Holla, minna-san!
Setelah sekian lama fanfict ini terbengkalai tanpa tahu rimbanya *eleh* , akhirnya saya berhasil menemukan formula untuk lanjutan cerita ini :v *yeaayyy*
Berhasil… berhasil… berhasil, hore! Lo- *uhuk*
Maaf, bisa dilanjutkan?
Nah, saya hanya bisa memberi warning di awal agar pembaca tidak kembali kecewa.
Maka dari itu saya mencantumkan note lebih awal ketimbang dari yang biasanya di akhir chapter *kalau kalian membaca semua karya abal-abal, un-faedah milik saya pasti kalian tahu*
WARNING!
Saya kemungkinan akan mengakhiri cerita ini tepat hari ini.
Mengapa demikian?
Pertama, saya kebanyakan fict yang ongoing.
Sampe disindirin mulu sama re :"D
Makanya ide saya terbagi kebanyak fict *hueeee
Kedua, saya selalu buntu ide ketika menulis cerita berseri ini.
Seperti penjelasan di atas. Ide saya memang sudah terbagi ke banyak cerita.
Tapi sekeras apapun otak saya mengkalkulasikan kemungkinan ide yang bisa dipergunakan di sini, ide itu terlalu mainstream ataupun tidak sampainya pemikiran saya untuk membuat skenario itu menjadi real.
Ketiga,
Kalian mungkin tidak akan suka dengan akhir cerita ini.
Karena terkesan terburu-buru (memang sih) dan kurang greget :"
Kalian bisa tampol saya secara online kok, saya rela :'v
Baiklah.
Sebaiknya saya langsung memuaskan para pembaca yang sudah lama saya php-in :"v
Let's go to the wild fantasy!
KUROKO NO BASUKE FANFICTION
© FUJIMAKI TADATOSHI
ORIGINAL STORY
© RIRYZHA
-Mohon maaf bila ada kesamaan baik dari segi plot maupun lainnya. Ide dan alurnya murni hasil dari pemikiranku pribadi. Dan aku akui ini kali pertamaku menulis cerita dengan pairing Male x Male. Bila ada kekurangan mohon dimaklumi-
.
.
.
Main Cast :
- Aomine Daiki
- Kagami Taiga
Other Cast:
- Kuroko Tetsuya
- Momoi Satsuki
-etc.
M/M
Language : Bahasa Indonesia
Garing,OOC,typo,de el el.
Cerita ini terjadi ketika mereka kelas 2 SMA
"…." Percakapan
'…' Bicara dalam hati
'…' Celotehan author
.
.
.
"AHO Mengejar BAKA"
"Kemarilah." ujarku sambil menarik pergelangan tangannya yang basah karena keringat.
Walau ia menatapku curiga, ia tak memberontak dan membiarkanku menuntunnya untuk duduk di aspal court yang mulai berubah suhu karena angin petang mulai berhembus.
Setelah duduk pada posisi yang nyaman, aku pun mulai menatap mata ruby miliknya yang menatap balik diikuti gerakan alis cabangnya yang menukik.
Oh sungguh bagai di surga walau hanya menatap manik indah itu.
"Aomine?" panggilnya dengan suara yang entah mengapa selalu menggelitik seluruh sarafku ketika aku tak bergeming. Terlalu hanyut oleh salah satu keindahan yang dibuat Sang Pencipta yang berada tepat dihadapanku saat ini.
"Kagami." kupanggil namanya. Mencoba mengetes apakah mengucap namanya akan pas di lidahku yang kelu.
"Ya?" sahutnya sambil sedikit memiringkan kepala.
Wrong move, Kagami.
Kau membuatku semakin sulit untuk tidak melafalkan namamu walau ada sedikit kejanggalan dalam hatiku.
Now, or never. Aku tidak akan tahu sebelum mencoba.
"Taiga…" entah aku yang sepertinya kesulitan bernapas ataukah rasa canggung yang melanda diriku, tanpa sadar suaraku menjadi berat dan dalam. Membuat makhluk indah di hadapanku membelalakkan matanya dengan wajah semerah buah ceri.
"Da-daiki?" sapanya balik.
Dan, oh Kami-sama!
