4

It's A Cheesy Love Story

.

.

"Kim"

.

.

Kyungsoo Pov

Minseok tidak masuk sekolah hari ini, ia mengalami benturan di kepalanya begitu yang tertera di dalam surat ijinnya. Ibunya sungguh khawatir keadaan putrinya dan berencana memindahkan sekolah anaknya. Sebenarnya Minseok tak mengatakan apapun tentang benturan kepalanya, namun aku yang menceritakan semua perlakuan tidak pantas yang di terima Minseok selama ini. Aku tau Minseok pasti akan marah padaku, tapi itu lebih baik daripada dia terus di ganggu para pem-bully itu. Namun dengan tidak adanya Minseok di dekatku membuat mulut-mulut pedas teman sekelasku makin menjadi-jadi.

"Begitu saja tidak tahan. Tsk, gadis itu pasti akan pindah sekolah sebentar lagi"

"Si anak jalang sekarang sendirian. Kita lihat saja sebentar lagi ia yang akan menggantikan sahabatnya itu"

"Aku heran kenapa dia tidak pernah di bully. Dia lebih miskin dari Minseok, dia juga bodoh dan lemah"

"Huss kau tak boleh berkata seperti itu. Ku dengar dari Irene, dia itu pacarnya Suho"

"Kau serius? Paling-paling dia hanya di bayar untuk di pakai Suho. Liat Suho lebih dekat dengan Irene"

Begitu kira-kira gunjingan yang ku dengar hari ini. Si anak jalang? Ya walaupun ibuku tidak menikah dan aku tidak punya ayah, ibuku bukan jalang dia bekerja dengan cara yang benar meskipun hanya dapat hidup dengan sederhana. Teman-temanku memang sudah tau perihal ini. Bahkan beberapa guru juga sempat mempermasalahkan statusku sebagai anak tanpa ayah dan pernikahan. Lupakan saja, mendengarkann ocehan mereka tidak ada faedahnya.

Ketika kelas sudah mulai sepi, seorang pemuda laki-laki yang sepertinya umurnya jauh di bawahku datang dengan keringat menetes deras.

"Apa noona bernama Kyungsoo? Teman-temanku bilang noona gadis satu-satunya yang bermata bulat di tingkat akhir. Apa itu benar?" tanya pemuda itu.

"Aku bukan satu-satunya yang punya mata seperti ini asal kau tau" ucapku sedikit ketus, ada beberapa gadis yang matanya bulat juga tapi memang tidak sebulat punyaku sih. "Tapi benar memang namaku Kyungsoo, ada apa?"

"Yifan sunbae dan teman-temannya mencari noona. Ayo kumohon ikut aku ya, noona~" pintanya memelas.

"Suruh saja mereka kesini" ucapku enteng. Dengan begitu aku bisa kabur, mereka tidak akan menemukanku ketika mereka ke kelas ini. Namun rencanaku segera pulang gagal karena Suho mengirimiku pesan memintaku menunggu di depan kelas, dia menemani Irene dulu menunggu jemputannya.

Kekhawatiranku terbukti, Chanyeol yang ku ketahui anggota geng Black Pearl tiba-tiba muncul di hadapanku dengan senyum lebarnya berujar hari ini cerah. Basa basi klasik yang tidak sesuai dengan sitkon. Orang dengan kelainan mata minus pun tau jika cuaca sedang mendung. Tapi ketika ia memperkenalkan dirinya, seseorang membekapku. Aroma kimia meyapa indra pembauanku. Berangsur-angsur kesadaranku mulai hilang bersama aroma yang kucium semakin kuat.

.

.

Kepalaku pening, mataku berat untuk kubuka, ohh iya jangan lupakan perutku yang meronta untuk diisi. Uuhh..Laparrr~! Namun laparku bukan jadi hal penting sekarang, sesosok pemuda yang kutemui dua kali tanpa sengaja menyapa pengelihatanku.

"Jongin~" ucapku lirih. Ia menyeringai mendengar namanya ku panggil. Seharusnya aku pura-pura tidak tau namanya. Bodoh. Bodoh. Kyungsoo bodoh.

"Kau sudah sadar rupanya. Kau tidak bertanya kenapa kau ada disini, Kyungsoo~" bisiknya tepat di telingaku dengan menekankan suaranya pada namaku. Bagaimana dia tau namaku?

