Author : seishuuhara
Cast : Park Chanyeol,Byun Baekhyun,dsb
NB : Baru. Kritik dan Saran sangat dibutuhkan.
.
.
.
.
.
.
Chapter 4
"AAHH...". Baekhyun tersentak. Baekhyun meutupi wajahnya dengan lengan kanannya. Ia menelusuri sesuatu yang melingkar dipinggangnya itu. Dan ternyata, itu hanya kaki Chanyeol. Baekhyun mengusap dadanya sambil bernafas lega.
Chanyeol terbangun. Chanyeol menoleh kearah Baekhyun yang sudah bangun *akibat kakinya*. Chanyeol melihat Baekhyun yang ngos-ngosan sambil menatap lurus kearah selimutnya. Chanyeol melihat. Upps..
"Oh, Mianhae. Kakiku berpetualang terlalu jauh. Gwenchana, seosangnim?". Ucap Chanyeol sambil menarik kakinya.
"n-ne, nan gwenchana". Ucap Baekhyun lemah. Baekhyun melihat kearah jam. Sudah pukul 6 pagi.
"Sudah pukul enam". Ucap Baekhyun sambil menguncir rambutnya. Chanyeol baru ingat jika dia kan tidur di meja belajar.
"seosangnim. Apa kau yang menggotongku kekasur?". Tanya Chanyeol. Baekhyun mengangguk.
"Woah, hero! gomawo". Ucap Chanyeol sambil menggaruk tengkuknya.
"Sudah, berhentilah bersikap seperti anak kecil. Cepat sebutkan rumus yang kau hafal kemarin malam sehingga kau rela tidur di meja belajar."
Chanyeol menyebutkan sebaris *bukan, berbaris-baris* rumus yang kemarin ia hafalkan. Dan ia menyebutkan semuanya dengan lancar.
"Seosangnim, aku bisa menghafalnya". Teriak Chanyeol girang. Chanyeol menghamburkan dirinya dan memeluk Baekhyun. Baekhyun hanya diam ditempat. Tak berkutik. Dia shock. Chanyeol yang menyadari ulahnya melepaskan pelukannya. Chanyeol melihat Baekhyun yang tak berkutik dari tempatnya ia duduk sekarang.
"Mian, seosangnim". Ucap Chanyeol malu. Baekhyun tidak bisa berkata apapun. Ia hanya menarik salah satu sudut bibirnya saja.
Hari ini ternyata libur. Guru-guru rapat untuk pelaksanaan ujian kelulusan yang tinggal menghitung minggu. Chanyeol tiduran di kasurnya yang empuk itu. Tiba-tiba ia teringat Baekhyun. Ia meraba kasur yang sempat di tempati Baekhyun kemarin malam. Chanyeol malu membayangkan semua perlakuan Baekhyun kepadanya. Ia senang diperhatikan oleh guru seperti Baekhyun. Chanyeol mengingat semuanya. Mulai dari Baekhyun menghukumnya, memukul jidatnya dengan penanya, dan aksi paling heroic menurut Chanyeol, yaitu menunggui Chanyeol menghafalkan rumus dan rela menginap karena itu. Ia juga ingat belaian lembut tangan mulus Baekhyun saat menidurkannya di kasur, ya mengingat saat itu ia tertidur di meja belajar. Chanyeol tersentak seketika.
"mengapa aku selalu memikirkan setan tua itu?". Tanya Chanyeol dalam hati. Ia memukul ringan kepalanya agar segera fresh kembali. Ia mengalihkan pikirannya ke membaca komik tapi masih saja bayangan Baekhyun terngiang-ngiang di kepala Chanyeol. Chanyeol merebahkan tubuhnya. Ia merasa ada yang menusuk punggungnya. Ia bangkit dan memeriksa keadaan. Dan, ia menemukan jepit pink dengan bunga besar berwarna pink tua.
