HEALER
(^_^)
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
And Other
.
ChanBaek (GS)
Romance
Happy Reading :)
"dia terus menyebut nama itu dalam tidurnya.." Sehun menghempaskan tubuhnya di sofa.
"sudah empat tahun lebih sejak kejadian itu dan Chanyeol tidak pernah sekalipun menangis, dia juga tidak pernah seperti ini" Jongdae menatap pintu kamar Chanyeol.
Baekhyun yang tengah berjalan mendekati mereka membuat keempat sahabat Chanyeol itu menatapnya.
"apa Chanyeol hyung masih terus mengigau noona?" Sehun menggeser posisinya agar Baekhyun bisa duduk. Baekhyun hanya mengangguk menjawab pertanyaan Baekhyun.
Suara bel rumah Chanyeol mengalihkan perhatian mereka semua. Jongdae segera bangkit untuk membukakan pintu.
"Chagiya.." Jongdae segera melangkah dan merentangkan kedua tangannya untuk mendekap tubuh perembuan cantik yang tengah tersenyum di depannya itu.
"Bogoshipooo.." ooh betapa laki-laki ini merindukan perempuan yang tak lain adalah kekasihnya itu, mereka memang terpaksa menjalani hubungan jarak jauh selama dua minggu ini karena kekasihnya yang berprofesi sebagai seorang dokter itu harus berada di Busan selama dua minggu.
"maaf karena tidak bisa menjemputmu chagia, prof. Sungmin mengadakan kuis tadi sore, kau baik? Ohh aku benar-benar merindukanmu uri umiin.." Jongdae menangkup wajah sang kekasih, dia terus berceloteh ria mengungkapkan kerinduannya.
"Gwenchana Jongdae-ah.. lagi pula aku tadi di jemput mobil rumah sakit, bagaimana keadaan Chanyeol? Apa yang terjadi pada bocah itu?" Xiumin adalah perempuan dewasa yang sangat lembut dan penyayang. Umurnya yang lebih tua empat tahun dari Jongdae tidak menjadi halangan yang berarti untuk hubungan mereka.
Xiumin telah menyelesaikan pendidikan dokternya satu tahun yang lalu dan sekarang dia telah bekerja di salah satu rumah sakit di Soule.
"entah lah, dia menyebut nama Hyejin noona sejak tadi, badannya sangat panas chagiya"
Dulu Jongdae, Chanyeol dan Hyejin berada di angkatan yang sama saat berada di sekolah tingkat menengah, namun sesungguhnya dia tetap memanggil Hyejin noona karena memang umur Hyejin yang dua tahun lebih tua dari mereka. Hyejin terpaksa harus menunda untuk masuk ke sekolah dasar dulu karena penyakitnya, sehingga dia terlambat dua tahun untuk berada di angkatan yang sesuai dengan umurnya.
"baiklah, biar aku lihat keadaannya" Xiumin adalah sepupu Chanyeol, sudah dijelaskan bukan dari awal bahwa keluarga besar Chanyeol adalah keluarga yang mengabdikan diri di bidang kesehatan.
"ohh noona, bagaimana kabar noona?" Sehun segera bangkit untuk menyapa Xiumin yang baru saja datang. Xiumin tersenyum namun netranya tertuju pada sosok yang asing menurutnya.
"ooh noona.. perkenalkan ini adalah noonaku" Jongin mengetahui raut kebingungan Xiumin sesaat setelah dia mengatakan tentang Baekhyun sebagai noonanya.
"annyeonghaseyo Byun Baekhyun imnida" Baekhyun mengangguk sopan pada Xiumin.
"ooh nde.. aku Xiumin, sepupu Chanyeol" sungguh gadis yang penuh dengan kelembutan, Xiumin menampilkan senyum manisnya pada Baekhyun. Sejujurnya dia masih sangat bertanya-tanya tentang gadis cantik yang ada di hadapannya ini, bukankah Jongin anak tunggal?.
"Ayo chagi kita lihat Chanyeol dulu" Xiumin mengangguk menyetujui. Jongdae segera menggandeng pundang sang kekasih untuk berlalu ke kamar Chanyeol.
"Chagiya, Jongin punya noona?" Xiumin benar-benar penasaran dengan Baekhyun, kenapa dia tidak pernah tau bahwa teman kekasihnya itu memiliki saudara perempuan?.
"ceritanya panjang chagiya, lain waktu aku akan menceritakannya padamu" Jongdae meraih knop pintu kamar Chanyeol dan mereka segera masuk.