Rupanya Jongin membaca pikiranku dengan mudah. "Memang sulit mencari namamu, kurasa dekat dengan anak pemilik sekolah tak juga membuat namamu terkenal ya Kyungsoo~" Jongin mendekatkan ke telingaku lagi hanya untuk menyebut namaku dengan suara khas pria-nya. Suara yang seksi. Apa aku berpikir suaranya seksi? Ku geleng-gelengkan kepalaku mengusir pikiran bahwa suaraya seksi. Hell, otakku tidak berpikir jernih ketika lapar.

Jongin terkekek pelan. "Kau mau aku menyebut namamu lagi? Kyungsoo~...Kyungsoo~...Kyungg~...Aahhhh, Soo-ya~!" serunya mengulang-ulang namaku dengan suara berat menggoda di akhiri dengan desahan. Ya Tuhan, kuatkan aku dari makhluk ini.

"Apa kau sudah basah?" tanya Jongin frontal. Apa? Dia harus belajar sopan satun rupanya. Aku berniat akan menamparnya detik ini juga, tapi tanganku ternyata terikat di belakang kursi. Ku gerak-gerakan tangaku berharap ikannya tidak kuat dan tangaku terbebas. Namun rasanya sia-sia saja, pergelangan tanganku jadi sakit.

"You wont be needing your hands today, princess!" ujarnya tersenyum penuh kemenangan.

"Sialan kau, Kim!" amarahku sudah ada di ubun-ubun. Ingatkan aku untuk menendang selangkangannya nanti.

"Ck, kekasihmu juga seorang Kim jika kau lupa" decih Jongin.

"Baiklah jika kau tak mau bilang, akan ku periksa sendiri!" ucapnya seraya berjongkok di depanku. Aku menatapnya takut-takut. Liat saja wajah mesumnya, siapa yang tidak takut? Kurasa jika ada kucing lewat dan kebetulan melihat wajah mesumnya pun akan berlari ke komnas perlindungan hewan, karena takut diperawani.

Dia melepas sepatuku beserta kaos kakinya. Hingga tanpa sadar mataku tertuju pada kakiku yang juga terikat tali. Ketika tak ada pembungkus apa pun pada kakiku, ia meminjat kakiku pelan. Sangat nyaman. Jujur, membuatku terlena.

"Kau menikmatinya?" tanya Jongin masih sibuk memijat. Aku diam saja tak membalas. Sebenarnya apa yang ia lakukan? Bersikap mesum lalu tiba-tiba bersikap lembut?

"Otot-otot kakimu sangat tegang dan lelah, kau butuh sedikit pijatan untuk merilekskannya" jelasnya menjawab semua pertanyaanku. Benar saja, kakiku memang agak sedikit linu dan pegal akibat mengelilingi sekolah mencari Minseok tempo hari. "Mungkin kau bisa berganti memijitku nanti. Di tempat lain tentunya" lanjutnya sambil mengerling nakal.

"Baiklah...kita lanjutkan mengecek apakah kau sudah basah" lanjutnya membuat perasaan takutku kembali.

Tangannya mulai meraba dari ujung kaki sampai paha bagian dalamku. Geli bercampur rasa gelayar aneh merambati sekujur tubuhku. Reflek pahaku mengatup menjepit tanganya yang sibuk mengusap lembut disana. Jongin yang juga terlihat kaget menghentikan aktifitasnya namun segera smirk-nya mengembang menghiasi wajah tampannya. Hell, sekarang aku memujinya tampan.

"Jepitanmu kuat juga" komentarnya ambigu.

"Jauhkan tanganmu dariku!" ucapku dengan nada memerintah.

"Bagaimana jika aku tidak mau?" Tiba-tiba wajahnya menunduk, hanya beberapa milimeter dari pertengahan pahaku. "Apalagi baumu harum. Maaf saja aku tidak akan melepaskanmu" ujarnya seraya mengangkat wajahnya kembali.

"Akan ku laporkan kau ke Krystal" ancamku, kehabisan akal. Padahal hubunganku dengan Krystal saja kurang baik, buruk malah.

Jongin berjalan menjauh lalu mengangkat kursi di dekat almari dan menaruhnya di hadapanku. Jongin dengan santainya duduk secara terbalik, tanganya bersimpul di atas sandaran kursi. "Laporkan saja, kau tinggal mengantikannya menghangatkan ranjangku."

