"Sudah lama aku tidak kemari, kau baik-baik saja di sana sayang? Tapi maaf aku masih belum bisa menemanimu di sana." Ia mengelus batu nisan tertanda dengan nama suaminya, setetes air mata turun.

Ia membenarkan mantelnya, serta tersenyum lembut dengan sorot mata redup, "Sudah lama kita berpisah, sejak saat itu akan memulai semuanya sendirian, aku selalu berpikir apakah keputusan yang kuambil ini benar. Tapi semua itu akan segera berakhir, anak kesayanganmu akan mengambil alih semuanya, dan aku bisa beristirahat."

"Kaa-san udara semakin dingin, ayo kita segera pulang." Ia mengambil sapu tangan dari dalam tas, mengusap lembut air pada permukaan pipinya, ia menghelah nafas kemudian memutuskan untuk pergi.

Gadis berusia tujuh belas tahun menyelipkan tangannya di antara jemari ibunya, mengenggam dengan lembut, "Semuanya pasti akan baik-baik saja." Ia mengerling mendengarkan gumaman yang beberapa detik lalu keluar dari mulut sang ibu, ia hanya dapat menarik kedua sudut bibirnya.

Saigo ni Yume wo Miyou

.

.

.

Saigo ni Yume wo Miyou

Disclimer : Om Tite Kubo

Author : Hanna Hoshiko

Pairing : Ichigo K. Rukia K.

Rated : T

Genre : Angst/Hurt/Comfort/Romance/Family

.

.

.

Warning!

Cerita ini hanyalah fiksi dan semua yang ada di dalamnya adalah asli murni ide dari author. Kesamaan alur, watak tokoh atau apapun itu, dilakukan dengan ke-tidak sengajaan oleh author

Cerita ini akan update setiap hari Rabu, jika ada keterlambatan harap menunggu karena itu berarti author sedang sibuk di RL.

Karakter tokoh disesuaikan dengan tuntutan jalan cerita, dan diusahakan sehingga tidak sampai mem-bashing chara.

.

.

.

Don't Like Don't Read

.

.

.

Mempersembahkan

Ia mengenggam kenop pintu tersebut, asap putih transparan yang keluar dari mulutnya menabrak dinding pintu, salah satu jemarinya menyentuh dada yang berselimutkan sebuah kemeja serta sweater. Kerutan pada dahinya menghilang selaras dengan ditariknya gagang pintu sebuah kamar, menampakkan seorang gadis manis berambut caramel, yang tengah seirus dengan lembaran-lembaran yang berada di pangkuannya.

"Bisa kita bicara sebentar Yuzu." Gadis itu tersenyum, meletakkan buku yang tengah ia baca sedari tadi.

Pemandangan taman Istana mereka dapat terlihat dari sana, udara begitu mencekik tulang, "Apa yang ingin Nii-chan bicara 'kan?" Sorot mata gadis belia itu menangkap yang lain pada diri saudaranya.

"Kapan kau akan menghadiri acara amal lagi?" warna merah padam terlihat di wajah tirus kakak tertuanya, ia hanya menutup mulutnya agar kakaknya tidak mendengar sebuah tawa kecil.

"Kau tertarik dengan hal seperti itu sekarang? Apa yang membuatmu berubah hm?" ia meletakkan kedua tangannya di depan dada, kepalanya ia angkat sedemikan rupa.

Ichigo memandang sengit adiknya, mengeluarkan sebuah kutukan dalam hati, "Oh ayolah, kau membuatku berada di posisi yang sulit sayang." Ia memegang bagian belakang kepalanya, dan melirik ke arah air mancur yang berada di taman, menghindar dari tatap selidik sang adik.

"Aku mengerti, tapi aku tidak akan mengajakmu lagi." Dengan lues serta memancarkan aura kesombongan, Yuzu melenggang pergi dari sana.

.

.

.

Usaha

.

.

.

