OhBabyLu proudly present...

GENDERSWITCH | AU | OOC | TYPO(S) | DON'T LIKE DON'T READ | NO PLAGIAT

Romance, Drama, Friendship, Family, Hurt, Humor

Rate: M

Summary: Perjalanan Oh Sehun dalam mencari gadis sempurna impiannya.

Warning: All cast here isn't mine, but this story is absolutely mine!

Note: FF ini udah saya up sampai beberapa chap di Wattpad. Yang follow akun Wattpad saya pasti udah pada tahu kan? Akun wattpad gw namanya sama kayak akun ffn gw :)

ENJOY THIS STORY!

KOLERIS - SANGUIN

.

.

Di salah satu ruangan yang bercat serba putih khas rumah sakit itu, sang dokter cantik baru saja melepas sarung tangan karet, masker, dan baju operasinya. Operasi besar yang benar-benar panjang, membuatnya langsung terduduk lemah karena nyaris kehilangan pasiennya.

Saat ia sedang melangkahkan kakinya ke arah kantin untuk mengisi perutnya yang lapar, ia mendengar suara salah satu perawat di sini berteriak memanggilnya.

"Dokter Xi..!" panggilnya sambil ngos-ngosan, sepertinya dia berlari untuk mencari Luhan.

"Ada apa yeri-ah?"

"Ada telpon untukmu.." jawabnya dan langsung menarik tangan Luhan untuk segera mengangkat telpon dari seseorang yang sudah memarahinya tadi.

"Yeoboseyo.. Rumah sa-,

"Dokter Xi..?" Ucap orang di seberang sana langsung memotong salamnya, sepertinya orang itu terdengar sedang marah.

"Ne.., Saya dokter Xi", Jawabnya dengan begitu tenang, meskipun ia sedang kelelahan dan kelaparan.

"Dari mana saja? Saya sudah menelpon anda sejak sepuluh menit yang lalu" Marahnya pada Luhan yang mengernyit bingung tidak mengerti.

"Maaf Tuan., Bisa saya tahu saya sedang berbicara dengan siapa?"

"Sehun.., Oh Sehun"

Luhan sedikit familiar dengan nama itu, tapi dia tidak ingat itu siapa "Maaf Tuan Oh, ada yang bisa kami bantu?" Balasnya tidak perduli dengan siapa ia sedang berbicara.

"Kau dari mana saja hah? Kau membuatku melewatkan makan siangku kau tahu" Makinya sudah membuang bahasa formalnya. Dia paling tidak suka di buat menunggu seperti ini.

Mendengar bentakan dari entah siapa itu, Luhan hanya bisa mengelus dadanya dan menarik nafasnya untuk membuang jauh semua emosinya yang hampir terpancing "Tuan, maafkan saya, saya baru selesai menyelesaikan operasi salah satu pasien saya. Jadi.. Apa ada yang bisa saya bantu?"

"Datang ke kantor ku sekarang, ada yang harus ku konsultasikan dengan mu" Jawabnya begitu terdengar menyebalkan di telinga Luhan. Ayolah dia belum makan siang, perutnya benar-benar lapar. Apa lagi hari ini ia harus berada di rumah sakit sampai malam karena Baekhyun yang masih berada di Busan.

"Baik Tuan.., Kirimkan alamatnya!"

"Hm.."

Pip..

'Sialan..., siapa sih dia? Menyebalkan sekali' gerutunya dalam hati sambil mencuci tangannya di mini washtafel yang bertengger manis di banyak tempat di klinik mereka.

Setelah itu ia beranjak ke ruangannya hanya untuk merapikan penampilan dan mengganti sendalnya menjadi stiletto andalannya.

Seberapa lelahnya Luhan, dia adalah tipe wanita yang selalu perduli dengan penampilan dan kecantikannya. Tidak heran jika ia selalu tampil mempesona di manapun ia berada, bahkan saat tangannya sedang mengaduk-ngaduk isi perut pasiennya, dia tetap harus tampil cantik meskipun akhirnya harus tertutupi oleh masker dan baju biru operasinya.

Setelah itu ia mengecek isi pesan di telpon klinik mereka, dan benar saja. Si Tuan brengsek tadi sudah mengiriminya alamat yang ternyata tidak terlalu jauh namun tidak dekat juga. Setidaknya ia harus menghabiskan waktu dua puluh menitnya dengan percuma untuk menyetir sendiri ke sana.

Luhan mengambil tasnya dan sedikit menghela nafas lagi untuk menenangkan dan mengendalikan cacing-cacing di perutnya yang meraung minta di isi.

'Sabar sayang..' monolognya sambil mengelus perutnya ala wanita hamil.

Setelah itu ia bergegas pergi dan menunggangi Bugatti veyronnya dengan kecepatan sedang, dia tidak mau terburu-buru untuk menemui seseorang yang ia tebak akan memarahinya.

'Siapa dia? Apa dia salah satu pasiennya? Atau dia adalah orang tua berkepala botak dengan perut buncit dan memiliki bau khas cerutu?'

