Dua mata itu bertemu.

Onyx. Emerald.

Haruno Sakura tak percaya. Ia benar-benar tak percaya.

Ketika pemuda itu mendekat padanya. Semuanya membeku.

.

.

.

.

.

Watashi ni Kisu! – Kiss Me!

Mission 3

Maka dari itu, Haruno menutup matanya, membiarkan instingnya menemukan sudut bibir Uchiha. Dentang suara bel tanda berakhirnya jam istirahat terdengar tipis beberapa kali bersamaan dengan datangnya angin lembut yang bertiup pelan. Kedua bibir itu bertemu. Sakura merasakan bibir itu menyentuhnya lembut. Takut, ia membalas sentuhan bibir tersebut dengan pelan. Namun sebelum semua berjalan jauh, pikiran waras gadis itu segera menyerangnya, menyuruhnya berhenti untuk melakukan hal tidak masuk akal ini.

Ini sangat tidak masuk akal Haruno Sakura. Ini tidak masuk akal.

Karena hal yang disebut tidak masuk akal itu pula, Sakura segera menarik tubuhnya menjauh. Melepaskan bibirnya. Lalu menundukkan wajahnya. Segera ia merasa kehilangan kontak.

Sebelum gadis itu mendongak atau berlari seperti sebelumnya. Tangan seseorang menariknya. Mendongakkan wajahnya dan menariknya mendekat. Sakura terkesiap.

Emerald bertemu onyx yang terbuka lebar menatapnya.

Sakura membeku. Ia hanya terdiam membisu ketika Uchiha Sasuke membuka bibirnya—berbicara.

"Apa yang kau lakukan?" ia memandang emerald itu tajam. Pertanyaan terlontar membuat betapa keras genggaman tangannya ketika Sakura berusaha melepaskan diri, sadar situasi. Ia mengulang pertanyaannya kembali ketika mengetahui kerasnya keinginan Sakura untuk kabur tanpa berkomentar apa-apa. "Kau menciumku," pernyataan itu keluar. Sakura terdiam. Ia menggeleng. "Kau menciumku Haruno." Ucapnya lagi kali ini sedikit emosi.

Sakura kembali menggelengkan kepalanya, menarik lengannya namun tangan Uchiha Sasuke tentu saja lebih kuat darinya. Tapi cewek itu tidak peduli, ia harus kabur dari sini. Namun tangan itu mencengkramnya lebih kuat.

Gadis itu menggigit bibir bawahnya, ia bisa melihat onyx memandangnya dengan beribu pertanyaan. Pertanyaan sama yang ingin ia katakan sewaktu gadis itu juga mencoba melakukan hal yang sama padanya di taman belakang sekolah. Mencoba menciumnya.

Sama seperti hari ini, ia tahu Sakura datang ke atap sekolah. Ia tahu gadis itu belakangan ini sering menguntitnya, mengikutinya, mencari tahu tentangnya. Ia tahu Sakura bertindak sangat aneh belakangan ini. Dan hari ini yang paling aneh ketika gadis itu mencium bibirnya tanpa berpikir panjang. Seperti sebelumnya Haruno masih bisa membiarkan otak warasnya bekerja, namun tidak untuk sekarang, nyatanya gadis itu tampak menikmati ciuman—sepihak—yang ia lakukan pada seorang Uchiha Sasuke.

Satu pertanyaan telontar dalam otak Uchiha.

Bukannya gadis ini begitu membencinya? Lalu kenapa ia menciumnya? Sasuke sedikit kesal mempertanyakan hal tersebut dalam otaknya. Nyatanya tidak ada satu orang pun yang mau dipermainkan.

Sakura menarik tangannya, berharap si rambut raven melepas lengannya. Dan ketika pemuda itu melepas tangannya—Sakura menarik napas, bersyukur. Ia lalu memikirkan cara untuk terbebas dari mata onyx Sasuke yang memandangnya tajam. Ya, dengan cara lari dari tempat ini sekarang juga. Namun sebelum semua rencananya terlaksana. Tangan Uchiha Sasuke kembali menarik lengannya, membawanya ke sudut dinding dan menahannya di sana. Sakura membeku.