Seragam sekolah itu masih melekat pada tubuhnya, langkahnya begitu cepat menerobos masuk pada sebuah cafe, matanya menelik di setiap sudut cafe. Wajahnya berseri ketika menemukan perempuan mungil berambut raven, dengan langkah ringan ia menghampirinya, bertegur sapa serta mengambil duduk di depannya, ia meletakkan tasnya di samping tempat ia bersimpuh.

"Maaf membuatmu menunggu Nee-chan." Ia menatap dengan penuh minat, sedangkan perempuan di depannya hanya mengeluarkan sebuah tawa pelan.

Perempuan itu membalik-baik lembaran buku menu di depannya, "Aku juga baru saja datang, tidak usah khawatir. Apa yang harus kita pesan Yuzu?" jemari lentiknya masih sibuk dengan membalik lembaran, serta mulutnya yang senantiasa mengeja setiap kata.

"Mungkin aku ak-"

"Aku menemukanmu Yuzu." Beberapa wanita menoleh pada mereka, terutama pada laki-laki yang tengah berdiri dengan wajah kemenangan.

Gadis belia di depannya terlihat begitu kaku, menatap perlahan pada laki-laki tersebut, meski di dalam matanya terlihat kekesalan yang mendalam, "Mungkin aku harus pergi dulu, dan kalian bisa menyelesaikan masalah yang sedang terjadi."

"Kurasa tidak perlu." Ia melihat ragu pada laki-lagi bermarga Kurosaki tersebut, sedikit menggigit bibir bawahnya.

"Tapi Kurosaki-sama." Dengan santai laki-laki itu mendekatkan wajahnya, ia hanya bisa menutup matanya rapat-rapat, "Kita sudah membicarakan ini Rukia, sepertinya kau harus mendapat hukumannya." Kedua bola matanya terbuka begitu saja, setelah merasakan sebuah kecupan di pipinya.

Cup.

"Nah Yuzu bisa kau geser dudukmu sedikit." Tangan mungil Rukia, mencengkram erat helaian bajunya, ia sedikit menarik nafas dalam-dalam.

Ia berusaha terlihat sebiasa mungkin, "Apa yang harus kita pesan?" laki-laki itu berujar kembali, ia menghelah nafas berkali-kali, melihat kedua saudara di depannya.

"Apa yang sedang kau lakukan di sini? Sudah kubilang jangan mengikutiku lagi. Aku tidak akan menyerahkan Rukia-nee padamu, dasar manusia jeruk." Beberapa gerutan tercipta di dahi sang kakak.

Sebuah senyum masih tertera di wajahnya, "Yuzu aku tidak akan merebut Rukia darimu, aku hanya ingin sering bertemu dengannya, apa kau mengerti?"

"Kau akan selalu menempel pada Rukia-nee, dan tidak memberiku banyak waktu untuk bersamanya, itu jelas kau merebutnya dariku mengerti Ichigo onii-chan." Kedua mata mereka saling menatap, dengan aura yang tidak begitu baik, membuat Rukia mengelus tengkuknya.

"Apa yang sedang kalian bicarakan tentangku, sepertinya sangat seru. Jadi apa yang bisa kita pesan kali ini tuan-tuan?" Rukia kembali terfokus pada buku menu, tanpa melihat kedua mata orang di depannya menatapnya dengan ragu.

Ichigo melipat tangannya di atas meja, akan tetapi matanya masih tidak terlepas pada Rukia, "Aku tidak membutuhkan makanan, jika melihatmu saja membuatku bahagia." Kedua amethyst melihat dengan terkaget, bibir perempuan belia itu bahkan belum sempat menutup sepenuhnya.

"Kau! Oh tuhan."

.

.

.

Usaha

.

.

.

"Sekali lagi saya minta maaf, saya tidak mempunyai minat untuk menjadi seorang dokter di rumah sakit anda." Kedua orang itu menggelengkan kepala mereka, menatapnya dengan penuh kagum.

