Mine to Take

[Chapter Two]


Do Kyungsoo.

Do Kyungsoo. Gadis yang pernah membintangi setiap fantasi remaja yang pernah Jongin miliki. Wanita yang telah membuatnya menyadari betapa nafsu gelap dan liar bisa membakar. Gadis itu telah kembali padanya. Berjalan tegak memasuki gedungnya. Ke dalam hidupnya. Dia sudah melihat gambarnya di layar keamanan. Sekali lihat dan semuanya telah berubah.

Dia kembali.

Kali ini, segalanya akan berakhir secara berbeda bagi mereka. Dia tidak akan pernah puas dengan Kyungsoo. Kali ini, ia membutuhkanku. Mereka melangkah keluar dari gedung KIM Securities. Suara-suara dari kota langsung memenuhi telinganya. Kyungsoo menjauh, menuju taksi di sudut jalan. Jongin segera menangkap lengan kurus itu dan menarik kembali padanya. "Kita akan mengendarai mobilku." Kendaraan ramping, hitam yang mengoda menunggu di sebelah kanan. Sopir—yang merangkap sebagai salah satu pengawal Jongin—menahan pintu belakang terbuka untuk mereka.

"Kita akan menuju ke apartemen Kyungsoo," Jongin bergumam pada Park Jimin.

Kyungsoo ragu-ragu lalu dengan cepat menyebutkan alamat. Jimin mengangguk. Jimin telah bekerja dengan Jongin selama lebih dari lima tahun hingga sekarang, dan Jongin percaya pria ini secara implisit. Kyungsoo yang pertama masuk ke dalam kendaraan, ketika dia melakukan itu, roknya terangkat. Memperlihatkan hamparan kaki sehalus sutra yang tertutup kain dari bahan nilon. Sejak dulu, Kyungsoo menikmati mengenakan stocking tinggi.

Gadis itu masuk ke dalam mobil. Matanya menyipit, kenangan berkelebatan dalam benaknya, lalu Jongin mengikuti. Pintu tertutup, mengurung mereka di dalam. Pelindung privasi sudah di tempat, benar-benar menghalangi mereka dari pengamatan Jimin.

"Aku pikir salah satu agenmu bisa menangani hal ini. Maksudku, kau adalah bos." Kata-katanya sedikit terlalu cepat. Kyungsoo selalu begitu. Berbicara dengan cepat ketika ia merasa gugup. Itu bagus bahwa aku masih membuatnya gugup.

"Aku yakin kau tidak punya waktu luang untukku." Sebaliknya. Jongin bergeser mendekat. Memastikan bahwa bahu mereka bersentuhan. "Kamu tidak akan kembali ke Seoul?" Kepala Kyungsoo tersentak. Matanya—dalam, cokelat gelap— menatapnya. Ada warna emas yang terpendam di matanya. Ketika ia terangsang warna emas itu akan terbakar lebih panas.

Dan ketika ia terangsang pipinya merona, bibirnya gemetar, dan sebuah erangan akan terlepas dari bibir plum itu.

Do Kyungsoo. Porselen yang sempurna. Begitu halus bahkan dia pernah khawatir gairahnya mungkin akan mememarkannya. Dia masih khawatir karena hal yang ia inginkan darinya...

Aku bukan seorang bocah lagi.

Jongin sudah menahan dengannya terlalu lama.

Rambut hitamnya jatuh di bahunya, panjang dan halus. Ketika ia menari, rambutnya terus di jepit, membuat tulang pipinya terlihat lebih tajam.

"Tidak ada apa-apa lagi bagiku di Seoul." Suaranya tenang. Bukan Kyungsoo. Kyungsoo berbicara dengan rasa humor dan terasa hidup. Tetapi ketika Kyungsoo memasuki kantor Jongin, akhirnya kembali pada Jongin, ada ketakutan dalam suara—dan di matanya. "Aku mengalami...kecelakaan."

"Aku tahu." Kisah tersebut telah ada di seluruh berita. Seorang Balerina prima terjebak dalam kecelakaan mobil di malam badai. Ia sudah menari ribuan kali. Ia bersinar di panggung Seoul. Dan dia hampir tidak selamat dari kecelakaan itu. Jongin memaksa menghirup udara masuk ke dalam paru-paru. Jangan berpikir tentang hal itu. Dia ada di sini.

"Aku sudah terapi fisik pada kakiku." Berkata dengan suram saat mata bulat—yang Jongin rindukan— menatapnya.

"Aku bisa menari, hanya saja tidak seperti...tidak seperti sebelumnya." Gadis itu menggelengkan. "Panggung itu tidak untukku lagi."

"Itu sebab kau pulang ke rumah?"

Rumah. Satu-satunya rumah yang pernah dia punya—itu bersamanya. Dua anak asuh. Dia bertemu dengannya ketika Jongin berumur tujuh belas tahun. Kyungsoo sendiri sudah lima belas tahun.

