Main Character :
Namikaze Minato & Uzumaki Kushina
Genre : T
Disclaimer :
Naruto belongs to Kishimoto
2 bulan kemudian...
Kelas
Kushina POV
Minato...
Hubunganku dengannya sejak saat itu jadi renggang( baca chapter 3 ). Walupun begitu, ia tetap mengajakku bicara dan jawabanku selalu dingin. Bahkan sampai sekarang ia masih sering mengirim email untukku. Sekedar menanyakan keadaanku atau tugas sekolah, dan aku tak pernah membalasnya jika ia menanyakan hal lain selain sekolah. Aku ingin bicara dengannya seperti dulu, ketika awal aku mengenalnya. Aku rindu saat-saat itu. Tapi, aku juga sedikit bersyukur. Karena aku menjauhi Minato, banyak teman lain yang juga menjauhiku. Kecuali Hinata. Ia tetap di sisiku. Keadaan ini membantuku memahami posisi Himeka.
"Uzumaki! Tolong jawab soal di papan tulis." Kakashi Sensei menyadarkanku dari lamunanku.
"..." aku beranjak berdiri dari kursi dan maju ke depan. Menyelesaikan soal itu.
"Bagus, Uzumaki." Puji Kakashi Sensei.
"Terima kasih." Aku mengembalikan spidolnya dan kembali ke tempat dudukku, di sebelah Minato.
Mata birunya menatapku. Minato...
"Kushina, apa kau mau pulang bersamaku nanti?" ia menatapku yang baru saja duduk. Matanya...aku selalu terpukau oleh mata itu. Lagipula, kenapa tiba-tiba mengajakku pulang bersama? Sejak saat itu, kau tak pernah mengajakku pulang bersama.
"Tak usah." Aku menjawab dengan dingin, seperti biasa. Walaupun aku tahu itu menyakitkan, tapi aku harus melakukannya.
"Aku tak peduli. Aku akan menunggumu." Ia serius. Apa yang kau lakukan, Minato?
oOo
Aku akan segera lari begitu pelajaran selesai. Barangku sudah kubereskan semuanya. Aku hanya perlu berlari dan aku takkan pulang bersama Minato. Baiklah, sebentar lagi pelajaran selesai.
Tet tet tet
Itu dia! Aku segera memasukkan bukuku dan pensilku. Kuambil tasku dan segera berdiri. Kurapikan kursiku dan berusaha keluar dari kelas sebelum yang lain.
Ternyata prediksiku salah. Minato juga sudah selesai membereskan barangnya, ia sudah siap pulang. Aku harus lari sekarang. Aku melewati teman-teman yang berkerumun untuk keluar. Kerumunan ini benar-benar menghambatku. Minato juga masih mengikutiku.
Sedikit lagi dan aku bisa lari. Sedikit lagi. Aku berhasil...tunggu, ada yang menahanku.
"Jangan coba-coba lari dariku." Tangan Minato menggenggam pergelangan tanganku. Kenapa? Padahal aku sudah ada di gerbang sekolah. Kenapa kau bisa secepat ini menyusulku?
"Lepaskan!" aku menarik-narik tanganku. Ia tak mau melepaskannya.
"Aku sudah bilang kita akan pulang bersama, bukan? Kau tak boleh pergi." Matanya menatapku tajam.
"..."
Pada akhirnya rencanaku gagal. Sekarang apa yang akan dilakukannya? Kami hanya berjalan dengan mulut membisu. Tangannya tak melepaskan genggamannya, justru semakin erat. Wajahku panas.
Kami sampai di taman. Taman di mana aku terakhir bicara normal dengan Minato. Apa yang akan kau lakukan, Minato?
"Kau masih ingat saat itu, Kushina?" ia menuntunku ke pohon di tengah taman. Tempat dimana aku menangis.
"Ya." Aku memalingkan wajahku, mencoba menenangkan diriku.
"Sejak saat itu, aku tak pernah berhenti memikirkanmu. Walaupun kau dingin padaku, aku tak peduli. " wajahnya merah.
"Aku sudah terlanjur tertarik padamu sejak awal pertemuan kita. Aku tahu kau harus menjauhiku karena suatu alasan yang belum kuketahui. Karena aku belum tahu, jadi aku tak menjauhimu."
