A Simply Touch IV
pairing: taekook/vkook. taehyung/v x jungkook
disc: based on Japanese manga by Moegi Yuu. original work by Xiahtic4Cassie (check out hers on her profile: Xiahtic4Cassie!), my version is like a re-cycle with different characters(?)
warn: male slash. AU. boyxboy. psst, don't expect too much lol.
Notes: jalan cerita diubah sedikit agar lebih sesuai~
.
.
.
.
.
.
.
.
.
A Simply Touch
.
.
.
.
.
IV
.
.
.
.
.
.
Nampak seekor gagak hitam besar.
.
.
Jungkook dan gagak itu berpandangan. Sedikit lama, sebab kedua mata anak itu membelalak sempurna saat dirinya mendapati keberadaan seekor binatang bersayap yang ia ketahui selama hidupnya tak ada yang sebesar ini.
A.. Apa ini..? pikirnya lemah.
Reaksi terkejut Jungkook tidak berbeda dari orang kebanyakan, mata besar, mulut yang sedikit terbuka, dan tubuh yang terlihat kaku. Bedanya, ia tidak menjatuhkan pakaian milik Taehyung yang tadi dipungutnya, melainkan menggenggamnya erat seakan pakaian itu adalah jimat pelindung dari makhluk di depannya ini.
Begitu melihat Jungkook, gagak itu segera melompat ke dalam baskom besar. Gagak hitam itu sepertinya sedang melakukan ritual pembersihan dirinya di dalam baskom besar di halaman rumahnya, Jungkook pun tak mengerti mengapa ia memiliki baskom seperti itu. Ritual pembersihan diri dalam kata lain maksudnya adalah mandi, hanya saja Jungkook merasa harus mengganti kosa katanya dalam kasus ini.
"GYAA!"
Respon yang terlambat seperti biasa, Jungkook memekik. Selain agak ceroboh, Jungkook juga dikenal sebagai pemilik respon lambat. Cukup lambat untuk teman-temannya meninggalkannya menaiki bus sekolah dulu.
Setelahnya, ia dan sang gagak itu kembali berpandangan. Namun anehnya, gagak itu sama sekali tidak mengeluarkan tatapan mengerikan layaknya gagak biasa. Wajahnya memang terlihat seperti gagak pada umumnya, namun ada sesuatu di pancaran bola matanya yang membuat Jungkook perlahan tenang dan malah bergerak mendekatinya.
Sekelebat, kedua bola mata Jungkook berbinar-binar saat kembali memindai tubuh besar si gagak hitam itu. Dirinya merasa kagum dengan pemandangan di hadapannya ini.
"Kamu.. Besar sekali. Apakah kamu sedang mandi?" Jungkook mulai mengeluarkan suaranya selain teriakan, "Lalu mengapa ada baskom di sini?" tanyanya lagi dengan kepolosan alami seakan-akan tak ada lagi kata-kata yang keluar selain bertanya tentang baskom.
Jungkook terus mendekati gagak itu, hingga saat ia hendak menyentuhnya, mendadak sang gagak bergerak dan meronta.
"E-ehh?" Jungkook sedikit tersentak, ia tahu bahwa seekor binatang tidak akan menyukai sentuhan pertama kali dari orang asing namun tubuh binatang ini jauh lebih besar, tentu bisa saja menyakiti dirinya.
Dan benar saja, saat Jungkook hendak mengelak paruh gagak itu mengenai keningnya dan menyebabkan dirinya harus jatuh terjerembab sembari memegangi kening yang sudah terpatuk.
"Aw!" pekiknya, dan memang sudah sifat alami ceroboh yang dimilikinya, ia terkantuk sebuah batu dan jatuh tertelungkup di dekat baskom air yang entah mengapa berbunyi keras seperti sesuatu bercipak-cipak di dalamnya.
"Paruh! Uh, dan batu..!" gerutunya. Jungkook yang sibuk menggerutu tidak menyadari bahwa dirinya mendarat di atas permukaan yang empuk, bukan kerasnya tanah seperti seharusnya.
Ia mendarat–
"Jungkook-ah,"
–tepat di atas tubuh Taehyung.
