.
.
.
.
'Manusia rata-rata memiliki dua wajah yang berbeda...'
.
.
.
'Yang pertama untuk mengikat orang-orang yang ada disekitarnya. Lalu yang kedua untuk menunjukkan sifat mereka yang sebenarnya!'
.
.
.
.
"Jadi, kenapa kau mengikutiku sampai disini, Madara-sensei?"
Alunan suara bernada dongkol itu keluar begitu saja dari mulut seorang remaja berambut pirang. Raut wajahnya terlihat agak kesal dengan pandangan mata yang memantulkan siluet berupa sosok pria paruh baya yang masih mengenakan seragam pengajarnya
"Apa yang kau katakan? Lagipula untuk apa aku mengikutimu?"
Berlatar sebuah apartemen berlantai dua yang berdinding kayu. Terlihat seorang pria paruh baya membantah perkataan si remaja pirang tadi. Raut wajahnya sama kesalnya dengan si remaja pirang tadi –
- Yah... dia kesal karena secara tak langsung ia dianggap sebagai Stalker oleh si pirang itu
Uzumaki Naruto – si pirang yang terpantul dimata hitam kelamnya itu kini mulai menatapnya risih. Mungkin? Ia tahu kalau si pirang didepannya ini agak terganggu dengan keberadaannya dimalam hari ini. Dan –
- ini hanyalah dugaannya. Tapi ia rasa Naruto menganggapnya seperti orang aneh yang tengah mengikuti seorang jomblo sampai diapartemennya seolah memiliki tujuan maupun niatan tertentu
Peringatan! ini bukanlah sebuah cerita tentang hubungan laki x laki atau yang biasa disebut sebagai Boys Love!
Tentu saja! Madara masihlah normal dan masih menyukai seorang wanita tulen!
"Madara-sensei, ini sudah malam tahu! Apa kau tidak pulang kerumahmu?"
Uchiha Madara – itulah namanya seperti yang ada di Name Tag yang menempel indah di bajunya tepatnya dibagian dada kirinya
"Kau ngomong apa sih? Disinilah rumahku! Apartemen berlantai dua dengan nomor ruangan 008"
.
.
.
"Are?"
Entah kenapa – wajah bodoh Naruto dimatanya membuat dirinya merasa kesal. Lihat saja wajah polosnya yang seolah baru menyadari keadaan, itu sangat membuatnya sedikit merasa kesal
"Kau pasti mengira aku ini Stalker bukan?"
"Chi-Chigau!"
"Berhentilah berbohong padaku Gaki! Lagipula untuk apa aku mengikuti seorang jomblo sepertimu? Gak ada untungnya bagiku!"
Oke! apa yang diucapkan Madara memangnya kebenarannya. Mengikuti seorang jomblo memang tidak ada gunanya. Lagipula rumahnya memang disini dan Naruto lah yang sudah salah paham padanya dan mengira dirinya adalah si Stalker yang hina
Sedangkan Naruto? Mungkin tidak perlu ditanya tentangnya. Pasalnya kini perempatan merah muncul didahinya ketika Madara mengejeknya dengan sedikit penekanan nada pada kata Jomblo
Memang menyakitkan sih, tapi ayolah! Dia hanya manusia yang kurang beruntung yang sulit untuk berhubungan dengan lawan jenis. Dan mungkin saja di masa depan nanti ia bisa dengan mudah berhubungan dengan lawan jenisnya –
- Kenalan Menjadi Teman dekat Kokuhaku Berpacaran Hubungan Gelap Kekkon lalu mempunyai seorang anak dan dialah yang mati duluan meninggalkan harta yang berlimpah untuk istri dan anaknya kelak
Mungkin itulah Fantasi liar yang hinggap di pikiran Naruto sekarang, boleh bukan kalau ia berpikir tentang masa depannya yang entah bagaimana nantinya?
"Kau terlalu kasar pada siswamu sendiri Sensei, setidaknya kau bisa mendukungku jika nanti aku mempunyai seorang pacar bukan?"
"Apa yang kau katakan? Para siswi disekolah saja enggan menyapamu, Jomblo macam apa kau ini?"
*Jleb!*
Yah, kenyataannya sih memang begitu kejam bagi Naruto. Khayalannya memang tidak sejalan dengan realita
Pernah berpikir untuk memiliki seorang pacar yang Kawaii. Mengajaknya kencan ke tempat rekreasi, bersenang-senang disana dan menikmati hari bersama dan diakhiri dengan ciuman lembut pada sore harinya
Namun kenyataannya? Naruto hanyalah sesosok pelajar yang kurang terkenal – bukan sih, dia malah terkenal namun dengan pandangan yang buruk
Dia dikenal sebagai siswa yang Culun dan pecundang yang setiap harinya diejek habis-habisan oleh para siswa maupun siswi disekolahnya. Pernah menjadi korban Bullying disekolahnya dan kehidupan disekolahnya pun selalu menyendiri dan menikmati kesendiriannya dalam ramainya suasana sekolah
Jadi kesimpulannya? Pikirannya tak akan pernah terwujud di kehidupan nyatanya!
Pernah terlintas diotak bodohnya untuk merubah penampilan culunnya – memakai kacamata dan rambut yang disisir rapi kearah kanan – menjadi agak berbeda. Bukan sebagai ajang memamerkan perubahannya sih, ia hanya tak tahan ketika terus-terusan diejek karena penampilannya yang tidak menarik –
- dan mungkin saja saat penampilannya berubah, ia memiliki peluang yang besar untuk memiliki seorang pacar bukan?
.
.
.
Tunggu dulu? Kenapa pembahasan ini malah berujung tentang percintaan sih? Bukannya ini tentang Madara yang mengikutinya sampai di apartemennya dan mengaku bahwa ia tinggal diapartemen ini juga?
"Sudahlah, aku juga ingin segera mengistirahatkan diri"
"Kalau begitu aku juga, acara drama malamku sebentar lagi akan tayang"
"Drama? Kau menyukai hal semacam itu Sensei?"
Alis matanya terangkat sebelah ketika sang guru matematika didepannya ini mengatakan kata Drama. Ia memang tidak tertarik sih dengan acara Drama di televisi, hanya saja ia tak menyangka sesosok macam Uchiha Madara menyukai hal yang seperti itu
Memang tidak cocok sih. Sosok seperti Uchiha Madara – pria paruh baya bertubuh tegak berisi dengan rambut yang panjang – yang menjabat sebagai guru matematika dan cukup jenius dalam menyusun rencana ternyata menyukai sebuah Drama televisi
Jadi ini pertanda apa? The End is Near atau semacamnya? Naruto harap tidak seperti itu!
"Aku tidak terlalu tertarik sih, hanya saja Hinata-sama berperan sebagai Heroine di acara Drama itu!"
.
.
.
'Cih!'
.
.
'Aku menyesal bertanya padamu Sensei!'
.
.
.
*Ckleek..*
"Tadaima!"
*Twich!*
Dan ya! Malam itupun berakhir dengan Madara yang diacuhkan Naruto karena lagi-lagi ia membawa nama Hinata-sama nya didepan Naruto. Madara memang tidak bersalah sih, hanya saja Naruto tak suka melihat sisi lain Madara yang menjijikkan itu
*Blaam!*
"Dasar Rashoumon menyebalkan!"
::
::
::
::
::
::
::
::
::
::
:: [Page #04] ::
- Fate -
::
::
::
::
::
::
::
::
::
::
- [Unknown Place]
"Kau sudah kembali Azazel? Padahal aku baru saja ingin pergi dari sini"
Dengungan suara dingin yang beralun dalam heningnya malam terasa bergetar ditelinga sesosok pria paruh baya yang kini berdiri didepan sosok remaja tanggung itu – tubuhnya yang dibalut Yukata hitam serta tangannya yang tengah menggenggam plastik berukuran sedang
"Yah, aku benar-benar bertemu dengannya namun sepertinya dia sudah berubah tidak seperti yang aku kenal dulu"
.
.
.
"Lupakan itu, jadi apa yang kau bawa itu?"
Azazel – sosok pria paruh baya yang mengenakan Yukata hitam itu hanya bisa Sweatdropped ditempat. Awalnya ia mengira pembicaraannya bisa menarik perhatian remaja tanggung didepannya ini –
- namun sayang ia salah, ternyata sosok remaja didepannya ini mengacuhkan apa yang ia katakan dan tertarik pada apa yang ia bawa
Dasar kelaparan! Batinnya nista
"Ambillah ini Vali, aku hanya bisa membelikan ini untukmu"
Vali – sosok remaja yang berdiri didepan Azazel itu kini mengambil sekantong plastik yang berada digenggaman Azazel. Dan ketika ia melihat isi dari plastik itu, alis matanya terangkat sebelah
"Azazel, bukankah kau bilang padaku bahwa kau akan membelikanku Yakiniku, jadi kenapa kau membelikanku Butadon?"
"Oh Ayolah! Bersyukurlah karena aku membelikanmu makanan itu!"
"Cih!"
Vali mendecih pelan sembari memasukkan plastik yang berada dalam gengamannya ke dalam lingkaran sihir yang muncul disampingnya. Dalam hatinya ia mengutuk dalam-dalam sosok Azazel yang miskin
"Jadi, apa yang ingin kau ceritakan padaku, Azazel?"
"Kau tertarik? Kupikir kau tidak tertarik padanya jadi aku enggan untuk menceritakannya padamu ketika kau mengalihkan ucapanku tadi"
Vali memejamkan matanya sambil tersenyum simpul. Tidak tertarik katanya? Ayolah! Sosok yang haus peperangan sepertinya tidak mungkin untuk tidak tertarik pada sosok yang bahkan mengukir sebuah Legenda dimasa lalu!
Pernah sekali ia berniat untuk menemui sosok yang ingin diceritakan Azazel lalu mengajaknya bertarung – sosok yang haus peperangan sepertinya merasa bahwa sosok yang dimaksud Azazel lumayan kuat mengingat dijaman sekarang sosok petarung tangguh sangat sulit untuk dicari
Bahkan Vali pun berpikir bahwa ia benci dilahirkan dijaman ini! – jaman dimana peperangan di dunia telah reda dan hanya diisi oleh makhluk-makhluk tak berguna yang menikmati kedamaian dalam hidup mereka!
"Cepatlah ceritakan padaku Azazel, mungkin saja nanti aku bertemu dengannya diluar lalu akan kuajak ia bertarung habis-habisan!"
Azazel menghela nafas pelan...
Yah, dia tahu bahwa muridnya itu memang gila akan pertarungan – semakin kuat musuh yang menjadi lawannya, maka semakin bertambah kegilaannya pada pertarungan
Namun sosok yang diceritakan Azazel bukanlah lawan tanding Vali. Ia tahu bahwa Vali mungkin saja bisa menyamai kekuatannya, hanya saja jika dalam hal lain Vali sangat tertinggal jauh olehnya
"Huh... dia bukanlah lawanmu Vali. Dia hanya sekedar teman lamaku dan kuharap kau tidak mencari masalah dengannya"
"Memangnya kenapa?"
