-ooo-
Naruto © Masashi Kisimoto
Could It Be Love? © Yuki Kanashii
Genre: Romance & Drama
Rated: T+
Warning: OOC, AU, abal, gaje, typo(s), alur kecepetan/gajelas, d.l.l.
-ooo-
Hari ini terasa sangat berbeda untuk Tenten. Tumben sekali, ia bangun agak lebih pagi dan berangkat sekolah lebih awal, sekitar 25 menit sebelum bel berbunyi. Mungkin ini karena aku ingin bertemu Kiba-senpai. Pikir Tenten. Mengingat Kiba, ia jadi semakin semangat melangkahkan kakinya menuju kelas. Bahkan tanpa sadar ia menggeser pintu kelas dengan sangat keras.
"Kami-sama! Tenten-chan, kau membuatku jantungan!" Omel Naruto yang duduk di dekat pintu.
"Eh, gomen Naruto-kun." Tenten hanya terkekeh kecil sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Ia pun segera duduk di tempatnya.
"Hm, tumben kau sudah datang Hime." Ucap Neji saat Tenten duduk di sampingnya. "Rupanya kau rindu padaku ya, ingin cepat-cepat bertemu."
"Huh, aku bukan ingin cepat-cepat bertemu denganmu! Tapi aku ingin bertemu dengan orang lain." Kata Tenten. Pipi gadis itu merona, membuat Neji mengernyit dan penasaran siapa orang lain yang dimaksud Tenten.
"Tenten-chan! Ayo gabung ke sini!" Sebelum Neji sempat bertanya, Tenten sudah terlanjur pergi bergabung dengan Ino, Sakura, dan Hinata.
"Wii, tumben sekali putri tidur kita sudah datang." Sindir Ino.
"Biasanya Tenten-chan kan datang tepat sebelum bel berbunyi." Tambah Hinata.
"Ada kejadian apa nih?" Tanya Sakura.
Tenten sempat sweatdrop saat teman-temannya mengatakan hal itu. "Ehm.. Etto.. Aku sepertinya jatuh cinta deh." Ungkap Tenten malu-malu.
"HAH?!" Serempak, Sakura, Ino dan Hinata berteriak secara bersamaan. Mereka sangat terkejut Tenten akan jatuh cinta tiba-tiba. Mereka juga bertanya-tanya, siapa orang yang disukai Tenten itu.
Tenten pun menceritakan kejadian dengan Kiba kemarin. "Jadi.. Kupikir aku jatuh cinta padanya."
"Uwaah, sugoi.." Ketiga temannya menatap kagum Tenten.
"Enak ya, cinta pertamamu tidak ada hambatan." Kata Hinata iri.
"Romantis pula." Tambah Ino.
"Dan seperti di dorama." Ucap Sakura.
"Eheheh.. Mungkin memang seperti di dorama." Tenten tertawa malu-malu. "Ah, omong-omong soal jatuh cinta, biasanya seperti apa sih?"
"Kalau kau jatuh cinta, rasanya selalu senang di dekatnya." Jawab Ino.
"Lalu sering merona setiap berinteraksi dengan dia." Hinata ikut merona saat mengucapkan hal itu.
"Yang terpenting, ciri-ciri utamanya itu kau selalu berdebar saat bersamanya!" Ucap Sakura bersemangat.
"Berdebar?" Sejenak Neji terlintas di pikiran Tenten, namun gadia itu segera menghilangkan sosok Neji di pikirannya. "Tapi menurutku kalau jantung berdebar rasanya suka tidak nyaman."
"Debarannya bukan debaran yang tidak nyaman." Sakura menginterupsi. "Tetapi debaran yang nyaman dan memberikan rasa hangat di hati, juga membahagiakan."
"Ohh ternyata begitu." Tenten manggut-manggut. "Tapi aku tidak berdebar setiap bersama Kiba-senpai, tuh. Paling-paling hanya merona saja."
"Haduh, Tenten no baka, berarti kau belum jatuh cinta pada Kiba-senpai." Ino menepuk jidatnya.
"Mungkin Tenten-chan belum mencintai Kiba-senpai, tapi baru menyukainya saja." Ujar Hinata polos.
"Wah jadi begitu ya.." Tenten manggut-manggut. "Mungkin kalau kedepannya nanti aku bisa benar-benar mencintai Kiba-senpai."
Srek
"Hei, kenapa kalian masih belum duduk rapi?" Tiba-tiba Kakashi muncul dari balik pintu. Ups, rupanya karena asyik mengobrol mereka tidak menyadari bel yang sudah berbunyi. Beruntung, Kakashi tidak menghukum mereka. Jika Kakashi sampai menghukum mereka, tandanya besok pagi pasti akan ada kantung mata di mata mereka.
