Naruto is a property of Masashi Kishimoto. No material profit gained from this fanfiction.
Warning : AU, typos, possibly OOC
.
.
"Bagaimana kabar Si Cantik?"
Shikamaru hanya bisa mendesah pelan, setengah ingin memukul kepala Gaara dengan gulungan koran. Sudah setengah jam mereka berada dalam satu ruangan. Semestinya mereka menganalisis data-data yang sudah masuk terkait progresifitas jaringan teroris yang telah dilaporkan. Tapi yang dilakukan Gaara malah menanyakan hal-hal yang merepotkan.
Satu tambahan lagi, seingatnya ia tak mengizinkan siapapun membawa minuman beralkohol jenis apa pun ke ruangan ini. Tetapi bagi Gaara, menenteng sebotol whiskey sudah menjadi sebuah latensi. Melarangnya pun akan sia-sia saja mengingat ia selalu punya seribu satu macam alasan agar dimasukkan ke dalam daftar eksepsi.
"Apa kata temanmu di Jerman?" Shikamaru mencoba mengalihkan perhatian Gaara. Toh, ia memang membutuhkan laporan Gaara yang punya link bagus di sebagian besar negara-negara Eropa. Secara khusus, ia memang menyuruh Gaara datang ke sini untuk bekerja, bukan untuk diinterogasi terkait Si Cantik Yamanaka.
Eh? Sejak kapan ia ikut memberikan gelar Si Cantik untuk seorang gadis yang super berisik? Ugh, kemampuan Gaara menggiring opini memang semakin lama semakin baik. Yah, walaupun Ino memang nyata-nyata seorang gadis yang can...
Cih, merepotkan saja.
"Cocok. Data dari perusahaan Heckler and Koch, ada transaksi rutin hampir setiap bulan dengan sejumlah perusahaan di Jepang. Beberapa di antaranya adalah anak perusahaan Uchiha," jelas Gaara.
"Awalnya Amerika Serikat dan China, sekarang mereka juga mengimpor senjata dari Jerman," gumam Shikamaru, "apa mereka juga mengimpor amunisi lain dari sana? Selpeter misalnya?"
"Kurasa tidak," kata Gaara, "atau sepertinya belum."
"Lagi pula kalau hanya selpeter, mereka tidak akan mengimpornya jauh-jauh dari Jerman," Neji ikut menimpali, "ini, sudah kudapatkan nama importir selpeternya."
Dua lelaki yang lainnya menatap layar digital yang menampilkan hasil kerja lelaki berambut panjang. Ada begitu banyak garis penghubung malang melintang. Sepertinya Neji berhasil memetakan setiap preskripsi dengan begitu presisi hingga didapatkan sebuah akurasi yang kini terpampang.
"Ingat saat kaubilang mungkin saja mereka mengimpor selpeter dengan jalur resmi, berdalih akan mempergunakannya untuk industri kembang api, tetapi kemudian memanfaatkannya untuk tujuan lain?" tanya Neji pada Shikamaru, "Dari situ, aku menyelidiki siapa-siapa saja importir selpeter yang melakukan impor dengan jumlah besar. Dari beberapa orang itu, kutemukan nama Deidara yang sering melakukan pertemuan dengan orang-orang pasar gelap yang pernah disebutkan Gaara."
"Dari China, ya...," Gaara memperhatikan tampilan data milik Neji, "rupanya mereka ingin menekan biaya dengan kualitas yang tak kalah dengan produksi Eropa atau Amerika. Lagi pula belakangan ini China sedang giat-giatnya memproduksi senjata. Kudengar bahkan mereka sudah masuk peringkat kelima dalam ekspor senjata."
"Yang kulihat justru lebih jauh dari itu. Tapi aku takkan buru-buru mengatakannya. Semoga apa yang kupikirkan memang hanya spekulasi tak berdasar," gumam Shikamaru, "siapkan saja orang-orangmu untuk menyelidikinya lebih lanjut. Kuharap kita akan segera tahu di mana tempat perakitannya."
"Sudah kudapatkan satu tempat. Ini memang baru sebatas rumor yang berembus. Tapi sudah kutempatkan intelku di sana. Hari Jumat nanti kita akan mengetahui kebenarannya," kata Neji.
"Siapa yang kaukirim?" tanya Gaara ingin tahu.
"Naruto," jawab Neji.
"Oh," Gaara menuangkan whiskey-nya pada sebuah gelas, kemudian sedikit meminumnya, "bicara soal intel, kurasa aku juga butuh seorang partner untuk menyelinap di antara orang-orang pelabuhan."
"Neji?" Shikamaru melirik ke arah wakilnya.
"Ada syaratnya," potong Gaara, "aku mau seorang wanita berpostur tinggi."
"Bilang saja kau ingin mendekati Yamanaka," cibir Shikamaru, "Nona Barbie sepertinya akan membuatmu repot. Kusarankan kau mengajak yang lain saja. Haruna, Tenten, atau bahkan Kurenai-san."
Gaara menoleh ke arah Neji, kemudian dengan kompaknya mereka menyeringai. Tampaknya reaksi Shikamaru kali ini memang sudah terekspektasi. Siapa yang menyangka, dua lelaki pendiam ini nyatanya juga sengaja memancing evokasi. Khususnya untuk Gaara yang sudah mengenal betul bagaimana perangai mantan kekasih Temari.
