DESIRE
Story by: MagnaEviL
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning: AU, Maybe OOC, yaoi, dll.
Don't Like Don't Read
…
ENJOY
…
Menjalani rutinitas pergi bekerja pada pagi hari ini. Tapi aku tak tahu perasaan apa ini. Tiba-tiba saja aku ingin berada di rumah seharian ini dan tak pergi kemana-mana. Apalagi perut Naruto sudah membesar. Tinggal menunggu waktu saja agar bayi itu keluar dari perutnya.
Tapi Naruto meyakinkanku dengan senyumannya bahwa ia akan baik-baik saja. Tapi tetap saja aku menjadi sangat khawatir dengannya. Aku merasa Naruto akan terjadi sesuatu hari ini. Namun dengan berat hati aku mengiyakan untuk pergi bekerja atas desakannya.
…
Aku tak bisa konsentrasi dengan pekerjaan yang ada di mejaku. Pikiranku terus melayan kepada Naruto. Sudah berulang kali aku mengingatkan diriku sendiri bahwa Naruto pasti baik-baik saja. Tapi perasaanku menolaknya. Hingga pekerjaanku terbengkalai semuanya.
Aku memutuskan untuk menyerahkan sebagian pekerjaanku kepada bawahanku. Bukannya aku tak sanggup, tapi sekarang aku tak berminat menyelesaikan semua pekerjaanku sekarang. Alih-alih semuanya selesai, kekacauan yang terjadi nantinya.
Aku melirik jam yang ada di ruanganku. Sudah jam empat sore. Masih ada beberapa jam lagi agar aku bisa pulang ke rumah dan menemui Naruto. Dan sepertinya aku merasa haus sekali. Aku memutuskan untuk meminta bawahanku untuk mengambilkan minum.
Menunggu beberapa menit akhirnya minuman itu datang juga. Tenggorokanku terasa kering sekali. Memang sedari tadi aku tak beristirahat sedikit pun. Karena aku tengah berusaha konsentrasi dengan pekerjaanku.
Ketika aku memegang gelas tersebut, entah mengapa tanganku bergetar hebat. Hingga menyebabkan gelas itu jatuh dan pecah terburai. Aku tidak tahu kenapa aku bisa jadi seperti ini. Namun, ingatanku yang sekilas akan Naruto menjadi jawabannya.
"Naruto…"
Tanpa perlu berpikir panjang aku harus pergi dari sini menuju rumahku. Tak kupedulikan dengan pekerjaanku yang masih belum selesai. Bahkan para bawahanku yang menanyakan aku hendak kemana kuacuhkan. Yang ada dipikiranku sekarang adalah pulang ke rumah dan menemui Naruto untuk melihat kondisinya.
Aku membuka mobilku dengan tergesa-gesa. Nafasku memburu. Ada rasa khawatir yang berlebihan terhadap Naruto. Aku yakin ada sesuatu yang terjadi pada Naruto. Tapi aku tetap berkeras hati bahwa Naruto baik-baik saja.
Kukendarai mobil ini dengan kecepatan yang tak bisa dibilang lamban. Aku harus segera menemui Naruto. Harus! Dan sejak kapan dadaku terasa sesak seperti ini? Aku mencengkram dadaku. Dan nafasku pun terasa tercekat.
Beruntung aku selamat sampai di rumah dengan kecepatan seperti tadi. Aku baru mengendarai kecepatan seperti itu untuk yang pertama kalinya. Jujur saja, aku bukan orang yang terburu-buru. Kecuali ada kepentingan yang mendesak.
Rumahku terlihat sangat sepi sekali. Tak ada hawa kehidupan di rumah ini. Aku jadi ragu apakah Naruto ada di rumah atau tidak. Pikiran-pikiran tentang keberadaan Naruto mulai berkeliling di pikiranku. Bahkan yang terburuk adalah Naruto diculik.
Tapi, mana mungkin? Kuakui kami tak punya musuh. Bahkan kami juga sangat jarang membaur dengan para tetangga. Ok kalau aku punya saingan bisnis. Tapi rata-rata dari mereka tak mengetahui seluk beluk keluargaku.
Aku membuka pintu rumahku. Ada suara berderit tertahan. Rumah ini begitu sepi layaknya tak berpenghuni. Namun telingaku menangkap ada suara erangan yang memilukan. Bahkan suara itu memanggil namaku.
"Naruto…" gumamku tercekat. Ya, itu suara Naruto. Suara orang yang kucintai. Aku hafal benar suara itu.
Aku berlari menuju ke asal suara itu, kamar. Suara itu semakin menjadi erangan yang memilukan. Naruto tengah kesakitan. Tapi apa yang terjadi dengannya?
"Naruto?" kuserukan namanya saat aku membuka pintu kamar ini. Kulihat ia tengah memegang perutnya sembari meremasnya.
Aku menuju ke arahnya. Kuangkat kepalanya dan bersandar di dadaku. "Apa yang terjadi?" tanyaku. Aku merasa panik sekarang.
"Pe—rutku sakit se—kali." Mengucapkan sederet kalimat pendek itu membuatnya kesusahan. Mungkinkah? Oh tidak!
"Bertahanlah, aku akan membawamu ke rumah sakit."
Aku menggendongnya dengan hati-hati. Tak mungkin juga aku membawanya dengan memapahnya berjalan. Kuyakin ia tak sanggup berjalan.
Saat kugendong, tubuhnya terasa berat sekali. Terakhir kali ia kugendong berat tubuhnya tidak seperti sekarang. Pasti ini karena ia membawa nyawa di badannya dan juga nafsu makannya yang bertambah saat ia mengandung di usia kehamilan yang keenam bulan.
