Naruto tetap punya Masashi Kishimoto-sensei.
YOHOOOOOOOOOOOOOOOO~
Hai, semuanya. Maaf lama update dan terima kasih masih setia baca cerita yang nggak jelas ini. Hehe.
Terima kasih juga sudah berkomentar, mengikuti, dan menyukai cerita ini. Sumpah, aku senang sekali membaca komentar-komentar kalian semua!
Yowis lah, langsung saja.
Cepter for.
Sasori masih menunggu penjelasan adiknya yang nakal ini. Gimana dia nggak mau marah, tadi pagi sebelum berangkat ke sekolah itu Sakura sudah diberi wejangan bahwa nanti akan dijemput olehnya. Jarang-jarang kan Sasori mau seperti ini, mengingat kesibukannya menjadi pilot yang jam terbangnya selalu banyak dengan rasio terbang melintasi tropopause lebih banyak dibandingkan berpijak pada tanah. Tuh Sakura, kau yang salah. Memangnya kau nggak mau quality time bersama kakakmu?
"E-eh, begin-"
"Nggak ada kata begini-begitu. Kau tetap salah karena nggak ngabarin Kakak dan malah keluyuran nggak jelas."
"Tap-" Protes Sakura.
"Masih berani nyari alasan lagi?" Haduh, Sakura bisa dihabisi ini.
"Kak dengerin dul-"
"Kau tahu, Kakak hampir lapor polisi karena takut kau kenapa-kenapa."
"Jangan-jangan kamu nyoba hal yang tidak-tidak, ya? Sekarang kamu ngaku lagi ada di klub mana."
"...ish." Muka Sakura tertekuk.
Maaf Sakura, saya nggak bisa bantuin kamu.
Merasa sedikit kasihan, Fugaku melirik dan memberi kode Sakura untuk mengoper ponselnya dan direspon baik. Untung Sakura peka dan menyerahkan barang yang diminta oleh Kepala sukunya yang terhormat ini. Tumben mau ngebantuin, Pak. Apa nanti ada embel-embelnya?
"... Sak-"
"Halo?"
Dari sambungan sana, pasti Sasori bingung kenapa suara Sakura berubah jadi maskulin seperti ini. "Lho, ini siapa?"
"Arsène Lupin, Kak. Mau minta uang tebusan katanya." Fugaku mendelik. Mau dibantuin nggak, sih?
"Apa-apaan? Jangan minta uang tebusan ke saya, Sakura makannya banyak mending di-"
"Sakura ada sama saya, Haruno. Ini saya P-Man." Hadeuh, ngaco. "Berenti ngoceh-ngoceh, pusing saya dengarnya."
"E-eh? Fugaku-san?"
"Sakura tadi saya pungut di kolong jembatan. Saya nggak mau adopsi, jadi saya balikin aja ya?"
Shannaro!
"Buang aja, Pak. Saya juga nggak mau." Balas Sasori.
Sama-sama ngeselin.
.
.
.
.
.
.
Karena nggak jadi dibuang, Sakura tetap dipulangkan ke habitatnya dengan selamat. Fugaku memilih hanya menurunkan satwa liar tersebut, dan kembali ke rumah sakit setelah Sakura mengucapkan terima kasih karena sudah diantar. Bagus, pertahankan etika itu. Namun, yang jadi masalah saat ini, Sakura nggak diperbolehkan untuk mandi dan bersih-bersih sebentar. Bahkan seingat saya, makan terakhirnya hanya pas jam istirahat sekolah. Itupun termasuk jam 9, bukan jam makan siang.
Sasori bersidekap dengan mata yang masih mengintimidasi. Saat ini mereka duduk berhadapan di sofa ruang keluarga milik Haruno. Wah, permisi... saya ingin lihat-lihat sebentar. Nampaknya keluarga Haruno ini pecinta hal-hal yang minimalis, terlihat dari struktur bangunan dan penempatan prabotan rumah yang simple serta tidak banyak ornamen yang rumit. Pfft, apa itu foto Sakura dan Sasori? Keduanya yang masih kecil hanya memakai popok dan bergaya seperti superhero. AHAHAHA. Dan itu dicetak dengan ukuran 30R, sangat besar untuk ukuran foto aib keluarga.
"Tadi sudah bilang makasih?"
"Ke siapa?"
Mata Sasori menyipit, "Fugaku-san."
"Sudah..."
"Bagus."
Duh, auranya masih nggak enak. Sakura sih...
"Ara, Sakura-chan?"
"Kakek!" Seru Sakura dan berhamburan ke pelukan Kakeknya. Akhirnya, bantuan datang...cepat bilang terima kasih kepada saya!
Jiraiya, yang juga baru pulang ini sedikit bingung dengan aura yang terjadi pada kedua cucunya ini sebelum dia memanggil Sakura. Merasa ada yang tidak beres melihat ekspresi Sasori yang masih jutek dan mengintimidasi adiknya, akhirnya Jiraiya menggiring Sakura dan dirinya untuk duduk di sofa.