Shikamaru selalu berdalih, bukan urusan Ino untuk bertemu oknum-oknum kroco. Dalam pandangan Shikamaru, kumpulan orang-orang barbar dengan daya pikir minim membuatnya tak mentolo. Gadis seperti Ino lebih pas kalau dikirim ke sarang mafioso. Namun, sepintar apa pun Shikamaru berkelit, tetap saja Gaara dan Neji tahu Shikamaru hanya tidak ingin menggiring Ino pada sesuatu yang penuh risiko.
Entah benar-benar hanya perhatian dari seorang pimpinan atau perhatian dari seorang lelaki, tak ada yang tahu pasti kecuali Shikamaru sendiri.
"Pak Ketua, sepertinya aku tidak menyebut nama Yamanaka. Seperti katamu, bukankah intel wanitamu bukan cuma Yamanaka?" tukas Gaara dengan santai, "Walaupun aku tidak menolak juga kalau kau menyodorkan seorang Miss Konoha."
"Poin sebenarnya adalah kami merasa kau terlalu melindungi Yamanaka," entah sejak kapan Neji beralih profesi menjadi interpreter atas kata-kata Gaara, "terakhir kali kami melihatmu sekhawatir ini terhadap perempuan adalah ketika kau menjalin hubungan dengan Temari."
Shikamaru tak dapat menahan diri untuk tidak menggerutu. Sejak kapan teman-temannya berubah jadi penggosip seperti ibu-ibu? Demi sebuah bantal bulu angsa, Shikamaru sama sekali tak menganggapnya sebagai hal yang perlu. Hal-hal merepotkan seperti itu justru akan sangat-sangat mengganggu.
Suara bel yang berdering membuat jeda sejenak. Baik Neji maupun Gaara sama-sama menoleh ke arah Shikamaru, setengah menyelidik ingin tahu siapa yang kira-kira datang untuk merisak. Sepertinya bukan Chouji—staf IT yang juga teman lama Shikamaru—karena Si Gendut itu tak pernah datang ketika matahari tak lagi mencurak.
Gaara beringsut dari tempat duduknya, penasaran dengan siapa yang datang. Toh, kalau yang datang adalah petugas yang akan menagih rekening listrik dan semacamnya—bisa jadi Shikamaru terlalu malas untuk membayar tagihan listriknya—ia bisa punya bahan tambahan untuk membuat Shikamaru merasa wirang. Mengintip melalui peephole viewer, lelaki itu menyeringai begitu melihat sosok gadis berambut pirang.
"Kenapa lama seka...," ucapan Ino terpotong begitu yang dilihatnya bukanlah sosok lelaki bermarga Nara. Bola matanya tergerak, mencoba mengingat-ingat sosok lelaki eksentrik di depannya. Rasa-rasanya ia pernah melihat biodata lelaki ini dalam jaringan intelijen atasannya. "Ada Nara Shikamaru?"
Alih-alih menjawab, Gaara malah menoleh ke dalam, "Bos, pacarmu datang."
Ucapan lelaki tak beralis ini tentu saja membuat Shikamaru menggumam tak jelas. Ino mengenalinya sebagai gerutuan Shikamaru yang cukup khas. Apalagi dengan sisipan kata 'merepotkan' atau kata-kata lainnya yang seiras. Karena itu, tanpa ragu-ragu Ino melangkahkan kaki ke dalam setelah Gaara mempersilakannya masuk dengan kerlingan sepintas.
"Wow, sedang ada pesta bujang kecil-kecilan rupanya. Apa aku mengganggu?" Gadis itu mengedarkan pandangan untuk mengamati siapa saja yang hadir di sini. Manik lazuardinya juga menemukan sebotol Chivas Regal dan old fashioned glass berisi ice cube dan minuman kecokelatan itu di meja. "Apa ini pestamu, Tuan Berambut Indah?"
"Pernikahanku masih beberapa bulan lagi. Kautahu itu," sergah Neji. Ia tampak sedikit keberatan ketika Ino memanggilnya Tuan Berambut Indah. "Kalau kaupunya urusan dengan Shikamaru, katakan saja. Mungkin informasi baru darimu dapat menjadi pertimbangan kami."
"Sayangnya aku tidak membawa informasi apa-apa," Ino sedikit tersipu. Merasa malu karena pengharapan Neji yang meleset. "Hari Selasa dan Rabu nanti jadwal fashion show dan pemotretanku kosong. Aku tidak punya rencana apa-apa di hari itu, jadi bisakah kau memberiku tugas untuk menghabiskan waktu di hari itu?" Ia menoleh ke arah Shikamaru.
"Hhah ... penyakit lamamu sepertinya belum sembuh. Kau kan bisa pergi dengan teman-temanmu. Sakura atau siapapun itu. Atau mungkin menikmati malam-malam romantis di resort milik Itachi," gerutu Shikamaru.
"Aku sedang bosan dengan Sakura. Masa sama dia terus? Kalau Hinata, bisa saja sih menemaniku. Tapi pasti pria ini tidak akan setuju kalau aku menculik calon istrinya selama dua hari," Ino menunjuk Neji. Yang ditunjuk hanya memasang wajah stoik, meski otot-otot sekitar matanya sedikit berkedut. "Senin malam Itachi akan melakukan perjalan bisnis ke hotelnya di Thailand. Lagi pula, ayolah, aku butuh sesuatu yang bisa mengolahragakan otakku. Kau juga tidak mau kan ada intelmu yang bodoh?"
