.

My Slave, My Love

Disclaimer : om Masashi Kishimoto

Story by : Kinky Rain

Pairing : always SasuSaku

Warning : AU, tiap karakter sangat OOC, norak, abal, alay, typo(s)

Rated : M for save

DLDR

.

.

.

.


.

.

.

Tanpa diduga Sakura meraih tangan kanannya kemudian meletakkannya di atas kepala merah muda milik Sakura. Emerald polos itu menatap sang onyx. Seulas senyum kembali terpatri di bibir Sasuke ketika menyadari maksud Sakura. Dia mengelus lembut kepala bermahkota merah muda itu.

"Aku pergi dulu." pamit Sasuke sekali lagi. Lekali raven itu kemudian kembali melanjutkan langkahnya yang tadi tertunda.

Sakura terus mengamati kepergian Sasuke dengan senyum tipis di bibirnya. Namun hal itu tak bertahan lama, karena setelahnya dia memandang sedih mobil yang membawa Sasuke itu sambil meremas dada kirinya.

.

.

.

.

Sakura memandang takjub pada bangunan bertingkat di hadapannya. Tidak pernah terlintas di pikirannya bahwa dia akan dapat meneruskan pendidikan hingga ke jenjang kuliah. Berterima kasihlah pada pemilik barunya yang begitu dermawan, sehingga dia dengan tangan terbuka bersedia menyekolahkan Sakura. Sakura bahkan tidak tahu harus berterima kasih dengan cara apa kepada pemiliknya itu.

"Sakura."

Mengalihkan fokus dari gedung bertingkat itu, Sakura memandang pria tampan yang duduk di sampingnya.

"Ini untukmu." Kata Sasuke—si pria tampan tadi pada Sakura. Gadis bermata hijau itu menerima dalam diam benda berbentuk persegi panjang yang ia tahu adalah handphone model terbaru yang sering ia lihat di televisi. Dia memandang Sasuke dengan pandangan bertanya.

"Aku sudah menyimpan nomor ponselku di sana. Jika ada apa-apa kau harus segera menghubungiku," kata Sasuke, "Dan jangan lupa untuk menelponku ketika kau sudah selesai kuliah, aku akan menjemputmu."

Sakura mengangguk. "Arigatou, Sasuke-sama."

Sasuke tersenyum kemudian membuka pintu mobil. Dia mengitari mobilnya kemudian membuka pintu dimana Sakura duduk.

"Ingat untuk menghubungiku jika ada apa-apa. Apa kau mengerti?" Sasuke kembali mengulangi pesannya ketika mereka sudah saling berhadapan.

Sakura kembali mengangguk. Wajahnya tampak merona karena bahagia.

"Kau senang?" Tanya Sasuke ketika melihat ekspresi Sakura.

"Hm. Arigatou, Sasuke-sama." Sakura tersenyum senang.

"Hei, kau sudah mengatakannya berkali-kali," Sasuke menimpali, "Kau tidak perlu berterima kasih, aku tidak keberatan melakukannya." Lanjutnya.

Kegiatan mereka di interupsi oleh dering ponsel Sasuke. Dia segera mengangkatnya, yang ternyata adalah sang kakak yang menghubunginya.

"Ada apa Aniki?"

Saat Sasuke sedang sibuk dengan telponnya, Sakura mengedarkan pandangannya keliling. Banyak orang hilir mudik di kampus itu. Laki-laki maupun perempuan. Dan dalam tampilan yang beragam. Ada yang berpenampilan rapi mengenakan kemeja, ada juga yang terkesan santai dengan mengenakan kaos yang di double dengan kemeja yang tak dikancingkan. Bahkan Sakura sempat terkesiap ketika melihat seorang gadis yang memakai rok sangat minim. Dia menilik pada penampilannya. Dia mengenakan celana jeans panjang dan kemeja berlengan tiga perempat berwarna biru langit. Salah satu dari sekian banyak baju yang Sasuke belikan untuknya.