"I-itu..."
.
.
.
'Bahkan sekalipun kau menggunakan Balance Breaker padanya'
.
.
'Aku tak yakin kau bisa mengalahkannya...'
.
.
.
::
::
::
::
*Kriiiiing~!*
Dering bunyi jam weker itu seakan memecahkan suasana pagi yang belum sepenuhnya terang. Tangan besar itu perlahan menekan jam weker mencoba mematikan bunyi yang bising
*Sraaak!*
Tirai jendela itu perlahan terbuka, membiarkan cahaya yang belum terang sepenuhnya masuk kedalam ruangan gelap itu hingga menjadi sedikit lebih terang dari yang sebelumnya – meski tidak terlalu
"Ah Sial! Aku melewati acara Drama malamku" Decihnya pelan dengan raut wajah yang agak kesal
Dan disinilah – kisah kembali dimulai. disebuah apartemen dengan ruangan bernomor 008, ruangan yang lumayan rapi, buku-buku maupun beberapa Novel disusun rapi diatas sebuah meja khusus dipojok ruangan, sebuah kasur yang hanya muat untuk satu orang saja serta poster bergambar Idol kesukaannya yang menempel indah dilangit-langit ruangan
Uchiha Madara – pria paruh baya yang notabene menempati ruangan bernomor 008 itu kini menguap malas. Matanya yang terlihat masih enggan untuk menyadari kenyataan perlahan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi
Yah, walaupun ia tinggal sendiri namun ia bukanlah sosok pemalas yang tidak bisa merawat tempat tinggalnya sendiri. Lihat saja! Meski ruangannya tidaklah luas. Namun ia bisa menatanya dengan rapi hingga membuat ruangan itu bisa terasa luas
Hari ini adalah hari dimana Madara kembali mengajar disebuah sekolah bernama Kuoh Academy – yang juga merupakan tempat Naruto menuntut ilmu – sebagai guru Matematika. Ia memang belum lama menjadi tenaga pengajar di sekolah yang dulunya sekolah khusus perempuan itu –
- Hanya saja ia ingin gajinya segera keluar dan bisa menikmati hasil kerja kerasnya walaupun kerjaannya baru beberapa hari berjalan dan dapat dihitung dengan hitungan jari
Namun itu bukanlah alasan utama mengapa ia menjadi guru disekolah bernama Kuoh Academy itu
Uzumaki Naruto – bocah culun yang selalu diejek dan dihina itulah yang menjadi alasan utama mengapa Madara masuk dan menjadi tenaga pengajar disana. Ia tertarik pada Naruto bukan karena nasib sialnya, namun karena kekuatannya yang tidak dimiliki oleh orang kebanyakan –
- dan, kekuatan itu sangat mirip dengan orang yang pernah ia temui dulu...
Ia tahu kekuatan bocah culun yang selalu memakai kacamata ketika berangkat sekolah itu. Kekuatan yang berbeda dengan bangsa Datenshi maupun Iblis yang pernah ia temui maupun pernah ia lawan dulu
Sama sepertinya – kekuatan itu merupakan hal yang spesial tidak seperti para bangsa Datenshi maupun Iblis yang langsung mendapatkannya secara instan. Kekuatan Naruto maupun dirinya tidaklah sembarangan mengingat mereka tidak mendapatkannya secara instan
Madara memang tidak pernah tahu bagaimana kekuatan itu bisa tercipta, hanya saja ia masih mengingat sesuatu – dimana ia merasa putus asa akan sesuatu yang telah ia lupakan dan keesokan harinya kekuatan itu tercipta didalam dirinya dan menjadikannya manusia yang memiliki dua Inoryoku sekaligus
Inoryouku : Sharingan – itulah yang ia dapatkan. Kekuatan dimana ia bisa memanipulasi ingatan orang lain, menghapus ingatan orang lain maupun membaca ingatan orang lain hanya melalui kontak mata
Kekuatan yang lumayan mengerikan. Namun disamping mengerikannya kekuatan yang ia miliki masih ada efek samping yang menjadi ganjarannya jika ia menggunakan kekuatan itu secara terus menerus
Ia juga bingung, jika ia memakai kekuatan itu secara berlebihan dalam satu hari, maka matanya akan terasa seperti terbakar dengan kepala yang cukup pusing – tidak seperti kekuatannya yang lain yang tak memiliki efek samping apapun
Tapi ia rasa memang begitulah. Setiap kekuatan yang mengerikan pasti ada sebuah resiko didalamnya, benar begitu bukan?
Cerita kembali berlanjut ketka Madara baru saja keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalut handuk yang melingkar dan menutupi bagian sensitifnya. Langkah kakinya berjalan kearah sebuah lemari pakaian yang berada diruangannya dan membuka lemari pakaian itu sembari melepas lilitan handuk yang melingkar di pinggulnya
"Jadi, hal menarik apa yang terjadi hari ini?" Gumamnya pelan
Senyum simpul terlukis indah diwajahnya yang lumayan tampan dimata para siswi maupun siswa yang ia kenal disekolah sembari berkacak pinggang didepan cermin yang memungkinkan dirinya untuk melihat diri sendiri
*Tok! Tok! Tok!*
Perhatiannya teralihkan ketika suara pintu ruangan miliknya diketuk oleh seseorang yang tidak ia ketahui. Mungkin? Awalnya ia mengira bahwa itu adalah Naruto. Namun dari caranya mengetuk pintu ia dan menunggu dirinya untuk membuka pintu saja sudah membuat Madara tahu bahwa itu bukanlah Naruto
"Siapa yang bertamu se-pagi ini?"
Sedikit mengeluh sambil berjalan kearah pintu apartemennya. Madara lalu memegang knop pintu itu seraya menariknya kedalam membiarkan matanya melihat siapa yang berdiri dibalik pintu dan yang menjadi tamunya sepagi ini
*Ckleeek...*
.
.
.
'Cih! Kupikir siapa...'
.
.
'Ternyata hanyalah seorang Gubernur yang tidak berguna!'
.
.
.
"Yo! Madara-san!"
Pandangan mata Madara terhadap tamunya itu menjadi sedikit merasa risih. Pasalnya sosok yang menjadi tamunya ini hanyalah sesosok Gubernur Datenshi yang pernah menjadi rekannya dalam sebuah pekerjaan – yang tentunya ia malas untuk mengingatnya kembali
Azazel – sosok pria paruh baya yang mengenakan yukata hitam itulah yang menjadi tamu Madara. senyum secerah pagi yang dilempar kearah Madara seraya mengangkat tangan kanannya dan melambai pelan pada Madara meski jarak mereka saat ini tak lebih dari setengah meter
"Apa maumu Gubernur?"
"Oh Ayolah Madara-san! Apa kau tidak menyuruhku masuk untuk minum-minum dahulu sebelum kau menanyakan sesuatu?"
"Cepat katakan apa maumu, aku tidak punya urusan lagi denganmu dan lebih dari itu, aku ingin berangkat kerja sekarang"
Madara mulai risih. Azazel – sosok pria yang berdiri didepannya ini memang ia kenal dengan waktu yang cukup lama, hanya saja ia tidak suka sifat Azazel yang sok akrab itu dan memaksanya untuk mempersilahkan Azazel untuk mampir ke apartemennya –
- Lagipula apa yang dibawa Azazel? Dia tak membawa apapun jadi untuk apa ia mempersilahkan Azazel masuk kedalam apartemennya dan mengajaknya untuk minum bersama...
Dasar Gubernur Gak Modal!
"Ha'i Ha'i... maaf jika aku mengganggu kesibukanmu –"
Azazel tersenyum simpul sambil menundukkan kepalanya sedikit dengan sedikit tambahan berupa helaan nafas pelan. Azazel tahu bahwa Madara memang sudah berubah, namun di sisi lain ia tetap saja seperti Madara yang dulu –
- yang tak sabaran dan tidak suka bertele-tele...
"- Aku hanya ingin memberitahumu. Jika nanti si Hakuryuukou datang kepadamu dan mengajaknya bertarung, sebaiknya kau tolak saja"
"Ada apa denganmu Gubernur? Kau meragukanku? Sudah lama aku tidak berurusan dengan orang lain, tanganku pun terasa sedikit kaku dan kau pasti tahu karena apa bukan?"
Azazel kembali menghela nafas sambil menatap Madara yang kini tengah merenggangkan jemari tangannya. Benar dugaannya bahwa banyak sisi lain dari Madara yang tidak berubah – sama seperti saat ini, ia terlihat bersemangat – meski wajahnya datar dengan tatapan dingin – ketika ada sosok kuat yang mengajaknya untuk bertarung
Ia tahu benar kekuatan Madara – kekuatan dimana semua sihir yang ia miliki tidak berguna didepan Madara. jadi mustahil baginya untuk melukai Madara dengan kekuatannya kecuali ia menyerang Madara dengan tangan kosong – namun itupun sulit mengingat kehebatan Madara dalam pertarungan jarak dekat
Madara bisa saja melesat dengan sangat cepat hanya dengan melangkahkan salah satu kakinya seperti seorang berjalan dan itu bisa mengecoh lawan – Azazel tahu karena ia pernah melihatnya. Serta pukulannya yang sangat kuat yang membuat Azazel bingung gaya petarung apa yang dianut oleh Madara
Dan dari semua itu, ada salah satu kekuatan Madara yang tidak bisa ia remehkan dan sedikit ia takuti. Yaitu kekuatan matanya – kekuatan dimana ia bisa memanipulasi ingatan seseorang dan bahkan bisa menghapus tujuan hidup seseorang hanya melalui tatapan mata –
- Dan kau pasti tahu bukan apa yang terjadi jika seseorang kehilangan tujuan hidupnya?
"Bukannya aku meragukanmu. Aku bahkan percaya bahwa kau bisa mengalahkannya dengan mudah. Hanya saja aku khawatir keberadaanmu akan diketahui oleh banyak makhluk lainnya jika kau bertarung dengan Hakuryuukou. Kau itu pernah berurusan dengan Fraksi sebelah tahu –"
"- apa kau tidak gelisah jika nanti mereka berurusan kembali denganmu hanya karena mereka tahu keberadaanmu?"
"..."
Kini giliran Madara untuk tersenyum simpul seraya memejamkan matanya menutupi iris mata hitamnya yang kelam ketika Azazel terlihat mengkhawatirkannya meski wajahnya tak memperlihatkan rasa khawatir sedikitpun
Ia tahu kalau Azazel itu cukup cuek dengan orang yang baru saja ia kenal terlebih jika orang itu lemah dan tidak menarik sama sekali dan juga sebaliknya – Madara tahu itu karena ia rekan kerja Azazel dulu
Dan sekarang? Ia tak pernah menyangka bahwa sesosok Gubernur dari Fraksi Datenshi bisa-bisanya mengkhawatirkan seorang Manusia yang dulu pernah berbuat dosa!