Aku tatap wajahnya. Wajahnya tengah mendera kesakitan. Aku mempercepat langkahku menuju mobilku. Tak sadar bahwa kunci mobilnya masih tertancap di dalam.
Aku mendudukinya di samping kursi kemudi. Lalu kupasang sabuk pengaman di tubuhnya. Tangan berkulit coklat itu kugenggam sembari mengusap keringat yang mengalir di wajahnya. "Bertahanlah… cobalah untuk mengambil napas dan membuangnya pelan." Ucapku meyakinkannya.
Ia mengangguk saja sebagai jawabannya. Dan ia menuruti saranku.
Dengan segera aku mengambil posisi kemudi. Aku mengendarai mobilku dengan kecepatan penuh. Bahkan lebih cepat dari yang tadi. Prioritasku sekarang adalah membawa Naruto ke rumah sakit. Aku tak mau terjadi apa-apa dengannya.
"Sasu—ke… a—ku sudah ti—dak tahan la—gi…"
Kulirik ia melalui mata ini. Oh Tuhan… aku tak tahan melihatnya kesakitan seperti ini. Aku tak mau ia kenapa-kenapa yang berujung dengan taruhan nyawa. Ia meneteskan airmata kesakitannya. Rasanya aku mengalami apa yang tengah ia sakiti. Aku pun menghapus air mata yang mengalir melalui sudut matanya.
Tak lupa aku mengelus perutnya. Kemudian menggenggam tangannya. Bertujuan untuk menguatkannya dari terpaan rasa sakit yang mengerubunginya. Wajah itu… rasa sakitnya adalah rasa sakitku.
"Sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit. Bertahanlah… ini demi anak kita."
Jujur saja, au tak tahu apa yang harus kulakukan untuknya. Aku hanya bisa berada di sisinya dan menguatkannya seperti ini. Aku tak ingin Naruto-ku menderita seperti ini.
Aku memfokuskan pengelihatanku ke depan. Menjaga keselamatan diriku dan juga Naruto. Dan rasa lega menghampiriku saat di depanku muncul sebuah pemandangan rumah sakit. Aku bersyukur saat tahu penderitaan Naruto akan berakhir.
Aku membuka pintu mobil dan berjalan cepat ke sisi lain mobil untuk membawa Naruto ke dalam rumah sakit. Lagi-lagi aku mengalami kesulitan dengan berat badannya. Tapi aku harus cepat.
Aku kembali memandang wajahnya. Dan mataku terbelalak saat mata indah itu mulai tertutup. Oh Tidak! Jangan-jangan tutup matamu Naruto!
"Naruto! Naruto! Berbicaralah padaku!" teriakku sambil mengguncang tubuhnya. Aku tak mau ia seperti ini.
"Sa—suke…" gumamnya kecil dan parau. Naruto… bertahanlah… bahkan kini pegangannya di bajuku mulai mengendur. Tidak!
"SUSTER! SUSTER! TOLONG AKU!" teriakku keras pada seisi rumah sakit. Dan perawat berbaju putih itu pun mulai mendatangi kami.
"Naruto, buka matamu!" ucapku padanya. Dan bisa kurasakan seluruh tubuhku bergetar. Apalagi Naruto tak menyahuti panggilanku. Tidak, Naruto! Kumohon!
Jantungku berdegup keras melihat pemandangan di depanku. Para suster membawa sebuah keranda kosong. Aku pun meletakkan Naruto di sana dan menggenggam erat tangannya. Kulihat juga dokter Tsunade datang ke arah kami.
"Dokter, aku tahu kau yang selalu merawat Naruto. Tolonglah dia…" kutinggalkan ekspresi egoisku. Yang ada sekarang adalah aku memasang ekspresi memohon. Untuk kali ini… aku meninggalkan keegoisanku sebagai Uchiha.
"Tenanglah, Uchiha." Kini mata coklat itu memandang orang yang kucintai di keranda yang kudorong untuk memasuki ruang gawat darurat. "Bocah, kalau kau menyerah sekarang, perjuanganmu akan jadi sia-sia selama ini. Pikirkan anakmu, pikirkan suamimu ini."
Sepertinya Naruti bereaksi terhadap suara dokter ini. Ia menggumamkan sesuatu. "Ne—nek…"
Ketika aku sampai di depan ruang gawat darurat, aku di tahan oleh dokter ini untuk masuk.
"Ada ap—"
"Selain suster dan dokter, yang lain dilarang masuk." Ucapnya tegas.
"Tapi aku suaminya!" kataku yang lumayan keras.
"Termasuk kau, suaminya." Aku memijit kepalaku. Kesal dengan keadaan sekarang ini. Naruto-ku di sana. Ia pasti membutuhkanku.
"Uchiha… hah~ aku benci harus mengatakannya di saat seperti ini." Aku menatap dokter Tsunade yang masih berdiri di hadapanku.
"Apa?" ucapku lirih.
"Disaat seperti ini… aku harus memberi pilihan kepadamu, Uchiha." Aku hanya menatapnya meminta penjelasan. "Kau harus memilih; selamatkan bayimu atau… Naruto?"
Disaat sebuah pilihan di depanku… yang mana yang harus kupilih? Aku bingung dengan pilihan ini. Anakku dan Naruto adalah dua orang yang terpenting di dalam hidupku. Dan keselamatan keduanya ada di depanku.
"Naruto… tolong selamatkan Naruto…"
.
.
.
#
.
.
.
"Kau sudah sadar?"
Saat kubuka mataku, tiba-tiba ada sebuah suara yang menyapaku. Suara perempuan dan ada keramahan di sana. Aku tak tahu siapa, karena saat ini mataku masih silau akan cahaya dalam ruangan ini.
