For ES21 Awards: Kasih Sayang. Rice Bowl, turnamen dua tahunan tingkat universitas sudah di depan mata. Ini kesempatan pertama dan terakhir bagi Hiruma untuk memenangkan turnamen ini bersama timnya. 'Bisakah aku ikut tim kalian?' / 'Apakah mungkin dia adalah...'


Disclaimer for Inagaki Riichirō & Murata Yūsuke

Character: Hiruma Youichi, Anezaki Mamori, Anggota Saikyoudai Wizards yang lain

Timeline: Tahun kedua di Universitas Saikyoudai, saat Rice Bowl

~oOo~

Limited Time
by Little Hatake

.

.

"Maaf, aku kira kau temanku," Dengan cepat Mamori melarat kata-katanya setelah melihat rambut oranye si peminjam.

'Maaf, aku tidak bisa memberi tahu yang sebenarnya padamu, Manajer Sialan...'

"Tidak apa-apa, hmm..." Remaja berambut oranye ini menyodorkan tangannya hendak bersalaman.

"Mamori. Anezaki Mamori." Mamori membalas salaman itu sembari memberikan sebuah senyuman. Hiruma tahu, senyuman itu hanya topeng untuk menutupi kegundahan hatinya.

"Aku pinjam dulu bukumu yah, errr... Anezaki-san." 'Anezaki-san? Sejak kapan aku memanggil sopan manajer sialan ini?'

"Ah, cukup panggil aku Mamori saja, umm... maaf, siapa namamu?"

"Hashima Ryouichi."

"Baiklah, Hashima-kun."

Mata hijau dan suara husky mengingatkan kembali Mamori pada kapten kesayangannya. Ah, tapi orang ini sungguh berbeda dari Hiruma. Orang yang bermata hijau bukan hanya Hiruma, Mamori! Berpuluh atau mungkin beratus orang di dunia ini memiliki gen unik tersebut. Lagi pula, ia tidak memanggil dirinya dengan sebutan 'Manajer Sialan' atau embel-embel 'Sialan' lainnya. Mamori berusaha untuk tidak berprasangka yang aneh-aneh.

Baik Mamori maupun Hashima kini memperhatikan penjelasan dosen yang sedang menerangkan materi dengan slide power point. Tak ada interaksi lagi di antara mereka berdua.

.

"Tugas berkelompok ini dikumpulkan dua minggu lagi. Selamat sore."

"Arigatou, Sensei!"

"Aaah, akhirnya lima mata kuliah hari ini selesai juga!" teriak beberapa orang mahasiswa. Universitas Saikyoudai memang dikenal sebagai universitas ternama yang padat dengan kegiatan akademik maupun klub.

Sebagian besar mahasiswa segera bersiap untuk pulang ke rumah, sebagian untuk berdiskusi dan sebagian lagi masih tinggal di kampus untuk kegiatan klub. Mamori termasuk pada bagian ketiga.

Kebosanan Hiruma pun berakhir. Hanya dengan mendengar selintas, materi yang disampaikan oleh dosen langsung terserap di memorinya. Ternyata otaknya masih jenius seperti aslinya. Meski tubuhnya seperti ini, gudang strategi cerebrum-nya masih sama. Hiruma sedikit lega mengetahui hal ini. Belum terkuak juga kelemahan dirinya yang dimaksud pada surat sang pria malaikat.

"Mamori, aku dengar di sini memiliki tim American Football yang hebat, yah?" Hiruma duduk menghadap Mamori yang sedang berberes.

Lagi-lagi emerald itu menghipnotis Mamori. 'Ah, mata hijau itu... Bukan, Mamori! Hiruma tidak mungkin hidup kembali!' Gadis itu menggelengkan pelan kepalanya.

"Hei, apakah kau baik-baik saja?"

"Ah, ya aku baik-baik saja," Mamori mencoba kembali pada topik. "Benar, Hashima-kun. Kebetulan sekali aku manajernya. Aku sedang bersiap untuk latihan sore. Hari Minggu ini tim kami akan bertanding di putaran pertama Rice Bowl."

Hiruma mencoba rencana pertamanya. "Hmm, bisakah aku ikut tim kalian?"

"Eh?" Kegiatan Mamori terhenti sementara.

