Kasus Keempat : Trigonometri

.

"Sampai kapan kau akan tetap tengkurap di sana, Kagamine-san?" Segerombolan tungkai sepatu dengan alas sepatu sudah dua kali disaksikannya di tempat.

"Aku ingin beristirahat….." Len paling terbelakang diantara mereka, murid-murid yang terangkum dalam kelasnya. Guru olahraga dipinggir garis lapangan, tetap di situ.

Dan tetap dengan sikap tajamnya.

"Nilaimu dikurangi!" Entah kenapa ia tidak peduli; sekarang semuanya menjauh.

Otaknya lelah dengan aksi organisasi tersembunyi, dan Rin yang selalu memenuhi jadwal berduet berkat mengatakan, "Kami akan selalu ada di panggung." Ia tahu, semuanya akan selesai jika kedua perkumpulan saling bersahabat, seperti yang diinginkannya.

Kasus padat waktu untuk didatangi, seharusnya ia bahagia karena ini merupakan genre yang ingin digelutinya. Tapi dua orang yang diatasnya itu menyelangi diam dengan kekonyolan, terkadang bahannya adalah dirinya.

Siswa lain secara terpisah melintas dengan kecepatan lari yang berbeda, agak membosankan daripada yang kedua. Siswi-siswi yang melangkah menyapa dan mengomentari perbuatannya, Len tidak membalas apapun sekalipun mereka mengingatkannya pada harga diri dan profesinya.

Olahraga bukan pelajaran kesukaannya, pengurus kurikulum tidak mengerti dirinya.

"Aku lelah….." Rinto, teman yang kadang menghilang, baru ambruk disisi kirinya dengan berawal dari lututnya.

Terkadang orang ini selalu disamakan dengan dirinya meski ia sudah bilang berulang kali dalam pola penataan rambut – sangatlah berbeda. Rinto menggunakan 'kebanggan' itu dengan menyanyikan lagu asli dari Len.

"Aku sudah tiga putaran, lho." Gestur tiga jari. "Kau payah – setengah putaran saja sudah jatuh." Membenturkan kepalan pada bahu.

Ujung telapak tangan menekuk menekan tanah mulus, masih di tempat itu setelah terbangun. "Olahraga selalu diawali dengan mengelilingi lapangan, membosankan."

"Kemarin di ruangan olahraga. Main basket."

"Oh." Ia tidak ingat kegiatannya diluar pada hari itu. Murid-murid sudah melebur di lapangan, menghentikan kegiatan mereka.

"Olahraga memang membosankan, tapi kita tidak bisa menghindarinya." Dia tersenyum apa adanya, Len tidak bisa membaca maknanya.

"Aku selalu berolahraga setiap hari, dari pekerjaanku – tidak berhenti berkeliaran - ." Lirikan. "Mereka harusnya mengerti."

Dan ia rasa, meski Rinto mengunjunginya kemari, nampaknya dia tidak menyinarinya sebagai pembentak menuju zona luar.

.


.

.

.

Genre : Crime, School Life

Characters : Sf A2 Miki, Lily

Note : Maksud 'menghilang' dari Rinto adalah teman selintas, yang bertemu jika hanya membutuhkan atau sekedar reflek.

Summary : Anak pemilik pabrik es, hobi berkeliling dalam pabrik, benci pelajaran matematika adalah terduga yang dipilih Len.

.

.

.


.

Mereka melingkar menaati permintaan dan sesekali Len mencuri pandang; bagaimana tiap raut tenggelam dalam alur yang diucapkan si pemilik pabrik es.

Para karyawan yang terbunuh sudah ditemukan kemarin, mereka bersembunyi dibalik kumpulan es yang terbungkus. Karyawan lain mengatakan jumlahnya bertambah, ditemukan juga di tempat itu. Barangkali si pembunuh gagal belajar dari pengalaman, pikir Len, ramalan mengerikan bahwa korban bisa bertambah masih dirangkul mereka.

Ini semacam pembunuhan berantai; tapi ia berasumsi bahwa si pembunuh tidak lebih dari orang biasa, sekalipun belum didapatkan orang yang mencurigakan.

Karena seperti yang pernah dibacanya dalam sebuah cerita fiksi yang panjang, pembunuh berantai menggunakan motif yang sama dalam gurat pembunuhannya.

"Aku berharap kalian mendapatkan petunjuk sebanyak-banyaknya." Sang pemilik pabrik berbalik untuk pergi, setelah dia banyak menunjukkan ruangan dan menjamin tidak akan mengganggu para pekerja.

Mereka berpakaian tebal dan tidak seharusnya jaket bermain dalam musim salju bohongan. Ia risih ketika ketika justru pakaian semacam ini malah membuatnya merasa tidak setara dengan mereka, entah kenapa.

"Kita berpencar." Gakupo memandang dua orang secara berurutan. "Tidak sembarangan petunjuk bisa diambil."

"Tentu saja, kami tahu itu." Jemari dikibaskan, berlagak sombong dari ritmenya bagi Len. "Ya, 'kan?" Dia meminta persetujuan padanya.

"Ya." Setengah berpaling.

.


.

Kaito dan Gakupo menyiratkan dari cara mereka menyambut kemunculannya hanya dari tatapan, menyuruhnya bergegas lebih cepat dengan latar yang tak berubah; di lantai kotak-kotak pengangkut es yang disusun bersentuhan dengan tembok, jarang dipijak para karyawan.

"Telat."

"Banyak keanehan yang kucatat di sini." Lembaran dibuka asal, urutan keganjalan disekitar para pegawai dan ruangan. Mereka berdua juga mencatat, ini tidak direncanakan.

"Waw, lebih banyak dariku." Kaito tidak benar-benar tulus memujinya, ia menunjukkan seringaian.

"Dimulai dariku." Gakupo membeberkan catatan semua yang ditemukannya hanya untuk dirinya sendiri. "Aku mewawancarai seorang karyawan, dia bilang; ada satu karyawan yang ditakuti mereka."

"Maksudmu pembully?"

Mengangguk pada Kaito. "Dia tidak menyakiti para karyawan lain lagi sejak tahu kematian dua temannya."

