Disclaimer
Naruto © Masashi Kishimoto
High School DxD © Ichiei Ishibumi
.
.
.
Pairing : Naruto x Kuroka
Jumat, 11 Desember 2015
.
.
.
WORLD OF DARKNESS AND SEVEN SWORDS
By Hikari Syarahmia
.
.
.
Chapter 4: Memecahkan teka-teki
.
.
.
CHAPTER SEBELUMNYA:
"Semoga kalian berdua berhasil memecahkan kode rahasia di lima pintu itu. Aku yakin kalian bisa melewati semua rintangan itu demi mendapatkan pedang tersebut."
Ya, begitulah harapan Hinata. Tapi, apakah Naruto dan Sasuke berhasil mendapatkan pedang Blue Aquatic tersebut?
.
.
.
Dua laki-laki itu berjalan beriringan di lorong goa yang sangat gelap gulita. Hanya ditemani obor di tangan masing-masing, pencahayaan pun menerangi sekitar tempat yang dilewati oleh mereka berdua.
Goa yang mempunyai langit-langit berbentuk kubah. Dinding goa yang terbuat dari batu-batu berwarna coklat dengan ukiran khas yang klasik. Lantai goa yang juga terbuat dari batu. Sepanjang jalan lorong goa memang lurus. Persis yang dikatakan oleh Ratu Aqua tersebut.
Naruto dan Sasuke terus berjalan cukup lama menyusuri lorong goa itu. Tapi, pintu yang dimaksud belum ditemukan juga. Sehingga membuat rasa kebosanan hinggap di hati Naruto.
"Hah, mana sih lima pintu rahasia yang dimaksud Ratu itu?" gerutu Naruto yang merasa tidak sabar."Jaraknya sangat jauh sekali. Rasanya aku tidak sabar lagi untuk mendapatkan pedang Blue Aquatic itu."
Sasuke pun merasa terganggu dengan aksi berisik yang ditimbulkan oleh Naruto.
"Hei, Dobe! Berisik! Bisa diam tidak?" sergah Sasuke tanpa melihat ke arah Naruto. Dia tetap berjalan santai dengan tenang. Tidak seperti Naruto yang kasak-kusuk seperti lalat begitu.
"Huh, aku hanya ingin cepat-cepat mengambil pedang itu. Tapi, malah harus memecahkan kode rahasia yang berada di lima pintu itu. Itu sangat merepotkan dan membuang-buang waktu saja. Aku tidak habis pikir."
"Sabar. Namanya juga pedang legendaris yang sangat langka. Tempat penyimpanan pedang itu memang harus membutuhkan keamanan khusus yang ketat. Makanya dibuat kode rahasia agar tidak ada orang sembarangan yang bisa mengambil pedang tersebut. Dasar Dobe payah! Kenapa kamu tidak mengetahui hal tersebut, hah?"
"Aku tahu hal itu, Teme. Jangan sebut aku Dobe payah."
"Karena itu, diam dong. Suaramu itu berisik sekali dan membuat telingaku sakit."
"Huh, dasar Teme!"
"Hn, berisik!"
Naruto mendelik sebentar ke arah Sasuke. Sasuke cuek saja tanpa mengabaikan Naruto.
Tanpa terasa mereka menemukan sebuah pintu. Pintu setinggi 2 meter dengan ukiran huruf yang sangat aneh di tengahnya. Inilah pintu rahasia pertama yang berhasil mereka temukan.
Lantas mereka menghentikan langkah masing-masing. Mereka memperhatikan pintu itu dengan seksama.
"Eh, ini pintu rahasia pertama yang dimaksud Hinata-sama," Naruto mendekati pintu itu dan menyorot pintu itu dengan cahaya dari obor di tangannya.
Terlihat ukiran tulisan kuno yang tercetak di tengah pintu itu. Tapi, Naruto tidak mengetahui apa arti dari tulisan kuno tersebut. Wajahnya mengerut drastis.
"Hm, ini tulisan apa ya? Membingungkan," Naruto menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia berpikir sejenak.
Lalu Sasuke juga mendekati Naruto. Ia berdiri di samping Naruto dan memperhatikan tulisan kuno yang terukir di tengah pintu tersebut.
Seketika Sasuke tersenyum simpul.