Aku menelan ludah, berusaha mengumpulkan keberanianku. "Walaupun kau tak menjauhiku, aku takkan menganggapmu teman."
"Aku bisa saja menjauhimu, tapi aku tak mau. Aku punya alasan untuk tak menjauhimu." Ia terus bicara seolah mempedulikan kata-kataku barusan.
"Aku...mencintaimu, Kushina." Wajahnya merah. Aku terkejut dengan pernyataannya barusan.
"Minato..." ia menggandeng tangan kiriku. Kami saling berhadapan. Aku tak boleh menatap mata itu. Aku segera memalingkan wajahku, berusaha menutupi rona merah di wajahku.
"Lihat aku, Kushina." Ia melepaskan tangannya dari tanganku dan menyentuh daguku. Tangannya menghadapkan wajahku dengan wajahnya dan menahan wajahku. Celaka!
"Aku tak bisa..." mataku mulai berkaca-kaca. Aku sudah tak berdaya di depan mata itu. Segal kesedihanku meluap. Aku teringat lagi akan kata-kata Tsunade-san. Aku tak boleh jatuh cinta pada siapapun, termasuk kau Minato.
"Aku tahu kau bohong, Kushina."
"Aku tidak bohong! Sekalipun aku mencintaimu, aku tak boleh!" air mataku mengalir.
"Kenapa?" wajahnya menampakkan kekecewaan yang mendalam. Genggamannya juga semakin kuat.
"Aku...harus pulang sekarang." Aku berusaha mengalihkan topik. Tanganku menyeka air mataku dan melepaskan tangan Minato.
"Jangan pergi! Kita belum selesai bicara." Tangannya menggenggam tanganku lagi. Kumohon, biarkan aku pergi Minato.
"Kushina...aku tak peduli kau mencintaiku atau tidak. Perasaanku padamu takkan berubah."
Kata-kata Minato barusan benar-benar membuatku tak tahan lagi dengan situasi ini. Aku sudah tak tahan lagi. Kakiku lemas, rasanya aku akan jatuh. Benar saja, aku nyaris terjatuh tapi, Minato menangkapku sesaat sebelum aku terjatuh.
"Kau tak apa?" tanyanya cemas.
"Tidak apa. Aku mau pulang." Aku mencoba bangkit tapi tak bisa.
"Biar kubantu." Ia melingkarkan tangannya di pinggangku dan tanganku melingkar di lehernya. Ia membantuku berdiri. Minato, kenapa kau berbuat sampai sejauh ini?
"Aku...ingin kau jadi pacarku...walaupun kau sekarang tak mencintaiku, aku tahu kau tak membenciku. Jadi, aku akan menunggu sampai kau mencintaiku." Katanya sambil memapahku.
"Percuma. Aku ingin mencintaimu, Minato. Tapi aku tak boleh." Aku menekankan kata ingin dan tak boleh. Mencoba memberi pengertian pada Minato.
"Aku tetap tak peduli. Apapun yang kau katakan, aku tak peduli."
Setelah itu kami terus diam selama perjalanan pulang.
oOo
Kamar Kushina
Tadi, Minato menyatakan perasaannya padaku. Ia mencintaiku...
Aku ingin sekali membalas cintamu itu, Minato. Tapi, selama aku masih di sini, aku tak bisa. Aku juga tak mau menyakitimu seperti tadi. Aku ingin kau bahagia tanpaku, Minato.
Drr drr drrt
Ponselku bergetar. Ada email ya. Dari...Minato?
Soal yang tadi, aku takkan merubah perasaanku untukmu.
Besok aku akan pulang bersamamu lagi.
Apa maumu, Minato? Apa kata-kataku tadi kurang jelas? Apa yang kau inginkan dari seorang gadis yang tak bisa membalas cintamu? Ada banyak gadis lain yang memujamu, Minato. Kenapa aku? Jangan buat aku menyakitimu lebih jauh lagi. Aku juga tak tahan.
Perasaanku untukmu, harus kuhilangkan. Tapi kenapa? Kenapa kau tak juga mengerti itu?
Tanganku mulai mengetikkan balasan email itu.
Aku ingin tapi tak bisa.