Dua mata itu bertemu.

Onyx. Emerald.

Dan Sasuke membuka bibirnya—berbicara, ketika Sakura kembali memberontak.

"Kau menciumku? Kenapa?" Sakura menunduk. Sasuke mendongakkan wajah gadis itu dengan tangannya yang bebas. "Jawab pertanyaanku Haruno." Ia melihat onyx memandangnya kesal. Tentu saja, siapa pun tidak ingin dipermainkan seperti ini.

Mengatakan benci. Benci. Namun melakukan hal seperti ini padanya. Apa sebenarnya motif gadis ini? untuk menjatuhkan Uchiha Sasuke dari peringkat pertamanya? Tidak mungkin. Untuk bermain-bermain? Mana mungkin, Sasuke tahu Haruno bukanlah orang yang tidak memikirkan sesuatu dua kali. Jadi, apa motif gadis ini?

"Apa motifmu Haruno?" pertanyaan dalam kepalanya terjawab ketika Sakura menarik napas dan mengangkat wajahnya, emerald menentang onyx tajam.

"Karena aku begitu membencimu. Karena kebencianku padamu membuat aku melakukan ini," Sasuke ingin mengatakan sesuatu, namun Sakura segera melanjutkan. "Alasan? Akan lebih baik kau tidak mengetahuinya—ia melirik sedikit kearah pintu yang sedikit terbuka lalu kembali menatap Uchiha— dan satu hal, aku tidak pernah menaruh perasaan apapun padamu, Uchiha. Ingat itu," ujarnya seraya melepas pegangan tangan Sasuke.

Gadis itu berbalik berjalan meninggalkannya menuju pintu keluar atap sekolah, meninggalkan Uchiha yang hanya terdiam melihat punggung gadis berambut merah muda itu dari belakang. Angin bertiup lembut, Sasuke membeku ditempat, tangannya tergerak menyentuh sudut bibirnya perlahan.

Baka. Betapa bodoh gadis itu, menciumnya tanpa mengetahui bahwa pemuda yang ia cium—sepihak— itu sudah lebih dulu memergoki-nya. Bahkan merasakan ciumannya. Dan bahkan lebih bodohnya lagi pemuda ini ikut menikmatinya dalam diam.

.

.

.

.

.

.

Langkah kakinya berjalan seperti dikejar setan, jalan ke kiri lalu ke kanan dan menubruk beberapa orang yang tengah berjalan di koridor seperti pemain Rugby. Sakura segera meminta maaf ketika langkah kesetanannya menabrak seorang siswa barusan. Ia berusaha untuk menghiraukan suara seseorang dari belakang yang memanggil namanya berulang-ulang.

Namun suara itu tidak putus asa membuat Sakura akhirnya berbalik juga. "Sakura… Hah..hah..hah.. Ada apa? Dikejar setan?" tanya Tenten tersengal-sengal, tak lama ia menarik napas lalu mengeluarkannya lamat-lamat.

Sakura tercekat sendiri. Ia menatapi Tenten seraya menggigit bibir bawahnya berusaha menahan depresi. Bahkan sempat terlintas, ingin sekali mencak-mencak lantaran frustrasi namun ke-aroganannya menyuruhnya untuk menyimpan itu semua dalam diam. Tenten yang sudah mendapatkan kembali separuh jiwanya segera memandang Sakura agak curiga.

Ia menaruh tangannya di pundak sang kawan, seraya menatap dengan raut wajah penuh kekhawatiran. "Sakura, ada apa? Kau sakit?"