"Hm, ini tulisan kuno kerajaan Aqua pada zaman dahulu," Sasuke mendekat ke arah pintu itu dengan menyorotkan cahaya obor pada tulisan kuno itu."Aku tahu artinya apa."
Naruto pun mendekat ke arah Sasuke.
"Oh ya ... Artinya apa?" tanya Naruto yang penasaran.
Laki-laki berambut raven itu membaca semua tulisan kuno itu dengan seksama. Naruto mendengarkannya dengan baik.
"Bertanduk, kaki empat, putih dan berekor," jawab Sasuke.
Naruto pun tercengang setelah mendengarnya.
"Apa maksudnya ini? Bertanduk, kaki empat, putih dan berekor?"
Sasuke melirik ke arah Naruto.
"Mungkin ini adalah petunjuk atau suatu teka-teki."
"Teka-teki?"
"Iya, mungkin bisa merujuk pada hewan atau suatu makhluk."
"Jadi, kita harus menjawabnya."
"Iya, aku rasa begitu."
"Hm ..."
Naruto memegang dagunya dengan tangannya. Wajahnya berubah serius.
"Apa ya artinya bertanduk, kaki empat, putih, dan berekor itu? Apa mungkin itu rusa?" kata Naruto lagi sambil mendekatkan wajahnya persis di tengah ukiran huruf kuno di pintu itu.
ZREK!
Tulisan kuno itu bercahaya hitam ketika merespon kalimat "rusa" yang diucapkan oleh Naruto. Membuat silau mata mereka karena cahaya hitam itu. Lalu mereka mundur sedikit karenanya.
"A-Apa ini?! Cahayanya sangat silau!" Naruto melindungi wajahnya dengan tangannya. Begitu juga dengan Sasuke.
"Aku juga tidak tahu, Dobe."
FYUUUSH!
Cahaya hitam itu menghilang. Kedua laki-laki itu pun dapat melihat dengan jelas, suatu makhluk berwarna hitam kini berdiri tepat di dekat pintu itu. Makhluk yang berbentuk aneh. Dia melayang-layang di udara. Sehingga membuat kedua mata mereka terbelalak keluar saking kagetnya.
"Ma-Makhluk apa itu?" sahut Naruto yang syok.
Sementara Sasuke sudah menyipitkan kedua matanya dan bersiap-siap dengan kemungkinan yang terjadi. Tangannya mulai memegang sarung pedangnya.
Entah makhluk apa itu. Namun, yang pasti mereka harus bersiap untuk menghadapinya.
Tiba-tiba, makhluk yang bernama Gimard itu langsung menyerang mereka berdua dengan gerakan yang cepat.
WHUUUSH!
Naruto dan Sasuke kaget setengah mati. Gimard itu semakin mendekati mereka.
BETS!
Keduanya pun menghindari serangan itu dengan cepat. Mereka bergerak secara memisahkan diri masing-masing. Naruto berdiri di sebelah kiri, sedangkan Sasuke berdiri di sebelah kanan. Sementara Gimard berhenti bergerak secepat kilat dan memutar badannya untuk berhadapan lagi dengan dua manusia itu. Dia mulai bersiap-siap untuk menyerang lagi.
SRET!
Sasuke segera menyabet pedangnya dari sarungnya. Lantas melemparkan obor ke arah Naruto.
"DOBE, TITIP OBOR PUNYAKU SEBENTAR!"
"A-APA?!"
Naruto berhasil menangkap obor milik Sasuke itu dengan tangan satu laginya. Ia ternganga habis.
"Biar aku yang menghadapi makhluk itu. Kau tetap berdiri di sana dan jadi tiang pemegang dua obor itu agar menerangi area pertarunganku ini."
Naruto terperanjat mendengar perkataan Sasuke itu. Dia memberikan deathglare pada sahabatnya itu.
"DASAR, TEME MENYEBALKAN! SEENAKNYA SAJA KAU BICARA. AKU INI BUKAN TIANG OBOR! KAU TAHU ITU!" sembur Naruto kesal setengah mati.
"Hm, dia datang!" Sasuke mengacuhkan perkataan Naruto barusan. Dia memusatkan perhatiannya untuk melakukan serangan balasan terhadap makhluk berbentuk aneh itu.
SRIIIING!
