Diclaimer: Eyesheild 21 itu sepenuhnya punya Ricihigo Inigaki dan Yusuke Murata dan Touhou Project Cuma punya Team Shangai Alice. Kalau fic ini nista nan gaje ini punya saya

WARNING: gaje,gayus(garing dan jayus), typo gak kasat mata, OOC author yang mencoba mendewa, bahasa gaul nyelip, dan kejanggalan-kejanggalan lainnya. Bila kejanggalan berlanjut hubungi dokter terdekat anda.


.

.

.

Lupakan segala permasalahan yang ada,pensiunkan segala hal keduniawian, bulatkan tekad untuk satu tujuan, dan siapkan jiwa dan raga untuk menghadapi perang yang hanya melibatkan pensil, penghapus, penserut, dan otak selama seharian penuh!

"Baiklah, ujian akhir semester tinggal sehari lagi. Ibu harap kalian semua bisa mendapat juara umum." Kata bu Keine selaku wali kelas.

Anak-anak kelas hanya mengangguk mendengar perkataan bu Keine tadi. Bahkan yang biasanya tidur dan tidak memperhatikan guru malah jadi serius.

Besok adalah medan perang bagi para pelajar di SMP GGS. Ya, siapa lagi biang keroknya kalau bukan ujian akhir semester yang hanya berlangsung selama sehari? Di medan perang itu, seluruh siswa akan diuji kemampuannya selama dua setengah jam. Untuk mengangkat martabat kelas, mereka harus merebut juara umum.

Karena itu, seluruh siswa kelas 8A harus belajar demi mempertahankan juara umum. Walaupun itu terlihat seperti persaingan Hiruma dan Aya saja.

.

"Hah, kenapa ujiannya harus besok?" keluh Marisa.

"Karena kalau gak besok, gak ada lagi hari neraka bagi kita semua." Jawab Kakei, Marisa tambah stress.

"Uwaa! Kan aku belum belajar sama sekali! Hei Kakei, ayo temani aku makan di kantin, aku lapar!" teriak Marisa sambil menarik lengan Kakei.

"Bah, mau makan sebanyak apa kali ini?" Tanya Kakei sambil menuju kantin.

"Mau makan lebih banyak dari kak Kurita!" jawab Marisa sambil menarik Kakei.

Dan setelah itu, terdengarlah suara bersin yang amat dashyat dari kelas 9A.

.

"Hua, UAS besok ya, gimana persiapanmu?" Tanya Riku kepada Akaba.

"Fuh, sepertinya aku dan UAS akan lumayan sumbang, aku harus menyetemnya besok." Kata Akaba sambil memegang kepalanya.

"Kau ini …" Riku melipat kedua tangannya dan menundukkan kepalanya "aku enggak ngerti apa yang kau maksud."

"Fuh, jelas saja. Karena nada kita tidak selaras." Kata Akaba sambil mengibaskan rambutnya.

Saat itu juga, Riku serasa makin pendek.

.

"Nee~ Onee-sama hari ini kita harus belajar?" Tanya Flandre sambil bergelayutan manja ke kakaknya.

"Tentu saja Flandre. Kalau besok tidak belajar, kau tidak akan dapat nilai bagus." Jawab Remilia.

"Uuu, tapi aku enggak mau belajar sendiri, kita bisa undang anak sekelas untuk belajar di rumah kita!" usulan Flandre ternyata ada yang mendengar.

"Wah, ide bagus tuh, kalo gak ada yang kita enggak mengerti kan bisa nanya." Kata Hatate yang ikut-ikutan nimbrung.

"Nya~ sudah diputuskan!" kata Flandre sambil beranjak meninggalkan kakaknya "ayo umumkan ke anak-anak kelas!"

Remilia sudah tidak bisa menghentikan adiknya kalau sudah seperti ini. Mau coba menghentikannya? Siap-siap nyawamu jadi taruhan.

.

"Halo semuanya, dengar~" kata Flandre diikuti Hatate di belakangnya.

"Besok, karena kita semua bakal menghadapi UAS, bagaimana kalau kita belajar bersama di SDM?" Tanya Hatate ke anak-anak kelas.

"Hah, SDM? Kita mau belajar di Sumber Daya Manusia?" Tanya Taka, Hatate mendelik.

"Bukan Taka! SDM itu Scarlet Devil Mansion, rumahnya Scarlet Sisters!" jawab Hatate.

"Oh." Taka Hanya ber-oh ria.

