Selamat membaca.

Here We Go.

Disclaimer : Naruto milik Kishimoto sensei

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Genre : Hurt comfort, Romance, Family

Warning : OOC, gender switch, typo (s), alur cerita cepat, tema pasaran

Note : dilarang copy paste sebagian ataupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!

My Love

Chapter 4 : Painful Truth

By : Fuyutsuki Hikari

Mobil Rolls Royce hitam yang ditumpangi kedua Uchiha itu terus melaju menembus pekatnya malam. Perjalanan pulang dari Otto ke Konoha terasa sangat panjang bagi Sasuke.

'Kenapa aku terus kepikiran si Dobe?' pikir Sasuke mengernyit heran. 'Hmmm... lebih baik aku menghubungi dia saja, daripada kepikiran terus seperti ini.' Pikirnya lagi, kemudian dia mengambil handphone yang disimpan di dalam saku jas suit hitam sebelah kanannya. Sasuke memejamkan mata, kepalanya bersandar pada jok kursi mobil, tangan kanan memijit ringan keningnya, sementara tangan yang lain memegangi handphone di telinga.

Sasuke kembali mengernyitkan kening saat mendapati nomor handphone Naruto sedang tidak aktif. Ia mengacak-acak rambutnya frustasi. "Ck, dasar Dobe! Dia pasti lupa mencharge handphonenya lagi." Gerutu Sasuke sebal.

Itachi tersenyum simpul, memperhatikan kelakuan adik satu-satunya itu dengan sudut matanya, seakan tidak percaya akan penglihatannya. 'Ternyata Sasuke bisa seperti ini juga.' Sebenarnya Itachi ingin tertawa terbahak-bahak melihat Sasuke seperti ini, tapi seperti keluarga Uchiha yang lainnya dia bisa menyembunyikan emosinya dengan baik.

Akhirnya Sasuke dan Itachi sampai di kediaman mereka menjelang pukul dua dini hari. Hari ini sangat melelahkan bagi Sasuke, yang masih belum terbiasa dengan jadwal padat seperti ini. Sekarang yang di inginkan Sasuke adalah, mandi cepat, berganti pakaian dan pergi tidur.

.

.

.

Keesokan paginya Sasuke segera bersiap-siap, mandi dan memakai seragam untuk pergi ke sekolah.

Panggilan kaa-sannya untuk sarapan bersama tidak dihiraukannya. Mikoto Uchiha hanya dapat mengeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan putera bungsunya tersebut.

Sasuke sambar anak kunci mobil di atas meja, samping kanan pintu masuk dan melangkah keluar dari kediamannya. Dengan segera dia hidupkan mesin mobil Jeepnya dan melaju pergi.

Alih-alih ke jalan menuju sekolah, ia malah melaju kearah berlawanan menuju apartement Naruto berada. Permintaan Karin untuk pergi ke sekolah bersama, ditolak Sasuke dengan halus pagi ini. Dengan alasan, dia harus pergi ke suatu tempat terlebih dahulu.

Dan di sinilah Sasuke sekarang berada, tepat di depan pintu apartemen Naruto yang sederhana di lantai lima. 'Kuharap Naruto masih ada dirumah sekarang.' Doanya dalam hati. Sasuke menekan bel pintu apartemen itu. Ditunggunya beberapa saat tapi tidak ada jawaban dari dalam.

Sasuke mulai menekan bel lagi bahkan hingga berkali-kali, tapi tetap tidak ada jawaban, hingga membuat kesabarannya habis. "Apa dia sudah pergi sekolah? Tapi sekarang masih jam tujuh pagi." Sasuke bergumam pelan sambil melirik jam tangannya.

Pria muda itu pun mulai menggedor-gedor pintu apartemen Naruto dengan keras, tapi hasilnya masih sama. Sasuke merogoh saku celana seragamnya untuk mengambil telepon genggamnya. Ia menekan nomor telepon genggam Naruto dan menghubunginya. Lagi-lagi yang didapatinya hanyalah jawaban dari mesin suara. Mengatakan bahwa nomor yang dia tuju sedang tidak aktif.

"Apa-apaan ini, mengapa sulit sekali untuk menghubungimu, Dobe?" Sasuke mulai gusar, mencium ada keanehan di sini.