"Geli tahu, bisakah berhenti meraba-rabaku seperti itu?" lanjut si pemilik suara rendah sembari memberikan senyum canggungnya pada Jungkook di atasnya.
"W-WUAA? TAEHYUNG?!"
.
.
.
.
Setelah kejadian yang 'Jungkook bersumpah ia tak akan mengingatnya lagi sebab itu terlalu memalukan dan Taehyung pasti menahan tubuhku yang berat dan oh tidak apakah ia melihat semburat merah di pipiku dan oh Tuhan aku pasti terlihat konyol' itu, kedua pemuda yang terlibat di dalamnya kini tengah duduk berhadapan di ruang tengah.
Jungkook duduk bersimpuh, layaknya anak patuh yang bersiap terkena omelan orang tuanya, sembari menenangkan dirinya bahwa kejadian barusan itu murni kecelakaan dan lain sebagainya dan seterusnya.
Sedangkan Taehyung baru saja kembali dari dapur mengambil dua gelas teh hangat untuk menenangkan Jungkook dan juga dirinya. Ia duduk bersila dengan kedua tangan terlipat, serta tak lupa senyuman yang selalu ia kembangkan.
"Mari kita telaah situasi ini," ujarnya lengkap dengan senyumannya. Terlebih saat kepala Jungkook terangkat setelah mendengar pertanyaan, "Jungkook-ah, bagaimana kuliahmu hari ini?" lengkap dengan raut wajah kesusahan miliknya.
Setelah beberapa detik menangkap senyuman Taehyung, Jungkook menjawab, "Uhh.. A-aku membolos.." ia sungguh berharap Taehyung tidak menanyakannya tentang ini.
"Begitu?" Taehyung memotong ucapannya sebentar, ia terlihat tengah mengeluarkan sebuah tasbih dan dupa yang tadi dipegang oleh Jungkook. "Kau tahu membolos itu akan ada hukumannya," kembali, ia berjeda sejenak hanya untuk melihat reaksi dari Jungkook.
"Lalu, untuk apa tasbih Buddha dan dupa ini?"
Dalam diri Jungkook tengah berkecamuk antara menjawab jujur atau tidak. Namun jika ia tidak jujur, ia yakin cepat atau lambat Taehyung pun akan segera mengetahuinya. Dan cepat atau lambat pula Taehyung pasti akan pergi meninggalkannya.
Setengah bergumam Jungkook menjawab, "I-itu.. Kupikir kau adalah hantu dan.. Kupikir aku bisa membantumu beristirahat dengan tenang dengan benda-benda itu,"
"…"
Mendengar jawaban Jungkook, Taehyung tidak berkomentar apa-apa. Ia hanya kembali mengulaskan senyumannya yang khas.
Respon Taehyung seperti itu membuat Jungkook semakin merasa bingung. Senyumannya benar-benar membuat dirinya bingung.
"A-apa?"
"Aku hanya berpikir bahwa jangan-jangan aku tidak membesarkanmu dengan baik," Taehyung jeda sejenak untuk menghela nafasnya, "Apa kau benar-benar berpikir bisa mengusir hantu dengan benda-benda ini? Aku bahkan tak melihat pematik untuk menyalakan dupanya," lanjut Taehyung sembari memikirkan betapa pintar Jungkook kecilnya. Jungkook hanya menunduk malu dan menyembunyikan wajahnya sebab ini merupakan kecerobohan dirinya yang kesekian kalinya.
"Kook-ah, kenapa kau berpikir kalau aku adalah hantu?" kali ini Taehyung melembutkan suaranya, hampir saja membuat Jungkook bergidik dan ingin terbang bersama barisan kupu-kupu ke wilayah Selatan, dan Jungkook harus tahu bahwa kupu-kupu tidak bermigrasi ke Selatan.
"Ng.. Kau tidak terpantul di cermin pagi tadi.. Dan kau juga tidak memiliki bayangan," jawab Jungkook akhirnya setelah ia berhasi menang melawan serbuan kupu-kupu migrasi.
"Oh, kau ternyata sadar dan mengawasi diriku. Akhir-akhir ini kondisi tubuhku memang sedang tidak begitu baik," ujar Taehyung dengan santai. Sontak, kembali mengundang tanda tanya dari Jungkook.
