I hate Woman, Problem? 4 – Who are You?
Masih di Jepang, kini di sebuah rumah bergaya jepang yang biasanya terdiri dari satu pria bertatapan seram, satu orang tua, dan satu gadis kecil, sedang kedatangan tamu. Di rumah satu ini, untuk mendapatkan tamu adalah hal yang luar biasa jarang. Bagaimana bisa? Karena pemilik resmi dari rumah itu tatapannya luar biasa seram. Semasa sekolah, dia menyandang dua status bertolak belakang. Satu ketua komite disipliner dan satu lagi ketua kelompok berandalan. Entah kenapa orang dengan aliran seperti itu benar-benar keras di hal yang namanya kedisiplinan.
Tamu itu duduk dengan canggung. Dia lumayan gugup. Dia kini hanya menatap lantai yang menjadi pijakan kakinya. Di depannya, ada kakek yang sedang membaca sebuah surat. Dia menunggu sampai beliau selesai membacanya.
"Jadi kau adalah rekan kerja anakku, Kyoya, dan guru sekolah cucuku Misaki?" tanya kakek setelah selesai membaca suratnya dan menangkap intinya. Mendapati yang ditanya mengangguk, kakek mengurut dagunya. Dia kini mulai membenarkan kalau dunia itu sempit. Menjadi rekan kerja dari ayahnya dan menjadi guru sekolah anaknya, dan ditambah lagi ayahnya tidak bekerja sebagai guru juga. "Lalu apa ada yang ingin anda lakukan di sini? Kenapa kau disuruh menjemput cucuku?"
"Saya datang ke sini sebagai rekan kerja anak anda, dan saya diperintahkan oleh bos saya untuk membawa cucu anda ke tempat anak anda sekarang. Percayalah, ini tidak berbahaya dan tidak ada niat jahat," jawabnya dengan yakin. Lalu dia menolehkan kepala pada Misaki yang duduk di sebelahnya dengan kepolosannya karena merasa kenal. "Misaki-chan adalah muridku walau pun aku baru menjadi guru baginya. Aku tidak akan melukai muridku sendiri." tangannya mengelus rambut Misaki dengan lembut.
Kakek tentu tidak merasakan adanya bahaya jika melihat bagaimana reaksi Misaki yang dibelai rambutnya. Dia terlihat senang sekali. Dan lagi kakek intuisinya juga lumayan tajam. Dia melihat di surat yang tadi dia baca. Di sana tertulis jelas kata 'Hibari-san'. Kalau orang yang menulis surat ini adalah orang jahat yang asal menargetkan orang, dia rasa orang itu akan menulis 'Hibari Kyoya'. Karena ada lebih dari lima orang yang memiliki nama Hibari di dunia. Jadi pastilah yang menyebut 'Hibari-san' di surat ini tahu kalau pun hanya dengan marganya saja, orang yang ia hubungi akan mengerti siapa itu karena orang yang keduanya ketahui bernama Hibari hanya satu.
"Ehehe. Bu guru, aku lupa nama bu guru. Nama ibu siapa ya?" tanya Misaki, langsung ke inti. Guru itu langsung diam. Kakek juga.
"Lho? Kok bisa begini? Kau benar gurunya kan?" tanya kakek penuh selidik. Keraguan seketika menyerbunya. Bisa begitu, murid lupa nama gurunya? Kalau muridnya itu sudah jadi alumni, itu wajar sih ya, walau pun sebenarnya tidak baik. Melupakan nama orang yang berjasa di kehidupan masa sekolah. Jahat sekali.
Guru itu langsung gelagapan sendiri. Kalau begini dia benar-benar terlihat mencurigakan. Seperti orang yang ingin menculik dengan penyamaran sebagai guru sekolahnya. "S-Saya benar gurunya kok! Saya memang baru kerja beberapa hari lalu, jadi kan lumayan wajar kalau Misaki-chan lupa nama saya," elaknya. Setitik dua titik keringat mulai terlihat, dan itu malah menambah kecurigaan.
"Kalau begitu namamu siapa?" kakek berusaha memojokkan orang yang mengaku sebagai guru itu. Tapi jujur saja, kalau orang itu tidak bersikap gugup karena tidak menyangka kalau akan dilupakan namanya oleh muridnya sendiri, pasti kecurigaan kakek tidak begitu besar.
"Iih, Misaki-chan pakai lupa nama ibu. Nama saya Rokudo Nagi. Walau pun pekerjaan menuntut saya untuk bisa berkomunikasi dengan baik di depan orang yang dikenal atau pun tidak, saya sebenarnya masih gugup. Maaf kalau tidak begitu meyakinkan, tapi beginilah adanya," ucapnya pada kakek dan Misaki.
"Ah, iya! Bu guru nanas enam!" sahut Misaki girang, sambil mengacungkan telunjuknya entah untuk apa. Guru itu yang diketahui bernama Nagi, langsung menanyakan maksudnya. "Teman-teman bilang begitu! Rambut dan nama ibu mirip enam nanas! Roku Nappo-sensei!"
Nagi mengerjapkan mata, berkebalikan dengan kakek yang justru mulai rada takut. Kenapa? Dia khawatir kalau-kalau Nagi adalah tipe orang yang mudah tersinggung lalu mulai marah pada Misaki lalu menindasnya di sekolah. Oh tidak, pikirannya terlalu jauh.
"M-Maaf, bu. Jangan di-"
"Hahaha, Misaki-chan boleh juga." Nagi tertawa dengan leluasa, tapi tetap dengan sopan santun dan tertawa yang cocok untuk wanita dewasa. "Kalau begitu nanti ibu juga mau bilang ke yang lain, untuk memberikan julukan juga untuk Daemon-sama."
"Dimo-n? Siapa itu?"
"Daemon, Misaki-chan. Beliau ayahku, dia juga kan mengajar Misaki-chan."
"Oh, yang itu. Yang kemarinnya ngajar tambah-tambahan terus besoknya dikasih soal kali-kalian," gumam Misaki. Anak kecil memang masih polos. Dengan wajah tanpa dosa, dia mengatakan hal seperti itu di depan anaknya. "Untung ada Rokunappo-sensei, aku jadi bisa mengerjakan soalnya,"
Satu hal yang disyukuri kakek. Misaki jarang sekali meminta sesuatu. Anak seumurannya sudah seharusnya dipenuhi keinginan, tapi entah kenapa itu tidak berlaku padanya. Kakek dan Hibari yakin, sebenarnya Misaki punya keinginan, hanya saja dia tidak tahu cara menyampaikannya. Tapi berbeda dengan kakek, Hibari bukan orang yang mengajari dengan memberikan secara langsung jawabannya, melainkan membuat orang itu mencari jawabannya sendiri. Orang yang bisa bertahan hidup di dunia yang keras ini hanya orang-orang yang dapat menemukan jawabannya sendiri, tanpa bantuan orang lain. Makanya, sepertinya kakek harus memberitahu Hibari, bahwa anaknya sudah menemukan jawabannya dan siap untuk menyelesaikan soal berikutnya.
.
Italia
Cklek. "Hibari-san, Dino-san!" panggil Tsuna ketika membuka pintu. Di tangannya ada satu kantung plastik berisi botol minum plastik. "Ini, makanannya. Hibari-san makan ya. Ah, kami juga belikan susu untuk Hibari-san. Katanya kalau sedang gelisah, kalsium berkurang," lanjutnya, sambil menaruh kantung itu di meja. Lho? Mana makanannya? Ah, Mukuro yang bawa. Kayaknya tadi Mukuro sempat ngegombalin Tsuna dulu sebelum membawakan kantung makanan.
"Ah, terimakasih, Tsuna," ucap Dino, melihat Tsuna dan Mukuro benar-benar datang membawa makanan. Bukan, bukan berarti Dino menganggap remeh janji mereka. Hanya saja, yah, Tsuna kan bos Vongola. Bisa saja mereka datang dengan ucapan 'nanti dibawakan', karena biasanya ada saja yang bilang 'bos balik duluan saja, nanti saya bawakan' dan semacamnya. "Bawahanmu tidak ada yang berisik, Tsuna?"
"Ehehe, tadi iya sih. Tapi begitu aku bilang mau kubawakan pada Hibari-san, semuanya langsung diam. Hibari-san masih saja menakutkan bagi mereka," jawab Tsuna, sambil tertawa pelan. Dino yang mendengarnya hanya tertawa.
Kalau mau dibilang yang sebenarnya, sekarang Tsuna sudah ahli menyembunyikan ekspresi aslinya. Dia sebenarnya tidak mau tertawa. 'Bagaimana aku bisa tertawa setelah yang terjadi tadi...'