Sakura cepat-cepat menggeleng lemah. "Tidak apa-apa, bukankah jam istirahat telah selesai? Kurasa kau juga harus cepat-cepat masuk ke kelas sekarang, atau Kakashi-sensei akan memarahi kita," suaranya terdengar tak stabil. Namun si pinky berusaha menutupi dengan tersenyum. Ia melepas tangan Tenten dari pundaknya dan menarik tangan itu berlalu pergi menuju kelas setelah mengucapkan 'Aku baik-baik saja' berulang-ulang kali. Tenten yang berlari di belakang hanya menatap punggung Sakura berusaha untuk tak curiga.

.

.

.

.

"Oi, Teme!" seru Naruto setengah berteriak. Mendengar si Dobe berteriak, Sai dan Suigetsu mengalihkan pandangan ke arah si Teme. Naruto masih nyengir, namun Sasuke menghiraukannya. Ia memilih men-dribble bola menuju tengah lapangan.

Sekali lemparan bola bundar itu melesak masuk ke dalam ring dengan sempurna. Beberapa siswi yang tengah berjalan di sebelah lapangan basket, segera terpesona melihatnya. Keren. Hebat. Tampan. Kawaii. Kyaaah… Naruto tahu betul apa yang di pikirkan cewek-cewek itu. Selalu sama. Bahkan ini termasuk yang biasa karena cewek-cewek itu masih bisa menahan diri untuk tidak berteriak memekakkan telinga.

Naruto bahkan masih ingat, ketika mereka memasuki tahun pelajaran pertama. Hampir semua senior mendatangi kelas hanya untuk bertemu Sasuke. Entah sekedar mengajak kenalan atau mengajak kencan. Bahkan sampai ada yang mengajak Sasuke menikah! Wawawa... Sasuke tidak perlu repot-repot mencari calon pengantin nantinya.

Lama-kelamaan fans Sasuke makin bertambah, tapi dalam bentuk yang tidak membahayakan jiwa. Itu semua dikarenakan Sasuke tidak pernah menanggapi mereka, cuek tanpa henti, wajah stoic-nya terus terpatri, ditambah juga oleh matanya yang tajam dan dingin. Mungkin karena itu pula lambat laun si bungsu Uchiha tidak pernah lagi dikejar oleh rentenir cinta. Walau sampai kini masih ada beberapa yang mati-matian mengejar-ngejarnya.

Ckckckck… Uzumaki Naruto geleng-geleng kepala.

Setelah merasa tak ada gunanya memikirkan Sasuke dalam batin sendiri, Naruto –cowok sangat hiperaktif itu akhirnya nyengir. Melihat begitu mudahnya sang captain memasukkan bola dari jarak sejauh ini. Ia berjalan mendekati Sasuke yang kini berdiri memegang bola basket tadi. "Oi Teme!" Naruto bersorak memanggilnya. Sai tersenyum. Suigetsu tertawa. Dan Sasuke kembali tak menghiraukannya.

#####

Sakura tak menyangka dirinya kini terjebak dari hal yang selama ini selalu ia takuti, dari hal yang selama ini tidak mungkin terjadi, dari hal yang selama ini selalu ia hindari, dari hal yang begitu ia benci. Dari hal yang… hah, ia benar-benar tak menyangka semua yang terjadi padanya, sekejap kilat berubah, dari awal hingga akhirnya sekarang. Ya, dari awal.

Bahkan bukan cuma dirinya. Tenten—sang teman karib pun tak menyangka akan menjadi seperti ini ketika ia melihat Haruno Sakura terus menundukkan kepalanya sepanjang jam sekolah.

Ini sangat aneh. Seorang Haruno Sakura menundukkan kepalanya ketika jam sekolah. Hello, itu tidak mungkin terjadi, kemana perginya gadis ambisius yang selama ini ia kenal? Gadis arrogant yang selalu menegakkan kepalanya dimana pun dirinya berada. Kemana perginya? Dunia benar-benar sudah berubah sekarang. Wew, apa ini salah satu tanda dunia akan kiamat? Mungkin juga.