"Arigatou telah mengkhawatirkanku Gubernur"
Berbalik berdiri membelakangi Azazel lalu menutup pintu dan mengunci pintu apartemennya. Madara lalu kembali berbalik dan melangkahkan kakinya melewati Azazel, tangannya yang besar pun sekilas menyentuh pelan bahu Azazel walau akhirnya kembali lepas dan meninggalkan Azazel yang masih berdiri disana
.
.
.
.
'Kau seharusnya tidak perlu mengkhawatirkanku...'
.
.
'Karena siapapun yang berurusan denganku, kau pasti tahu mereka berakhir dengan seperti apa bukan? Gubernur Datenshi?'
.
.
.
::
::
::
::
*Drap... Drap...*
Suara langkah kaki berbalut sepatu itu terdengar jelas di lebarnya halaman sekolah bernama Kuoh Academy ini – yang dulunya adalah mantan sekolah perempuan, dan beberapa tahun terakhir berubah menjadi sekolah umum
Kepalanya yang menunduk dengan kacamata yang bertengger di batang hidungnya seakan mengalihkan semua perhatian para siswa maupun siswi yang berada disana, membiarkan kakinya yang terus melangkah mengacuhkan semua pandangan buruk yang mengarah padanya
"Cih! Aku heran kenapa semua orang melihat si pecundang itu!"
"Oh Ayolah! Apa ada hal yang menarik didunia ini selain melihat seseorang yang dipecundangi oleh seluruh siswa disekolah?"
"Kau berlebihan kawan! Tapi aku setuju denganmu"
"Hahaha~"
.
.
.
'Aku benci hal seperti ini...'
.
.
.
Kedua tangannya yang masuk kedalam saku celananya terkepal erat, kepalanya terus saja menunduk menutupi wajahnya yang kini memendam kesal yang amat menyakiti dan hanya bisa memasang topeng berupa wajah datar nan acuh
Meski ucapan mereka kali ini tidak sekasar seperti yang kemarin, namun tetap saja hatinya terasa panas mendidih ketika harga dirinya direndahkan dan diinjak-injak seolah tak berguna sama sekali!
"Ne Shitteru? Kemarin kudengar si pecundang itu jalan bareng dengan Hyuuga-san?"
"Eh Maji?! Pecundang itu jalan dengan Hyuuga-hime?!"
"Kau tahu darimana berita bohong itu? Sejak kapan seorang pecundang tak berguna bagaikan sampah sepertinya bisa jalan bareng dengan Hyuuga Hanabi-hime yang nyatanya adalah seorang putri dari keluarga kaya?"
"Haha~ kau benar! Aku bahkan tak bisa membayangkan bagaimana Pecundang sepertinya dihajar para siswa yang tengah mendekati Hyuuga-san jika berita itu memang benar"
"Tentu saja ia babak belur bodoh! Sampah sepertinya bisa apa?"
"Hahaha~"
Lagi dan lagi – Ini benar-benar buruk bagi Naruto yang notabene terus saja dihina habis-habisan dan secara terang-terangan. Ia benar-benar tak mengerti jalan pikiran para siswa maupun siswi yang senantiasa menghinanya ketika ia berangkat maupun pulang sekolah –
- Apa Kesetaraaan itu memang benar-benar ada? Persetan dengan itu! Ia tak pernah merasakan hal itu di lingkungan sekolah semenjak ia menjadi bahan hinaan para siswa maupun disekolah!
Siswa maupun Siswi sama-sama Bangsat!
Dan juga tolong jangan samakan dirinya dengan Sampah Sialan! Naruto tahu benar bahwa siswa yang tak punya reputasi dan selalu dipandang sebelah mata sepertinya memang tidak pantas untuk berada disamping Hyuuga Hanabi yang merupakan putri dari keluarga kaya yang diincar banyak siswa –
- Walaupun begitu, Hyuuga Hanabi memandang dirinya dengan pandangan yang berbeda dari siswa maupun siswi yang lain – yang memandang dirinya dengan hina. Ia yang seorang putri dari keluarga Hyuuga saja mau berteman dengan Sampah sepertinya!
Jadi apa masalahnya jika ia jalan dengan Hyuuga Hanabi seperti kemarin? Apa salahnya jika ia berjalan dengan Hanabi yang merupakan temannya – atau mungkin teman satu-satunya?!
Mereka yang suka menghina tahu apa tentang dirinya? Yang mereka lakukan hanyalah membuang-buang waktu dengan mengejek dan menghina dirinya habis-habisan!
Meski hatinya tak tahan lagi untuk memendam semua rasa kesal dan amarah yang seharusnya ia luapkan. Naruto tetap saja berjalan dengan wajah menunduk mengabaikan mereka yang sibuk mengurusi dirinya dengan cercaan pedas yang berbagai macam –
- Namun...
*Duuk!*
.
.
.
'Sial!'
.
.
'Apa artinya aku sekolah jika nantinya akan terus seperti ini?!'
.
.
.
"Itttee..."
Naruto mengelus kepala belakangnya ketika sesuatu yang lumayan besar – mungkin seukuran buah apel – menghantam kepala belakangnya dengan cukup kuat. Dan benar saja! Ketika sesuatu yang menghantam kepalanya jatuh tepat berada disampingnya –
- Ternyata adalah sebuah apel merah yang sebelumnya telah digigit sebagian dan sengaja dilemparkan kearahnya!
"Hahaha~"
Tawa kencang itu seakan menjadi nada latar ketika Naruto merasa dirinya sangat direndahkan disini, dikucilkan, dan dipandangan dengan pandangan hina!
Matanya masih setia memandang buah apel yang telah jatuh itu dengan tatapan tajam, kedua tangannya yang masuk kedalam saku celana terasa begitu erat hingga kuku jarinya pun menekan telapak tangannya sendiri
Ingin rasanya ia menjerit dan melawan semua apa yang mereka lakukan pada dirinya. Namun apa? Jika memang itu terjadi maka ia akan merasakan hal yang lebih hina daripada ini mengingat tak ada satupun dari mereka yang mau berpihak pada dirinya!
.
.
.
'Dunia ini begitu adil...'
.
.
'Tapi tidak untuk diriku!'
.
.
.
"Cih!"
Ini sudah lebih dari cukup bagi Naruto untuk menahan dirinya yang tak lagi bisa menahan semua hinaan yang amat menyebalkan ini – jadi setidaknya ia bisa melawan meski ia tahu apa akibatnya nanti
Menunduk berniat mengambil apel merah hina yang terkapar ditanah itu. Naruto menggenggam erat apel merah itu dengan cukup kuat membuat para siswa maupun siswa yang secara sengaja melempar apel itupun terdiam karenanya
"Hei Pecundang!"
Itu memang amat menyebalkan – namun ucapan itu mampu membuat Naruto menolehkan kepalanya kebelakang menatap asal suara
Tatapannya menjadi datar ketika Naruto mendapati tiga siswa Elite yang kini berdiri dibelakangnya – yang mungkin adalah siswa usil yang melempar apel merah tadi kearah kepalanya
Uchiha Sasuke, Sabaku Gaara, Hyuuga Neji – Naruto hafal nama mereka karena mereka bertiga cukup dikenal banyak siswa maupun siswi disekolah karena latar belakang mereka maupun dari diri mereka bertiga sendiri
Uchiha Sasuke – Ikemen yang merupakan anak orang kaya pemilik perusahaan besar dan merupakan siswa yang selalu menjadi peringkat kedua dalam urusan Akademik mengingat ia termasuk siswa yang begitu pintar
Sabaku Gaara – remaja tampan yang juga termasuk anak orang kaya mengingat kedua orang tuanya merupakan pebisnis kaya juga termasuk kedalam Klub Basket disekolah dan menjadi Kapten dari Klub itu sendiri
Dan Hyuuga Neji – hampir semua siswa mengenalnya karena kepintarannya juga ia dikenal sebagai sepupu dari Hyuuga Hinata si Idol yang dipuja-puja oleh Madara
Itu benar! Mereka bertiga adalah siswa Elite disekolah ini!
"Oii Pecundang! Kudengar kau kemarin jalan dengan Hanabi-sama, apa itu benar?"
Oke! ucapan Hyuuga Neji seakan menjadi api pemanas ditelinga Naruto. Meski seringkali ia dipanggil dengan sebutan Hina itu, namun rasanya yang ini lebih mengesalkan daripada yang lalu –
- Coba lihatlah! Apa kau tidak kesal ketika seseorang memanggilmu Pecundang dengan raut wajah yang meremehkan dirimu?
.
.
.
'Aku tahu ini buruk bagiku...'
.
.
'Tapi aku tak bisa menahannya lagi!'
.
.
.
*Syuuut!*
Diluar dugaan! Naruto membalikkan badannya secara tiba-tiba hingga tanpa disadari oleh para siswa maupun tiga siswa Elite tadi, Naruto langsung melemparkan apel merah itu tepat kearah Hyuuga Neji – salah satu siswa yang dengan mudahnya mengejek dirinya!
*Duukk!*
Dan begitulah akhirnya. apel yang dilempar Naruto dengan sekuat tenaga itu tepat mengenai dahi Hyuuga Neji hingga membuat dirinya hampir kehilangan keseimbangannya jika tidak dibantu dengan
"Hei!-"
*Swuuuush!*
Semua pasang mata yang ada disana seakan terpaku pada Naruto yang tiba-tiba telah berada didepan Hyuuga Neji dan siap untuk menyerangnya. Bahkan Uchiha Sasuke dan Sabaku Gaara yang berada disebelah Neji pun tak menyadari bahwa Naruto tiba-tiba berada diantara mereka
.
.
.
'Sekarang aku tak peduli lagi jika hidupku semakin hancur...'
.
.
'Namun setidaknya aku bisa membalas apa yang mereka lakukan padaku!'
.
.
.
*Duuaaagg!*
Raut wajah yang menggambarkan akan rasa sakit terpampang jelas diwajah Neji ketika kepalan tangan Naruto bersarang diperutnya dengan kuat hingga membuat dirinya sedikit terdorong agak jauh kebelakang dan tersungkur ketanah
Uchiha Sasuke dan Sabaku Gaara – siswa Elite yang melihat Neji tersungkur pun langsung menghampirinya mencoba sedikit membantunya berdiri akibat pukulan Naruto yang membuat dirinya tersungkur
"Neji! Daijoubu ka?"
"U-Um!"
Naruto terdiam dengan wajah yang tidak bisa ditebak. Kedua tangannya terlihat sangat terkepal erat ketika tiga siswa Elite itu – Sasuke, Gaara, dan juga Neji – menghadiahkannya berupa tatapan tajam dengan sedikit mengandung perasaan dendam yang kuat
"Oii Bangsat! Apa yang kau lakukan Hah?!"