"apa ada sesuatu yang terjadi? Sebelumnya Chanyeol tidak pernah seperti ini" Xiumin memeriksa keadaan Chanyeol secara menyeluruh, demamnya mencapai 39 derajat celcius.
"aku tidak tau chagi.. tetapi orang tua Chanyeol bilang dia sudah sakit sejak tiga hari yang lalu, tetapi tidak separah hari ini. Ahjumma dan Ahjussi terpaksa harus kembali ke Amerika tadi siang karena mereka tidak bisa meninggalkan tanggung jawab mereka" Jongdae menatap khawatir temannya yang terbaring lemah itu.
Xiumin terdiam, "apa mungkin ini ada kaitannya dengan perkataan Yoora kemarin?" Xiumin membatin, ingatannya tertuju pada percakapannya dengan Yoora kemarin melalui aplikasi chatting.
"sejujurnya aku lebih senang jika dari dulu Chanyeol menangis dan menumpahkan segala kepedihannya atas kepergian Hyejin noona.. dia sudah sangat tersiksa selama empat tahun ini" Jongdae masih sangat mengingat dengan jelas bagaimana keadaan temannya itu selama empat tahun silam. Chanyeol memang tidak menangisi kepergiam Hyejin, tetapi laki-laki itu benar-benar tersiksa, dia menanmkan prinsip dalam dirinya sendiri bahwa dia harus menunggu kepulangan kekasihnya. Chanyeol tidak pernah bisa menerima kenyataan bahwa Hyejin telah tiada.
"aku sudah menyuntikkan obat penurun deman padanya, lebih baik kita biarkan dia beristirahat" Jongdae mengangguk menyetujui pernyataan Xiumin, mereka melangkah keluar kamar Chanyeol dan bergabung bersama yang lain.
"noona sudah makan malam? Aku memasan ayam untuk kita semua.. kebetulan kami belum ada yang makan malam" Jongin dan yang lain memang belum sempat makan malam, setelah kepulangan mereka dari kampus tadi Jongin langsung ke rumah untuk mandi dan segera pergi kerumah Chanyeo. Begitupun dengan Baekhyun, dia sedang menunggu Jongin untuk makan malam bersama tadi namun ketika Jongin selesai membersihkan diri dia malah langsung bersiap pergi lagi untuk menjenguk Chanyeol.
Tidak berbeda dengan Jongin, Sehun, Jongdae dan Tao juga langsung menuju ke rumah Chanyeol tanpa pulang dulu tadi.
"kebetulan aku juga belum makan malam Jongin-ah" Xiumin mengambil duduk di sebelah Baekhyun, menatap gadis itu karena sejujurnya Xiumin merasa familiar dengan wajah gadis ini.
Baekhyun menatap dengan wajah serupa anak kecil pada Xiumin, dia sedikit tidak nyaman di tatap seperti itu oleh kekasih Jongdae itu.
Xiumin memfokuskan netranya pada layar handphonenya lalu kembali menatap Baekhyun.
"aaahh jadi kau gadis itu? omo.. pilihan bibi memang tidak salah" Xiumin tersenyum riang sambil menangkup wajah Baekhyun.
"maaf Xiumin-ssi.. tetapi aku tidak mengerti.." Baekhyun benar-benar kebingungan sekarang.
"aigoo.. jangan memanggilku seperti itu, panggil aku eonni.. eem?, eonni sangat senang melihatmu Baekhyun, Yoora hanya mengirimkanku fotomu ketika memberitahukan perihal perjodohanmu dengan Chanyeol"
Jongin hampir tersedak ludahnya sendiri mendengar penuturan Xiumin sesaat lalu, dia menoleh ke arah noonanya dengan pandangan penuh tanya.
Respon Jongdae, sehun dan Tao tidak kalah terkejut dari Jongin.. apa mereka tidak salah dengar? Baekhyun dan Chanyeol dijodohkan? Berbeda dengan Jongin yang menatap ke arah Baekhyun, ketiganya malah melempar tatapan tajam pada Jongin.
Tanpa berbicara apapun Jongin segera meraih tangan Baekhyun dan membawa kakaknya itu ke taman belakang rumah Chanyeol.
Jongdae, Sehun dan Tao saling melempar pandangan satu sama lain, kemudian Jongdae segera duduk menghadap Xiumin.
"Chagi apa yang kau maksud dengan perjodohan Chanyeol dan Baekhyun tadi? Maksudmu mereka dijodohkan? Tidak.. maksudku.. bagaimana bisa?" Sehun ikut mendekat ke arah Xiumin yang duduk bersebelahan dengan Tao dan Jongdae ada di depannya.