Dia sedikit menghela napas. Apa jadinya jika dia berpakaian seperti gadis itu? Apa Sasuke akan menyukainya? Sasuke selalu berteriak-teriak ketika dia tidak pakai baju. Mungkin dia tidak akan suka jika Sakura berpenampilan seperti itu.

Sakura segera mengenyahkan pikirannya itu dan kembali memandang sekeliling. Emeraldnya menangkap dua orang muda-mudi yang baru keluar dari dalam mobil. Entah kenapa hal itu menarik perhatiannya. Emeraldnya kian terpaku ketika pasangan berbeda jenis kelamin itu saling berpagutan.

"Sakura."

Sakura menoleh pada Sasuke yang sudah selesai dengan kegiatan menelponnya.

"Aku harus segera pergi. Aku akan menjemputmu ketika kau selesai kuliah." Dia tersenyum kemudian mengelus kepala merah muda milik Sakura. Dia hendak berjalan menuju mobilnya ketika merasakan ada yang menahan tangannya. Kembali ia tatap gadis di hadapannya dengan tatapan penuh tanya.

"Sasuke-sama tidak menciumku?"

"APA?"

Pertanyaan Sakura berhasil membuat Sasuke tercengang. Apa terlinganya tidak salah dengar? Gadis di hadapannya ini barus saja menanyakan perihal mencium pada Sasuke. Sakura yang dengan tatapan polos, tanpa mempedulikan keterkejutan Sasuke, mengalihkan pandangan pada pasangan yang tadi ia lihat. Mereka tampak tengah tersenyum sambil mengobrol, kemudian kembali berciuman. Sasuke mengikuti arah pandang Sakura, dan onyxnya melebar. Sepertinya dia mengerti mengapa Sakura menanyakan hal tersebut. Meski kadang ia masih tidak percaya bahwa Sakura begitu polos.

"Aku tidak bisa melakukannya, jika itu yang kau maksud Sakura." Sakura memandang Sasuke.

"Itu hanya dilakukan oleh pasangan kekasih." Lanjutnya. Sakura tidak menjawab dan hanya menundukkan wajahnya. Sasuke dapat melihat kekecewaan pada paras cantik itu, dan hal tersebut membuatnya merasa bersalah.

Kembali ia lirik pasangan yang masih berpagutan tersebut, kemudian memandang Sakura yang tertunduk. Ia tangkup kedua sisi wajah Sakura, dan dia mendaratkan sebuah kecupan di kening lebar gadis itu. Sakura tampak terkejut dan mendongak memandang Sasuke yang lebih tinggi darinya.

"Aku tidak bisa menciummu di bibir. Tidak apa-apa kan jika di kening?" Sasuke tersenyum lembut. Rona merah perlahan menjalari wajah Sakura. Gadis itu mengangguk dengan senyum bahagia terpatri di wajahnya.

"Aku harus segera pergi. Jaga dirimu." Ucap pria emo itu, mengelus pucuk kepala Sakura kemudian berjalan masuk ke dalam mobil.

Setelah melambaikan tangan pada Sasuke yang telah pergi, dia menyentuh jejak bibir Sasuke yang menyentuh lembut keningnya. Entah kenapa dia merasa begitu bahagia. Hanya kecupan singkat, tapi hangat bibirnya mampu menjalar di sekujur tubuhnya. Dengan wajah yang masih merona, Sakura berjalan menuju gedung tempatnya akan berkuliah.

.

.

.

Sasuke tersenyum mengingat kejadian tadi pagi saat dia mengantar Sakura. Dia masih tidak habis pikir dengan sikap polos gadis itu. Padahal saat bersama Ibiki, gadis itu selalu di perintahkan untuk melakukan hal-hal yang dilakukan oleh orang dewasa. Siapa sangka kalau sesungguhnya gadis itu masih sangat polos. Sasuke kembali tersenyum saat teringat wajahnya yang merona setelah dia mencium keningnya. Dia tampak begitu bahagia. Melihat wajah bahagia itu, entah bagaimana membuat Sasuke juga merasa bahagia.