Dan Uzumaki Naruto dapat melihat hal aneh lainnya terjadi pada kawan karibnya—Uchiha Sasuke, semenjak sabtu sore kemarin—tiga hari yang lalu— pemuda itu tidak seperti biasanya, ia terlihat seakan mendengus antara kesal dan… entahlah si Naruto tidak dapat menduga ekspresi apa yang Sasuke buat, yang jelas ekspresi layaknya seorang cowok yang sulit untuk mengungkapkan sesuatu kepada seorang cewek.

Tapi Uzumaki tidak yakin seorang Uchiha Sasuke sedang berpikir seperti yang ia pikir sekarang. Hello, seorang Uchiha Sasuke berpikir ia sulit untuk mengungkapkan isi hatinya kepada seorang cewek? Itu tidak mungkin terjadi. Kalau benar pasti dunia akan segera kiamat. Ya, karena apa yang dipikirkan Uzumaki barusan seakan salah satu tanda-tanda kiamat baginya.

Intinya, mereka berdua—Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura— sangat aneh sejak hari sabtu sore tiga hari yang lalu. Mereka sangat aneh sejak itu. Ya sangat aneh.

Maka dari itu pula, Tenten dan Naruto sengaja duduk di sudut kelas, sembari menatapi punggung kedua orang tersebut dari belakang—Sasuke terlihat—pura-pura sibuk dengan menatap papan tulis—yang sekarang tengah dipakai oleh Shizune-sensei— dan Sakura yang terlihat—juga pura-pura sibuk dengan selembar kertas dari guru piket hari ini di bangkunya.

Mereka tidak sadar akting yang mereka pakai tidak berhasil mengelabui mata Naruto dan Tenten.

Kedua orang ini menaikkan alisnya. Tenten melirik Naruto sekilas sebelum menatap punggung Sakura sekali lagi. "Naruto, menurutmu apa yang kita lakukan terlalu berlebihan?"

Naruto melirik Tenten sekilas sebelum menatap punggung Sasuke sekali lagi. "Hah? Yang kita lakukan terlalu berlebihan? Maksudnya?" cowok itu mengangakan mulutnya sebentar dan kemudian ia menaikkan alisnya dengan penuh pertanyaan.

Tenten mendengus. Baka sekali teman Uchiha ini. "Baka, maksudku adalah tentang ramalan itu," Tenten melirik sebentar ke depan—takut Sakura dan takut Shizune-sensei memarahinya— sebelum akhirnya mencondongkan tubuhnya ke telinga Naruto, ia mendekatkan kursi di belakang meja, mendekat ke cowok hyperactive di sampingnya.

"Ramalan bohongan itu. Ramalan yang sengaja kita buat agar kedua orang itu berhenti bertengkar dengan alasan yang tidak jelas yang terjadi diantara mereka itu," ia menjauh sedikit. "Kau juga sudah bosan melihat mereka bertengkar. Itu kan yang kau katakan sewaktu memberiku ide seperti ini?"

Ya, benar juga. Naruto hampir lupa tentang rahasia yang ia buat bersama dengan teman akrab Haruno Sakura tersebut. Sebuah rahasia yang diam-diam mereka buat dan mereka simpan hampir tiga minggu sejak ide awal 'Ramalan' itu berjalan.

Uzumaki Naruto berdeham, ia melirik punggung Uchiha Sasuke dan Shizune-sensei sebentar hingga akhirnya mata aquarium-nya menatap gadis bercepol dua di sampingnya. "Benar juga, apa ide ramalan bohongan itu berjalan lancar?"

Sebelum Tenten menjawab pertanyaan Naruto barusan, gadis itu terdiam, matanya terbelalak, tubuhnya membeku dan ia hanya bisa menganga ketika Haruno Sakura—seraya berkacak pinggang berdiri di belakang Naruto bersama mata zamrud-nya yang menyipit.

Tenten menelan ludah dan Naruto menaikkan alisnya, ia kelihatan tak sadar kenyataan bahwa, si Haruno tengah berdiri di belakang kursinya. Tenten mendengus. Dasar cowok baka.

Dan, oh Kami-sama. Setelah Naruto membalikkan badannya, barulah ia sadar mereka berada dalam bahaya.