Setelah dua puluh menit ia mengemudikan mobilnya, akhirnya dia tiba juga di alamat yang sudah ia catat tadi.

Mata cantiknya melirik lagi ke arah phonselnya, memastikan jika dia tidak salah alamat. Dan dia menarik nafas lega saat mengetahui jika ia tidak salah alamat. Namun dia sedikit heran saat melihat gedung menjulang yang berdesign begitu elegan dan berkelas di depannya. Dari luar saja sudah terlihat dengan jelas jika gedung ini adalah milik perusahaan besar yang begitu berpengaruh di Korea Selatan. Membuatnya kembali bertanya apa ia sedang salah alamat atau tidak.

'Untuk apa aku kemari?' monolognya lagi sambil melangkahkan kakinya untuk memasuki bangunan mewah itu.

Dia berjalan begitu anggun dengan senyum kecil yang tidak pernah lepas dari wajah cantiknya.

Luhan begitu percaya diri dengan penampilannya yang ia yakini jika ia sudah tampil secantik mungkin. Dress hitam tanpa lengannya yang panjangnya hanya sebatas pangkal paha ia lapisi dengan coat berwarna senada, dan dia padukan dengan stiletto beserta tas gucci kembarannya dengan Baekhyun dan Kyungsoo. Rambut panjang coklat keemasannya ia gelung begitu sederhana namun terlihat begitu cantik dengan anak-anak rambut yang masih menjuntai menghiasi wajah cantiknya.

Beberapa karyawan yang menyadari kehadirannya mengernyit heran, pasalnya wajah Luhan begitu asing di mata mereka.

Mereka memang sering melihat wanita cantik atau pun pria tampan yang berstatus sebagai teman bos mereka datang kemari, tapi baru kali ini mereka melihat wajah cantik Luhan yang sedang berjalan dan tersenyum ramah di depan meja resepsionis. Ketukan stilettonya mengundang perhatian semua orang untuk menoleh ke arahnya.

"Ada yang bisa kami bantu nona?" Tanya sang resepsionis cantik yang menyapanya dengan begitu ramah. Sepertinya para karyawan di sini di tuntut untuk memiliki atitude yang baik oleh bos mereka. Meskipun ia sangsi jika bos di sini akan memiliki attitude yang baik juga.

"Bisakah saya bertemu dengan Tuan Oh Sehun?" Tanyanya pelan, suaranya begitu ringan seringan angin sore yang menyejukkan, namun terdengar baik oleh telinga-telinga penasaran di sana. Lobi perusahaan yang lengang membuat suara halus itu mengalun dengan merdu di pendengaran mereka.

Sang resepsionis sedikit mengernyit bingung 'Siapa wanita cantik ini? Apa dia adalah kekasih atau teman presdir Oh?' Tanyanya pada dirinya sendiri "Em.. Maaf nona apa anda sudah membuat janji dengan Tuan Oh?"

Luhan sedikit mengernyit saat mendapati pertanyaan itu, jika ia harus membuat janji dulu itu artinya pria yang bernama Oh Sehun itu adalah orang penting di sini. Entah apa itu jabatannya dan posisinya Luhan tidak begitu perduli. Yang ia yakini jika pria bernama Oh Sehun itu pastilah pria dewasa, dan otak cantiknya mulai menebak jika praduganya saat di klinik tadi itu benar, tentang orang tua botak yang berperut buncit dan berbau cerutu.

Hahh..

Luhan menarik nafasnya, agak sebal jika harus melewatkan makan siangnya hanya demi pria tua pemarah seperti itu.

"Katakan saja padanya jika Dokter Xi sudah datang" Ujar Luhan pada resepsionis itu yang sedari tadi menunggu jawabannya.

Tanpa pikir panjang ia mengangguk dan menghubungi sang presdir yang langsung menyuruhnya untuk mengantarkan sang tamu ke ruangannya.

"Baiklah Nona ayo ikut saya, Tuan Oh sudah menunggu" Ujarnya dan mulai melangkah memasuki lift untuk mengangkut mereka ke lantai teratas gedung ini.

"Silahkan Nona.., Di sini" Ujarnya lagi saat mereka sudah tiba di depan ruangan sang presdir.

Tok.. Tok.. Tok..

"Masuk... !" sahut suara perempuan di dalam sana.

Cklek..

"Tuan, Dokter Xi ingin menemui anda"

"Suruh dia masuk..!" Ujar Sehun pada resepsionis cantiknya yang langsung pergi setelah ia menyuruh Luhan masuk.

Dan mata Luhan membola kaget saat mendapati bukan pria tua berperut buncit dan berbau cerutu yang ia temui. Melainkan pria muda yang begitu tampan dan mempesona yang berbau maskulin lah yang sedang menatapnya tajam dari kursi kebesarannya.

'Ah.. Jadi pria sombong ini yang bernama oh Sehun. Pantas saja begitu pemarah, ternyata pasien menyebalkan itu orangnya' Luhan menggerutu sebal dalam hati, tidak sadar jika dahi berkerut dan bibir mengerucutnya menarik perhatian sehun dan satu gadis cantik di sana.