Aku bergidik ngeri. Mengingat keadaan Krystal yang seperti kena badai dan anemia ketika pacaran dengan Jongin. Krystal saja yang hobi dance dan berolahraga kewelahan menghadapinya, apalagi aku yang jarang olahraga...apa tidak lihat lemak berlebih yang menempel pada pipiku ini? Bahkan pantatku jauh dari kata seksi, lebih mirip pantat tapir.

Aiishh, kenapa aku membandingkan diriku dengan Krystal? Siapa juga yang mau dengan si hitam ini? Lebih baik aku memilih Chanyeol walaupun senyumnya berlebihan tapi sepertinya dia lebih ramah dan baik.

Di tempat lain. "Hachinggg!" Chanyeol mengusap hidungnya yang gatal dan tiba-tiba bersin.

"Dari ekspresimu kau pasti pernah melihat Krystal pulang dengan keadaan seperti..." Jongin sengaja mengantung kata-katanya.

Aku bersumpah dia pasti akan mengataka hal-hal jorok lagi. "Yaa..ya...aku sudah tau...jangan kau jelaskan" sahutku buru-buru. "Sebenarnya apa maumu menculikku?" tanyaku.

"Karena kau membocorkan base camp kami, jadi kau harus belajar sesuatu. Begitu juga kekasihmu"

"Base camp?" ulangku bingung. "Apa yang kau sebut base camp itu gudang ketika tempo hari kita bertemu?"

Jongin mengangguk mantap. "Dan kau melaporkannya ke Suho. Suho pasti menyuruh pihak sekolah menutupnya"

"Hey...ada yang salah disini. Aku tidak pernah membicarakannya dengan Suho bahkan aku tidak melaporkannya. Aku malah baru tau itu base camp kalian" jelasku panjang lebar. Jadi aku terjebak disini karena kesalah pahaman.

"Kau punya bukti?" tantang Jongin.

Aku menunduk bingung. "Well, kau tak punya bukti. Kau satu-satunya yang tau base camp kami, bahkan Krystal pun tidak pernah kuberi tau"

"Tapi..." cicitku bingung harus berkata apa lagi.

"Ngomong-ngomong kau benar kekasihnya Suho?"

Aku mengangguk ragu-ragu. Jongin kelihatan agak kecewa, "Sayang sekali. Karena kau kekasihnya aku harus menyeretmu dalam masalah ini. Ku beri tau, aku dan teman-temanku tidak begitu suka dengan si kaya itu dan fakta bahwa dia satu-satunya orang berkemungkinan memiliki kedudukan untuk menutup base camp kami...maka..aku kuberi sebuah penawaran untuk menghancurkan kekasihmu itu"

"Dia orang baik asal kau tau. Aku tidak akan membiarkanmu" pekikku dihadiahi tatapan tidak suka darinya.

"Sayangnya kau tak punya pilihan nona Do" Jongin bangkit dari kursinya berjalan pelan mengitariku lalu ke arah nakas meja di samping ranjangnya. Ia mengambil gunting dari lacinya.

Ujung gunting yang berbahan alumunium mengkilat tertepa lampu kamar. Aku tidak bisa membayangkan seberapa tajamnya, ya walaupun lebih tajam pisau pikirku. Ia berdiri di depanku lalu mencondongkan wajahnya tepat di wajahku. Aku mendongak menatap mata elangnya yang tajam. Alis yang tebal. Bibir yang seksi. Rahang yang tegas. Aku tau ini bukan waktunya mengagumi ketampanan si hitam ini, tapi ku akui auranya memang benar-benar seksi. Seksi? Kalimat laknat itu lagi muncul di pikiranku.

"Kau tinggal pilih. Kulucuti bajumu dengan gunting ini lalu kusetubuhi dengan keadamu terikat seperti ini atau..."

"Atau apa?" tanyaku tidak sabar. Mulut sialan.

"Atau tidur denganku dan kulepaskan ikatanmu"

Ketika aku ingin meneriakinya dengan sumpah serapah, Jongin buru-buru membuka mulutnya kembali. "Kau pasti salah paham. Maksudku tidur biasa, aku hanya perlu mengambil fotomu dan mengirimkannya ke Suho sebagai balasan perbuatannya"

Aku diam. Aku tetap saja di rugikan kan? Tapi pilihan kedua jauh lebih baik tapi bagaimana dengan Suho, dia bisa saja memutuskanku.