"Aku seorang quarterback pada waktu SMA dan kuliah di Amerika. Dan aku ingin meneruskan hobi olahragaku di sini. Apakah kau keberatan?" Yap, setan jabrik yang terkurung dalam tubuh baru ini mulai melancarkan aksi manipulasinya.

Mamori tampak berpikir. "Aku pribadi sih tidak masalah. Akan aku diskusikan dengan kapten tim kami dulu."

'Kapten? Siapa anak sialan yang menggantikan jabatanku?' "Yah, baiklah."

"Kalau begitu, kau ikut saja denganku ke ruang klub, Hashima-kun." Setelah beres memasukkan buku-buku dan file, Mamori berjalan ke luar kelas dan Hiruma mengikuti dari belakang. Hiruma menerka-nerka, siapa anak sialan yang berani menyandang kapten tim Saikyoudai Wizards menggantikan dirinya?

.

BRAKK!

Terdengar pintu ruang klub dibanting oleh seseorang.

"Cih! Aku tidak mau berlatih dengan sampah seperti kalian!" Seseorang dengan rambut gimbal pergi dengan cepat ke arah gerbang. Langkah arogannya membuat orang lain yang sedang berjalan segera menyingkir ketakutan. Lalu ia menghilang setelah berbelok keluar ke arah jalan raya.

'Tch! Dread Sialan itu berbuat onar lagi!' Hiruma mengumpat melihat kelakuan Agon dari jauh. Tapi ia berusaha menunjukkan wajah tidak tahu apa-apa.

"Sudahlah, Karin-san. Jangan mencoba untuk membujuk Agon-san lagi. Hanya Hiruma-san yang mampu bernegosiasi dengannya." Ikyuu menghibur quarterback wanitu itu yang sedang sedikit terisak.

"Kau benar, Ikyuu-kun. Mau sehebat apapun aku, aku tidak akan bisa menggantikan Hiruma-san sebagai quarterback yang memimpin seluruh anggota tim."

"Memimpin itu tugas seorang kapten, Karin. Kau tidak perlu memaksakan dirimu sendiri. Tugasmu hanyalah mengatur agar bola sampai pada goal line. Tidak usah pikirkan hal lain." Taka pun sampai menghentikan kegiatan membacanya, tidak tega melihat Karin yang sudah tiga hari dibentak oleh Agon.

"Selamat sore, minna," salam Mamori takut-takut melihat kondisi yang terjadi di ruang klub.

"Wah, ternyata Anezaki-san datang latihan hari ini. Sudah tiga hari kau tidak kelihatan." Yamato dengan senyum charming-nya menghampiri Mamori. Lelaki ini tahu bahwa gadis itu tidak datang latihan karena masih merasa sangat terpukul kehilangan Hiruma. Raut wajahnya berubah penasaran melihat seseorang datang bersama sang manajer. "Siapa orang yang bersamamu, Anezaki-san?"

Hiruma pun berdiri sejajar dengan Mamori. "Kebetulan hari ini ada yang mau ku bicarakan dengan Yamato -kun. Dan ini adalah Hashima Ryouichi, mahasiswa baru di jurusanku. Ia bermaksud untuk ikut dalam tim kita."

"Oh, begitu. Hashima, perkenalkan saya Yamato Takeru, kapten tim American Football Saikyoudai Wizards." Yamato mengulurkan tangan kanannya.

'Oh, si Rambut Liar Sialan yang menggantikanku. Untuk saja bukan si Dread Sialan itu.'

"Hashima Ryouichi, yoroshiku onegaishimasu." Hiruma menyambut uluran tangan itu.

"Maaf yah, soal keributan kecil tadi. Seorang anggota kami memang sangat keras kepala." Yamato menyengir terpaksa. "Tunggu sebentar, Anezaki -san dan Hashima." Ia memanggil Taka. "Taka, tolong kau pimpin latihan sore ini, gunakan formasi C." Taka mengangguk dan menyuruh seluruh anggota tim agar segera bersiap ke lapangan. "Mari kita bicarakan di dalam."

Mereka bertiga duduk melingkar dengan sebuah meja kecil di tengahnya. "Baiklah, Hashima. Coba tolong jelaskan pengalamanmu di American Football."

Hiruma menceritakan kisah manipulatifnya. Ia sedikit menekankan pertandingan yang cukup besar yang pernah ia menangkan sewaktu di Amerika. Bagaimana pun caranya, ia harus bisa masuk ke dalam tim inti.