-ooo-
"Tenten-chan." Panggil Neji begitu guru yang mengajar sudah keluar kelas karena waktu istirahat sudah berbunyi.
"Apa?" Tanya Tenten datar sambil membereskan buku-bukunya.
"Kenapa ketus begitu sih." Neji mencuil pipi Tenten. Membuat gadis itu kesal sekaligus merona.
"Huh! Apa yang mau kau bicarakan, sih? To the point saja!" Dengus Tenten kesal.
"Baiklah kalau kau mau aku to the point. Siapa orang yang mau kau temui tadi pagi?" Neji langsung bertanya. Namun, yang ditanya justru malah menatap pintu dengan mata terbelalak dan pipi merona.
"Kiba-senpai.."
Neji langsung menatap ke arah pintu dan melihat laki-laki berambut cokelat pendek di sana. "Kiba-senpai?" Neji mengerutkan dahinya.
Kiba pun melambaikan tangan ke arah Tenten. "Tenten-chan!" Panggilnya.
Neji langsung melirik tajam orang asing yang memanggil Hime-nya dengan suffix chan tersebut. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke Tenten. "Siapa dia?"
"Dia Kiba-senpai. Ouji-ku." Tenten menatap Kiba dengan tatapan berbinar-binar.
"Ouji-mu? Yang benar saja! Cuma aku yang menjadi Ouji-mu!" Neji mulai kesal. "Sepertinya dia ingin mencari masalah denganku."
Tanpa memperdulikan Neji, Tenten langsung menghampiri Kiba. Membuat Neji semakin geram.
"Kiba-senpai! Ada apa kemari?" Tanya Tenten dengan ekspresi kawaii tanpa dibuat-buat.
"Menghampiri gadis manisku, tentunya." Kiba tertawa kecil sambil mengacak-acak rambut Tenten.
"Senpai.." Tenten hanya bisa tersenyum malu. Sementara Neji melotot kala melihat Kiba menyentuh gadisnya itu.
Sialan. Neji mulai merutuk dalam hatinya. Berani-beraninya dia menyentuh Tenten. Bahkan menggodanya. Perempatan siku-siku mulai muncul di dahinya.
"Bagaimana kalau kita makan bersama di kantin, Tenten-chan?" Tawar Kiba.
"E-Eh?"
"Mau tidak? Aku akan sedih lho kalau ditolak oleh gadis manis seperti Tenten-chan." Kiba membuat ekspresi sedih yang sangat tampan menurut Tenten. Sementara Neji melihatnya dengan muak.
"Ma-Mau kok, Kiba-senpai." Tenten mengangguk setuju.
"Yeay! Kalau begitu ayo." Kiba langsung menggandeng tangan Tenten dan membawa gadis itu ke kantin. Sementara sang Neji Hyuga yang melihatnya nyaris membanting meja di depannya.
-ooo-
"Sepertinya kau semangat sekali makannya." Kiba terkekeh pelan melihat Tenten yang memakan takoyaki dengan lahap. Pipinya menggembung karena penuh dengan takoyaki, membuatnya semakin terlihat kawaii.
"Ada sesuatu di sini." Kiba menunjuk pinggir bibirnya.
"Eh, ada apa? Dimana?" Tenten kembali bertanya sambil menunjuk-nunjuk wajahnya.
"Sini.." Kiba mengambil tisu dan mengelap pinggir bibir Tenten dengan pelan, membuat wajah gadis itu merona hebat.
"A-Ariga-gatou, Senpai.." Tenten berterima kasih dengan terbata-bata. Ia sungguh malu diperlakukan semanis itu di hadapan orang banyak.
"Apa saja untukmu, gadis manis." Kiba tersenyum lebar. "Ah, kau mau main ke rumahku tidak sepulang sekolah?"
Dengan cepat ia mengangguk, menyutujui ajakan Kiba. "Boleh. Memangnya kenapa Senpai mengajakku ke rumahmu?" Tanya Tenten polos.
"Aku ingin berbincang-bincang saja denganmu dan.." Kiba memberikan jeda. "bermain sebentar denganmu." Ia menyeringai kecil.
"Heeh?" Tenten tidak paham maksud Kiba. Iris hazel nya melebar. "Bermain bagaimana maksud Senpai?"
"Ah, nanti saja di rumah aku jelaskan." Kiba menjawab dengan misterius. Sepertinya ini akan mudah, gadis ini terlalu bodoh. Kiba tertawa kecil dalam hati.
Tepat setelah bel pulang berbunyi, Kiba sudah stay di depan pintu kelas Tenten. Berniat membawa pergi gadis manisnya itu.
"Lihat, laki-laki sialan itu sudah berdiri di depan pintu." Desis Neji pada Tenten.
"Apa maksudmu laki-laki sialan, hah?" Dengus Tenten.