.

.

.

.

.

Hari itu adalah hari pertama kalinya Uchiha Sasuke melihat gadis itu. Melihat rambut merah mudanya yang mencolok berkibar tertiup angin musim semi bersama kelopak-kelopak bunga sakura yang melewati ujung rambutnya. Ini musim semi pertama ketika ia memasuki sekolah menengah atas.

Seperti sekolah lainnya. Di hari pertama tentu saja adalah hari dimana terjadinya upacara penerimaan murid baru digelar. Upacara dimana seluruh murid baru mulai mengenal lingkungan sekolah, guru-guru dan teman-teman baru. Namun Uchiha Sasuke tak begitu mencari semua itu ketika ia memasuki sekolah ini, ia hanya ingin upacara penerimaan murid baru ini segera berakhir dan ia dapat segera pulang menuju rumah.

Maka dari itu. Pemuda itu berdiri di sana, di dinding belakang sekolah ketika ia melihat gadis bermata zamrud itu tertawa di bawah pohon sakura yang tengah bermekaran, bersama salah satu temannya, gadis itu tertawa lalu mendengus dan menggembungkan pipinya berkali-kali ketika ia melakukan kegiatan verbal bersama kawan karibnya itu.

Cowok ini mungkin masih akan menatapnya andai saja Uzumaki Naruto, Sai dan Suigetsu tidak menggangunya dengan sapaan verbal yang menyakitkan telinga. "Oi Teme! Cepat ke aula sebentar lagi upacara penerimaan siswa akan dimulai."

Uchiha Sasuke tidak ingin membalikkan badan ketika Naruto mencoba memanggilnya berulang-ulang kali.

Dengan satu alasan yang mujarab. Ia masih ingin terus menatap bunga 'sakura' di depannya.

.

.

Tik. Tik. Tik.

Bunyi jam di sebuah meja berhasil membangunkannya.

Uchiha Sasuke mematikan jam tersebut dengan menekan tangannya ke kepala jam, ia menyandarkan tubuhnya ke bantal sembari melihat kearah jendela yang masih tertutupi kain korden berwarna biru tua. Tidak perlu melirik, si bungsu Uchiha sudah tahu jam berapa sekarang. Jam enam pagi setiap harinya ia membuka mata di pagi hari.

Ia beringsut dari kasur, menarik korden sembari membuka jendela kamarnya dan berjalan keluar kamar menuju lantai bawah, tepatnya kamar mandi.

Pagi hari ini kelihatan baik, langit cerah tampak bermain dengan awan-awan putih di atas sana. Angin musim semi berhasil membuat kelopak-kelopak bunga sakura yang masih setia dengan pohonnya terjatuh tertiup angin. Dan kelopak bunga sakura barusan berhasil melewati punggungnya—Uchiha Sasuke berjalan seraya membawa tas olahraganya—yang di dalamnya terdapat tas sekolah— menuju arah Seiko Gakuen.

Ia masih memakai baju sekolah bersama dasi dalam tampilan entah berada dimana, celana panjang kotak-kotak berwarna biru tua itu pun tampak tak sempurna lantaran tali pinggangnya yang tidak terpasang rapi.

Seperti biasanya ketika dirinya masih berada di sekolah menengah pertama, cowok ini selalu bangun pagi untuk memonopoli lapangan basket di pagi hari. Dan sekarang setelah lima hari ia memasuki Seiko Gakuen, si bungsu Uchiha kembali melakukan hal yang sama, yaitu memonopoli lapangan basket untuk latihan—tenang—nya sendiri.

Pemuda itu berjalan menuju gerbang sekolah, beberapa murid sudah terlihat di berjalan memasuki gerbang dan beberapa terlihat masih betah mengobrol dengan teman-temannya di depan gerbang.

Lalu ketika ia berjalan menuju lapangan basket, pemuda itu kembali melihatnya.