Akhirnya dia memutuskan untuk pergi menuju sekolah, berharap jika Naruto sudah ada disana. Baru saja Sasuke hendak untuk beranjak pergi, tiba-tiba saja ada seseorang yang menepuk punggungnya.

Sasuke terlonjak kaget, wajahnya menoleh ke belakang untuk melihat orang yang sudah berani mengagetkannya.

"Sedang apa kamu berdiri di sini?" tanya seorang pria, kira-kira berumur tiga puluh tahun, dengan bekas luka melintang di atas hidungnya."Apa kamu mencari Naruto?" tanyanya lagi saat tidak mendapat jawaban dari pemuda yang ditanyanya.

"Hn."

"Kalau kamu mencari Naruto, kamu datang terlambat. Dia sudah pindah kemarin pagi."

"Apa maksud anda Naruto pindah? Memangnya dia pindah kemana?"

Pria itu mengangkat bahu. "Aku tidak tahu. Jika dia tidak memberitahumu tentang kepindahannya, mungkin dia memang tidak ingin kamu tahu dia pindah kemana!" jawabnya datar, dan berlalu pergi, masuk ke dalam pintu apartemen yang letaknya persis di samping kanan pintu apartemen Naruto.

Perkataan pria ini membuat perasaan Sasuke sedikit terluka, apa memang benar begitu? Apa memang Naruto tidak menginginkan aku tahu tentang kepergiannya? Pikiran itu terus berkecamuk di kepala Sasuke, memikirkan segala kemungkinan yang ada. Tapi tidak mungkin Naruto pergi tanpa memberitahuku, bagaimanapun aku ini sahabatnya, dia pasti merundingkan segala sesuatu denganku, apalagi untuk hal penting seperti ini. Pikirnya kalut.

Sasuke kembali ke mobil Jeepnya, menutup pintu mobil dengan membantingnya cukup keras, menghidupkan mesin mobil dan melaju menuju sekolah.

Kedatangan Sasuke di kelas, langsung disambut Karin. Dia mengalungkan kedua lengannya di leher Sasuke dan berusaha mencium bibir Sasuke.

Alih-alih menyambut bibir Karin, Sasuke malah mengedarkan pandangannya ke dalam kelas, untuk mencari Kiba cs, juga Sakura dkk.

Sikap dingin Sasuke ini tentu tidak luput dari perhatian Karin, 'aneh biasanya Sasuke akan langsung menyambut ciumanku dan membalasnya.' Karin menatap Sasuke tak percaya.

'Biasanya si Dobe bersama mereka, kalau sedang tidak denganku.' Pikir Sasuke. Ia melepaskan diri dari pelukan Karin dan berjalan menuju meja Kiba.

'Ada apa dengan Sasuke?' Karin semakin bingung. Ia tidak bisa menutupi kekesalannya karena merasa tidak dianggap oleh Sasuke, dia pun keluar kelas dengan wajah merah karena marah. "Apa sih

hal yang lebih penting daripada aku?" gerutunya kesal.

Kiba sedang berbicara dengan Lee saat ini, hanya terdengar sura-suara lirih dari keduanya. Ini aneh pikir Sasuke, biasanya Kiba dan Lee menjadi orang paling ribut di pagi hari. Sasuke melirik ke arah meja Shikamaru, yang terjaga. Ada apa dengan Shikamaru? Ajaib rasanya bila melihat Shikamaru terjaga saat ada di dalam kelas.

Hal-hal yang tidak biasa ini menambah kegelisahan pada diri Sasuke, kegelisahan yang memang sudah ada sejak dirinya masih berada di Otto.

"Kiba, apa kamu melihat Naruto? Aku mencarinya dari tadi, tapi tidak bisa menemukannya." Tanya Sasuke.

Pertanyaan Sasuke itu kontan membuat suasana kelas hening seketika. Kiba menoleh menatap Sasuke, bisa dilihat jelas ada kilat amarah dimatanya. Kiba menjawab dengan sinis. "Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan Naruto, Sasuke? Bosan bermain-main dengan Karin, hah?"

Lee menunduk dan memilin-milin jari-jarinya, merasakan ketegangan yang terpancar dari Sasuke dan Kiba saat ini.

"Apa masalahmu Kiba? Aku hanya bertanya padamu, langsung jawab saja, lihat atau tidak?" desis Sasuke tajam.