Sudah selesai. Lalu aku menyimpannya di memori. Aku memang tak pernah mengirimkan balasan emailnya jika bukan tentang sekolah. Aku hanya menyimpannya.
oOo
Bagaimana ini? Aku tak bisa menghindar dari Minato, apalagi dia duduk di sebelahku.
Aku berjalan perlahan menuju tempat dudukku. Minato menatapku.
"Kau sudah baca emailku?"
"Sudah." Jawabku dingin
"Kalau sudah baca, jangan coba-coba untuk lari."
"..." aku tak tahu harus menjawab apa. Kenapa ia tidak menyerah saja dan cari gadis lain? Kau membuatku tambah menderita, Minato.
oOo
Kali ini aku pasti berhasil. Aku takkan gagal untuk kedua kalinya, karena Minato sedang ke toilet sekarang. Saat ia kembali nanti, sudah waktunya pulang. Ia takkan bisa mengejarku.
Tet tet tet
Bagus. Minato belum kembali juga. Aku bisa menghindar darinya.
Aku berdiri dan mengambil tasku, lalu segera keluar dari kelas. Aku berhasil. Gerbang sekolah tinggal 1 meter lagi dan Minato belum terlihat sama sekali.
Sedikit lagi. Tinggal sedikit lagi. Aku berhasil. Aku berhasil lari dari Minato.
Aku segera berlari menuju rumah. Eh? Ada yang menahanku?
"Sudah kubilang, jangan coba-coba lari dariku." Minato menggenggam tanganku. Bagaimana bisa?
"Ayo! Kau akan melihat pemandangan bagus." ia tersenyum. Wajahku panas, entah kenapa saat dia tersenyum aku selalu gugup. Aku hanya diam dan mengikutinya.
oOo
"Kita sudah sampai." Ia berhenti. Aku tak tahu ini dimana, tapi pemandangannya benar-benar indah.
"Dimana ini?"
"Ini bukit belakang sekolah. Pemandangannya indah bukan?" ia tersenyum sambil merasakan angin yang menerpa wajahnya.
"Ya, pemandangannya indah. Aku tak tahu ada tempat seindah ini." Tangannya mengenggam tanganku erat.
"Sebenarnya ada yang ingin kubicarakan." Raut wajahnya berubah jadi serius.
"Apa?" aku mencoba menutupi kegelisahanku.
"Kau masih ingat yang kemarin?" genggamannya semakin erat.
"..." aku hanya diam, tak tahu harus menjawab apa.
"Aku tidak mau kau terbebani dengan masalah kemarin. Jadi, aku mengajakmu ke sini untuk menenangkan dirimu."
"Apa maksudmu?" aku masih tak mengerti ucapanmu.
"Hari ini, kau tak ada acara kan?"
"Tidak."
"Kalau begitu, kita akan bersenang-senang hari ini." Ia tersenyum lagi dan mengajakku menuruni bukit.
"Mau kemana?"
"Kau akan tahu nanti." Ia tersenyum. Minato...apa yang sebenarnya kau pikirkan?
oOo
Ini tempatnya? Indah sekali. Seperti kasur bunga dandelion. Angin yang berhembus membuat banyak bulu-bulu putih dandelion berterbangan. Kelinci putih yang bersembunyi di balik bunga dandelion saling berlompatan. Aku hanya terpana melihat pemandangan itu.
"Indah bukan?" Minato tersenyum dan melepaskan genggamannya, membiarkanku berlari menuju lautan dandelion itu.
Aku tersenyum padanya dan segera berlari menuju lautan dandelion itu. Aku memetik salah satu bunga dandelion dan meniupnya. Aku berbalik dan melihat Minato tersenyum ke arahku. Aku membalas senyumannya dan kembali bermain.
Tempat ini begitu indah. Apalagi karena Minato yang mengajakku. Tunggu, Minato juga harus merasakan kebahagiaan ini. Aku segera berlari ke tempat Minato dan menggandengnya.
"Ayo, jangan diam saja!" ia kaget dengan reaksiku barusan, wajahnya merah. Ia lalu tersenyum dan berlari mendahuluiku.
"Aku senang kau ceria lagi, Kushina." Kata-katanya barusan membuatku kehilangan konsentrasiku dan aku terjatuh tersandung kakiku sendiri.
Bruk!