Gimard menguarkan aura merah dari dalam tubuhnya. Aura merah itu berkobar di seluruh tubuhnya seperti api. Lantas ia pun terbang melesat seperti kilat ke arah Sasuke.
WHUUUUUSH!
Makhluk sihir berelemen api itu ingin menyeruduk Sasuke. Gerakannya sangat cepat. Sasuke mengayunkan pedangnya yang mengeluarkan aura merah saat makhluk itu mulai mendekat ke arahnya.
BETS!
Makhluk itupun sukses ditebas oleh Sasuke dalam sekali layangan pedang. Hingga makhluk itu terbelah menjadi dua bagian. Ia pun terkapar di lantai dan menghilang begitu saja.
Sasuke menghembuskan napas leganya. Begitu juga dengan Naruto.
Lantas Sasuke memasukkan pedangnya lagi ke dalam sarung pedang yang terpasang di pinggangnya. Lalu Naruto berjalan pelan ke arah Sasuke.
"Waaah, refleks yang sangat bagus, Teme. Sekali tebasan pedang, makhluk itu langsung kalah," Naruto tertawa lebar dengan wajah yang berbinar-binar.
Si Uchiha hanya mendengus pelan sambil menyambar obor yang berada di genggaman tangan Naruto. Naruto sedikit kaget dengan tindakan Sasuke.
"Huh, biasa saja," ujar Sasuke berbalik badan dan berjalan ke arah pintu tadi."Kali ini biar aku yang menjawab maksud dari arti teka-teki itu. Aku rasa teka-teki ini bisa dijawab dengan respon suara dan berkaitan dengan nama hewan atau makhluk mitologi. Tadi kamu menyebut rusa, kan? Berarti jawabanmu salah. Maka pintu ini mengeluarkan aura cahaya hitam yang menandakan jawaban yang salah dan memunculkan makhluk sihir yang menjadi penjaga pintu ini. Aku rasa begitu."
Naruto pun terpaku di tempatnya berdiri. Dia sedang mencerna maksud perkataan Sasuke itu.
"Ja-Jadi pintu rahasia ini merespon jawaban melalui suara, begitu ya?"
"Hn."
Sasuke menjawabnya dengan singkat. Ia sudah berdiri di depan pintu itu.
Lantas Naruto menjadi sewot. Rasanya dia menjadi bodoh sendiri ketika bersama Sasuke dalam mengambil pedang Blue Aquatic itu.
"Unicorn ...," ucap Sasuke lagi dengan nada suara yang sangat datar.
KLIK!
Terdengar suara "klik" yang cukup keras dan menggema di lorong goa itu. Tulisan-tulisan kuno yang berada di tengah pintu itu, bercahaya putih dan terbentuklah satu garis cahaya putih secara vertikal di tengah pintu sehingga membelah pintu menjadi dua bagian.
KRIIIIET!
Pintu pertama merespon jawaban Sasuke yaitu "unicorn." Berarti jawaban Sasuke itu benar seratus persen. Sehingga pintu pun terbuka secara perlahan-lahan.
Kini pintu pertama terbelah dan bergeser ke arah dua sisi dinding. Menampilkan jalan lurus yang bercahaya terang karena terdapatnya obor-obor yang terpasang di sepanjang dua sisi dinding goa. Sehingga tampaklah ukiran kuno yang menyerupai bentuk unicorn di sepanjang dua sisi dinding itu dan menandakan bahwa pintu pertama adalah area goa yang berisi ukiran kuno tentang makhluk mitologi yaitu unicorn.
Akhirnya jalan terbuka lebar. Sasuke tersenyum simpul. Sedangkan Naruto tercengang.
"Akhirnya pintu pertama berhasil terbuka karena jawabanku benar. Jawabannya adalah unicorn," Sasuke kelihatan bangga."Jadi, aku sarankan biar aku yang menjawab semua teka-teki ini agar tidak terjadi penyerangan seperti tadi. Otakmu masih dangkal juga ya Dobe. Padahal kamu adalah pangeran dari kerajaan Light. Tapi, kemampuan berpikirmu masih jauh dibanding aku. Hm, kamu masih belum berubah. Tetap payah seperti dulu."
Setelah mengatakan kalimat-kalimat itu seenaknya, Sasuke berjalan memasuki area unicorn itu. Naruto yang mendengarkannya, merasa panas dan emosi tingkat tinggi. Tapi, ditahannya agar tidak memanaskan keadaan. Apalagi dia dan Sasuke dalam keadaan genting untuk mencari pedang air itu secepatnya.