"Duduklah dokter Xi..!"

Sehun bangkit dari kursi kebesarannya dan membawa Luhan untuk duduk di salah satu sofa hitam yang ada di ruangannya.

"Kau bisa keluar sekretaris Park..!" usirnya pada sang sekretaris yang memiliki dada dan bokong seksi incaran Kai.

"Ne.. Sajangnim.." jawabnya dan mulai melangkah keluar setelah melirik tamu sang presdir yang begitu cantik jelita.

Sehun duduk di seberang Luhan. Wanita itu duduk dengan sangat anggun, kaki mulusnya ia silangkan dan membuat dress pendeknya semakin tersingkap, kedua tangannya ia tumpuhkan di atas pahanya dan matanya menatap Sehun dengan lembut, tidak merasa terintimidasi sedikitpun dengan tatapan tajam yang di layangkan pria itu padanya. Sejujurnya dia sudah terbiasa di perlakukan seperti ini. Seseorang dari masa kelamnya memiliki mata yang jauh lebih tajam dan lebih mengerikan dari pada mata Sehun saat ini.

"Ada apa Tuan?" Lagi-lagi ia yang memulai pembicaraan karena tidak suka dengan kesunyian dan ketegangan yang membuatnya merinding.

Sehun yang sudah duduk di hadapan si gadis cantik lagi-lagi di buat terpesona pada penampilan dan paras cantik wanita ini. Cantik, sangat cantik. Apa lagi saat bibir mungil berlapis lip tin berwarna nute itu sedang mengerucut sebal, membuat Sehun ingin mengecupnya untuk mengembalikan warna merah naturalnya.

Sehun menggelengkan kepalanya, merutuki otak cerdasnya yang mulai tertular kelakuan cabul milik sahabatnya; Kim Jongin.

Sehun menyilangkan kaki panjangnya dan menatap mengintimidasi sang dokter cantik. Merubah dan membuang raut wajahnya yang nyaris terpesona oleh wanita cantik ini menjadi wajah angkuh miliknya.

"Anda tahu di mana letak kesalahan anda Dokter Xi?" Tanyanya sedikit berbasa-basi, lagi-lagi keluar dari karakternya.

Luhan mendelik, tidak terima dan tidak tahu di mana letak kesalahannya.

Sedangkan Sehun yang menerima delikan tajam namun cantik itu semakin mendatarkan wajahnya 'Apa wanita ini tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa? Bagaimana bisa dia begitu tenang dan santai seperti tidak terjadi apa-apa?'

"Ada apa Tuan Oh? Bisa langsung saja, saya lapar" Ujarnya begitu polos dan jujur, di ikuti dengan rengutan kecil di wajah cantiknya.

"Kau pikir aku tidak lapar? Aku juga melewatkan makan siang ku karena kau dokter Xi" Lagi-lagi ia membuang bahasa formalnya. Tidak begitu suka saat wanita cantik ini memanggilnya dengan sebutan Tuan Oh, karena itu sama saja dengan panggilan untuk ayahnya yang sudah tua. Dan sehun merasa tua saat sang dokter cantik ini memanggilnya seperti itu.

Luhan merengut saat lagi-lagi ia yang di salahkan. Sebenarnya apa sih salahnya? Kenapa pria ini terlihat begitu murka padanya.

"Baiklah.. Maafkan saya Tuan" Ia mengalah. Karena hanya itu cara yang paling tepat untuk menyelesaikan segalanya dengan cepat. Meskipun ia harus bersusuh payah menggulung emosinya menjadi gulungan kue dan menelan 'kue'nya bulat-bulat di dalam perutnya yang lapar.

"Jadi.., Tuan..?" tanyanya lagi, sedikit terpesona dengan wajah tampan yang di miliki Sehun, dan Luhan penasaran setengah mati bagaimana jika bibir kaku itu tersenyum, pasti akan membuat wajah datar itu semakin tampan kan?

"Begini, beberapa hari ini aku tidak bisa makan dengan tenang karena tidak tahu makanan dan minuman apa saja yang boleh dan tidak boleh ku konsumsi" jelasnya pada Luhan yang hanya mengangguk mengerti.

Jadi pria angkuh ini marah-marah padanya dan perawatnya hanya untuk hal sepele seperti ini? Astaga.. Kenapa tidak browsing saja atau konsultasi dengan Dokter pribadinya..?

"Tck.. " Tanpa sadar Luhan berdecak sebal yang membuat sehun terbelalak tak percaya.

Astaga wanita ini benar-benar..

"Hanya itu Tuan?" Tanyanya lagi dengan begitu santai.

"Tidak hanya itu, kau sudah berjanji untuk merawatku dan memastikan kesehatanku, tapi apa yang kau lakukan? Kau bahkan mengabaikan telponku" Marahnya pada Luhan yang tidak bertanggung jawab; menurutnya.

Luhan membersit hidungnya yang tiba-tiba berasa gatal "Baiklah.. Maafkan saya Tuan Oh. Saya berjanji akan merawat anda lebih baik lagi" ujarnya masih dengan nada halusnya meskipun di dalam hati ia sudah menyumpah serapahi pria arogan ini.