"Apa yang dipikirkan si Sialan itu?! Beraninya dia menghajar Hyuuga-san! Cuih~!"
"Mati saja kau Bangsat!"
"Apa harga dirinya begitu tinggi hingga ia bisa menghajar Hyuuga-san?! Dasar Pecundang tak tahu diri!"
"Oii Keparat! Sini bertarung denganku!"
Hinaan keras dari para siswa maupun siswi yang berada disekitarnya terdengar begitu keras ditelinga Naruto hingga membuat hatinya serasa dibakar oleh api yang sangat panas. Tatapan tajam dengan sedikit rasa benci begitu terasa pada diri mereka –
- Dan bahkan, ada beberapa siswa yang ingin menghajar Naruto yang tengah berdiri diam walau akhirnya dilarang oleh siswa lain dengan alasan itu hal yang dilarang di area sekolah
Dan pada akhirnya beginilah yang terjadi – seperti yang telah Naruto duga sebelumnya. Kelakuannya yang memukul Neji dengan alasan membela diri begitu dibenci oleh para siswa maupun siswi. Namun jika ia tidak membela dirinya sendiri –
- Itu tidak akan merubah apapun!
Para siswa maupun siswi hanya bisa menghujat dirinya secara bertubi-tubi tanpa ada rasa kasihan sedikitpun pada Naruto yang notabene seorang Pecundang yang Dipecundangi disekolah ini. Mereka tidak akan mengerti apa yang dirasakan Naruto saat ini dan tidak akan mau mengerti jika Naruto menjelaskannya pada mereka
Karena bagi mereka, Pecundang tetaplah seorang Pecundang!
Naruto tidak tahu apa yang terjadi setelah ini nantinya – entah ia masuk ke ruang BK, atau diskors karena menghajar salah satu siswa, atau mungkin dikeluarkan dari sekolah ini. Namun baginya bisa meluapkan emosi yang selama ini terpendam membuatnya sedikit merasa lega
"Hei! Kau..."
"Are?"
.
.
.
*Duaakk!*
Naruto sedikit mundur beberapa langkah bahkan hampir kehilangan keseimbangannya ketika Sasuke tiba-tiba menyerangnya dengan pukulan yang bersarang dipipinya hingga membuat kacamatanya jatuh ke tanah. Meski itu tidak terlalu sakit bagi Naruto namun tetap saja itu memberikan bekas berupa lebam mengingat pukulan itu begitu kuat bagi Sasuke
"Hajar dia Uchiha-san! Hajar si Pecundang tak tahu malu itu!"
"Aku sangat risih melihatnya, kenapa ia tidak mati saja sana!"
"Cuiih~!"
Oke! ini begitu menyakitkan dan memalukan dalam hal lain bagi Naruto. Bukan karena ia tidak sabar menghadapi semua hujatan tak berguna yang terus saja menghampirinya – malah ia selalu mengabaikan semua ejekan itu tanpa sedikitpun membalas
Namun jika keadaannya seperti ini? Ia tetap saja menjadi yang salah meski ia hanya sekedar membela diri. Membela diri itu hak semua orang bukan?
Perlahan Naruto menunduk mengambil kacamatanya yang jatuh ke tanah mengabaikan para siswa maupun siswi yang menatapnya dengan tajam. Setelah itu ia kembali meletakkan kacamatanya dan bertengger dibatang hidungnya membiarkan lensa dari kacamata itu menutupi mata birunya yang indah namun penuh dengan luka
"Dengarkan aku Uzumaki..."
Mencoba mendongakkan kepalanya, sepasang iris Blue-Saphire miliknya bertemu dengan mata hitam milik Sasuke yang menatapnya dengan sinis
"Kau akan mendapatkan Balasan dari apa yang telah kau lakukan pada temanku! Dan jam istirahat nanti temui aku di atap sekolah!"
Meski ada sedikit nada ancaman dalam ucapan panjang Sasuke – yang biasanya tak banyak bicara. Namun tetap saja Naruto tak gentar sedikitpun dan hanya bisa diam tanpa niatan untuk membalas ucapan Sasuke dan memilih berbalik meninggalkan tiga siswa Elite itu dan para siswa yang masih senantiasa menatam tajam dirinya
*Swuuuush!*
.
.
.
'Kau melihatnya kan?'
.
.
'Jadi tak apa jika kau membenciku nantinya...'
.
.
.
Sekilas Naruto melihat sosok Hyuuga Hanabi dengan seorang gadis pirang panjang yang diikat Twintails. Melihat dari raut wajahnya bisa dikatakan ia begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya dan begitu juga dengan gadis pirang disampingnya
Namun Naruto tak peduli hal itu!
Langkah kaki Naruto terhenti ketika menatap gadis pirang yang berada disamping Hanabi. Meski baru pertama kali ia melihat gadis pirang itu disekolah ini. Namun Naruto tahu bahwa itu adalah siswi baru yang diceritakan oleh Hanabi kemarin –
- Uzumaki Naruko, adiknya yang dulu pernah memeluknya erat namun akhirnya ia tinggalkan karena ia dibuang oleh keluargnya sendiri!
Senyum pahit begitu terasa ketika Naruto mencoba untuk tersenyum meski itu sulit ketika pada akhirnya ia bisa kembali melihat adik bungsunya yang amat ia sayangi. Ia tidak tahu bagaimana adiknya – Naruko yang sekarang, namun setidaknya Naruto masih mengenal wajah adiknya sendiri meski sudah tak lama bertemu
'Hisashiburi da ne, Naruko...'
Melepas senyum pahitnya begitu saja, Naruto lalu kembali berjalan meninggalkan para siswa dan siswi juga tiga siswa Elite itu yang masih saja menatapnya tajam bahkan ada beberapa dari mereka yang masih menghina dirinya dari jauh
Lain Naruto lain juga dengan Naruko. Entah kenapa ia merasa tak asing lagi pada sosok Naruto walau ia baru saja melihat si remaja berambut pirang yang selalu Dipecundangi itu. Begitu juga dengan Hanabi yang masih terkejut saat ia tak sengaja melihat Naruto menghajar sepupunya – Hyuuga Neji didepan matanya sendiri
.
.
.
'Uzumaki-senpai...?'
.
.
'Kenapa kau melakukan ini?!'
.
.
.
::
::
::
::
"Tte?"
Dan disinilah Naruto sekarang. Duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan sosok seorang guru yang tak asing lagi bagi dirinya. Surai hitamnya yang panjang serta iris mata yang senada seolah membuat Naruto sedikit merasa bosan pada guru yang kini berhadapan langsung dengannya
"Oii Gaki, setidaknya kau berterima kasih padaku! Kau tidak tahu betapa sakit aku menahan rasa pusing dikepalaku hanya karena menggunakan kekuatanku untuk memanipulasi ingatan para guru yang menilai buruk dirimu yang menghajar salah satu siswa berharga disini!"
Uchiha Madara – itulah yang Naruto tahu tentang guru yang kini berada didepannya, seorang guru Matematika yang tiba-tiba datang ke ruang BK untuk mengurusi dirinya yang tengah mendapatkan masalah hanya karena menghajar seorang pelajar bernama Hyuuga Neji
"Oh ayolah Sensei! Mereka yang salah tapi kenapa aku yang mendapatkan masalah? Jadi inikah yang namanya keadilan?"
Ucap Naruto berseru dengan nada yang sedikit kurang suka membuat Madara hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. Ia tahu benar bahwa Naruto benar-benar pintar dalam menyembunyikan rasa kesalnya pada seluruh siswa yang mengejeknya itu. Namun untuk kali ini pemuda bersurai pirang itu meluapkan rasa kesalnya didepan matanya
"Dan aku dipanggil kesini hanya karena memukul seorang siswa Berharga begitu? Lalu bagaimana dengan Uchiha Sasuke yang juga memukulku tadi? Apa semua guru disini pilih kasih hingga ada yang namanya Siswa Berharga? -"
"- Sekolah macam apa ini?"
Madara mencoba tersenyum simpul ketika melihat Naruto yang perlahan mulai berubah – yang kemarin-kemarin hanya mencoba menerima nasibnya yang amat buruk sekarang berubah dan mencoba untuk melawan takdirnya sendiri
Mungkin inilah yang diinginkan oleh Madara. ia mengerti tentang Naruto dan mengerti dirinya lebih dari yang lain, ia mengerti tentang Naruto yang hampir dipecundangi oleh sekolahnya
"Maa maa~ Tenanglah Gaki, aku menggantikan Guru BK disini bukan untuk menghukummu bodoh! Malah sebaliknya aku membebaskanmu dari masalah ini"
"Benarkah? Atau kau memiliki maksud tertentu dari urusanku ini?"
"Baka! Melihatmu berbeda hari ini saja sudah membuatku senang, jadi apa yang bisa aku ambil dari dirimu jika aku mempunyai maksud tertentu?"
Naruto menyipitkan matanya – masih tak percaya pada ucapan Madara. ia tahu bahwa Madara memang memiliki kemampuan untuk mengendalikan pikiran orang lain, namun apa yang diucapkan Madara tentang membebaskan dirinya terasa begitu meragukan bagi dirinya
Naruto belum pernah berurusan dengan Guru ataupun Guru BK sebelumya sih, ia terlihat seperti siswa kebanyakan – datang ke sekolah pada jam yang tepat, mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, menikmati waktu istirahatnya [walau waktu istirahatnya digunakan untuk menyendiri], lalu pulang ke sekolah sesuai dengan jadwalnya
Tapi untuk kali ini? Namanya menjadi buruk hanya karena memukul siswa pintar disekolahnya – yah walaupun namanya memanglah buruk dimata para siswa maupun siswi bahkan sebelum memukul si Hyuuga Neji sialan itu!
"Tapi Sensei-"
"Sudahlah, sebaiknya kau kembali ke kelasmu, bukankah kau masih ada jam pelajaran di kelas?"
"Cih! Entah kenapa aku membenci sekolah ini sekarang!"
Madara menghela nafas panjang ketika Naruto mendecih kesal sembari melenggang pergi, senyum simpul terampik indah diwajah tampannya yang membuat siapapun tidak akan mengira bahwa umurnya yang sudah tua – atau dengan kata lain, dia tak muda lagi
.
.
.
'Sudah kuduga!'
.
.
'Semua yang telah terjadi membuat perubahan yang cukup signifikan!'
.
.
.
::
::
::
"A-Apa?!"