"Akan aku panggilkan Sasuke." Aku tidak menyahutinya. Saat pandanganku mulai jelas, orang itu mempunyai rambut berwarna merah jambu. Entahlah dia siapa. Aku tak mengenalnya.
Rasanya bibirku kering sekali. Dan juga badanku terasa kaku. Seperti tertidur lama sekali.
Aku mengedar pandang ke sekeliling ruangan. Nuansa ruangan ini berwarna putih dan juga berbau obat-obatan. Ditanganku juga tertancap selang infus. Apakah aku berada di rumah sakit?
Pintu yang bercat putih itu pun terbuka, menampilkan seseorang yang sangat kukenal. Dia tersenyum walaupun sangat tipis sekali. Diikuti seseorang yang tadi menyapaku.
Sasuke menghampiriku, lalu menggenggam tanganku yang ada di balik selimut. "Akhirnya kau sadar juga." Lalu tangannya yang kosong mengusap kepalaku lembut. Mau tak mau aku tersenyum walaupun terasa kaku.
"Apa yang terjadi denganku?" ujarku lemah. Dan suaraku pun serak sekali.
Sasuke pun berinisiatif memberikan minum kepadaku. Lalu meminumkannya dengan hati-hati kepadaku.
"Apa kau tidak ingat sedikit pun?"
"Entahlah… kepalaku rasanya sakit kalau sedang berpikir."
"Jangan memaksakan diri."
Lalu, tanganku yang bebas pun tak sengaja memegang perutku. Dan apa yang terjadi? Perutku kembali seperti semula. Kepanikkan menghampiri diriku.
Bayiku…
"Sasuke, bayi kita… ada dimana?" aku meremas tangannya. Aku takut sekali. Kumohon jangan ada berita buruk mengenai bayiku.
Namun bukannya menjawab, Sasuke malah tersenyum. Dan senyum itu cukup lebar di mataku.
"Ah, lebih baik kupanggil dokter Tsunade saja untuk memeriksa keadaan Naruto." Suara itu… suara perempuan yang tadi menyapaku menengahi pembicaraan kami.
Aku memperhatikan Sasuke. Ia tersenyum pada perempuan itu seraya mengangguk. "Baiklah."
Siapa perempuan itu? Sepertinya dia kenal baik dengan Sasuke. Jangan-jangan—
"Sasuke… mana bayi kita?" Aku mulai histeris.
"Tenangkan dirimu, Naruto."
Dengan segera aku bangun dari tempatku. Dan rasa sakit menjalari perutku.
"Hei, jangan bangun dulu. Kondisimu belum pulih."
"Tapi, dimana bayi kita, Sasuke?"
Pintu di hadapanku kembali terbuka, menampilkan sesosok manusia berupa nenek Tsunade dengan wajah yang tak bisa ditebak.
"Bayimu baik-baik saja, Bocah. Kau tidak perlu sehisteris begitu."
"Aku perlu melihatnya." Kupaksakan diriku untuk bangkit. Meskipun perutku rasanya sakit sekali. Tapi aku tak peduli. Yang kupedulikan adalah bayiku.
"Kau akan melihatnya nanti, Bocah. Tapi tidak sekarang."
"Tapi—"
"Dia benar, Dobe. Kau akan melihatnya nanti."
Aku tak membantah ketika Sasuke berkata begitu. Mereka benar, aku akan melihatnya nanti.
Kemudian, nenek Tsunade pun memberikan semacam cairan bening pada alat infusku. Aku tak tahu cairan apa itu. Tapi yang kuyakin cairan itu tak berbahaya sama sekali.
"Akan kutinggal kalian berdua." Setelah mengatakan kalimat itu, nenek Tsunade pun meninggalkan kami.
"Aku akan cari makanan di kantin rumah sakit untuk makan siang nanti."
"Terima kasih."
Dan perempuan itu tersenyum kepada Sasuke. Entah kenapa perasaanku menjadi sesak saat Sasuke membalas senyuman perempuan itu.
"Sebaiknya kau istirahat."
Ketika Sasuke akan meninggalkanku, lekas-lekas aku menggenggam baju bagian belakang bawahnya. Aku tak ingin dia meninggalkan aku di sini sendiri dan menemui perempuan itu. Aku ingin dia menemaniku di sini.
"Ada apa?" Sasuke menaikkan alisnya sebelah, bingung.
"Di sini saja, temani aku."
Lagi-lagi dia tersenyum. Sudah berapa kali aku melihatnya tersenyum siang ini? Pasti karena kehadiran perempuan itu. Dia tidak boleh mengambil Sasuke dariku. Aku harus mempertahankan Sasuke.
"Kau manja."
"Memang." Jawabku ketus.
Kesunyian merajai kami. Entah kenapa juga aku jadi seorang yang pendiam. Padahal aku adalah orang yang cukup berisik. Aku merasa jadi orang yang pendiam semenjak aku menikah dengan Sasuke. Apa aku sudah tertular akan keterdiaman Sasuke? Entahlah.
Sasuke pun menjadi semakin banyak berbicara setelah kami menikah. Apa dia tertular diriku juga? Dia mulai belajar menggombal. Aku tak tahu dia belajar dari mana. Namun aku tak menganggap kata-katanya adalah sebuah gombalan. Melainkan sebuah kata-kata manis yang ditujukan untuk pasangannya sendiri. Dan aku menyukainya.
Sasuke terus saja mengelus kepalaku. Rasanya nyaman. Sudah agak lama ia tak membelaiku seperti ini. Apa karena ia keseringan memelukku? Memeluk ataupun membelai sama saja bagiku.
"Sasuke?" panggilku padanya. Ada suatu hal yang ingin kutanyakan padanya sedari tadi.
"Hn?"