Mendengar itu Sehun mengangguk senang. Karena walaupun Tuhan sudah memberikannya otak seencer es di musim panas tapi tetap saja dia butuh konsultasi, dia masih butuh seseorang untuk membicarakan tentang kesehatannya. Karena saat di sekolah dulu gurunya tidak pernah mengajarinya tentang usus buntu dan penyakit mengerikan lainnya. Seingat Sehun, guru-gurunya hanya mengajarinya bagaimana cara mengelola saham dan bagaimana caranya melipatgandakan dollar ataupun mata uang lainnya. Tidak sekalipun gurunya menyebutkan kata usus buntu di dalam pelajaran mereka.

"Tuan.. Apa ada lagi yang perlu di bicarakan?" Tanyanya lagi, karena jujur saja perutnya benar-benar sudah lapar, dan dia khawatir jika perutnya akan mengeluarkan suara memalukan di depan pria tampan ini. Mau di buang di mana wajah cantiknya jika itu sampai terjadi?

Sehun bangkit dari duduknya dan menuju ke arah mejanya untuk mengambil phonsel, jas, dan kunci mobilnya "Ikut aku..!" perintahnya setelah ia rasa ia sudah membawa semua barang-barang pentingnya.

Dan saat ia sudah memegang gagang silver pintunya, telinganya mendengar gerutuan dari wanita cantik di sana "Mau kemana? Boleh saya pulang Tuan?" Ujarnya lagi dengan nada yang ia buat sememelas mungkin.

Sehun menggeleng "Ikut aku, bukankah kau bilang jika kau akan bertanggung jawab untuk merawatku?" Ujarnya lagi yang membuat Luhan mendengus sebal. Terpaksa ia berdiri dan mengikuti si pria arogan sambil mengelus perutnya yang lapar.

Keduanya berjalan dalam diam, Sehun dengan wajah datarnya dan Luhan dengan bibir mencebik imut.

Dan sudah bisa di tebak saat mereka berada di lobi keduanya menjadi pusat perhatian. Oh Sehun, bos besar mereka yang di kenal workaholic dan tidak pernah meninggalkan ruangannya di jam kerja seperti ini tiba-tiba berada di lobi dengan membawa wanita luar biasa cantik di belakangnya.

Siapa gerangan wanita yang sudah berhasil menyeret keluar bos besar mereka dari kursi kebesarannya? Bahkan Chanyeol dan Kai yang mereka ketahui adalah teman baik dari bos mereka pun jarang sekali berhasil membuat bos besar mereka meninggalkan pekerjaannya.

Saat mereka sudah tiba di parkiran khusus presdir, Sehun langsung mengusir sopirnya yang sama pengkhianatnya dengan para bodyguardnya.

"Jangan ikuti aku..!" ujarnya ketus kepada supir sekaligus pria-pria berbadan kekar yang selalu setia mengintilinya atas perintah sang nyonya besar.

"Tapi Tuan.." Dan delikan tajam dari sang majikan lah yang sang supir dan bodyguardnya dapatkan.

"Masuklah Dokter Xi..!" perintahnya pada Luhan sambil membukakan pintu sebelah kanan di samping kemudi. Yang mana perlakuan itu membuat semua orang membelalak kaget.

Heol.. apa ini Oh Sehun? Oh Sehun yang kaos kakinya pun masih di siapkan para maid sekarang membukakan pintu mobil untuk seorang gadis? Bahkan ia sendiri yang akan membawa mobilnya, yang mana menyetir adalah salah satu hal yang bos mereka tidak sukai.

Melihat itu salah satu pengkhianat yang ada di sana mulai mengetikkan pesan untuk sang nyonya besar. Mengatakan jika putra kesayangannya baru saja membawa wanita cantik ke dalam mobil yang hanya ia dan supirnya saja yang boleh menaikinya. Dan ia sedikit terkekeh saat sang nyonya besar menyuruhnya untuk menyalakan GPS yang di pasang di mobil Sehun.

'Apa nyonya besar mereka akan menguntit acara kencan putranya?' Ia membatin gemas melihat kelakuan wanita yang sudah berumur empat puluh lima lebih itu namun sikapnya benar-benar masih kekanakan.

Luhan menurut saja saat Sehun menyuruhnya masuk ke dalam Mclaren hitam putihnya. Duduk dengan begitu cantik dan tidak mau bertanya karena sedikit ngeri melihat wajah datar pria yang sedang melajukan mobilnya itu entah mau kemana.

Setelah lima belas menit melewati perjalanan dengan di temani sunyi, Luhan melihat mobil mereka berhenti di depan sebuah restoran perancis yang Luhan tahu jika harga makanan di sini setara dengan uang jajannya selama satu bulan. Luhan dan Baekhyun pernah makan di sini karena penasaran dengan rasa makanannya, namun setelah itu mereka jera dan gigit jari karena baru saja kehilangan setengah gaji bulanan mereka hanya dalam kurun waktu tidak lebih dari satu jam.