Raut wajah yang begitu kaget tampak diwajahnya yang manis, bibirnya yang sedikit bergetar dengan iris mata Green-Blue yang menajam seolah menekankan suatu hal bahwa ia saat ini benar-benar kesal
*Braak!*
Ruangan klub berdesain mewah itu mendadak heboh ketika si gadis merah Crimson menggebrak meja dengan kesalnya, tatapannya kini tertuju pada dua orang siswi dan satu orang siswa yang duduk di sofa tepat berada didepannya
"Gomennasai Buchou..." salah satu siswi yang duduk didepan gadis bersurai merah itu mulai membuka suara, sepertinya ia hendak membela diri? "kami tidak ingat apapun, yang kuingat hanyalah seorang pria paruh baya yang seolah menghipnotisku kemarin namun wajahnya tak bisa kuingat seberapa keraspun aku berusaha"
"De-Demo! Kemarin aku menugaskan kalian untuk mengurusi si Pecundang itu bukan?"
"Anoo Buchou, Pecundang yang kau maksud itu siapa? Aku benar-benar tidak mengerti"
Pertanyaan polos yang keluar dari siswa tampan yang duduk didepannya membuat Rias Gremory – si gadis merah Crimson kembali terkejut. Bagaimana tidak? Ketiganya yang merupakan Peerage yang ia miliki bisa-bisanya melupakan tugas yang diberikan olehnya kemarin seolah mereka seperti kehilangan separuh ingatan yang mereka miliki –
- Dan bahkan, Mereka sendiri lupa pada Pecundang yang seharusnya mereka incar!
Ini tidak beres! Ini benar-benar ada yang tidak beres!
Rias benar-benar dibuat berpikir keras karena hal ganjil ini. Mencoba memahami bagaimana bisa ketiga Peeragenya – Akeno, Yuuto dan Koneko – kehilangan sebagian ingatannya dan bahkan lupa pada Naruto yang nyatanya menjadi incarannya!
Dan lagipula – Akeno mengaku padanya bahwa ada sosok pria paruh baya disana yang menghipnotisnya. Jadi, Apa ada orang lain disana selain Naruto dan ketiganya? Apa ada yang ikut campur dengan urusannya ini?
Cih! Sialan!
Ini benar-benar tidak seperti yang ia duga! Ia tak pernah menyangka bahwa sasarannya yaitu Naruto lepas dari tangannya begitu saja – Si Pecundang Sialan yang memiliki kekuatan misterius yang tentunya dapat ia manfaatkan untuk kepentingannya!
Pandangannnya bergeser – memandangi ketiga Peeragenya yang kini tengah duduk disofa sambil memandangi dirinya khawatir padahal keadaannya adalah mereka bertiga yang patut dikhawatirkan oleh Rias mengingat mereka lah yang kehilangan ingatannya
"Aku tidak tahu apa yang terjadi disana, tapi apa benar kalian tidak mengingat apapun?"
"Gomen Buchou..." si Loli maskot sekolah – Toujou Koneko merespon sambil memakan cemilan yang ada pada tangannya diikuti dengan Kiba Yuuto yang merepon ucapan Rias dengan ucapan yang sama dengan Koneko
"Gomen Buchou, aku benar-benar tidak ingat apapun. Yang bisa kuingat hanyalah tentang pria paruh baya yang menatapku seolah menghipnotisku lalu tiba-tiba aku dan lainnya terbangun ditaman" kini giliran sang Fuku-Buchou yang berbicara – Himejima Akeno yang dikenal sebagai salah satu dari Great Onee-sama karena tubuhnya yang menggoda serta sifat nakalnya yang membuat pria manapun akan jatuh hati saat pertama kali melihatnya
Rias hanya bisa memijit pelan keningnya saat ini – sedikit bingung dengan keadaan yang menimpa para Peeragenya saat ini. Meski ia masih kesal karena sasarannya – si pecundang tak berguna yaitu Naruto lolos begitu saja, namun satu hal yang kini tengah menyangkut di pikirannya
Siapa sosok yang dilihat Akeno? Lalu apa urusannya dengan mereka?
Ia tidak mengerti – benar-benar tidak mengerti. Andai saja jika Akeno bisa mengingat wajahnya dengan jelas maka semua ini akan berakhir dengan begitu mudahnya, namun apa daya sang Fuku-Buchou kehilangan sebagian kecil ingatannya sehingga memaksanya untuk mengingat sesuatu pun percuma
"Huuh..."
Mencoba menghela nafas pelan, Rias memejamkan matanya memadamkan keadaan dirinya yang lumayan tegang. Semua hal yang membuatnya pusing secara paksa ia keluarkan dari pikirannya saat ini
"Baiklah kalau begitu, namun setidaknya lain kali kalian harus menjaga diri kalian baik-baik"
"Ha'i Buchou!"
.
.
.
'Siapa kau sebenarnya?'
.
.
'...?'
.
.
.
"Kyaa~ Uzumaki-san Kawaii!"
"Ne Uzumaki-san, boleh aku tahu nomor teleponmu?"
"Rambut pirangmu sangat indah Naruko-san!"
"Hei! apa kau tidak merasa sok akrab huh?"
"Hihi~"
Dan yap! Begitulah kira-kira percakapan yang terdengar dari telinga seorang gadis yang duduk di bangku barisan tengah tepat dibangku paling belakang ini, seorang gadis bersurai coklat serta wajah manisnya yang terulas senyum halus
Uchiha Hanabi – gadis itu hanya bisa tersenyum senang ketika sang sahabat yang baru saja pindah ke sekolahnya yaitu Uzumaki Naruko kini tengah dikelilingi oleh teman-temannya – dalam hal ini mereka merupakan teman baru Naruko. Pandangannya masih senantiasa menatap ekspresi yang Naruko pasang saat ini
Tersenyum manis lalu membalas semua pertanyaan yang didapatinya dari semua teman barunya satu persatu dengan senyuman tentunya!
Sebelumnya ia tak pernah menyangka bahwa si pirang itu – Uzumaki Naruko sahabatnya yang juga seorang model majalah remaja ingin pindah ke sekolahnya yang sebelumnya merupakan siswa dari sekolah khusus perempuan. Yah, Hanabi juga tidak ambil pusing sih karena semua yang diinginkan Naruko tak ada sangkut pautnya dengan dirinya
"Hei! kau lihat tadi? Kakak kelas penyendiri yang suka dibully itu?"
"Memangnya kenapa?"
"Entahlah, tapi aku tadi melihatnya pergi ke atap"
Samar-samar Hanabi mendengar pembicaraan teman sekelasnya yang kini tengah mengobrol di pintu kelas. Walau terlihat acuh, namun diam-diam Hanabi memperhatikan percakapan mereka ketika mendengar kata Kakak kelas penyendiri yang suka dibully itu –
- Uzumaki Naruto, itulah yang ada dipikirannya ketika mendengar kalimat itu!
Bukan tanpa alasan, Naruto memang dikenal oleh banyak orang namun dikenal bukan dalam artian baik – ia lebih dikenal sebagai Pecundang yang selalu mendapat perlakuan buruk dari siswa lain. Ia tahu kalau Naruto bisa saja membalas semua perlakuan yang dilakukan oleh si pembully, hanya saja ia bingung kenapa Senpai-nya itu tak mau melakukannya
"Karena itulah, aku tanya memangnya kenapa?"
"Kau tidak tahu? Tadi Sasuke-senpai dan Neji-senpai serta teman-temannya pergi ke atap sebelum Kakak kelas penyendiri itu pergi kesana, bukannya sebelumnya mereka ada masalah saat pagi tadi?"
Oh ya! Hanabi hampir saja lupa! Tadi pagi ia melihat Naruto yang bertarung melawan sepupunya – Hyuuga Neji
Ia tidak tahu apa masalahnya hingga membuat mereka bertengkar, namun itu pertama kalinya bagi dirinya untuk melihat Naruto yang mencoba melawan dan membela dirinya sendiri
Bukan maksud untuk mendukung Naruto dan menyalahkan Neji – hanya saja ia khawatir pada pemuda pirang itu, setidaknya ia bisa melawan jika ia mendapati perlakuan buruk dari orang lain bukan?
Dan lagipula...
Hyuuga Neji adalah sepupunya, bukankah sebaiknya terlebih dahulu membela seorang sepupu daripada membela seseorang yang bahkan baru kenal. Kebanyakan orang seperti itu bukan?
Tapi tunggu dulu!
"Itu berarti..."
"Ya! Kupikir mereka melanjutkan duelnya diatap sekolah!"
"Ba-Baka! Pelankan suaramu! Kalau ada apa-apa kita yang kena masalah!"
"Hehe~! Gomen Gomen!"
Tepat seperti dugaan Hanabi! Ia tidak tahu bahwa Neji dan temannya masih mengungkit-ungkit masalah kecil mereka dengan Naruto
Meski ini bukanlah urusannya, namun tetap saja ia merasa khawatir pada si pirang itu. Bukan tanpa alasan, Naruto pernah menyelamatkannya dan ia belum sempat untuk membalas kebaikannya, jadi apa salah jika ia mengkhawatirkan sosok remaja yang pernah menjadi pahlawannnya?
*Sraaak!*
Suara bangku Hanabi yang bergeser kebelakang diikuti dengan tubuhnya yang berdiri tegak mengalihkan perhatian Naruko serta teman-temannya – namun ia tidak peduli dengan hal itu! Satu-satunya yang pantas ia pedulikan adalah Naruto –
- yang seperti dugaannya, si pirang itu bakalan dikeroyok oleh Neji serta Sasuke!
*Drap! Drap!*
"Hanabi-chan! Kau mau kemana?"
"Gomen Naruko! ada sesuatu yang ingin kulihat!"
"Hei Tunggu!"
.
.
.
'Naruto-senpai...'
.
.
.
'Uzumaki Naruto-senpai!'
.
.
.
*Duaag!*
Tumpahan liur keluar begitu saja dari mulutnya ketika ia terdorong dan jatuh terbaring dilantai atap sekolah sesaat setelah mendapati tendangan kuat yang bersarang tepat di perutnya
Ittaaii... ittaiii yo!
Pandangan mata Saphire biru nan indah itu menajam penuh dendam pada sosok seorang remaja bersurai raven yang kini berdiri didepannya dengan wajah yang begitu angkuh, menatap remeh dirinya yang seperti tidak lebih dari seorang pecundang!
"Tte? Apa kau selemah ini huh? Aku bahkan masih menahan diri..."
Menahan diri huh?
Mungkin inilah saatnya untuk menunjukkan pada dunia bahwa dirinya tidaklah bersalah. Uzumaki Naruto – siswa yang kini tengah terduduk sambil menatap tajam Uchiha Sasuke yang berdiri angkuh didepannya itu perlahan mulai bangkit berdiri
Ia benar-benar tidak tahan dengan semua siswa yang ada disekolah ini! Semua yang mengejeknya adalah bangsat! Namun entah kenapa mereka bisa-bisanya membalikkan kenyataan itu padanya!
Terlebih pada Hyuuga Neji – sosok yang berdiri agak jauh dibelakang Sasuke. Entah kenapa melihat wajah yang menatapnya begitu remeh membuat dirinya begitu muak! Ingin ia langsung menghajarnya dengan kedua tangannya –
- namun sepertinya, ia harus mengalahkan si Ikemen berdarah dingin didepannya ini terlebih dahulu!