Suaranya menjadi sangat ilegal saat bibirnya membisikkan nama pemberian orang tuaku.
Kagami, sadarkah dirimu bahwa kau telah membangkitkan jiwa panther yang selama ini menahan diri untuk tidak mengklaim tiger yang ada dalam dirimu?
Sadarkah kau bahwa aku memanggil namamu bukan tanpa alasan apalagi hanya sekedar senda gurau?
"Aku tidak bisa menahan diri lagi, Tiger." bisikku tepat di telinganya yang semakin memerah.
"Tidak bisa menahan diri dari apa, Aomine? Dan aku bukan tiger! Aku Taiga!"teriaknya sambil mengerutkan kening dan menggembungkan pipi mulusnya.
Oh Tuhan…
Bolehkah aku mencicipi seteguk dari hasil air surgamu ini?
Tanganku segera meraih kerah gakuran SEIRIN yang dipakainya.
Menariknya maju hingga jarak wajah kami mungkin hanya tinggal 1 centi.
Entahlah.
Aku tidak memperdulikan jarak begitu bibir yang lama kuidamkan sudah berada dalam jangkauan bibirku.
"K-kau mau apa?" Kagami meneguk ludah. Membuat jakunnya bergerak naik turun.
Sebuah gerakan simpel yang tak bisa kuidahkan begitu saja.
"Pertanyaan yang berbahaya, Taiga." ujarku sambil mengusap bibir merah muda itu dengan ibu jariku.
Lembut.
Terlalu lembut untuk tidak aku lahap hingga tak bersisa.
"Hmmphhh!" lenguhnya tertahan karena bibir dan lidahku melumat seluruh mulutnya hingga tidak menyisakan se-incipun.
"Hnggh- Aomine!" pekiknya begitu ia bisa lepas dari lumatan bibirku. Kedua tangannya menahan pundakku sekuat mungkin agar aku tidak bisa menjangkau bibir yang makin merah menggoda miliknya.
"Kenapa Taiga? Kau tidak menyukainya?" pertanyaanku hanya berbuah gelengan kepala dan wajah yang malu-malu.
"Bu-bukan begitu!" aku menaikkan salah satu alisku.
Dia pun melanjutkan.
"Hanya saja kita ada di tempat umum!" ia menarik kedua tangannya dari pundakku untuk menutupi wajahnya yang makin merah.
Sungguh menggemaskan.
Ia tidak jijik apalagi menolak.
Berarti ini kesempatanku, bukan?
"Hey Taiga…" kualihkan pandangannya sehingga ia menatapku sekarang.
"Di sini sepi. Tidak banyak yang tahu tentang tempat ini kecuali kita berdua."
"Ta-tapi kalau ada…"
"Tenang saja." ujarku sambil mengelus pipi gempal berselimut kulit mulus nan merah merona itu.
"Percayakan semua padaku."
Kudekatkan bibir ranum itu dan kembali mengecupnya. Kali ini dengan perlahan. Menyesap seluruh manisnya dengan khidmat.
"Mhng…" lenguhnya sambil membalas lumatan bibirku.
Kuhisap bibir bawahnya, ia balas dengan menghisap bibir atasku.
Kukulum lidah dan menelusuri seluruh isi mulutnya, ia balas menghisap keras lidahku.
Tunggu.
"Ow, Tiger!" kudorong ia menjauh sambil meringis.
"Um.. Kenapa?" tanyanya dengan polos. Wajah yang merah dan nafas yang terengah-engah pertanda ia berusaha menyuplai kembali oksigen ke paru-parunya.
"Pelan-pelan saja." ujarku sambil menyeka saliva yang membanjiri daguku.
"Ng…" Mata yang kaya akan keindahan itu kembali menatapku. Namun kali ini penuh hasrat yang membuncah.
Oh.
Oh!
"Sayang, pelan-pelan saja supaya kita bisa bertahan lama dan menikmatinya…" bisikku tepat di telinganya.
"Baiklah…" angguknya pelan.
Kuraba dada bidang tertutup seragam itu dengan gerakan perlahan.
Membuat tubuh Taiga bergetar menahan desah.
"Apa yang ngh-kau lakukan?"