"Kau ragu dengan cinta kekasihmu sendiri? Kalau dia mencintaimu dia akan menantangku secara gantle dan menjauhkanmu dariku" ejek Jongin.

"Tentu saja dia .." Ucapanku terhenti. Sungguh aku tidak yakin. Tidak ada yang tau hati Suho terhadapku. Aku tau dia menyayangiku tapi ...

"Baiklah aku pilih yang kedua. Jadi cepat lepaskan aku sekarang" seruku. Jongin akhinya membuka ikatan yan melilit tangan dan kakiku. Tenang Kyungsoo...tenang..berpikir...berpikir...aku harus menemukan kunci pintu itu dan kabur dari sini.

Mataku langsung berbinar melihat kunci tergeletak di meja belajarnya. Kau sangat teledor Tuan Kim. Tanpa Jongin sadari, aku tersenyum bangga dengan rencanaku sendiri.

"Sekarang lepas bajumu!" perintah Jongin sambil melepas bajunya sendiri.

"Untuk apa? Kita hanya tidur biasa bukan?" elakku.

"Kita akan menghasilkan foto yang seksi, sayanggg~... Mana ada orang dewasa tidur berdua dengan pakaian lengkap, kau mau dikira anak TK tidur siang bersama temannya?"

"Baiklah kau hadap sana tapi" perintahku. Dan aku akan mengambil kuncimu..hahaha.

Jongin hanya menurut saja. Aku berjalan sedekat mungkin dengan meja belajar. Kena kau!

Grep! Tangan Jongin mencekal tanganku. Ia langsung mengambil kunci kamarnya yang tergeletak. "Ck..pikiranmu dangkal sekali. Berapa peringkatmu di sekolah?" maki Jongin. Aku mendengus sebal. Aku memang bodoh tapi jangan memakiku di hadapanku. Itu menyakitkan.

"Kalau kau mau kau boleh mengambilnya disini" Jongin memasukan kuncinya kedalam saku celana panjangnya. Ku kuatkan niatku, semoga saja dia pria lemah jadi aku bisa mengambil kunci dari kantong celananya. Tapi ketika melihat abs coklatnya tiba-tiba keberanianku luntur. Jongin melipat tangannya di dada menonton apa yang akan ku lakukan.

"Kau terlalu lama! Kita lakukan sekarang saja ya" ujarnya langsung mengangkat tubuhku dan menghempaskanku ke ranjangnya berseprai abu-abu.

Jongin yang ada di atas tubuhku dengan cepat membuka kancing seragamku dengan cepat lalu membuangnya asal. Dapat kulihat dia tertegun sesaat, netranya menatap intens ke arah gunung kembar yang tertutup bra hitam yang ku pakai. Tanganku segera menarik selimut putih terdekat untuk menutupi bagian dadaku. Ya Tuhan aku hanya memakai bra, Suho saja belum melihatnya.

"Kemarikan handphonemu!" pintanya dengan nada mendominasi. Ku rogoh saku rok yang ku pakai. Jongin langsung menerimanya dengan cepat berbarengan dengan telpon yang masuk. Pasti itu Suho. Aku kan tadi berjanji menunggunya di depan kelas.

"Kau mencari kekasihmu?" tanya Jongin dengan nada menyebalkan.

"Kim Jongin! Dimana Kyungsoo-ku?" suara Suho tak percaya.

"Terima kasih sudah mengingat suaraku. Ah Kyungsoo ya? dia ada denganku sekarang"

"Bohong! Apa maumu, Jongin? Kau tidak berniat balas dendam gara-gara kututup base camp kalian bukan?"

"Jadi benar kau yang melaporkannya? Terima kasih, Suho-ssi. Aku tidak balas dendam, kekasihmu memang dekat denganku."

"Kyungsooku tidak akan mau dekat-dekat denganmu. Aku tau itu. Kau hanya berbohong kan"

"Kyungsoo-ku? Posesif sekali...kita lihat apakah kau masih mau menerima kekasihmu setelah ini. Aku akan mencicipinya duluan. Akan ku kirim review hasil mencicipiku nanti"

"KIM JONG – " Jongin menutup teleponnya duluan.