Luhan menoleh ke arah Sehun yang sudah melepas seatbeltnya "Tuan, kenapa kita ke restoran?" Tanyanya bingung, berharap akan mendapatkan jawaban yang sedikit menyenangkan. Dan harapan Luhan langsung sehun patahkan begitu saja saat pria itu hanya mengatakan "ikut saja.. " dan langsung keluar dari mobil meninggalkannya seorang diri.

Melihat itu Luhan sebal, ingin sekali ia menendang bokong seksi yang tercetak sempurna itu dengan ujung stilettonya.

Karena tidak mau tertinggal lebih jauh, Luhan buru-buru keluar dari mobil dan menyusul Sehun yang sudah masuk ke dalam restoran yang berinterior mewah ini. Semuanya benar-benar terlihat mewah.

"Duduklah dokter Xi..!" ujar Sehun setelah ia mendudukkan dirinya di seberang Luhan. Tanpa perlu repot-repot untuk bertindak seperti seorang gentlemen dengan cara menarikkan kursi untuk si wanita cantik. Luhan bukan siapa-siapanya oke!

"Tuan, kenapa kita berada di sini?" Tanyanya lagi karena tidak mau terlihat bodoh dan tidak mengetahui apa-apa.

"Kau bilang bahwa kau lapar dokter Xi, aku juga lapar" Jawabnya ketus, namun hal itu membuat Luhan tersenyum cantik. Kenapa tidak bilang dari tadi sih? Kan kalau begitu ia tidak perlu repot-repot menyumpahinya di dalam hati karena sudah membuatnya kelaparan.

"Pilihkan menu untukku, makanan apa saja yang aman untuk ku makan!" perintahnya pada Luhan sambil menyodorkan buku menu yang begitu tebal.

Luhan membuka buku menu itu dan memilih makanan apa saja yang baik dan aman untuk pria ketus ini. Jari-jari lentiknya membuka lembar demi lembar dengan dahi berkerut imut, sesekali mulutnya bergumam "Ania.. Ania.. Ini tidak baik untuk sehun" sambil membaca menu-menu perancis itu, dan kepalanya menggeleng ribut saat ada beberapa menu yang tidak baik menurutnya, yang mana hal itu membuat Sehun gemas dan sedikit bergetar saat wanita cantik itu menyebut namanya saja, tanpa ada embel-embel Tuan ataupun ssi di belakangnya.

"Ah.. Tuan makan ini saja.." Ujarnya begitu senang saat sudah menemukan menu yang aman untuk Sehun.

Sehun mengambil menu itu dan membacanya "Yakin ini aman untukku?"

Luhan mengangguk senang "Em.. Yakin Tuan, Tidak ada kacang-kacangan di Beef lasagna roasted nya, dan tidak ada daging berlemak di salmon creamy nya. Semuanya aman Tuan" Jelasnya lagi yang membuat Sehun mengangguk saja dan mulai memanggil pelayan untuk menuntaskan perut mereka yang menjerit minta di isi.

"Tunggu dulu, kau tidak memesan makanan untukmu dokter Xi..?" Tanyanya setelah ia menyadari jika hanya pesanannya saja yang di catat oleh pelayan berseragam hitam putih yang berdiri di sisi mereka.

Luhan menggeleng lemah, membungkuk dan berbisik tepat di telinga Sehun "Harga satu porsi di sini setara dengan setengah gaji bulanan ku Tuan" Bisiknya pada Sehun yang mengundang senyuman di wajah tampan pria itu. Untung Luhan tidak melihat, jika tidak maka perutnya yang kosong akan langsung kenyang karena ia sudah benar-benar penasaran dengan senyuman milik pria ini.

"Tenang saja.., aku yang bayar" Ujarnya begitu sombong, namun Luhan tidak ambil pusing, justru matanya berbinar cantik. Kapan lagi ada orang yang berbaik hati mentarktirnya makanan lezat yang berharga fantastis dengan suka rela? Luhan tidak mau melewatkan kesempatan ini.

"Baiklah.. Samakan saja pesanan kami" Ujarnya begitu ceria pada sang pelayan.

"Kenapa tidak memesan menu lain?"

"Saya tidak mau membuat liur anda menetes saat anda melihat saya makan makanan lezat di depan anda Tuan" Jawabnya begitu polos sehingga membuat sehun mendecak sebal.

"Kenapa tidak ada wine atau minuman bergas lainnya Dokter Xi.. ?" Tanya Sehun lagi, tidak begitu terima saat wanita cantik ini hanya memesan jus sayur untuk mereka.

"Anda tidak boleh meminum alkohol dan saudara-saudaranya Tuan, anda baru boleh meminumnya setelah usus anda kembali normal lagi" Jelasnya yang membuat Sehun ingat jika setelah kepulangannya dari Itali nanti, dia harus siap saat perutnya di belah oleh dokter cantik ini.

"Baiklah.. Aku menurut saja" Ujarnya pasrah, demi kesehatannya tidak apa-apa menuruti apa saran dari dokter cantik ini; pikirnya.

