Ada yang masih ingat dengan fic ini? HEH! Ini bukan fic baru! Oke. Lupakan. Tadi mau ngomong apa ya? Jadi lupa.. ya sudahlah… #bingung mau ngetik apalagi

Selamat membaca!

Pairing : Natsu D. & Lucy H.

Genre : Horror/Mystery

Disclaimer : Hiro Mashima

Warning : OOC, Typo(s), alur kecepetan, jelek.

Pagi hari di Magnolia Fairy High School.

"Jadi?" Natsu memulai pembicaraan, tepatnya meminta penegasan pada beberapa teman sekelasnya. Masih ingat kan? Mereka akan mementaskan drama untuk festival budaya besok!

"Uum… " Lucy tampak berpikir. "Kita harus mencari sebuah cerita pendek yang mudah dihafal juga dimainkan… " Gray melepaskan tangannya yang menyilang di depan dadanya. "Aku punya sebuah ide… tapi ini—"

"Itu mudah Lucy!" Potong Natsu. Semua yang ikut dalam perbincangan mereka melihat laki-laki pink itu. "Kau mau cerita pendek yang mudah kan?" Tanya Natsu. Lucy mengangguk. "Karena waktu latihan kita hanya hari ini, dan kita juga harus mempersiapkan segalanya hari ini."

Natsu tersenyum bangga sambil mengangkat jari telunjuknya.

"Seorang wanita yang diperkosa malam-malam dan akhirnya dia bunuh diri karena malu."

Semua terdiam melihat Natsu.

"Gray, apa idemu?" Tanya Lucy.

"Oi! Lucy! Barusan aku memberikan ide tau! Itu sesuai kriteria! Pendek, mudah dihafal, mudah dilakukan lagi!" Lucy melirik malas ke arah Natsu. "Si pemeran wanita hanya akan mendesah dan bilang 'Tidak! Tidak!' lalu si laki-laki hanya tertawa jahat! Dialognya tidak banyak!"

"Pikiranmu terlalu… " Gumam Gray. Lucy menggeleng. "Masalahnya, siapa yang mau jadi wanita dan laki-laki itu?"

Natsu melihat ke arah teman sekelasnya. Tatapan aneh, enggan, takut, ngeri, semua terlihat jelas. Memang tidak semua yang berkumpul dalam pembicaraan ini, tapi setidaknya, mereka bisa mendengarnya!

"Kalau begitu kita saja yang jadi pemerannya!" Natsu menunjuk dirinya sambil tersenyum lebar ke arah Lucy.

"JANGAN BERCANDA!" Tato alas sepatu pun terukir indah di wajah Natsu. "A-aku hanya bercanda… " Gumam Natsu. "Sudah dia bilang jangan bercanda… " Bisik Gray.

"Jadi, Gray, apa idemu tadi?" Tanya Lucy lagi.

Gray memasang ekspresi serius. Semuanya terdiam.

"Ideku ini memang masuk ke kriteria cerita yang kau inginkan… tapi ide ini sedikit…" Gray tampak enggan melanjutkannya. "Tidak apa. Aku bahkan belum mendengarnya." Ujar Lucy.

Natsu menatap sinis ke arah Gray. Jelas saja. Pacarnya lebih memilih mendengarkan ide dari laki-laki lain ketimbang, ide dari dia. Pacarnya! Ya, pikirkan saja apa yang salah dari idemu itu.

"Aku berpikir untuk mementaskan kejadian masa lalu sekolah ini… ya, memang ide yang gila dan menakutkan… apalagi baru-baru ini klub occult…" Gray tidak melanjutkannya lagi. Ia yakin Lucy dan yang lain sudah tau apa yang terjadi pada klub occult. Apalagi melihat ekspresi ngerti dari teman-teman wanitanya.

"Oh! Boleh juga idemu itu!" Dukung Natsu. Otaknya langsung mengingat bahwa kejadian masa lalu ini adalah 'tewasnya siswi yang diperkosa pada malam hari di sekolah' apa bedanya dengan ide yang diajukan Natsu?