"Hurm, hanya ingin merasakan seluruh tubuhmu." jawabku yang sedang mengusap tengkuk dan bagian pinggangnya.
"Ka-ngh kalau ingin merasakannya, kenapa ugh- tidak kau coba saja secara langsung."
Mataku menatapnya buas.
"Kau mulai berani, Taiga~ Tapi karena ini permintaanmu, aku tidak mungkin menolak bukan?"
Taiga menggelengkan kepala.
"Baiklah, bagaimana kalau aku cicipi bagian ini dulu~" kuhirup leher yang terekspos itu dalam-dalam.
Segar.
Bak taman surga yang dipenuhi bunga cantik ragam warna.
'Lick'
Kutempelkan lidahku pada kulit kemerahan miliknya.
Menjilatinya perlahan sambil sesekali mengecupnya.
"Mngh-"
Sepertinya bagian ini cukup sensitif. Bagaimana kalau kita coba hal lainnya?
"DAIKI~! BANGUN~!"
"Kau tahu milikku sudah setengah tegang Taiga?" Aku menyeringai.
"AOMINE DAIKI! SADARLAH DARI MIMPIMU!"
'BYUR'
"AAARRGGGHHHH! IBU! PADAHAL SEDIKIT LAGI AKU BISA MERASAKAN NIKMAT DUNIA!" Daiki bangun dengan wajah kusut dan berair. Nah, bahkan seluruh badan dan kasurnya basah karena sang ibu dengan pengertiannya menyiram dirinya dengan ember berukuran sedang.
"NIKMAT DUNIA, NDASMU! Kau mau telat masuk sekolah?!" dengan sangat berperi-keibuan,
ibunya memukul kepala bersurai sama dengan miliknya dengan ember.
"OW! Iya ini aku bangun dan bersiap sekolah!" dengan wajah semakin ditekuk dan muka semakin kusam, Daiki menyeret kakinya masuk ke dalam kamar mandi.
Beberapa detik kemudian kepalanya muncul dari balik pintu dan menatap ibunya yang sedang melepas seprai kasurnya.
"Bu, ngomong-ngomong ndasmu itu bahasa mana?"
-Aho Mengejar Baka-
Melihat hal suram bukanlah sesuatu yang ingin Momoi lihat untuk mengawali harinya di sekolah. Tapi karena ia anak yang baik hati serta sangat sayang teman sejak masa mereka berpopok rianya itu, mau tak mau ia menyambangi meja sang penyebar kesuraman a.k.a teman kecilnya.
"Dai-chan… Kau ada masalah?" tanyanya ragu-ragu.
"Tidak." jawabnya dengan wajah datar. Namun aura suram semakin menguar dari tubuhnya.
Jangan tanya author kenapa bisa ada efek seperti itu, ok?
Momoi hanya bisa menghela napas.
"Kau yakin? Aku bisa membantumu."
Aomine menggelengkan kepala.
Momoi kembali memutar otak. Pasalnya cukup susah meminta sahabat sejak bayinya itu untuk bicara apalagi curhat dari hati ke hati.
"Kita bicara di atap."
"Sekarang?" wajah kusut Aomine seketika bersinar cerah.
"Mana mungkin lah, Aho! Kau harus mengikuti kelas kalau tidak mau majalahmu kubakar!" Momoi menjitak kepala Aomine dengan keras.
"OW! Kenapa semua perempuan di cerita ini sangat brutal?"
"Mereka hanya brutal padamu, Dai-chan." Momoi tertawa.
"Terserahlah."
.
.
Jam istirahat, tepatnya di atap Touo Gakuen…
"Mungkin sebaiknya kau segera menyatakan perasaanmu, Dai-chan." saran Momoi.
"Andai menyatakan perasaan pada sesama jenis sama mudahnya dengan lawan jenis." Aomine menghembuskan napas kasar.
"Dan lagi, kita tidak tahu orientasi Kagami itu bagaimana." lanjutnya.
"Oh, apa aku belum mengatakan padamu kalau Kagamin itu tidak memandang gender pasangannya?" tanya Momoi tanpa rasa bersalah.
Aomine membanting majalah digenggamannya dan menatap nyalang Momoi.