"Pertanyaanmu itu sudah terlambat Sasuke, Naruto sudah pergi. Dan jangan tanya kemana, karena sampai mati pun aku tidak akan pernah memberitahumu. Sebaiknya kamu cari kekasihmu, siapa tahu saat ini dia sedang bercumbu dengan laki-laki lain di belakang gedung olahraga!" Bentak Kiba, yang saat ini sudah berdiri berhadapan dengan Sasuke.

Sasuke sudah tidak bisa menahan emosinya, tanpa aba-aba dia meninju wajah Kiba, hingga membuat pemuda itu jatuh tersungkur dan sontak membuat murid yang lain kaget, melihat Sasuke yang tidak bisa menahan emosinya.

Darah mengalir dari sudut kiri mulut Kiba. Dilapnya darah itu dengan pungung tangan kanan dengan kasar. Lee membantu Kiba berdiri, dan kini yang ada dihadapan Sasuke adalah Shikamaru.

"Sebenarnya apa yang sudah dilakukan Karin, hingga membutakan matamu seperti ini, Sasuke?" tanya Shikamaru lirih.

Sasuke hanya diam dan mengepalkan tangannya. "Mungkin saat ini kamu masih tidak bisa menerima pembicaraan buruk dari yang lain tentang kelakuan Karin di belakangmu. Tapi sayangnya Sasuke, itu kenyataan. Karin bermain curang di belakangmu, dia juga benar-benar mengontrolmu hingga menjauhkanmu dari yang lain, bahkan menjauhkanmu dai Naruto, dari sahabatmu sendiri. Itupun jika memang kamu menganggap Naruto sebagai sahabatmu. Sekarang ini Naruto sudah pergi, yang kami tahu Naruto pergi ke Inggris, tepatnya dimana, tidak ada satu pun dari kami yang tahu." Jelas Shikamaru panjang lebar.

Sasuke mendengar penjelasan Shikamaru dengan tidak percaya. "Tidak mungkin!" gumamnya. "Karin tidak mungkin mengkhianatiku dan Naruto, dia tidak mungkin meninggalkanku." Sasuke mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas, memandang wajah teman-temannya satu persatu dan bertanya lagi untuk meyakinkan dirinya. "Apa benar Naruto pergi?"

Tidak ada satupun yang menjawab pertanyaannya. Sasuke bisa melihat Hinata yang terisak kecil di samping Neji, begitu juga dengan Ino, Sakura dan Tenten yang mulai mengeluarkan isakan-isakan kecil, air mata jatuh dari kedua sudut mata mereka.

Neji mencoba menenangkan Hinata, ia menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Kiba dan Lee sudah kembali duduk di bangkunya masing-masing. Chouji, menyimpan chips nya di atas meja dan memandang makana ringan itu malas.

Pandangan Sasuke kembali beralih ke Shikamaru, mencoba mencari setitik saja tanda kebohongan di wajahnya, tapi nihil. Tidak ada kebohongan di wajah Shikamaru. 'Shikamaru adalah tipe orang yang tidak ingin terlibat dalam masalah, jadi tidak mungkin dia berbohong'. Pikir Sasuke. 'Tapi Naruto pergi tanpa mengatakan apa-apa padaku itu lebih tidak mungkin!'

Sasuke mencoba untuk meyakinkan dirinya lagi, mengatakan pada dirinya bahwa teman-temannya saat ini sedang mengerjainya.

Shikamaru menepuk pundak Sasuke dan membiarkan tanggannya berada di pundak Sasuke untuk beberapa saat, lalu ia berkata lirih. "Naruto sudah pergi kemarin pagi. Dia juga tidak mengijinkan kami untuk mengantarnya pergi. Naruto menghubungi Sakura saat dia akan masuk pesawat."

Sasuke menatapnya tidak percaya. Entah kenapa, mengetahui Naruto pergi membuat hatinya terasa sakit, lebih sakit daripada saat Kiba mengatakan bahwa Karin selingkuh di belakangnya. Seakan-akan ada benda tajam yang menghunus hati Sasuke begitu dalam.

Ia bisa merasakan sesak di dadanya. Emosi yang tidak pernah ada dalam dirinya tiba-tiba menyeruak keluar dari dasar hatinya.