Lucy tampak sedikit terkejut. "Tidak ada pilihan…" Semua siswi berbisik ngeri dan memeluk siswi lain di sebelahnya. "Memang menakutkan… tapi kurasa itu seru…" Lanjut Lucy.

"Tapi, Lucy. Kita kan tidak tau peristiwa itu benar-benar. Kita hanya tau lewat cerita simpang siur dari orang-orang!" Ujar Lisanna mengingatkan. Dan sepertinya, Lucy akan mengubah pikiranya itu, kalau saja—

"Aku tau peristiwa lengkapnya."

Takdir tidak mengharuskan mereka memainkan drama itu.

"Levy?" Semua melihat ke arah gadis pucat itu. gadis itu hanya tersenyum sambil terus melihat ke depan.

"Aku tau…."

Resentment From The Past

"Jadi, peralatan dan perlengkapan yang kita butuhkan sudah ada di sini… " Lucy melihat ke arah tumpukan kain dan property di depannya. "Hey, Lucy, bukankah kita harusnya memilih pemeran dulu?" Tanya Gray yang barus aja datang sambil menaruh kotak property di atas kotak property lain.

"Kau benar." Lucy pun mengambil kertas dan pen. "Supaya cepat, kita tidak usah pakai casting. Siapa yang sanggup, langsung angkat tangan." Lucy melirik ke arah teman-temannya.

"Yang jadi—tunggu. Aku bahkan tidak tau ada berapa tokoh dalam drama ini… " Lucy melihat ke arah Levy.

"Ada korban, pemerkosa, kepala sekolah, guru-guru, paranormal, hanya itu. selebihnya mungkin bisa jadi murid biasa." Jelas Levy.

"Baiklah." Lucy menuliskan sesuatu di kertasnya. Ia menulis peran-peran yang ada dalam drama mereka.

"Baik. Aku lanjut!" Lucy kembali menatap teman-temannya. "Yang jadi pemerkosa?" Tanya Lucy. Natsu dengan antusias langsung mengangkat tangannya. Semua siswi langsung mundur menjauhi Natsu. Natsu sungguh berharap, korban adalah Lucy. Entah apa yang ada dipikiran anak itu, tapi ia sangat ingin melakukan itu dengan Lucy walau hanya akting.

"Kepala sekolah?" Tanya Lucy setelah ia selesai menulis nama Natsu di sebelah kata pemerkosa. Gray mengangkat tangannya. Gray memang punya wajah yang cukup serius. Lucy juga setuju kalau peran kepala sekolah yang berwibawa diperankan oleh Gray. Dan soal peran pemerkosa, itu memang jelas terlihat dalam diri Natsu.

"Paranormal?" Lucy kembali melihat teman-temannya. Kali ini Lisanna yang mengangkat tangan. "Baiklah… " Lucy berat mengatakan ini, tapi ia harus.

"Korban?"

Hening.

Semua terdiam.

Para siswi yang terlihat enggan memainkan peran itu. Dan lagi setelah mengetahui si Pemerkosa adalah Natsu. Lucy pun menghela nafas dan menuliskan namanya sendiri di sebelah kata korban. Saat itu juga, semua siswi menghela nafas lega.

"Sisanya hanya para guru dan para murid… " Lucy pun terlihat lega telah menyelesaikan pembagian perannya.

"Ada satu lagi… " Levy angkat bicara. Semua kembali melihat gadis pucat itu. "Ada…hantu…"

Mereka semua hening ketika mendengar kata hantu. Seorang siswi pun mengangkat tangannya, bermaksud akan mengambil peran hantu. Tapi Levy lebih cepat darinya.

"Aku akan memerankan hantunya." Ucap Levy dengan wajah datar. Siswi tadi pun langsung mengurungkan niatnya begitu melihat wajah Levy yang terlihat sedikit menakutkan. Tidak hanya itu, Levy juga melirik sinis ke arah siswi yang ketakutan itu. Seakan-akan memaksanya untuk menyerahkan peran itu padanya.