Shikamaru beringsut dari nyamannya kursi. Ia menarik sebuah laci berisi file-file lama yang tak lagi terpakai. Ia tahu Gaara akan memanfaatkan rasa penasaran Ino ini untuk menjalankan ambisi. Jadi lebih baik ia bergerak cepat, memberikan dokumen-dokumen dan menyuruh Ino pergi. Apalagi...
"Dermaga Pelabuhan Tanigakure, hari Selasa, pukul tiga sore. Melihat sendiri bongkar muat kapal cukup untuk menghabiskan waktumu."
... kalau lelaki berambut merah itu bergerak secepat ini.
"Bongkar muat kapal?" Ino sedikit mengernyitkan kening, "Kau bagian dari kami, kan? Berarti bongkar muat kapal itu juga sesuatu yang berkaitan dengan apa yang kita hadapi. Apa isi muatannya adalah senjata api dan narkotika?"
"Datanglah untuk membuktikannya sendiri," jawab Gaara diplomatis.
"Oke," Ino mengacungkan ibu jarinya.
Shikamaru hanya bisa memijat pelipis. Gaara memang selalu ahli dalam melontarkan kalimat-kalimat taktis. Tidak heran, meskipun ia jarang mengumbar kata-kata manis, tetap saja ia bisa mendapatkan apa yang ia inginkan dari seorang gadis. Lihat saja, bahkan seorang Yamanaka Ino pun tak merasa giris. Jika sudah begini, Shikamaru tak punya pilihan yang lebih baik ketimbang membiarkan Gaara mengajari Ino untuk tidak berpikiran simplistis.
.
.
.
Mata gadis itu berbinar ketika mengamati berpuluh-puluh pasang sepatu cantik. Terkadang ia berhenti sebentar di depan sepasang sepatu yang dianggapnya menarik. Tak jarang pula sepatu-sepatu rancangan seorang designer asal Perancis itu ia getik. Ia bahkan seperti melupakan sosok lelaki berjas abu-abu karena terlalu asyik.
"Itachi?" Ino seperti baru tersadar kalau ia tak datang seorang diri ke rumah mode ini. Terselip rasa tak enak hati ketika ia mendekati Itachi. "Maaf, kau jadi terpaksa menemaniku belanja begini."
"Harus kuakui, ini memang membosankan," kata Itachi, "tapi anggap saja ini kontra prestasi atas kesabaranmu selama ini. Kau mungkin bosan karena aku terus menerus membicarakan bisnisku. Dengan begini, kita impas."
Ino sedikit menyikut lelaki itu, pura-pura tersinggung dengan tanggapan Itachi yang kelewat jujur. Pun demikian, ia merasa patut bersyukur. Tak banyak lelaki yang mau meluangkan waktu untuk menemani para wanita memburu barang-barang yang membuat mereka terjantur.
"Nanti malam kau jadi pergi ke Thailand?" tanya Ino sembari meraih sepasang angkle boots. Ia memberikan isyarat kepada pramuniaga bahwa ia ingin mencobanya. "Bicara tentang Thailand, aku selalu ingat tiga hal."
"Oh, ya? Apa saja?" tanya Itachi.
"Gajah, transgender, dan...," segitiga emas penghasil opium, batin Ino, "Miss Tiffany."
Itachi mendesah kurang lega, "Bukankah Miss Tiffany adalah beauty pageant untuk para transgender? Poin kedua dan ketigamu kupikir membahas hal yang sama."
"Wow, kau juga tahu tentang hal itu?! Ya Tuhan ... jarang-jarang aku menemukan lelaki yang tahu soal Miss Tiffany. Jangan-jangan...,"
"Aku pergi ke Thailand beberapa kali dalam setahun. Tentu saja sediki banyak aku tahu soal itu," potong Itachi.
Ino tertawa kecil, "Maaf, maaf. Aku hanya terkejut, itu saja. Aku tidak berniat menuduhmu macam-macam, kok."
"Aku tahu," kata Itachi, "lagi pula ini juga bukan pertama kalinya ada yang menebak begitu. Sebagian orang menebak Thailand sebagai negeri yang eksotis, dengan makanan yang enak dan pemandangan yang indah. Sebagian lagi mengidentikkan Thailand dengan para ladyboy dan opium."
Ino sedikit tertegun, mempertimbangkan apa maksud di balik penyebutan kata opium. Apakah Itachi memang menyebutnya secara refleks ataukah ingin memancing reaksinya bila ia menyebut salah satu jenis narkotika yang paling umum? Ino tak berani memastikan, tapi ia juga tak mungkin menahan reaksinya di lekum.
Mengantisipasi segalanya, Ino memilih pilihan kedua. Karena itu, lebih baik ia memberikan reaksi diplomatis untuk memancing balik reaksi Itachi selanjutnya. Toh, bila tadi Itachi hanya menyebut secara refleks, ia bisa menggali lebih jauh lagi tentang tujuan Itachi mengunjungi salah hotelnya di kawasan Asia Tenggara.
"Oh, yang kutahu Thailand memang termasuk ke dalam segitiga emas penghasil opium gelap. Thailand, Myanmar, Laos, dan Vietnam kalau tidak salah, ya?" tanya Ino.
"Begitulah," komentar Itachi, "tidak sebesar di kawasan sabit emas, memang. Kudengar pemerintah Thailand sedang giat-giatnya memberantas praktik-praktik ini. Tapi, ya, seperti katamu tadi. Tetap saja praktik-praktik ilegalnya masih marak, walaupun tidak sebanyak sebelumnya."
