terbangun dari tidurnya. Ia juga tak tau kenapa, hanya saja ada sesuatu dalam kepalanya yang memaksanya untuk berpikir meskipun sebenarnya ia tak ingin.
Dan itu membuatnya terjaga –menghilangkan semua rasa kantuknya.
Saat Luhan membuka mata lebar-lebar, ia mendapati Sehun tidur di samping tubuhnya. Tangan kanan pria itu berada di bawah leher Luhan sedangkan tangan kirinya memeluk tubuh mungilnya. Pria itu memiringkan tubuhnya hingga Luhan bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Luar biasa tampan.
Masih setia memandangi wajah Sehun yang tertidur pulas, pikiran Luhan kembali berkelana jauh meninggalkan tubuhnya.
Luhan tak tau, hanya saja, ada keresahan yang tak bisa ia sembunyikan sejak tadi sebelum ia terlelap.
Tentang Oh Sehun yang mendadak saja menciumnya dengan lembut.
Dalam hati Luhan tertawa sendiri karena ia tampak seperti gadis remaja yang bodoh, hanya karena memikirkan ciuman singkat itu, sama sekali bukan seperti dirinya sendiri.
Memang, anggap saja, Luhan adalah gadis jalang yang sudah tidur dengan kembarannya dan juga orang asing yang barus saja ia kenal –Sehun. Jujur saja, Luhan pernah mencium banyak pria di luar sana. Ia bisa membedakan bagaimana seorang pria yang menciumnya penuh nafsu dan pria yang menciumnya dengan penuh perasaan.
Luhan sudah ahli membedakan itu semua.
Ia bisa merasakan bagaimana Kris menciumnya dengan lembut, bagaimana Kris seolah-olah takut saat menciumnya. Seolah-olah Kris menganggap Luhan adalah benda rapuh yang bisa remuk kapan saja.
Atau mungkin, batin Kris mengatakan hal yang sebaliknya saat mencium Luhan. Gadis itu pernah berpikir bahwa jauh di dalam diri Kris, pria itu tak ingin memperlakukannya seperti ini –seperti seorang gadis yang bisa ia tiduri kapan saja dimana saja. Kris pernah bilang ia ingin hubungannya dengan Luhan sama seperti hubungan saudara orang lain yang normal –bukan saudara yang saling berbagi tubuh.
Dan Luhan sangat memahami hal itu.
Jadi, Luhan memutuskan ciuman lembut yang selama ini Kris berikan hanya sebagai pertanda bahwa pria itu ingin melindunginya sebagai saudara atau mungkin juga hanya sekedar menyalurkan nafsu semata.
Hal itu sudah jelas Luhan pahami dan sejauh ini tak menjadi masalah.
Tapi..
Ciuman Sehun yang tadi itu berbeda.
Anggap saja ini berlebihan, tapi ia belum pernah dicium pria dengan luapan perasaan seperti itu.
Sebelumnya, saat ia berniat untuk meniduri Sehun, Luhan pikir ini akan sama dengan meniduri orang lain, hanya sekedar melampiaskan nafsunya yang sering mendadak menjadi gila. Luhan sama sekali tak berpikir bahwa ternyata perasaannya campur aduk saat Sehun menyentuhnya.
Terlebih saat Sehun menciumnya dengan lembut dan penuh perasaan seperti beberapa jam yang lalu.
Jujur saja, Luhan bukan gadis penggemar drama dan novel roman picisan yang tergila-gila dengan pria yang menciumnya, tapi entah mengapa, dengan ciuman singkat Sehun, jantung gadis itu menggila.
Jantungnya berdetak cepat seolah-olah ia sedang jatuh cinta.
Bagaimanapun akal sehatnya menyangkal, perasannya tak bisa berbohong. Pikiran dan hati Luhan tak bisa menemukan jalan searah, semuanya berkebalikan, membuat perdebatan aneh di dalam diri gadis itu.
Bodoh sekali.
Luhan ingat ia pernah merasakan perasaan seperti itu saat bersama cinta pertamanya –dan itu sudah lama sekali, hingga ia mungkin agak lupa dengan rasanya.