"Ternyata keberaniannya menyusut…."

"Siapapun akan sedih kalau seorang teman mati, baka." Len berani mendongak, merasa paling benar.

"Seharusnya bisa mencari teman yang lain, tapi dia akan kesulitan bergaul karena terlanjur jahat."

"Yah, aku juga tahu." Membuang muka.

"Kurasa kesendiriannya itu mencurigakan." Gakupo menunduk ke bawah pada bukunya. "Dia tidak berbaur dengan yang lain tapi sikapnya masih kasar."

Liukan tinta itu begitu singkat jika dibandingkan dengan miliknya.

"Dia selalu menghilang tanpa sebab, itu yang lebih mencurigakan."

Dahinya berkerut, "Terbalik, seharusnya korban bully yang membunuh pembully."

Kaito mengibas lembaran-lembaran bukunya ditengah gumaman. "Aku juga mencurigai seorang karyawan, tapi dia perempuan."

Satu lagi, pencarian yang berbeda dengannya.

"Dia mengangkut bungkusan es saat harus menatanya dan mengeluarkannya. Mayat-mayat yang ditemukan ada di ruangan itu, 'kan? Aku bingung; dia tidak mencium bau mayat."

"Wah, dua pendapat yang saling berkaitan." Len mengintip dua buku tulis di tengah mereka menyamakan sisi lain yang mungkin bisa menyatukan. Hanya satu paragraf yang singkat.

"Bagaimana denganmu? Pasti beda juga, ya."

"I-Iya…." Ia ragu jika mereka tidak akan mengejeknya setelah ini. "Ada seorang gadis yang berkeliling di tengah para karyawan yang bekerja."

"Maksudmu, anaknya pemilik pabrik ini?"

Berpaling pada Kaito. "Anaknya?"

"Ayahnya saja selalu berkeliling. Kau mau mencurigai sifat turunan, ya?"

Len belum mendapat informasi apapun mengenai orang-orang selain hanya hasil pengamatan dan mencatat semua keanehan yang ditemukannya.

Ia tidak berpikir apapun tentang pengumpulan petunjuk didepan dua orang dengan tampang menunggu jawaban separuh meremehkan ini.

"Dia berkeliling tidak jelas, tapi tidak berbicara dengan karyawan satu pun."

Kaito dan Gakupo saling berpandangan, "Apanya yang aneh?"

"Aku punya banyak keanehan." Kepala buku dijepit jemari, tulisannya tepat didepan mereka.

"Setahuku, pinggiran mesin berdarah karena telunjuk seorang karyawan yang tergores." Kaito menyentuh menurun secara vertikal urutan 'keanehan' dengan telunjuknya.

"Gadis itu membuang es karena mendapat suruhan dari seorang karyawan yang kuwawancarai."

"Mereka berkumpul ditengah es yang mencair karena diduga airnya mentah….."

Baiklah, mereka memecahkan semua yang harusnya dipecahkannya, tapi tidak semua.

"Jadi, apa hubungannya dengan gadis itu?" Buku diturunkan setelah pertanyaan itu dan seorang karyawan yang lewat dibelakang punggungnya.

Len tidak mematok pada sebuah perasaan. "Mungkin ada beberapa poin di sini yang tidak kuketahui." Hanya tiga poin dihitung dari bawah. "Kalian juga sama-sama aneh!" Ia bisa menyebutkannya satu per satu.

"Kau, kurasa si pembully itu menyendiri karena dia terkenang dengan teman-temannya!"

"Lalu kau," khusu Kaito,ditunjuk, "mungkin mayat-mayatnya sudah tanpa jejak karena penemuan itu sudah lewat dua hari yang lalu!"

"Yah, aku bisa merekam diam-diam kegiatan menyendirinya nanti."

"Jika dia perempuan, seharusnya dia menganggap; gudang itu berhantu atau apalah itu."

Len merasa memiliki kedudukan setara sekarang, berkacak pinggang.

"Tapi kau, kemana gadis itu berkeliling?"

Tubuhnya serasa ingin merosot. "Saat itu aku sibuk mencari bukti-bukti."

Kaito mengerling padanya. "Kau tahu, tidak semua petunjuk-petunjuk harus dipercaya. Pandai-pandailah memaknai sesuatu."

Len ingat pelajaran itu, pengalaman mereka yang berulang kali tertipu oleh angka-angka.

.


.

Len tidak berniat mengikuti kesalahannya. Semua gambar ruangan yang diambilnya untuk membayangkan peran tersangka pilihannya selain tempat yang lebih banyak dipijak kaki. Setiap satu ruangan memiliki dua gambar; jarak jauh dan dekat namun tidak semuanya karena berdasarkan luas ruangan itu sendiri.

Kelas agak diam setelah kesendiriannya memakan pengamatannya didepan kaca kamera, Len baru menyadari bahwa hampir orang-orang di kelas ini menghilang.

Mereka mungkin berkeliaran, itu tidak aneh lagi.

Semua ruangan yang dipotretnya sepi, ia memerankan tentang gadis itu yang berkeliaran dengan khayalnya. Atau kecacatan pada mesin setelah gadis itu datang.

"Len-kun~." Rinto menyergap bahunya, menghentak dan menarik.

"Diamlah."

Jenjang kakinya terlipat tertindih diatas meja. Dan senyuman itu, ia meninggalkan sosok itu menuju gambar-gambar.

"Kamera punya siapa itu? Kenapa yang difoto itu seperti sebuah….."

Ruangan kali ini membosankan dan tak ada menariknya. Kumpulan es yang dikelompokkan dalam plastik sebesar perut dan masing kotak menampung beberapa bungkusan.

"Apa bagusnya es-es itu?"

Persegi termometer yang tertempel di dinding – gambarnya – diambil tanpa tahu maksud, memang sama-sama tidak menarik. Gambar diperdekat, pada angka derajat dan berdirinya benda kotak itu.

"Kau ini aneh." Rinto baru dapat ditelisik setelah muncul dipinggirnya. Mengambil kursi kosong didepannya.

"Terserah kau."

"Dan membosankan."