Ino mengembuskan napas lega, setengah merasa gembira karena Itachi memberinya celah untuk menggali lebih dalam. Shikamaru boleh saja mengatakan rasa ingin tahunya sebagai sesuatu yang ceracam, tetapi kali ini Ino akan membuktikan bahwa kuriositasnya juga bermanfaat dalam istifham. Siapa tahu ia bisa mendapatkan benang merah antara narkotika dengan bongkar muat senjata seperti yang disebutkannya semalam.
"Kurasa kau benar. Terkadang fakta sebenarnya memang jauh lebih kompleks ketimbang apa yang kita lihat. Bagaimanapun, opium dan narkotika lainnya memang punya nilai ekonomi yang tinggi. Kurasa wajar juga sih kalau banyak yang nekat menanamnya. Wajar, tapi tetap saja bukan hal yang benar," celoteh Ino. Beberapa saat kemudian ia mengalihkan perhatian Itachi dengan sepatu pilihannya, "Lihat, menurutmu bagaimana?"
"Sepatu yang cantik pada sepasang kaki yang tepat," komentar Itachi.
"Oh, ayolah. Berikan komentar yang lebih spesifik. Tentang warnanya, kesannya, tinggi heels-nya, kualitas bahannya, atau apa pun itu. Aku...," sedetik kemudian Ino tercekat, kemudian membarikan cengiran khas, "hehehe ... maaf. Aku lupa aku sedang pergi dengan seorang laki-laki. Biasanya Sakura, Hinata, atau asistenku yang menemani."
Itachi hanya tersenyum simpul, "Risikoku sendiri pergi bersama seorang model papan atas."
Ino hanya bisa membalasnya dengan senyuman. Dadanya sedikit berdebar menantikan reaksi Itachi atas pendapat tentang narkotika yang telah ia berikan. Setidaknya ia ingin Itachi mengambil konklusi sederhana, sehingga Ino memiliki satu hints yang bisa ia kumpulkan.
Ya ampun!
Ino menggerutu dalam hati, setengah memaki ketidaksabarannya menantikan hints-hints berharga. Ketidaksabarannya inilah yang terkadang membuatnya bersikap impulsif sampai-sampai Shikamaru merasa kerepotan—terlepas dari kebiasaan lelaki itu yang merasa segalanya merepotkan—dibuatnya. Kau intelijen, Ino. Intelijen, bukan detektif. Tugasmu adalah mendengarkan, bukan sembarangan berkoar, dalam hati gadis itu menyugesti dirinya.
"Jadi menurutmu itu hal yang wajar, ya," gumam Itachi.
"Bagaimanapun, masalah perut dan kesejahteraan dompet terkadang lebih memiliki eksistensi ketimbang repot-repot memikirkan dampak negatifnya," ucap Ino setengah mencari pembelaan.
Itachi tak menanggapi lagi, entah apa yang ia pikirkan setelah mendengar opini yang Ino lontarkan. Ino tahu, reaksi Itachi mungkin saja tak diwujudkan dalam bentuk ucapan. Shikamaru berkali-kali menekankan bahwa respon member-member Akatsuki memang akan terkesan lamban. Tapi lelaki itu juga mengatakan, Ino akan melihatnya dari gerak langkah dan tendensi yang mereka berikan. Intinya, dalam hal ini sebaiknya ia tak mengharapkan hasil yang instan.
Bicara tentang Akatsuki, setidaknya Ino punya dua akses yang biasa ia temui secara langsung. Selain Itachi, ia juga bisa mendekati Konan demi menggali rahasia yang terselubung. Sedikit kesabaran akan membuatnya memahami strategi mereka dari pangkal hingga ujung.
Mungkin Ino juga akan melakukan beberapa kesalahan, tetapi ia percaya Shikamaru ada di belakangnya untuk mengoreksi.
Raut wajah Itachi terlihat cerah ketika Ino memutuskan untuk mengambil sepatu mana yang ia sukai. Sangat kentara, lelaki itu sudah bosan berlama-lama di sini. Walaupun ia memang tak mengeluh, apalagi jika mengingat betapa selama ini Ino juga berusaha memahami antusiasmenya tiap kali membicarakan masalah bisnis dan ekonomi.
"Oke, Tuan Uchiha yang terhormat. Selanjutnya kita mau ke mana?" tanya Ino sembari menoleh ke arah Itachi. Gadis itu setengah memeluk kantong kertasnya dengan riang, seolah-olah sepasang sepatu itu adalah holy grail yang ia miliki.
"Tentu saja mengantarkanmu ke lokasi pemotretan. Kemarin kaubilang hari ini ada wawancara majalah sekaligus pemotretan untuk cover-nya," jawab Itachi.
Ino menepuk jidatnya, "Oh, ya, ampun! Terima kasih kau sudah mengingatkanku, Itachi. Hampir saja aku lupa." Gadis itu mengecek tablet PC-nya, "Well, pemotretannya masih satu setengah jam lagi. Kita masih punya sedikit waktu untuk jalan-jalan kalau kaumau."
"Setengah jam lagi ada rapat yang harus kuhadiri," ucap Itachi.
"Eh? Kalau begitu pergilah. Aku akan menelepon asistenku untuk menjemput," kata Ino merasa tak enak hati.