Apakah seseorang yang sedang dalam kondisi kurang baik memang seperti itu?
"Kondisi?"
Taehyung mengangguk, ia beranjak dari duduknya dan berdiri. "Ya, kau lihat? Sekarang aku memiliki bayangan," ujarnya sembari menunjuk sebuah bayangan terbentuk dari pantulan sinar matahari senja dari jendela besar ruang tengah mereka. Bayangan hitam sempurna, layaknya bayangan manusia biasa.
"W-whoa.." Jungkook menatapnya kagum dan mata polosnya kembali berbinar.
Taehyung tersenyum menatapnya, ia kembali duduk dan menjawab pertanyaan Jungkook tentang pantulan dirinya di cermin.
"Tunggu dulu tunggu dulu, kau ingin mengatakan bahwa kau ini titisan gagak?"
Mendengar pernyataan Jungkook yang begitu polos dan agak bodoh, Taehyung hampir saja kehilangan keseimbangannya.
"Titisan.. Terdengar sedikit aneh.. Dewa, mungkin kau bisa mengganti kosa katanya dengan itu," ungkap Taehyung pada akhirnya.
Wajah Jungkook berubah menjadi wajah bodoh setelah mendengarnya, "D-D-Dewa?"
"Iya. Atau lebih tepatnya aku memiliki kontrol atas ungags berwarna hitam itu di seluruh dunia, mereka bisa men-summon diriku dan begitu pun sebaliknya. Jadi kurang lebih yah, semacam dewa mereka," lanjutnya yang terkesan begitu percaya diri.
Jungkook masih memasang wajah bodoh dan terkejut miliknya.
"…Yang kuingat adalah seekor gagak besar sedang bermain air di dalam baskom.." ujarnya masih dalam mode 'terjebak' miliknya.
"Jahatnya, aku sedang melakukan penyucian diri dengan air suci. Dan gagak itu pun bukan aku, itu ayahku dalam mode binalnya –eh seharusnya tidak kukatakan itu," jelas Taehyung yang semakin membuat Jungkook kebingungan.
Melihat Jungkook yang semakin melongo, Taehyung memutuskan untuk kembali berbicara panjang lebar mengenai apa yang terjadi.
"Memang ini terkesan di luar akal manusia, namun itulah yang terjadi. Pagi ini aku menerima sinyal bahwa ayahku akan datang menemuiku sebab sinyal komunikasi kami sempat terputus, itulah saat di mana kau tak melihat bayangan diriku. Jadi ia hanya mampir sejenak dan menyuruhku untuk melakukan ritual pembersihan diri dengan air suci itu," kebiasaan Taehyung untuk jeda sejenak memang untuk melihat ekspresi Jungkook.
"Tapi kau tenang saja, ayahku bukan gagak jahat, ia malah yang memerintahkanku untuk menemani anak manusia yang bernama Jeon Jungkook ini."
Begitu mendengar namanya, Jungkook akhirnya tersadar dari lamunannya, dan ucapan Taehyung berputar di otaknya, "Kenapa.."
Taehyung ber-'hm' sebagai pengganti respon, mengisyaratkan Jungkook untuk melanjutkan ucapannya.
"Kenapa kau menemaniku, tinggal bersamaku, mengurusku, dan melindungiku..? Dan mengapa aku..?"
Begitu mendengar pertanyaan yang sudah ia persiapkan untuk didengar saat waktunya tiba, pandangan Taehyung berubah serius.
"Aku memiliki alasanku tersendiri, kaum kami,"
"Apa alasannya?"
Taehyung terdiam sejenak. Ia menunduk lalu kembali mendongak sembari menepuk pelan pundak Jungkook, "Jungkook-ah, ada berbagai hal di dunia ini yang akan lebih baik jika dibiarkan tidak diketahui," ia kembali menghela nafas, lalu menatap dalam kedua bola mata Jungkook di depannya.
"Aku adalah penjaga-mu dan kau berada di bawah pengawasanku sampai waktunya kau bisa hidup sendiri," lanjutnya. "Bahkan jika kau tahu alasannya–"
"Akhirnya kau hanya akan mengganti topik pembicaraan, Tae," potong Jungkook dengan wajah yang ditekuk.