Gambar yang diperdekat berhenti digoyangkan ibu jari. "Kalau begitu, pergilah."

Rinto tidak akan bisa sepakat dengan kesendiriannya. "Kau bisa dinilai buruk oleh teman-temanmu." Selesu kucing yang memelas.

Derajat gudang es adalah -50, seperti yang pernah dipelajarinya dulu, dalam soal cerita – matematika dan asumsi gurunya. Pengaruhnya pada kekuatan es tetap membeku, lalu kenapa bisa dinaikkan diatas nol derajat dari yang seharusnya?

Ada coretan kecil oleh spidol, merenggang pada garis dua huruf yang melekat berlanjut menjadi satu pada cangkang termometer.

Kamera perak sedatar permukaan meja karena Rinto menekan pinggiran teratas.

"Wah, apaan itu? Bom, ya."

"Ini termometer." Tusukan mata sedingin es untuk komentar tak berisi mengenai termometer, Rinto bermain-main.

Memijat dua pinggiran kamera, tempat ini akan ditandainya sementara, setelah beberapa ruangan mayoritas para karyawan bekerja di sana.

Siku pada lekukan tangan untuk tumpuan dagunya. "Selain penyanyi lokal, kau punya pekerjaan lain lagi, ya."

Len mengamatinya sebagai pengusik. "Entahlah."

"Foto-foto itu seperti di tempat pengolahan. Itu pekerjaan sampingan juga?"

"Bukan." Sampai kapanpun, semua orang tidak boleh mengetahui dua pekerjaan sekaligus. Sekarang nampaknya agak tercemar.

.


.

Biasanya istirahat adalah jam yang menyenangkan ketika kau bisa dengan seenaknya merangkai lirik lagu pada instrument yang telah tersusun.

Rinto menghelanya berjalan seperti yang lainnya, tapi ia merasa – ini tidak lebih dari acara memamerkan diri, "temanku seorang penyanyi, kita mirip, 'kan?" seperti dua minggu yang lalu.

"Kita akan mencari makan?"

"Begitulah, kita coba menu lain."

Sesuatu yang samar dalam benaknya, disepanjang gang lebar melewati berulang kali pintu-pintu kelas yang terbuka, hanyalah aroma renyah kulit roti dan bagaimana meja-meja bundar menetap secara abstrak.

Pemandangan lain yang dilingkup gang ini, yang terjadi pada orang-orang, salah satunya telah merusak langkahnya.

Gadis bersurai merah berlari bahagia pada kedua temannya.

"Kau tahu siapa gadis itu?"

"Yang rambut merah itu?"

Mengangguk.

"Itu Miki, teman sekelas kita. Masa' kau tidak tahu?" Len tidak perlu menebak raut meremehkan itu, gadis itu sejalur dengannya, menjauh ke depan.

"Gadis itu seperti yang kemarin berkeliling di pabrik."

"Hah, berkeliling di pabrik?"

"Eh?"

Rinto mencurigainya, tidak lebih seperti beberapa jam sebelumnya.

"Jangan membuang waktu."

"Tunggu, Len-kun!"

.


.

Orang-orang bercampur aduk dalam keluasan lapangan, Len mencari tujuan diantara mereka. Gadis berambut merah itu berulang kali terhalangi beberapa yang berjalan, ia menyeruak.

Hampir, tas punggung yang sejenis dengan yang lainnya berhenti tepat didepannya. Surai itu bergilir lincah seperti energi dalam tubuhnya, tapi Len bisa membuatnya berhenti.

Dia menoleh dan Len menarik tangannya dari pundak berlapis strap tas.

"Aku Kagamine Len, ingin menanyakan banyak hal padamu dan pulang bersamamu."

Jawaban mimik sama seperti rasa tak sedap hati Len, dia merenyahkannya dengan tawa singkat. "Kita ini sekelas, lho! Dasar penghafal lirik lagu!"

Seolah kekosongan disampingnya, Len tidak ragu memulai jejak.

"Salah satu lagumu termasuk daftar yang sering kuulang." Tersenyum percaya diri. "Lagu pertemanan palsu memang mirip dengan hidupku!"

Miki menjelaskan bagian dalam lirik menurut yang ditangkapnya, itu hampir mendekati, tapi ia menolak jika pertemanan yang dimaksud dalam lagu itu artinya tidak memiliki teman satu pun.

"Oh ya, mengenai tujuanku sebenarnya." Suaranya bercampur dengan roda-roda yang menggilas aspal. "Pabrik milik ayahmu sedang terjadi kasus semacam pembantaian."

Merenung untuk beberapa detik. "Aku juga tahu, rasanya miris mendengarnya. Beberapa pekerja mengundurkan diri."

Len mengangguk, jumlah mereka dalam bayangnya – padahal – mampu memadati ruangan.

Agak menengadah. "Tahu darimana?"

"Aku datang ke sana. Ayahmu yang menceritakannya."

Siswa yang sejalur terpisah hanya tiga, pada gang diantara rumah. Jalur ini menghubungkan rumahnya dan pabrik di cabang lain.

"Dia bilang itu pembunuhan beruntun – meski sudah kubilang; motifnya berbeda - . Tempo antara korban dan pekerja lain hanya dua hari. Pelakunya pasti tidak jauh dari kawasan pabrik." Len terlihat seolah bekerja sama dengan perempuan yang diteliti dari seluk beluk gerakan tubuhnya.

"Berita semacam itu memang sudah tersebar, sih. Tapi tidak pernah masuk televisi." Kaki dipermainkan, melompat-lompat dalam gaya berjalannya, mengulum melodi asing garapan orang lain.

"Apa gudang es menjadi tempat yang menakutkan?"

"Kulihat orang-orang masih mengunjungi itu. Mungkin karena sebuah paksaan."

"Apa kau merasakan perubahan nyata dari pabrik yang biasanya berjalan normal?"

"Ya, itu karena banyak diantara mereka yang mengalami peralihan tugas." Langkah bersenang-senang itu dihentikan.

Len gagal menemukan keganjilan, melirik sekilas lalu kembali ke depan. "Korbannya sudah mencapai enam. Apa para polisi juga bekerja mengatasinya?"