"Aku...,"
"Pig!"
Tak perlu waktu lama untuk mengenali siapa pemilik suara yang memanggil Ino seenaknya. Tanpa melihat pun Ino tahu yang memanggilnya adalah Sakura. Dan benar saja, ketika menoleh ke belakang ia mendapati sosok gadis berambut merah muda yang datang bersama Hinata. Keduanya tampak membawa kantong-kantong belanja.
"Temanmu?" tanya Itachi.
"Mereka Sakura dan Hinata yang tadi kuceritakan," kata Ino, "kurasa aku akan menumpang mobil mereka saja. Bagaimanapun, seorang direktur sepertimu tidak boleh terlambat, kan?"
"Baiklah. Aku akan menyapa mereka sebentar," ucap Itachi.
Ino menganggukkan kepala pertanda setuju. Lagi pula ia bisa minta masukan dari Sakura setelah Itachi bertemu gadis itu. Mungkin tidak akan terlalu banyak yang bisa dianalisis, tapi Ino berharap setidaknya bisa membantu.
.
.
.
"Jadi itu yang namanya Itachi," gumam Sakura sembari menyetir minibus-nya, "kurasa kau memang harus berhati-hati."
"E-eh? Kenapa? Kelihatannya Uchiha-san orang yang baik," ucap Hinata setengah memprotes.
"Aww, kau sudah mau menikah tapi pikiranmu masih polos sekali, Hinata...," goda Sakura, "maksudku tentu saja agar Si Pig ini berhati-hati. Itachi adalah tipikal laki-laki yang bisa dengan mudah menaklukkan perempuan. Poinku adalah jangan sampai Blonde Pig ini melakukan hal-hal konyol untuk mengejar cinta Pangeran Uchiha. Mengerti maksudku, kan?" Sakura mengerlingkan sebelah matanya ke arah Ino.
"Gah, kau cocok jadi penulis skenario opera sabun, Forehead," tukas Ino sedikit sebal, "aku adalah Yamanaka Ino, Miss Konoha yang cantik dan cerdas. Tidak mungkin aku melakukan hal-hal konyol seperti yang kaukatakan."
"Rasa percaya dirimu tinggi sekali, Pig," cibir Sakura, "aku hanya mengingatkanmu. Sebagai teman yang baik aku...,"
"Oh, ya. Terima kasih untuk perhatianmu yang mulai membosankan, Teman Terbaikku." Terselip intonasi jengkel ketika Ino mengucapkan frasa Teman Terbaikku.
Sakura hanya tergelak ringan, apalagi ketika melihat Ino yang masih memasang ekspresi sebal. Ia tahu, sahabatnya hanya berpura-pura kesal. Keberadaan Hinata di sini membuat mereka harus pandai-pandai memutar akal. Karena memang sudah menjadi tugas mereka untuk membuat segalanya kredensial.
Setali tiga uang dengan Sakura, Ino juga memahami makna sebenarnya dari ucapan Sakura. Gadis itu benar, ia harus menjaga diri dari pesona Sang Uchiha. Itachi adalah sosok yang harus ia selidiki, bukan orang yang akan diajaknya untuk mengarungi romansa. Bagaimanapun, ini adalah tugas pertamanya dan Ino tidak ingin membuat Shikamaru kecewa.
Bicara tentang Shikamaru, sudah lama juga Tuan Koala itu tidak mengomelinya. Belakangan ini ia hanya menyimak baik-baik setiap laporan yang diterima. Sesekali ia berkomentar, tetapi komentarnya juga jarang bersifat kontra. Sepertinya yang diinginkan Shikamaru adalah pemberitahuan rutin dari anak buahnya agar mereka tak bertindak di luar rencana.
"Tapi kurasa tidak baik juga kalau kita terlalu berprasangka buruk kepada Uchiha-san. Yah ... kurasa di situlah manfaat penjajakan," ucap Hinata.
"Oke, oke, Dear. Aku mengalah. Yah, kuakui kekhawatiranku memang sedikit berlebihan." Bola mata Sakura sedikit bergerak, seolah hendak memberi isyarat kepada Ino. "Tapi serius, aku memang benar-benar khawatir. Maksudku, di balik jas dan penampilan yang serba rapi, terkadang tersembunyi jiwa-jiwa yang serba berantakan. Tak jarang mereka-mereka ini menjelma menjadi psikopat bertangan dingin. Mungkin memang tidak membunuh dengan tangan mereka sendiri. Tapi merekalah dalangnya."
"Eww ... kau membuatku takut, Forehead," Ino sedikit bergidik.
"Aku juga tidak bisa menyalahkan Sakura-chan. Bagaimanapun, kehidupan sehari-hari Sakura-chan lekat dengan hal-hal seperti itu. Pasti bukan hal yang mudah untuk mendengar cerita memilukan di saat sedang mengotopsi korban-korban naas itu," tutur Hinata simpatik, "tapi ayolah, berikan sedikit semangat untuk teman kita yang sedang berbunga-bunga."
"Kita akan lihat nanti," Sakura kembali melirik ke arah rekan seprofesinya, "aku tidak bermaksud membuatmu paranoid. Hanya saja, berhati-hatilah."
Ino tak punya pilihan lain kecuali menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan argumen. Baru ia sadari betapa sulitnya mendiskusikan hal ini ketika ada pihak lain di luar satuan intelijen. Sementara untuk menunggu mereka memiliki waktu yang tepat, rasanya mereka akan kehilangan beberapa momen. Pilihan terbaik tetaplah bicara dengan santai dengan beberapa klu yang tersoren.