"Mengapa? Kau mau bilang jika aku yang mengetahui alasanmu aku akan malah merepotkanmu?" lanjutnya sembari memasang wajah tak kalah serius pada Taehyung.
Taehyung mulai merasa jika Jungkook menjadi salah paham dengan situasi ini. Satu tangannya bergerak untuk mengusap surai gelap pemuda itu. "Jungkook-ah, apa kau takut padaku?" ucapannya mengundang tatapan kaget dari si pemuda itu.
Taehyung melanjutkannya, "Tak apa, aku tidak akan menyentuhmu jadi jangan khawatir," lanjutnya sembari memasang wajah 'jangan-khawatir'.
"Bukan begitu! Kau tidak mau memberitahu alasanmu! Kau tahu semuanya tentang diriku, tapi kenapa aku tidak boleh tahu segalanya tentang dirimu?!" emosi Jungkook semakin meningkat, entah mengapa ia tidak merasa tenang dengan tatapan dan perlakuan lembut Taehyung tersebut.
"Ini untuk kebaikanmu, Jungkook-ah. Dan juga, meski itu adalah salah paham kau sempat mengira aku adalah hantu dan mencoba untuk menghilangkan keberadaanku. Bukankah itu kau lakukan karena kau pikir situasi akan lebih mudah jika aku tak ada, hm?" Taehyung balik bertanya pada Jungkook. Nadanya yang lembut dan pelan namun kalimat yang berisi sindiran terhadap Jungkook membuat pemuda itu tersentak.
"Bukankah tidak usah mengerti sesuatu tentang seseorang yang tidak penting bagimu?"
"…TAEHYUNG BODOH!" pekik Jungkook, ia menyeruak dari tubuh Taehyung dan berlari meninggalkan pemuda itu.
Taehyung yang menyaksikan kepergian Jungkook hanya terdiam. Ia tahu saat ini bukan saat yang tepat untuk mengejarnya dan kembali berbicara serius padanya. Ia hanya akan membiarkan Jungkook menenangkan dirinya dahulu. Namun ia tak akan melepaskan pengawasannya pada pemuda itu.
Sedangkan Jungkook yang merasa amarahnya naik, terus berlari meninggalkan rumahnya. Tak lupa bulir-bulir air mata bertengger di pelupuk matanya. Perasaannya masih kacau akibat ucapan Taehyung tadi.
'Aku tidak pernah sekalipun berpikir keadaan menjadi lebih mudah kalau tidak ada Taehyung! TIDAK PERNAH!' kaki-kaki jenjangnya terus melintas gang rumahnya dan berbelok tanpa arah.
'Aku selalu merasa takut jika suatu hari Taehyung akan menghilang dari kehidupanku..' mendadak, kecepatannya berkurang. Situasi di sekelilingnya juga sudah gelap, namun pemuda itu masih menunduk dan berjalan menjauh.
'Ini semua salah Taehyung!'
Masih mengusap kedua matanya, perlahan ia menyadari jika dirinya sudah berada cukup jauh dari rumah. Meski masih banyak orang di sekitarnya, namun tak ada seorang pun yang ia sadari sebagai kenalannya.
Kakinya berjalan menuju sebuah taman dan langkahnya sungguh kontras dengan langkah orang-orang yang justru berjalan keluar dari taman. Waktunya untuk pulang dan berkumpul dengan orang-orang yang kau sayangi. Di dalam hangatnya meja pemanas.
'Tidak.. Ini bukan salahnya..'
.
.
Aku sungguh penasaran siapa sebenarnya Taehyung dan hubungan apa yang kami miliki? Tapi aku terlalu takut untuk mengetahui jawabannya. Taehyung akan meninggalkanku. Aku tak ingin bertanya karena aku takut akan ditinggal sendirian olehnya..
.
.
.
.
.
.
Di sini, di tengah gelapnya malam terdapat sosok pemuda bernama Jeon Jungkook yang sudah sejam lebih lamanya terduduk di atas kursi taman. Ia pergi ke taman ini karena sebenarnya ia tak tahu akan pergi ke mana.
Perlahan ia menengokkan kepalanya dan melihat sebuah jam besar yang terdapat di dalam taman.