Mengurung dagu diantara telunjuk dan ibu jari. "Aku pernah melihat sekelompok berseragam itu memasuki pabrik."

Ada pertigaan, sebentar lagi.

"Para polisi memang membantu tapi berwaspadalah, mungkin pembunuh itu masih berkeliaran dalam pabrik." Senyuman kepercayaan yang tidak beresonansi dengan keadaan Len.

Seperti kau, ejeknya dalam batin.

"Kau sendiri pernah ke sana, 'kan? Aku melihatmu berkeliling, kau sedang membantu mereka, ya."

Miki menonjolkan dirinya – menyerong sembari meraih pinggang untuk menunjukkan dirinya. "Aku menggantikan posisi ayahku, waktu itu."

"Ah, ya…." Ia runtuh dengan keraguannya yang lain; pelaku yang dicapnya hanya gadis biasa yang berenergi. Tapi kegiatan berkeliling memantau orang-orang dengan tangan kosong akan ditelusurinya.

"Kemarin di pabrik aku juga melihatmu, kau mau apa ke sana?"

"Hanya diajak kedua temanku."

Menemui pertigaan, gadis itu melalui secara horizontal didepannya dan melambaikan tangan.

"Kukira pabrik lurus ke depan seperti rumahku."

Dia menuju ke kanan. "Aku juga ingin pulang ke rumah. Terima kasih telah mengajakku pulang bersama, berdua dengan artis."

.


.

Len mengkhawatirkan Nekocchi yang berpijak diatas bungkus es, tanpa mengenakan pelindung dari dingin. Kucing itu sudah disingkirkan keluar namun muncul dengan cara yang tak diketahuinya. Gudang es bisa membuatnya mati.

Kenyataannya, dia bisa melompat ke sana ke mari seperti saat merintangi urutan batu-batu hias dipinggir jalanan taman.

Kulit berwarna perak yang dicoret itu. Mungkin semacam spidol runcing yang membentuk karakter huruf, kaca pembesar menebali tapi sialnya, alat tulis tidak pada daftar perlengkapan dalam tasnya.

Angka suhu kembali ke bawah nol derajat; negatif dua derajat. Ia perlu belajar; bagaimana termometer ruangan ini bekerja. Seperti suhu yang mengubah ruangan, tidak sebaliknya.

Ia ingin memasukkan angka-angka tak jelas itu sebagai awal penemuannya – penemuan-penemuan kecil yang waktu itu sudah dirobeknya - . Bibitnya langsung dalam gudang es.

Nekocchi tahu semua yang terjadi itu, Len tidak mau diremehkan bersamaan kegiatan dua temannya, berleha-leha dibalik kedai.

Cakarnya mengelupas bungkusan sepanjang ia menginjaknya, sayatan-sayatan tidak memanjang. Sebungkus es dipuncak – di depan matanya tadi direnggut. Kumpulan es setengah kakinya muntah dengan teguran Len – dia masih berurusan dengan termometer.

Nekocchi beruntung Len tidak bereaksi apapun, bahkan ketika bebatuan es masih melanjutkan gravitasinya. Ia tidak mau meramal kejadian yang akan datang, setelah mereka keluar dari sini.

Seperti ada angin deras dibalik punggungnya, berbalik untuk tahu. Semacam sayatan dingin menembus meresap bulu-bulu tipis, mengerjap.

Ada bahan lain yang terselip, setipis plastik yang berlapis-lapis. Benda itu tidak berkibar seperti bulu-bulunya. Cakar menyoleknya.

Benda itu agak keras akibat pengaruh suhu.

Len kehabisan pemikiran menghubungkan tulisan yang sudah terbaca itu ke dalam derajat hari ini. Menghubungkan dengan derajat yang diketahuinya (-50), mengandalkan kepala saja, itu tidak mudah.

Di belakang tungkai kakinya, sesuatu yang berwarna putih sekusut pakaian tercebur ke dalam kolam salju.

.


.

Ia tahu, usahanya begitu dangkal dibandingkan jangka waktunya.

Kaito merenyahkannya seperti memakan keripik kentang, tawa itu meruntuhkan harga diri Len. Apalagi kejujuran tentang yang pertama kali yang mencabutnya, itu tidak akan lebih dari kalimat sewaktu Nekocchi menggigit gulungan kertas di laci. 'Kau percaya pada hewan? Dasar, majikan gila!'

Hewan adalah makhluk yang tak berakal, seperti yang ditujukan semua orang, ia dan semua orang percaya itu. Len sudah menjelaskan dengan tangannya yang bergerak-gerak di udara; betapa tidak masuk akalnya sebuah kertas – sekalipun itu aib – diselipkan begitu saja pada himpitan bungkusan es. Di lapangan luas di muka kedai, dia masih tidak berhenti.

"Hei, kau harus tahu derajat yang seperti ini." Kertas dipangkuannya ditunjuk berkali-kali.

"Itu sudah kupelajari minggu-minggu kemarin!"

Mengamatinya, seperti orang yang baru pertama kali mengetahuinya. "Segitiga dan derajatnya ini…."

Kebanggaannya muncul dari dagu yang terangkat. "Makanya, sekolah itu harus serius, jadilah murid yang pintar…."

Kertas dingin seenaknya menimpa kepalanya. "Aku sudah tidak sekolah, kau yang harus menjadi pintar."

"Yah, kau tidak usah memerintahkan itu…." Satu kelompok poni diperbaiki.

Nekocchi menghilang di tanah ketika kepalanya reflek tertunduk. Menerawang pada sekitar.

"Kau juga pintar menerjemahkan bahasa hewan."

Perhatian teralihkan, "Aku tidak begitu! Itu semacam kau paham kelakuan yang diberikannya – kurasa detektif harus bisa melakukan itu - , seolah kau berbicara dengan orang bisu!"

Kertas dikembalikan, dia tetap menyeringai.

"Jadi, kau mau memasukkan sampah itu sebagai bukti?"

"Ini bukan sampah!" Mempererat pinggirannya untuk efek ketegasan.

