Huaaaa maafkan aku semuaaa tak mengupdate-update cerita ini. Aku sangat malu bertemu dengan wajah kalian *jiaah.

Sebenarnya aku tak melanjutkan ceritaku karena agak sibuk dank arena saking lamanya aku ga buka ffn aku lupa pass nya T_T *curhat.

Seperti biasa aku sangat berterima kasih yang udah review cerita nista ini :'), yaitu:

Oda-san : makasiiih reviewnya yaa ga pernah absen nih! Maafkan aku jika terlalu lama updatenya ya

Nenk-san : huaaah terima kasih senpai masukannya sangat bergunaa akan kuperbaiki lagi kesalahanku

Shizuku-san : Oke deh shizuku-san makasih reviwnya yaaa :D

Sora-san : Yap karena permintaan banyak akan ku panjangkan ceritanya hahahaha #plak

Nakamura-san : huaa maafkan aku min ku sudah besar sekali jadi tak nyadar banyak typo #plak. Akan ku usahakan di chap selanjutnya tak ada :D

Zufar-san : makasih yaa Zufar-saan

Zora-san : Sip! Makasih review nya yaaa zora-san!

Tanpa kalian cerita ini tak aka nada

Oke karena pada ga setuju menamatkan di chap 4 maka aku panjangkanlah ceritanyaaa!

Please enjoy the story

.

.

.

.

.

"Ichigo…..! aku mau ice cream!..."

"Ichigoooooo! Tolong belikan aku takoyaki!"

"Ichigooooo!... Perutku sakit!"

"Ichigoooooooo! Aku sangat mual!"

"Ichi…. "

"STOP! RUKIA! TANGANKU CUMA DUA SABARLAH SEDIKIT!" Lelaki tampan yang akan segera menjadi ayah baru tampak kesal atas kelakuan istrinya yang hamil muda itu. Matanya merah karena kurang tidur, rambut sewarna senjanya tampak kusut. Belum lagi dirinya yang belum mandi dan berkeringat sehingga membuat kamar mewah itu bau(?) #plak! Digampar Ichigo.

"Jadi kau tega? Bagaimana dengan anak kita?"

"Aku tau Rukia tapi sabarlah sedikit dan berilah jarak di setiap PERINTAHMU!" kata Ichigo frustasi dengan penekanan di akhir kalimatnya. Tangannya yang berotot menarik-narik rambut jingganya sehingga tampak lebih kusut dari sebelumnya.

"Hiks.. sabar ya bayiku, kelakuan ayahmu memang kejam terhadap istrinya." Kata Rukia sambil mengelus-ngelus perutnya dan berakting dengan air mata palsunya.

"E-e.. bukan begitu maksudku Rukia, oke oke jadi apa yang kau perlukan sekarang?" Ucap sang suami mengalah terhadap istri mungilnya itu.

"Karena sekarang aku tak mual lagi… aku hanya ingin kue buatan Unohana Taichou, lalu masakan adikmu si Yuzu. Tunggu-tunggu ada lagi, aku juga mau ramen tanpa cabe dengan telur setengah matang dan kuah yang banyak tanpa seledri tapi pakai bawang goreng dan irisan ayam diatasnya." Kata sang istri dengan polosnya dan tanpa merasa dosa sedikitpun.

Ichigo menghela nafasnya… mimpi apa dia waktu itu bisa mendapatkan istri "sebaik" Rukia, wajahnya sekarang layaknya pakaian lecek yang tak pernah di setrika selama seminggu.

"Haaaahhh… Sudah itu saja?" Tanyanya memastikan.

"Tunggu ada satu hal penting yang belum ku sebutkan." Balasnya

"Apa lagi itu?" Tanya Ichigo dengan suara tingginya.

"Jangan jahat begitu dong… Aku Cuma minta tolong bawakan Komamura taichou ya sepertinya anak kita ingin sekali membelai bulu lembutnya." Kata sang istri dengan wajah innoncentnya.

"BRUUK"

"HEH? Jangan pingsan dong Ichigo… bangun dong! Nanti siapa yang dapat kusuruh lagi jika kau mati? Hei yang terakhir itu aku hanya bercanda, ayo BANGUUUUN!"

.

.

.