Pukul 9. Jika ini adalah hari-hari biasanya maka sudah pasti ia akan dimarahi besar-besaran oleh Taehyung karena masih berkeluyuran di jam segini.
"Ah, sudah benar-benar lewat jam malam," gumamnya. Ia mengeratkan sweater hitam yang dipakainya, beruntung ia sudah menyadari bahwa hari ini akan dingin tadi pagi.
'Apa Taehyung marah, ya? Ha, aku bahkan terlalu takut memikirkannya.. Menyeramkan..' gumamnya dalam hati. Dirinya masih terfokus akan pengakuan Taehyung tentang dirinya yang sebenarnya.
".. Dewa gagak itu juga sebenarnya apa? Apakah semacam makhluk mitologi? Haruskah aku pergi ke perpustakaan untuk mengonfirmasi.." gerutunya.
Tiba-tiba dirinya teringat dengan pertanyaan Taehyung tentang apakah Jungkook takut pada dirinya atau tidak. Sontak, Jungkook berucap,
"Tentu saja aku takut. Ah, aku tidak mengerti apa yang terjadi.." pelan ia mengerucutkan bibirnya seraya mengerutkan keningnya. Otaknya sungguh tidak mampu memproses kejadian yang di luar akal siapapun.
Namun, ia teringat raut wajah Taehyung saat mengatakan bahwa ia tak akan menyentuh Jungkook. Sungguh, tidak membuat dirinya merasa tenang.
"Mungkin aku sudah mengatakan sesuatu yang jahat.."
Akhirnya ia berpikir bahwa Taehyung adalah Taehyung, dan hal itu tak akan pernah berubah. Meski dirinya adalah dewa atau apa pun itu sesuai pengakuannya, Taehyung tetap Taehyung yang dikenalnya bertahun-tahun ini. Jungkook juga akhirnya menyadari bahwa Taehyung sama sekali tidak memiliki niat buruk pada dirinya, apalagi mencelakainya.
"..Permisi," mendadak, seseorang menepuk bahu Jungkook.
"GYAA!" pekik Jungkook secara refleks. Jangankan Jungkook, orang yang menepuk bahunya pun terkejut.
"O-oh maaf! Aku hanya terkejut. Ada perlu apa ya?" tanya Jungkook kembali memasang wajah minta maaf yang terlihat polos dan sedikit bodoh sebab ia pikir ia bertemu dengan hantu yang diceritakan Taehyung tempo hari.
Raut wajah pemuda yang menepuk bahu Jungkook tiba-tiba berubah, ia menyeringai sedikit, "Well, kau tahu, kami sedang kesulitan sekarang. Bisa pinjamkan uang?"
'Cih, preman,' pikir Jungkook.
"Sebaiknya kau berikan semua yang kau punya jika tak ingin terluka," dua orang pemuda muncul dari belakang pemuda itu, yang menambah jumlah preman tersebut di depan Jungkook.
"Kau terlihat lemah. Kau kira akan bisa melawan kami?" ejek salah satunya disambut tawa teman-temannya. Hal ini mengundang 4 sudut siku-siku keluar di dahi Jungkook.
"Heh, jangan berlagak jika kalian hanya bisa mencuri dari orang lain," Jungkook menatap seorang pemuda yang ia yakini sebagai leader mereka, "Bodoh," ejeknya balik pada gerombolan preman itu.
"Sialan, kau!" salah seorang pemuda tersebut menarik kerah Jungkook dan bersiap untuk melayangkan pukulannya. Jungkook memejamkan mata dan berancang-ancang untuk meloloskan diri.
Sebelum tiba-tiba dirinya merasa seseorang menariknya ke belakang terlepas dari cengkraman preman itu.
DUAK!
Bunyi hantaman besar melintasi telinganya, kedua mata Jungkook terbelalak begitu melihat pemandangan di hadapannya.
Taehyung, berpakaian serba hitam menendang wajah pemuda yang tadi menarik kerah Jungkook. Ia memakai sepatu bola miliknya yang pernah ia banggakan, sebab sepatu itu memiliki ujung runcing yang menempel kuat pada tanah dan tidak mudah tergelincir.