"Itu sebabnya aku pulang ke Busan," Kyungsoo menyetujui dengan suara serak. "Aku menabung untuk membuka sebuah studio. Aku akan mengajar di sini. Aku masih bisa melakukan itu." Dia menari, mengeluarkannya dari kemiskinan. Di studio yang terang benderang dan panggung di Seoul. Menari telah memberinya sebuah kehidupan baru. Dan membawa Kyungsoo darinya.

"Uang menjadi sebuah masalah." Kyungsoo tidak melihatnya lagi. Jongin ingin mata itu menatapnya.

Pria itu membungkuk ke arah Kyungsoo, meraih tangannya. Kyungsoo balik menatap Jongin. "Aku akan menemukan cara untuk membayarmu. Aku bisa melakukannya, hanya saja— kumohon beri aku beberapa waktu."

Tingkatannya—untuk agen junior terbaru. Bukan untuk jasa pribadinya karena Jongin tidak pergi ke lapangan lagi—tiga ratus satu jam. "Kita akan menyelesaikannya."

Jongin punya banyak rencana untuknya.

Jari-jari kokoh terjalin dengan jari Kyungsoo. Tangan hangat itu menangkupnya. Kulit kasar dan gelap, kecokelatan dari waktu ia menghabiskan di bawah sinar matahari. Menggenggam erat tangan Kyungsoo yang pucat, hampir rapuh. Terlihat sangat mudah patah. Bukankah Jongin selalu memikirkan tentang Kyungsoo? Dari saat pertama dia melihatnya, ketika dia bergegas masuk ke ruangan itu, mendengar teriakan ketakutannya...

'Jangan, tolong jangan!'

Gadis itu sudah diselamatkan oleh dirinya.

Dirinya.

"Apa yang kau pikirkan?" Kyungsoo berbisik.

"Cara menyelesaikannya."

Bulu mata panjang. Mata cokelat yang begitu seksi. Napasnya berhembus sedikit terlalu cepat. "Aku tidak yakin bahkan kau masih mengingatku." Hanya setiap menit. Ada beberapa hal seorang pria tidak bisa lupakan.

"Kau seharusnya datang padaku lebih cepat." Jongin benci memikirkan Kyungsoo di luar sana, ketakutan. Sendirian.

"Terakhir kali kita berbicara," suara Kyungsoo terasa membelai tepat di atasnya. "Kau bilang untuk segera cepat keluar dari kehidupanmu. Kembali itu tidak mudah."

Mobil mulai melambat.

"Aku pikir kita sudah sampai," kyungsoo menarik tangannya. Namun Jongin tidak melepaskan."Kau bilang kau tidak punya kekasih." Bagus. Dia tidak ingin memikirkan Kyungsoo bersama beberapa bajingan lainnya. Jongin menatap matanya.

"Kau bisa, Kyungsoo."

Gadis itu menggeleng. "Jongin..."

Namanya terdengar serak dari gumamannya. Penolakan dan keinginan semuanya terikat bersama. Bibirnya terlalu dekat. Kyungsoo beraroma sangat baik. Manis vanila. Cukup menggoda untuk dimakan. Jongin merenggut mulutnya. Tidak dengan lemah lembut dan pelan-pelan. Karena dia tidak pernah menjadi pria semacam itu. Jongin tahu dirinya bukan tipe kekasih yang lembut.

Dia berjuang untuk setiap suatu yang ia miliki. Dia terus memperjuangkannya. Lidahnya didorong ke dalam mulutnya. Rasanya bahkan lebih manis daripada aromanya. Bibirnya lembut dan memabukkan, dan ia membalas ciumannya. Sebuah erangan pelan naik ke tenggorokannya, dan lidahnya mulai menyelusuri.

Pria ini sudah menjadi salah satu orang yang mengajarinya bagaimana berciuman.

Dan bercinta.

Jongin memperdalam ciumannya, menginginkan lebih, jauh lebih banyak daripada yang bisa dia dapatkan. Gadis manis ini datang padanya karena ia takut, tapi dia tidak tertarik pada ketakutannya. Dia menginginkan gairahnya, Jongin menginginkan dirinya.

Kyungsoo menarik diri. Bibir-hatinya basah dan merah karena mulutnya.

Candunya.

Salah satu yang ia tak pernah bisa tinggalkan. Tak peduli berapa banyak uang yang Jongin punya, tak peduli berapa banyak perempuan yang hadir ke tempat tidurnya. Kyungsoo adalah satu-satunya yang dia inginkan, satu-satunya yang akan ia miliki. Ada harga untuk semua yang ada di dunia ini. Dia tahu pelajaran itu dengan baik. Kyungsoo harus membayarnya. Jadi dia harus membayarnya juga.