"Apa yang membuatmu bahagia sampai kau senyum-senyum sendiri begitu Otouto?" Suara sang kakak menginterupsi lamunan Sasuke. Bukan hal yang baik jika kakaknya memergokinya dalam keadaan seperti ini. Kakaknya yang sangat usil ini pasti ada meledek dan menggodanya.

"Bukan urusanmu Aniki." Timpal Sasuke ketus. Sang kakak hanya menyeringai jahil menanggapi reaksi adiknya. Tentu Sasuke yang seperti ini sangat menarik baginya.

"Apa ini karena budakmu yang bernama Sakura itu?" tebak Itachi.

"Berhenti menyebutnya begitu Nii-san. Dia bukan budakku." Sembur Sasuke kesal. Dia tidak suka setiap kali Itachi menyebut Sakura sebagai budaknya, meski kakaknya itu mengatakannya dengan nada bercanda. Sakura bukanlah budaknya, dan dia tidak suka jika orang menyebutnya begitu.

"Oke. Oke. Kau tidak perlu emosi begitu kan Otouto." Sasuke tidak menanggapi dan hanya cemberut pada sang kakak.

"Aku kemari bukan untuk bertengkar denganmu. Aku datang untuk memberimu ini." Utar Itachi sembari menyerahkan sebuah map di atas meja Sasuke.

"Apa ini?" Tanya Sasuke.

"Data-data tentang Akatsuki."

Sasuke segera membuka map tersebut setelah mendengar perkataan Itachi. Ia buka lembar demi lembar data tersebut dengan alis berkerut.

"Rupanya Akatsuki adalah tempat diperjual belikannya budak dengan berkedok panti asuhan. Tempat itu terdaftar sebagai panti asuhan dan bukannya tempat jual beli budak. Data-data tentang mereka juga sangat bersih dan rapi. Mereka sangat terorganisir, dan manajemen mereka pun sangat teratur. Mereka selalu bisa lolos dari kecurigaan pihak berwenang. Rinciannya ada dalam laporan itu. Kau bisa membacanya sendiri." Terang sang kakak.

Sasuke termangu. Begitu rupanya. Pantas saja jual beli budak di Akatsuki terlihat legal. Rupanya mereka menggunakan kedok panti asuhan sebagai tameng. Dan selama ini Sakura hidup dalam penjara itu. Tidak bisa Sasuke bayangkan bagaimana hidupnya selama ini. Seorang gadis yang masih polos dipaksa menjadi seorang budak dan harus melayani tuannya. Benar-benar tindakan yang tidak manusiawi.

Tiba-tiba saja hatinya dipenuhi amarah yang membuncah. Orang yang memperjual belikan manusia sebagai budak benar-benar tak bisa dimaafkan. Dan dia merasa sangat bersyukur karena pada saat itu dia membeli Sakura dan membebaskan gadis itu dari siksaan Ibiki. Mengingat Sakura entah mengapa membuatnya ingin mendengar suara gadis itu. Mungkin dengan mendengar suara gadis itu akan dapat meredakan amarahnya. Segera ia ambil ponselnya dan menghubungi nomor gadis tersebut.

"Sasuke-sama." Sapa suara di seberang.

"Aku ingin mengajakmu makan siang. Apa kau sedang sibuk?"

"Tidak."

"Tunggulah di sana. Aku akan menjemputmu." Setelah mematikan telepon, Sasuke segera beranjak dari duduknya.

Dia bergegas pergi menemui Sakura. Sedikitpun tidak menyadari bahwa sang kakak masih duduk di sana memperhatikannya dengan pandangan yang sulit di artikan. Detik berikutnya, sebuah seringai tersungging di bibir sulung Uchiha tersebut.

"Kau benar-benar telah berubah Otouto."

.

.

.

.

TBC

.

.

seperti biasa antusiasme readers terhadap fic ini sangat besar, dan maaf kan aku karena tidak bisa apdet kilat.

aku berusaha agar bisa mengapdet fic setiap minggu, tapi situasi dan kondisi tidak mengijinkan.

maaf juga tidak bisa membalas review satu2.

semoga kalian tidak bosan membaca fic MSML ku ini karena terlalu lama molor.

sampai jumpa chap depan, I LOVE YOU FULL :D