"Perempuan tadi siapa?" Aku penasaran padanya.
"Maksudmu Sakura?"
"Aku tak tahu siapa namanya. Dia memiliki warna rambut merah jambu."
"Menurutmu dia siapa?"
Aku tak tahu harus menjawab apa. "Apa dia… kekasihmu?" jawabku pelan.
Sasuke pun menaikkan alisnya. "Kenapa kau berkata seperti itu?"
"Kulihat kalian akrab sekali. Dan kau juga tersenyum padanya. Setahuku, kau susah sekali tersenyum untuk orang lain. Kupikir dia begitu spesial untukmu."
"Begitu 'kah?"
Jadi… dia benar-benar kekasih Sasuke? Aku tak percaya ini. Tega-teganya Sasuke mengkhianatiku. Hatiku sakit. Aku tak pernah sesakit ini sebelumnya.
Pintu di hadapanku di ketuk dari luar. "Aku masuk."
Yeah… aku tahu siapa yang mengetuk itu. Siapa lagi kalau bukan perempuan berambut merah jambu—dan aku enggan menyebut namanya.
Aku membuang pandanganku saat Saku—tolong jangan paksa aku menyebut namanya—memandangku. Aku tak ingin melihat wajah ramahnya yang memuakkan itu. Itu bagaikan sebuah ejekan darinya untukku.
"Kudengar Naruto menyukai ramen, kupikir membelikannya ramen instan tak buruk."
"Seharusnya kau tidak membeli makanan penuh lemak itu." Sasuke melirikku. Aku memajukan bibirku, cemberut. "Dia baru saja siuman dari komanya."
Dan wanita itu lagi-lagi tersenyum pada Sasuke. Itu terlihat buruk di mataku. "Dan ini untukmu, hanya ada burger di sana. Tak apa 'kan?"
"Tak apa. Terima kasih." Sasuke pun menerima makanan itu dan melahapnya. "Aku akan keluar menemui kakak. Bisakah kau menjaga Naruto?"
"Tentu. Akan kulakukan."
Mereka berbicara seolah-olah aku tak ada di sini. Menyela mereka pun percuma. Rasanya aku ingin sekali-kali membungkam mulut perempuan ini agar ia tak bisa berbicara lagi pada Sasuke.
"Makanlah… aku rasa kau lapar."
Aku menolehkan kepalaku ke arah lain saat Sakura akan menyuapkan ramen itu ke mulutku. Aku memang lapar. Tapi aku tak ingin memakan makanan yang berasal darinya. Siapa tahu ia memasukkan racun ke dalamnya.
"Tidak. Aku tidak lapar."
"Kau kenapa? Tadi kau baik-baik saja. Kenapa kau sekarang jadi begini sinis padaku?"
"Kau tahu? Sasuke itu adalah suamiku." Ucapku ketus. Aku tak peduli pada raut wajahnya yang bingung itu.
"Aku tahu itu. Lalu?"
"Seharusnya kau tahu diri. Kau harus menjauhi Sasuke."
"Menjauhi Sasuke? Apa maksudmu?"
Aku menatap nyalang padanya. "Maksudku? Kau sudah mengambil Sasuke dariku. Seharusnya waktu Sasuke memintamu untuk menjadi kekasihnya, kau tolak saja!" Kini rasa marah menguasai diriku.
"Tunggu! Kekasih katamu?"
"Ya! Kau kekasih baru Sasuke 'kan?" ucapku nyalang. Sungguh, aku marah sekali pada perempuan ini. Apakah Sasuke mengira aku akan mati? Lalu dia seenaknya saja mencari kekasih lain? Tapi nyatanya aku masih hidup 'kan? Apalagi aku baru saja melahirkan. Kenapa perempuan ini tak berperasaan sama sekali?
Namun bukannya menjawab, perempuan di hadapanku ini malah tertawa. Dan tawanya cukup keras. Aku yakin pasien di kamar sebelah terganggu dengan tawanya itu.
"Naruto, aku bukan kekasih Sasuke. Tapi aku ini kakaknya?"
"Bukan katamu? Dan apa kau bilang? Kakaknya? Jangan bohong!" aku menepis semua kata-katanya.
"Buat apa aku bohong? Memangnya, Sasuke belum bercerita apa-apa padamu?"
"Sasuke tidak punya kakak perempuan! Kalaupun ada, pasti kakaknya tidak akan berpenampilan sepertimu!"
"Aku memang bukan kakak kandungnya, tapi aku kakak iparnya. Kau tahu Itachi? Aku ini istrinya." Ucapnya sambil tersenyum. Namun ia juga terkekeh pelan saat menjawabnya.
Kakak ipar? Istri kak Itachi? Jadi… perempuan ini… kakakku juga 'kan?
"AH! Maafkan aku!" aku sungguh jadi tidak enak sekarang. Aku merasa bersalah padanya karena sudah membentaknya. Lalu menuduhnya yang tidak-tidak. Mau ditaruh dimana mukaku? Aku malu sekali pada perempuan ini. Aku hanya menunduk berulang kali untuk meminta maaf padanya.
Perempuan itu kembali tertawa. "Sudah, tidak apa-apa. Sasuke bercandanya keterlaluan."
"Sebenarnya Sasuke tidak bilang apa-apa. Hanya saja… aku yang menyimpulkannya sendiri."
Perempuan itu mengangkat alisnya, heran. "Kenapa kau mengambil kesimpulan seperti itu?"
"Aku tak pernah mengenalmu sebelumnya, dan juga Sasuke sangat jarang tersenyum pada orang lain. Kupikir saat dia membalas senyumanmu, kau orang yang spesial baginya."