Sasuke pun pergi keluar kelas, untuk mencari Karin. Mencoba mencari kebenaran dari perkataan teman-temannya. Tidak perlu waktu yang lama bagi Sasuke untuk menemukan Karin. Ternyata benar, saat ini Karin sedang mencium mesra seorang laki-laki,yang seingat Sasuke bernama Kabuto. Sasuke memicingkan mata, mengatupkan gigi untuk menahan emosi yang mulai muncul, dengan perlahan ia menghampiri Karin dan Kabuto.

Karin masih asyik mencium Kabuto, bisa dilihat dengan jelas oleh Sasuke jika tangan kanan Kabuto menyusup ke dalam kemeja sekolah Karin, hingga membuat Karin mendesah.

"Apa kamu sudah puas, Karin?" suara datarSasuke yang tanpa emosi berhasil menghentikan aktifitas Karin dan Kabuto.

Karin membelakakan bola matanya, horor. 'Kenapa Sasuke bisa ada di sin.i?' Karin menatap Sasuke dengan tatapan takut dan mencoba sedapat mungkin untuk merapihkan kemeja dan roknya yang berantakan.

Sedangkan Kabuto, dia hanya menyeringai licik, memandang Sasuke dengan lengan dilipat di dadanya.

"Sas, ini tidak seperti yang kamu lihat." Karin mencoba meraih lengan Sasuke, yang langsung ditepis oleh Sasuke dengan kasar.

"Kamu tidak perlu menjelaskan apapun, mulai sekarang jangan pernah berada didekatku lagi. Atau kamu dan dia akan menyesal." Ancam Sasuke, ancaman Sasuke tidak pernah main-main.

Sasuke menatap tajam ke arah Kabuto untuk terakhir kali sebelum beranjak pergi. Meninggalkan Karin yang mulai menangis menjadi-jadi, berteriak meminta untuk dimaafkan.

Sebenarnya ingin rasanya Sasuke untuk menghancurkan senyum licik Kabuto, tapi rasanya terlalu bagus untuk Karin jika dia harus berkelahi hanya karenanya.

Sasuke memutuskan untuk tidak kembali ke kelas, saat ini dia berjalan ke belakang gedung utama. Dia berjalan di jalan setapak yang diapit oleh deretan pohon sakura yang berjejer rapih. Angin bertiup membawa hawa dingin yang menerpa diri Sasuke, tapi perasaan Sasuke kini lebih dingin daripada angin yang bertiup.

Bulir-bulir air mata mulai jatuh membasahi pipi pucatnya, air mata pertama yang dia jatuhkan untuk orang lain. Tanpa Sasuke sadari, Shikamaru yang berdiri tidak jauh dari tempatnya dapat dengan jelas melihat air matanya.

Shikamaru memang khawatir dengan keadaannya, hingga mengikutinya keluar kelas, mendengarkan pertengkarannya dengan Karin dan berakhir melihat Sasuke menangis.

Bisikan lirih Sasuke masih bisa di dengar dengan samar oleh Shikamaru saat ini. "Dobe, jika saja aku selangkah lebih cepat, apakah mungkin aku tetap bisa memilikimu di sampingku? Tetapi sayangnya, langkahku selangkah lebih lambat. Saat aku sadar, ternyata kamu telah pergi jauh."

Sasuke tersenyum miris menatap langit cerah di atasnya. "Inikah hukumanmu padaku, karena aku dengan egoisnya melontarkan tuduhan yang tidak kamu lakukan? Hukuman untuk ketidakpercayaanku padamu, hukuman karena aku menyakitimu, hukuman karena telah membuatmu menangis, hukuman untuk kebodohanku yang terjerat pada wanita itu, hukuman karena telah menghancurkan persahabatan kita? Yang tanpa kusadari, aku membuatmu menangis. Tanpa kata kamu pergi dariku, sebegitu sakitnyakah hatimu, Naruto?Dimana, kamu ada dimana sekarang? Dapatkah kamu memaafkanku? Maafkan, tolong maafkan aku. Aku benar-benar menyesal. Naruto, bisakah kamu mendengar penyesalanku yang terlambat ini?"

Sasuke masih menatap lurus langit yang biru tak berawan. 'Semuanya di sini masih sama. Yang berbeda kini, adalah kamu tidak ada di sampingku.' Pikirnya sedih.

.

.

.

TBC