Itu adalah sesuatu yang bagus dia mampu membayarnya kali ini. Kyungsoo hampir melompat dari mobil ketika dia melepaskannya. Jongin keluar perlahan-lahan. Terlalu sadar akan rasa sakit baginya, dan rasa gairah yang tidak akan menghilang.

-o-

Mine to Take

-o-

Sinar matahari menyinari. Awal musim semi, tapi masih dingin. Dia mengabaikan rasa dingin dan menatap pada kompleks apartemen. Bangunan tua, wilayah kumuh yang kebanyakan berada tepat di pinggiran kota. Saat Kyungsoo berada di Seoul, tempat tinggalnya jauh lebih besar─ jauh lebih layak. Tagihan rumah sakit telah mengambil banyak uangnya. Dia tahu itu. Dia tahu jauh lebih banyak daripada yang ia sadari.

"Tunggu di sini." Jongin memberitahu Jimin, lalu ia mengikuti Kyungsoo ke gedung. Tidak ada keamanan di apartemen ini.

"Aku berada di lantai tiga," kata Kyungsoo. Lantai paling atas.

"Lift sedang diperbaiki sekarang, jadi..." Ia berbalik ke tangga.

Dia tidak bergerak. "Bisakah kakimu melakukan pendakian itu?" Bahu Kyungsoo tersentak. Ah, itu dia. Harga dirinya yang sengit. Salah satu hal yang dimiliki Kyungsoo begitu menarik bagi Jongin. "Ya, aku bisa mengatasinya." Dan Kyungsoo tidak melihat ke belakang saat mulai menaiki tangga. Tapi Jongin memperhatikan gadis itu menempel sedikit terlalu rapat pada pegangan tangga.

Jongin mengikuti di belakangnya, dengan mudah menutup jarak yang memisahkan mereka, tepat satu tangga di belakangnya, sepanjang jalan sampai di atas. Tatapannya memperhatikan segalanya. Cat yang mengelupas di dinding. Lampu yang berkedip-kedip. Bahkan lampu yang tidak menyala sama sekali.

Brengsek.

Lalu mereka berada di lantai tiga. Kyungsoo membawa mereka ke apartemen 301. Jongin membungkuk, memeriksa gembok tua warna keemasan. Tidak ada tanda awal mula untuk menunjukkan bahwa seseorang telah mencoba untuk mencongkelnya. Di sana tidak ada tanda-tanda gangguan sama sekali.

Dia mundur, Kyungsoo membuka pintu dengan suara berderit, engsel kuno dan jelas sekali membutuhkan minyak, Kyungsoo bergegas masuk, hanya sedikit tersandung sebelum ia menyalakan lampu.

Apartemen itu kecil tapi sangat Kyungsoo. Warna-warna cerah menghiasi dinding serta beberapa penguin berkacamata, mebel yang nyaman mengisi interior. Tirainya ditarik membuka. Membiarkan cahaya luar mengisi ruangan.

Tempat itu beraroma Kyungsoo.

Jongin maju ke arah jendela. Perangkat gawat darurat mengarah di sepanjang jalan sampai lantai apartemennya. Jendelanya terkunci, dan lagi, dia tidak melihat tanda-tanda gangguan.

"Aku tahu apa yang kau lakukan." Kyungsoo berdiri beberapa kaki di belakang Jongin. "Detektif—yang lain— tidak menemukan tanda-tanda kerusakan, juga. Tapi aku bilang padamu, seseorang telah berada di sini."

"Apakah aku bilang bahwa aku tidak mempercayaimu?" Jongin menoleh padanya.

Kyungsoo menggelengkan kepala.

"Bawa aku ke kamar tidurmu."

"Itu dimana dia perginya, bukan?" Jongin tidak membiarkan emosi memasuki suaranya. Sekarang bukan waktunya untuk emosi.

Kyungsoo berputar dan berjalan menyusuri lorong sempit. Ia membuka pintu lain, "Ini...di sini."

Jongin melewatinya dan melangkah masuk ke dalam kamar sempit itu. Tempat tidur dari kayu tua berkaki empat. Sebuah laci—yang telah di cat biru cerah—menunggu untuk dibuang. Sebuah meja rias berdiri di sebelah kanan. Tidak ada yang tampak terganggu di kamarnya. "Kapan terakhir kalinya kau pikir dia ada di sini?"

"Tadi malam," katanya saat tatapannya ke tempat tidur. "Ketika aku pulang tadi malam, pakaian dalamku tertinggal di tempat tidur."

Jongin menatap tempat tidur.

"Aku tidak meninggalkannya di sana." Lanjut Kyungsoo dengan suara tercekat. "Aku tahu aku tidak meninggalkannya di sana. Ada orang yang memainkan beberapa jenis permainan denganku."