Melihat seorang gadis berambut merah muda dengan mata zamrud tengah berjongkok tanpa menghadap Sasuke, tepat di depan pohon sakura di tempat sebelumnya. Sasuke menaikkan alisnya, hingga akhirnya ia memilih berhenti berjalan dan menyandarkan tubuhnya—lagi— ke dinding belakang sekolah.

Gadis ini. Bukankah ia, gadis yang menatapinya dengan pandangan benci ketika upacara penerimaan murid baru di aula?

Ia tahu nama gadis ini.

Haruno Sakura, seorang cewek yang mendapatkan peringkat kedua murid terpintar di sekolah. Seorang cewek yang duduk di sudut belakang jauh dari kursinya—dengan pandangan benci yang selalu menusuk punggung Uchiha. Dan seorang cewek yang sama berada di depan pohon sakura dua hari yang lalu.

Lalu sedang apa dia berjongkok membelakangi jalan?

Seakan mendengar ucapan batin Uchiha, Haruno berdiri, menepuk-nepuk rok kotak-kotak biru tuanya dari debu dan mengambil tas sekolahnya—yang ia taruh di bawah. Ia seakan tersenyum sebentar sebelum akhirnya berbalik—tanpa sadar dan melihat Sasuke— ia menuju ke arah kelas.

Si bungsu Uchiha masih menyandarkan tubuhnya ke dinding seraya menatap punggung Sakura yang berlalu pergi. Cowok itu kemudian melirik ke bawah pohon sakura—tempat gadis itu berjongkok tadi.

Seekor kucing berwarna putih tengah duduk di sana sembari memakan sebuah roti melon yang bungkusnya dijadikan wadah makan untuknya.

Uchiha tertegun. Kucing itu. Gadis itu.

Pemuda tersebut terdiam, ia lalu melihat kelopak-kelopak bunga sakura kembali berjatuhan setelah angin musim semi kembali menerpa. Sejak saat itu, tanpa ia sadari. Dirinya begitu terhipnotis untuk melihat sang bunga sakura setiap hari. Ya, mungkin cara yang ia gunakan untuk terus melihat bunga tersebut terkesan sangat aneh. Begitu aneh.

Sasuke tidak peduli, ia masih ingin melihat bunga sakura tersebut bahkan ketika musim bunga itu belum datang.

"Huh? Sasuke kau sakit?" Sai melirik pemuda itu, wajahnya pucat ketika pemuda bernama Sai itu melihatnya tengah melamun dengan mata menatap papan tulis. Sasuke menghela napas. lagi-lagi dirinya melamun, melamunkan hal yang terjadi setahun yang lalu, terus hal yang sama. Bahkan beberapa hari yang lalu ia juga melamunkan hal yang sama—hal yang terjadi setahun yang lalu. Hal sama. Hal bodoh itu.

Sasuke menatapnya sebelum onyxnya melirik sekeliling ruangan kelas sejenak. Hanya terlihat beberapa orang dalam kelas termasuk dirinya dan salah satu kawan karibnya—Sai. Uchiha itu pun membuka suara dengan bertanya. "Kemana yang lain? Dan kemana si Dobe?"

Sai tersenyum dengan senyuman andalannya seraya menarik salah satu bangku di sebelah si pemilik raven, dan duduk di sana. "Ini sudah jam istirahat, Uchiha," ujarnya. Sasuke menatap papan tulis kembali, sepertinya ia benar-benar terlalu lama melamun seharian ini.

####

Uzumaki Naruto dan Tenten dapat melihat semuanya dengan jelas, mereka dapat melihat bagaimana mata zamrud Haruno Sakura menyipit kesal dengan sukses. Bagaimana rambut merah muda itu berkibar tertiup angin penuh kemarahan dan bagaimana tangan gadis itu terkepal bersama sarat emosi yang tinggi. Hiiih. Gadis itu begitu menakutkan.

Mereka pasti akan mati. Akan mati. Tentu saja, kau tidak lihat betapa marahnya gadis ini sekarang. Tatapan matanya bahkan mengalahkan tajamnya pisau dapur yang sering dipakai Uzumaki Kushina—ibu Naruto—ketika ia akan memasak di dapur. Tatapan menyayat, mengerikan.

