Pertama-tama, LutfiyaR mau berterima kasih kepada yang sudah mau me-review, fav, dan follow. Terima kasih banyak, ya!
Yuzuru Nao-Sorry, please bear with it..
Hikage Natsumihiko-Ini baru awalnya, lho... Hikage-san, LutfiyaR belum menyebut semua nama Arcabalenonya benarkan?
Natsu27-Makasih atas dukungannya
~o~o~o~o~o~
Disclaimer : I do not own Katekyo Hitman Reborn
Undyng Flame
Chapter 4 : Another Pain, Another Promise
~o~o~o~o~o~
Yamamoto memandang tubuh kecil malang di depannya.
"Tsuna..." bisiknya pelan. "Kuharap kau bisa mendengarku. Lal Mirch telah sangat ingin kau berada di pemakamannya, memimpin seperti biasa. Mereka menunjukku untuk memimpin tapi..." Yamamoto menutup matanya. Air mata mengalir di pipinya "Kuharap kau bangun dan mengatakan kata-kata indah yang menjanjikan di depan makam Lal Mirch. Aku yakin Lal juga akan lebih suka begitu."
Yamamoto membuka mata. Tubuh kecil di depannya masih tidak bergerak. Pencinta Baseball itu memegang tangan Bosnya erat.
"Tsuna..."
Yamamoto melepas tangan Tsuna lalu pergi meninggalkan tempat itu. Dia melirik tubuh mungil Tsuna sebelum akhirnya melangkah keluar.
Di luar ruangan orang-orang sudah menyambutnya.
"Rain Arcabaleno, Yamamoto Takeshi. Apa kau sudah siap?" tanya seorang bayi berambut biru.
Yamamoto mengangguk. "Aku siap"
~o~o~o~o~o~
Tsuna membuka mata. Tangannya bergetar hebat dan tubuhnya basah oleh keringat.
"Yamamoto?" Tsuna berbisik dalam kegelapan. Tidak ada yang menjawab.
Tsuna memegang kepalanya mencoba menenangkan diri.
"Lal Mirch... Tidak... Tidak lagi..."
Di dalam keheningan itu Tsuna menyimpan rasa sakit itu seorang diri.
~o~o~o~o~o~
Nana bergerak gelisah. Tsuna yang biasanya berangkat sekolah pagi-pagi sejak bangun dari koma sekarang belum bangun juga.
"Reborn-kun, kau yakin Tsu-kun belum berangkat sekolah?"
"Ya, Maman. Jika Tsuna sudah berangkat sekolah aku pasti tau."
Nana menundukkan kepalanya khawatir. "Tsuna sehat-sehat saja kemarin jadi seharusnya dia tidak sedang sakit atau apapun itu."
"Ada apa denganku?"
Reborn, Nana, dan bahkan Ienari yang sedang makan menoleh kearah Tsuna yang baru saja bersuara.
Nana menatapnya khawatir. Rambut Tsuna acak-acakan dan pakaiannya tidak terpasang dengan rapi. Sesuatu pasti telah terjadi.
"Tsu-kun, kau tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa," jawab Tsuna dingin.
Dari sudut matanya Nana bisa melihat Reborn mengerutkan dahi. Dia tau Reborn pasti memiliki pertanyaan yang sama dengannya.
'Ada apa denganmu hari ini, Tsu-kun?'
~o~o~o~o~o~
Hari ini Ienari dan Gokudera memiliki sedikit masalah sehingga Reborn tidak sempat mengikuti Tsuna. Ini merupakan kesempatan emas. Tsuna melewati sekolahnya dan terus berjalan. Di tangannya tergenggam seikat bunga yang cantik dan lebat.
Dia tidak berhenti di depan gedung tua yang sudah menjadi markasnya sekarang melainkan terus berjalan menuju hutan.
"Lal Mirch, maafkan aku."
Tsuna membuat sebuah batu nisan dan meletakkan bunga yang dia bawa di depan batu itu.
'Aku memang orang idiot bodoh dan tidak berguna,' Tsuna tertawa pahit. Dia menutup matanya. 'Tapi tolong ijinkan aku memimpin pemakamanmu.'
Mulutnya terbuka dan kata-kata indah mengalir keluar seperti puisi. Di sekitarnya menjadi hening. Yang bisa dia dengar hanyalah suaranya sendiri.
~o~o~o~o~o~
Yamamoto berdiri di depan makam Lal Mirch. Dia menghela nafas dan mengangkat kepalanya. Tidak peduli apa yang dia katakan pada yang lainnya, tetap saja di dalam hatinya dia sebenarnya tidak siap.
Setiap ini terjadi yang biasa dilakukannya adalah melihat bos sekaligus sahabatnya yang sekarang terbaring di rumah sakit itu memimpin pemakaman. Dan setiap itu terjadi, keputus asaan yang menghantuinya akan menghilang dan tergantikan dengan keinginan untuk tetap bertahan. Demi mereka semua. Mereka semua yang masih ada disini dan mereka semua yang sudah mati.