"Apa? Berarti aku harus belajar bareng sama si setan pirang ini? Ogah!" kata Aya sambil melotot kea rah Hiruma.

"Idih, siapa juga yang mau belajar bareng sama gagak mesum kayak lu? Jangan sampai kayak tengah semester lalu. Jumlah nilai kita sama dan harus dibandingin sama mana yang paling besar diantara bahasa, matematika, sains, dan IPS." Balas Hiruma panjang lebar.

Setelah itu, mucullah beberapa aliran listrik diantara Aya dan Hiruma. Mereka sepertinya sudah menyatakan perang sebelum perang dimulai.

"Yah, gak bisa baca buku dengan tenang." Batin Patchouli

"Kalau kalian tidak mau…" Flandre mulai mengeluarkan Spell Card "akan kupanggang kalian semua!"

"Hii! Iya kami ke rumahmu dah!" jawab anak-anak kelas sambil berlarian ke luar kelas.

.

.

.

"Uwaaw…" anak-anak kelas 8A pada cengo di depan rumah scarlet sister.

"Bujubuset, ini rumah?" Tanya Suzuna yang masih cengo berjamaah dengan yang lain.

"Iya rumah. Udah ah, kalian cepetan masuk! Entar dikirain anak panti asuhan lagi diem di istana sambil ngebayangin yang aneh-aneh!" Remilia masuk ke mansionnya, yang laing cuma ngikut. Anak-anak kelas yang lain cuma jadi orang alay sejenak karena baru liat betapa gedenya ini mansion.

Sesampai di rumah, para maid lagsung menyambut kedatangan mereka. Anak-anak kelas bengong lagi

"Selamat datang, tuan putri." Seru para maid itu sambil membungkukkan badan.

"Tolong antarkan mereka ke ruang tamu dan siapkan beberapa cemilan. Oh iya, suruh Sakuya untuk memotokopi semua soal tahun kemarin delapan belas rangkap. Terus jangan sampai ada yang tau kunci jawabannya, sekalipun itu aku. Mengerti?" kata Remilia. Para maid itu mengangguk.

Flandre mengikuti kakaknya, sedangkan sisanya mengikuti maid itu sambil mengalay ria.

.

"Wah…" anak-anak kelas 8A cengo lagi, melihat besarnya ruang tamu di SDM ini.

"Ini ruang tamu apa apaan sih? Eh patchun kan bukannya tinggal di sini juga?" Tanya Taka, Patchouli mengangguk.

"Wah, main ke tempatnya Patchun yuk! Sekalian nyari buku ze~" Marisa berlari ke perpustakaan di SDM,

Patchouli tak bisa berbuat banyak, teman-teman sekelasnya sekarang sudah mengganggu hidupnya yang tenang di sini. Saat teman sekelasnya mau keluar ruang tamu, Remilia dan Flandre datang.

"Udah oy semuanya!" Teriak Remilia. "Nih paket soal UAS tahun kemarin, ayo semuanya, belajar!"

Semuanya langsung kembali ke tempat masing-masing. Remilia dan Flandre membagikan paket soal tahun kemarin ke anak-anak.

"What the! Seratus duapuluh soal?!" Teriak Akaba shock.

"Tahun kemaren kan Cuma tujuhpuluh lima soal! Argh! Kenapa kelas delapan malah makin sesuatu?" Nitori guling-guling, Remilia geleng-geleng.

"Ini soal tahun kemarin kan? Tahun sekarang belum tentu sama." Jelas Taka, yang lain malah makin histeris.

"No! Gimana kalau jumlah soalnya malah nambah? Terus nanti ditambahin tes TOEFL, terus... tidak!" Marco malah menambah suasana menjadi lebih histeris lagi.

"Sudahlah," Yamato menepuk pundak Marco. "Sekarang kita kerjakan saja dulu, besok itu kan belum tentu soalnya lebih banyak dan susah."

Anak-anak yang lain terharu mendengar perkataan Yamato. Ini anak dimana-mana kerjanya jadi penenang atau enggak pendamai.

"Nah! Udah ah jangan galau, ayo kita kerja—"

"Selesai."

"Hie?"

Anak-anak langsung menengok ke arah sumber suara. Ternyata yang bilang selesai itu adalah Aya, Hiruma, Patchouli, Shin, dan Taka.

"Kalian... udah selesai lagi?" Tanya Suzuna, mereka berlima mengangguk.

"Ini mah gampang! Anak TK juga bisa begini mah!" Kata Hiruma dengan sombongnya.