"Baiklah." Lucy menuliskan peran tambahan di kertasnya. 'Hantu' dan nama Levy di sebelahnya.

"Sekarang, kita mulai latihan. Masalah kostum serahkan pada yang bertanggung jawab!" Ujar Lucy.


"T-tidak! Jangan!" Teriak Lucy di depan kertas naskah, dengan suara ketakutan.

"Ayo ke sini manis… aku akan memberikanmu kesenangan yang mungkin tidak akan diberikan pacarmu~" Ujar Natsu dengan suara menggoda yang terdengar jahat.

"Tidak—"

"Lucy, Natsu. Kalian tidak usah pakai kostum ya? Si pemerkosa maupun korban adalah murid sekolah ini. Jadi kalian cukup pakai seragam saja." Ujar Lisanna.

Lucy dan Natsu mengangguk.

"Pada saat drama, lakukan sesuai yang kalian mau. Asal masih sesuai dengan cerita! Jadi kalau lupa dialog, buat saja dialog sendiri." Ujar Gray yang sedang duduk sambil menghafal naskahnya.

Natsu melirik jahil ke arah Lucy. "Dialog saja!" Lucy memukul kepala Natsu.

"Semuanya! Lihat! Propertinya sudah jadi! Hebat kan?!" Lisanna berlari kecil ke arah beberapa siswa dan siswi yang membawa beberapa kardus sebagai latar, dan beberapa kursi dan meja di kelas mereka sebagai pelengkap.

Mereka semua yang bersekolah di Magnolia Fairy High School ini adalah anak dari keluarga dengan ekonomi di atas standar yang memiliki kemampuan menghafal, berakting, melakukan kegiatan atlet, atau sebut saja memiliki bakat yang terasah sempurna. Jadi jangan heran jika mereka tidak kalang kabut membuat persiapan drama hanya dalam 1 hari.

Toh mereka memilih drama singkat.

"Baiklah semuanya! Kembali latihan!" Teriak Mavis-sensei yang baru datang bersama property lainnya.

Menjelang sore.

"Ayo! Kita harus cepat pulang!" Lucy menarik Natsu yang berjalan lambat karena sudah kelelahan latihan.

"Semua dialogku… melayang-layang di udara… hooy! Jangan pergi! Aku sudah menghafal kalian susah-susah tau!" Gerutu Natsu setengah mengigau. "Aaah! Jalan yang benar!" Teriak Lucy sambil menarik pria itu lebih kencang.

"Lisanna, kau belum beres-beres?" Tanya Gray. Lisanna menoleh ke belakang dan tersenyum singkat. "Kau tidak lihat aku sedang beres-beres?"

Gray menggaruk kepalanya. "Ehem… maksudku membereskan barang-barangmu sendiri…" Lisanna tersenyum lagi. "Iya, aku akan membereskannya setelah semuanya beres!"

Gray tidak yakin untuk meninggalkan gadis yang sedang bersih-bersih kelas itu sendiri. Tapi ia juga takut dengan larangan sekolah yang akan ia pentaskan besok.

"Kalau begitu, aku pulang dulu. Aku mau menghafal lagi di rumah… uum… jangan pulang larut malam… beres-beresnya cepat. Aku tidak mau sampai—"

"Iya! iya! aku tau~ selamat sore!" Ujar Lisanna dengan nada manja. Gray pun benar-benar sudah pergi dari tempatnya.

"Di mana mereka menaruh propertinya ya?" Lisanna menengok ke sekitar, mencari properti yang ia cari. Ia berjalan beberapa langkah dan menemukan sebuah kardus di pojok kelas. "Huft… siapa sih yang menaruh properti ini di sini? Ini kan properti penting… kalau hilang bisa gawat…" Lisanna berkacak pinggang melihat kardus malang itu.

Lisanna pun berjalan ke arah sebuah meja dan meletakkan kardus itu di atas sana. Lalu ia berjalan ke arah tasnya dan memasukkan semua barang-barangnya. "Baiklah, saatnya pulang."