Lalu dia pun mengacak rambutku. "Mungkin dia begitu sayang padaku sebagaimana dia sayang pada kakaknya sendiri? Kau tentu tahu kalau Sasuke sangat sayang pada kakaknya kan?"
Aku mengangguk membenarkan. Semua yang dikatakan perempuan ini memang benar adanya. Sasuke begitu menyayangi kak Itachi, bahkan melebihi orang tuanya sendiri. Sasuke pernah bercerita padaku kalau ia hampir dipukul oleh ayahnya sendiri hanya karena membela kakaknya yang ketahuan mencuri. Tapi, kurasa kak Itachi pantas mendapatkannya rasa sayang Sasuke. Toh, kak Itachi orangnya begitu baik. Bahkan dia juga menganggap diriku sebagai adiknya sendiri. Dia memang kakak yang hebat.
"Ah! Ramennya keburu dingin. Aku suapin, ya?"
Aku hanya mengangguk. Kini perasaan curiga itu tidak ada lagi. "Baiklah, Kak Saku—"
"Sakura saja. Aku seumuran dengan kalian. Lebih baik begitu." Kini dia menyuapi ramen yang ia pegang. Dalam diam aku hanya menerimanya saja.
…
Hari beranjak malam, dan tak sedikit pun aku merasa ngantuk. Nenek Tsunade berkali-kali menyuruhku beristirahat agar kondisiku pulih. Tapi, bukankah istirahat itu tak hanya tidur saja? Cukup berbaring seperti ini sudah termasuk istirahat kan?
Tirai jendela menari di tempatnya, seolah-olah seperti hidup. Tapi nyatanya itu hanyalah dorongan angin saja. Aku melarang suster untuk menutup pintu ruangan ini. Karena aku sangat menikmati angin malam seperti ini.
Pintu terbuka, menampilkan sesosok yang baru-baru ini sudah menjadi kakakku—tepatnya kakak ipar. Siapa lagi kalau bukan Sakura?
"Boleh aku masuk?"
Aku mengangguk mengiyakan di tempat pembaringanku. Sambil memberikan senyumanku padanya.
"Apa aku mengganggumu?" tanyanya lagi.
"Tidak sama sekali. Ada apa kemari?"
Ia hanya menggarukkan pipinya yang putih mulus itu dengan ujung jarinya. "Aku hanya ingin melihat keadaanmu. Ya—kalau kau tak keberatan aku ingin melihat si Sasuke junior juga."
Aku mengerling pada keranda kecil di sampingku yang berisi buah hatiku dan Sasuke. Ah! Tadi sore aku memaksa nenek Tsunade agar membawa bayiku ke tempatku. Awalnya nenek Tsunade menolak, tapi aku tetap bersikeras untuk memaksanya agar membawa bayiku yang mungil itu ke tempatku. Mau tak mau beliau menuruti permintaanku. Aku hanya tersenyum lebar saat beliau memasang raut wajah kesal.
"Tentu saja. Tapi dia sedang tidur."
Sakura tersenyum kepadaku. "Justru itulah aku ingin melihatnya saat tidur. Dia terlihat lebih lucu."
Dari sinilah aku melihat perempuan itu tengah mengelus pipi bayiku dengan sangat hati-hati. Kurasa ia takut membangunkannya.
Bayiku… dia mirip sekali dengan Sasuke. Berjenis kelamin laki-laki, rambutnya hitam juga kulitnya begitu pucat. Aku tak tahu warna matanya apa. Karena yang kutahu, bayi akan membuka matanya setelah tiga atau empat minggu setelah dilahirkan. Tapi kuharap, dia memiliki warna mata sepertiku.
Kutatap wajah Sakura yang cantik itu. Bisa kulihat dari wajahnya kalau dia sangat menyayangi buah hatiku. Kupikir anakku akan mendapatkan seorang bibi yang cantik dan baik hati sepertinya.
"Sakura?" aku memanggilnya. Dan ia pun mendongakkan wajahnya menatapku.
"Ya?"
"Apa kau sangat menyayangi anakku?"
Wajah cantik itu tersenyum. Lalu ia menghampiriku dan menggenggam tanganku. "Tentu saja aku sangat menyayanginya. Dia sudah seperti anakku sendiri."
"Kenapa?" Kini aku bertanya lagi padanya.
Lagi-lagi ia tersenyum. Namun, senyum itu terlihat berbeda dengan senyum yang selalu ia tampakkan padaku selama ini. Itu terlihat seperti sebuah keputus asaan?
"Kau tahu, Naruto? Kalau aku jadi dirimu, entah aku harus berekspresi seperti apa saat aku mengetahui bahwa aku bisa memiliki anak. Tapi nyatanya, aku yang seorang wanita pun tak bisa memiliki anak. Berbanding balik denganmu yang seorang laki-laki bisa menghasilkan anak."
Aku tertegun mendengar penuturan dari Sakura. Tak menyangka bahwa ia harus mengalami kejadian seperti ini. "Astaga, Sakura…"
"Tidak apa-apa, Naruto. Dengan melihat anakmu pun aku sudah cukup bahagia."
"Tapi, bagaimana bisa?"
"Kanker rahim. Penyakit itulah yang membuatku tidak bisa hamil." Lagi ia tersenyum padaku. Membuatku merasa bersalah. Sungguh aku menyesal mengajukan pertanyaan seperti ini.
"Maafkan aku. Tidak seharusnya aku mengungkit hal yang tak menyenangkan seperti ini."
"Buat apa kau meminta maaf? Lagipula aku sudah menerima takdir ini. Kau jangan merasa bersalah begitu. Lagipula, selalu ada kemanisan di balik kepahitan ini." Ia melirik anakku. Dan aku pun melirik anakku yang tertidur di seberang sana.
Aku kemudian tersenyum padanya. "Kau hebat bisa menjalani semua ini."