*Duaag!*
Nafasnya tertahan – mencoba meredam rasa sakit dipipinya yang memaksa kepalanya untuk menoleh kesamping saat satu pukulan itu berhasil mengenainya. Sasuke – si pemukul hanya memasang wajah angkuh yang membuat Naruto muak
*Duaaak!*
Pukulan itu kembali mengenai dirinya – tepat dibagian perutnya. Meski pukulan Sasuke tidak sekuat Menma yang beberapa hari sebelumnya pernah menghajar Naruto. Namun tetap saja pukulan itu masih sedikit terasa menyakitkan
*Buuugh!*
Tendangan yang tepat mengenai dadanya itu membuat Naruto tersungkur dilantai, rambut pirangnya yang sebelumnya disisir rapi kini benar-benar acak-acakan, bahkan kacamatanya pun jatuh dan pecah – tak berguna lagi
"Hei, apa kau diam saja jika kutendang seperti tadi?"
Pertanyaan bodoh yang keluar dari mulut Sasuke tak membuat Naruto memiliki niat sedikitpun untuk membuka suaranya. Pandangannya kini benar-benar tertutupi oleh rambutnya ketika berhasil terduduk dari posisinya yang sebelumnya dan mendapati kacamata miliknya pecah didepannya begitu saja
"Oh ayolah Sasuke! Pecundang menyedihkan sepertinya bisa apa?"
Ini mengesalkan! Ini benar-benar membuatnya kesal!
Pecundang! Pecundang! Pecundang!
Satu kata sialan itu terus saja ia dapati! Membuat dirinya selama ini terus terhina – menjadi kalangan bawah yang selalu dibully habis-habisan. Satu kata yang membuat telinganya benar-benar panas!
Meski pandangannya tertutupi rambut pirangnya yang acak-acakan saat ini. Namun itu tidak menghalangi pandangan tajamnya pada sosok si Neji Bangsat yang menghinanya jauh dibelakang Sasuke!
Rasanya ingin ia menghajar habis si Sialan itu!
Perlahan ia mencoba berdiri, kacamatanya yang pecah tepat didepannya tidak lagi ia pedulikan, bahkan luka lecet yang didapatinya tidak membuatnya mengerang kesakitan sedikitpun!
"Hn?"
Sasuke terdiam dengan pandangan bingung ketika Naruto berjalan kearahnya dan kini tepat berada didepannya, tangan yang terkepal erat serta aura hitam perlahan Sasuke rasakan dari Naruto membuat dirinya sedikit merasa terkejut
"Ne, boleh aku menghajar Pecundang dibelakangmu, Uchiha-san?"
.
.
.
'Dan disinilah...'
.
.
.
'Aku menunjukkan pada dunia bahwa aku bukanlah seorang pecundang!'
.
.
.
"Huh-"
*Duaaaaaagg!*
Mata Neji membulat sempurna – terkejut apa yang saat ini ia lihat dan tentunya pandangannya tak akan pernah membohonginya bahkan hari akhir tiba pun
Bagaimana tidak? Sasuke yang sebelumnya mendominasi pertarungan melawan Naruto kini tiba-tiba terpental kearahnya ketika dihajar oleh Naruto. Keadaan temannya itu sedikit mengkhawatirkan – terbaring lemah dilantai sembari terbatuk menahan sakit dengan tangan yang menyentuh ulu hatinya
"Oii Sasuke!" buru-buru Neji mendekati Sasuke yang kini perlahan bangkit berdiri "Daijoubu ka?!"
"Daijoubu.."
Pandangan mereka berdua kini menatap lurus kedepan – mendapati sosok Naruto yang masih terdiam berdiri disana dengan wajah tertunduk serta tangan yang terkepal erat. Aura kelam tak kasat mata yang berasal dari Naruto pun begitu terasa dikulit Sasuke maupun Neji yang kini menatap dirinya dengan pandangan yang sedikit berubah –
- Ya! Memang berubah! Karena sosok pecundang yang tadi pagi mereka hina kini berbeda dengan yang mereka lihat sekarang!
"Neji..." pandangan Neji sempat teralih ketika sang sahabatnya yang kini perlahan bangkit berdiri memanggil nama depannya "biar aku yang mengurusnya"
Neji hanya bisa terdiam ketika sahabatnya itu berlari menghampiri Naruto yang terus berdiri tanpa ada niatan sedikitpun untuk bergerak dari tempat pijakannya –
- Yah, walaupun ia tidak terlalu ahli dalam urusan bertarung, namun ia bersyukur Sasuke bisa mewakili rasa bencinya pada si Pecundang yang membuatnya risih itu
Dan... abaikan sejenak...
Beralih ke Uzumaki Naruto – si pirang yang tadi berhasil membuat Sasuke terpental karena pukulannya
Entah kenapa semua yang ada disekolah ini sangat membuatnya kesal! Para siswa maupun siswi yang mengabaikannya bahkan mengejeknya! Bahkan semua ini tidak akan pernah terjadi jika si Sialan itu! –
- Hyuuga Neji tidak mencari masalah dengannya!
Oh Ayolah! Siapa yang tidak kesal jika kepalamu dilempari dengan apel merah yang cukup keras jika mengenai kepala?
Meski ia mencoba membela dirinya sendiri dengan memukul Neji sebelumnya, namun tetap saja ia lah yang salah dan masuk ke ruang yang bisa membuat siapapun berpikir bahwa siswa yang memasuki ruangan itu siswa yang buruk –
- Ya! Itulah Ruangan BK! Apa sekolah ini terlalu buruk dalam hal keadilan hingga ia yang mencoba membela dirinya sendiri akibat kepala yang dilempar apel harus masuk ke ruang BK dan disalahkan karena memukul salah satu Siswa Berharga?!
Sekolah macam apa ini?!
Dan lagipula, apa masalahnya jika ia jalan bareng bersama Hanabi? Apa si Sialan yang katanya sepupu dari Hyuuga Hinata sang Idol itu cemburu hanya karena sepupunya bersama orang lain?
Cih! Menjijikkan!
*Swuuuush!*
Satu pukulan keras yang melesat kearahnya itu hampir saja mengenai kepalanya jika ia tidak menghindar sebelumnya – membiarkan pukulan Sasuke gagal mengenainya dan memaksa dirinya untuk mundur beberapa langkah
Pandangan Ikemen bersurai raven itu terlihat amat dingin nan tajam bagai sebilah pisau mematikan. Mungkin baru kali ini Naruto melihat Sasuke yang seperti ini mengingat satu hal yang ia tahu tentang Sasuke adalah – seorang pelajar populer yang selalu dikelilingi perempuan
"..."
Deru nafas memburu Sasuke sedikit terdengar ditelinga Naruto – mencoba memberitahu pada si pirang itu bahwa Sasuke kini tak bisa menahan dirinya lagi!
Yah jika dipikir pun...
Siapa yang tak malu jika siswa pintar nan berharga sepertimu dipukul oleh pecundang lemah macam Naruto?!
*Swuuush!*
Pukulan demi pukulan yang diberikan Sasuke pada Naruto terlihat begitu sia-sia, bukan karena ia bodoh dalam hal bertarung, namun Naruto yang saat ini berbeda yang sebelumnya – dia terlihat lebih agresif sekarang!
"Jangan terus menghindar seperti itu Dobe!"
"...?"
Naruto memiringkan kepalanya dengan pandangan yang kosong ketika kepalan tangan Sasuke hampir saja mengenai kepalanya jika ia tidak menghindar dengan cara seperti itu
Jangan terus menghindar...
Ia masih belum bisa mengerti tentang semua ini? Menghindar katanya?
Percayalah bahwa apa yang dilakukannya didunia ini tetaplah salah dimata dunia ini sendiri! Ia membela dirinya sendiri salah, ia mencoba membuat jarak dengan semua orang pun juga salah, mencoba membenci semua orang yang membenci dirinya juga pun salah!
Lalu...
Apa mencoba menghindar dari semua ini juga salah dimata orang lain?
Yang benar saja Bangsat Sialan!
*Grepp!*
Sasuke terlihat sedikit mengerang kesakitan ketika lengannya digenggam kuat oleh Naruto. Bahkan pandangan matanya yang agak menyipit karena kesakitan itu terlalu takut untuk memandangan ekspresi Naruto yang begitu mengerikan –
- Di matanya, tentunya!
"Kau pikir selama ini aku terus menghindar Huh?"
Tubuh Sasuke terangkat keudara ketika Naruto membalikkan badannya lalu menahan lengan Sasuke ke pundak dan mengangkatnya secara paksa mencoba membanting si siswa tampan nan pintar tersebut. meski terdengar bunyi yang membuat telinga Naruto ngilu pada lengan Sasuke – Namun Naruto tak peduli hal itu
*Braaakk!*
Dan begitulah cara Naruto bertarung – hanya dengan mengangkat lengan Sasuke secara paksa, hal itu saja sudah membuat Sasuke terbanting ke lantai dengan kuatnya dan tentunya itu sakit
Wajahnya menggambarkan rasa sakitnya, bahkan lengannya yang digunakan Naruto untuk membantingnya pun terasa mati rasa dan sulit untuk digerakkan – yah, ia berharap bahwa itu bukanlah karena patah tulang
*Grep!*
Disisi lain, Naruto kini langsung menduduki tubuh Sasuke yang terbaring di lantai, menarik kerah bajunya dan menatapnya dengan tajam. Bahkan tangannya yang lain kini terkepal erat seakan siap untuk merubah wajah tampan Sasuke menjadi penuh dengan luka
Inilah dan inilah akhirnya! meski ia benci dengan keadaan yang seperti ini – keadaan dimana ia tahu bahwa semua yang terjadi ini akan merubah kehidupan sekolahnya kedepannya – namun tetap saja rasa kesal pada Sasuke telah memaksanya untuk melakukan semua ini!
Ia Benci! Ia benci! Ia benar-benar benci semuanya!
Kenapa semua ini terjadi?! Kadang pertanyaan itu terus berputar dikepala pirangnya – mencoba memahami kenapa kehidupannya bisa suram dan sial seperti ini?
Dibuang oleh keluarganya sendiri, Otouto-nya yang membencinya juga Imouto-nya yang bahkan melupakan wujud kakaknya sendiri, Seluruh siswa yang kesal karena keberadaannya, serta kehidupan sekolah yang memaksa diri untuk menjadi penyendiri
Apa semua itu menyenangkan?
Ayolah! Ia benar-benar tidak menginginkan hal bodoh seperti ini! Ia juga ingin bersenang-senang layaknya siswa lain yang memiliki kehidupan sekolah yang lebih indah dan membuat kenangan sebanyak mungkin sebelum kelulusan sekolah nanti
Tapi...
Apa keinginan kecilnya itu bisa terwujud? Tentu saja tidak!