Flashback
"Ara, Vongola Decimo. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang ibu-ibu yang menjaga kafeteria di markas. Dia terlihat sangat ramah, dengan senyumnya yang merekah lebar.
Tsuna balas tersenyum. "Haha. Aku dan Mukuro makan siang di sini. Aku pesan kabayaki boleh? Tiba-tiba aku jadi ingin makanan jepang. Mukuro, kau pesan apa?" Tsuna melongokkan kepalanya ke arah Mukuro yang berdiri di belakangnya.
"Aku... stew saja," jawabnya.
"Oke, 1 stew dan 1... kabayaki kan? Lalu ada yang lain lagi?"
"Ah, iya. Tambah 2 bageutta ya, dibungkus," tambah Tsuna, tapi lalu dia diam. Dia menoleh pada Mukuro. "Dino-san dibelikan makanan berat juga kali ya?" Mukuro mengedikkan bahu.
"Haneuma itu tidak butuh makan banyak. Dan lagi dia tidak bawa anak buah, bisa-bisa ruangan kotor karena tumpahan makanan," jawabnya dengan setengah bercanda –atau tidak?
"Wah, ada bucking bronco Dino di sini? Kalau begitu ini untuknya ya? Kenapa belinya dua? Apa bucking bronco makannya banyak? Kalau begitu ditambah makanan berat saja bos," sarannya, ketika dia bisa menangkap siapa yang dimaksud mereka. Tangannya sudah siap jika harus menambah pesanan, tapi ternyata tidak jadi karena Tsuna menggeleng.
"Tidak, tidak usah. Lagipula 2 orang yang kubawakan makanan," jawabnya sambil tersenyum seperti biasa. "Dia juga makannya tidak sebanyak itu"
"Ara? Memang siapa lagi?"
"Cloud guardian-ku, Hibari-san."
End of Flashback
Tsuna sangat menyesal kenapa ia menjawabnya dengan volume biasa. Seharusnya ia mengecilkan suaranya sedikit atau malah tidak usah menjawab. hanya karena jawabannya, orang-orang di kafeteria yang belum mengetahui kepulangan cloud guardian langsung memasang ekspresi kaget –sangat kaget. Ibu itu juga demikian. Langsung ada suara bisik-bisik yang datang dari orang-orang yang duduk di meja kafeteria. Mukuro yang mengerti Tsuna rada takut ketika itu, segera menenangkan orang-orang di sana. Tidak sulit, karena yang melakukannya adalah salah satu dari guardian. Tapi walau begitu, Tsuna juga masih kepikiran. Dia tidak mau Hibari jadi bahan gosip anak buahnya ketika Hibari sendiri sedang dihujam masalah.
Dino segera menyambar plastik berisi makanan untuknya dan Hibari. Dia keluarkan isinya dan membukanya. Yang pertama tentu dia bujuk Hibari untuk makan. "Kyoya, makan dulu. Kau belum makan hari ini kan?"
Hibari tentu bukan anak kecil yang perlu dikejar-kejar untuk makan, tapi kali ini dia benar-benar tidak merasa ingin makan. Tutornya padahal sudah baik sekali membukakan makanannya. "Kyoya, kau harus makan. Kalau kau tidak makan, kau tidak bisa bertarung."
Mukuro yang melihatnya tiba-tiba merasa tidak enak. Entah kenapa, melihat Hibari dibujuk-bujuk makan oleh Dino membuatnya... tersinggung. Lalu matanya melirik ke Tsuna. "Tsunayoshi-kun, aku tidak boleh ambil baguetta-nya ya?" tanyanya, dengan mata berbinar-binar.
"Ha? Buat apa? Ini untuk Dino-san!"
"Habis, aku juga mau kayak begitu. Coba saja Tsunayoshi juga kayak Hibari, susah makan. Aku juga tidak keberatan main kucing-kucingan biar kamu makan," gerutunya. Rasanya dia seperti menimpakan kesalahan pada Tsuna, ya. Tsuna kemudian hanya memerah dan menyumpah-nyumpahi Mukuro karena kata-katanya barusan. Bisa-bisanya dia bercanda di saat seperti ini.
Mukuro lalu memandang Hibari yang dibujuk-bujuk Dino. Sekarang sudah ada kemajuan, Hibari sekarang memberikan upaya penolakan untuk makan dengan cara menampik pelan tangan Dino. Mukuro jadi jengkel juga dibuatnya. "Kufufu, Hibari. Umurmu berapa sih? 5 tahun?" tegurnya dengan suara menantang. Lantas, Hibari yang sudah pasti mendengarnya, menatap Mukuro dengan tatapan tajam yang sekali pun tidak pernah menggoyahkan Mukuro. Seketika dia berdiri tegap, membuat Dino harus mundur sedikit agar memberi ruang untuk Hibari jika ingin bergerak.
"Umurku 27. Kau tahu itu," jawabnya dengan tatapan yang lebih sadis. Walau pun itu ditujukan untuk Mukuro, justru itu lebih bekerja keras pada Tsuna dan sedikit pada Dino.
Mukuro terkekeh. "Oya, lalu kau pikir itu kelakuan umur berapa? Kalau pria berusia 27 bersikap kekanakan seperti itu, pada umur berapa dia akhirnya bisa bersikap dewasa? 47?" mendengar Mukuro bicara seperti itu, Tsuna langsung merasakan akan ada yang tidak beres jika ini dilanjutkan. Kenapa? Hibari orangnya sangat temperamen dan tidak akan memberi belas kasihan pada orang yang sudah membuatnya marah. Kalau sudah seperti itu...
"Kamikorosu," maka jadinya begini. I'll bite you to death. Kata favorit Hibari yang bisa membuat siapa pun kalah telak walau pun tidak secara harfiah dengan gigitan. Tapi lagi-lagi itu hanya membuat Mukuro merasa menang telah membuat anak kecil ini yang daritadi hanya mengambek dan dimanja akhirnya marah.
"Oya, sudah lama aku tidak mendengarnya. Kau sudah lama tidak mengejarku lagi karena sekarang sudah ada Haneuma sebagai lawanmu," dengan entah apa itu yang berada di kepalanya, dia malah memperburuk keadaan. Dia lalu mulai mengeluarkan senjatanya. Sebuah trident yang mengendalikan ilusi. Sekarang dia sudah benar-benar di mode bertarung, begitu juga Hibari yang masih setia dengan tonfanya. "Sebenarnya aku juga tidak peduli mau kau sama Haneuma atau tidak, toh aku punya Tsunayoshi-kun. Kalau ada Tsunayoshi-kun, kebutuhan hidupku terpenuhi."
Tsuna menelan ludah mendengar kata-kata Mukuro. Semburat merah sedikit terlihat di mukanya yang masih muda dan mulus walau ia lelaki. Apalagi ketika Mukuro lalu menolehkan kepala padanya lalu mengedipkan sebelah matanya.
Dari tempatnya berdiri, Hibari masih bisa melihat dengan jelas apa yang dilakukan Mukuro pada Tsuna di sana, lalu ia mengulas senyum mengejek. "Hn, aku memang lebih memilih bersama Haneuma daripada denganmu –memang apa sih yang bagus darimu? Tapi sayangnya aku bukan gay," tepat setelah ia mengatakan itu, dia meluncurkan serangan tonfanya dengan dada bidang Mukuro sebagai sasaran. Hibari bukan tipe orang yang selalu ingin membunuh, ia hanya ingin orang-orang yang ia tidak suka merasakan rasa sakit dari ciuman tonfanya.
Serangannya tidak dapat mengenai Mukuro, karena Mukuro dengan tubuh lenturnya bisa menghindar. Tidak puas, Hibari lagi-lagi mengayunkan tonfanya dengan lebih cepat agar Mukuro tidak bisa menghindar karenanya, tapi sayang sekali Mukuro masih bisa menghindar. Satu serangan tonfa dari sebelah kiri, menargetkan pelipis, Mukuro merundukkan badan. Satu serangan dari bawah dan menargetkan dagu, Mukuro memundurkan kepala. Dan sekarang Hibari meluncurkan tonfa dari kanan dan menargetkan tulang pipi.
DUAK! Kali ini tepat sasaran. Mukuro terpelanting ke belakang, sedikit mendekati tempat Tsuna berdiri.