Sekarang, rasanya seperti nostalgia aneh tentang perasan itu, dan itu bukan perasaan yang menyenangnya –terlebih, Sehun sebenarnya masih pria asing untuknya.
Bayangkan saja, mereka saling kenal kurang dari satu minggu.
Mungkin sebelumnya pikiran Luhan tentang Sehun hanya sekedar ingin merasakan pria itu, tapi sekarang, Luhan juga tidak tau mengapa ia merasakan debaran aneh pada jantungnya sendiri.
Bahkan sekarang, saat ia hanya melihat Sehun tertidur sambil memeluknya.
Detak jantungnya perlahan meningkat.
Apakah ini jatuh cinta? Luhan tak berani memutuskan.
"Kau belum tidur?" tanya Sehun dengan mata terpejam rapat dan suara parau yang jelas. Pria itu mengeratkan pelukannya pada Luhan, membuat lamunan Luhan buyar.
Tanpa sadar, Luhan tersenyum, ia menggeser tubuhnya sedikit untuk menatap pria itu. "Kau belum tidur?" Luhan balik bertanya dengan suara bisikan.
"Kau bergerak-gerak gelisah daritadi," Sehun membuka matanya, menatap Luhan dengan pandangan sayu. "Kau baik-baik saja?" tanyanya lagi, suara pria itu masih terdengar sedikit serak.
Anggukan Luhan terlihat kaku, ia membiarkan Sehun menepuk-nepukkan telapak tangan di punggungnya. "Aku baik-baik saja," balas Luhan singkat.
Sehun terkekeh ringan, menarik gadis itu agar lebih rapat pada tubuhnya, dan menempelkan dagunya pada puncak kepala Luhan. "Kau masih lelah?"
"Tidak," balas Luhan cepat. "Aku baik-baik saja," ulang gadis itu sambil menempelkan wajahnya pada dada Sehun, membiarkan bibir Sehun mengecupi puncak kepalanya.
Ia tersenyum, tentu saja, masih dengan jantung berdebar cepat.
Ada apa denganku sebenarnya.
"Maafkan aku, Lu," bisik Sehun.
Luhan tak mengerti, mungkin pendengarannya bermasalah, atau kemampuan pemahaman bahasanya menghilang. Tapi begitu saja, ia menarik dirinya dari tubuh Sehun untuk menatap pria itu dengan pandangan sulit di artikan.
Ada ribuan pertanyaan yang mengakar di wajah Luhan tanpa Sehun pahami.
"Sehun," panggil Luhan dengan bingung, Sehun memandangi Luhan dengan pandangan aneh.
Kenapa ini menjadi canggung?
"Tak seharusnya aku menidurimu," ucapnya ringan, jemarinya menelusuri pipi Luhan yang hangat. "Itu pasti membebanimu, kan?"
Tidak. Bukan itu masalahnya, Oh Sehun.
Luhan sama sekali tak mempermasalahkan pria yang tidur dengannya –bahkan ia pernah one night stand dengan pria asing dan itu bukan masalah baginya. Luhan menganggap dirinya sendiri bukan gadis baik-baik –dan sekali lagi, itu sama sekali tidak menganggunya.
Demi Tuhan, Luhan bersumpah, ia baik-baik saja meskipun Sehun menidurinya.
Luhan menggeleng setelah ia memberikan sedikit jeda kepada dirinya sendiri untuk berpikir. "Mengapa kau mempermasalahkan itu?" bisik Luhan masih menatap Sehun dengan heran. "Bukannya aku yang memaksamu melakukannya?"
Sehun menggeleng ringan, tersenyum pada gadis itu. "Tetap saja, kupikir itu salah," Sehun berhenti sebentar untuk merapikan rambut Luhan yang agak berantakan. "Tak seharusnya aku menidurimu, Luhan,"
"Kau menyesali itu?" balas Luhan dingin, tak bisa menyembunyikan rasa kecewa yang perlahan mengambil alih perasannya, yang perlahan tapi pasti menguasai hatinya.