Aku memejamkan mataku. Tidak sakit. Kubuka mataku perlahan.
"Kau tak apa?" wajah Minato tepat ada di depanku. Ia menahan tubuhku ini. Tidak! Ini terlalu dekat! Aku segera menjauhkan diri darinya. Napasku tersenggal-senggal. Aku terduduk 1 meter di depannya.
"Ti-tidak apa." Aku masih belum bisa mengendalikan diriku. Aku melihat Minato yang masih terbengong-bengong dengan reaksiku barusan. Wajahnya merah. Dia saja merah apalagi aku!
Ia menghampiriku. Jantungku berdegup kencang. Ia semakin dekat. Wajahku makin panas.
"Ayo." Ia mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Aku menghela napas panjang berusaha menenangkan diriku.
"Ya." Aku mengenggam tangannya dan bangkit berdiri.
oOo
Kami berbaring di atas rerumputan yang lembut, menikmati angin sepoi-sepoi.
Aku menghela napas panjang. Masih tak percaya bahwa aku bisa bersenang-senang seperti ini.
"Minato..." aku akan mencoba bicara dengannya sekali lagi.
"Hmm?" ia menoleh ke arahku.
"Aku akan segera pergi 3 minggu lagi." Entah kenapa, aku ingin ia tahu hal ini.
"Apa maksudmu?"
"Aku akan pindah."
"Ke mana?"
"Tokyo."
"Kenapa kau pindah?" suaranya mulai berubah kecewa.
"Waktuku di sini hampir habis. Jika waktuku sudah habis, aku akan kembali ke Tokyo." Aku mencoba menjelaskan.
"...ini sudah sore. Kita harus pulang sekarang." Ia mengganti topiknya. Ia marah padaku...di sini sakit...tapi, baguslah kalau begitu. Setidaknya kau takkan tersakiti lagi. Aku berdiri dan mengikuti Minato yang sudah berjalan duluan.
"Kushina...walaupun waktumu di sini sudah habis, bukan berarti kita takkan bertemu lagi. Lagipula, masih ada 3 minggu yang tersisa. Aku akan pastikan bahwa 3 minggu itu adalah yang akan selalu kau ingat." ia menggandengku dan tersenyum. Kenapa kau tak marah?
"Kau tak marah padaku?"
"Awalnya aku memang marah. Tapi, lalu aku tahu bahwa jika kau pindah, bukan berarti aku tak bisa bertemu denganmu lagi. Aku mungkin terpaut jarak yang jauh denganmu, tapi jarak yang jauh bukan masalah untukku. Aku bisa naik kereta ke sana."
"Minato..." aku mulai menangis. Aku tak tahan melihatnya menderita seperti ini dan tapi kenapa kau bersembunyi di balik senyuman itu?
"Kushina? Ada apa?" ia menghentikan langkahnya dan melihatku. Aku tak berani melihat wajahnya. Ia menyentuh daguku dan mengangkat wajahku.
"Jangan membuat dirimu menderita. Cukup aku saja." Air mataku terus mengalir.
"Kalau kau menderita, aku juga menderita. Cintaku tak bisa kau balas, kau pikir seberapa besar penderitaanku?" ia menyeka air mataku dengan jarinya.
"Maafkan aku. Aku ingin membalas cintamu, tapi-"
"Kau tak boleh, aku tahu itu." Suaranya meradang. Ia marah.
"Lalu kenapa?"
"Karena aku sudah tak bisa berhenti." Genggamannya bertambah erat
"..." Aku hanya diam.
"Bisakah...bisakah kau mencintaiku kalau sudah ada di Tokyo?" wajahnya sudah penuh dengan kekecewaan dan amarah.
"Aku...akan membalas cintamu jika aku sudah pindah dari sini. Itu janjiku." aku serius Minato. Percayalah. Aku menggenggam tangannya erat.
"Kupegang janjimu itu." Ia tersenyum. Aku takkan membiarkanmu menderita lebih dari ini, Minato. Aku janji.
Sekian chap.4
Maaf kalo kurang memuaskan dan banyak typo ato masih belum dapet feelnya.
Oh ya makasih buat semua reviewnya. Sarannya juga berguna banget. Aika-san makasih buat saran-sarannya :)
Chap.5 segera menyusul.