"Mukuro!" teriak Tsuna, sambil menghampiri Mukuro yang barusan mendarat di lantai dengan lumayan keras. Sehabis Mukuro bisa menghindar dari serangan Hibari yang mematikan dengan sempurna, Tsuna sama sekali tidak mengira kalau pada akhirnya Mukuro bisa kena. Hibari sudah puas, lalu akhirnya menghela napas dan melepaskan mode bertarungnya.
"Kufufufu, kau melihat ke mana, Hibari?" tiba-tiba ada suara Mukuro, dengan nada suara tanpa beban. Sama sekali tidak terdengar dia baru saja terpukul di tulang pipi. Segera Mukuro menghantam Hibari dari belakang. Serangan Mukuro tadi memang mengenai Hibari, tapi Hibari tidak akan jatuh terpelanting hanya karena itu. "Oya, katamu kau benci ilusi, makanya kau handal membedakan mana ilusi mana tidak. Kenapa sekarang kau tidak bisa membedakan mana yang asli? Oh iya, aku lupa kau sudah 3 tahun bermalas-malasan di rumahmu yang damai dengan pekerjaan biasamu,"
Seketika, badan Mukuro yang semula seperti berada di lantai, yang terkapar dengan sebuah luka memar di pipi, lenyap. Yang ada malah beberapa bantal duduk.
Hibari bangkit ke mode bertarungnya kembali. Memang dia merasa ada yang aneh, tapi entah kenapa dia juga merasa itu Mukuro yang asli sehingga langsung saja menghajarnya. Menyadari sepertinya kedua guardiannya yang paling sulit diatur dan yang terkuat akan memulai pertarungan kembali, Tsuna hanya meringkuk bersama Dino di pojokan, menunggu mereka selesai dengan urusan mereka. Benar-benar, apa mereka bos mafia sungguhan?
BRAK! Entah sudah keberapa kali Tsuna mendapati pintu ruangannya dibuka dengan cara yang kasar di hari itu. Kini yang masuk ke ruangan adalah tutor dari don Vongola Decimo, sang hitman nomor 1 dunia, Reborn. Gokudera juga ada di belakangnya.
"Ada apa ini?! Kenapa ribut sekali?!" Reborn ternyata datang-datang hanya main teriak, dan teriakan membahana itu lumayan bisa membuat pertarungan indoor Mukuro dan Hibari itu berangsur-angsur berhenti. Ngomong-ngomong, kelihatannya mereka bertarung benar-benar lupa tempat. Beberapa peralatan di sana sudah hancur. Ruangan impian ini sudah kekurangan keindahannya. Tidak... Tapi seorang Reborn tidak akan mempedulikan itu. "Kalian kok bertarung di sini sih?! Bikin takut orang yang mau masuk tahu nggak?!"
"Oya, Arcobaleno. Apa kau lupa yang boleh masuk ke ruangan ini hanya Tsunayoshi dan guardiannya saja? Di antara itu semua, hanya Tsunayoshi dan si bocah lightning saja yang takut di saat seperti itu," ucap Mukuro. Walau ia berkata begitu, ia sudah menghilangkan wujud trident-nya, tanda pertarungannya sudah selesai. Hibari juga begitu, ia mulai menyimpan kembali tonfanya. Entah kenapa mood-nya untuk bertarung lenyap ketika Reborn datang.
"Heh, Mukuro. Kau pikir siapa aku? Aku sudah mengabdi pada Vongola entah dari generasi keberapa itu. Mana bisa aku lupa? Lagipula, yang kumaksud takut itu adikmu tahu," balas Reborn, seraya mengambil langkah masuk ke ruangan. Setiap langkah yang Reborn ambil, pasti ada suara seperti kaca pecah atau semacamnya. Justru yang membuat kerusakan bertambah itu yang datang untuk memarahi para penyebabnya.
"Oya, dia datang? Kapan?" tanya Mukuro sambil merapikan pakaiannya. Karena dia akan bertemu dengan adiknya, ia harus tampil dengan keadaan sebaik mungkin.
"Adik Mukuro datang? Mana? Aku sudah lama tidak bertemu dengannya." akhirnya bos Cavallone angkat suara. Setelah beranjak dari posisi berlindungnya, ia maju menghampiri mereka-mereka yang berkerumun di dekat pintu. "Hei, Tsuna! Adik Mukuro datang tuh!"
"Eh? Benarkah?" tanya yang dipanggil. Dino mengangguk.
"Kufufufu, Tsunayoshi. Kau harus tampil bagus di hadapan adik iparmu," desis Mukuro, dengan niat yang sudah pasti ingin melihat bagaimana reaksi yang bersangkutan. Dia berharap paling tidak wajahnya akan memerah dan memintanya berhenti. Dan ternyata memang begitu reaksinya.
"Apaan sih, Mukuro! Memangnya kita akan menikah?!" kilah Tsuna, dengan wajah merah padam. Mukuro tersenyum puas, lalu hanya menepuk-nepuk pelan kepala Tsuna, karena Tsuna sudah berjalan mendekatinya berdiri.
Satu orang. Hanya satu orang di sana yang tidak mengerti apa –siapa yang mereka bicarakan. Adik Mukuro? Apa Mukuro punya adik? Begitu pikir Hibari. Dia sama sekali tidak pernah mendengar musuhnya itu punya adik, jadi dia hanya acuh tak acuh melihat kumpulan herbivora ini berisik membicarakan orang yang ia tak kenal.
Karena sang bintang tidak juga menampakkan batang hidungnya, Reborn memanggilnya, murni dari mulut. "Hooi, sudah sini masuk! Mereka sudah tidak bertarung!" panggilnya, memfokuskan arah suara ke luar pintu. Hibari kemudian berpikir lagi; adik seorang Rokudou Mukuro penakut ya? Menarik.
Tak lama setelah Reborn memanggilnya, terlihat seorang gadis yang seumuran dengan mereka-mereka di sana. Gadis berambut sebahu lebih sedikit dan berpucuk nanas. Yang paling membuatnya terlihat eye-catching adalah mata kanannya yang tertutup sebuah eyepatch. Di kalangan masyarakat benar-benar susah menemukan orang yang menggunakan itu, baik untuk fashion atau memang kebutuhan. Tapi lain cerita kalau yang dimaksud adalah orang yang dengan anehnya menggunakan kacamata gaya tapi juga menggantungkan kacamata lainnya pada bajunya.
Melihatnya, Hibari tertegun. Bukan, bukan karena gadis itu. Tapi anak gadis yang digandeng gadis berambut sebahu itu. Anak gadis itu berambut sebahu dan poninya pendek dengan ujung rambut yang halus –seperti si adik Mukuro, hanya saja warnanya hitam legam. Matanya juga tidak bisa ditemukan di masyarakat dengan gampangnya. Mata seperti itu cenderung akan mengeluarkan tatapan menyeramkan, tetapi tatapannya itu benar-benar seperti memancarkan sinar baru. Dan semuanya tahu, tanpa perlu menyebutkan hal-hal lainnya, Hibari sudah bisa mengerti siapa gerangan anak itu. "MISAKI!" seru Hibari, dengan setitik-dua titik keringat di pelipisnya. Sontak ia mengambil langkah kilat menyambar anaknya, yang entah kenapa bisa berada di sana. Ia tidak mempedulikan sekian jumlah pasang mata yang menatapnya dengan makna bertanya-tanya siapa anak yang dibawanya.
Hibari memeluk anak itu –yang sudah pasti Misaki karena Hibari tidak mungkin salah mengenali anaknya sendiri- dengan erat. Misaki hanya berteriak-teriak kegirangan ketika akhirnya ia sudah bertemu dengan papanya yang 'hilang' untuk beberapa jam. "Apa yang kau lakukan di sini? Kau tidak apa-apa kan? Kau tidak sakit kan?" tanya Hibari bertubi-tubi sambil berusaha menyingkirkan poni Misaki yang sudah pendek dari keningnya untuk mempermudahnya mencium kening anaknya.
Ketika mendapati orang tuanya terlihat begitu peduli padanya, setiap anak hanya akan merasa senang, apalagi kalau orang tuanya bertanya begitu ketika mereka sebenarnya tidak kenapa-kenapa. Yang bisa Misaki lakukan hanya tertawa senang dan berkata; "Aku tidak apa-apa, papa!". Mendengar itu, Hibari lalu menghela napas lega. Hibari merasa sepertinya dia menyesal karena membuat keputusan untuk kembali ke Itali. Harusnya dia mempertimbangkan bagaimana reaksi teman-temannya –maaf, ralat. Kenalan-kenalannya. Bagaimana dengan reaksi mereka ketika mendapati orang yang dicari-cari untuk lebih dari 2 tahun tiba-tiba datang dan tiba-tiba juga bilang ingin keluar? Tidak mungkin mereka akan langsung menjawab 'baik, silakan keluar'. Lagipula kelihatannya Hibari juga akan mengamuk kalau dia dapat reaksi seperti itu.