Sehun tersenyum lagi, perlahan mengecup dahi Luhan. "Aku tak pernah menyesal karena menidurimu," Sehun tersenyum, tapi Luhan tau ada kegelisahan yang berusaha Sehun sembunyikan dibalik senyum manisnya.
Dengusan ringan keluar dari bibir Luhan tanpa ia sadari, nyaris terdengar seperti ejekan singkat yang samar. "Mengapa kau mempermasalahkannya, bukannya kau pernah meniduri banyak gadis asing di luar sana?"
Senyuman Sehun tercetak lagi di bibirnya –dan itu nyaris membuat jantung Luhan meloncat keluar sekarang. "Aku menghargaimu Luhan, sungguh," jemari Sehun kembali menyapu pipi Luhan yang tirus. "Dan aku menidurimu seperti pria brengsek,"
"Aku tak pernah menganggapmu begitu," balas Luhan singkat, menyentuh jemari Sehun yang berada dipipinya. Gadis itu melepaskan tangan Sehun dari sana, sementara Sehun menatapnya dengan keragu-raguan yang jelas.
"Aku tau kau tak akan menganggapku begitu. Hanya saja, aku benar-benar ingin menjagamu," bisik Sehun dengan suara lembut yang berat. Pria itu menyangga kepalanya dengan siku agar dapat melihat Luhan dengan jelas.
Dan Luhan tak tau mengapa ia merasa Sehun sedang menolaknya, secara tidak langsung, pria itu tidak menginginkannya.
"Kau tak perlu meniduriku, aku tak akan memintamu melakukannya," balas Luhan acuh, perlahan memejamkan mata.
"Apa jangan-jangan sekarang kau menganggapku menyesal telah melakukan itu padamu, Luhan?" bisik Sehun dengan suara agak keras dari sebelumnya, Luhan tidak menjawab. "Mungkin ini terdengar konyol karena kita baru saja bertemu, tapi kurasa aku harus melindungimu,"
Luhan mencibir. "Kau mulai terdengar seperti Kris," bisiknya acuh.
"Luhan, aku–,"
"Tidurlah, Sehun. Aku lelah," balas cepat, ia memejamkan mata dan membalik tubuhnya menghindari Sehun.
Membiarkan pria itu memandanginya dengan bingung dan membiarkan perasaannya bercampur aduk dalam keresahan yang amat di dalam dirinya.
Luhan tak tau, ucapan Sehun barusan membuatnya merasa aneh. Seolah-olah ia sedang merasa ditolak oleh seseorang yang ia cintai.
Berlebihan?
Memang Luhan merasakan hal itu.
Bahkan ia sendiri merasa itu aneh.
Bagaimana ia bisa menganggap Sehun seperti orang yang dicintainya padahal mereka baru saja bertemu. Hanya karena ciuman manis Sehun yang singkat, berhasil membuat Luhan bingung dengan perasaannya sendiri.
Sebelumnya, Luhan bukan gadis yang mudah jatuh cinta pada pria manapun.
Tapi kenapa ia merasa Sehun mengubah semua itu.
Sama sekali tidak masuk akal, Sehun dan Luhan tak saling kenal sebelumnya.
Bagaimana bisa Luhan secepat ini jatuh cinta pada Sehun
Sementara Luhan masih berdebat dengan dirinya sendiri, ia tak menghiraukan Sehun yang memeluknya dari belakang.
Pikirannya terlalu lelah untuk peduli.
.
.
Luhan menggeliat malas saat matahari pagi menusuk indera pengelihatannya. Ia meregangkan otot-ototnya yang kaku, kemudian membuka mata, dengan malas, menyandarkan tubuh pada bantalan ranjang. Separuh tangan menyentuh ranjang bagian Sehun tidur yang masih agak hangat.
Sehun tidak meninggalkannya semalam.
Luhan sedikit lega tanpa ia sadari, tapi dalam hati masih berdebat tentang perasaan aneh pada pria itu.