Aya malah mengejek Hiruma. "Ya, paling-paling elu ngasal super isinya."

"What?! Ngomong sekali lagi gue jadiin lu burung panggang!"

"Sini lu! Jadiin gue burung panggang sekarang!"

"Udah stop! Kalian berisik, ganggu aja!" Aya dan Hiruma memegang kepalanya yang setengah benjol gara-gara dipukul Patchouli pakai bukunya yang super duper mega gebyar gede itu.

"Aw, sakit tau kutubuku!" Teriak Aya dan Hiruma penuh kesal, sedangkan Patchouli mengabaikannya.

Anak-anak yang lain langsung mengacuhkan mereka dan terfokus pada soal yang tadi, baru semenit, sudah ada yang bilang selesai.

"Aku selesai." Remilia meletakkan pensilnya lalu menyeruput tehnya entah datang darimana.

"Aku juga~" Flandre mengacungkan tangannya."

"What the?! Udah selesai lagi?!" Teriak Hatate kaget, si kakak-beradik Scarlet mengangguk.

"Yang selesai terakhir enggak bakal kukasih Gâteau Opéra lho." Anak-anak langsung ngiler mendengar kata Gâteau Opéra dari mulut sang tuan rumah Remilia. Entah darimana semangat mereka langsung muncul.

Dan mereka mengerjakan soal dengan keadaan hening selama sejam penuh,

.

.

.

"Akhirnya selesai juga belajarnya!" Kata Kakei sambil meregangkan ototnya. Yang lain juga tak jauh beda, bahkan ada yang tertidur.

"Aa~ lapar." Keluh Riku sambil tiduran di lantai.

"Hei semuanya, ayo ke ruang makan." Remilia memanggil anak-anak yang masih ada di ruang tamu. Sontak, mereka langsung menuju ruang makan.

Sesampainya di ruang makan, anak-anak jadi alay lagi.

"Wow..." anak-anak terkagum-kagum melihat meja makan Scarlet sister yang kelewat mewah.

"Oy, jangan bengong aja, cepat duduk!" Anak-anak langsung pada duduk dengan manis dan ekspresi yang tak kalah alay. Bahkan anak-anak yang tergolong kalem modal Taka dan Yamato keliatan udiknya.

"Makanannya mana?" Tanya Riku yang udah kelaparan stadium 4.

"Eh, yang selesai terakhir mah gausah bilang." Sindir Suzuna, Riku ngamuk.

"Noo! Pokoknya aku lapar!" teriak Riku gaje.

"Bentar dong, ini lagi disiapin." Jawab Remilia.

"Ah! Datang!" Teriak Flandre sambil menunjuk salah satu maidnya. Sontak anak-anak yang lain lagsung menengok ke arah maid yang ditunjuk Flan.

"Waaaa makanan!" teriak anak-anak dengan lebaynya. Remilia melihat mereka dengan tatapan sangat sesuatu miliknya.

Para maid itu langsung menaruh sepiring kare di meja makan lengkap dengan minumnya.

"Yosh! Mari ma—"

"Stop!" Remilia menghentikan Riku yang nyaris membabi buta sang kare. Riku langsung menatap Remilia tajam.

"Apa lagi sih?" Tanya Riku tak sabaran.

"Berdoa dulu dong." Kata Remilia kalem. Anak-anak yang lain langsung menatapnya.

"Siapa yang mau mimpin?" Tanya Akaba, semuanya langsung mikir.

Anak kelas ini walaupun ada orang yang kalem bukan berarti mereka alim.

"Sena aja!" usul Yamato, semuanya langsung menengok ke arah Sena.

"E, eh? Aku?" tanya Sena gagap, semuanya ngangguk.

"Yang paling alim diantara kita semua kan kamu!" muka Sena langsung abstark mendengar perkataan Marisa.

"Udah Sen, cepetan lu pimpin, gue udah laper." Sena bergidik ngeri mendengar Riku yang sudah kayak orang sakau.

"I, iya deh. Sebelum kita makan, marilah kita berdoa menurut kepercayaan masing-masing. Berdoa dipersilahkan."

Semuanya hening, ada yang komat-kamit buru-buru, ada yang dengan tenangnya melafalkan mantra. Merasa sudah semuanya selesai, Sena menutupnya.

"Berdoa selesai." Kata Sena pelan. Setelah itu, mereka langsung makan layaknya bocah asli.

.