"Tentu saja dia laki-laki sialan, mengambil Hime-ku dan menyentuhnya tanpa izin." Neji menatap sinis Kiba.
"Oh yang benar saja. Siapa yang kau sebut "Hime-ku" itu, huh?" Tenten memutar kedua bolanya. "Apa jangan-jangan kau cemburu?" Tenten langsung memicingkan matanya dan tersenyum sinis pada Neji.
"Bisa dibilang aku cemburu. Dan aku posesif pada sesuatu yang menjadi milikku." Neji balas tersenyum sinis dan melipat tangannya di dada. "Dan kau adalah Hime sekaligus calon istriku."
"A-Apa?!" Suara Tenten naik satu oktaf. "Yang benar saja?! Sejak kapan aku mau menjadi calon istrimu?!" Suara Tenten terdengar semakin meninggi. Ia merasa kesal selalu dipermainkan oleh Neji. Dan ada rasa sakit di hati Tenten akibat ulah Neji yang terus mempermainkannya.
"Kau pernah mengatakannya! Jangan lupakan itu!" Nada suara Neji ikut meninggi, rupanya Pangeran Hyuga ini sudah kehilangan kesabaran.
"Huh, tidak ada gunanya berbicara denganmu!" Tenten langsung menarik tasnya kasar dan berjalan keluar kelas, menghampiri Kiba.
Kiba tersenyum kala mendapati sosok gadis manisnya. "Let's go, Tenten-chan."
"Iya, Kiba-senpai." Tenten tersenyum lebar sambil berjalan mengikuti Kiba. Namun tiba-tiba tangannya ditahan.
"Mau apa lagi?" Tenten mendesis melihat Neji yang menahan tangannya.
"Kau harusnya pulang denganku, Hime." Neji menatap tajam Tenten.
"Gomen, ada urusan apa kau dengannya?" Kiba melepaskan tangan Tenten dari cengkraman Neji dan berdiri di depan gadis itu.
"Kau tidak perlu ikut campur. Ini antara aku dan dia." Aura yang sangat dingin mulai terasa dari Neji.
"Urusan dia adalah urusanku juga. Aku yang akan mengantarnya pulang hari ini." Kiba balas menatap Neji dengan tatapan menantang. "Dia bukan siapa-siapamu, jadi kau tidak berhak memaksanya."
"Kuso!" Neji mulai mengepalkan tangannya dan hendak menyerang Kiba.
"Stop, kalian berdua!" Tenten mulai kesal. Ia mulai menghampiri Neji. "Kau itu kenapa, sih?! Selalu bersikap kekanak-kanakkan dan menyebalkan?!"
"Kekanak-kanakkan dan menyebalkan, katamu?! Aku hanya berusaha melindungi Hime-ku dan milikku!" Seru Neji ikut kesal.
"Milikmu? Hime-mu?" Suara Tenten naik dua oktaf. "Tak bisakah kau hentikan bualanmu itu?!"
"Aku tidak membual!" Neji semakin kesal. "Kau memang Hime-ku dan milikku! Juga calon istriku!"
"Sudah kubilang aku bukan calon istrimu!" Tenten mulai membentak Neji, membuat laki-laki itu terkejut. "Itu hanya kesalahpahaman! Kenapa kau selalu seperti ini sih?! Aku lelah dipermainkan olehmu!" Tenten berteriak marah.
"Itu semua karena aku men—"
"Bullshit!" Potong Tenten. "Aku sudah cukup muak, sekarang kau bisa menghentikan tingkahmu itu dan tak perlu repot-repot mendekatiku." Suara Tenten merendah. Kilatan marah bercampur sedih terlihat di matanya. Ia langsung mengalihkan wajahnya ke Kiba. "Ayo kita pulang Kiba-senpai." Tenten langsung berjalan pergi dari sana.
Kiba menatap Neji yang sedang memijat pelipisnya. "Kau lihat, aku lah yang menjadi pemenangnya." Ucap Kiba sambil tersenyum meremehkan.
Neji menatap tajam Kiba. "Tidak lama lagi kau yang akan kalah, jerk."
"Aa, aku harus segera menyusulnya. Karena kami akan bermain di rumahku." Kiba tersenyum sinis dan bergegas menyusul Tenten, tidak menghiraukan Neji yang berteriak di belakangnya.
"Hei! Apa maksudmu?!" Teriak Neji jengah. Tsk, apa yang mau ia lakukan pada Tenten?! Batin Neji marah. Kuso, lihat saja kalau ia sampai melakukan sesuatu yang buruk padanya.
A/N:
Yo, minna~
Huwaaa, saya nggak nyangka akan dapat respon positif dari kalian:") Arigatou untuk minna yang sudah mau review dan membaca fanfic abal saya ini:") Semoga kalian tetap suka cerita ini ya._.
Sekali lagi, arigatou~!^-^
(Review again?:))