"kalian tidak tau? Apa Chanyeol tidak memberitahu kalian?" Xiumin juga kebingungan dengan keadaan yang ada, teman-teman Chanyeol tidak tahu? Lalu Jongin.. apakah dia juga tidak mengetahui itu? pikiran Xiumin di penuhi dengan berbagai pertanyaan.
.
"ada yang bisa noona jelaskan?" Jongin mengambil posisi duduk di sebelah Baekhyun, kini mereka sudah duduk di bangku taman belakang rumah Chanyeol.
Baekhyun mengambil nafas dalam kemudian memposisikan badannya untuk menghadap Jongin.
"maafkan noona Jongin-ah, sebenarnya noona sudah ingin membicarakan ini denganmu tetapi karena kau dan aku dua hari ini selalu pulang malam karena kegiatan kampus jadi aku belum sempat menceritakannya" Baekhyun mengelus pundak sang adik, dia tau bahwa pasti Jongin kesal dengannya.
Baekhyun menceritakan semuanya pada Jongin, tentu saja tanpa membahas tentang ancaman sang ayah. Baekhyun hanya menceritakan tentang pertemuannya dengan sang ayah yang berujung pada perjodohan itu.
Apa Jongin marah? Tentu saja dia marah.. dia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan membiarkan laki-laki paruh baya itu mengusik kehidupan noonanya lagi.
Namun Baekhyun berusaha meyakinkan kembali pada Jongin bahwa kali ini dia akan baik-baik saja, lagipula laki-laki yang dijodohkan dengan Baekhyun bukanlah orang lain.
Jongin sedikit tenang mengingat pria itu adalah Chanyeol, seejujurnya Jongin juga sudah lama melihat bagaimana Baekhyun memandang Chanyeol. Untuk kali ini Jongin mencoba menerimanya dengan tetap mengawasi dan menjaga sang noona, meskipun ada yang masih mengusik pikirannya.
Kim Hyejin, Jongin sangat tau bahwa Chanyeol masih belum bisa melupakan cinta pertamanya, apakah Baekhyun akan baik-baik saja?.
.
Jongin dan Baekhyun sudah kembali ke dalam rumah Chanyeol tempat mereka berkumpul, ayam yang mereka pesan juga sudah datang dan mereka sedang menikmati makan malam bersama di meja makan.
Baekhyun terlihat sangat resah, tidak seperti yang lain dia sangat tidak menikmati makan malamnya.
"eonni ada apa?" Tao melihat keresahan Baekhyun sedari tadi.
"tidak apa Tao-ya.. eemm bukankah sebaiknya Chanyeol juga makan?" ooh ternyata gadis itu sedang mencemaskan seorang Park Chanyeol?
"benar apa yang di bilang B noona, Chanyeol hyung harus makan.. biar aku yang membangunkannya" Sehun sudah bersiap untuk bangkit dari kursinya tetapi suara Baekhyun kembali mengintrupsi kegiatannya.
"tunggu Hunie.. biarkan saja dulu aku akan memasakkan bubur sebentar untuk Chanyeol, nanti setelah buburnya siap baru kita bangunkan dia" Sehun hanya mengangguk dan Baekhyun segera bangkit dari duduknya untuk menuju ke pantri dapur rumah Chanyeol.
Jongdae dan Jongin menatap ke arah Xiumin dan hanya senyuman sumringah yang di berikan Xiumin sebagai jawabannya. Sejujurnya tidak ada satupun dari mereka yang tidak mengetahui gerak-gerik kecemasan Baekhyun sedari tadi.
Baekhyun tengah fokus pada bubur yang ia masak, pikirannya masih melayang pada Chanyeol, dia sangat mengkhawatirkan lelaki itu, belum lagi pikiran lain yang sangat mengganggunya. Pikiran tentang Chanyeol yang selalu menyebut nama kekasihnya.
Baekhyun masih belum mengetahui keberadaan kekasih Chanyeol itu, bahkan sekarang Chanyeol sedang sakit perempuan yang namanya disebut-sebut Chanyeol itu juga tidak menunjukkan kehadirannya.
"perlu eonni bantu?" sentuhan di bahu Baekhyun menyadarkannya dari lamunannya tadi. Di lihatnya Xiumin sudah berada di sampingnya dengan senyuman mengembang di bibirnya.
"aah tidak eonni, ini sudah selesai" Baekhyun segera mematikan kompor dan menuang bubur buatannya ke dalam mangkuk.