"A-ano... maaf, Hibari-san," interupsi don Vongola Decimo, atau lebih sederhananya Tsuna. "Anak ini... Misaki-chan?" tanyanya dengan nada suara ragu-ragu. Memang rasanya ini akan lumayan menyinggung ketika kita ditanya seperti itu, tapi yang bisa dilakukan ketika ingin mendapatkan jawaban yang tidak bisa didapatkan di kepala adalah dengan bertanya kan?
Hibari mendelik pada Tsuna, dan sukses membuat Tsuna kaget. Hibari lalu memperluas pandangannya. Terlihat juga pandangan Dino, Mukuro dan Reborn yang penasaran. Hibari mendesah sebelum akhirnya menjawab. "Anak ini-"
"Perkenalkan, namaku Hibari Misaki! Ini papaku yang luar biasa baik dan kuat, papa Hibari Kyoya!" ucap Misaki, memotong jawaban Hibari. Kelihatannya Misaki mengerti apa yang ada di pikiran mereka semua, yaitu bertanya-tanya siapa dia. Dia mengerti siapa yang ditanya, tapi dia juga sudah greget melihat papanya tidak kunjung menjawab pertanyaan yang begitu mudah baginya jadi akhirnya dia yang menjawab.
Oke, masalah tentang siapa dia sudah selesai. Sekarang pikiran mereka lagi-lagi menyatu. Papa yang luar biasa baik dan kuat.
.
.
Baik dan kuat.
.
.
BAIK dan kuat.
Hm, ini boros halaman. Mereka lumayan ragu dengan pernyataan Misaki yang satu itu. Hibari Kyoya adalah seorang ayah yang baik? Hmm... ini fakta sih ya. Kalau Hibari tetap dengan sikapnya di masa sekolah dengan status ayah, pasti Misaki sekarang juga ke mana-mana paling tidak membawa senjata tumpul, seperti halnya Hibari yang selalu membawa tonfa.
"Kalian, kalau berpikir macam-macam, kamikorosu," ancam Hibari, kembali dengan sepasang tonfa di tangan. Segera semuanya mengangkat tangan sambil menggelengkan kepala dengan liar –Reborn dan Mukuro sekali pun. Kenapa? Karena sekarang mereka juga sedang menahan tawa dan tidak begitu yakin bisa menandingi Hibari dengan keadaan seperti itu.
Tidak mempermasalahkannya lebih jauh lagi, Hibari membalikkan badan pada gadis yang telah membawa anaknya, Misaki datang ke Itali. Dia tatap gadis itu dengan tatapan tajam menusuk. Gadis itu tampak tidak terlalu kuat menghadapi orang macam Hibari yang selalu dengan aura seram, jadi dia terlihat begitu takut. Tidak mau ketinggalan, kaki Hibari juga mulai mengambil langkah mendekat, membuat efek dari tatapannya bertambah seiring jarak di antara mereka berkurang.
"Siapa namamu?" tanyanya, to the point. Gadis itu terloncat kaget ditanya begitu. "C-Chrome..Dokuro," jawabnya dengan ragu. Dia lupa akan keberadaan Misaki di sana.
"Dokuro, ya? Hm, cocok dengan eyepatch-mu," ucap Hibari, melihat penutup mata yang digunakan Chrome, yang terdapat sebuah gambar tengkorak dan taburan kristal di sana. Chrome tidak tahu reaksi apa yang harus dia berikan. Senang karena dipuji? Tidak, dia masih tidak punya cukup keberanian untuk itu. ketakutan karena tatapannya? Daritadi sudah ia lakukan. "Lalu, untuk apa kau bawa Misaki ke sini?"
Chrome kebingungan. Lalu ia melirik-lirik Tsuna, minta bantuan. "Ah, maaf, Hibari-san. Sebenarnya-"
"Iih, papa jahat!" lagi-lagi perkataan seseorang terpotong karena Misaki. Mukanya merengut. Tangannya meremas-remas bagian ujung baju Chrome –atau yang dia kenal sebagai Nagi, gurunya. "Nappo sensei kan tidak jahat! Karena dia membawaku ke sini, aku bisa ketemu papa! Lagipula, nama Nappo sensei itu Nagi!" omel Misaki. Dia kesal sekali pada papanya, lalu membiarkan matanya mengarah ke mana-mana asalkan bukan ke Hibari. Lalu matanya menangkap sesosok pria yang mirip Chrome, di bagian rambut. Ia mengerjapkan matanya, heran. Kaki kecilnya melangkah mendekatinya.
Gyut. Tangan Misaki main pegang tangan orang itu. "Oya," gumamnya. "Ada apa manis?" tanya orang itu dengan cara yang rada genit. Siapa lagi kalau bukan Mukuro. Tsuna hanya dapat melihat anak itu akan melakukan apa pada Mukuro. Dia berpikir, kenapa Misaki malah mau dekat-dekat pada Mukuro, padahal ayahnya benar-benar ogah untuk mendekatinya.
Sebelum menjawab, Misaki cengengesan dulu, sambil mendongakkan kepala karena Mukuro sudah pasti jauh lebih tinggi. "Rambutnya lucu," jawabnya, dengan semburat merah. Apa-apaan ini?
Mukuro merasa sangat senang. Rambut alaminya yang biasanya ditertawakan, kini dipuji sedemikian rupa oleh seorang anak kecil polos. Ia berjongkok untuk mengeliminasi jarak. "Kufufufufu," tawa Mukuro. "Kau punya selera, anak manis. Berbeda dengan ayahmu," ucapnya dengan senyuman merekah lebar –yang justru terlihat seperti memiliki nafsu pada anak tak bersalah itu. Misaki tersenyum girang dengan semburat merah tebal, melihat sepertinya semua yang punya rambut nanas seperti itu adalah orang-orang yang tampan dan cantik. Dia menyadari betapa tampannya orang yang berada di depannya itu. apalagi ketika Mukuro mengecup kening Misaki saking gemasnya.
Dino di sana cukup terlupakan. Kasihan dia. Tapi kini akhirnya dia dapat giliran lagi, untuk berkata; "T-Tsuna...? K-Kyoya..?" begitu. Terimakasih padanya, sekarang kita bisa melihat bagaimana tampang Tsuna dan Hibari sekarang. Tsuna syok. Dia tidak menyangka Mukuro akan berbuat sejauh itu pada Misaki. Walau pun dipuji, terimakasih kan tidak perlu sampai begitu. Sementara Hibari, dia tidak rela anaknya yang masih putih bersih belum ternoda langsung mendapat bercak-bercak aneh berbentuk bibir Mukuro yang bentuknya...sesuatu, di keningnya. Dan lagi ia melihat secara langsung prosesnya. "Menjauh dari anakku, atau kamikorosu," ancam Hibari, kembali dengan tonfanya.
Mukuro mengalihkan pandangan pada Hibari, lalu sedikit mengumpat. "Aah, jangan lagi." Mukuro lalu menoleh pada Tsuna, yang terdiam kaku di sebelah Dino. "Oya, Tsunayoshi. Kalau cemburu jangan seperti itu dong," ucapnya, sambil berdiri dan berjalan mendekati Tsuna. Tangan genitnya mulai meraih pipi Tsuna, yang langsung sukses membuat Tsuna memerah dan bergerak-gerak aneh.
PAK!
"Kalau mau genit-genitan, jangan di sini. Menjijikkan tahu nggak," geram Reborn, sambil mengepakkan tangannya di meja yang entah kenapa bisa di sebelahnya duduk. Mukuro seketika diam sambil lagi-lagi mengumpat. "Nah, dame-Tsuna. Lanjutkan."
Tsuna yang bahkan setelah 10 tahun pun masih takut pada guru privatnya ini, langsung menurut tanpa ada yang lain-lain lagi. "J-jadi, Hibari-san.. sebenarnya aku yang meminta Chrome membawa Misaki-chan ke sini. Yah, kau tahu, ini untuk meminimalkan jangka waktunya. Sekarang, kita coba tanya pada Misaki-chan, apa dia mengerti apa tempat ini yang sebenarnya," tutur Tsuna, sambil berharap-harap cemas apa Hibari mau setuju atau tidak. Hibari mengerti, kalau herbivore-herbivore seperti bosnya ini pasti akan memakai cara macam ini. Cara yang baginya terlalu ambigu.