Tadi Naruto dan Tenten menelan ludah ketika si Haruno menarik dan membawa mereka ke atap sekolah. Mereka masih menelan ludah bahkan sampai sekarang.

Sakura berdiri di depan mereka sebelum akhirnya ia mengepalkan tangannya makin kuat. "Jadi kalian semua yang—"

Sebelum ucapan itu selesai, Tenten segera menunjuk Naruto melalui jari telunjuknya. "Ah, Gomen Sakura. Tapi kau harus tahu, Naruto duluanlah yang punya ide," ia melihat Naruto yang sekarang menatapnya dengan tampang cengoh.

Uzumaki pun tidak mau kalah, ia angkat bicara, mencoba membela diri. "Itu memang benar, Sakura-chan, tapi Tenten lah yang kemudian merencanakan semuanya," kali ini Naruto yang melihat Tenten tampak menatapnya dengan ekspresi yang sama digunakan Naruto tadi. 'Apa-apaan?' tatapan gadis bercepol dua itu terlihat demikian. Dan Naruto kemudian mendengus.

Kedua orang itu saling menatap kesal sebelum akhirnya mereka melihat Haruno menundukkan wajahnya.

Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa bersalah. "Gomen Sakura-chan, kami tahu apa yang kami lakukan memang salah, tapi kau dan Teme seharusnya bisa berteman lebih baik setelah ini, itulah yang kami pikirkan ketika membuat ide semacam ini." Tenten di sebelah Naruto ikut mengangguk. Naruto melanjutkan. "Setidaknya, bila kalian memang masih saling membenci, aku dan Tenten berpikir bahwa kau tidak mungkin mau mengikuti ide aneh itu jadi—"

Sebelum sempat kata-kata Uzumaki Naruto beres, Sakura menggertakkan giginya. Tenten menelan ludah.

Tangan gadis itu terkepal. "Bodoh, kalian pikir apa yang sudah kalian lakukan?" Sakura hampir membentak, wajahnya memerah lantaran geram. Ia bahkan tidak peduli dengan tatapan bingung beberapa orang yang baru memasuki atap sekolah. Seraya mengacak-acak rambutnya dengan frustasi, Naruto dan Tenten mendengar kata-kata Sakura selanjutnya setelah gadis itu tersenyum kecut kemudian. "Benar sekali. Kalian berhasil. Kalian berhasil membuat aku mencium Uchiha Sasuke. Puas? Kalian puas?"

Gadis itu menunduk lagi. Dirinya begitu bodoh. Sangat bodoh karena sekarang bisa-bisanya otaknya berpikir.

Ramalan bodoh seperti itu, nyata.

Begitu bodohnya sampai bisa-bisanya ia mencium Uchiha tanpa berpikir panjang.

Betapa bodohnya hingga akhirnya sekarang ia tidak bisa berhenti memikirkan seorang Uchiha Sasuke.

Dan sungguh bodoh ketika jantungnya berdebar-debar, saat ia tanpa sengaja bertemu pemuda itu.

Dan— Kuso!

Lihat, betapa bodohnya dirinya.

.

.

.

.

.

.

A/N; Huwaah… ternyata-ternyata bikin fic multichapter itu susah banget. Banyak banget yang harus dipikirin. Mikirin bagaimana supaya alur ceritanya enggak melenceng, mikirin supaya karakternya enggak ooc —walau ooc juga terakhirnya =_=— mikirin gimana supaya bisa di-update lebih cepat. Dan masih banyak lagi yang harus dipikirin. Repot habis. *curcol—plaaak—*

Syukur, setidaknya fic ini akan complete juga di chapter depan. T_T Haaaah~

Okelah, tanpa banyak berbasa-basi lagi. Saya ucapkan terima kasih banyak untuk semua yang sudah merepiu atau sekedar lewat di fic saya ini XDDD Arigatou!

Review please :D