Rasanya ingin berteriak kencang merutuki nasibnya yang begitu kejam, namun jika takdir yang sudah dituliskan pada dirinya sejak ia dilahirkan di dunia seperti ini – maka ia tidak bisa melakukan apapun!
Ya! Dia tidak bisa melakukan apapun jika ia tidak merubahnya sendiri!
*Duaaagg!*
Satu pukulan keras menghantam wajah tampan Sasuke ketika Naruto melayangkan kepalan tangannya pada wajah Sasuke. Tak peduli bagaimana keadaan Sasuke nanti setelah ia pukul seperti ini
Ia benar-benar tidak peduli!
"Ya! Aku terus menghindar! Apa itu salah?!"
Pukulan telak kembali didapati Sasuke dengan tangan terbuka ketika Naruto kembali menghantamkan tinjunya pada pemuda tampan itu. Genggaman tangan Naruto pada kerah bajunya kini berganti ke leher Sasuke berniat mencekiknya dengan satu tangan –
- Dan tentunya itu membuat Sasuke sulit bernafas!
*Duaaag! Buug! Duuuaagg!*
Alunan mengerikan yang terjadi antara Naruto dan Sasuke membuat Neji yang berada disana terdiam seperti patung tak berguna. Pandangan matanya benar-benar tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini dimana temannya yang awalnya memBully kini malah dibully
Dan entah kenapa, melihat Naruto yang menunjukkan jati dirinya dengan menghajar Sasuke didepan matanya membuat hati kecil Neji panas luar biasa. Bagaimana tidak? Seorang teman yang sudah kau anggap sahabat kini dihabisi didepan matamu sendiri dan kau hanya bisa terdiam menatapinya?!
Sialan!
"Konoyaro!"
*Swuuuush!*
Serpihan angin yang melewati Neji seakan menajam ketika langkah kakinya terus mendekati Naruto yang kini tengah menduduki tubuh Sasuke yang terbaring di lantai sembari menghajarnya dengan kedua tangannya. Perasaan amarah ketika sahabatnya dihajar oleh Pecundang tak berguna itu semakin semakin mendalam dan tentunya membuat hatinya semakin panas!
Di lain sisi...
Naruto yang tengah menghajar Sasuke yang terbaring tak berdaya dibawahnya terpaksa menghentikan aksi kerasnya ketika mendengar suara teriakan yang diduganya adalah Neji
Dan benar saja!
Mencoba berdiri membiarkan Sasuke terbaring dibawahnya, Naruto lalu menoleh kebelakang – mendapati sosok Neji yang kini berlari kearahnya dengan pandangan mata yang seakan penuh dendam yang tentunya tertuju padanya
"Bangsat!"
*Buuuuugggghh!*
.
.
.
.
.
.
.
.
*Drap! Drap!*
Suara langkah kaki itu terus saja mengalun sepanjang tangga menuju atap sekolah, suasana sunyi dan sepi seakan menjadi ciri khas tersendiri dari tempat yang biasa dijadikan tempat khusus menyendiri bagi para penyendiri itu
"Hanabi-chan! Tunggu aku!"
Suara seorang gadis yang memanggil namanya yang ia duga adalah Uzumaki Naruko itu tetap saja ia hiraukan, meski sesekali teriakan gadis pirang itu membuat dirinya ingin mengehentikan langkah kakinya yang kini mulai berat. Namun tetap saja ia ingin tahu apa yang terjadi diatap sekolah saat ini!
Ya! Dia benar-benar ingin tahu apa yang terjadi saat ini disana!
Meski ia tidak tahu pasti, namun semua cerita yang digosipkan teman-temannya seakan menjadi petunjuk untuk menemukan Naruto yang saat ini ia duga tengah dihajar habis-habisan oleh Sasuke dan Neji – sepupunya itu
"Hanabi-chan~!"
*Grep!*
Hanabi Hyuuga – gadis manis berambut coklat itu terpaksa menghentikan langkahnya ketika lengannya kini digenggam oleh seseorang dari belakangnya – hal itu membuat kepalanya menoleh kebelakang dan mendapati sosok Uzumaki Naruko yang menatapnya dengan khawatir
"Hanabi-chan? ada apa denganmu?"
Pertanyaan polos yang keluar dari gadis cantik itu seakan menyadarkan Hanabi dari apa yang ia lakukan saat ini
"A-Aku..."
Iris Blue-Saphire yang dimiliki Naruko seakan mengingatkannya pada mata Naruto – mengingatkannya pada seorang remaja yang pernah menyelamatkannya dari bahaya beberapa hari yang lalu
Dan sekarang, ia memikirkan apa yang terjadi kedepannya – apa yang terjadi jika ia datang ke atap sekolah dan mendapati sosok Naruto yang terbaring tak berdaya? Apa yang terjadi jika ia datang ke atap sekolah dan mendapati kedua siswa yang dikenal banyak guru dan para siswa tengah melakukan pengeroyokan pada seorang pelajar seumurannya?
Ia tidak tahu apa yang ia dapat jika ia melihat keadaan Naruto yang sekarang. Namun rasa khawatirnya pada si pirang bego itu seakan menghancurkan semua pertanyaan itu dan membuat niatnya untuk melihat keadaan Naruto saat ini semakin meningkat
"Gomen Naruko, aku harus buru-buru!"
Tersenyum pada Naruko, perlahan Hanabi melepaskan genggaman tangan Naruko pada lengannya dan kembali berlari menuju atap dan meninggalkan Naruko
"Ha-Hanabi-chan! tunggu aku!"
"Kau sebaiknya tetap dikelas Naruko!"
"Iaa! Aku akan ikut denganmu!"
.
.
.
.
.
.
"A-Apa yang terjadi?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Hanabi ketika sesampainya diatap sekolah bersama Naruko yang kini berdiri dibelakangnya
Matanya membulat, kedua kakinya serasa bergetar serta kepalanya yang agak pusing untuk menyimpulkan apa yang terjadi dengan keadaan yang didapati oleh pandangan kedua matanya itu
"Se-Senpai?"
Bagaimana tidak?
Dia benar-benar terkejut dengan semua ini - Neji yang bersandar di pagar pembatas atap dengan sekujur tubuh yang dipenuhi luka lecet serta Sasuke yang terbaring tak berdaya di lantai dengan wajah yang penuh dengan luka lebam
Lalu Naruto? – remaja bersurai pirang itu berdiri tegak disana dengan kepala yang mengadah keatas menatap langit, kedua tangannya terlihat terkepal erat dengan pakaian yang terlihat acak-acakan
"Ha-Hanabi-chan?! apa yang terjadi?"
"Aku tidak tahu..."
"..."
Hanabi dan juga Naruko terkejut tatkala Naruto menyadari keberadaan mereka berdua. Wajahnya yang juga terlihat lebam dibeberapa bagian serta rambutnya yang kini telah acak-acakan tak lagi ia hiraukan – bahkan kacamata yang pecah tepat dibawahnya tidak ia pikirkan lagi dan tetap saja berjalan melangkah kearah Hanabi dan Naruko
"U-Uzumaki-senpai?!"
*Swuuush!*
Hembusan udara seakan memainkan rambut Spike Naruto yang kini berjalan dan berhenti didepan Hanabi sambil menyentuh pelan pucuk kepala gadis bersurai coklat itu. Bahkan Uzumaki Naruko yang berada dibelakang Hanabi pun agak bingung – ada hubungan apa antara Hanabi juga kakak kelasnya itu?
"Laporkan pada guru jika kau menganggap semua ini salahku, namun jika kau tahu akar dari permasalahannya maka kau tidak akan melaporkannya bukan? Hyuuga-san?"
"A-Anoo..."
Hanabi tak bisa apa-apa lagi, meski tahu bahwa keadaan yang dilihatnya barusan adalah karena Naruto. Namun tetap saja senyum Naruto yang begitu tulus padanya membuat wajahnya mendadak menjadi merah
Di sisi lain, Naruto hanya bisa tersenyum sambil memejamkan matanya ketika melihat reaksi yang diberikan Hanabi padanya. Walau bagaimanapun semua ini bukan semata-mata karena dirinya, namun firasatnya mengatakan bahwa semua ini akan berakhir dengan dirinya yang akan kembali berurusan dengan guru BK karena masalah ini
"..."
"A-Anoo Senpai? Apa kau punya hubungan dengan Hanabi-chan?"
Mata birunya sepersekian detik teralihkan pada seorang gadis pirang yang ada dibelakang Hanabi, mempertemukan sepasang Blue-Saphire yang entah berapa lama tak pernah bertemu
Meski awalnya terkejut, namun Naruto mencoba untuk tetap tenang ketika mendapati sosok Uzumaki Naruko yang berada dibelakang Hanabi. Bukan tanpa alasan mengapa ia menjaga sikapnya didepan Naruko, ia hanya tidak ingin Naruko terluka karena mengetahui bahwa kakaknya yang dulu adalah seorang yang tak berguna!
Ayolah! Mungkin Naruto terlalu buruk untuk menyimpan perasaan senangnya dalam waktu yang lama ketika mendapati adiknya yang telah lama tak ia lihat dan kini berubah menjadi gadis cantik yang manis. Namun jika keadaannya seperti ini? Ia tidak ingin membuat Naruko malu karena keadaannya
Naruko itu seorang model terkenal dalam majalah remaja – setidaknya itu yang ia tahu tentang adiknya dari Hanabi. Jadi, Apa yang dikatakan orang lain jika seorang model terkenal seperti dirinya memiliki seorang kakak pecundang sepertinya? Naruto lebih memikirkan hal itu daripada perasaan senangnya
Dan dengan alasan itulah ia mencoba menjaga jarak terhadap adiknya sendiri toh adiknya sepertinya tidak begitu ingat dengan kakaknya sendiri mengingat raut wajahnya tidak terlalu terkejut ataupun menggambarkan ekspresi lain ketika berhadapan dengannya
"A-Ah! Tidak ada apa-apa kok! Hisashiburi da ne!"
"Hisashiburi?"
"Lupakan!"
"..."
Dan begitulah, pada akhirnya keadaan kembali sunyi ketika Naruto pergi meninggalkan mereka berdua diatap dengan dua orang siswa yang kini terluka disana
Mencoba mengabaikan Naruko sejenak, Hanabi memilih pergi menghampiri Neji yang kini tengah bersandar di pagar pembatas jauh disana
Di sisi lain, Naruko hanya bisa terdiam ketika sosok pemuda pirang tadi berkata seolah mereka pernah bertemu sebelumnya. Ia juga serasa familiar dengan wajahnya, namun dimana? Dimana mereka pernah bertemu sebelumnya?
.
.
.
'Siapa...'
.
.
.
'Siapa dia sebenarnya?'
.
.
.
::
::
::
::
"Yo! Rias Gremory-san!"
