Btw yang nanya kenapa di watpad ga nemu cerita ini, jdi cerita ini sebenernya udh ganti judul jadi Mischievous Bunny, beserta username aku ganti juga jadi Kiemaw.

Dan di wattpad udah aku post sampe page 11^^

Ada yang salah. Sesuatu yang tak bisa ia jelaskan apalagi dijabarkan. Benar, yang namanya kesalahan sangat mudah dilakukan, bahkan dirinya yang lugu berubah meski perlu satu detik saja.

Ini alasan kenapa mereka begitu senang mengoleksi barang-barang perusak keimanan?
Jungkook akui itu. Ya, sekarang pikiran dan hatinya benar-benar dapat mengakui.

Seperti Taehyung baru saja memetik kelopak bunga. Menggenggamnya membuatnya mati. Segala keindahan seketika lenyap, pudar warnanya namun Taehyung akan tetap menyimpan kelopak bunga itu. Tak apa, karena dia bukan peduli pada pesonanya, memiliki dan terus menyimpan dalam genggaman adalah keinginannya.

Jungkook berusaha menghindar. Mengambil jarak antara Taehyung dengan dirinya, tentu saja dia tak tau harus bersikap bagaimana setelah kejadian semalam, berakhir dengan Taehyung yang memeluk pinggang Jungkook, memberi kehangatan yang luar biasa hingga cucuran keringat membasahi. Jangan pikir mereka melakukan sesuatu yang lebih, mereka masih dalam batas wajar —menurut Taehyung. Tapi tidak bagi Jungkook, bagaimana bisa dikatakan wajar ketika mereka telah saling menautkan bibir, dan bertukar saliva. Tak ketinggalan ruam-ruam merah yang sekarang telah mulai berubah keunguan di beberapa spot leher hingga pundak Jungkook. Itulah kenapa sekarang syal bertengger rapi di lehernya. Jika bukan karena alasan 'sakit', Jungkook pasti sudah disebut gila, bayangkan, ini musim panas untuk apa memakai syal?

"S—sunbae...Argh.."

Jungkook mengerang saat perih begitu terasa di bibirnya, Taehyung tanpa ragu menggigit keras hingga menimbulkan luka kecil. Setelahnya Taehyung memberi jarak, dia telah melepaskan ciumannya. Menatap lekat Jungkook, yang mana keadaannya sekarang sudah sangat kacau, mata sayunya tertutup lalu terbuka perlahan, napasnya tersengal, dan bibirnya terbuka basah bekas ciuman brutal Taehyung.

"Sunb—" lagi-lagi Taehyung melahap bibir Jungkook. Singkat. Ciuman terakhir sebelum benar-benar mengakhiri semua.

"Selamat malam, bunny."

Bunny?

Dia memanggilku bunny?

Dia tidak setenang Taehyung. Karena Taehyung dan dirinya jauh berbeda, malam itu dia benar-benar tak mendapatkan kualitas tidur yang baik. Tepat pukul 3 malam dirinya baru benar-benar terkapar lelah. Lelah karena mentalnya terus dipaksa melakukan sesuatu yang bukan jalannya.

"Yugyeom, kenapa aku dipanggil bunny?"

Yugyeom mengernyit heran, entah kenapa Jungkook selalu membuatnya gemas setiap bibir itu meluncurkan kalimat yang membuatnya heran.

"Memang siapa yang memanggilmu bunny?"

"Uhm," Jungkook berpikir sejenak. "Jawab saja, kenapa sih?"

"Karena kau bau seperti kotoran kelinci." Yugyeom tak pernah berpikir omongannya yang asal itu menghasilkan pukulan dari seorang Jeon Jungkook.

"Berhenti! aku hanya bercanda, bodoh." Yugyeom mencoba menghalau pukulan kecil Jungkook. Jungkook ternyata benar-benar kesal.

"Menyebalkan!"

"Appo.." Jungkook meninggalkan Yugyeom setelah menjambak rambutnya.

"Aish..." Yugyeom berlari menyusul Jungkook.

Seperti biasa, Yugyeom dan Jungkook kini telah berada di basecamp mereka.

PERPUSTAKAAN.