Ia menggelengkan kepala beberapa kali untuk membuang pikiran bodohnya, kemudian memaksa diri sendiri untuk bangkit dan berjalan cepat menuju kamar mandi.
"Pagi, Luhan," teriak Kris dari meja makan saat Luhan turun dari tangga setelah sesi mandi yang singkat.
"Pagi," balas Luhan singkat, berjalan menuju meja makan dimana Kris dan Sehun sudah mengunyah makanan mereka terlebih dahulu.
Luhan menggeser kursi di sebelah Sehun dan duduk begitu saja, mengabaikan dua orang pria yang sedang menatapnya dengan pandangan aneh. Perlahan, Luhan memasukkan makanan ke dalam mulutnya tanpa suara, dengan sebelah tangan memegang ponsel dan jari-jari yang bermain-main di atas layar menyala itu.
Diam-diam, Kris dan Sehun bertukar pandang. Kemudian kedua pria itu sama-sama mengangkat bahu.
"Kemana kau hari ini, tumben sekali sepagi ini sudah rapi?" tanya Kris, memperhatikan Luhan yang sudah mengenakan kemeja berwarna merah muda tanpa lengan dan rok pendek jauh di atas lutut.
Luhan melirik Kris sekilas, kemudian kembali memandangi ponselnya. "Ada sesuatu yang harus kukerjakan di kantor,"
"Bukannya kau baru mulai kerja minggu depan?" tanya Sehun.
Luhan mengangkat bahu acuh. "Mereka bilang aku bisa masuk sebelum minggu depan untuk adaptasi," pandangan Luhan masih fokus menatap layar ponselnya, sementara bibinya sibuk mengunyah potongan sausage.
Lagi-lagi Kris dan Sehun bertukar pandang.
"Jadi kau akan ke kantor hari ini?" tanya Kris lagi, berusaha memecah keheningan yang mendadak saja menjadi canggung.
Kris rasa, Luhan aneh pagi ini, begitu pula dengan yang Sehun rasakan.
Luhan mengangguk singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.
"Aku akan mengantarmu, aku libur hari ini," Sehun menawarkan diri.
Luhan menggeleng ringan. "Tak perlu. Temanku akan menjemputku," balas Luhan dengan satu senyuman tipis yang langsung menghilang.
"Sejak kapan kau punya teman?" tanya Kris dengan rasa penasaran yang tak bisa ia sembunyikan lagi.
Luhan memandangi pria itu singkat. "Aku pernah tinggal disini, ingat?" ucapnya ringan. "Terima kasih makanannya, temanku sudah menunggu di luar," tambah Luhan, gadis itu dengan cepat berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.
"Perasaanku saja atau memang dia sedang menghindar?" tanya Sehun saat Luhan sudah keluar dari ruangan.
Kris mengangkat bahu. "Apa aku melakukan kesalahan?" sama bingungnya dengan Sehun.
Sehun menggeleng ringan. "Apa dia pernah melakukan yang seperti ini sebelumnya?"
"Tidak sering. Hanya jika dia punya masalah besar, ia akan melakukan protes yang seperti itu. Mengabaikan orang sekitarnya," jelas Kris.
Kening Sehun berkerut dalam. "Ada apa dengannya?" bisiknya seolah berbicara dengan dirinya sendiri.
.
.
"Dari mana saja kau, Luhan?" tanya Kris saat gadis itu baru saja membuka pintu. Kris duduk di depan televisi yang mati dengan kedua tangan menyilang di depan dada, sedangkan Sehun sedang menggambar di lantai.
Sehun menghentikan kegiatannya untuk sekedar menatap Luhan.
"Bukankah aku sudah mengatakanmu tadi pagi?" balas Luhan acuh dengan bahasa yang tak Sehun pahami, ia melepaskan sepatu tingginya dan melemparkannya begitu saja.
Kris membuang napas berat. "Apa saja yang kau lakukan di kantor? Ini nyaris tengah malam," ucap Kris lagi, nada suaranya agak tinggi dari sebelumya, Sehun menatap Kris dan Luhan bergantian, merasa bodoh karena tak tau apa yang sedang mereka bicarakan.