Lambaian tangan serta senyum yang bodoh itu terlihat diwajah Uchiha Madara – seorang guru Matematika yang kini tengah memanfaatkan jam istirahatnya
Untuk saat ini, dia berada di halaman belakang gedung sekolah lama yang juga merupakan ruangan Occult Research Club bersama dengan Rias Gremory yang berdiri beberapa meter didepannya
Rias Gremory – gadis cantik bersurai merah dengan tubuh yang menggoda itu hanya diam tak memberikan respon yang lebih ketika mendapat salam hangat dari gurunya itu. Bukan tanpa alasan mengapa ia seperti itu, namun ia merasa menyadari sesuatu bahwa –
- Guru Matematika yang berdiri didepannya ini seolah memiliki dua wajah yang berbeda!
"Jadi, ada apa kau memanggilku ke tempat seperti ini? Atau mungkin kau menginginkan pelajaran tambahan dariku?"
"..."
"Hentikan omong kosongmu itu Sensei" Rias terlihat sedikit agak kesal dengan senyum bodoh yang diberikan Madara padanya "langsung ke intinya saja, apa yang kau maksud dengan ucapanmu kemarin?"
"Are? Apa aku mengatakan sesuatu yang buruk kemarin?"
"Bukan itu maksudku, apa maksud ucapanmu ketika kau datang ke klub ku kemarin?"
"..."
Senyum bodoh Madara seketika luntur seiring dengan kedua tangannya yang masuk kedalam saku celananya, pandangan matanya yang sedikit menajam seolah memberikan arti tersendiri bagi Rias bahwa Gurunya ini benar-benar memiliki sisi yang lain!
"Rias Gremory-san, apa ada sesuatu yang menimpa Anak-anakmu hingga kau memaksaku datang kemari? Kau tidak terlalu bodoh dalam menduga sesuatu bukan?"
"kau benar bahwa suatu hal yang buruk tengah menimpa teman-temanku setelah mencoba melakukan sesuatu pada Uzumaki Naruto. Bukan berarti mereka terluka atau semacamnya, namun sebagian ingatannya tentang Naruto hilang –"
"- Dan satu-satunya orang lain yang pantas untuk ku curigai adalah kau! Uchiha-sensei!"
Madara tersenyum simpul sambil memejamkan matanya seiring dengan nada bicara Rias yang semakin lama semakin meninggi. Hal itu membuatnya ingin menyampaikan sesuatu pada ketua dari klub peneliti hal gaib itu bahwa mereka tak boleh menyentuh Naruto-nya sembarangan!
"Yare-yare, sebelum kau mencurigai diriku sejauh itu, kau perlu mengetahui suatu hal Rias Gremory-san..."
.
.
.
'Kau tak boleh melakukan hal buruk terhadap Naruto'
.
.
.
'Atau kau akan mendapatkan hal yang lebih buruk dari yang kau terima sekarang!'
.
.
::
::
::
.
.
.
:: [Stray Dogs!] ::
::
:: [Disclaimer] ::
Not Own Anything!
::
:: [Genre] ::
Psychological[?], Adventure, Supernatural, Angst[?]
::
:: [Rating] ::
M for Some Reason
::
:: [Warning] ::
OOC[?], Typo, Miss-Typo, Mainstream[?], Humor!Fail, Slight!BSD, Bahasa tidak baku, and More...
::
::
::
::
:: [To Be Continued..?] ::
:: [A/N] :: Osu! Ketemu lagi dengan saya Kurosaki Kitahara! ( \ ^.^ / )
Sebelumnya saya sampaikan permohonan maaf saya kepada seluruh reader yang menunggu kelanjutan Fanfic ini, saya tahu bahwa kalian memang bosan untuk menunggu namun kesetiaan kalian lah yang membuat saya merasa mempunyai tanggung jawab untuk melanjutkan Fanfic ini!
Kemarin-kemarin memang niatnya pengen ngelanjutin Fanfic yang ini tapi Fanfic Oneshot yang ada di Lappy-chan udah hampir selesai! Jadi, saya ngelanjutin Oneshot dulu biar kelar dan baru aja di Publish beberapa hari kemarin dan tentunya mampir ke Fandom tetangga [Mampir ya! Check aja di Profil Akunku!]
Selama ngelanjutin Fic ini memang banyak godaan yang membuat saya jadi berhenti sejenak, bahkan Episode 07 dari Anime Youkoso Jitsuryoku Shijou Shugi no Kyoushitsu e kemarin nampilin Dere-derenya Sakura Airi [yang cakepnya kelewatan] yang membuat saya senyum-senyum sambil jingkrak-jingkrak sendiri hingga lupa kalau ada tanggung jawab saya yang lain! [Haha! Kayaknya lain kali saya buat Oneshot lagi dan mampir ke Fandom You-jitsu] [Serius dah! Saya beneran suka ama tuh Chara!]
Well, mungkin Chapter kali ini saya bisa memuaskan nafsu kalian dengan Word yang cukup banyak yaitu kisaran sekitar 10,3k [Whut? Ini pertama kali bagi saya untuk mencapai angka yang cukup besar] dengan beberapa Typo yang masih bertebaran. Semoga Chapter kali ini tidak terlalu membosankan mengingat banyak Narasi di Chapter keempat ini
Dan Yap! Sesuai janji saya kemarin bahwa Uzumaki Naruko – Chara Favorit saya muncul secara perdana di Chapter keempat ini! Untuk awal-awal saya buat dia enggak tahu sama kakaknya sendiri, kedepannya bakalan ada Progress tersendiri bagi Naruko untuk mengetahui sosok Naruto yang sebenarnya!
Berbicara tentang Naruto, Oke! seperti yang saya katakan kemarin bahwa ada perubahan spesifik dari Naruto dan inilah perubahannya! Walau gak terlalu Badass, tapi sifatnya saya buat agak kasar dan sedikit menjurus kearah Psycho. Jadi? Apa kalian suka? Masih ada waktu untuk merubah sifatnya jika kalian tidak satu pikiran dengan saya kok!
Dan tentang Madara dengan Rias? Mungkin Chapter ini mereka Cuma adu mulut aja, tapi Chapter depan mungkin ada sedikit pertarungan dari keduanya. Penasaran kan? Jadi jangan bosen nungguin kelanjutannya!
And Then, saatnya untuk membalas Review kemarin!
:: Fox Sin Greed :: Yup! All Hail Lolicon :v [Hati-hati aja kena Cyduk, kemaren-kemaren ada kasus gegara Loli :v ]
Soal penampilan Naruto ataupun Madara kamu bisa lihat di Cover Fanfic ini [Madara dengan seragamnya juga Naruto After :: Naruto yang udah berubah penampilannya]
:: Apocalypse201 :: Yang New Line ya? Belakangan saya lagi lanjutin Fic itu kok! Saya sengaja gak pasang tanda Discontinue di Summary Fic-nya karena rencananya memang pengen Update walau enggak tahu kapan Updatenya
:: Ayub L Lawliet :: saya masuk di Grup kok! Coba cari aja di Facebook dengan nama akun "Nabili Alfiansyah Alfaridzi" [Pret! Promosi akun FB tuh :v ]
:: Yellow Flash115 :: Yup! Rencananya juga memang begitu kok!
:: Apocalypse :: Makasih udah didoain! Btw apa gak apa-apa tuh Naruko jadi Loli? [saya sih lebih suka Naruko-nya yang type Imouto :v ] dan Incest kah? Kedepannya memang ada adegan manis antara kakak beradik itu tapi bukan berarti Incest sih, Gomen kalo misalnya gak terwujud
:: Mr. Uzumaki 22 :: haha! Begitu ya! Maaf kalo bikin emosi kamu naik turun Cuma gara-gara penulisan saya [Awalnya memang niat begitu, apa ada yang terpicu emosinya dengan tulisan saya? Dan jika memang begitu berarti penulisan saya berhasil! Saya emang suka Fic yang bikin perasaan berubah-ubah karena saya sendiri pernah baca Fanfic yang bikin saya nangis :v ]
Dan Sankyuu atas sarannya! Beberapa kesalahan juga bakalan saya perhatikan lebih baik kok! Sekali lagi Sankyuu!
:: ramadi riswanto :: Ssst! Jangan ngomongin Lolicon disini! Entar kena Cyduk :v :v
:: Penggemar malas login :: Yup! saya juga gak nyangka tiga Chapter dah nyampe 23k Word :v dan Update kali ini pun cukup panjang [10k Word! Kebanyakan gak sih?!]
Ssst! Jangan ngomongin Loli disini :v entar saya ikut-ikutan kena Cyduk :v
:: Hn :: Sankyuu atas pujiannya!
:: Otsutsuki renal afra :: Etto... kalo sampe kayak Goku gak bakalan deh! Saya gak terlalu suka ama Goku [Terlalu Overpowered menurut saya]
:: Guest :: Sankyuu atas pujiannya!
:: ArdS :: Yaudah gpp dah :v yang penting setia nungguin kelanjutannya :v
:: auliaprimarahman :: Rencananya memang begitu kok! Sankyuu dah mau review!
:: Aldy Hiraishin :: saya belum bisa ngasih tau siapa saingan Hanabi, tapi soal banyak cewek lainnya? Kayaknya enggak terlalu banyak deh!
:: Medd Gate'z :: entahlah, siapa yang tahu kalau Naruto bakalan Godlike atau enggaknya, dan masalah Pairing memang niatnya seperti itu kok!
:: Fahzi Luchifer :: Dan karena itulah saya memberikan Rating M, bukan karena ada beberapa adegan kekerasan saja namun juga beberapa narasi dan dialog yang perlu dibaca dengan teliti, btw Sankyuu udah mau Review
:: YukioKasamatsu :: Saran yang amat bagus! Lain kali bakal saya pertimbangkan! Sankyuu!
:: Tenshin FAI :: Jadi, kamu penyuka Incest ya? :v kayaknya sih enggak bisa tapi kedepannya bakalan ada adegan kakak beradik antara Naruto dan Naruko yang membuatmu bakalan senyum-senyum sendiri!
:: Dark Loot :: Yup! kamu berhasil Terpicu karena Fanfic yang saya buat! Haha :v , soal saranmu tentang Harem atau Single udah saya tentukan kok!
:: Arch Strike :: Jangan ada Pair? Kayaknya gak deh! Kata-kata itu aja udah kayak tulisan Horror bagi saya :v
:: The Spirit Of Lightning :: Soal Model bisa kamu lihat di Cover Fanfic ini kok! Dan makasih atas sarannya!
:: Ashuraindra64 :: Mereka masih punya peranan di beberapa Chapter kedepan, jadi mungkin terlalu cepat bagi saya untuk membunuh beberapa Chara dalam Fanfic ini
Dan kata maaf saya sampaikan pada kalian para Reviewers yang Reviewnya gak sempat saya balas, namun begitu saya amat berterima kasih kepada kalian!
Dan sebagai ucapan terakhir, salam dan sampai jumpa di Chapter berikutnya~!
.
Bye Bee~
.
- Sign :: Kurosaki Kitahara