"Kalian lagi, apa perlu saya ingatkan kalau ini perpustakaan, bukan penginapan? Selalu saja tertidur di perpustakaan"

Jungkook dan Yugyeom hanya tersenyum dan melewati penjaga perpustakaan begitu saja.

"Umm, omong-omong siapa yang memanggilmu kelinci bau?" Yugyeom dan Jungkook duduk di tempat biasa. Keduanya duduk berhadapan.

"BUNNY! Pendengaranmu terganggu ya?!" Jungkook berteriak tak peduli jika ia kena teguran murid-murid lain karena menganggu ketenangan suasana perpustakaan yang telah menjadi ciri khas tersendiri.

"Iya-iya, maksudku itu. Bunny... lucu juga ya, jadi...siapa yang memanggilmu bunny?"

Yugyeom memerhatikan Jungkook seksama. Namun namja yang dipanggil bunny itu tak menjawab apapun. Sejurus kemudian, senyum kecil yang nampak aneh bagi Yugyeom terpasang jelas di bibir Jungkook.

Brak

Yugyeom menggebrak meja "Ah! Diam-diam sudah punya kekasih ternyata. Bagus ya, tidak memberi tahuku."

"Kekasih? Tidak."

"Bohong! Kau anggap aku ini apa? Pokoknya siapapun yang sedang dekat denganmu, dia harus meminta restu dariku."

"Heol. Memangnya kau siapa?"

"Aku orang tuamu di sini."

"Tak sudi. Dimana ada orang tua yang tega membiarkan anaknya terjebak di dalam kandang singa?"

Mengerti maksud sindiran itu, Yugyeom memang tak bisa melakukan apa-apa jika sudah masuk ke dalam urusan Jungkook bersama Taehyung. Jungkook menatap Yugyeom jengah, memutarkan bola mata malas hingga pandangannya menangkap sosok namja yang sedang ia hindari. Kim Taehyung. Taehyung berdiri tepat dipintu perpustakaan, menyilangkan kedua tangannya dan menatap Jungkook begitu intens.
Dia bahkan tidak mendengar kalimat sampah tak berguna yang keluar dari bibir Yugyeom.

Bodoh, Jungkook bodoh.

Seberapapun keras dia berusaha menghindar, bagaimanapun usahanya. Akhirnya mereka pasti bertemu juga. Karena Jungkook lupa satu hal terpenting yang seharusnya selalu dia ingat, mereka berdua tidur di tempat yang sama dan yang perlu digaris bawahi adalah di ranjang yang sama.

Jungkook mengurung diri di kamar mandi, menghadap cermin yang memantulkan bayangan kacau dirinya. Kamar mandi adalah tempat yang cocok untuk meratapi nasib.

Seketika pikirannya pecah saat gedoran pintu membuatnya terlonjak kaget.

"Hey bocah! Kau tak berniat mengundangku masuk ke dalam, kan? Cepat keluar aku ingin buang air kecil."

Park Jimin sialan.

"Lama sekali." Jimin memandang Jungkook penuh kekesalan sesaat Jungkook baru saja keluar menampakkan batang hidungnya. Sunbaenya ini memang tak pernah bersikap manis.

Matanya mengintai sosok namja yang sedang memainkan ponsel di meja belajar.

Bergidik takut hanya sekedar menatap Taehyung.
Jungkook berjalan mendekati single bed, berniat untuk tidur lebih cepat. Menyelimuti dirinya dengan selimut, menutupi kaki hingga kepala. Dia terlihat seperti orang tak bernyawa.

Ketika bunga-bunga tidur mulai berhasil menenggelamkan jiwanya masuk ke dalam dunia mimpi, Jungkook terpaksa membuka kembali matanya, tanda bahaya membangunkan Jungkook secara paksa. Seakan menjadi alarm agar ia segera terjaga.

"Lebih baik jika kau menginap di luar sana, jadi kau tak perlu terkena hukuman."

"Katakan saja kau memang ingin tinggal berdua dengan Jungkook, keparat." Itu suara Hoseok.

A-apa maksudnya?

Mata Jungkook kini sepenuhnya membulat, kini rasa kantuk sudah tak lagi menyerang. Justru keadaan bahaya inilah yang sekarang menyerangnya.

"Aku serius, aku sayang padamu Hoseok, aku tak mau kalian terkena hukuman." Taehyung bergurau.