"Menjadi seorang relawan dan guru TK itu sudah hal yang luar biasa bagi perempuan seperti anda Kuchiki-san. Anda begitu mirip dengannya, berkilau serta mengagumkan." Ia hanya tertawa pelan, lantas menatap kedua laki-laki tua di depannya.

"Saya tidak sama dengan Ibu saya, Beliau membuat kisahnya sendiri begitu pula dengan saya. Kami jauh berbeda jika anda tahu." Kedua pria itu tertawa.

Rukia membungkuk memberikan salam perpisahan, ia berjalan setelah pertemuan singkat dengan kedua pria tua tersebut, ia mengecek ponselnya. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, "Apa yang bisa ponsel itu lakukan hingga kau tersenyum?" ia berhenti berjalan, wajahnya masih berseri-seri akan tetapi matanya menatap tak berkutik pada seseorang.

Sontak ponselnya ia masukkan saku, kelopak-kelopak bunga sakura berayun dengan indah di sekitar mereka, "Apa yang sedang anda lakukan di sini?" laki-laki itu mendekat.

"Kau mau kuhukum lagi?" keringat dingin meluncur dari pelipis Rukia, ia bergerak mundur akan tetapi laki-laki di depannya bergerak maju.

"Ap-apa yang sedang kau lakukan di sini Ich-Ichigo?" laki-laki itu berhenti untuk berjalan maju, salah satu tangannya memegang pipi Rukia.

Sebuah tawa kecil keluar dari bibirnya, "Berkencan denganmu."

"Tunggu dulu." Dengan gerak kaku, Rukia mulai melebarkan jarak antara mereka.

"Apa yang sedang kau tunggu?" laki-laki itu menekuk wajahnya, dengan melihat Rukia sinis.

Rukia mengambil nafas dalam-dalam, "Aku harus segera pulang untuk menyiapkan makan malam, aku tidak bisa menemanimu berkencan Ichi." Laki-laki itu memasang mode berfikirnya.

"Kalau begitu aku bisa membantu menyiapkan makan malam, kita bisa makan malam bersama." Rukia akhirnya hanya bisa terdiam.

"Tapi..." jari telunjuk itu menempel pada bibir Rukia, jarak antara wajah mereka sangat dekat.

"Asal kau tahu kali ini aku tidak menerima penolakan apapun." Ichigo mengenggam tangannya, berjalan berdampingan meski tinggi badan mereka sangat terlihat begitu jauh, Rukia hanya menghelah nafas.

"Dasar Pangeran menyebalkan."

.

.

.

Usaha

.

.

.

"Kita bertemu lagi." ia memberikan sebuah senyuman terbaik.

Perempuan itu membungkuk, "Senang bertemu denganmu, tapi aku tidak punya waktu untuk bermain denganmu saat ini." Ia pergi begitu saja.

"Aku hanya menjemputmu, bisakah kau hargai usahaku sedikit?" perempuan itu menggeleng pelan.

Ia hanya menampakan sebuah senyum lemah, "Kumohon maafkan aku, tapi aku tidak bisa Ichigo-sama." Ichigo memasang wajah cemberut.

"Kalau begitu biarkan aku mengikutimu, aku janji aku tidak akan menggangumu bagaimana?"

Perempuan mungil itu tertawa pelan, "Kau tidak akan bisa tanpa menggangguku, jadi mohon bantuannya Ichigo-sama."

Akhirnya mereka berjalan bersama, membuat sekumpulan orang melihat ke arah mereka berdua, "Kau tahu?" perempuan itu menggeleng pelan.

"Bagaimana aku bisa tahu, jika yang mulia ini tidak memberitahuku hm?" mereka terlihat seperti pasangan, dan hanya bisa membuat orang-orang iri.

"Ah~ kau pintar sekali membuat moodku naik turun."

Mereka tiba di sebuah halte bus, "Oh! Jadi maksudmu aku seorang moodboster untukmu? Benar 'kah?" Rukia memilih untuk duduk dan diikuti oleh Ichigo yang senangtiasa berada di sebelahnya.