Tsuna yang merasa tidak butuh menunggu jawaban Hibari lebih lama lagi, langsung berjalan mendekati Misaki. Tsuna dulu pernah bertemu dengan Misaki. Dan begitu juga Misaki, ia pernah bertemu dengan Tsuna. Tapi itu saat Misaki masih bayi. Tsuna sudah tidak bisa mengenali Misaki hanya dengan berdasarkan sosok bayi Misaki. Dan Misaki juga tidak mungkin mengingatnya karena semua orang akan mengalami amnesia tentang ingatannya semasa bayi.
Tsuna tersenyum sebelum merundukkan badan, agar jarak tinggi di antara mereka berkurang. Misaki balas tersenyum semangat, menyadari orang di depannya juga adalah orang baik-baik karena dia tersenyum padanya. "Selamat siang, Misaki-chan."
"Selamat siang!" balas Misaki. "Eeh... nama tuan siapa?"
"Namaku Sawada Tsunayoshi. Misaki-chan tidak perlu seformal itu padaku. Kau boleh memanggilku sesukamu," jawab Tsuna, sambil menepuk-nepuk pelan kepala Misaki yang ditumbuhi rambut hitam yang lembut. "Kau tahu? Kita pernah bertemu sebelumnya, jadi aku mengenalmu. Tapi pastinya kau tidak mengenalku. Aku dulu adalah adik kelas dari papamu, Hibari-san."
Misaki terlihat bingung. Dia berpikir-pikir apa itu adik kelas. "Kalau begitu, sekarang hubungan Tsunayoshi-chan dengan papa apa?"
Tsuna tertawa pelan mendengar Misaki memanggilnya Tsunayoshi-chan. Baru pertama kali ia dipanggil seperti itu. Selama dia hidup, seingatnya dia hanya dipanggil dengan Dame Tsuna, Tsuna, Tsunayoshi, Tsu-kun dan Tsuna-san. "Sekarang aku atasannya." Misaki lalu ber-oh saja karena lagi-lagi dia tidak mengerti apa itu atasan. "Misaki, kau tahu ini tempat apa?"
Hibari mendelik pada Tsuna. Dia mengumpati Tsuna dalam hati. 'Herbivore, herbivore, herbivore'. Dia tidak menyangka herbivore satu itu benar-benar akan menanyakan pertanyaan yang satu itu.
Misaki menggeleng. Wajar. Sesuatu tidak selamanya bisa diketahui namanya hanya dengan sekali lihat. Apalagi Misaki hanya seorang gadis kecil yang tanpa dijelaskan sesuatunya langsung dibawa ke tempat yang belum dia datangi. Ditambah lagi, Misaki sekali pun belum pernah mendengar kata 'mafia' selama hidupnya yang masih pendek. "Ini perusahaanku. Dengan kata lain, ini juga tempat papamu bekerja," jelas Tsuna, dengan tampang yang sudah merasa sekarang keadaan benar-benar aman.
Misaki mengangguk penuh arti. "Kakak-kakak ini juga? Kakak nappo itu juga?" Tsuna mengangguk. Misaki lalu merasa papanya adalah yang terhebat karena bisa membuat banyak teman di tempat kerjanya –setidaknya begitu yang dipikir Misaki. Teman.
Mukuro mendekati Tsuna dan Misaki, sambil menyeletuk. "Kufufufu, rasanya aku juga jadi ingin punya anak. Buat beberapa yuk, Tsunayoshi-kun." Alhasil, Tsuna dibuat merinding, sementara Misaki tidak mengerti. Reborn juga sudah siap dengan tembakan lainnya jika Mukuro benar-benar melakukan hal aneh pada muridnya. Ah, Reborn saja begitu. Apalagi Gokudera?
"HEH, NANAS SINTING! BERANI PEGANG JUUDAIME, RAMBUTMU AKAN KULEDAKKAN!"
"Oya, daritadi aku sudah pegang. Rambutku yang kata Misaki keren dan indah ini masih dalam keadaan rapi di kepalaku lho," ucap Mukuro, penuh dusta. Padahal yang dikatakan Misaki bukan begitu.
"BERISIK! POKOKNYA HIBARI, MUKURO DAN GOKUDERA BERESKAN RUANGAN INI SAMPAI SEPERTI SEMULA!" teriak Reborn, memberi perintah. Perintah dari Reborn adalah hal yang absolut, tapi kali ini Gokudera benar-benar tidak terima. Bisa-bisanya dia juga disuruh membersihkan. Ikut bagian merusak ruangan saja belum.
"Reborn-san! Kenapa aku juga?! Aku belum melakukan apa-apa!"
"Itu kamu sudah ada niat kan?! Sudah, lakukan!"
Tsuna merasa prihatin pada Gokudera. Dia mengambil langkah mendekati Gokudera. "A-ano... Reborn, aku saja yang bersihkan, menggantikan Gokudera-kun. Lagipula daritadi aku berada di ruangan ini tapi tidak menghentikan Hibari-san dan Mukuro," ucap Tsuna. Reborn sih ya secara pribadi oke-oke saja, asal bukan dia yang membereskan, walau pun dia juga ikut merusak.
"E-eh?! J-Juudaime?!"
"Tsunayoshi-kun, sudahlah. Biarkan saja Storm yang membereskan."
"Tidak apa-apa, Gokudera-kun. Aku mau kok menggantikanmu."
"T-tidak bisa begitu, Juudaime! Saya gagal jadi tangan kanan anda kalau saya membiarkan anda mengerjakan sesuatu yang harusnya saya lakukan!" Gokudera mulai plin-plan. Dia tidak mau menuruti perintah Reborn, berarti tidak membereskan ruangan. Tapi dia juga bersikeras tak ingin membiarkan Tsuna melakukan perintah Reborn, yang artinya juga dia akan membereskan ruangan. Lalu, kau maunya apa, Gokudera?!
Meninggalkan masalah Gokudera plin-plan sebentar, sekarang kita lihat Hibari. Dia menatap Chrome dengan tatapan marah. Chrome tidak menyadari memang, tapi ia bisa merasakan ada sebuah tatapan tajam menusuk yang diluncurkan ke arahnya.
Di masalah ini, untuk menghakimi Hibari sebaiknya berterimakasih atau justru mendampratnya benar-benar tak bisa kita lakukan. Mengingat bagaimana temperamen Hibari benar-benar parah, dia juga tidak bisa menggunakan logika sekarang. Di satu sisi, Hibari lega karena setengah dari masalahnya selesai. Tapi juga dia ingin menyalahkan karena ia tidak mau masalahnya diselesaikan dengan cara macam ini. Dan sepertinya untuk itu, menyalahkan Tsuna adalah pilihan paling normal. Tapi Tsuna juga sudah memilihkan suatu cara nekad yang takkan bisa Hibari tentukan. Jadi Hibari hanya mengikuti egonya; menyalahkan Chrome untuk melegakan perasaannya.
Hibari berjalan menjauh dari kelompok itu, dengan perasaan amburadul. Dia keluar tanpa seorang pun menyadari, dan meninggalkan tugasnya untuk membersihkan ruangan.
.
Makan malam di markas utama Vongola adalah hal yang paling tak bisa dilewatkan. Berbeda dengan waktu makan siang, di mana bahkan anggota utama harus datang jalan kaki bersama anak buah menuju kantin. Saat makan malam, para anggota utama akan berkumpul di ruang makan yang tentu untuk bos dan guardian-guardian dan hidangan akan disiapkan oleh bawahan. Hidangan tentu nomor satu. Ruangannya juga sangat berselera.
"Semuanya, sebelum kita mulai, aku ingin menyampaikan sesuatu," ucap Tsuna, selaku bos. Kali ini, ketegangan sudah tak ada, dan digantikan oleh suasana yang menyenangkan. "Hari ini benar-benar hari spesial, karena itu aku ingin acara makan malam kali ini dimulai dengan cara yang lebih spesial. Seperti yang kalian tahu, sekarang anggota kita sudah lengkap dengan kembalinya Hibari-san dan kedatangan kakak, Lambo, dan Dino-san. Dan tentunya tamu spesial kita, Misaki-chan. Kami sangat menyambut kedatanganmu dan kembalinya papamu."
Misaki bersorak-sorak girang, merasa tersanjung karena menjadi tamu spesial mereka.