Tidak lama setelah itu para pelayan datang, yang membuat Luhan langsung saja menyantap rakus makananannya, demi Tuhan dia benar-benar kelaparan.

Sehun sedikit tersenyum melihat cara Luhan makan yang begitu kekanakan, namun tidak meninggalkan kesan cantik dan mempesona di dalamnya. Meskipun ia makan dengan rakus tapi wanita itu tetap mengunyah tanpa suara dan memotong ikannya dengan gerakan begitu halus. Membuat sehun menyadari jika apa pun yang di lakukan wanita ini akan terlihat mempesona di mata setiap orang yang melihatnya.

"Tuan..!?" Luhan menghentikan kunyahannya saat mendapati mata tajam itu lagi-lagi menghipnotisnya "Tuan, anda tidak makan?" tanyanya lagi pada Sehun yang masih setia memandanginya.

"Ne.. Aku makan" balasnya kemudian karena tidak ingin terpesona lebih jauh pada wanita cantik ini. Wanita ini benar-benar berbahaya untuk Sehun.

Dan setelah Sehun sudah menghabiskan setengah makanannya, ia merasa ada yang mengawasi mereka sejak tadi, bahkan ia bisa mencium bau parfume rosemary yang ia hafal betul milik siapa itu.

Sehun mememandangi ke sekeliling restoran, mencari tahu siapa yang sudah menguntitnya. Apa pengawal-pengawalnya itu mengikutinya? Atau jangan-jangan ibunya yang mengikutinya lagi seperti beberapa bulan lalu saat Sehun sedang makan malam bersama salah satu klien perempuannya.

Sehun sudah memutar kepalanya nyaris tiga ratus enam puluh derajat, tapi nihil. Tidak ada siapapun yang mencurigakan di sini.

Karena tidak mau ambil pusing, ia melanjutkan makan siangnya, membuat si penguntit cantik yang sedang duduk tepat di belakangnya menarik nafas lega.

'Yeobo.. Kau harus melihat betapa cantiknya teman kencan putraku' dia membatin gemas dalam hati dan memotret candid wanita yang sedang tertawa begitu cantik bersama putra tampan kesayangannya.

"Sudah selesai..?" Tanya Sehun saat mata beningnya melihat Luhan yang sedang mengelus perutnya karena kenyang.

Mendengar pertanyaan itu Luhan mengangguk imut "Em.. Sudah Tuan" Jawabnya dengan senyuman cantik yang tidak pernah lepas dari wajahnya.

'Apa bibirnya tidak keram karena terus tersenyum?' Batinnya khawatir jika bibir wanita cantik ini akan mengalami keram.

"Tuan, bisakah saya pulang? Saya khawatir jika saya akan memesan makanan lagi jika saya tetap berada di sini" Ujarnya begitu polos.. Astagaa.. Xi Luhan tidak hanya cantik, tapi luar biasa polos di mata Sehun.

"Baiklah.. Ayo!" Ujar Sehun mulai berjalan mendahului Luhan yang mengikutinya di belakangnya.

Hari sudah cukup sore, Sehun ragu harus kembali ke kantor atau pulang ke rumah saja. Namun, suara ketukan stiletto di belakangnya membuat ia sadar jika ia harus mengantar wanita cantik ini dulu.

"Masuklah.. Biar ku antar pulang" ujarnya lagi-lagi membukakan pintu untuk si dokter cantik.

Jika saja salah satu dari cecenguk itu melihat Sehun seperti ini, apa lagi sampai mengajak wanita ini makan siang, maka sudah di pastikan jika ia akan menjadi bahan ledekan dari kedua makhluk menyebalkan itu yang sialnya adalah sahabatnya.

"Tidak perlu Tuan, antar saya kembali ke kantor anda saja. Saya membawa mobil" tolaknya halus.

"Biar orangku yang akan membawa mobilmu. Mau ku antar kemana?" Tanyanya dan mulai melajukan mobilnya saat ia melihat wanita cantik itu sudah duduk tenang di sampingnya.

"Emm.. Antar ke rumah saja.." jawabnya sedikit bingung, ingin kembali ke klinik namun ia enggan karena tidak ada Baekhyun. Lagi pula ia harus membantu Kyungsoo untuk mengurus si kembar.

"Rumah? Di mana rumahmu?" Tanya Sehun lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari arah jalanan. Dia harus fokus, dia sedang membawa anak gadis orang yang harus ia pastikan keselamatannya.

"Tempat yang anda tiduri dua hari yang lalu itu rumah saya dan kedua teman saya" Jawabnya yang membuat Sehun sedikit menoleh ke arahnya.

"Kau dan teman burung hantumu itu tinggal bersama?"

"Em.. Kami sudah seperti keluarga" jawabnya begitu ringan tanpa beban. Tidak perduli jika ia sedang berbagi cerita dengan orang asing yang baru beberapa hari ia ketahui namanya.

Sehun hanya mengangguk mengerti. Sedikit bertanya kenapa tidak tinggal dengan orang tuanya atau membeli apartmen saja. Karena sehun yakin jika gaji dokter sekelas Xi Luhan pasti cukup untuk membeli satu unit apartemen kelas satu sekalipun.