"Kau harusnya bangga dengan itu." perempuan Kuchiki itu hanya bisa memendam tawanya.

.

.

.

Usaha

.

.

.

Perempuan di sampingnya terlihat semakin cantik diterpa kelopak sakura, "Bukankah ini indah." Gumam perempuan tersebut, dengan menutup matanya.

"Kau menyukainya Rukia?" perempuan itu tertawa pelan, namun baginya perempuan itu sudah terlihat begitu mempesona.

Rukia mengangguk pelan, "Mereka terlihat mempesona, kau tidak merasakannya?" ia hanya bisa menggeleng pelan.

"Bukankah kau begitu menyukai salju?" taman di Distrik 3 begitu indah, meski di Seireitei jauh lebih indah.

"Aku sangat menyukai salju karena selalu mengingatkanku pada Kaa-san, tapi aku juga sangat menyukai sakura karena aku selalu melihat Tou-san di dalamnya. Mereka adalah yang terpenting dalam hidupku, jadi apa alasanmu kali ini menemuiku? Mengajakku berkencan? Belanja? Atau makan?" ia tersenyum pada dirinya sendiri, mengetahui betapa bodohnya dirinya akhir-akhir ini.

"Tidak ketiganya, aku hanya mengajakmu jalan-jalan." Perempuan mungil itu tertawa, membuatnya terpana melihat senyum itu.

Rukia menatapnya dengan selidik, "Apa yang sedang kau rencanakan dalam otakmu, aku tidak yakin kau hanya mengajakku jalan-jalan."

"Membawamu kawin lari, bagaimana kau mau?"

Rukia melihatnya dengan tatapan terkejut, "Kau gila." Ia hanya bisa tertawa keras, saat matanya menangkap ekspresi kaget perempuan kesayangannya.

"Kau mau melihat hal gila lainnya yang bisa aku lakukan?" Rukia menggeleng pelan, sedikit mengambil jarak pada sang Pangeran.

Ichigo kembali tertawa melihat tingkah manusia di sebelahnya, ia berdiri serta juga ikut membimbing Rukia untuk berdiri di depannya, "Ada sebuah hal gila yang ingin aku lakukan padamu."

"Kau membuatku takut Ichigo." Pemuda itu menggeleng, ia menorehkan senyum di wajahnya.

Ia menurunkan tubuhnya, mengucapkan beberapa kata di samping telinga Rukia, membuat perempuan itu memandangnya tak percaya, "Aku menyukaimu, maukah engkau menjadi kekasihku?"

.

.

.

To be Continued

A/N :

Halo! Waktunya update, pertama aku ucapkan selamat tahun baru semoga tahun lalu dapat menjadi sebuah pelajaran dan tahun 2015 nanti menjadi tahun yang penuh makna, di chapter ini gaya tulisan pada diksi sedikit aku rubah setelah membaca sebuah bacaan tulis-menulis. Dari membaca bacaan tulis menulis akhirnya aku berusaha mengubah sedikit gaya tulis menulisku, semoga tidak terlalu jelek ^_^

Balasan Reviews :

Ella Mabby-Chan : kenapa setiap chapter selalu pendek itu biar ora molor updatenya hehehe :D lebih baik dikit tapi bisa update tiap minggu, daripada panjang harus update tiap minggu, aku ngerasa kalo gitu ceritaku bakalan ada yang kurang. Terima kasih udah sempet reviews :D

Azura Kuchiki : Tak apa, lagi pula aku nggak begitu mentingin reviews, yang terpenting bagiku bagaimana aku bisa menyampaikan ceritaku dengan gaya bahasaku sendiri :D terima kasih udah inget buat reviews

Stefymayu yeniferangelina : bakalan dijodoh 'kan? Liat aja chapter depan bakalan kayak gimana okay say? Emang terlalu pendek s yang chapter kemarin hehehe :D terima kasih udah sempet reviews