"Kampret! Bilang dong sejak awal biar aku gak ketakutan gak jelas macam ini!"
"Memang kau pernah bertanya padaku?" Momoi tersenyum mengejek.
"Argh! Kalau saja kau tidak kuanggap adik, mungkin sudah kutumbalkan kau ke Dewi penunggu gunung Fuji."
"Jadi, kau sudah dapat ide untuk menembak Kagamin?" tanya Momoi mengabaikan gerutuan Aomine sebelumnya.
Aomine menggeleng.
"Haahh… apa jadinya dirimu tanpaku, Dai-chan?"
"Mungkin biasa saja." Aomine mengedikkan bahu tidak peduli.
"Hooo, tapi tanpa bantuanku kau akan merana kalau sampai Kagamin dimiliki orang lain loh, Dai-chan~" ejek Momoi.
"Cih!" Aomine membuang muka.
"Memangnya kau punya ide apa?" tanya Aomine kemudian yang sukses membuat Momoi tertawa lebar.
"Kemarilah. Biar kubisikkan sesuatu." Aomine mendekati Momoi dan membiarkan gadis bersurai merah muda itu berbisik di telinganya.
"Ah! Aku datang di waktu yang tidak tepat ya?" sebuah suara mengagetkan keduanya.
"Kagami?! Sedang apa kau di sini?!"
-Aho Mengejar Baka-
"Jadi kau disuruh oleh Riko-chan untuk memberikan buku ini pada Imayoshi-senpai?" Kagami hanya bisa mengangguk. Pasalnya mulutnya saat ini penuh dengan roti melon yang dibelinya di kantin Touo Akademi.
"Kenapa tidak saat pulang sekolah saja?" tanya Aomine yang berusaha tidak menatap pipi gembil Kagami yang bergerak lucu karena Kagami terlalu semangat mengisi mulutnya dengan makanan.
Perlahan Kagami menelan makanannya lalu menjawab.
"Entah. Kantoku menyuruhku pergi sekarang atau dia akan menambah porsi latihanku. Benar-benar sadis." gerutu Kagami.
Aomine dan Momoi saling melempar tatapan sebelum dikagetkan oleh suara pesan masuk di ponsel Aomine.
'Paket untukmu telah sampai kan, Aomine-kun? Jangan sampai gagal atau kau akan kupanggil pecundang seumur hidupmu.'
Aomine mengumpat pelan sambil membalas pesan dari Kuroko.
'Brengsek kau, Tetsu! Ini masih jam sekolah! Kau berniat memaksaku menembak Kagami di depan teman-teman sekolahku apa?!'
'Cepat lakukan hari ini atau kau kehilangan kesempatan yang telah kuberikan padamu.'
Aomine hanya bisa pasrah. Kuroko lebih mengerikan daripada Akashi dalam hal memaksakan kehendak.
"Oke… sepertinya tugasku telah selesai dan sekarang aku bisa kembali ke sekolah untuk latihan." tiba-tiba Kagami berdiri sambil membawa kantung plastik berisi bungkus roti yang telah habis isinya. Membuat Momoi dan Aomine kalang kabut.
"Oh-ho… Kagamin! Biar Dai-chan mengantarmu sampai depan gerbang!" seru Momoi sambil mendorong Aomine yang kaget.
"H-hei! Kenapa aku harus mengantarnya?!" tanya Aomine kebingungan yang langsung dihadiahi death glare.
"Aho benar, Momoi. Buat apa dia harus mengantarku sampai gerbang? Aku tinggal bertanya pada murid di sini arah gerbang keluar." Kagami menaikkan satu alisnya heran.
"Err…karena ada yang ingin Dai-chan sampaikan padamu! Benar kan, DAI-CHAN?" tanya Momoi pada Aomine dengan senyum yang teramat manis.
'Cepat lakukan atau kesempatan untukmu habis!' mungkin itu arti dari senyum manis Momoi yang ditangkap Aomine.
"Ah-hahaha, begitulah. Kalau begitu ayo kita segera pergi sebelum jam istirahatku berakhir." Aomine segera merangkul Kagami yang hanya bisa menatap heran keduanya namun tidak bertanya apapun.