"Kalau dipikir-pikir mungkin kau benar juga," gumam Ino, "selain denganku, Itachi juga akrab dengan model lain. Namanya Konan. Satu management denganku. Kami sering satu stage dan satu frame. Orangnya kelihatannya baik."
"Konan? Eh, bukankah dia sedang menjalin hubungan dengan seorang pengacara? Kalau tidak salah namanya Pein," kata Hinata.
"Masa?" tanya Ino memasang ekspresi tak percaya.
"Iya. Pengacara itu bahkan memberi hadiah kalung berlian entah berapa karat saat ulang tahun Konan. Pernah diliput kok oleh sebuah infotainment," kata Hinata.
Inginnya Ino tertawa begitu mendengar kata infotainment. Tapi ia memaklumi juga kalau di sela-sela waktunya sebagai pemilik toko kue dan calon ibu rumah tangga, Hinata bisa saja menonton tayangan yang gemar mengusik kehidupan para eksponen. Bagi Ino, akan lebih baik bila ia menggali lebih dalam tentang pencitraan Konan dan Pein agar semuanya lebih eviden.
"Kalau tidak salah Konan ini juga punya hobi yang agak maskulin, kan?" Sakura ikut menanggapi. Ia menyesuaikan diri dengan kedua temannya yang tengah menggosipkan Konan.
"Iya. Latihan menembak kalau tidak salah. Neji-kun bilang cara menembak Konan seperti sudah ahli saja. Padahal kupikir dia masih amatiran," kata Hinata.
"Hhe? Tuan Rambut Indah itu juga ikut menonton infotainment? Wah, aku tidak menyangka kalau...,"
Tepukan kecil di lutut Ino—tentunya Sakura berpura-pura hendak meraih tuas kemudi—membuat ucapannya terhenti. Sejenak baru ia sadari caranya memanggil pronomina tunangan Hinata terlalu menunjukkan bahwa ia cukup akrab dengan Neji. Padahal yang Hinata ketahui, pasti Ino hanya sebatas mengenal Neji sebagai tunangannya sehingga kecil kemungkinan ia dan Neji menjalin komunikasi.
"Tuan Rambut Indah?" Hinata sedikit mengernyitkan dahi.
"Aaa ... maaf, maaf. Habis kalau melihat rambutnya yang panjang dan berkilau itu, sulit rasanya membayangkan kalau dia adalah polisi. Kalau tidak mengenalnya sebagai tunanganmu, mungkin aku akan mengira dia adalah bintang iklan shampo," kilah Ino, "tapi serius, dia juga ikut menonton infotainment?"
"Waktu itu jam makan siang. Neji-kun datang ke tokoku. Kebetulan seorang karyawanku memilih channel infotainment itu. Jadi mau tak mau ia juga melihatnya," kata Hinata.
"Konan memang sering muncul di infotainment, ya?" tanya Ino.
Hinata menganggukkan kepala, "Sangat sering sih tidak. Cuma memang bukan yang sepi pemberitaan juga. Aku salut padanya. Apalagi dia juga termasuk yang aktif melakukan kampanye anti narkotika dan punya rasa cinta tanah air yang tinggi."
Jadi sudah sejauh itu Akatsuki melakukan pencitraan? Di satu sisi mereka memiliki jaringan narkotika sementara di sisi lain mereka mengatakan kontra dengan narkotika yang disalahgunakan. Benar-benar hipokrit, menggunakan segala cara untuk memuluskan jalan.
Sepertinya ada gunanya juga membicarakan maslaah ini dengan pihak luar. Setidaknya ia bisa mengambil sample bagaimana pendapat masyarakat umum tentang publik figur yang masuk ke dalam daftar. Pelan tapi pasti, publik sudah diedukasi agar tertanam dogma bahwa Akatsuki—saat ini masih Konan saja—memang melakukan hal-hal yang benar.
Dengan kata lain, tugas Konan dalam Akatsuki adalah menggiring opini publik. Di belakangnya ada kekasihnya yang siap memberi payung hukum dan Itachi dengan uangnya yang siap mem-back up jika ada sesuatu yang mengusik. Setidaknya itulah konklusi yang mampu Ino petik.
.
.
.
Angin laut membawa aroma garam yang khas. Biasanya Ino mengunjungi laut untuk berenang atau sekadar menjejakkan kaki di pantai ketika musim panas. Namun, kali ini sangat berbeda karena ia datang menyaksikan bagaimana orang-orang pelabuhan membawa barang-barang dari dan ke dalam peti kemas.
Ino menggaruk wig berwarna gelapnya yang mulai terasa gatal. Belum lagi kedua belah matanya dibingkai oleh sepasang kacamata tebal. Sayangnya Ino memang merasa tak punya pilihan lain ketika menyamar sudah termasuk ke dalam rencana yang digubal.
Matanya tak lepas dari sosok Gaara yang masih mengobrol dengan kuli-kuli pelabuhan. Dari caranya mengakrabkan diri, tampaknya pria itu memang sudah cukup berpengalaman. Sementara di sini ia hanya membantu mencatat berapa banyaknya muatan. Mau bagaimana lagi, Gaara menyuruhnya tak banyak bicara agar identitasnya sebagai wanita tidak ketahuan.