"Bagaimana, Yamato-kun?" tanya Mamori.

Yamato memeriksa arsip-arsip turnamen Rice Bowl. "Sebenarnya di tengah turnamen seperti ini, kita tidak dapat memasukkan tambahan anggota tim. Tapi, sungguh beruntung sekali dulu Hiruma sudah mempersiapkan slot kosong untuk memasukkan orang yang potensial menurutnya. Jika kau lolos tes dari kami, aku dapat mempertimbangkanmu masuk ke dalam tim inti mengingat posisi quarterback cadangan yang kosong dan kau pernah bermain di Amerika."

Mata Hiruma berbinar.

"Kapan tesnya diadakan, Takeru-san?" Hiruma harus membiasakan mulutnya untuk memanggil orang tanpa suffix 'Sialan'.

"Sekarang. Kita tidak memiliki waktu yang banyak." Running back tampan ini segera meminta Mamori untuk menunjukkan ruang ganti anggota agar Hiruma dapat berganti pakaian menjadi baju training dan mempersiapkan segala sesuatu untuk tes. "Dan, tidak usah memanggilku seformal itu, Hashima," ujar Yamato ramah sambil mengambil protektornya dari loker.

Selesai berganti pakaian, mereka bertiga pun keluar dari ruang klub menuju pinggir lapangan hijau bergaris dan segera memulai tes.

"Hashima, tes pertama adalah lari 40 yards. Kau siap?" Hiruma hanya mengangguk. "Anezaki-san, siapkan stopwatch-nya!" Hiruma bersiap di ujung lapangan.

PRIIIT!

Hiruma berlari sekuat tenaga. Ia tidak memiliki ide sama sekali tentang kemampuan olahraga tubuh barunya ini.

"Ya, sudah!" teriak Mamori.

"Berapa?"

"5.0 detik!" Mamori mencatat di papan jalannya.

'Ternyata kecepatan lariku masih sama.'

"Kecepatan yang cukup baik." Yamato mendekati Hiruma dan Mamori. "Karena kau seorang quarterback, maka tes selanjutnya adalah passing. Ikyuu, bisa kemari sebentar?"

Ikyuu yang sedang berada di tengah lapangan berlari mendekati Yamato. "Ada apa, Yamato-san?"

"Aku sedang mengadakan tes masuk untuk Hashima Ryouichi, mahasiswa pindahan dari Amerika yang mau masuk tim kita. Aku ingin kau menjadi receiver untuk tes passing-nya."

Receiver jenius ini menghampiri lelaki berambut oranye di samping Yamato. "Hyosokawa Ikyuu. Lemparlah bola sekuat tenagamu, Hashima-san." Hiruma hanya mengangguk.

Mamori tiba-tiba berlari kecil menghampiri Yamato dengan muka panik. "Maaf, Yamato-kun! Sepertinya ada arsip turnamen yang ketinggalan di kelas. Aku ambil dulu, yah!"

"Baiklah." Yamato tersenyum pada Mamori. "Mari kita lanjutkan tesnya!"

Hiruma memegang bola sambil mengambil posisi agak menunduk seperti ready position saat akan melakukan formasi offense.

'Bagaimana kecepatan dan akurasi passing-ku?'

"SET! HUT!"

WUSSHHH!

Hiruma melempar bola dengan kecepatan maksimalnya dan Ikyuu segera berlari mengejar bola. Tapi, kecepatan bolanya jauh di bawah Devil Lasser Bullet andalan Hiruma dan akurasinya sedikit kacau. Hiruma menggerutu pelan. Ternyata passing yang menjadi kekuatan nomor dua dari seorang quarterback menjadi kelemahan tubuh barunya. Bisa dibilang tingkat lemparannya menurun menjadi biasa-biasa saja.

TAP! Bola berhasil ditangkap Ikyuu.

'De ja vu. Aku merasa pernah menangkap lemparan ini, tapi kapan?' Ikyuu bertanya dalam hati.

'Posisi melempar itu. Mirip dengan seseorang...' Yamato pun merasakan de ja vu yang sama ketika melihat pose passing itu. Untuk meyakinkan perasaannya, kapten baru Saikyoudai Wizards ini meminta mereka berdua untuk tes passing lagi hingga tiga kali.