"Hmm..., jadi anak ini Misaki, anak Hibari yang dulu pernah kita temui saat dia masih bayi ya?" tanya sang sun guardian, yang baru saja kembali dari misi singkat. "BENAR-BENAR BEDA TO THE EXTREME!" ah, dia berteriaknya pakai berdiri dan mengangkat kedua tangan. Memang selalu terbakar ya, semangatnya.
Cpiiik. Hibari mendelik. "Maksudmu apa yang beda?"
"DULU PAS KITA KETEMU PERTAMA KALI, MISAKI MASIH BULAT KECIL DAN MASIH BELUM BUKA MATA! DAN SEKARANG DIA SUDAH BESAR DAN MATANYA TERBUKA LEBAR! JELAS BEDA KAN?!"
"Oh." Respon Hibari. Ternyata plan untuk menggigit Ryohei sampai mati dibatalkan, karena maksud dari kata 'beda'-nya lain lagi. Kalau misalnya bedanya itu membandingkan Hibari dengan Misaki, ah..., Ryohei, kami semua mendoakanmu. "Ngomong-ngomong," ucap Hibari, sambil melirik seseorang. "Perempuan itu dihitung sebagai apa? Pengganggu ya?" lanjutnya, yang jelas menyindir Chrome. Chrome terkejut, karena ternyata di mata Hibari dia dianggap begitu mengganggu.
"Oya, Hibari. Ini sedang makan. Nanti kalau sudah selesai, akan kuhabisi kau. Chrome itu adikku yang paling kusayang, asal kau tahu."
Hibari tak menghiraukan ancaman Mukuro. Dia hanya mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
"H-Hibari-san...! Maaf aku lupa menjelaskan tentang Chrome lebih jauh. Maaf juga ya, Chrome," Tsuna minta maaf pada Hibari dan juga Chrome, yang mulai menundukkan kepala. Chrome tidak menjawab. dia hanya mengangguk. "Chrome itu juga mist guardian, sama seperti Mukuro. Dia menggantikan Mukuro, yang karena sesuatu hal harus kembali ke Vindice lagi. Dan walau pun sekarang Mukuro sudah dibebaskan, tentu kita takkan membuang Chrome begitu saja mengingat jasanya selama Mukuro tak ada."
Hibari merasa geli mendengar Tsuna sepertinya lebih fokus pada Mukuro daripada Chrome ketika menjelaskan tadi. "Hmm..., sudah kuduga sebelumnya. Tsunayoshi, kau itu... hmph. Gay, ya?" ucap Hibari, dengan nada yang jelas menyindir. "Kau sepertinya lebih membanggakan Mukuro. Padahal kau seharusnya sedang menjelaskanku siapa perempuan itu."
Tsuna gelagapan. Terang saja, Tsuna tidak ada niat begitu. Dan lagi, soal gay itu...mungkin juga adalah hal yang tak bisa dipungkiri lagi. Mukuro di tempat duduknya juga sudah memasang muka menyeringai.
"H-Hibari-san!" tegur Tsuna, dengan semburat merah merajah wajahnya. "Aah! Tahu begini, lebih baik tidak usah resmi-resmi, deh makan malamnya!" gerutu Tsuna, sembari mengepalkan tangan dan akhirnya kembali duduk dan langsung memulai makan malam.
Di sisi lain, Chrome, sebagai satu orang yang merasa tidak cocok untuk berada di sana. Padahal sampai sekitar 2-3 hari sebelumnya, ia masih mengikuti acara ini bersama yang lain. Tapi gara-gara ada seseorang yang sudah lama tak terlihat langsung menguasai keadaan, Chrome tak dapat berbuat apa-apa. Dia hanya diam, menatap meja. Sesekali ia tatap Hibari yang dengan tenang menyantap hidangan yang dulu sering ia santap di sana. Tidak, ia hanya menatapnya sebentar. Ia tidak memiliki cukup keberanian untuk menatapnya lebih lama dari ini.
"Roku Nappo-sensei." Terdengar sebuah suara manis, yang dengan panggilan khasnya membuat orang yang dimaksud tidak menyadari sebenarnya dialah yang dipanggil. "Roku Nappo-sensei!" sekali lagi dia memanggil, tapi tak kunjung disahuti. Dia mengerucutkan bibir. Kali ini dia memanggil dengan tarikan di baju bagian lengan. Siapa lagi yang takkan merespon jika baju kita sudah ditarik-tarik?
"M-Misaki...-chan...," Chrome melihat Misaki yang menatapnya cemas.
"Sensei kenapa? Kenapa tidak makan? Makanannya enak sekali, lho." Misaki menunjukkan pipinya yang terisi penuh makanan. Di tangannya terdapat sebuah garpu yang diujungnya tertusuk daging, yang tak lama akan ia makan.
Chrome menggeleng. "Tidak. Tidak apa-apa, Misaki-chan. Sensei akan makan juga kok," jawabnya, yang terdapat sedikit kebohongan. Dia pasti ada apa-apa sampai tidak menyentuh makanannya, tapi ia tidak mau membuat Misaki khawatir.
Setelah mengatakan itu, Chrome melirik Hibari, untuk melihat bagaimana ekspresinya mendapati anaknya mendekati orang yang dianggapnya mengganggu. Hibari masih menyantap makanannya, seakan tidak mau menerima kenyataan anaknya begitu perhatian pada si pengganggu. Chrome mendesah, lalu mulai meraih pisau dan garpu yang masih tertata rapi di meja, dan memotong daging panggangnya.
Misaki puas ketika melihat gurunya sudah memakan makanannya. Ia kembali ke kursinya semula, di samping Hibari, ayahnya. Dia menoleh pada Hibari, lalu tersenyum-senyum girang. "Ada apa?"
"Hehehe. Roku Nappo sensei akhirnya makan."
Mendengar itu, Hibari tidak merespon apa-apa. Dia hanya melanjutkan makan. Misaki merasa aneh. Biasanya ayahnya akan merespon setiap kali Misaki bicara. Paling sedikit, ia akan membalas 'oh'. Itu paling sedikit. Dan kali ini ternyata Hibari sama sekali tidak merespon. "Papa? Papa kenapa?" tanya Misaki, polos. "Papa marah sama Misaki?"
"Tidak. Papa tidak apa-apa."
"Kalau begitu kenapa terlihat seram?"
"Papa tidak pernah terlihat seram."
"Tapi kali ini iya, pa."
"Kamu yang salah. Tanya saja pada her- teman-teman papa."
"Oke." Misaki memutar kepalanya, menghadap semua yang sedang duduk di meja makan saat itu. "Eh, eh! Papa pernah terlihat seram tidak?"
Hening. Tak ada suara apa pun. Bahkan tidak ada suara garpu dan piring yang beradu. Ada sih, tapi hanya dari Hibari, yang masih melanjutkan makan.
Tsuna menggaruk pipinya. "Y-ya... b-bagaimana ya?"
Yamamoto tertawa garing. "H-hahaha..ha."
Gokudera mengalihkan pandangan. Dia merasa berbohong pada anak kecil itu tidak baik, apalagi pada anak manis seperti Misaki.
Ryohei sama dengan Gokudera, tapi caranya lebih tidak biasa. "W-wah, piringnya berminyak to the extreme..."
Semuanya hening. Tidak, tidak semuanya.
"Kufufufu." Terdengar sebuah seringaian mencurigakan di sana. Hmm, bukan mencurigakan juga sih. Semua yang sekarang berada di sana sudah sangat mengerti siapa orang yang cukup memenuhi kriteria untuk tertawa seperti itu. Mukuro, pastinya. "Mau tahu jawabannya, Misaki?" tangan iseng Mukuro mengibaskan poninya yang padahal tidak panjang-panjang amat untuk dikibaskan.
Misaki bersemangat. "Iya! Iya!" pipinya merona merah, matanya bersinar bulat besar.
"Kufufufu. Jawabannya adalah..." Misaki penasaran. Ditambah lagi ketika Mukuro membiarkan kata-katanya terpenggal. "Dia memang selalu terlihat seram," Mukuro mengucapkannya dengan sangat lancar, tak ada beban. Dia sama sekali tak merasa bersalah mengatakan hal itu pada anak dari orang yang ia maksud buruk. Sungguh, orang-orang yang sebelumnya menahan diri untuk berkata jujur, rasanya saat itu juga ingin langsung melumatnya sampai habis.
"Woi, nanas! Bisa nggak sih, baca situasi!?"
Gokudera menggebrakkan meja, sampai gelasnya yang diletakkan di atas meja terjatuh dan menodai taplak meja.
"Ah! Gelasnya-!" Tsuna yang duduk di sebelahnya dengan sigap meletakkannya seperti semula, meski pun sudah terlambat.