Jungkook sempat meringis membayangkan bagaimana rasanya berciuman dengan ujung yang tajam itu.
Pemuda yang tertendang itu tersungkur ke belakang dengan hidung yang berdarah dan bercak-bercak darah yang menempel di sekujur wajahnya. Setelah selesai dengan kegiatan menendangnya, Taehyung berdiri tegak dan malah tersenyum santai.
"Oh astaga, maafkan aku kakiku panjang, sih," ujarnya dengan senyum khas miliknya.
Jungkook masih terperangah dengan pemandangan di depannya. Wajah pemuda itu nampak mengerikan dengan segala darah, namun juga mengundang tawa baginya. Salahkan Taehyung yang sudah mengajaknya menonton film action sejak kecil.
"Aku tidak bermaksud kasar, namun dalam situasi seperti ini aku berterima kasih atas bentuk tubuhku yang menguntungkan ini," lanjut Taehyung masih lengkap dengan senyumannya.
Seorang teman pemuda yang tertendang itu tidak terima, ia melesat mendekati Taehyung dan meraih lengan Taehyung untuk memukulnya.
Namun, begitu ia hendak melepaskan pukulannya, ia melihat sesuatu yang harusnya tidak ia lihat.
"Akan kumusnahkan kalian," mata sipit Taehyung mendadak terbuka lebar dan menampilkan bola mata yang berwarna hijau. Dan jika mata manusia biasa memiliki warna putih yang mengelilingi warna bola matanya, mata Taehyung berwarna hitam di tempat yang seharusnya berwarna putih. Jangan lupakan geramannya yang terdengar menyeramkan, cukup untuk membuat kau ingin buang air di celana. Dan apa itu taring tajam yang dilihatnya?
"GYAAA! MONSTER!" teriak pemuda tersebut, ia segera mundur dan mengajak teman-temannya untuk melarikan diri. Teman-teman yang sempat melihat ekspresi menyeramkan Taehyung tadi.
Tak berapa lama, Taehyung mengedipkan mata dan matanya kembali seperti semula. Ia membalikkan badan dan sesegera mungkin mengulaskan senyumannya pada sosok di depannya. "Nah, ayo kita pulang,"
Tanpa ba-bi-bu, Taehyung meraih lengan Jungkook dan mengaitkan jemari mereka. Kedua pemuda itu mulai berjalan meninggalkan taman ditemani dengan sorotan cahaya rembulan.
"Kau ini benar-benar.. Kau membolos dan melupakan jam malammu. Mau tidak mau aku akan memberikan dua hukuman padamu. Aku juga sebenarnya tak ingin menghukummu, tahu," ujar Taehyung sembari mengeratkan genggamannya pada Jungkook.
"..Apa dewa diperbolehkan berlaku kasar seperti tadi?" akhirnya Jungkook membuka suaranya.
Taehyung menghentikan langkahnya dan tersenyum kembali mendekati Jungkook, "Tak apa, itu bisa dimasukkan dalam kategori hukuman. Mereka itu orang jahat," ujarnya, "Lagipula, mereka tidak mati, kan?" Jungkook tersentak mendengar ucapan Taehyung. Ia juga memasang ekspresi ngeri miliknya.
Taehyung menatapnya dan melepaskan genggaman tangannya. "..Maaf. Aku lupa aku janji tidak akan menyentuhmu,"
"Bu-bukan! Bukan begitu!" sanggah Jungkook tiba-tiba. Mendadak ia mendapatkan keberanian dan wajahnya merona. Ia mengambil kembali jemari Taehyung dan menggengamnya.
"Terima kasih.. Sudah menyelamatkanku,"
Taehyung yang menerima perlakuan manis dan malu-malu dari Jungkook tak mampu untuk tidak mengembangkan senyumannya kembali, "Sama-sama, Kook-ah,"
Jungkook tak dapat menahan semburatnya begitu mendengar nama panggilan untuknya yang kembali terlontar dari bibir Taehyung. Ia kembali berucap,
"Sesungguhnya aku tak pernah berpikir kalau aku akan lebih baik jika kau tidak ada di sini.. Dan, uhm, bukannya aku tidak menyukaimu, hanya saja terkadang aku merasa kaget dengan hal-hal baru ini.. semuanya.."