Ia terkekeh mendengar perkataanku. "Terima kasih. Kurasa itu pujian yang berlebihan untukku."
"Itu memang kenyataannya." Kami berdua pun tertawa bersama.
"Sepertinya ini sudah larut. Sasuke bisa membunuhku kalau aku membiarkanmu terjaga seperti ini." Ia melangkah mendekati jendela kamar ini. Kemudian menutupnya. Aku tak mencegahnya. Karena kini aku sudah mulai merasa kedinginan.
"Tidurlah. Kita bisa berbicara lagi besok. Kepulihanmu adalah yang utama."
Aku mengangguk. "Terima kasih." Dan tanpa sengaja aku pun menguap, menandakan aku sudah mengantuk. Kulihat juga Sakura sudah meninggalkan tempat ini.
Aku merapatkan selimutku. Dengan nyaman bergelung di dalamnya untuk mencari kehangatan. Haahh~ selamat malam dunia. Dan selamat tidur juga untuk bayi kecilku.
.
#
.
Seminggu sudah aku berada di rumah sakit yang pada akhirnya aku diperbolehkan untuk pulang. Meski kondisiku belumlah stabil, tapi nenek Tsunade menyatakan kalau aku sudah cukup sehat untuk pulang. Rasanya senang kalau aku harus keluar dari rumah sakit ini. Aku merindukan suasana rumah.
Kulihat Sakura tengah membereskan semua barang-barangku. Melihatnya aku jadi tidak tega. Kulangkahkan kakiku dengan hati-hati ke arahnya. Meskipun sudah seminggu, namun jahitan bekas operasi ini masih terasa sakit bagiku.
"Sakura, biar aku saja yang membereskan semuanya. Lagipula, itu semua adalah barang-barangku 'kan?" aku mulai mengambil alih semuanya.
Sedikit terkejut tapi Sakura mencegahku melakukannya. "Tidak. Kau harus tetap dia di tempatmu. Kau itu baru sembuh, Naruto. Masih harus beristirahat."
"Tapi—"
"Sakura benar, Naruto. Kau harus banyak istirahat." Sasuke memotong perkataanku. Ia berjalan ke arahku dengan bayi mungil di gendongannya.
Aku memajukan bibirku. "Teme! Istirahatku sudah cukup selama seminggu ini."
"Tidak. Dan jangan membantah, Dobe."
Aku mendengus mendengarnya.
"Wah, wah. Ada apa ini?" suara kak Itachi menggelegar di kamar ini. Aku meliriknya. Dan ia juga membantu istrinya—Sakura membereskan barang-barangku.
"Lihatlah adikmu ini," aku melirik ke arah Sasuke yang sedang mengusap pipi bayi kecilku, "Dia melarangku membereskan barang-barangku sendiri. Malah, dia menyuruhku beristirahat."
Mendengar perkataanku, kak Itachi malah tertawa. "Kurasa perkataan adikku tidak ada yang salah."
Aku hanya menggerutu. Mereka bertiga kompak sekali untuk menyudutkanku.
"Baiklah, sudah selesai." Sakura berkata dengan riangnya.
"Apa tidak ada barang yang tertinggal?" Sasuke bertanya sambil menidurkan bayi mungil itu.
"Kurasa tidak. Semuanya sudah dimasukkan dengan rapi." Sakura berkata dengan mantap.
"Hn."
Kemudian, kulihat kak Itachi membawa tas yang memuat barang-barangku. Cukup besar juga ternyata. "Biar aku yang membawa barang-barang ini." Kemudian dia membawanya keluar.
"Ah! Bisakah aku saja yang menggendong keponakkanku ini? Biar Sasuke yang membantu Naruto berjalan."
Tanpa memberi jawaban, Sasuke menyerahkan begitu saja bayi mungil itu kepada Sakura. Dari sudut pandangku, mereka terlihat serasi. Tapi bagaimana pun, Sakura tak kalah serasi dengan kak Itachi.
"Ayo, Dobe."
Sasuke melingkarkan tangannya ke pinggangku. Ia membantuku berjalan dengan hati-hati. Banyak orang-orang di rumah sakit ini yang memperhatikan kami. Aku tak perlu malu. Malahan aku menikmati aura terkejut mereka.
Ketika kami berjalan di lorong rumah Sakit, nenek Tsunade tiba-tiba menghampiri kami.
"Sebelum kalian keluar dari sini, aku ingin melihat cicitku. Dimana dia?"
Aku mengerling pada Sakura yang berdiri jauh di hadapanku. Dan nenek Tsunade pun mengarahkan pandangannya ke arah Sakura. "Di sana rupanya."
Ah! Aku melihat nenek Tsunade tersenyum. Senyuman yang jarang sekali beliau tampakkan. Tak pernah aku melihat wajahnya yang terpancar penuh kebahagiaan seperti itu. Dari sini aku melihat nenek Tsunade mengambil bayi itu dari tangan Sakura. Kemudian ia mencium kening bayiku yang tertidur. Ralat—bayiku dan Sasuke.
Tak berapa lama, nenek Tsunade kembali menyerahkan bayi mungil itu ke tangan Sakura. Mereka terlihat berbincang. Namun hanya sebentar saja. Lalu kembali berjalan ke arah kami.
"Bocah," tanpa diduga-duga, nenek Tsunade memelukku. Aku hanya memasang ekspresi terkejut. Lalu senyum pun bertengger di bibirku. Kubalas pelukkan beliau yang penuh kasih sayang ini. "Jaga dirimu baik-baik. Aku pasti akan merindukan kalian."