"Yah, lumayan untuk sekedar menutup aib…"

"Kau tidak berhak mengaturnya! Urusi saja orang yang kaucurigai!" Len mengambil kekosongan dipinggir Kaito untuk pergi. Ia tidak berniat menceritakan sesuatu tentang kegiatannya sendirian di pabrik itu. Dia hanya tiba-tiba muncul lalu bertanya beberapa hal setelah kepulangannya ke sini.

Tawa itu bergaung dibelakangnya, menyeru kalimat-kalimat berbeda dan ia menumbuk salah satunya, "Sebenarnya siapa yang bodoh? Itu kau."

"Hahaha…."

.


.

"Tanda ini menunjukkan; tidak boleh lebih dari derajat yang memenuhi. Kita akan mencoba angka dua." Ia cukup dengan memahami satu kali contoh, hasil derajat yang kurang dari 3600 dan tidak memedulikan hasil kebalikannya.

"Hasil 765 ini tidak memenuhi. Jadi, himpunan yang dihasilkan hanyalah 450 dan 1350."

Juga cukup untuk menulis satu contoh, meski dalam berbagai pengalaman – buku orang lain menjadi panutannya sementara ketika mengerjakan soal.

Ia baru menyadari cengkeraman yang masih dikirinya, kertas yang dikatai sampah adalah hasil ulangan Miki dua minggu yang lalu tentang bab awal trigonometri.

Padahal tidak ada yang buruk dari segitiga siku-siku. Kau hanya dituntut mengetahui Sin atau Cos secara kedudukannya sekitar tubuh segitiga. Lalu di sana, pecahan digunakan dengan bumbu rumus phytagoras itu sendiri.

Nilai tiga puluh ini gagal memahami rumus – dalam bentuk pecahan khusus. Len mendapat delapan, itu masih membuatnya kurang.

Banyak bekas coretan dari tinta pulpen di setiap ruang kosongnya, kalau begitu ini benar-benar menjadi sampah.

Kertas mulai berani diletakkan di meja, papan tulis bertahap menyuguhkan latihan soal untuk sekemas materi selintas tadi.

Rasanya membosankan jika saling mencocokkan alur hitungan dengan soal-soal, barangkali ini coretan diluar pengerjaan soal. Coretan ini dilukis setelah dia mendapatkan nilainya, namun menyisipkan Sin yang kemudian bisa berbaur melalui garis panah pada badan hitungan. Ada beberapa yang dilingkari, tidak selalu hasil akhir yang dilingkar.

Len mengenang kertas ini berasal, barangkali Miki menghitung sesuatu di sana. Juga termometer itu, salah satu pusat matematika selain menghitung banyaknya kotak es – ia rasa itu tidak tercantum dalam coretan-coretan ini -. Ini khayalan yang mudah baginya.

.


.

Len mengganti pendapat nama jenis goresan kecil yang baru ditelisiknya persis seperti dalam kertas. Tintanya berasal dari pulpen khusus menggambar, seperti yang pertama kali diketahuinya dari seseorang yang menyontek jalanan untuk komik di kursi pinggir jalan beberapa hari yang lalu. Petunjuk utama sudah tampak; di gudang ini dia menghitung sesuatu dari termometer dan menancapkan jawaban.

Nekocchi tanpa jadwal, tak sengaja selalu ikut serta dan – lagi-lagi – khawatir dengan segala aksinya diluar bungkusan es.

Apalagi jika mengetahui bahwa angka yang tampil dibalik layar termometer sudah berubah lagi ditambah tiga kali dari hasil negatif.

Kembali pada hasil yang dilingkari pada coretan untuk angka lima, tujuh dan sebelas. Ada sebuah kenyataan menarik, angka tiga puluh mewakili semua yang dilingkari menghubungkannya dengan sebuah garis menuju angka tiga puluh; cap nilai yang diberikan guru.

Memberi perhatian lagi pada Nekocchi, lalu kembali setelah keanehannya tidak tampak lagi.

Kaca pembesar dari saku jaket untuk mengetahui keterkaitan coretan termometer dengan angka-angka khusus jika Miki memang menghitungnya di sini.

Angka pertama memiliki angka nol dibelakangnya dan angka paling ujung begitu mudah diketahui. Kemarin tidak semudah ini; mengolah maknanya tanpa bahan apapun.

Sekarang semuanya sudah jelas. Angka-angka yang dijalurkan dikemas istimewa pada kulit termometer.

30 : 5 – 7 – 11

Len mencatat asal-muasal kode, semua yang diketahuinya nyaris dibentuk narasi. Menimpali dengan tinta yang meluas menjadi warna pada nama Nekocchi seandainya dua orang itu membaca tulisannya. Dan penjelasan untuk suhu yang berubah-ubah.

Trigonometri dan ukur suhu tidaklah sama. Apa yang membuat coretan pada termometer berasal dari hitungan trigonometri?

Melipat buku catatan, mengaplikasikan semuanya ke tempat untuk upaya melarikan diri dari ketegangan dingin dan mengingat Nekocchi yang bisa mati kedinginan di sini.

Ia akan menunjukkan diri dengan beberapa fakta lagi.

.


.

Ketika tembok memiliki ruang terbuka yang berhasil menerpakan banyak cahaya padanya, Kaito berdiri di tengah para pekerja berlalu lalang.

Dipangkuannya, buku catatan seperti miliknya, terbuka tanpa diurus karena kesibukan wajah mengamati para pekerja.

Len ingin tahu bagaimana cara orang itu mengerjakan tugasnya, kalimat-kalimat yang diisi dalam buku itu, atau cara orang yang tinggi usia dari dirinya – terkadang usia menjadi sesuatu yang diakuinya memiliki banyak wawasan – memiliki corak baru yang mampu ditirunya.

Matanya yang mengekor selalu mengarah pada perempuan, itu baru saja mengingatkannya pada jenis sosok yang dicurigai Kaito. Ia tidak tahu seperti apa gambarannya, dia menghentikan perempuan berambut pirang tergerai yang menarik kotak-kotak es tersusun dalam kerangka besi berupa bagian yang menyandar lalu alas dan empat roda kecil dibawahnya.