Hasilnya tetap sama. Yamato tertegun, ia merasa pernah melihat style itu. 'Apakah mungkin dia adalah Hiru—'

"Aku kembali, Yamato-kun!" Kedatangan Mamori membuyarkan lamunan Yamato. "Bagaimana dengan tes Hashima-kun?"

"Hmm... Aku tanyakan pada Ikyuu dulu. Ikyuu, bagaimana lemparan Hashima?"

Ikyuu berjalan pelan ke arah mereka bertiga. "Passing dari Hashima-san cukup bagus, tapi..." Ikyuu ingin menceritakan bahwa ia seperti pernah merasakan lemparan itu. Tapi, akhirnya ia mengurungkan niatnya. "...untuk akurasi masih sedikit kacau. Passing Level-nya masih di bawah kapten kita yang dulu dan lemparan Karin."

"Jadi, bagaimana menurutmu, Ikyuu?" tanya Yamato.

"Mungkin untuk cadangan, ia masih dapat masuk, Yamato-san."

"Baiklah kalau begitu. Selamat, Hashima Ryouichi. Kau diterima di tim American Football Saikyoudai Wizards! Mohon bantuannya!" Running back bermata hitam ini menyalami Hiruma.

Hiruma antara senang dan kesal ia dapat masuk ke dalam tim ini, meskipun harus masuk ke bangku cadangan. Masih ada tiga minggu lagi, batinnya. Hiruma menyeka keringat yang membasahi dahinya. Rupanya, stamina yang sedikit merupakan hambatan baru bagi manusia setengah setan ini. Ia hanya bisa mengeluh dalam hati.

"Anezaki-san, bisa kau kirim sebuah email yang berisi susunan baru tim kita kepada panitia turnamen?" tanya Yamato.

Gaya kepemimpinan yang sangat kontradiksi. Jika Hiruma yang berada di posisi Yamato sekarang, kalimat yang terlontar adalah 'Heh, Manager Sialan! Cepat kau kirim sebuah email yang berisi susunan baru tim kita kepada panitia turnamen sialan!' sambil menunjukkan giginya yang runcing dan mengarahkan moncong senjatanya kepada Mamori.

"Ya, akan ku kirim sekarang." Ah, Mamori betapa merindukan kalimat perintah itu, panggilan itu dan pemilik senjata itu. Sebelum air matanya kembali mengalir, ia segera pergi menuju ruang klub untuk mengirim konfirmasi perubahan susunan tim.

"Mari, Hashima, akan ku perkenalkan anggota tim kita." Yamato mengajak Hiruma untuk berjalan di pinggir lapangan sambil menunjuk satu persatu anggota tim. "Yang bernomor punggung 10 dan berambut putih adalah Taka Honjou, receiver kami. Yang tadi mengetesmu bernama Hyosokawa Ikyuu. Lalu..."

Hiruma tidak begitu mendengarkan setiap ucapan Yamato. Sudah pasti ia hapal setiap anggotanya berikut dengan keahlian masing-masing. Ia pun sibuk menyusun rencana selanjutnya, sampai kalimat Yamato berhenti pada satu nama...

"Dan satu lagi, Hiruma Youichi."

Hiruma pun menoleh.

"Ia adalah kapten terbaik yang pernah kami miliki." Yamato terdiam sejenak, menarik napas. Hiruma juga menunggu kalimat selanjutnya yang akan diucapkan oleh penggantinya ini. "Yaah, meskipun perilaku dan tampang seperti setan yang yang tak kenal kata ampun dalam latihan, aku tahu ia amat peduli dengan tim ini. Sayangnya, ia sudah tidak berada di dunia ini." Yamato tersenyum pahit. "Kau tahu? Seluruh anggota tim amat kehilangan dirinya. Ia tak pernah memanggil kami dengan nama, selalu saja dengan panggilan 'Sialan', menembaki kami dengan seenaknya, mengancam kami dengan bukunya, tapi itulah yang kami rindukan darinya. Tak ada yang mengalahkan rasa memiliki tim ini kecuali dirinya."

Mantan komandan dari neraka ini tak menyangka bahwa begitu berartinya ia bagi semua anggota timnya. Selama ini ia mengganggap jika mereka hanya takut pada dirinya, tapi ternyata sesungguhnya mereka peduli, merasa hilang ketika ia tidak ada.

"Yamato! Kau tidak ikut latihan?" teriak Heracles.