Luhan menatap kedua pria itu bergantian dengan kening berkerut. "Aku bukan anak kecil Kris, berhentilah mengomeliku," balasnya.
"Aku hanya khawatir karena ponselmu mati. Apakah itu salah?" Kris berdiri dari duduknya, kali ini suaranya terdengar agak keras tanpa ia sadari.
Dengan pandangan angkuh yang tak bisa ia sembunyikan lagi, Kris menunjuk Luhan dengan jari telunjuknya.
"Tak perlu bertingkah seolah kau kakakku, Kris," omel Luhan, terdengah angkuh.
"Luhan," bentak Kris dengan suara keras, sekarang Sehun tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Sudahlah, aku lelah," balas Luhan acuh, ia berjalan menuju tangga.
"Luhan, aku belum selesai bicara," teriak Kris dari lantai bawah, berusaha meredam kemarahan terhadap saudara kembarnya itu.
Luhan mendengus malas. "Taipi aku sudah selesai," ucapnya ringan, nyaris seperti gumaman singkat, kemudian berjalan cepat menuju kamarnya sendiri di samping kamar Sehun.
Sehun dan Kris saling bertukar pandang, kemudian kedua menggelengkan kepala singkat, sama sekali tak mengerti apa yang sedang Luhan pikirkan. "Ada apa dengan gadis itu?" tanya Kris, kali ini dengan bahasa yang Sehun pahami.
Sehun mengangkat bahu acuh. "Apa yang kalian bicarakan?" tanyanya bingung.
Kris menggeleng ringan, memijat keningnya sendiri dengan ekspresi kesal yang jelas. "Bukan sesuatu yang penting," balasnya. "Apa dia sedang melakukan protes sekarang?" tanya Kris mengambang, seolah-olah itu pertanyaan yang tak membutuhkan jawaban.
Dengan otak tumpulnya, Sehun berusaha berpikir. "Keberatan jika aku berbicara dengannya?" tanyanya pada Kris.
"Kau perlu meminta ijinku?" balas Kris kesal, Sehun hanya mengangkat bahu. "Dia masalahmu juga sekarang," tambahnya.
Dengan satu hembusan napas berat, Sehun berdiri, perlahan berjalan menuju tangga.
Sehun berdiri tepat di depan pintu kamar Luhan, masih berdebat dengan dirinya sendiri untuk memutuskan berbicara dengan Luhan atau tidak. Ragu-ragu, Sehun melirik kea rah Kris, tapi pria jakung itu sama sekali tidak memberikan bantuan.
Kris malah masuk ke dalam kamarnya setelah mengucapkan kata 'good luck' tanpa suara.
Sangat membantu.
Sebenarnya Sehun sendiri tak tau mengapa ia merasa perlu berbicara dengan Luhan. Hanya saja, sejak percakapannya semalam, Luhan berubah. Jadi ia pikir, ini ada hubungannya.
Rasanya Sehun salah bicara semalam, tapi ia tak bisa mengingat apa yang ia katakan pada Luhan.
Dalam hati, Sehun mulai merutuki otaknya yang tumpul dan kadang tak berguna disaat-saat penting seperti ini.
Dengan hembusan napas berat sekali lagi, Sehun mengetuk pintu kamar Luhan. Ia menunggu beberapa detik, tapi tak ada jawaban dari dalam sana.
"Luhan, aku perlu bicara denganmu," ucap Sehun dari balik pintu Luhan yang tertutup. Masih tetap tidak ada jawaban dari dalam sana setelah beberapa detik Sehun menunggu. "Aku akan masuk," balas Sehun –berbicara sendiri, Sehun membuka pintu kamar Luhan yang tak terkunci.
Gadis itu berada di atas ranjangnya, dengan ponsel di tangan dan kedua kaki berada di atas tembok. Luhan memutar tubuhnya untuk melihat Sehun sedikit, tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia kembali menatap layar ponselnya.