"Ini pasti punya Byun seosangnim.". Ucap Chanyeol sambil menggenggam jepit itu. Ia menyimpannya di kotak kecil sebelah bukunya dan pergi keluar kamar
Thursday
10:13
Hari ini, Chanyeol sangat bosan. Ia bangkit dari duduknya dan menuju kantin, sendirian tanpa Kai dan Sehun. Chanyeol duduk di meja dekat jendela agar bisa merefresh kembali pikirannya. Dan tak lama kemudian, Datanglah Sehun dan Kai.
"Hai". Ucap Kai sambil merangkul pinggang yeoja disampingnya. Yeoja disamping Kai yang bernama Sehun juga ikut menyapa Chanyeol.
"Sedang apa kau disini, sendirian". Ucap Sehun sambil duduk berhadapan dengan Chanyeol. Chanyeol menatap malas Sehun dan Kai.
"Biasa, merenungkan dan menyejukkan pikiran dan hati.". Ucap Chanyeol sambil mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan. Sehun dan Kai hanya mengangguk, ya karena mereka memakluminya. Itulah kebiasaan Chanyeol setelah pelajaran selesai.
Chanyeol menatap jendela. Melihat keadaan luar yang sangat biasa. Tapi, pemandangan luar menjadi tak biasa setelah Chanyeol melihat sesuatu. Chanyeol terbelalak. Chanyeol mengeluarkan jepit yang sengaja ia bawa. Ia memandanginya dan kembali memandang keadaan luar. Sehun merasa aneh dengan Chanyeol. Sehun mengikuti arah pandangan Chanyeol. Dan! Sehun menemukan sesuatu.
"Ehem". Sehun berdeham dengan suara berat yang dimilikkinya karena tau apa yang sedang Chanyeol perhatikan sekarang. Kai yang mendengar 'deheman' Sehun menoleh.
"Ada apa, chagi?". Tanya Kai sambil menyeruput jusnya. Sehun mengisyaratkan ke arah Chanyeol yang masih memandang 'pemandangan luar'. Kai mengikuti arah pandangan Chanyeol.
"Ooo, itu ternyata. Sudah kubilang. Byun seosangnim sangat memikat hati. Dan kau pasti ingin memilikkinya.". Ucap Kai sambil memegang pundak Chanyeol yang mukanya memerah sedari tadi.
"A-apa yang kau ucapkan. A-aku tidak tertarik padanya. Untuk apa aku-aku tertarik pada orang garang dan dingin sperti dia.". Ucap Chanyeol menutupi kenyataan. Kai cengengesan.
"Yak! Itu benar. Mending aku memacari Sehunmu saja". Ucap Chanyeol sambil menatap Sehun yang duduk bersandar sambil menyilangkan tangannya di depan dada.
"Yak, tidak ada yang boleh mengambilnya dari tanganku". Ucap Kai sambil mengepalkan tangannya didepan muka Chanyeol. Sehun hanya memutar matanya.
"Yaah,mulai lagi". Ucap Sehun dengan muka datar dan tidak beranjak dari posisinya.
Chanyeol dan Kai saling cakar-cakaran dan tinju-tinjuan dan pukul-pukulan seperti banci jalanan. Sehun yang semakin risih akhirnya turun tangan. Ia melepas salah satu earphone-nya dan memukul meja dengan kakinya. Yap, untuk hal ini,gebrakan meja dengan tangan tidak akan menghentikan pertengkaran mereka. Jadi ia tudak segan-segan untuk mengangkat kakinya dan memukulkan kakinya diatas meja.
BRAAK...
Meja yang mereka didepan mereka retak seketika.
Seketika Chanyeol dan Kai berhenti melakukan hal yang kekanakan yang baru saja mereka laksanakan. Sehun menurunkan kakinya dan memasang kembali earphone-nya dan kembali duduk bersandar. Chanyeol dan Kai sudah tahu kode yang akan diberikan Sehun saat Sehun sedang bete melihat pertengkaran Chanyeol dan Kai yang seperti anak kecil tsb.
"Untung aku pakai celana, bukan rok seperti anak perempuan". Ucap Sehun tak peduli.
"Tapi kau perempuan". Ucap Chanyeol dingin.
"Apa masalahmu? memangnya salah, apa?". Teriak Sehun nyolot. Ya,Sehun memang tidak mau dibilang jika ia perempuan. Padahal dia perempuan.