"Huh, awas ya kau, Teme! Setelah aku mendapatkan pedang itu, aku akan memberimu sebuah pelajaran. Lihat saja nanti!" sembur Naruto yang sudah geram sekali karena keangkuhan Sasuke yang mulai ditunjukkan padanya. Kemudian ia menyusul Sasuke yang sudah berjalan jauh.
Kemudian dua pria itu langsung berjalan lagi lurus ke depan untuk menemui pintu yang kedua. Mereka berjalan tanpa banyak bicara lagi. Mereka terdiam seribu bahasa begitu.
Setelah lima belas menit berjalan, mereka menemukan pintu yang kedua. Ada tulisan kuno yang terukir di tengahnya lagi. Kali ini, Sasuke yang maju untuk membacanya karena Sasuke menguasai bahasa kuno yang dipakai oleh kerajaan Aqua pada zaman dahulu. Naruto membiarkannya walaupun sangat dongkol dibuatnya. Dia berdiri tak jauh dari Sasuke. Wajahnya sangat sewot sekali.
Segera saja Sasuke membaca tulisan kuno itu.
"Kaki empat, berekor, sayap lebar dan besar."
Setelah membaca tulisan itu, Sasuke mengerutkan keningnya sambil memegang dagunya dengan tangannya.
'Hm ... Kaki empat, berekor, sayap lebar dan besar. Mahkluk apa itu ya? Apa ini berhubungan dengan makhluk mitologi juga? Pintu pertama tadi, tertulis bertanduk, kaki empat, putih, dan berekor. Apa ada kesamaannya dengan unicorn ya?'
Si rambut raven terus berpikir dan berpikir. Si rambut kuning tetap bersabar untuk menunggunya.
"HEI, TEME SOK PINTAR! CEPAT JAWAB TEKA-TEKI PINTU KEDUA ITU!" seru Naruto sekeras mungkin. Dia sedang mencoba mengganggu Sasuke yang sedang asyik berpikir.
Tapi, Sasuke tidak menggubris tingkah pola si rambut kuning. Lalu pemikirannya pun menemukan titik terangnya.
Dengan perasaan yang mantap, Sasuke menjawab teka-teki pintu kedua.
"Pegasus!"
KLIK!
Terdengar bunyi yang sama seperti pintu pertama. Berarti jawaban Sasuke benar.
Tulisan-tulisan kuno yang berada di tengah pintu kedua, bercahaya putih dan membelah pintu menjadi dua secara horizontal. Pintu pun bergeser ke arah bawah dan atas.
KRIIIET!
Sasuke tersenyum simpul lagi. Dia melihat area pintu kedua menampilkan lorong goa yang bercahaya terang oleh obor-obor yang terpasang di dinding. Ada ukiran kuno yang menyerupai pegasus di dinding tersebut. Inilah area pegasus.
"Jawabanku benar lagi," Sasuke kelihatan senang dan mulai berjalan lagi memasuki area pegasus.
Membuat Naruto cemberut. Dia pun berjalan cepat menyamakan langkahnya dengan Sasuke.
"Kali ini biar aku yang menjawab teka-teki pintu ketiga. Semua teka-tekinya berhubungan dengan makhluk mitologi, kan?"
Sasuke melirik ke arah Naruto dengan wajah yang datar.
"Ya, aku rasa begitu. Tapi, apa kamu bisa menjawabnya nanti, Dobe? Kalau jawabanmu salah, maka akan memunculkan makhluk sihir seperti tadi. Coba pikirkan sekali lagi, Dobe."
Naruto menatap Sasuke dengan tajam. Dia benar-benar kesal.
"Jangan meremehkan aku. Aku akan buktikan kalau aku bisa menjawabnya dengan benar."
"Oh ya? Coba kamu jawab apa maksud teka-teki di pintu ketiga nanti."
"Baik, aku akan tunjukkan padamu, Teme baka!"
"Hm ... Aku lihat nanti hasilnya bagaimana."