"baiklah.. kau bisa mengantarkan ke kamar Chanyeol kan? Pastikan dia makan ya B.." Xiumin sangat menyukai gadis ini, mata sayunya benar-benar menunjukkan bahwa dia adalah gadis baik dan polos tentunya.
"aku?" Baekhyun memandang lagi nampan yang sudah siap dengan satu porsi bubur dan segelas air putih yang tengah dia siapkan.
"iyaa.. kau, Chanyeol tidak akan mau makan jika Sehun, Kai atau Jongdae yang mengantarkannya, eonni bisa meminta tolong padamu kan?" Xiumin mengelus lembut bahu Baekhyun, dan anggukan dari pemilik bahu yang terhitung kurus itu menjadi jawaban dari permintaan Xiumin.
Bekhyun segera membawa nampan itu menaiki tangga menuju kamar Chanyeol.
Baekhyun meletakkan nampan yang dibawanya di meja samping ranjang Chanyeol kemudian duduk di pinggir ranjang itu.
Chanyeol masih terlelap dalam tidurnya, dapat Baekhyun lihat telinga Chanyeol yang meemerah karena demamnya itu.
Baekhyun mengelus lembut surai hitam Chanyeol, dengan perlahan dia mendekatkan wajahnya ke arah Chanyel, menyebut nama lelaki itu dengan lembut takut sang pemilik nama terkejut jika dia membangunkan Chanyeol sedikit keras.
"Chanyeol.. kau mendengarku? Aku membawa makanan untukmu.." tangan Baekhyun masih setia mengusap puncak kepala Chanyeol. Melihat dari raut wajahnya sepertinya lelaki itu sudah menunjukkan tanda-tanda kesadarannya.
Chanyeol mengerjap pelan, matanya sedirit demi sedikit terbuka. Kerutan tergambar jelas di dahi lelaki tampan itu, kepalanya terasa sangat berat saat ini, tetapi mendengar suara yang samar-samar tengah memanggil namanya dia berusaha untuk membuka matanya.
"Chan.." Baekhyun kembali memanggil nama Chanyeol saat dilihatnya mata pria di hadapannya itu telah terbuka sepenuhnya.
"Hyejin.." Baekhyun terkejut bukan main saat tubuhnya di tubruk oleh Chanyel, dapat dirasakannya panas badan Chanyeol pada kulit mulus gadis itu.
Tetapi bukan pelukan itu yang sepenuhnya membuat Baekhyun terkejut, lagi-lagi nama yang sama keluar dari bibir pucat Chanyeol. Bahkan laki-laki itu terus memanggil nama itu ketika kini dia tengah memeluk Baekhyun.
"Hyejin-ah.. aku tau kau pasti akan datang sayang.." terasa ada batu besar yang menghantam dada Baekhyun, liquid bening menetes kembali dari sudut mata gadis itu.
Isakan kecil lolos dari bibir mungil itu, Chanyeol yang mendengar wanita yang kini di peluknya sedang terisak segera melepas pelukan mereka, di pegangnya pundak sang gadis dan saat itu juga kesadaran kembali menamparnya.
"Baek.. Baekhyun?" Chanyeol masih belum beralih dari keterkejutannya, dan apa yang baru saja dia lakukan. Segera di rengkuhnya kembali tubuh kecil gadis di depannya itu. Entah apa yang sudah merasuki pikiran Chanyeol, tetapi laki-laki ini tidak sanggup melihat lebih lama sorot terluka yang dilihatnya beberapa saat lalu dari mata gadis dalam dekapannya itu.
Tubuh Baekhyu bergetar dalam dekapan Chanyeol. Chanyeol membenamkan kepalanya pada surai lembut Baekhyun sesekali mengecup puncak kepala gadis itu.
Keduanya tengah larut dalam perasaannya masing-masing. Baekhyun masih tidak mengerti dengan dirinya sendiri, kenapa hatinya sangat perih saat mendengar Chanyeol menyebut nama perempuan lain?
Chanyeol juga masih menelisik jauh kedalam perasaannya sendiri, beberapa saat lalu seperti ada bambu runcing yang menusuk tepat pada jantungnya, sangat sakit. Menyaksikan sorot mata terluka Baekhyun, dia sangat menyesal atas perbuatannya itu.
Sadarkah laki-laki ini bahwa sesak yang dirasakannya itu tak lain adalah perasaan bersalah pada gadis yang namanya perlahan terukir di hati Chanyeol?. Sadarkah laki-laki ini bahwa egonya telah menutup mata dan hatinya sehingga dia tidak bisa merasakan persaaan lain yang samar-samar telah tummbuh dalam dirinya?.
