Bagian 4
Ketika Hati Berdesir
" Apa? Kau mengundurkan diri dari jabatanmu sebagai Wakil Ketua OSIS?" tanya Nona Tsunade.
Hinata mengangguk pelan.
" Kenapa kau sampai memutuskan berhenti?"
" Tidak ada apa-apa, Nona Tsunade. Saat ini tugas saya dari klan Hyuuga semakin banyak. Saya harus menanggalkan satu dari kedua pekerjaan itu." Kata Hinata.
Nona Tsunade diam.
Hening.
" Lalu menurutmu siapa yang pantas menggantikanmu?" tanya Nona Tsunade.
" Haruno Sakura." Tegas Hinata.
" Sakura?"
Hinata mengangguk. Nona Tsunade menghela nafas.
" Kau yakin akan keputusan kau?" tanya Nona Tsunade.
Hinata kembali mengangguk.
" Baiklah." Kata Nona Tsunade.
" Arigato gozaimaz." Kata Hinata.
Hinata segera keluar dari ruangan Nona Tsunade selaku kepala sekolah.
" Bagaimana?" tanya Naruto yang sedari tadi telah menunggu Hinata.
Hinata tersenyum, kemudian mengedipkan mata pertanda kalau ia berhasil.
Tiga bulan telah berlalu. Namun, hubungan Naruto dan Hinata semakin erat.
TREEET...
Bel sekolah berbunyi dengan kerasnya. Menandakan kalau sekolah telah dipulangkan. Naruto dan Hinata berjalan beriringan.
" Jadi?" tanya Naruto.
Hinata mengangguk.
Malam ini Hinata bersama Tenten dan Ino, serta Kiba dan Shikamaru akan datang kerumah Naruto. Untuk mengerjakan tugas kelompok. Namun, Hinata akan datang sepulang sekolah. Lebih cepat. Ya. Sesuai permintaan Naruto. Karena orangtua Naruto mendapat tugas ke Nagasaki, maka Naruto meminta Hinata menemaninya. Hinata? Sama sekali tak keberatan.
Naruto segera membuka pintu mobil sport merah miliknya. Hinata duduk disebelah Naruto. Naruto sejenak memandang wajah Hinata. Hinata juga begitu. Seketika hati Naruto berdesir.
" Menurutku, kalian berdua serasi. Iyakan Ino?" celetuk Tenten.
Ino mengangguk setuju.
" Ah, kau ini. Bagaimana hubunganmu dengan Neji?" tanya Naruto.
" Baik. Terlalu baik malah." Kata Tenten menulis jawaban yang didapatnya dari Ino. Ia bertugas sebagai sekretaris.
" Kau sendiri Ino?" tanya Hinata yang duduk disebelah Naruto.
" Baik, hubunganku dengan Sai sangat baik." Kata Ino.
" Kenapa kalian nggak jadian aja sih? Kalian itu udah couple banget tau, nggak." Kata Tenten.
Hinata dan Naruto berpandangan.
" Ya, kenapa. Bahkan seluruh sekolah bilang kalian pasangan paling serasi di KHS." kata Shikamaru.
" Ah, mereka terlalu berlebihan. ngomong-ngomong bagaimana hubunganmu dengan Temari?" tanya Naruto.
" Baik." jawab Shikamaru sekenanya.
Kiba hanya diam.
" Ah, selesai sudah. Besok kita libur lagi." kata Tenten.
" Kami pulang dulu, Naruto. Hinata, mau bareng?" kata Ino seraya berkemas.
" Gomennasai, aku masih ada urusan dengan Naruto." kata Hinata.
" Baiklah, kami pulang dulu." kata Tenten pamit diiringi oleh teman yang lain.
Hinata dan Naruto hanya melambai ke arah mereka. Lalu kembali masuk.
" Jadi, ada apa Hinata?" tanya Naruto.
" Naruto, aku..."
Hinata seketika ambruk. Naruto cukup terkejut. Di gendongnya Hinata menuju kamarnya. Di baringkannya Hinata diatas kasur empuknya.
" Apa yang terjadi dengannya?" batin Naruto.
Wajah gadis Hyuuga tersebut tetap bersinar.
" Tak mungkin aku meninggalkannya." kata Naruto.
Malam semakin matang. Tak mungkin Naruto mengantarkan Hinata kembali ke rumahnya. Di ambilnya handphone Hinata dari saku celana Hinata.
" Ayah, malam ini aku menginap di rumah Ino. Gomen tak memberi tahu sebelumnya."
Naruto meletakkan kembali handphone Hinata diatas meja belajarnya. Malam semakin menusuk.
Naruto duduk diatas sofa didepan televisi miliknya. Menikmati acara malam. Namun,...
" Lepaskan aku, lepaskan aku!" seru Hinata.
Naruto bergegas menuju kamarnya. Hinata mengigau kembali.
" Hinata..." lirih Naruto.
" Tidak!" Hinata langsung terbangun.
Naruto langsung memeluk Hinata.
" Mimpi buruk lagi?"
Hinata mengangguk pelan. Pelan sekali.
" Kamu tidur lagi, ya." Naruto melepas pelukannya.
Tatapan Hinata begitu teduh. Seolah berbicara pada Naruto.
Temani aku, aku takut sekali sungguh.
Naruto hanya bisa berkomunikasi lewat tatapan.
Semua akan baik-baik saja.
Ku mohon, Naruto-kun. Temani aku.
Baiklah.
Hinata tersenyum manis. Ia kembali tidur. Naruto keluar sebentar sekedar mematikan televisi. Kemudian ia beranjak lagi kekamarnya. Melihat Hinata tidur, seketika jantungnya berdebar. Tak pernah ia rasakan sensasi itu. Begitu manis dan dalam. Kantuk kembali memaksa untuk segera terpejam. Naruto segera tidur disebelah Hinata.
Hinata kembali merengkuh Naruto. Seakan kalau itu adalah guling. Naruto hanya diam, lalu tersenyum melihat wajah gadis tersebut. Seketika hati Naruto kembali berdebar. Berdesir merdu sekali. Ia kembali teringat sebuah kalimat.
"Cinta tak perlu ucapan. Tapi cinta memerlukan sebuah pengorbanan. Dan pengorbanan itulah yang membuat cinta bertahan."
Naruto memikirkan kalimat itu. Apa ini yang dimaksud kalimat tersebut? Entahlah. Namun, hati Naruto berdesir sempurna.
Seirama dengan rengkuhan Hinata yang makin erat.