Taehyung terdiam. Ia menutup wajahnya dengan tangannya yang terbebas seperti orang yang sedang menahan tangis, "Aku menemanimu selama ini dengan perhatian ekstra, namun tiba-tiba kau membentakku dan memperlakukanku seperti tadi. Kau tidak tahu betapa terlukanya aku,"
"M-maaf, Taehyung, aku sungguh minta maaf.." ucap Jungkook dengan cepat. Ia merutuk dalam dirinya karena telah membuat satu-satunya orang yang ia miliki dan sayangi di dunia ini terluka.
"Apa kau akan berintrospeksi setelah ini?"
"I-iya!" dengan mantap Jungkook menjawabnya.
"Kalau begitu, apa kau juga akan melakukan semua permintaanku?"
"Oke, aku akan –ehh?"
"Sungguh~? Baiklaah!" Taehyung membuka tangannya dan tersenyum lebar pada Jungkook.
"Y-yah! Kau berpura-pura?!" teriak Jungkook histeris karena Taehyung sudah mengerjainya. Tak tahukah Taehyung jika Jungkook sudah kelimpungan sejak tadi?
Taehyung hanya terkekeh kecil sembari menepuk-nepuk kepala Jungkook untuk menenangkan pemuda itu. Mereka kembali berjalan bertautan kembali ke rumah mereka.
Di tengah perjalanan, Taehyung kembali membuka suara.
"Jungkook-ah, kau ini seorang manusia. Wajar jika kau merasa takut padaku," ujarnya tanpa menatap Jungkook di sebelahnya.
Mendengar itu, Jungkook hanya menggigit pelan bibir bawahnya. Apa yang dikatakan Taehyung memang benar, Jungkook sebagai manusia tentu normalnya akan merasa takut jika berhadapan dengan yang bukan sejenis dengannya. Namun ia tidak merasakan adanya ketakutan yang berarti selama hidupnya bersama Taehyung. Ia malah merasakan suatu hal yang berbeda dari kehadiran makhluk tampan satu ini –ah Jungkook tidak bilang ia tampan, 'kan?
"Ah, mengenai hal yang kau janjikan barusan kalau kau mau menuruti permintaanku aku akan memaafkanmu dan tak akan menghukummu," lanjut Taehyung. Jungkook hampir tidak melihat sebuah seringai muncul di wajah makhluk itu.
"Apa permintaanmu?"
Taehyung berhenti kembali, menatap Jungkook yang terlihat bingung dan menunjuk bibirnya sendiri.
"Letakkan bibirmu di sini,"
"MWOOOO?!"
Jungkook tidak bisa untuk tidak berteriak histeris saat ini.
"Jangan histeris begitu, kau 'kan sudah berjanji," Taehyung tak dapat menahan tawanya menatap ekspresi Jungkook yang begitu lucu namun menggemaskan.
Ia kembali mendekati pemuda itu,
"Kau tahu? Kekuatanku berasal dari ciuman manusia,"
"KIM TAEHYUNG KAU BENAR-BENAR GILAAA~!"
Biarpun berteriak seperti itu, hari-hari selanjutnya Taehyung selalu mendapat jatah 'ciuman' dari Jungkook yang sudah ia deklarasikan sebagai sumber kekuatannya,
Sekaligus, cintanya.
.
.
"GYAA PERGI KAU SILUMAN GAGAK!"
.
.
.
.
.
.
.
.
End!
Gyahaha akhirnya setelah bertahun2 ini selesai jugaaaa~~
Maafkan sungguh maafkaaaan baru sempet nyelesein ;~;
Aneh banget ya sudahlah, aku juga gatau kok nulis apa /dor X"D
Maaf kalo ngga puas sama endingnya :") asli, ini emang gantung/?
Bagi yang watdehel sama si taehyung siluman gagak itu ya emang, genrenya aku sengaja kaya gini jadi mohon maklumi/?
Oke sampai ketemu di cerita lainnya/? /ya ketemu dong ya kita ya okeeee/?
kindly do me the 3 big favors, favs/follow/review ;3 any critics/comments are warm welcomed & appreciated ;))
thank you ;3