Dan sadarkah laki-laki bermarga Park itu jika perlahan ada seseorang yang membuatnya ingin melindungi gadis cantik itu dan tidak ingin menyakitinya?
Baekhyun menarik dirinya untuk melepaskan diri dari dekapan Chanyeol, gadis itu menunduk mengusap air matanya. Dia tidak boleh seperti ini.. gadis itu tengah berusaha menenangkan dirinya, menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya.
"maafkan aku Chanyeol, aku tidak bermaksud untuk.." Baekhyun masih berusaha menenangkan dirinya.
"aku yang seharusnya meminta maaf" Chanyeol mengalihkan pandangannya ke arah lain, asal itu tidak ke arah Baekhyun.
Baekhyun masih berusaha menetralkan nafasnya, setelah dia rasa detak jantungnya sudah kembali tertata, netranya berusaha menatap ke arah Chanyeol. Lelaki itu masih memalingkan wajahnya.
"aku membawakan bubur untukmu, makanlah dulu setelah itu minum obatmu" Bakhyun mengambil semangkuk bubur yang dibawanya tadi, mengambil sesendok bubur yang sudah tidak terlalu panas itu kemudian menyodorkannya pada Chanyeol agar lelaki itu menerima suapannya.
Chanyeol menatap gadis di hadapannya itu beberapa saat kemudian membuka mulutnya.
Selama kegiatan makan itu keduanya hanya terdiam, Chanyeol hanya menatap menatap Baekhyun yang sibuk menyuapinya.
Baekhyun memberikan obat dan segelas air untuk Chanyeol sesaat setelah laki-laki itu menghabiskan buburnya.
"tidurlah lagi, aku akan turun kebawah untuk memanggil Sehun atau Jongin supaya menemanimu disini" Baekhyun tengah bangkit dari duduknya namun pergelangan tangannya di tahan oleh Chanyeol. Lelaki itu menariknya hingga dia kembali terduduk dalam posisi tepat di depan Chanyeol.
Keduanya hanya saling memandang, saling mencoba untuk masuk lebih ke dalam iris mata yang ada di hadapan merka masing-masing.
Satu tangan Chanyeol terulur menyentuh satu sisi wajah Baekhyun, perlahan lelaki tampan itu memejukan kepalanya ke arah Baekhyun.
Tidak butuh waktu lama, kedua bibir anak manusia berlawanan jenis itu tengah menyatu. Awalnya hanya sentuhan lembut, namun perlahan Baekhyun dapat merasakan lumatan kecil Chanyeol pada bibirnya.
Keduanya tengah larut dalam perasaan masing-masing. Mencoba melupakan segala kesakitan yang bersarang di hatinya.
Baekhyun memejamkan matanya beriringan sengan satu tetes cairan bening dari sudut matanya. Sungguh dadanya sangat sesak saat ini. Tetapi tidak bolehkah dia sedikit saja mementingkan egonya saat ini? Dia hanya ingin merasakan sebentar saja kehangatan berada dalam dekapan lelaki yang perlahan telah mengisi hatinya itu. Meskipun dia tau hati lelaki yang tengah menciumnya sekarang bukanlah miliknya. Namun bisakah dunia berpihak padanya saat ini meskipun sesaat. Membiarkan gadis ini merasakan dekap hangat pria yang di cintainya. Pria pertama yang namanya terukir indah dalam hati gadis ini. Cinta pertama dalam hidupnya.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
Namanya juga bonus yaa kaan? jadi ya jangan panjang-panjang yaa :*
Uri B... :''(
.
buat yang udah review, follow dan like cerita ini aku ucapin terimakasih banyak
dan buat yang baca cerita ini tetapi belum meninggalkan jejak semoga selanjutnya kalian mau meluangkan waktu sedikit untuk sekedar meninggalkan jejak kalian yaah..
pliiiss like, follow dan review kalian itu beneran berarti buat kau, buat ngebangkitin semangatku.
maafkan baru up jam segini, sejujurnya aku salfok sama Live pertandingan ChenYeol dan Tvxq tadiii..
udah yaa Uminnya udah keluar tuuuhh..
sebelum hari ini berakhir sekali lagi deh aku ucapin untuk abangku-ku
Happy Birthday Uri Baozi, Thanks to your mom for bringing you into this world. Thank You for Being Our Xiumin.
Nomu nomu nomuuu saranghae uri Fake Maknae :*