.DISCLAIMER : TITE KUBO

WARNING: GAJE, ABAL, TYPO(S), OOC

PAIRING: Ichigo x Rukia

"My Sweet Girlfriend"

Dengan langkah gontai Ichigo berjalan ke divisi 4, yap sepertinya sang bocah oren ini ingin meminta sedikit obat dari kapten berkepang. Sebagai suami yang baik dia sudah menunaikan tugas apa saja yang dikatakan sang istri dari kue buatan Unohana Taichou sampai bulu sang kapten srigala.

"Konnichiwa Unohana-san, maaf aku kembali lagi, apa kau punya obat penenang?" Kata Ichigo frustasi.

"Konnichiwa Kurosaki-san.. obat penenang? Untuk apa kalau saya boleh tau?" Sang kapten bermata aquamarine bertanya dengan senyum lembut tulusnya.

"Haaah.. aku sedikit lelah, aku kurang istirahat dan sebagainya. Aku hanya ingin merelaksasikan diriku ini." Kata Ichigo jujur.

"Aku punya solusi yang lebih baik daripada menggunakan obat penenang. Ayo ikut aku". Sang Taichou lembut ini tersenyum lalu berjalan keluar pintu, tanpa basa-basi Ichigo mengekornya dari belakang. Entah apa yang Ichigo pikirkan tapi di dalam benaknya apa yang akan Unohana taichou akan menjadikan dirinya lebih baik.

Agak lama mereka berjalan sampailah mereka di suatu ruangan divisi 4 yang sebelumnya belum Ichigo ketahui.

"Nah Kurosaki-san selamat datang di tempat pijat refleksi divisi 4." Kata Unohana sambil tersenyum.

"Heh? Jadi di divisi 4 ini ada tempat refleksi ya? Aku baru tau." Ucap Ichigo santai.

"Iya Kurosaki-san selamat datang biar aku yang membantumu merilekskan otot-ototmu." Ucap Yamada Hanatarou yang baru muncul dibalik pintu.

"Waah! Aku jadi tambah semangat nih pasti enak sekali." Tak pikir lama Ichigo langsung membuka pakaiannya dan meloncat ke tempat tidur yang disediakan. Sedangkan sang taichou hanya bisa menggeleng sambil tersenyum lembut.

"Kalau begitu aku tinggal dulu ya Kurosaki-san." Ucap sang Taichou. Dan Ichigo hanya memberikan jempolnya ke Unohana dan tertidur dalam pijatan Hanatarou.

~oOoOoOoOoO~

"Huaaaah.. terima kasih ya Hanatarou badanku jauh lebih segar dari sebelumnya." Kata Ichigo dan bersiap kembali pulang.

"Hai! Kurosaki-san! Lain kali kembali lagi yaaa." Balas sang bangku ketujuh Yamada Hanatarou.

Karena rasa kangennya terhadap sang istri, Ichigo tak mau berlama-lama dan ingin langsung menemui sang Rukia dan bayi diperutnya. "hmm sebaaiknya kubawakan oleh-oleh apa ya?" pikirnya dalam hati.

"mungkin mochi kacang hijau enak untuk sore hari ini, baiklah sebaiknya aku membelinya." Yap, Ichigo langsung bershunpo dengan cepatnya untuk membeli buah tangan untuk istri dirumahnya dan segera pulang untuk menghilangkan rasa rindunyaa. *aseeeek

.

.

"Rukia aku pulang!" tak ada jawaban. Sekali lagi Ichigo memanggilnya tetap tak ada jawaban. Mungkin lagi tidur pikirnya. Ichigo membuka pintu depan dan akhrnya Pintu pun terbuka..

"RUKIA! …." Ichigo melihat di sepanjang ruang tamu banyak darah berceceran di lantai sampai ke kamarnya. Perasaan tenang Ichigo berubah dari yang biasa saja menjadi khawatir luar biasa.

"Akhirnya kau pulang juga Ichigo…". Terdengar suara baritone khasnya keluar dari pintu kamarnya. Ichigo membelalakan mata melihat kawannya memegang pisau dengan relief cairan merah kental dengan bercak darah di bajunya. Senyumnya sangat menakutkan bagi seorang rambut nanas ini. Sebenarnya apa yang terjadi?

"APA YANG KAU LAKUKAN PADA RUKIA RENJIIIII!"

TBC

Nah! Bagimana ceritanya? Menarikkah? Aku hanya bias berharap menarik

Maaf ya kali ini ga bisa panjang panjang ceritanya hehehehe

Please review yaa!