"Terserah kau sajalah". Ucap Chanyeol pasrah.
Chanyeol berjalan menyusuri setiap jalan yang terpapar lebar dan panjang didepannya. Ia menyepakkan sepatunya di tanah dengan bosan. Dan beberapa saat kemudian, dia sampai di rumahnya yang megah dan besar. Chanyeol mulai membuka pintu. Ia berjalan gontai ke arah kamarnya. Ia membuka pintu kamarnya. Ia melihat Baekhyun sudah ada dikamarnya. Baekhyun tampak sedang mencari sesuatu di kasurnya.
"oh, Anyyeonghaseo, seosangnim". Ucap Chanyeol lembut sambil membungkuk lalu menutup pintu kamar. Yah, sekarang bisa dibilang, Chanyeol menerima kedatangan Baekhyun. Ia tidak akan teriak dan merengek lagi jika ada Baekhyun. Dan dia malah senang Baekhyun datang kerumahnya.
Baekhyun hanya menoleh dan tersenyum sekilas lalu kembali mencari sesuatu.
"Byun seosangnim, anda sedang mencari apa?". Tanya Chanyeol sambil berjalan menuju kasurnya. Chanyeol menginguk ke Baekhyun.
"Aku sedang mencari jepit bewarna pink dengan bunga pink tua. Aku yakin pasti terjatuh disini. Apa kau tahu dimana? apa kau menemukannya?". Ucap Baekhyun panik. Chanyeol tersentak. Ia meremas saku kirinya, ya,disaku kirinya ada barang yang dicari Baekhyun.
"Ah,ah..mollayo, seosangnim. Mianhae...". Ucap Chanyeol bohong. Baekhyun tampak kecewa.
"Ah, padahal itu jepit pemberian alm. Ibuku. Sekarang aku menghilangkannya". Ucap Baekhyun sambil berlinang airmata.
"Seosangnim. Mianhae, aku ingin membantu tapi aku sungguh tidak tahu. Jika aku menemukannya, aku akan segera memberikannya padamu". Ucap Chanyeol sambil berlutut didepan Baekhyun yang sudah tertunduk.
"Jinjjayo?". Baekhyun langsung mengangkat kepalanya.
"hmm..ne..apa yang tidak untuk guruku tersayang". Ucap Chanyeol menaikkan sebelah alisnya.
"Wae, seosangnim?". Tanya Chanyeol sambil ikut menaikkan alis.
"Kau barusan bilang apa?"
"Eh?"
"Yang tadi"
"Yah,mampus.Kenapa aku bisa kecepelosan". Batin Chanyeol.
"Eh? yang mana?"
"Sudahlah lupakan. Keluarkan buku catatanmu dan buka buku paket halan 134 oke". Ucap Baekhyun sambil mengobrak abrik kotak pensilnya,biasa mencari pena idamannya, pena merah.
2 hours later
"Sudah selesai?". Tanya Baekhyun manja.
"eh? be-belum. Tinggal 2 nomor lagi." Jawab Chanyeol gugup.
"Nah, sudah selesai, seongsanim". Ucap Chanyeol sambil memberikan lembar kerjanya kepada Baekhyun. Baekhyun menerimanya. Chanyeol terus saja memandangi Baekhyun. Ia menahan tawanya karena melihat ekspresi wajah saat ini sedang mengoreksi pekerjaan Chanyeol dengan alis yang menyatu,dahi yang berkerut , dan mulut yang dipoutkan kesamping.
"Kemajuanmu dibidang matematika sudah terlihat jelas. Aku senang mengetahuinya". Ucap Baekhyun senyuman yang mengembang. Chanyeol diam, tak berkutik. Senyuman Baekhyun memang langka menurut Chanyeol, karena Baekhyun orangnya dingin. Chanyeol gelagapan. Ia menggaruk tengkuknya dan menundukkan kepalanya untuk menutupi pipinya yang sudah merah.