Kaito memeriksa barang bawaan seperti polisi menghitung jumlah barang curian. Dia mencatat sesuatu, mengatakan sesuatu yang teraduk-aduk oleh derap langkah dan roda pengangkut kian kemari seperti yang dibawa perempuan itu.

"Apa es-nya tidak tercampur darah?"

"Aku tidak tahu; darah apa?"

"Tidak ada. Kaulanjutkan saja perjalananmu." Ditunjuk pulpen pada arah yang lurus dengan perempuan itu.

Ia sedikit kecewa ketika sayup-sayup yang didengarnya hanya potongan itu saja. Lambat laun Kaito mengarah ke sini sekalipun yang diperhatikannya masih tentang orang yang berbincang dengannya tadi.

Len melesat menuju arah selanjutnya secepat mungkin.

.


.

Perkumpulan ditempat yang sama seperti waktu itu, bisa menjadi yang terakhir karena semua catatan dan orang-orang yang dianggap masing-masing merupakan pelaku ditunjukkan di sini, semuanya akan tumpah di sini. Ia kurang nyaman karena diantara mereka yang dibawa sama-sama menunjukkan ekspresi yang tidak menyenangkan.

"Kukira kalian hanya kunjungan tamu yang ingin tahu." Perempuan berambut pirang melipat lengan.

"Aku bisa melaporkan orang-orang seperti kalian karena telah menggantikan tugas polisi." Orang yang dibawa Gakupo, bertampang kacau dan berpenampilan khas pembully, surai hitam acak-acakan. Ia terpancing untuk mengelak, ungkapan Miki selanjutnya membatalkan raut tegangnya.

"Len." Dingin dan menusuk. "Tidak kusangka."

"Terakhir kali aku melihatnya, dia mengubur sesuatu di halaman belakang pabrik ini, tempat yang dijadikannya untuk menyendiri..."

"Apa?! Jangan macam-macam kau, ya! Memangnya kau tahu apa yang kukubur?" Lelaki itu menunjuk-nunjuk, perempuan pirang mencoba menenangkan dengan kata-katanya.

Miki masih memandangnya kecewa.

"Kurasa dari baunya saja sudah dapat ditebak." Gakupo menutup buku dengan satu tangan.

"Memangnya kau pikir bau bangkai manusia dengan hewan itu sama, ya?"

"Polisi saja tidak mengira gundukan itu kuburan." Perempuan pirang mendukung. "Seharusnya kau mencari tahu lebih dalam lagi."

"Berarti polisi itu bodoh."

"Kau yang bodoh!"

"Ya, ya, cuma aku yang menuduhmu." Ujung pulpen memukul-mukul dahi berponi si pemuda bersurai hitam. "Nanti kau tinggal mengaku saja."

"Aku bisa membongkar kembali gundukan yang kausebut kuburan itu!"

Kaito berjalan menjadi berada di tengah lingkar yang tak sempurna mereka. "Selanjutnya kau, Lily. Aku bingung selama pekerjaanmu menjadi petugas antar jemput es. Apa kau benar-benar tidak pernah melihat mayatnya?"

Berkacak pinggang. "Hei, mengambil es tentu saja dari depan dulu jadi tidak tahu apa-apa tentang mayat! Atau bisa saja dibawa sebelum aku tahu! Gunakan logikamu!"

"Kau pasti pernah membicarakannya dengan orang-orang di sini, 'kan?"

"Ya, tapi aku benar-benar tidak pernah menemukannya."

"Soal darah yang mengalir?"

"Belum pernah!"

Mereka seperti hanya berbicara berdua. Len merasa mereka kurang beruntung kali ini. Kekurangan bahan, ia berharap penemuannya tidak sebatas pandang seperti mereka.

"Aku tidak mengerti; kenapa hanya kau yang berani masuk ke gudang es?"

"Memangnya kenapa? Mereka yang pengecut menghambat pekerjaan."

"Kalian itu orang-orang macam apa, sih." Pemuda yang berandalan memandangnya terakhir, hanya sekilas. Len tidak begitu terkesiap, tapi itu membuatnya bergegas untuk mengatakan remah-remah penemuan miliknya.

Meski dua orang dengan masing pelaku yang mereka tunjuk berdebat, membiarkannya.

Miki memerhatikannya dan ia menyolek-nyolek cepat sudut buku.

"Beberapa hari yang lalu aku menemukan kertas ulanganmu. Kode yang kaubuat di sana persis seperti kode di termometer. Aku masih belum menemukan maksudnya, tapi aku mencurigai kegiatanmu terhadap termometer itu." Kertas ulangan diberikan, petunjuk yang berupa lingkaran ditunjuk berurutan hingga akhir, angka terbesar yang menjadi nilai.

Direbut kasar, masih menantangnya tajam. "Tega sekali kau menuduhku, aku hanya mempelajari suhu."

"Apa hubungannya dengan trigonometri?"

"Mungkin terlihat seperti begitu, ya." Kertas dilipat-lipat. "Angka-angka memang tampak setara jika saling bercampur."

Secara penggalian kalimat, pertanyaan miliknya disingkirkan. Selanjutnya dia seolah hendak mengadili mereka yang sedang ribut, menjadi satu-satunya yang bertubuh kecil di sana.

Masih ada yang belum selesai baginya, mencari dengan telunjuknya tulisan yang sebelumnya, yang sengaja tidak disebutkan untuk meringkas. Ini hanyalah soal tinta yang dipakai, proses kode itu terbentuk yang akarnya – sebenarnya – berasal dari kertas ulangan itu.

"Aku bisa menunjukkan..."

"Lily benar, aku juga kurang tahu soal mayat." Dia kembali mengarah padanya. Dan yang lainnya hanya sekali pandang saja karena pemuda surai hitam itu tidak mau berhenti begitu saja. "Itu tujuanmu menuduhku, 'kan?"

Perempuan pirang ikut menyetorkan wajahnya. "Kau dan orang yang bernama Kaito terpaku pada gudang itu."

"Aku tidak berpikir begitu." Rantaian yang disalinnya dari coretan ulangan dibeberkan disamping wajahnya. "Perubahan suhu yang lebih kucurigai. Itu mengubah kepadatan es."