"Kalau hanya melihat tinggi, kau cukup cocok menyamar jadi laki-laki. Tetapi kulit porselen dan suaramu itu sulit sekali diakali."
"Hey, kau yang di sana! Sudah belum menghitungnya? Kalau sudah, cepat periksa peti kemas di sebelah sana!" Seorang mandor berteriak pada Ino. Sejurus kemudian ia kembali mengobrol dengan Gaara. "Serius, anak yang kaubawa itu bisa bekerja tidak, sih?"
"Maklumi saja. Ini pertama kalinya ia bekerja. Ayahnya belum lama ini meninggal, jadi dia terpaksa bekerja untuk menyokong ekonomi keluarganya," ujar Gaara santai.
Setengah keki Ino melangkahkan kaki menuju peti kemas yang ditunjuk mandornya. Namun, rasa keki itu sedikit meluap ketika mendapati kontainer yang harus diperiksanya berisi berbagai macam senjata dengan berbagai kelengkapannya. Mau tak mau hal ini membuat kepalanya dipenuh berbagai prasangka.
Tangannya meraih salah satu senjata laras panjang. Sepertinya memang asli, bukan airsoft gun seperti yang sering dipajang. Dari lembaran yang dipegangnya, senjata-senjata ini akan dikirim ke sebuah gudang.
"Lelaki memegang senjata memang terlihat keren, ya?" Seorang kuli yang tampak berusia paruh baya terlihat membawa beberapa peti yang bisa dipastikan isinya adalah amunisi.
"Kadang-kadang aku ingin memilikinya." Tak sampai dua detik setelah mengucapkannya, Ino sedikit terperanjat. Tanpa sadar ia malah melanggar larangan Gaara.
Untung saja kuli itu hanya terkekeh, "Benar yang dikatakan Gaara tadi. Kau memang bishounen. Yah, tapi bagaimanapun kau tetap laki-laki. Wajar tertarik dengan senjata macam begini."
"Suatu hari nanti aku ingin memilikinya," Ino menimang-nimang senjata di tangannya, "biasanya berapa harga laras panjang begini?"
"Kalau beli di agen-agen resmi bisa sampai ratusan ribu yen," bapak itu merendahkan suaranya, "tapi kalau kau sudah punya koneksi di sini, kau bisa menekan harganya sampai berkali-kali lipat."
Koneksi.
Cukup menjadi sebuah kata kunci. Keberadaan oknum-oknum yang menjadi perpanjangan tangan memang dengan mudah dapat terdeteksi. Hanya saja, yang menjadi kendala utamanya adalah skema yang mereka miliki.
"Minggir!"
Seorang kuli lain datang membawa sebuah peti. Tubuhnya yang gempal sempat menabrak Ino hingga gadis itu sedikit terhuyung ke sebelah kiri. Entah bagaimana lelaki paruh baya tadi buru-buru melanjutkan tugasnya setelah melihat rekannya yang satu ini.
Kuli yang baru datang ini menatap tajam, kemudian tanpa banyak bicara menyenggut senjata yang masih ada di tangan Ino. Tatapannya tajam, seolah memandang Ino sebagai sosok kroco. Alih-alih merasa gentar, Ino malah membalas tatapannya bak orang-orang sano.
"Kau menantangku?!" Suaranya terdengar geram, seiring dengan tangannya yang mencengkeram bagian depan kaos kumal milik Ino.
"Tidak. Tapi aku minta maaf kalau kau merasa begitu," jawab Ino.
"Dengar, ya. Aku tak peduli kau orang bawaan Gaara atau siapapun itu. Kau baru di sini, jadi jangan macam-macam dengan seniormu!"
"Oke," jawab Ino singkat.
"Kau!"
Satu bogem mentah nyaris bersarang di pipi Ino jika gadis itu tidak segera sigap. Alih-alih tertinju, kali ini ia malah balas mengempap. Tubuh Si Gempal itu menabrak dinding dalam peti kemas, menghasilkan debaman kuat sebelum sosok itu terjerembab.
"Aku sudah bilang oke untuk semua kata-katamu, tapi kau masih ingin memukulku. Lihatlah betapa serakahnya dirimu," komentar Ino.
Lelaki itu mendesis, kemudian meraih sebuah senjata secara acak. Ia menodongkannya ke arah Ino seraya berdiri tegak. Dari ekspresinya, tampak sekali bahwa ia hendak membongak. Hanya saja, caranya memegang senjata tak mengesankan kalau ia terbiasa menembak.
Ino mengernyitkan kening, "Kau tidak berniat membunuhku dengan senapan kosong, kan? Ngomong-ngomong, peluru dan selongsongnya ada di sebelah sana." Ia menunjuk salah satu peti.
Si Gempal itu memandang ke arah yang ditunjuk. Sepertinya ia malu, terlihat dari sikapnya yang agak kikuk. Sinar matanya meredup, tak menyiratkan ekspresi mata orang-orang yang hendak mengamuk.
"Menikmati pekerjaan barumu, ne, Shikamaru-kun?" Entah bagaimana, Gaara sudah ada di belakangnya. Ia terlihat santai—dan entah kenapa selalu terlihat begitu—sembari melipat tangan di depan dada.
"Bagian mana dariku yang terlihat menikmati pekerjaan ini?" gerutu Ino.