"Mari kita lanjutkan. Sampai dimana kita tadi?" ucapnya kembali mengukungku, selimut yang kukenakan semakin kutarik ke atas sampai leher atasku. Jongin tertawa ringan lalu membawa tubuhku berguling ke samping. Tangan kirinya melingkari tubuhku sangat erat sedangkan tangan kanannya memegang kamera yang sudah on.

Srek! Selimutku di tarik kebawah sampai pertengahan dada yang sukses mempertontonkan belahan dadaku. Tak hanya sampai disitu tangannya dengan lihai menarik tali bra yang tadinya di bahuku sekarang melorot menjuntai tak berdaya di lenganku. Mungkin ini akan terlihat seksi tapi demi piayama polkadot eommaku...aku bukan model majalah dewasa!

Cekrekk! Satu foto terambil

"Sepertinya ada yang kurang!" ujar Jongin berpose berpikir. "Ini akan membuat wajahmu semakin terlihat cantik" tanpa aba-aba bibirnya menyesap daun telingga hingga tengkukku. Aku sampai harus menggigit bibirku sendiri untuk menahan desahan. Aku tidak akan mendesah untukmu, Kim.

Cekrekk! Dua foto terambil. Sent to Suho.

"Dugaanku memang benar, lehermu memang enak untuk di beri tanda. Putih dan seharum bayi" bibirnya menyesapi leherku lama tak mau beralih ke yang lain. Mataku sudah tidak fokus lagi. Ku pejamkan mataku tanpa sadar menikmati setiap sentuhan bibirnya. Dan si hitam mesum memanfaatkan kesempatan ini untuk menarik selimut yang kupakai dan melemparnya sampai di sudut ruangan. Tak hanya itu, tangannya yang sudah trampil melepaskan bra-ku dengan mudahnya. Hell, aku benar-benar sepertinya sekarang. Topless.

Ia mengangkat bra-ku tinggi-tinggi dengan seringai mesumnya. Aku merangkak menggunakan lututku mengejarnya hingga berkeliling di atas ranjang. Yups, ranjangnya cukup luas. Saat kami sudah cukup dekat pun aku tak dapat menggapainya. Aku yang terlahir pendek sangat susah menjangkaunya padahal posisi kami sama-sama masih duduk di ranjang.

Jika aku berdiri aku takut rok dan celana dalamku menjadi target kemesumannya selanjutnya. Bayangkan tangan kananku harus merebut bra-ku sedang tangan kiriku berusaha menutupi aset berhargaku yang susah ditutupi hanya dengan tangan kecilku. Sedangkan Jongin masih saja berpindah-pindah dari sisi ranjang satu ke sisi ranjang lainnya.

Ranjangnya sampai berderit kencang karena ulah kami. Wajahku memberengut kesal berbeda jauh dengan Jongin yang tertawa puas mempermainkanku. "Wow warnanya pink" ujarnya melirik putingku yang tidak sengaja tak tertutupi tanganku.

"Yakk! Mati saja kau Kim Jongin! Umpatku melemparnya dengan bantal dan tepat mengenai wajahnya. Akibat hantaman tersebut ia sedikit oleng hingga bra-ku ikut terlepas dari tanganya. Namun sayangnya malah terlempar jauh juga. Hiks...Bra ku! eomma..anakmu telanjang!

"Aku salah apa? Kenapa kau memperlakukanku seperti ini?..Hiks..hiks.." ucapku lirih tak bisa mengalahkan suara tangisku.

Ketika ia mendengar isakan tangisku, ia mendekatiku dengan raut tak terbaca. Ia mendekapku ke pelukannya tapi terganjal tanganku yang masih menutupi area payudaraku. "Uljima, Soo-ya~...maafkan aku, ne! Aku keterlaluan ya?" ujarnya mengusap rambutku yang entah sejak kapan tergerai menutupi sebagian punggungku.

"Sudah tak usah di tutupi. Aku tidak akan melihatnya, okey?" bujuk Jongin merasa tanganku mengganjal pelukan hangatnya. Aku hanya menurut saja, menyembunyikan wajahnya di dada bidangnya sambil terus terisak.

"Cup...cupp..cup...!" ucapnya mencoba menenangkanku. Di pirkir aku bayi?

"Aku seperti habis memperawani seorang gadis saja" guman Jongin menertawakan dirinya sendiri. "Jika Krystal melihat ini, dia akan iri padamu!" lanjutnya.

.