"Luhan, kau baik-baik saja?" tanya Sehun bodoh. Kemudian merutuki dirinya sendiri setelah mengatakan hal itu.
Sehun memang bodoh, ingatkan Luhan tentang hal itu.
Luhan mengernyit heran. "Memangnya aku kelihatan sakit?" balasnya acuh.
Sehun perlahan berjalan mendekati gadis itu, lalu duduk di pinggiran ranjangnya. "Ada apa denganmu sebenarnya?"
"Aku baik-baik saja," balas Luhan acuh.
Sehun menghembuskan napas keras, terdengar seperti dengusan. "Luhan, kau berubah sejak tadi pagi. Ada apa?" tanya Sehun lagi.
"Sudah kubilang aku baik-baik saja," nada suara Luhan terdengar sedikit tinggi.
"Jujur saja, apa aku melakukan kesalahan?" ucap Sehun, Luhan tidak menjawab –memperhatikan saja tidak. "Luhan," panggil Sehun lagi dengan suara agak keras. "Jangan mengabaikanku," ucap Sehun lagi
Luhan masih saja bermain dengan ponselnya.
"Luhan," Sehun berteriak kali ini, cukup keras hingga ia bisa melihat bahu Luhan bergerak karena terkejut.
Luhan melirik pria itu. "Aku lelah Sehun, pergilah," balasnya malas.
"Aku benar-benar tak mengerti denganmu, Luhan. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa aku melakukan salah?" Sehun mengatakannya dengan suara yang cukup keras sekarang, nyaris seperti teriakan frustasi.
Ia tak habis pikir dengan gadis dihadapannya itu.
Luhan mendengus malas, kemudian menarik tubuhnya untuk duduk. "Kau tidak melakukan kesalahan apapun," Luhan menatap Sehun dengan pandangan malas.
Sehun memejamkan mata untuk meredam emosi yang mendadak saja muncul di dalam dirinya. "Jika ini ada hubungannya dengan yang semalam–,"
"Tidak ada, diamlah," potong Luhan setengah berteriak.
Sehun benar-benar tak bisa menahan emosinya lagi sekarang, dengan begitu saja, ia mendorong Luhan hingga punggung gadis itu menempel tembok di belakang tubuhnya. Luhan meringis, merasakan nyeri di punggungnya yang beradu dengan tembok keras.
Dengan sebelah tangan, Sehun mencengkeram bahu Luhan kuat-kuat. Gadis itu hanya mengernyit menahan rasa sakit di bahunya karena tangan Sehun. Luhan menatap Sehun dengan kening berkerut dalam, sedangkan Sehun tak bisa menyembunyikan amarah melalui tatapan matanya.
"Aku tak ingin memaksamu, Luhan. Tapi ini tak adil," bisik Sehun dengan suara geraman yang jelas. Kedua tangannya masih mencengkeram bahu Luhan.
Samar, Luhan dapat melihat rahang pria itu mengeras.
"Sehun," bisik Luhan setengah merintih. "Lepaskan aku," rengeknya.
Sehun membuang napas berat, satu kali, kemudian mengendurkan cengkeramannya. "Jika perkataanku semalam menyakitimu, aku minta maaf," ucapnya dengan suara pelan. "Aku tidak tau apa yang terjadi denganmu dan ini membuatku gila," geraman Sehun terdengar mengerikan sekarang.
Luhan menatap pria di hadapannya itu dengan pandangan menantang yang jelas. "Kau tak salah apapun, ini kesalahanku,"
"Luhan–,"
"Bisa kita bicara besok. Aku lelah," potong Luhan cepat.
Sehun membuang napas berat, satu kali.
Perlahan, Sehun melepaskan cengkeramannya dari bahu Luhan, membiarkan gadis itu mendesah lega dan menatap Sehun dengan pandangan mengintimidasi. "Kita akan bicara besok," ucap Sehun mengulangi perkataan Luhan.
Luhan menatapnya dengan kening berkerut dan Sehun memilih untuk keluar dari kamar Luhan.
Dengan segudang pertanyaan yang memenuhi kepalanya.