Mereka mengambil alih menjadi berbicara padanya, berhadapan dengannya.

"Memang, aku tidak paham soal itu. Jadi menurutmu, orang yang mengubah suhu adalah pelakunya?" Liliy menumbuk tagihan jawaban dari matanya, ia sekejap mencoba menghubungkannya dengan mayat-mayat dibelakang susunan kotak es yang bahkan belum pernah sekalipun dilihatnya.

"Aku mempelajari suhu tapi tidak mengubahnya."

Baginya, Miki yang berkeliling tanpa membawa apapun dan keambiguan kertas ulangan bukan barang sepele tanpa maksud. Setelah kode itu, semuanya tampak perlu diselesaikan.

"Kalau begitu, apa alasanmu menulis angka-angka pada termometer itu?"

"Menurutmu itu aku?"

Memutar bola mata. "Tulisannya sama."

Sisi membisu dari gadis surai merah itu, tanpa dibantu oleh pekerja didekatnya. Ini belum menjadi kemenangan bila dia masih mempertahankan sorotan mata itu, tusukan yang masih menyala oleh pendapatnya. Jika coretan itu hanya permainan atau sekedar coretan tanpa sadar, ia tidak akan memercayai angan itu. Gudang es bukan tempat bersembunyi, tekanan suhunya bisa membunuhmu.

"Hei, menurutmu," menengadah, Lily meresponnya, "bagaimana karakter gadis disampingmu?"

"Kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal semacam itu? Kau benar-benar mencurigaiku?"

"Memangnya salah kalau aku tahu?"

"Sangat salah! Kau harus mendapatkannya setelah berteman denganku!"

"Oh ya, selanjutnya, Len! Kita belum mendengarnya." Gakupo membiarkan mulut pemuda bersurai hitam merangkai kata yang lambat laun berhenti setelah mata yang dijejali rasa muak bertemu dengan mata Len.

"Ah, rasanya aku bosan mendengarnya." Miki ke arah kiri, membiarkan ruang yang leluasa dengan udaranya menyesap dalam tubuh Len, bersama semua teka-teki yang berbelit.

"Beri aku waktu untuk menerjemahkan semua yang kutulis."

.


.

Seharusnya mereka tahu; perubahan dalam menjaga es tidak mungkin berubah-ubah, tapi ia terlanjur di cap lebih mengurus es; sangat jauh dengan permasalahan orang-orang mati.

Berjongkok ditepi teras belakang, seperempat ambang pintu dengan Nekocchi dekat mata kaki kanan. Padahal mereka memiliki sisi kegagalan, diantaranya tak mencapai puncak; siapa pelaku sebenarnya. Para pelaku yang tertuduh membual dengan jutaan alasan.

Len merasa semuanya lepas begitu saja, berangsur merendah tidak menyukai hasil pencariannya sendiri, menjadi sampah ditempat penyimpanannya seperti kumpulan plastik yang tak berharga di sana – ia menoleh dan memerhatikannya, tidak begitu lama.

Trigonometri, derajat segitiganya, derajat Celcius garapan sekolah dasar yang digalinya lagi, perjuangan itu tidak akan ada harganya dan kekosongan buku catatan akan memperburuk reputasi.

Ia bingung; seharusnya tidak begitu buruk seperti saat masalah yang sama pernah ditanganinya. Tapi ia dan yang lainnya mendapat hasil otopsi, semua keterkaitan dengan korban masih bisa dihubungi. Ia bahkan tidak tahu; untuk apa setiap dari mereka mencari sendiri petunjuknya. Dagu sudah agak lama diam di tempurung lutut.

Miki lebih tidak disukainya ketika bertukar logika, dia terbantu oleh beberapa pemikiran yang datang dari Lily dan pemuda berambut hitam itu, selalu mengiyakan pendapat mereka. Apa yang ditulisnya kekurangan untuk beradu, dan selalu beralih mendengar mereka bergantian.

Seharusnya otaknya tidak begitu kosong ketika dimintai jawaban setelahnya. Ia mengutuk dirinya, hamparan tanah adalah tontonannya.

Sepatu seseorang dengan tungkainya dua kali menginjak tanah, auranya melambai pada lingkup ruang jongkoknya.

Diam-diam, lirikannya mengekor sebatas ambang ruangan tanpa melihat sosoknya.

.


.

Len tidak peduli pada bayangan sepatu yang menginjak tanah tadi, jejak itu bukan incarannya. Kotak kamera bekas terakhir kali memotret keindahan sore menggantung di depan diafragma, menunduk baru menyadarinya. Sesuatu yang mengikuti di belakang kakinya, Nekocchi, tanpa suara seperti biasanya.

Ini jalur penghantar menuju gudang es yang berisik oleh bongkahan es di dalam sana, pintu tidak begitu rapat tertutup. Langkah pelan untuk tahu, barangkali hanya seorang pekerja yang mengangkut atau memindahan es, tapi segi suaranya seolah bukan begitu. Yang ini seperti memporak-porandakan, lalu bunyi siraman air dan terakhir untuk remahan esnya. Ia mengalami keraguan.

Darah anyir berhembus tepat pada wajahnya. Aku menemukan pembunuhnya.

Jika pembunuhan baru terjadi lagi, maka orang yang mengurus sesuatu didalam tidak bisa dikatakan sebagai penyelamat karena tingkah yang seharusnya berbeda dengan pola suaranya.

Pintu lambat laun didorong, seketika itu lantai permulaan tergenang air bercampur darah yang tak lebih dari setengah sepatunya. Susunan kotak es mengalami masalah besar. Mencair, itu terlihat dari ceceran air dari sebagian kotak dan perbedaan drastis pada udara. Seseorang berjongkok menumpangi puncak kotak es, mengairi sesuatu dengan ember besi.

"Ketahuan."

Dia berpaling kearahnya setelah sisa air terakhir tumpah, terbelalak. Gadis yang sudah terlalu banyak membantah dan merangkai kata, tidak memakai jaket seperti dirinya.

"Ini tidak seperti yang kaulihat!"

"Ada pisau yang bertengger dipinggangmu." Ditunjuk, dia meraba sendiri pinggangnya, pisau berpelindung itu sudah tercapai.