"Ada masalah apa, Sasori?"
Sasori berdecak, "Sakura nakal, Kek."
"Karena aku belum makan, Kek." balas Sakura tidak nyambung.
Jiraiya terkekeh pelan, dan mengelus rambut cucu merah mudanya ini.
"Aku sudah bilang tadi pagi, ingin jemput dia." Sasori menuding adiknya, "Tapi, dia sendiri malah keluyuran dan tidak mengabariku apa-apa."
"Lalu?"
"Aku kan panik, kenapa dia nggak muncul-muncul waktu kujemput. Tidak ngasih kabar, telpon juga tidak diangkat. Meskipun tidak ada orang yang mau menculik dia, tapi aku juga tetap khawatir..." Keluh Sasori, "Waktu dia akhirnya angkat telpon, dia malah beralasan ini-itu."
Sakura menyahut, "Kakak sendiri yang nggak mau dengar penjelasanku. Kakek, aku lapar." diakhiri dengan rengekan.
"Itu karena kau nakal."
"Tapi kan aku pulang dengan selamat diantar sama Kepala suku."
"Iya, tapi kau belum menjelaskan kenapa bisa bersama Fugaku-san."
Sakura cemberut, "Daritadi juga aku ingin menjelaskan, tapi Kakak sendiri yang malah mengintimidasi dan melotot-melotot. Sebenarnya pekerjaan Kakak ini pilot atau pengacara?"
"Tsk. Lihat kan, Kek?"
Jiraiya tersenyum maklum, "Kalian berdua ini intinya saling menyayangi. Tapi Sakura-chan salah, kakakmu ini benar-benar khawatir karena nggak dapat kabar darimu."
Sakura merundukkan kepalanya, "Maaf..."
"Sasori juga salah, karena kau terlalu keras kepala dan nggak mau mendengarkan penjelasan adikmu." Ah, adem sekali nasihat orang tua berambut uban panjang ini.
Sasori cemberut, "Aku khawatir."
"Khawatir boleh, tapi egomu jangan jadi batu." terlihat Sasori ingin protes, "Sudah-sudah. Karena Kakek dan Sakura-chan butuh asupan makanan untuk hidup, bagaimana kalau kita dengar penjelasan adikmu ini sembari makan malam, hm?"
.
.
.
.
.
.
Setelah menghabiskan tiga mangkuk nasi dan dua porsi ramen instan, perut Sakura membuncit dan dia duduk menyender di sofa ruang tengah. Ah, apaboleh buat mereka makan malam dengan ramen instan dan nasi karena Ayumi sudah pulang ke rumahnya. Kakaknya yang sedang menyeruput kuah ramennya juga sudah tenang, Sakura sudah menjelaskannya dengan bahasa manusia yang mudah dimengerti. Sementara Kakeknya yang sudah selesai makan seperti dirinya, sedang sibuk menggonta-ganti channel televisi ingin nonton Timmy Time katanya. Biasanya ada di Disney Channel, Kek.
Drrt. Drrt.
Ponsel Sakura bergetar di atas meja, sepertinya kau juga belum mengabari pacarmu hm? Dan Sakura mengambilnya dengan ogah-ogahan. Ck, anak zaman sekarang memang pamalas.
Sasuke-kun: Sudah sampai rumah?
Sakura menepuk jidatnya, yang ini juga lupa dikabari. Nah, kan, kubilang juga apa.
Sakura: Ya, tanpa kekurangan sesuatu apapun.
Sasuke-kun: Bagus. Sudah makan? Aku lupa memberimu makan untuk tumbuh.
Sakura tertawa.
Sakura: Kau memang tidak berbakat mengurus tamagotchi.
Sasuke-kun: Masa? Ah, ya. Aku juga lupa bilang tadi Sasori mencarimu. Sampai saat ini aku belum membalas chat-nya. Lupa.
Kali ini Sakura manyun, dan mengetik balasan dengan cepat.
Sakura: Kau harus segera membalasnya, Sasuke-kun. Tadi satwanya ngamuk, tapi sekarang sudah jinak dan aman. Bagaimana keadaan Mikoto-san?
Sasuke-kun: Masih tidur. Itachi-nii dan tunangannya sudah pulang.
Sakura: Besok kau bolos?
Sasuke-kun: Ya, Ayah tidak mau cuti. Banyak anak nakal yang harus dibasmi.
Sakura: Kepala suku memang tidak ada duanya.
Sasuke-kun: Tenang saja, kau tetap masih menjadi murid nakal favoritnya. Sudah tidur sana, jangan lupa besok ulangan Fisika.
Shit. Kenapa kau bilang, Sasuke?
Sakura: Oh, sial, aku lupa! Tahu darimana?
Sasuke-kun: Tadi lihat instastory Ino. Jaa, ne. Ganbatte.
Yah, apa boleh buat. Selamat begadang, Haruno.
tbc.