.
.
"Kris, apa Luhan pernah mengabaikanmu saat kau selesai menidurinya?" pertanyaan Sehun membuat Kris nyaris mengeluarkan makanan di mulutnya.
Umpatan tipis terdengar dari bibir Kris.
Ia batuk-batuk panjang beberapa kali, kemudian menuding Sehun dengan chopstick-nya. "Ini masih pagi, makan dulu," Kris menggelengkan kepala beberapa kali dengan heran.
"Bukan begitu. Luhan mengabaikanku. Kupikir itu karena aku menidurinya," balas Sehun dengan kening berkerut dalam, ia mengunyah makanannya dengan gerakan lambat, masih memasang tatapan berpikir yang jelas.
Kris berpikir sejenak. "Belum pernah dia mengabaikanku setelah aku menidurinya. Bahkan dia yang selalu memintaku melakukannya, mengapa harus dia yang marah?" Kris sama berpikirnya dengan Sehun sekarang.
Sehun menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali. "Aku tak mengerti jalan pikirannya," balas Sehun. "Apa aku melakukan kesalahan?"
"Apa kau mendorongnya terlalu kasar kemarin dan itu menyakitinya?" ucap Kris dengan kekehan ringan.
"Jika itu sebabnya, maka itu akan menjadi masalahmu. Kau yang terlalu keras mendorongnya," balas Sehun acuh, kembali memasukkan makanan ke dalam mulut, sedangkan Kris tertawa. "Aku tak habis pikir dengan ini," bisiknya lagi.
Kris menghembuskan napas kesal. "Sudahlah, biasanya dia akan kembali seperti semula. Mungkin sedang ada masalah,"
"Apa dia sedang datang bulan?" tanya Sehun bodoh.
Kris hanya geleng-geleng kepala. "Terserah kau saja. Kau bisa membuatku terlambat dengan perbincangan tidak penting ini,"
Sehun hanya mendengus ringan, pria itu mengabaikan Kris dan melanjutkan makan dengan pikiran yang tidak fokus.
.
.
Sehun masih saja mondar-mandir di depan televisi yang menyala. Hari sudah hampir siang dan Kris sudah pergi sejak beberapa jam yang lalu, sedangkan Luhan masih saja belum keluar dari kamarnya. Jujur saja, Sehun bingung menentukan sikap untuk menghadapi Luhan.
Pikirannya masih mencoba menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi dengan Luhan.
Apa yang sudah ia katakan pada Luhan, Sehun sama sekali tak ingat.
Seingatnya, Luhan baik-baik saja sebelum ia tidur –bahkan Luhan meminta Sehun menemaninya tidur. Luhan juga menceritakan kisah hidupnya pada Sehun, gadis itu tidak menolak saat Sehun menciumnya.
Lalu semenjak percakapan singkat tengah malam itu, Luhan berubah.
Sehun ingat ia ingin memperlakukan Luhan dengan baik, ia juga mengatakan ingin menghargai Luhan sebagai seorang wanita.
Apakah perkataannya itu salah?
Sehun tak mengerti.
Tepat saat pikirannya kalut, Luhan keluar dari kamarnya. Gadis itu menggunakan kaus pendek dengan celana olahraga berwarna biru tua yang hanya menutupi paha bagian atasnya. Sehun memandangi Luhan dengan senyuman ringan, kemudian melambaikan tangan seperti orang bodoh.
Luhan menatap Sehun dengan bingung, kemudian berjalan menuruni tangga.
"Kau bangun terlambat pagi ini," ucap Sehun pelan, Luhan hanya mengangkat bahu acuh. "Kau perlu sarapan?" tanyanya.
Luhan menggeleng cepat. "Aku tidak lapar,"
"Kau ingin bicara denganku sekarang?" Sehun menawarkan diri, tersenyum pada gadis itu sekali lagi.