"Lal Mirch, maafkan aku."
Mata Yamamoto melebar. Untuk sesaat tadi dia yakin dia mendengar suara Tsuna.
Suara itu terdengar seperti menuntunnya. Yamamoto tersenyum lebar. Dia membuka mulutunya dan mulai meniru kata-kata Tsuna yang saat ini sedang berpidato di telinganya.
Mungkin Yamamoto memang sedang memimpin pemakaman, tapi yang memberi semangat dan kekuatan untuk tidak menyerah pada akhirnya tetaplah sang bos Vongola, Sawada Tsunayoshi.
~o~o~o~o~o~
Tsuna kembali membuka mata. Tatapannya sekarang dipenuhi dengan tekad kuat. Begitu kuat sehingga siapapun yang melihatnya akan bergetar ketakutan.
"Aku tidak akan akan membiarkan perjuanganmu menjadi sia-sia. Aku akan menemukan tempat dimana aku dan yang lainnya seharusnya berada dan kau akan melihatnya dengan senyuman penuh kebanggaan," Tsuna mengepalkan tangannya erat. "Aku berjanji dengan nama Vongola dan semua beban di punggungku."
Dia menatap sedih batu nisan di depannya sebelum pergi dari tempat itu. Hari itu satu lagi janji yang telah dia buat. Tapi ketika dia pergi dari hutan itu dan menatap bangunan yang telah menjadi markasnya, beban di punggungnya terasa berkurang sedikit.
~o~o~o~o~o~
"Tadi itu benar-benar pidato yang bagus, Yamamoto," Seorang bayi berambut perak mendekat kearahnya. Yamamoto mengerjapkan mata.
Bayi berambut perak itu memberungut marah. "Apa?"
Yamamoto mengangkat bahu dan tidak mengatakan apapun. Bayi putih di depannya tidak salah lagi adalah sang Storm Arcabaleno, Gokudera Hayato. Gokudera tidak terlalu menyukai Yamamoto jadi wajar jika Yamamoto menatapnya aneh karena pujian yang diberikannya.
Tatapan Yamamoto kembali serius. Senyuman cerianya menghilang begitu saja dari wajahnya membuat Gokudera tersentak.
"Ini mungkin terdengar seperti lelucon tapi percaya atau tidak aku mendengar Tsuna mengucapkan kata-kata itu tadi," ucapnya yakin.
Mata Gokudera melebar. "Kau mendengarnya juga?"
"Eh? Kau juga mendengarnya?"
Mereka saling menatap terkejut. Gokudera menarik kacamata, kertas, dan bolpen dari kantongnya. Sambil mulai mencatat, dia berbicara tanpa memandang kearah Yamamoto.
"Aku tidak yakin tapi kurasa Arcabaleno yang lain mendengarnya juga. Aku bisa melihat dari ekpresi dan tingkah laku mereka."
"Bagaimana kau bisa berpikir begitu jika Sky dan Cloud Arcabaleno tidak hadir di pemakaman tadi?"
"Karena itulah aku bilang tidak yakin," Gokudera memutar mata. Yamamoto hanya menggaruk belakang kepalanya sambil tertawa kecil.
"Kenapa tidak kita tanyakan saja?"
"Ide buruk," Gokudera menjawab singkat. Yamamoto menunduk. Dia tentu saja memahami alasannya tanpa harus mempertanyakannya.
"Yah... Aku tidak mengerti kenapa Arcabaleno generasi ke-125 bisa terpecah-belah seperti ini..."
"Jangan mengeluh, Baseball Freak. Kenyataannya aku lebih suka kita seperti ini. Kau tentunya tidak melupakan pertemuan pertama kita, kan?"
Yamamoto kembali tersenyum. Pertemuan pertama mereka memang parah tapi dia hanya tertawa setiap mengingat kejadian itu. Tidak seperti Gokudera yang menggumamkan kebencian atau Tsuna yang mengkerutkan dahinya tidak suka. Yamamoto bisa merasakan kehangatan saat mereka berkumpul bersama saat itu. Lagipula kejadian itu juga sangat lucu jika kau melihat dari sudut pandang orang lain dan bukannya dari sudut pandang para Arcabaleno.
"Tapi tentunya kau juga tidak melupakan janji Tsuna kepada Yuni, kan?"
Gokudera menatapnya bingung. Baru beberapa saat kemudian dia mengerti apa yang dimaksud.
"Yah, suka atau tidak suka Juudaime harus mengumpulkan para Arcabaleno dan menyatukan kekuatan kita semua," gumam Gokudera lelah. "Ya, tapi tidak ada satupun yang menyukainya."
Yamamoto tersenyum sedih. Bahkan Tsuna sendiri tidak terlalu menyukai ide itu.
~o~o~o~
Please Give Me Your Review!