"Nenek bicara apa?" kulepaskan pelukkan ini dan menatap wajahnya. Dan apa itu? Mata coklatnya terlihat berkaca-kaca? "Nenek 'kan bisa datang ke rumah untuk mengunjungi kami."
"Tidak semudah itu, Bocah. Pekerjaanku sangat banyak di sini."
"Kalau begitu selesaikan." Kuberikan cengiran lebarku pada beliau. Lalu beliau mengacak rambut pirangku dengan gemas.
"Enak sekali kau berbicara seperti itu." Lalu pandangannya beralih ke Sasuke. "Kau juga, Uchiha. Kuharap kau menjaga cucuku ini."
Pandanganku beralih ke Sasuke yang menganggukkan kepalanya singkat. "Hn."
Nenek Tsunade pun mendengus. Aku hanya terkekeh kecil. "Masih saja pelit bicara kepadaku."
"Dia memang seperti itu, Nek."
"Sudahlah…" nenek Tsunade pun menghela nafas. "Kurasa mereka menunggu kalian."
Aku mengangguk. "Kami pergi dulu, Nek. Sampai nanti." Kemudian Sasuke kembali melingkarkan tangannya di pinggangku. Membantuku berjalan sampai ke mobil.
"Hati-hati."
Aku hanya melambaikan tanganku sebagai balasannya.
Kami kembali berjalan di lorong rumah sakit ini. Sedikit lagi maka kami akan sampai di tempat parkiran.
"Dobe, apa bekas operasi itu masih sakit?"
"Sedikit." Jawabku. Dengan segera kami menghampiri kak Itachi dan juga Sakura yang sudah menunggu di mobil. Bersama dengan buah hatiku tentunya.
Setelah sampai, Sasuke kemudian menyuruhku untuk duduk di depan samping kemudi.
"Aku yang akan menyetir." Sasuke berucap sambil menuju kursi kemudi.
Selama perjalanan kami hanya diam saja. Sesekali terdengar suara erangan bayiku di belakang sana. Dan juga suara Sakura yang menenangkannya. Aku merasa kalau Sakura bisa menjadi ibu yang baik.
"Bayi ini begitu mirip denganmu, Sasuke." Ucap kak Itachi. Aku melirik ke belakang. Dimana kak Itachi sedang sibuk mengelus pipi si mungil.
"Hn."
"Tapi sayang, aku belum melihat warna matanya. Aku penasaran dengan itu."
"Ah, iya. Aku juga belum melihatnya."
"Biru. Warnanya biru. Seperti warna mata Naruto." Saat mengatakan itu, Sasuke langsung menatapku. Aku tercekat dengan nafas tertahan. Pandangan Sasuke seperti inilah yang membuatku gugup. Entah kenapa rasanya wajahku mendadak panas?
"Kapan kau melihatnya, Sasuke?" suara Sakura memecah keheningan di antara kami. Sasuke kembali memperhatikan arah depan. Sedangkan aku memperhatikan pemandangan luar melalui jendela mobil di sampingku.
"Dua hari yang lalu, saat kalian semua sudah tertidur."
"Sepertinya aku juga ingin melihatnya. Pasti indah seperti milikmu, Naruto." Ucap Sakura. Aku hanya tertawa kecil.
"Aku juga ingin melihatnya." Kataku. Ya, aku ingin melihat mata si kecil.
…
Kini mataku disuguhi oleh pemandangan halaman depan rumahku. Masih seperti saat terakhir kali yang kulihat. Bedanya, pohon sakura yang dulu ditanam olehku bersama Sasuke kini berbunga. Sangat indah sekali. Ah! Pohon itu mirip sekali dengan Sakura. Apa karena warna rambutnya yang sama?
Ketika mobil ini sampai di depan rumah, pembantu yang sudah bekerja di rumah ini pun keluar menyambut kami. Ada raut kesenangan di wajah mereka. Entah senang karena kami sudah pulang, atau anggota keluarga kami yang bertambah satu.
Lagi-lagi Sasuke membantuku keluar dari mobil ini dan berjalan menuju ke dalam. Padahal kalau berjalan sendiri pun aku masih bisa. Tapi sepertinya dia tidak mau tahu.
"Si Kecil yang lucu." Komentar para pembantuku. Aku hanya tersenyum mendengarnya.
"Iya. Mirip Tuan Sasuke." Entah perasaanku saja atau memang semua orang yang melihat bayiku itu mirip Sasuke? Tapi, kenapa tidak ada menyebutku sedikit pun?
"Tapi, kuharap dia memiliki sifat yang mirip dengan Tuan Naruto. Tuan Naruto kan baik sekali." Mendengarnya aku menjadi merasa malu sekali.
Kini di hadapanku terpampang pintu kamar yang cukup besar. Ya, ini kamar yang kami tempati. Sasuke mendorong pintu kamar ini dan kembali menyeretku masuk.
Aku rebahkan dengan hati-hati. Mengingat jahitan bekas operasi di perutku yang masih terasa sakit.
"Kau mau sesuatu?"
Aku menganggukkan kepala. "Aku merasa sedikit haus."
"Baiklah. Akan kuambilkan air."
Kemudian Sasuke meninggalkanku sendiri di kamar ini mengambilkanku minum. Aku memang sudah haus semenjak meninggalkan rumah sakit tadi.
Beberapa menit kemudian Sasuke kembali dengan segelas air di tangannya. Ia duduk di sampingku sambil membantuku minum. Ia mengangkat kepalaku dan menahannya. Kemudian kembali merebahkanku. Ia memperlakukanku dengan lembut.
"Terima kasih." Ucapku sambil tersenyum. Dan ia pun membalas senyumku.
Aku terdiam. Tak menemukan topik yang bisa dijadikan bahan pembicaraan. Aku merasa canggung dengan keadaan ini. Ah! Sepertinya ada sesuatu yang ingin kutanyakan padanya.