Sasuke menarik pandangannya kembali ke depan. Naruto juga menarik pandangannya ke depan. Di tangan mereka masing-masing, masih tergenggam obor yang berapi merah meskipun tempat yang mereka lewati sudah terang diterpa obor-obor yang terpasang di dinding. Di sepanjang dinding terdapat ukiran kuno tentang makhluk mitologi yaitu pegasus. Entah apa maksudnya lorong pintu kedua ini dipenuhi oleh ukiran tentang pegasus.
Naruto dan Sasuke berjalan selama tiga puluh menit. Hingga mereka pun menemukan pintu yang ketiga. Kali ini pintu ketiga berwarna merah dan tulisan kuno masih terukir di bagian tengah pintu tersebut.
Giliran Naruto yang maju. Sementara Sasuke ikut maju juga bersama Naruto.
"Semoga berhasil, Dobe. Aku tidak bertanggung jawab jika jawabanmu salah lagi. Kali ini kamu yang harus menghadapi kesalahanmu itu."
"Huh, berisik!" Naruto mendelik ke arah Sasuke."Cepat bacakan arti tulisan kuno ini!"
"Baiklah."
Maka Sasuke pun membaca tulisan kuno tadi dengan teliti.
"Lahir dari api, bersayap, seperti elang, matahari," lanjut Sasuke lagi.
Naruto pun terpaku sebentar. Dia berpikir keras untuk mengetahui jawaban teka-teki pada pintu ketiga itu.
'Lahir dari api, bersayap, seperti elang, matahari. Apa maksud dari teka-teki ini ini?' batin Naruto.
Sasuke pun mundur beberapa langkah. Ia melipat tangan di dada. Menunggu reaksi dan hasil jawaban dari Naruto. Dia mengakui kalau si bocah berambut pirang itu cukup payah dalam soal menebak atau menjawab suatu pertanyaan. Tapi, dia yakin Naruto bisa menjawab teka-teki pada pintu ketiga itu. Dia sendiri juga sudah tahu jawabannya apa.
"Ayo, Dobe! Jawab teka-teki itu! Kalau kamu bisa ...!"
"Berisik, Teme! Kamu menggangguku saja."
Naruto berkata tanpa menoleh ke arah Sasuke. Pikirannya terfokus pada jawaban teka-teki itu.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Naruto tersenyum simpul. Dia menyudahi pemikirannya. Dia sudah mengetahui jawabannya yang sebenarnya.
Segera saja Naruto membuka suaranya.
"Phoenix!"
KLIK!
Pintu ketiga merespon jawaban Naruto. Berarti jawaban Naruto benar sekali.
Seketika tulisan kuno yang berada di bagian tengah pintu ketiga itu, bercahaya putih dan membelah pintu menjadi miring ke kanan. Pintu terbelah dua dan bergeser ke dua arah yaitu ke atas kiri dan ke bawah kanan.
KRIIIIET!
Jalan pintu ketiga sudah terbuka lebar. Jalan lorong goa bercahaya terang karena terpaan cahaya obor-obor yang tergantung di dinding. Lalu ada ukiran kuno tentang makhluk mitologi yaitu burung phoenix. Menandakan area ini adalah area phoenix.
Naruto menyengir lebar. Dia senang karena jawabannya benar. Dia merasa tidak sebodoh yang dituduhkan Sasuke.
"Hehehe, jawabanku benar."
"Hm, tak kusangka kau pintar juga menjawabnya, Dobe."
SET!
Naruto mendelik ke arah Sasuke. Sasuke sudah berjalan mendahuluinya lagi.
"TEME, JANGAN MELEDEKKU SEPERTI ITU!"
Naruto sungguh geram melihatnya. Lantas ia pun menyusul Sasuke.
"Hn."
Itulah jawaban Sasuke. Jawaban yang singkat sekali.
Setelah itu, mereka berjalan lagi menuju ke pintu keempat. Menyusuri area phoenix ini sekitar tiga puluh menit. Lalu bertemu juga dengan pintu keempat itu.
Kedua laki-laki itu menghentikan langkahnya sejenak. Mereka memperhatikan pintu keempat itu. Pintu berwarna hitam. Ada tulisan kuno lagi di bagian tengah pintunya.
"Ini dia, pintu keempat," Sasuke melihat ke arah tengah pintu itu."Kali ini siapa yang akan maju?"
Naruto mengerling ke arah Sasuke.
"Bagaimana kalau aku saja?"
"Tidak. Biar aku yang maju."