Kening Luhan berkerut dalam, gadis itu berjalan menuju Sehun dan duduk di sofa, membiarkan Sehun berdiri di hadapannya. Sehun menurunkan tubuhnya hingga berlutut di depan tubuh Luhan untuk menyejajarkan wajahnya dengan wajah Luhan, ia hendak menyentuh jemari Luhan, tapi dengan cepat gadis itu menepisnya.
Sehun tersenyum lagi, menatap Luhan dengan pandangan lembut, membiarkan Luhan mengepalkan kedua tangan di atas pahanya.
"Ada apa denganmu?" tanyanya dengan suara lembut. Luhan tidak menjawab, pandangan gadis itu menggambarkan rasa kesal yang tak bisa Sehun pahami. "Luhan, tak bisakah kau memberiku petunjuk?"
"Aku baik-baik saja," balasnya acuh.
"Itu bukan jawaban," balas Sehun, nada suaranya masih datar dan lembut. "Aku tau saat kau tidak baik-baik saja. Berhenti membohongiku,"
"Ini masalahku Sehun, kau tak seharusnya ikut campur," balas Luhan dengan suara rendah yang tenang, mengalir tanpa arus seperti sungai dalam.
Sehun memandangi gadis itu dengan tatapan serius yang belum pernah ia tunjukkan kepada Luhan sebelumnya. Sehun berhenti sebentar untuk mengamati wajah Luhan lekat-lekat, ia tak tau jika tatapannya terkesan mengintimidasi, tapi Sehun hanya ingin Luhan melihat kesungguhannya.
Tanpa ia sadari, Luhan mengerjap gugup saat Sehun menatapnya seperti itu.
"Tentu saja aku harus ikut campur. Aku tau mungkin semalam perkataanku menyakitimu, Luhan. Aku tidak bermaksud seperti itu," bisik Sehun dengan suara lembut, pria itu menyentuh kedua tangan Luhan –kali ini tidak ditepis.
Sehun tau saat rahang Luhan mengeras dan gadis itu menggigit bibir bawahnya. "Aku tak mengerti apa yang kau katakan," balas Luhan acuh, memilih untuk tidak menatap Sehun.
"Aku mengatakan seperti itu bukan berarti aku tidak menginginkanmu, Luhan," Sehun berhenti sebentar untuk meremas tangan Luhan. "Aku hanya ingin menjagamu," tambah Sehun. Luhan hanya menjawab dengan dengusan singkat, sedangkan Sehun terkekeh. "Kupikir aku jatuh cinta padamu," bisik pria itu.
Luhan diam, ia menatap Sehun dengan pandangan menyelidik yang jelas. Ia berusaha mencari-cari kebohongan di wajah Sehun dan Luhan tak menemukan apapun. Mendadak saja, ia tertawa, terdengar angkuh dan asing.
Seolah-olah itu bukan Luhan.
"Lucu sekali," ucap Luhan disela tawanya.
Kening Sehun berkerut dalam. "Kau percaya cinta pandangan pertama?"
"Omong kosong," sahut Luhan acuh, menyentak tangan Sehun kasar dan berjalan meninggalkan pria itu.
Dalam hati berbisik..
Tentu saja, aku percaya karena aku mengalaminya.
Entahlah, Luhan tak tau. Ia hanya merasa sekarang Sehun sedang merayunya.
Dan perkataan pria itu tak lebih dari bualan.
.
TBC
.
Ih apaan sih ini kok jadi manis-manis asem gini ceritanya~ ini tadi hasil membiarkan pikiran Author berkelana bersama hunhan tapi jadinya kok begini banget ya. Semoga saja readers tidak mual dan kecewa pas baca cerita ini.
Ada yang mau ngasih masukan atau ide? Komentar? Saran? Silahkan sampaikan di kolom review ya~
Ke depannya, apakah Luhan sama Sehun bersatu dengan cepat? Author masih belum bisa menjawab. Hehe.
BTW, terima kasih buat para readers yang mendukung Author masalah plagiat kemarin. Semoga ke depannya nggak ada lagi cerita yang dicuri.
Sekian terima kasih sudah membaca dan mereview. Sampai jumpa di chapter depan.
With love,
lolipopsehun