Sakuya melihat kedua majikannya yang sedang menikmati kare buatannya. Akhir-akhir ini majikannya sangat senang dengan kare, entah karena apa itu yang jelas bukan urusan Sakuya.

Sakuya juga senang karena hari ini ia dan Meiling bisa istirahat karena Flandre tidak mengajak mereka main. Mungkin Sakuya harus menyuruh anak kelas 8A untuk sering main ke sini.

Tiba-tiba HP Sakuya bergetar, setelah dicek, ternyata ada telepon masuk dari teman sekelasya, Unsui.

Sakuya menempelkan Hpnya di dekat telinganya, samar-samar terdengar suara omelan teman sekelasnya. Tak mau ambil pusing, Sakuya langsung menyapa sang penelepon.

[Halo Unsui, ada apa?]

[Halo Sakuya, kudengar kelas 8A ke rumahmu ya?]

[Iya, biasa, Flandre mencari teman bermain dengan modus belajar bersama buat UAS besok.]

[Oh, begitu. Eh, mereka tidak melihat 'bintang' kan? Kau simpan yang benar kan?]

[Tidak, untuk sekarang, masih aman kok di dalam 'teratai' lagian mereka mana mungkin main ke basement, wong ditarik melulu sama Flandre]

[Hoo,baguslah, tapi tugasmu sudah dikerjakan semua kan?]

[Tentu, aku kan maid elite, selanjutnya tinggal menunggu instruksi dari Takami saja. Oh iya, bagaimana keadaannya?]

[Sudah lumayan stabil dari sebelumnya, harusnya dia istirahat besok, tapi dia ngotot buat masuk. Jadi juara umum susah juga ya.]

[Ya begitulah, dia kan orangnya lumayan bandel.]

[Itulah ketua kita. Eh, jangan sampai anak-anak itu tau rencana kita, lalu berhati-hatilah kepada dua anak itu, ketahuan sedikit saja, matilah kau.]

[Ah, masalah itu sih gampang. Oh iya, semangat ya UASnya.]

[Kau juga, semangat. Sudah dulu ya, udah dipanggil Reimu nih, bye.]

[Bye.]

Sakuya menyudahi acara berteleponnya. Ia menatap anak kelas 8A sebentar. Masih normal dan agak menimbulkan kekacauan di sekitarnya. Ia lalu beranjak pergi lalu pergi ke dapur untuk mengambil makanan penutup.

.

.

.

"Uwa~ aku kenyang!" kata Riku sambil memegangi perutnya, anak-anak yang lain langsung menatap Riku, ini anak kecil-kecil porsi makannya kayak tukang bangunan aja.

"Makasih ya, Remi." Kata Kakei.

"Sama-sama, jangan kapok ya main ke sini." Balas Remilia sambil melambaikan tangannya.

"Dadah kalian semua! Semangat ya buat besok!" Teriak Flandre sambil melambai heboh, yang lain membalasnya dengan penuh semangat.

"Dadah, Remi, Patchun, Flan! Jangan telat ya besok!" Teriak Suzuna, mereka bertiga tersenyum.

"Kalian juga." Kata Patchouli pelan.

Remilia, Patchouli, dan Flandre menatap teman-teman sekelasnya yang makin lama makin menghilang dari pandangan mereka, rasanya hari ini berlalu terlalu cepat untuk mereka, walaupun banyak kekeacauan, tapi sebagai tuan rumah mereka senang melihat teman-teman sekelasnya menikmati belajar bersama hari ini. Mungkin ulangan semester depan nanti, mereka akan melakukan hal serupa seperti ini.

"Ehm, nona-nona, sampai kapan kalian mau berdiam diri di situ?" Remilia, Patchouli, dan Flandre langsung menatap ke arah penjaga pintu mereka, Hong Meiling.

"Eh? Iya deh, kami masuk." Remilia kembali ke Mansionnya, diikuti adiknya dan Patchouli di belakang.

Remilia menutup pintu Mansionnya menyisakan keributan dan gelayutan manja dari adiknya. Remilia tidak memperdulikan itu, yang ada di pikirannya hanya hari esok.

"Besok pasti bisa!"


Pojok Author:

Apdetannya gak pake quotes kayak biasanya. Kenapa? Soalnya gak kepikiran buat chap yang satu ini. Tapi hadiahnya bakal ada ilustrasinya tapi, nyusul.

Kira-kira siapa ya yang dapet peringkat ke satu? Aya atau Hiruma? Fufufu.

Akhir kata, RnRnya kakak~