Naruto hendak melangkah. Tapi, dicegat oleh Sasuke. Sasuke yang maju. Membuat Naruto cemberut lagi.
"Lagi-lagi kau Teme."
"Hn, aku harap kamu menunggu di sana dengan sabar."
"Jangan harap."
Naruto mendelik lagi pada Sasuke. Kedua tangannya mengepal kuat. Sasuke tidak mengacuhkannya. Dia tetap maju untuk memusatkan pikirannya dalam menjawab teka-teki yang tertulis di bagian tengah pintu keempat.
Sasuke membaca tulisan kuno itu dengan teliti.
"Bersayap, kaki elang, setengah badan singa."
Lantas Sasuke berpikir sebentar untuk mengolah maksud dari teka-teki itu. Bersayap, kaki elang, dan setengah badan singa. Jadi, teka-teki itu merujuk pada makhluk mitologi yaitu ...
"Grifin," terka Sasuke kemudian.
KLIK!
Terdengar suara pintu keempat yang terbuka. Berarti jawaban Sasuke itu benar.
Tulisan-tulisan kuno bercahaya putih dan membelah pintu menjadi miring ke kiri. Sehingga pintu bergeser ke atas kanan dan ke bawah kiri. Jalan area pintu keempat terbuka. Inilah area grifin.
Terbentanglah jalan lorong goa yang lurus dan bercahaya karena obor seperti tadi. Terdapat ukiran-ukiran kuno yang membentuk grifin di dinding goa. Seperti lorong-lorong goa sebelumnya, banyak ukiran-ukiran kuno yang menggambarkan makhluk mitologi tersebut. Entah apa maksudnya. Tiada yang tahu.
Lalu Sasuke memajukan langkahnya memasuki area grifin itu. Naruto mengikutnya dengan wajah yang masam.
"Hei, Teme!"
"Hm ..."
"Kenapa setiap lorong-lorong yang kita lalui ini, terdapat ukiran-ukiran kuno yang dibuat berdasarkan jawaban teka-teki di pintu itu? Apa kau tahu sesuatu?"
"Tidak."
"Heh?" Naruto tercengang."Aku serius tahu! Kau sendiri pernah menjadi pengawal Ratu Aqua itu. Tapi, kenapa kau tidak mengetahui arti dari ukiran-ukiran yang berbeda-beda dari setiap satu lorong? Ternyata kau tak sepintar yang aku kira."
Kini Sasuke yang mendelik ke arah Naruto.
"Diam kau, Dobe!"
"Hm ... Akhirnya kau yang kesal sendiri, kan? Dasar, Teme payah!"
Mereka saling memberikan deathglare masing-masing. Sambil berjalan beriringan menempuh perjalanan lorong pintu goa keempat yang memakan hampir satu jam. Selama di perjalanan ini, tidak ada rintangan yang berarti mencegat langkah mereka.
Setelah satu jam berlalu, mereka berhadapan lagi dengan pintu yang berwarna coklat dan ada tulisan-tulisan kuno lagi yang terukir di tengah pintu tersebut. Inilah pintu kelima sekaligus pintu yang terakhir.
Dua lelaki itu memperhatikan dengan serius pintu terakhir ini.
"Pintu yang terakhir, Teme."
"Kali ini siapa yang menjawab?"
"Biar aku saja yang menjawabnya, Teme."
"Kau yakin, Dobe?"
"Aku yakin seratus persen."
"Jangan-jangan jawabanmu yang salah nanti."
"Jangan meremehkan kemampuanku, Teme."
"Hm, coba buktikan."
"Baiklah, akan kubuktikan sekarang juga!"
Maka keduanya saling maju bersama-sama. Sambil menyodorkan obor pada tulisan-tulisan kuno yang terukir di bagian tengah pintu, Sasuke mulai membacakan apa maksud dari tulisan-tulisan kuno itu. Naruto mendengarkannya dengan seksama.
"Sangat besar, sangat berbahaya, hitam, bersayap."
Naruto tercengang setelah mendengarnya.
"Eh, apa maksudnya ini?"
"Ya, tentu saja teka-teki ini merujuk pada suatu hewan atau makhluk mitologi."
"Tapi, kali ini cukup sulit. Ini tentang ciri-ciri ... Hm ... Apa tadi?"