Normal Pov

Suho pulang ke kediamannya dengan perasaan cemas, tidak biasanya Kyungsoo menolak menungguku bahkan teleponku tidak diangkat. Ada apa sebenarnya denganmu, kyung?

"Tuan muda, Tuan Siwon meminta anda mewakilinya menghadiri jamuan makan bersama eomma Anda. Mohon segera bersiap." Sungguh mood Suho sedang tidak baik hari ini, ia tidak ingin pergi kemana pun.

"Maaf sekretaris Kang, aku sedang tidak ingin di ganggu. Tolong sampaikan kepada eomma, aku tidak tega mengatakannya sendiri. Bantu aku sekali ini saja." pinta Suho.

"Tapi Tuan muda..." sekretaris Kang agak keberatan tidak menjalankan amanat yang diberikan kepadanya.

"Kau tau Appa kemana kali ini?" tanya Suho ragu-ragu.

"Beliau ke China, tuan. Membangun perusahaan baru untuk sepupu Anda, Kim Jongin." Suho mengeraskan rahangnya, membuat sekretaris Kang membungkukan badanya sebagai tanda permintaan maaf. "Maaf kan saya, saya seharusnya tidak mengatakan ini"

"Tak apa, kuhargai kejujuranmu. Tolong bilang pada eommaku ya, aku akan beristirahat di kamarku," pamit Suho

Sekretaris Kang hanya bisa melihat punggung anak majikannya berjalan menjauh. Rasa bersalah menggerogoti hatinya. Anak majikannya memang sedikit terganggu dengan kasih sayang berlebihan yang diberikan Tuan Siwon kepada keponakannya, Kim Jongin.

Dari kamar Suho terdengar ia berteriak memanggil nama sepupunya sendiri karena seenaknya mengakiri telpon. "KIM JONGINN!"

Tut tut tut... sambungan teleponnya terputus

"Kyungsoo~~" ucapnya lirih sambil meremat lembar kertas foto Kyungsoo dengan Jongin di depan sebuah gudang. "Apa aku kurang baik untukmu, Kyung?"

Tok..tok..tok. Sekretaris Kang memberanikan mengetuk pintu kamar Suho. Ia mendengar Suho meneriakan nama Jongin dari dalam kamar, hal tersebut membuatnya khawatir. Ia tak mau anak majikannya ini melakukan hal yang tidak-tidak kepada sepupunya sendiri. Mengingat ketika kecil Suho pernah mengamuk gara-gara Kim Jessica, ibunya berniat berpisah dengan ayahnya dan membawa pergi Tao.

"Tuan muda..! Tuan muda Suho! Anda tidak apa-apa?" Namun Suho tak menyahut apa pun dari dalam kamarnya.

"Saya harap Tuan muda tidak membahayakan diri tuan sendiri. Jika Anda membutuhkan saya, saya ada di ruangan eomma Tuan" ujar sekretaris Kang meninggalkan kamar Suho.

Suho yang sedari tadi mendengarkan apa yang sekretaris Kang ucapakan hanya bisa menyembunyikan kekecewaannya. Semua orang menaruh hormat dan memperhatikannya, namun ayahnya sendiri lebih memperhatikan orang lain. Sempat terbesit di pikirannya Kim Jongin bukanlah keponakan ayahnya melainkan anak kandung ayahnya. Semakin lama pikiran itu semakin menjadi nyata dengan fasilitas, harta, bahkan kasih sayang ayahnya yang dilimpahkan kepada Jogin.

Ting. Suho membuka handphonenya secepat mungkin ketika sebuah pesan dari Kyungsoo masuk. Tangannya mengepal erat. Giginya bergemeletuk tak beraturan. "Mari kita bermain Kim-Jong-in," desisnya angkuh.

TBC

Note:

Author ucapkan terima kasih untuk yang sudah favorit, follow, maupun review ff ini. Jika jalan ceritanya tidak sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan, maap keun ya...adek jangan digebukin yee! Kalau di cium ama di kasih tiket konser EXO boleh lah, boleh banget malah *Ngarep banget*

Kalau bingung ama jalan ceritanya silahkan di tanyakan di kolom komentar, ntar saya jawab di chapter selanjutnya.

Jika update-nya lama mohon di maklumi, saya baru cari kerjaan baru (dipecat-red) dan skripsi baru macet kek feses waktu lagi sembelit. Abaikan yang terakhir.