Gaara menunjuk Si Gempal, "Lihat. Kau bahkan sudah dapat seorang teman," kemudian ia berkata pada lelaki itu, "adik pacarku ini memang agak brutal, Bung. Jadi hati-hati saja dengannya. Aku juga pernah ditendang saat mau menjemput pacarku."
Baru kali ini Ino menemukan orang yang sedemikian lihai merangkai kata penuh dusta. Entah berbakat atau apa, tapi cara Gaara mengucapkannya memang meyakinkan sehingga sulit rasanya untuk tidak percaya. Ino bahkan tak yakin ia bisa mengimbanginya.
"Tentu saja. Sampai kapan pun aku takkan membiarkan kau mendekati Neechan-ku, Brengsek!" tukas Ino berapi-api.
"Sister complex," cibir Gaara. Sejurus kemudian ia menatap serius—sekaligus membari sinyal pada Ino bahwa ucapannya kali ini bukan main-main—sembari berkata, "Kalau begitu cepatlah. Surat-suratnya harus segera diurus. Ada seorang pelanggan yang menunggu barang-barang ini di gudang. Kau akan ikut denganku untuk pergi di sana. Kita tidak akan sempat makan malam di rumah. Yah, walaupun aku lebih suka masakan kakakmu, sih."
"Ck ... setidaknya Neechan-ku tidak perlu satu meja makan dengan Monster Panda Jelek sepertimu," tukas Ino menanggapi dua kalimat terakhir yang diucapkan Gaara.
Dada Ino berdebar lebih kencang sejalan dengan antusiasmenya yang semakin berapi-api. Bagus, tanpa perlu repot-repot mencari caranya, ia sudah menemukan jejak untuk memahami apa yang disebut 'koneksi'. Biarpun terlihat menyebalkan—bahkan super menyebalkan—Gaara memang benar-benar unggul dalam hal infiltrasi. Kalau Ino tidak tahu bagaimana posisi dan tendensi Gaara, mungkin ia malah akan berbalik menuding Gaara sebagai bagian dari oknum-oknum yang harus dibasmi.
Sepertinya Ino memang baru mengerti tujuan Gaara mengajak dirinya. Lelaki itu ingin menunjukkan padanya bagaimana cara masuk ke sebuah lingkungan dan mengambil informasi sebanyak-banyaknya dari sana. Tentu saja aspek keamanan dan menghindari kecurigaan mereka juga jadi hal yang utama. Karena itu, tak heran bila terjadi penerapan standar ganda.
Untuk pertama kalinya, Ino baru menyadari, di mana letak kemampuannya sebagai seorang intelijen negeri.
.
.
TBC
.
.
Thanks to : kaname *romance ada, tapi minim mengingat dua genre utama fic ini memang bukan romance ^^*, zeroplus, magenta-alleth, F Ichinoyomi, lovaphobia *bukan kok. kosa kata asingnya sedikit dan sudah saya italic-an. mungkin yang dimaksud adalah kata-kata khusus bidang intelijen atau kosa kata yang jarang dipakai sehari-hari, ya?*, penelopi *syukurlah ^^. maaf kalau nanti agak membosankan, ya*, Amai Yuki, learn-to-be-an-author, skyesphantom, Minori Hikaru, Diane Ungu *fufufu~ mungkin karena selama ini yang lebih sering dibahas itu soal blue-collar crime sih, ya*, Aria-chi, Noira Hikari, dan zielavenaz96
Glossary :
Selpeter : bahan atau zat berupa butir-butir putih transparan yang memiliki rasa asin, mudah larut dalam air, dapat larut sedikit dalam alkohol serta berkadar racun rendah, yang digunakan untuk membuat mesiu, petasan, korek api, serta campuran bahan peledak.
Airsoft Gun : replika senjata api yang sangat mirip dengan senjata asli.
Lima negara pemasok senjata terbesar dari tahun 2003-2012 : Amerika Serikat, Rusia, Jerman, Perancis, dan China (menggantikan Inggris).
Chapter keempat, poin utamanya adalah menjadi intelijen memang tidak pernah mudah. Selama ini intelijen identik dengan peralatan serba canggih dengan aliran data yang entah kenapa begitu cepat tanpa tahu dari mana dan bagaimana data itu dikirim/dibuat. Mungkin karena intelijennya memang sudah intelijen top. Karena itu, saya lebih memilih Ino menjadi intelijen baru yang masih kesulitan beradaptasi, bagaimana ia belajar menyimpan segala rahasia itu dari teman dekat, terpaksa 'memainkan drama' yang dipenuhi dusta dan standar ganda, mati-matian menolak pesona pria tampan-mapan-idaman seperti Itachi, dan hal-hal semacamnya.
Terkait karakterisasi, saya minta maaf karena telah membuat Gaara se-OOC ini. Entah kenapa saya lebih nyaman menulis karakter Gaara yang serba santai, bermulut tajam, tapi punya kecerdikan. Bisa dibilang, urusan susup-susupan begini Gaaralah jagonya. Karena itulah, saya sengaja memberinya profesi (?) sebagai bartender yang memungkinkannya bertemu dengan banyak orang (terutama yang berada di lingkaran hitam).
Yosh, daripada saya banyak bicara, saya ucapkan terima kasih buat yang sudah merelakan waktu untuk membacanya. Lebih berterima kasih lagi kepada yang bersedia meninggalkan jejak di kotak review. Boleh berupa tabokan, jeweran, atau bahkan pujian (kalau ada).
Grazie di tutto.