"Sangat besar, sangat berbahaya, hitam, bersayap. Kamu tidak mengingatnya dengan baik. Kamu juga tetap payah, Dobe."
"Huh, diam kau, Teme!"
Sasuke hanya tersenyum simpul sambil melipat tangannya di dada. Naruto menatap tajam ke arah Sasuke.
"Sana, mundur jauh-jauh dariku! Kau akan mengacaukan semuanya, Teme!"
"Oh, baiklah. Aku mundur, Dobe."
Si rambut raven pun mundur beberapa langkah dari Naruto. Naruto menarik pandangannya ke depan sembari berpikir sangat keras. Ia merasa teka-teki pintu kelima ini cukup sulit untuk diterka.
'Sangat besar, sangat berbahaya, hitam, bersayap. Apa maksudnya ya? Sangat besar ... Apa ini menunjukkan tentang naga ya? Naga adalah spesies yang dikategorikan makhluk yang sangat besar dan sangat berbahaya. Kalimat selanjutnya tertulis hitam. Naga hitam. Bersayap ... Digabungkan menjadi naga hitam bersayap. Tapi, apa itu jawabannya?' pikir Naruto yang masih ragu dalam menjawab pertanyaan teka-teki itu.
Sementara Sasuke tetap berdiri kaku di tempatnya. Dia menunggu reaksi Naruto dalam menjawab teka-teki itu.
Lima belas menit kemudian, Naruto memantapkan hatinya untuk menjawab pertanyaan teka-teki itu. Dengan raut muka yang serius, dia mulai membuka suaranya perlahan-lahan. Kedua mata birunya menajam berkilat.
"BLACK DRAGON!"
Suara Naruto menggema hampir memenuhi lorong goa itu. Keras menggelegar sampai ke langit tujuh sana. Sasuke saja kaget mendengarnya.
Apakah jawaban Naruto itu benar ataukah salah? Lihat saja nanti.
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
SAATNYA MEMBALAS REVIEW:
sadayana: oh kependekannya ya? Ini udah saya perpanjang dikit ceritanya. Arigatou.
The KidSNo OppAi: oke, udah lanjut nih.
arafim123: benar yang ngikutin naruto itu adalah kuroka. Iblis baik itu juga kuroka. Ini udah lanjut lho.
Ryuuki Namikaze Lucifer: ini udah lanjut kok.
.
.
.
A/N:
Chapter 4 update!
Maaf ya jika fic ini yang paling lama diupdate ceritanya. Itu karena kendala nggak ada ide sama sekali. Jadi, karena idenya udah ada nih, saya lanjutin dan segera diupdate secepatnya.
Saya menyelesaikan cerita ini dalam keadaan sakit. Ya, saya habis ditabrak orang. Kaki dan tangan saya lecet. Tapi, untunglah saya selamat padahal saya udah terkapar hampir ke tengah jalan aspal. Untungnya lagi nggak ada kendaraan lain yang lewat. Kalau nggak, entah apa yang terjadi pada saya nantinya.
Syukur, Alhamdulillah, saya nggak apa-apa. Saya selamat karena pas jatuh dari motor, saya langsung bangkit dan pergi ke tepi jalan. Sayakan dibonceng sama adik dan keponakan saya. Saya duduk di belakang adik saya. Jadi, motor lain menyerempet tangan saya sehingga keseimbangan motor yang dikendarai oleh adik saya jadi hilang. Makanya kami jatuh di sebelah kanan. Keponakan saya masih kecil, kena luka di kepala dan kaki. Gigi bagian depannya patah setengah. Saya hanya menderita lecet pada bagian kaki, tangan serta bagian pinggang yang sakit. Syukurlah, saya selamat. Nggak apa-apa kok. Jadinya, saya bisa melanjutkan cerita ini.
Untung juga pas kecelakaan itu, hp yang biasa saya gunakan untuk mengupdate cerita fanfic, gak rusak. Karena hp-nya saya masukkan ke dalam saku celana saya. Alhamdulillah.
Begitulah keadaan saya sekarang. Sengsara membawa nikmat. Begitulah kira-kira.
Arigatou atas review-mu ya. Review yang mengandung flame atau semacamnya, nggak saya balas di kolom halaman chapter ini.
TERTANDA
HIKARI SYARAHMIA
Minggu, 13 Desember 2015