"Sasuke, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu."
"Apa?"
"Berapa lama aku mengalami koma?"
"Kau koma selama tiga minggu."
Aku tercekat mendengar jawaban dari Sasuke. Selama itukah aku tak sadarkan diri?
"Maaf. Kau pasti mengkhawatirkanku." Kataku lirih. Pasti selama tiga minggu itu aku terlalu merepotkannya.
"Untuk apa kau minta maaf? Tidak ada yang perlu dimaafkan maupun meminta maaf di sini."
Aku menatapnya. Langsung ke arah bola matanya. "Selama tiga minggu itu, aku pasti banyak merepotkanmu."
"Kau merasa begitu?"
Aku mengangguk sebagai jawaban.
Sasuke mendekatkan wajahnya kepadaku. Sangat dekat sekali. "Dengar. Aku sama sekali tak merasa direpotkan olehmu."
Aku seharusnya tahu apa yang akan selanjutnya terjadi. Ya, Sasuke menciumku. Tepat di bibir. Dan aku sudah lama sekali tak merasakan bibirnya. Bibir yang selalu mengutarakan bualan-bualan untuk membujukku. Bibir yang selalu berkata dingin kepadaku. Dan bibir yang selalu mengucapkan kalimat mesra untukku kini aku rasakan.
Kehangatan bibir ini selalu aku rindukan setiap hari. Setiap pagi ia selalu memberikannya kepadaku. Dan setiap malam, bibir inilah yang selalu memberikan rasa kepadaku. Aku menikmatinya saat ia mulai melumat habis bibirku. Dan aku tak keberatan untuk membuka bibirku. Membagi rasaku kepadanya melalui saliva ini. Dan aku pun mendapatkan rasa istimewa dari salivanya. Kau tak pernah membayangkan bagaimana nikmatnya rasanya.
Kami memisahkan diri saat pasokan nafas menghalangi kami. Terengah-engah saat melepaskannya. Lalu ia melengkungkan senyuman di bibirnya. "Terima kasih." Dan kembali kami berbagi rasa melalui ciuman ini.
TBC
Ngak jadi last chapter. Udah kepanjangan. Jadi, chap depan aja. Berbahagialah yang nga pengen last chap \(-_-)/
Naruto hidup, ya! Saya nga sanggup bikin Sasuke menduda. Kalaupun bikin menduda, ntar saya kawinin sama Neji. Ahahahaha! XD
Ada yang bingung ama chap ini? Di awal itu sudut pandang Sasuke. Lalu yang agak ditengah itu baru sudut pandang Naruto :)
Oh ya, ada sedikit kesalahan pada chapter lalu. Kan dokter pertama itu namanya Shizune, dan pas dokter Tsunade memeriksa Naruto ada menyebutkan dokter Sakura. Awalnya sih memang memakai Sakura, tapi saya ubah jadi dokter Shizune karena saya lupa kalau Sakura juga punya peran sebagai istri Itachi. Maaf, bagian itu belum saya ubah #orz
Saya sedikit bingung menentukan nama dari sang bayi Narutto dan Sasuke. Jadi, ada yang mau memberikan usul?
Awalnya sih mau memakai nama Sai. Secara Sai mirip ama Sasuke. Tapi, ciri Naruto (ex: kulit coklat, rambut pirang, mata biru dll) di Sai nga ada. Jadinya saya batelin. So, ada yang mau nyumbang? Kalau mau nyumbang, disertain artinya ya kalau bisa? Trus namanya boleh nama Jepang atau barat. Soalnya kan Sasuke ama Naruto tinggal di Kanada :)
Wokeh, chap berikutnya chap terakhir. Sekaligus kenapa Itachi ama Sakura bisa nongol.
Special thanks for:
Chary Ai TemeDobe, Fujita Hoshiko, Namikaze Trisha, Lasanaru, ttixz lone cone bebe, Delta Dwina Alpha Fujoshi, Uchizuku no RenMay, Namikaze Reisen, Uchiha Uzumaki Hatake Hotaru, CCloveRuki, Sasunaru4ever, Superol, Sulli Otter, Nine tailed, Vii no Kitsune, zee rasetsu, Ai HinataLawliet, Stoiclovehokagewanabe, Law, Chiho Nanoyuki, Rosanaru, No Name, Chiizu Mo, Eived Nu, gekikara hn, icha22madhen, Ira Julian, Versiera Shie Chibie g login, Akai no Tsubasa, Mels, Uzumaki Arisa, sizunT hanabi, Garlosivitia Berylalexis, Fuuta, sabakunodidie, ukkychan, and Muthiamomogi. Trus buat yang ngefave sama alertnya thankyu juga. :3
Nga nyangka baru 3 chap reviewnya udah seratus lebih. Arigatou Gozaimasu #bighugs
Review lagi?
Bacot dikit, ada yang tau JLaw ama Kirio. Mereka pasangan REAL yaoi dari Chinese loh! Seme ganteng ama uke yang manis. Hyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa! Mereka kaya duplikat SasuNaru X3
Dan apa yang bikin saya bahagia? MEREKA SUDAH NIKAH! *tebar coklat*
Coba deh kalian liat foto-foto mereka di Google, ada yang mesra, manis, sama hot juga ada. Aawwww! (Kemana saja saya selama ini yang nga tau JLaw ama Kirio?)
Trus saya juga kepicut ama hubungan Gezod dan Hendra Penghuni Terakhir. Mereka memperebutkan Putri. Tapi kok mereka kadang pegangan tangan mesra gitu. Hubungan yang mencurigakan ¬_¬"
Udah ah! Pokoknya review! Dan Happy SasuNaru Days, minna! :3