"Aish, aku tak punya waktu mendengar kalimat busuk itu. Ayo Hoseok, kita harus segera keluar sebelum gerbang ditutup. Dan kau Taehyung, jangan menyesal karena lebih memilih menghabiskan malam suntuk di gudang ini."

Bersamaan dengan kepergian Jimin dan Hoseok, Taehyung memasang seringai lebar. Tentu dia lebih memilih tetap di sini daripada ikut bersama mereka menghabiskan waktu bersama jalang-jalang.

Lebih tepatnya memilih tetap di sini bersama Jungkook yang akan menemaninya sepanjang malam. Hanya berdua. Bayangkan apa yang akan terjadi.

Taehyung tahu betul, di dalam sana Jungkook sedang menahan diri agar tetap tenang, Jungkook tidak mudah terlelap, dia pasti dapat mendengar dan mengerti situasi apa yang akan ia hadapi.

Taehyung melompat ke kasur menimbulkan gerakan yang cukup kencang pada ranjang yang Jungkook tiduri. Tak dipungkiri
Kini Jungkook semakin ketakutan.

Percuma saja melawan rasa takut itu, pada akhirnya dia akan tetap terjebak juga.

Dan terbukti, detakan jantung berdegup tak karuan ketika Taehyung memaksa masuk menelusupkan tubuhnya ke dalam selimut Jungkook, kini mereka berdua berada dalam rengkuhan selimut hangat yang sama.

Refleks ia berbalik menatap Taehyung, dia dapat melihat pahatan wajah sempurna itu karena bantuan lampu utama yang menembus ke dalam selimut.

"S-sunbae..."

"Mungkin tugas untukku mengajarkanmu cara mengucapkan 'sunbae' tanpa terbata-bata."

"S-sunbae..." Jungkook kembali bergumam, suaranya seakan tak mampu berbicara lebih keras, karena yang terdengar hanya bisikan pelan.

"Sunbae, Bunny. Bukan s-sunbae. Bagaimana kalau kau panggil aku hyung saja. Aku lebih bisa menerima jika kau berkata hyung dengan terbata-bata. Suku kata pertamanya pasti akan terdengar seperti desahan."

Hyung?

Jungkook benar-benar membayangkan bagaimana jika ia memanggil Taehyung dengan panggilan hyung.

Sirheo.

Tak ingin menyelam lebih dalam du percakapan tak bermanfaat ini, Jungkook berbalik membelakangi Taehyung. Terserah apa katanya, Jungkook tak peduli. Jauh di dalam hati, sejujurnya ia hanya ingin memanggil Taehyung dengan sebutan Taehyung brengsek, tanpa harus ada embel-embel sunbae ataupun hyung.
Taehyung memang lebih cocok dipanggil brengsek, perlakuan semena-mena terhadap Jungkook sudah pantas disebut pelecehan.

Tapi mana mungkin ia mengakui itu pelecehan ketika Jungkook sendiri menikmatinya.
Dia menikmati setiap sentuhan Taehyung, seperti saat ini dimana tangan Taehyung telah terlilit erat memeluk perut Jungkook, napasnya menerpa leher Jungkook. Tak lama, tangan Taehyung masuk ke dalam baju Jungkook tanpa izin menelisik kulit halus yang membuatnya semakin menjadi, mengundang dirinya untuk bertindak lebih lama. Memberi sengatan aneh yang sukses merobohkan pendirian teguh milik Jungkook.

Meski menggeliat tak nyaman, Jungkook tak bisa menepikan rasa hangat. Dia memejamkan mata nikmat.

"Hh..hyung," tanpa sadar Jungkook mengucapkan panggilan terkutuk itu. Ternyata benar, memanggil hyung terbata-bata terdengar seperti desahan tak kentara. Tak jelas memang tapi desisan pelan masih bisa terdengar. "Boleh aku menciummu?" Permintaan yang sebelumnya tak pernah terbesit untuk diutarakan keluar begitu saja. Jungkook benar-benar melakukannya dengan penuh kesadaran, seakan keadaan berbalik, Taehyung yang sepertinya akan kehilangan kesadaran mendengar permintaan yang sama sekali tak pernah ia sangka akan mengalun lembut tanpa bisa menerima penolakan.

TBC

Kookie udah mulai nih ya minta duluan -_- ewhhh cabai :*