Len ingin mengabadikannya, juga informasi yang tidak akan dipertentangkan lagi. Miki tidak melakukan tindakannya – menumpahkan air pada sesuatu yang diberi ruang di belakang susunan kotak es – lagi, seperti yang terbaca dalam rekaman kameranya.

"Terlambat untuk menyergap, ya."

"Aku tidak peduli." Setengah membuang muka. "Kau akan tahu akibatnya."

Selangkah mendekat. "Mengenai trigonometri dan suhu." Pegangannya sudah seperti perlakuan pada handycam. "Keduanya memiliki kesamaan; derajat, jadi kurasa itu yang membuatmu menggabungkannya dengan termometer."

"Lalu, bagaimana dengan 30 : 5 – 7 – 11?"

"Angka tiga puluh; waktu itu kaubilang benci pelajaran matematika karena nilaimu itu! Dan kau mengabadikannya di sana dengan rentetan anehnya!"

"Hah, bilang saja kalau kau tidak tahu."

Seringaian dan nada yang sama ketika berkumpul kemarin itu tidak aneh. Respon lain yang seharusnya muncul adalah merebut kamera. Apa ini tanda dia menyerah?

"Tiga angka di belakang tiga puluh itu berasal dari hasil pembagian dengan angka-angka yang nilai pecahan ketiga dipinggir segitiganya sama. Karena derajat yang sebenarnya terlalu tinggi, terkadang aku menggunakan ketiga angka kecil itu."

Len harus mendengarkannya lagi dari awal tapi sudah tidak peduli lagi.

"Jadi kode yang kutemukan itu berkaitan dengan mayat, ya." Untuk sebuah kebenaran bahwa ia yang menang dan kalimat itu harus terekam dengan jelas. "Apa tujuanmu membunuh mereka?" Sebelum tindakan yang diseberang berlanjut menghentikan semua kebekuan yang dialami.

"Eksperimen pembekuan jasad untuk pengakuan sisi kepandaian." Dia menuruni kotak-kotak itu dengan kaki telanjangnya. "Aku memiliki kebencian tak beralasan pada orang-orang itu. Menurutmu aku salah?"

"Tentu saja." Secara langsung, tanpa pemikiran. "Kau tidak punya alasan kuat. Selain itu, penemu diluar sana sudah menemukan caramu lebih dulu."

"Sayang sekali, aku masih merasa benci pada seseorang."

"Sekarang sudah terlambat." Ia mendekat untuk menangkap pelaku secara halus.

Uluran tidak diterima, gadis itu seperti tersipu. "Sebelum aku di penjara, boleh aku mengatakan sesuatu?"

"Apa itu?"

"Orang yang terakhir ini kubenci..." Tangan kanan yang disembunyikan memiliki energi tambahan yang mampu diamati. "Itu kau, penyanyi lokal!"

Ujung pisau yang mengilat diarahkan tinggi. Len bereaksi berbalik, mencoba lari dalam genangan. Benda tajam tidak bisa menjadi perlawanannya.

"Bergabunglah bersama kami!" Lalu terkekeh di tengah air yang berkecipak di bawah mereka.

Lantai licin merobohkan tubuhnya. "Gyaaaa..." Genangan yang berombak dan abu anyir yang lebih terasa meski telah bercampur, tampilan depan tubuhnya terjebak dalam sakit menjalar karena benturan dan dingin es menyesap berbeda jauh dengan udara yang sudah lama merayap di wajahnya. Kamera dielakkan dari air.

"Kau sudah melakukan kesalahan!"

Ia lebih banyak bergerak dan bangkit dengan jaket yang lebih terisi.

"Inilah akibatnya!"

"Aww!"

Lengannya tersayat menembus jaket, Miki hendak terjatuh setelah melakukannya. Tawa yang berkembang seiring tubuh merunduk tegak kembali. Ia kesulitan melangkah oleh beban tambahan – sayatan yang ditahannya dengan cengkeraman, mengayuh lambat di tengah gelombang yang menganjur keluar pintu. Papan itu hampir tercapai.

"Kau tidak akan bisa lari!" Kaki kanan ditahan, diarahkan pisau runcing itu lagi. Ia mengibasnya seperti menyingkirkan sesuatu yang menempel pada sepatunya. Semuanya selesai dengan tubuh yang lebih dulu keluar, hadir di ruangan lain. Lengan yang terluka bergerak dengan tumpuan tungkai besi pintu, menariknya dibantu dengan tangan yang lain.

"Kukutuk kau!" Tendangan berulang kali pada pintu.

Len meraup banyak udara sekitarnya, jaket berairnya menempel pada pintu. Air campuran itu masih mampu membanjiri sepatunya, tapi itu tidak lebih daripada darah orang lain tercium pada jaketnya.

Ada campuran antara lumuran darah orang lain dan luka pada lengannya.

Matanya tidak bisa tidak terbuka lebar – bahkan masih seperti itu daritadi -, bahkan untuk menoleh pada Nekocchi yang mengeong padanya.

Kamera memang terciprat air, tapi memori didalamnya masih bisa diputar

.


.

.

.

TBC

Jadwalku gagal dijalankan lagi :'), tapi aku senang cerita yang ini selesai. Gw kurang paham soal termometer – sumpah, tapi ya, ada pengatur udara dingin yang keluarnya dari sebuah kotak yang garis-garis gitu dan gw meragukan soal termometer yang bisa diotak-atik. Maaf jika gw begitu payah dalam menyampaikan materi.

.


.

Omake

.

Kamera perak itu sudah tersampaikan pada Kaito, Gakupo dan si pemilik pabrik, bersama menyaksikan di tengah absen sang pemilik kamera.

Video itu terlampau amatir dari gaya merekam yang lebih banyak menampilkan gadis berambut merah berbicara.

"Sulit kupercaya, dia..." Sang pemilik pabrik tergagap untuk mundur.

Len, mengisi panggung di tempat terbuka untuk malam ini.

"Videonya tidak teratur, dia berlari."

"Tawanya mengerikan."

"Yah, terkadang kita tidak bisa meremehkan penemuan anak ini."

.