Mukuro tertawa seakan tak punya salah. "Kufufufufu. Situasi macam apa? Aku tak ingat pernah membesarkanmu untuk bicara bohong pada anak kecil lho, Gokudera."
"Aku juga tidak ingat pernah kau besarkan, bodoh!"
Yamamoto tertawa mendengar perkataan mereka. Dia tidak menyangka Mukuro ternyata memiliki hubungan macam itu dengan Gokudera. Macam apa? Ayah-anak. "Haha! Ternyata Gokudera itu anak asuh Mukuro, ya! Aku tidak menyangka, ya kan, Tsuna?"
Tsuna sudah menyangka kalau Yamamoto sudah angkat suara, pasti ujungnya begini. Tapi kenapa musti Yamamoto minta pendapatnya segala? "E-eh? ..Yamamoto, begini ya... erm...,"
Brak.
Semua orang menoleh pada sumber suara. Hibari, yang dengan kasar mendorong kursinya keluar. "Terimakasih makanannya." Ah, ternyata Hibari sudah selesai makan. Iya, ya. Kegiatan makannya kan, tidak terganggu sama sekali, sedangkan yang lain berkali-kali terhenti. Dia berjalan menjauh dari kerumunan itu, tanpa menghiraukan panggilan Misaki dan Dino.
"Oi, Hibari. Kau mau ke mana?" Ryohei yang duduk di sebelahnya bertanya dengan mulut yang masih setengah penuh.
"Ke mana lagi? Tentu saja ruanganku."
Dengan itu, Hibari pergi meninggalkan ruangan pergi ke ruangan pribadinya. Hibari sepertinya benar-benar tidak peduli dengan rekan-rekannya di dunia mafia saat ini. Bukan, bukan berarti dulu dia peduli. Tapi sekarang memburuk. Ditambah lagi dengan anaknya yang ditinggal begitu saja dengan segerombolan orang baru untuknya. Tapi bisa dibilang, Hibari menaruh kepercayaan pada mereka untuk menjaga anaknya.
Selepas Hibari pergi, hampir seluruh orang di sana menghela napas. "Haaah..."
"Kyoya itu..., dia sama sekali tidak berubah," ucap sang tutor Hibari yang di sana sebagai tamu spesial. "Kukira, dengan adanya Misaki dia jadi lebih baik. Tapi ternyata pada wanita pun dia tetap kasar." Dino menolehkan kepala pada Chrome, yang duduk di antaranya dan Mukuro. Chrome sudah mulai makan, tapi dia juga masih kepikiran akan kata-kata Hibari tadi. Apalagi ia juga merasa kalau Hibari hanya menahan diri untuk tidak bicara terlalu banyak karena walau pun mereka rekan, tetap saja publik. Banyak orang tak terlibat di sana. Dan berarti, Hibari masih punya banyak kata-kata kasar untuk Chrome dengar nanti.
"Chrome, maaf ya. Kyoya memang dari dulu begitu. Kau baru pertama kali bertemu dengan orang macam Kyoya, ya?" ucap Dino, menenangkan Chrome. Sebagai tambahan, ia juga menaruh tangan besarnya di atas kepala Chrome dan menepuk-nepuknya pelan.
"Maaf ya, Haneuma," sela seseorang, seraya menyingkirkan tangan Dino dari kepala Chrome. Mukuro. Sekarang, kepala Chrome sedang jadi tumpuan tangan Mukuro, yang masih kalah besar dengan tangan Dino. "Tapi yang paling mengerti Chrome adalah aku. Jadi hanya aku yang bisa menenangkannya."
Sumpah, Mukuro mengatakan itu dengan tampang yang luar biasa menjengkelkan.
"Apaan sih, Mukuro. Pasti nanti juga akan ada seseorang yang bisa lebih mengerti dirinya daripada kamu," gerutu Dino, yang membalas menyingkirkan tangan Mukuro. Tapi malah langsung dibalas lagi oleh Mukuro.
"Kufufufu. Aku tahu itu akan terjadi. Tapi entah akan memakan waktu berapa lama. Lagipula aku masih belum mau melepaskan Chrome pada lelaki tidak jelas."
.
Hibari terus berjalan menyusuri lorong panjang. Tempat yang ingin ia datangi sekarang ini memang jauh jika dari ruang makan. Paling dekat mungkin dari ruang semi-medis. Tapi itu juga tergolong jauh karena masih harus melewati lorong yang panjang juga.
Kalian tahu kan, ruangan Hibari yang khusus dibuat mengikuti seleranya yang lebih suka gaya Jepang? Yang di ruangannya menggunakan tatami, bukan ubin dan juga karpet tebal? Yang aksesnya menggunakan pintu geser, yang juga mengharuskan Kusakabe untuk membukanya sambil bersimpuh? Dan yang di dalamnya, Hibari selalu menggunakan kinagashi, bukan seragam mafianya? Ah, iya yang itu. Itu ruangan Hibari, yang jika dibandingkan dengan ruangan guardian yang lain, milik Hibari kelewat besar.
Di sepanjang jalan, di pikiran Hibari hanya ada dua hal; Misaki yang sekarang ia tinggal di ruang makan dan setidakwaras apakah bosnya meminta perempuan itu untuk membawa Misaki ke Itali, dan meninggalkan ayahnya di Jepang sendiri. Siapa pun tahu, ayahnya sudah tua. Bukan bermaksud meremehkan, hanya saja itu hal normal untuk orang yang umurnya sudah renta jika ada gawat darurat yang harus segera ditindaklanjuti. Siapa yang tahu jika beliau tiba-tiba terserang penyakit, misal serangan jantung? Siapa yang akan menyadarinya terlebih dahulu jika beliau hanya seorang diri di rumah? kemungkinannya hanya sedikit, dan kalau pun akan ditemukan, akan memakan minimal dua hari. Dan dalam jangka waktu seperti itu, pasti beliau sudah...
Tapi untuk memikirkan perempuan itu membawa keduanya ke Itali juga akan merepotkan buatnya. Bagaimana ia harus menjelaskan tentang pekerjaan terselubungnya itu? Ayah, aku sebenarnya anggota mafia. Tidak, reaksi sang ayah tidak akan bisa ditebak jika Hibari benar-benar mengatakan itu. menamparnya, terbayang. Membuangnya, terbayang. Mencacinya, juga terbayang. Atau bisa juga beliau akan melakukan semuanya yang terbayang.
Akhirnya ia sampai juga di depan pintu ruangannya. Entah kenapa –ralat, memang sudah seharusnya rada lapuk. Mau bagaimana lagi? Ruangan itu sudah 3 tahun tidak didatangi. Untuk apa ia mengharapkan ruangannya untuk tetap dalam kondisi sempurna, padahal tidak ada yang mengurus? Rasanya muluk.
Sreeeg.
...
Aneh. Itulah yang Hibari rasakan, ketika melihat pemandangan yang ia lihat. Ruangannya. Ruangan yang 3 tahun lalu sering ia datangi. Ruangan yang dulu selalu jadi tempatnya beristirahat dan memenuhi kembali energinya. Padahal, harusnya ruangan itu paling minimal akan ada sarang laba-laba –karena debu yang menumpuk sudah pasti. Tapi bahkan hal yang sudah dicap pasti macam debu itu tidak ada. Kenapa bisa begini? Batin Hibari, sambil memasuki ruang itu lebih dalam lagi.
Hibari berjalan mendekati saklar lampu yang di dekat pintu menuju ke ruangan yang lain. Dengan itu, ruangan yang tadinya remang-remang karena hanya satu lampu yang dinyalakan –dan entah kenapa bisa menyala ketika ia datang- sekarang jadi ruangan yang terang. Isi-isi ruangannya jadi terlihat jelas. Yang paling jelas, mungkin sebuah pigura yang diletakkan di meja. Ia berjalan menghampirinya, lalu meraihnya.
Hibari bukanlah tipe orang yang ingin mengabadikan suatu momen, misalnya seperti menyimpan foto dalam frame. Tapi mungkin saat itu dia kerasukan, sampai-sampai mau menenggerkan pigura di meja biliknya. Apalagi ketika ia melihat siapa yang berada di dalam cetakan foto tersebut. Alisnya berkedut.
"Herbivore," umpatnya. Ia menekan permukaan pigura itu dengan keras.
Dengan pigura itu masih berada di genggaman, kakinya berjalan ke tempat sampah berada. Ngomong-ngomong, tempat sampah itu adalah tempat semua hal yang tak akan digunakan lagi, yang kualitasnya sudah menurun dan bagaimana pun tak akan bisa kembali membaik kan? Dengan pemikiran seperti itu, pria bermanik onyx itu merasa bahwa pigura itu benar-benar cocok untuk berada di sana.