Apa lagi jika di lihat dari gaya berpakaian wanita ini. Dari mulai dress, coat, stiletto, tas, jam tangan, dan aksesoris yang melekat di tubuh nya Sehun yakin jika itu semua adalah barang bermerk. Meskipun dia tidak begitu tahu tentang merk-merk ternama untuk benda-benda itu, tapi sehun sering melihat ibunya memakai aksesoris serupa dengan yang Luhan pakai.

Tapi sehun tidak menanyakan keganjilan tersebut, dia tidak seramah dan seperduli itu untuk tahu urusan orang lain. Apa lagi orang asing seperti Xi Luhan.

Tak lama setelah itu mereka sampai di depan cafe Kyungsoo. Dan sebelum Luhan turun dari mobilnya sehun mencegat tangan halus wanita itu "Ada apa Tuan? " Tanyanya saat ia merasakan cekalan di tangan kirinya.

"Dokter Xi, bisakah kau memberikan nomor pribadimu saja? Jujur saja aku kesulitan setiap kali ingin menghubungi mu"

Benar, ia memang sungkan menghubungi nomor rumah sakit Luhan, karena bukannya Luhan langsung yang mengangkat, melainkan harus melalui proses yang panjang. Sehun mana suka di buat ribet dan menunggu hal tidak penting seperti itu.

Luhan terdiam sejenak, berfikir. Haruskah ia memberikan nomor phonselnya? Tapi benar juga apa kata pria itu jika akan sedikit sulit menghubungi dirinya jika melalui nomor Klinik. Bagaimana jika pria itu sedang sekarat dan Luhan sedang tidak di klinik?

"Dokter Xi..?"

"Kemarikan ponsel anda Tuan!" balasnya sambil menengadahkan telapak tangannya tepat di depan wajah sehun. Sehingga membuat pria itu langsung menepis tangan cantik itu dan menyelipkan phonselnya di sana.

"Selesai..!" Luhan mengembalikan phonsel Sehun "Apa ada lagi Tuan? Apa perut anda sakit? " tanyanya lagi yang di balas gelengan oleh Sehun.

"Baiklah..terima kasih sudah mengantar saya dan terima kasih juga untuk makan siangnya Tuan" Ujarnya begitu tulus. Setelah itu ia langsung keluar dari mobil Sehun dan masuk ke dalam cafe Kyungsoo yang selalu ramai.

"Kyungiii... Aku pulang" Teriaknya begitu ceria, tidak perduli dengan orang-orang yang menatapnya.

Kyungsoo keluar dari dapur dengan membawa beberapa kaleng cookies di kedua tangannya. Bau tubuh kyungsoo benar-benar membuat Luhan iri. Tubuh sahabatnya itu selalu mengeluarkan aroma kue-kue lezat dan bumbu rempah-rempah lainnya yang membuat ia dan Baekhyun begitu suka menjadikan Kyungsoo sebagai bantal guling mereka.

"Tumben sudah pulang sayang?" Tanyanya sambil menyusun kue-kue cantik dan beraroma lezat itu di dalam salah satu etalase kaca yang berukiran rumit dan cantik.

"LUHAN..!" Luhan sudah tahu siapa pemilik teriakan ini. Apa lagi saat ia merasakan pelukan erat di belakangnya.

"Sudah pulang baek? Kapan kau pulang hm? Tidak mengabariku?" Tanyanya dan membalikkan badannya menghadap baekhyun yang sedang menggendong Dennis, sedangkan jasper bergelayut manja di kakinya.

"Tadi aku ke klinik, tapi kau tidak ada. Taehyung bilang jika kau menemui pria yang sedang marah-marah melalui telepon kita"

Baekhyun tadi memang mampir ke klinik dulu untuk menyimpan beberapa alat kesehatan yang ia bawa ke Busan. Dan kembali lagi ke rumah saat tidak menemukan Luhan di sana.

"Pria marah-marah? Siapa itu Luhan?" Tanya Kyungsoo cemas setelah ia menyusun kue-kue manisnya.

Mendengar nada khawatir dari kedua wanita yang paling di sayanginya di dunia ini membuatnya tersenyum lembut, dan membawa Jasper ke dalam gendongannya setelah memberikan banyak kecupan di wajahnya dan kembarannya.

"Sepertinya kita perlu bicara.. Ayo kita ke atas!" ujarnya begitu senang dan mulai menaiki tangga di ikuti Baekhyun dan kyungsoo di belakangnya.

"Lu.. Apa yang terjadi?" Luhan baru saja mendudukkan pantatnya di sofa mereka dengan Jasper yang berada di pangkuannya saat Kyungsoo bertanya dengan nada tidak sabaran.

"Kau baik-baik saja? Apa pria itu memarahimu?" Tanyanya lagi.

"Aku baik kyungie, Baekie.."

"Lalu?" Ujar Baekhyun dan Kyungsoo berbarengan.