Lisanna menggeser pintu kelas dan berjalan di koridor. Setelah berjalan beberapa puluh langkah, ia berhenti di depan toilet sekolah. Raut wajah Lisanna menunjukkan ketidak nyamanannya.

"A-aku harus ke toilet nih!" Lisanna pun buru-buru masuk ke dalam toilet dan meletakkan tasnya di atas meja wastafel.

1 menit kemudian, Lisanna membuka pintu toiletnya dan mencuci tangan. Belum selesai ia mencuci tangan, pintu toilet paling pojok terbuka dan menimbulkan suara decit.

"S-siapa?!" Tanya Lisanna. Gadis itu pun keluar dengan wajah lega. "Aah… leganya…" Gadis itu melihat Lisanna. "Oh! Lisanna! Kau masih di sini?" Tanya gadis itu. "Uum, ya, aku kebelet tadi…ayo cepat kita pulang! Kau tau kan larangan sekolah ini—"

Tiba-tiba gadis itu tersenyum, kemudian tertawa. Tertawa lebar. Sangat senang.

"K-kenapa?" Lisanna terlihat heran sekaligus terkejut mendengar suara tawa yang menakutkan itu.

"Kau polos sekali…" Kata gadis itu di akhir tawanya. Dia masih tersenyum bahagia. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, empat langkah, lima langkah. Hentakan sepatu gadis itu bergema singkat.

Dan akhirnya, gadis itu sampai di depan Lisanna.

Iya tersenyum sampai semua baris giginya terlihat. Mata Lisanna membulat saat gadis itu mencengkram kuat lehernya. Kukunya yang tajam telah menancap masuk ke leher bagian belakangnya.

"Hihi…" Gadis itu terkekeh singkat.

"Le—KYAAAAAAAA!"

To Be Countinued


Wah. Selesai juga. Oke, Riin kadang bingung mau ngapain. Jadi Riin putuskan untuk membalas review aja deh. Tapi review yang di balas dari chap 3 dan seterusnya aja ya!

HitsugayaYuki11

Aah... -a Horronya kepotong... Thanks for review! :D

Guest (1)

Nah, ini udah update! Thanks for review! :D

Guest (2)

Ini udah update :D
Nanti Riin usahakan perbanyak NaLunya! ^^
Lucynya nolak terus nih XD Thanks for review!

redsky dragneel

Waah! Horrornya kepotong buat chapter depan mungkin?
Iya! - kan ada tulisan kolabnya...
Ini udah update, Thanks for review!

nshawol56

Wah! Bella-nee! Gak papa kok! Cuma telat dikit!
Semua minta horror... tapi horrornya malah kepotong... haaah
Thanks for review!

Minako-chan Namikaze

Uwoooh! Levy bukan hantunya? Riin juga gak tau XD bisa jadi Natsu!
Reviewnya gak usah buru-buru XD Riin sabar menunggu UvU
Riin dan Lacie senang mendengarnya ^^
Thanks for review!

Day-chan Arusuki

Ah… kalau baca malam-malam kan lebih seru XD
Kisah 10 tahun lalu kurang lebih akan di pentaskan dalam drama di chapter depan :D
Hantu dendam? Iya mungkin mereka gak suka sama orang yang melanggar janjinya
Natsu nafsu? XD Arigatou! Diusahakan lebih nafsu saat drama! #adek adek jangan baca ya
Thanks for review!

Hikaru Dragfilia

Makasih! ^^ Thanks for review!

SSAPHIRA

Bagian yang paling mendebarkan di saat Natsu dan Lucy—
Thanks for review!

zuryuteki

Makasih! Dramanya mulai di chapter depan :D Thanks for review!

Banyak yang minta horror... tapi horrornya kepotong... chapter depan pun Riin gak tau feel horrornya bakal kerasa apa gak... Riin masih belajar, tolong bimbingannya senpai!

Don't forget to review, so i'm not forget to update.