Glutuk glutuk.
Lantas, mata Hibari tertuju pada sumber suara. Entah suara apa itu, yang pasti itu berasal dari luar ruangan –tepat di depan pintu. Hibari tentu tidak panik, hanya saja siapa yang daritadi itu berdiri terdiam di pintu, sedang dia bisa masuk dengan mudah? Tidak, mungkin tidak juga. Karena ada kemungkinan akan langsung ditendang keluar oleh si pemilik ruangan.
Tapi jawaban mengapa Hibari mau tetap mendekati pintunya, bukan karena ingin mengundangnya masuk secara baik-baik. Kalau untuk mengundangnya masuk, Hibari akan melakukannya dengan gaya khasnya; macam langsung bersuara keras menyuruhnya masuk. Jadi, jawabannya adalah Hibari tidak ingin ada orang lain memasuki ruangannya saat ini, karena ia sedang merasa...bad mood?
Sreeeg.
Bersamaan dengan saat Hibari menggeser pintunya, Hibari bisa melihat rambut yang terinspirasi dari nanas berdiri di luar. Melihat orang itu membuat Hibari terganggu.
"Mau apa kau di sini?" labrak Hibari, sambil menggedor pintu. Dia menggedornya tidak dengan banyak kekuatan, lagipula itu hanya untuk membuat orang itu tahu dia merasa terganggu. "Selesaikan urusanmu dan cepat pergi. Tempat ini jadi kotor gara-gara kau."
Mungkin Hibari terlalu kelewatan. Tidak sepantasnya dia berkata seperti itu pada seorang wanita. Orang itu yang adalah Chrome, langsung tergagu. "A-ano..."
"Apa?"
Kata-kata sudah terpikirkan dalam kepala Chrome, hanya saja melihat Hibari membuatnya tidak mampu menyampaikannya. Apa ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokannya? Kalau pun ada, bagaimana cara mengeluarkannya? Tapi tidak, itu hanya dorongan psikologis dari hubungan dan peristiwa yang menimpa mereka sebelumnya.
Wanita itu mengambil napas panjang. Lalu dengan itu, ia berpikiran positif ia bisa melakukannya. "K-Kumo...no hito..," ucapnya, terbata. Hibari menaikkan sebelah alis mendengarnya. Cloud person? Bukankah ia tahu nama aslinya? "A-aku minta maaf!"
"Untuk apa?"
Chrome mendongakkan kepala, untuk melihat wajah Hibari yang lebih tinggi darinya. "K-karena..., sudah membawa Misaki-chan kemari."
Untuk Chrome, ini bukan pertama kalinya ia melihat wajah menyeramkan dan dingin seperti wajah Hibari. Tapi entah kenapa rasanya wajah Hibari jauh lebih menyeramkan dan dingin dari wajah-wajah yang pernah ia lihat sebelumnya.
Tak ada jawaban dari Hibari, Chrome mulai gugup –bertambah gugup. Ia mulai menggenggam bagian bawah pakaiannya dengan keras, berusaha mentransfer kegugupannya ke daerah lain daripada membiarkannya keluar dengan wujud gerakannya.
"Kau tidak perlu minta maaf," ucap Hibari, setelah selang beberapa saat. Chrome berekspresi senang dan lega. Tapi tidak lagi ketika melihat ekspresi pada wajah Hibari. "Karena kurasa aku tidak akan memaafkanmu."
Chrome tersentak. Sebenarnya ia sudah memiliki firasat ini yang akan terjadi, tapi karena kata-katanya barusan, ia kira Hibari akan mau memaafkannya. Chrome dengan sigap membungkuk. "Maaf! Saya benar-benar minta maaf!"
"Saya hanya melakukan hal yang bos suruh! Saya bisa saja menolak, tapi karena bos dengan sungguh-sungguh meminta demi kebaikan anda, saya juga ingin membantu. Dan lagi saya kebetulan kenal dengan Misaki-chan, walau sebenarnya saya sempat kaget kalau ternyata anak didik saya adalah anak dari cloud guardian yang hilang," jelas Chrome, dengan nada yang tergesa-gesa. Dengan jarak tiap kata yang sedikit, ia dengan susah payah menyelinginya dengan tarikan napas. "...dan tolong jangan salahkan bos. Ini salah saya yang berpikiran pendek dan tidak memikirkan apa akibatnya."
Chrome tetap dalam posisinya, membungkuk. Dan masih tak ada respon dari Hibari saat ini.
"Kh-" Hibari menyeringai. Chrome menegakkan tubuhnya, mendengar seringai Hibari yang aneh. "Walau kau bilang begitu, apa aku akan memaafkanmu?" Hibari memicingkan mata pada Chrome, dan itu membuat Chrome bergidik.
"E-eh? T-tapi..."
"Memang, kalau kau memintaku untuk tidak menyalahkan herbivore itu, aku akan melakukannya? Begitu?" Hibari melipat kedua tangannya di depan dada. Bisa saja dia mengeluarkan tonfanya dan memberi ancaman keras pada Chrome, tapi entah kenapa ia tidak berminat karena ia merasa wanita lemah ini tidak akan bisa membalas –paling tidak itu yang ada di pikiran Hibari.
Hibari berjalan selangkah ke arah Chrome, dan itu membuat Chrome mundur selangkah. "Kalau urusanmu selesai, cepat pergi atau kugigit kau sampai mati."
Chrome pernah mendengar memang kalau kalimat khas cloud guardian generasi ke-10 adalah mengancam akan menggigit lawan sampai mati. Tapi ia pertama kali mendengarnya, merasa lawan malah akan tertawa karena digigit kucing pun orang tidak mati. Tapi ternyata ketika ia merasakannya sendiri, di pikirannya sama sekali tidak ada perasaan ingin tertawa atau semacamnya.
Malah, ia ingin pergi secepatnya dari sana.
Dan dengan itu, Chrome benar-benar berlari dari sana, kembali ke ruangan di mana yang lain berada.
Melihat bagian belakang Chrome yang berlari ketakutan, Hibari hanya membuang napas. Sudah terpikirkan ia akan kembali masuk ke ruangannya, tapi dibatalkannya ketika menyadari ada sesuatu yang mengilat di lantai. Hibari menghampirinya, lalu meraih barang itu.
Benar, Hibari keluar karena mendengar sebuah suara aneh. Dan sepertinya itulah penyebabnya. Sebuah cincin berbatu opal berwarna abu-abu.
Tiba-tiba, Hibari membuat sebuah seringaian, karena sepertinya ini akan jadi menarik.
Bersambung
Akhirnya, update. Aish, itu shotacon nggak jadi-jadi ngebeta, jadi update aja deh. Dia gak suka pairingnya, jadi dia rada ogah gitu:p dia ngomong 'kok SEMUA fanfic yang lo minta betain ke gue selalu pairing yang gue anti sih?'. Rasanya... baru dua. 1896 sm CielLizzy. Ah, bodo deh. Sekarang dia lagi gila ChrisTao atau apalah itu -3-
Ih, Kirika sebel banget. Waktu itu latihan bikin one-shot yang bahasanya simpel, sekarang mau bikin yang kata-katanya belibet malah gak bisa. IHWP kan bagusnya belibet -3-/ semoga Kirika bisa membuat fic yang katanya belibet lagi ya Tuhan... /amin/
Ao Simizu Ahaha, puasa ya mbak? Sekarang juga lagi puasa, puasa dari makan minum dan nafsu. Jadi... lu kayaknya gue kenal deh mbak. Mbak behel.
LalaNur Aprilia Yes. 8059 coming soon lho~ Wah, sayang sekali. Kalau begitu Kirika akan bikin kamu nge-ship 1896 pake fic ini~ aku sih, gak suka 6996, tapi aku gak bakal bashing mereka di sini kok~ dan malah... aku lebih suka 6901 x'D bener kok, itu 6901. Mukuro x Uni. Kamu gak salah baca kok x'3
Btw, btw~ Siapa yang nonton Shingeki no Kyojin~? Aku paling suka Eren~ dia unyuuu, tapi ternyata seme~ yang nonton, bilang-bilang ya sukanya siapa n pairingnya suka siapa~ gimana caranya? Itu lho, di kotak putih di bawah~ owo
Dadaaah~ ayo, berdoa semoga beta reader yang shotacon itu mau ngebeta IHWP 5~