Yamato menepuk bahu Hiruma. "Aku latihan dulu yah, Hashima. Kau perhatikan dulu gaya permainan kami dan aku harap kau bisa cepat beradaptasi." Yamato berlari ke tengah lapangan sembari meneriakan formasi B.

Remaja berambut oranye ini seolah memperhatikan dengan seksama formasi permainan Saikyoudai Wizards. Tetapi nyatanya, kedua iris emerald itu menatap kosong, menatap sesuatu yang tak kasat mata, mencoba menatap ke isi hatinya sendiri. Pikirannya berkecamuk, memikirkan setiap kata yang diucapkan Yamato tentang dirinya.

.

"Latihan cukup sampai di sini! Silakan kalian beristirahat!" perintah pemain bernomor punggung dua puluh satu. Seluruh pemain kembali ke ruang klub—termasuk Hiruma.

Begitu sampai di ruang klub, matanya mencari loker miliknya—dulu. Dan ketika ia membuka loker bernama Hiruma Youichi itu, ia terkejut.

Di situ tersandar Carbine M-16, senjata kesayangan yang selalu ia bawa.

"Bisa tutup lagi loker itu, Hashima-kun?" pinta suara seorang gadis. Hiruma menoleh ke arah gadis itu dan mendapatkan kesedihan di raut wajahnya. Hiruma pun mengedarkan pandangannya ke seluruh anggota tim, ia mendapatkan hal yang sama.

"Itu milik kapten kami yang dulu, Hiruma Youichi."

.

Ia merasakan sebuah getaran halus menyentuh hatinya.

.

TBC

.

~oOo~

rgrds, LH


Kotak Balasan Review:

Aika Licht Youichi: "berhenti mendadak membuatku shock, kapan dilanjutkan? Okey, chapter ini juga bagus. . ."
Ini sudah dilanjutkan, maaf ga bisa kilat *bow*

Guest: "Ahhh cerita nya bikin penasaran, ditunggu kelanjutan cerita nya ;)"
Terima kasih sudah membaca dan review :D

vita: "penasaran. duh author ini endingnya di cut dibagian yang bikin penasaran! jadi greget! rambut oranye? mengingatkan saya sama Kyo Sohma, Ichigo, sama Pein hahaha"
Makanya dicut di bagian penasaran biar penasaran, hehehe... saya sengaja rambutnya warna oranye terinspirasi sama Ichigo, kan gara-gara rambut oranye dia dikatain berandalan waktu awal-awal, kesannya hampir sama lah sama rambut kuningnya Hiruma :p

"mamorinya tau itu hiruma? wah wah yang namanya udah punya chemistry emang susah... *tapi saya masih gak bisa nerima kenyataan si hirumanya mati...*
Sudah terjawab di chap ini yaah... Saya juga ga terima Hiruma harus mati T.T *Author macam apa kamu? -_-*

guest: "yah hirumanya mati... pendek bgt! panjangan dikit dong cerita'a *maksa*"
It's still long journey, keep following yaah :)

arumru. kuroi-ru: "Yosha, maaf baru bisa review sekarang, baru baca juga :D overall, bagus kok. Semoga perkembangan ceritanya gak mirip ya sama film Indo yang tidak perlu disebutkan namanya itu :D terima kasih juga udah mau ikutan award bulan ini :) inget ya, deadline tanggal 20 maret, artinya fic ini harus complete tanggal itu :D
Keep spirit, and keep writing :D

arumru. kuroi-ru"
Eh, ada ibu panitia (/.\) terima kasih sudah membaca dan review :D siaaaaappppp, saya usahakan udah beres ko tanggal segitu :)

AngelFromTheHeaven: "hola
watashi wa me-chan desu
douzo yoroshiku onegaishimasu :3
aaaa hiruma bneran mati nih...
jangan", pas semua yg dia inginkan terkabul, balik ke bentuk fisik awal ya? ya ya ya? *maksa *dilindes pake inline skate

ok! ditunggu updatenya xD"
Salam kenal juga me-chan. Terima kasih sudah membaca dan review :) Iya, Hiruma beneran mati ko *tenang banget saya jawabnya -_-* keep following my story yaah, hehehe :)

.

Hontou ni gomen nasai, minna-san... Saya terkena sedikit writer's block kemarin =A= I hope you can enjoy this chap *bow*