"Aku tidak berpikir itu permainan." Jongin menjauh dari tempat tidur dan kembali padanya. Kyungsoo belum beranjak dari pintu. "Aku pikir seseorang menguntitmu." Dia berhenti. "Seseorang seperti ini bisa sangat, sangat berbahaya." Tatapan mata Kyungsoo mengarah padanya.

"Membobol masuk ke rumahmu, untuk mengikutimu..." Dia mengangkat tangannya dan menyibak rambut hitam yang melewati bahu Kyungsoo. "Kedengarannya seperti pria yang terpaku padamu."

"Kau bisa menemukannya, kan?"

"Aku bisa. Agenku akan mengawasi tempatmu. Tidak ada seorangpun yang akan masuk ke sini lagi."

"Terima kasih." Napasnya berhembus keluar.

"Aku akan mendapatkan kunci yang lebih baik untuk pintu dan jendelamu." Tidak. Jongin bahkan akan melakukannya lebih daripada itu. "Kau akan aman di sini."

Kyungsoo mengangguk dengan cepat.

"Kau akan lebih aman..." Dia harus mengatakannya. "Jika kau pulang ke rumah bersamaku."

Matanya melebar. "Jongin..."

"Ini tidak seperti akan menjadi pertama kalinya, Kyungsoo."

Gadis cantik itu mundur. Punggungnya membentur kusen pintu. "Aku tidak akan pulang denganmu...untuk itu." Itu. Badai dari nafsu, kebutuhan dan keinginan yang telah di konsumsi mereka sebelumnya. Hasrat yang tak terkendali hampir menghancurkan mereka berdua.

"Aku butuh bantuanmu, Jongin. Tapi tidak lebih dari itu."

Jongin memiringkan kepalanya. "Kalau begitu aku akan memulai perlindunganmu. Setidaknya ini yang bisa aku lakukan untuk… teman lamaku." Sekali lagi tubuh Jongin menyentuh saat melewatinya. Ketegangan berputar padanya saat dia menuju ke lorong untuk keluar.

"Kita, pernah sekali." Suara Kyungsoo menghentikannya.

"Kita berteman sebelum kita menjadi sesuatu yang lebih." Katanya lembut seperti bisikan.

Jongin tak membalas. Ya, mereka berteman, tapi mereka sudah kehilangannya, lama sekali. Lelaki tan itu mengeluarkan telepon genggam saat menuju pintu depan. Segera setelah pintu depan tertutup, dia menuntut, "Aku ingin agen di apartemen Do Kyungsoo. Kunci baru. Kamera video dan alarm masuk." Ia bahkan tidak memiliki alarm. "Aku ingin satu tim pengawas tempat ini." Dia ingat cara tangan Kyungsoo yang mencengkeram kuat pegangan tangga. "Dan aku ingin lift dibenahi." *omg jongiiinah~*

Perintah Jongin akan ditaati. Stafnya merespon dengan cepat permintaannya. Dia bukan anak terbuang dan tak punya uang lagi. Dia punya lebih dari uang.

Dia memiliki kekuasaan sekarang.

Jongin menoleh pada pintu Kyungsoo yang terutup.

Dia memiliki kekuasaan dan dia akan menggunakannya.

-o-

to be continued

-o-


Ini memang novel luar, jadi bahasanya agak berat yaa. Bacanya pelan-pelan dinikmati dan dihayati kkk.. yang nunggu NC scene sabar ya say nikmati dulu ceritanya..

The Mine books are dark and sexy romantic suspense novels that focus on the fine line between love and obsession.

Karena ini bukan PWP jadi masih mementingkan isi/alur cerita disamping adegan itu:3 ceritanya seru banget! berasa jadi detektif haha

*Ehem kalian pada suka yang panjang-panjang(?) ya..*smirk, gua ga bisa manjangin(?) ntr malah pusing kalau terlalu panjang, memang sengaja dibagi ke chapter-chapter untuk memudahkan dalam membaca&memahami, tapi tetap diusahakan fast update.

Next chap ada sedikit kilasan masa lalu kaisoo.

.

Next? Review dear~

See ya!

-Kimchi


Thanks to:

UnA NA; riaazzhh; Ayyu965; sangjoonpark; ekyeol; ChocoSoo; TulangRusuknyaDyo; Meonggu; dinadokyungsoo1; SooieBabyUke; park taen; sushimakipark; dorim; kim gongju; Ayyu965; Kaisooship; 12154kaisoo; Kaisoo; anon; hunkaisoo; ekyeol; Dks; NataNerd; Kim Reon; kimsoo; KyungXo; Soonini; kadi1288; Ellena; nikyunmin; kyungsoonia; Shinkyu; kaisoohug; Lovesoo; dks; W; dinadokyungsoo1; rly.

also unnamed guest & silent reader..