"N-ne, kamsahamnida, seosangnim. A-aku sangat menghargai jasamu"
"ne, cheonma. Aku juga menghargai usahamu. Sudah ya, aku pulang. Ini sudah malam. Belajarlah yang giat." Ucap Baekhyun sambil mengacak rambut Chanyeol.
"N-ne, seongsanim" Ucap Chanyeol sambil berdiri dari duduknya dan membungkuk.
"Chanyeol, membungkuklah lagi". Ucap Baekhyun bangkit dari duduknya. Chanyeol mengangkat satu alisnya. Chanyeol membungkuk.
"Aku ingin kau menjadi juara, maka belajarlah yang giat.". Ucp Baekhyun sambil mengusap pipi Chanyeol.
"Huwaa..kejedot apa aku barusan!" .teriak Chanyeol dalam hati.
"N-ne,seosangnim." Ucap Chanyeol gugup.
"Fighting!". ucap Baekhyun sambil tersenyum lebar dan mengepalkan tangannya.
"Ne,fighting". Ucap Chanyeol dengan senyuman dan acungan jempol.
Baekhyun keluar dari kamar Chanyeol. Chanyol bersandar di pintunya. Ia meraba pipinya yang memerah karena dipegang Baekhyun. Ia baru sadar, jika saenimnya itu tidak memanggilnya pabo, tapi namanya, ia juga baik sekali hari ini, tidak berteriak, dan dia mengembangkan senyum yang mungkin tidak pernah ia lakukan seumur hidupnya. oh Tuhan, Chanyeol merasa terbang kelangit dengan paus orca (?) dan dimakan naga bekepala sapi (?) lalu jatuh ke lautan permen kapuk berwarna pink dan dikelilingi cupid yang bermain gitar listrik (?). Baekhyun turun dan menuju ruang tamu. Baekhyun duduk bersama orang tua Chanyeol.
"Bagaimana perkembangan anak saya". tanya appa Chanyeol penuh harapan.
"Ya, sementara ini, terus naik. Saya senang Chanyeol tidak lagi terlambat menangkap materi.". Ucap Baekhyun dingin.
"eum, kalo boleh tahu, rumah anda dimana? berapa lama untuk bisa sampai disini?". Tanya Ibu Chanyeol ramah.
"Aku tinggal di apartemen, eung..masih diwilayah seoul, tapi sudah agak keluar sih dari seoul, di pojoknya Seoul lah mungkin bahasanya. eumm, mungkin 3 jam. Mengingat jadwal lesnya 2 jam dan berkahir di jam 9, berarti aku sampai dirumah tengah malam, dan mungkin bisa lebih. Dan lalu aku harus bangun pagi pukul 5 agar bisa berangkat kerja tepat waktu". Jelas Baekhyun dengan wajah datar.
"ung, kami menyarankan untuk tinggalah disini sampai ujian kelulusan. Kebetulan disini haya 10 menit perjalanan jika ke sekolah. kami kasihan dengan anda yang selalu tampak kelelahan. Kebetulan, noona Chanyeol tinggal di apartemen bibinya, jadi kamar noona kosong. Anda bisa tidur disana. Jika anda serumah dengan kami, anda tidak perlu repot untuk memantau anak kami dan tidak perlu repot untuk jauh jauh kesini". Tawar ibu chanyeol.
"Itu ide yang bagus, bijak, masuk akal. Baiklah saya terima tawaran anda. Sebelumnya terima kasih.". Ucap Baekhyun sambil melangkah keluar rumah.
"Eh, seongsanim, anda mau kemana?"
"Saya mau pulang"
"untuk apa pulang, anda mulai menginap disini malam ini. Nanti sopir kami akan mengangkut semua keperluan anda". jelas ibu Chanyeol.
"hmm, baiklah. Kamsahamnida". Ucap Baekhyun ramah. Chanyeol yang sedari tadi menguping *jangan tiru ya,chingu* tersenyum bahagia. Tapi, kalau dia pikir,kenapa dia bahagia? bukannya dia benci Baekhyun? apa, Chanyeol sudah memilikki rasa...,errr...
Yap!
T to the B to the C
DELETE ATAU LANJUT?