Sepanjang perjalanan menuju gerbang sekolah Touo Gakuen, Aomine segera melepaskan rangkulannya dan memberi jarak cukup lebar antara dirinya dan Kagami. Jarak yang cukup diisi oleh satu orang berukuran seperti Nebuya Eikichi dari Rakuzan.
Tidak tidak. Kita tidak akan membahas orang itu. Itu hanya penggambaran saja.
Kembali ke Aomine. Dia sangat gugup sekarang. Tangannya berkeringat dan jantungnya bertalu-talu sangat kencang. Karena itulah ia memberi jarak dengan Kagami karena takut debaran jantungnya yang seperti sedang lari marathon itu terdengar oleh Kagami. Dan jangan lupakan eksistensi serta aroma tubuh Kagami yang menempel di seragam Aomine malah memperburuk kondisi jantungnya.
"Aomine?"
Ini menggelikan, pikir Aomine. Dia sekarang bertingkah seperti gadis dimabuk asmara. Padahal dia pria. PRIA TULEN!
"Aomine?"
Dan orang yang disukainya bukan setenar selebritis hingga dia harus merasa minder. Heck, bahkan kemampuan otak mereka 11-12.
"Daiki!" teriak Kagami sembari mengguncang bahu Aomine yang membatu.
"Oh God! Kau kenapa sih?" gerutu Kagami sembari melepaskan genggamannya di bahu Aomine.
Aomine mengerjapkan mata.
"Kau tidak suka yah dipaksa pacarmu untuk mengantarku sampai ke gerbang?" Kagami mendengus sebal.
"Ha?" Aomine lagi-lagi hanya bisa mengerjapkan mata. Mencerna ucapan Kagami sebelumnya.
"Kalau kau tidak suka, kau boleh kembali. Lagi pula gerbang keluarnya sudah terlihat dari sini." gerutu Kagami sambil menunjuk kearah gerbang yang tak jauh dari loker sepatu tempat mereka berhenti.
"Sebentar Kagami…kau barusan bilang Satsuki itu pacarku?" tanya Aomine.
Kagami mengangguk lalu mengerutkan kening begitu Aomine malah menertawainya.
"Kenapa kau malah tertawa, Aho?!"
Aomine berusaha menghentikan tawa yang keluar dari bibirnya.
"Ahaha…tidak tidak. Aku hanya tidak menyangka kau mengira Satsuki itu pacarku. Padahal daripada pacar, dia lebih mirip Ibu tiri – Ouch! Siapa itu yang melempar sepatu kearahku?!" Aomine berbalik dan tidak menemukan pelaku yang berani melemparinya dengan sepatu indoor.
"Ohhh syukurlah aku masih ada kesempatan…" gumam Kagami yang cukup kencang untuk didengar Aomine.
'Ba-dhump'
'Ba-dhump'
Jantung Aomine berdetak kencang.
"Bisa kau ulangi, Kagami?" Aomine menatap wajah Kagami yang kaget.
"Ulangi apanya, Aho?" Kagami terkekeh sambil membuang muka.
"Barusan yang kau katakan…" Aomine berusaha menatap manik ruby yang bergerak gelisah. Mencoba untuk tidak membalas pandangan shappire yang penuh dengan pengharapan.
"Ah, aku pergi dulu ya, Daiki!" Kagami berlari kencang meninggalkan Touo Gakuen serta Aomine yang mendadak struck.
"SIALAN KAU, BAKAGAMI! KENAPA MEMANGGIL NAMA KECILKU DI SAAT SEPERTI INI?!" raung Aomine yang segera berlari menyusul Kagami yang memerah seperti udang sungai kesukaannya itu.
Ah~ sepertinya ide Momoi tidak berguna lagi. Toh Aomine sudah tahu Kagami memiliki perasaan yang sama. Tapi tunggu…jadi selama ini Aomine bertingkah seperti orang dungu lagi pecundang karena seseorang yang ternyata memiliki perasaan yang sama?! Sungguh menggelikan!
"KAU HARUS MEMBAYAR SEMUANYA SECARA LAHIR BATIN, KAGAMI TAIGA!"
-FIN-