"Pria itu adalah Oh Sehun kyung"

"Oh sehun? Pria usus buntu yang kalian ceritakan tempo hari?" Tanya Baekhyun. Nadanya mulai meninggi, sangat terlihat jika ia tidak suka saat mendengar pria kaya congkak seperti itu memarahi sahabatnya.

Luhan tersenyum, membawa tangan Kyungsoo dan baekhyun ke dalam genggamannya.

"Oke tenang!" ujarnya saat ia sudah melihat asap imajiner di atas kepala sahabatnya "Ini tidak seperti apa yang kalian pikirkan. Dia memintaku menemuinya hanya untuk konsultasi tentang makanan dan minuman apa saja yang bisa dan tidak bisa ia makan. Dan setelah itu kami pergi makan siang bersama dan dia mengantarku pulang. Sudah.. Itu saja. Tidak ada apapun yang terjadi" jelasnya pada kedua sahabatnya yang mengangguk mengerti dan menarik nafas lega.

"Dan Baek apa kau tahu?" kali ini Luhan berbinar bahagia, bahkan matanya membulat begitu menggemaskan.

"Apa..?"

"Dia mengajakku makan siang di restoran yang pernah menghabiskan setengah gaji kita baek" Ujarnya begitu senang.

"Benarkah..?"

"Eoh..." Luhan mengangguk senang "Waah.. jika saja aku tidak ingat sedang berhadapan dengan siapa maka sudah di pastikan aku akan memesan banyak makanan dan minuman mahal di sana" Ujarnya lagi yang mengundang kekehan dari kedua gadis cantik di sana.

"Memangnya dia siapa lu?" tanya Kyungsoo begitu polos.

Luhan mengangkat kedua bahunya "Entahlah.. Seperti yang terlihat, dia pasti pria kaya raya kan? Aku tidak begitu tahu dan peduli Kyung" jawabnya apa adanya, karena memang benar jika ia tidak mengetahui siapa itu Oh Sehun yang sebenarnya.

"Aigoo.. Uri Lulu menang jackpot. Makan dengan seorang pria tampan nan menggoda di restoran yang begitu mewah.. Omooo aku iri" Goda Baekhyun pada Luhan yang sudah bersemu seperti gadis yang sedang kasmaran.

"Baek.., Jangan menggodaku! Pria seperti itu tidak selevel dengan kita"

"Em kau benar, mereka terlalu berbahaya untuk kita Lu"

"Ya.. Mereka bahaya" lirih ketiganya serempak.

"Oiya Lu.., tadi 'dia' kemari dan memintamu malam ini untuk menemuinya 'di sana'. Katanya itu penting" Ujar Kyungsoo setelah ia ingat tadi siang ada seseorang yang mencari Luhan. Seseorang yang begitu Luhan hindari keberadaannya.

Luhan yang sedang tersenyum senang karena mengggoda jasper dan Dennis menjadi tertunduk sedih. Kenapa hidupnya tidak pernah tenang? Kenapa selalu ada saja yang mengganggu ketenangannya?

Luhan menghembuskan nafasnya lelah seraya berucap lirih "Baiklah..., Aku akan ke sana"

.

.

.

Setelah Sehun mengantar Luhan tadi, pria itu langsung pulang dan menemukan ibunya yang sedang duduk di sofa di dalam kamarnya dan tersenyum begitu cantik. Wajahnya berbinar bahagia. Matanya melengkung sempurna membentuk lengkungan bulan sabit sama seperti miliknya.

"Sehunie sudah pulang?" tanyanya begitu bahagia dan langsung membawa anak tampannya ke dalam pelukannya.

"Ada apa eomma? Wajah cantik ini terlihat berseri-seri" Kata Sehun sambil memberikan usapan sayang di pipi bersemu ibunya.

Jaejoong tersenyum lagi "Ne.. Eomma sedang bahagia" Jawabnya sambil membalas usapan Sehun.

"Ada apa hm? Apa appa memberikan peket liburan keliling Eropa lagi pada eomma?" tebaknya asal, karena setahunya hanya itulah yang bisa membuat eommanya tersenyum bahagia seperti ini, eommanya benar-benar seorang travelers sejati.

Jaejoong membaringkan Sehun di pangkuannya, menyisir rambut hitam legam itu dengan jari-jari berbalut kasih sayangnya "Anio.. Bukan itu"

"Lalu..?" Sehun memejamkan matanya, menikmati jari-jari lentik eommanya yang sedang memberantakan rambutnya.

"Rahasiaaaaa..." Jawabnya kekanakan, membuat sehun mendengus. Ibunya ini sudah tua tapi kadang-kadang kelakuannya mengalahkan gadis remaja yang begitu manja dan kekanakan.

Tapi hal itulah yang Sehun syukuri, hal itulah yang ia sukai dari eommanya yang luar biasa cantik. Eommanya, satu-satunya wanita yang ia cintai di dunia ini. Satu-satunya wanita yang membuat ayahnya yang luar biasa keras menjadi jinak saat bersama eommanya. Wanita yang standar kecantikannya ia jadikan panutan untuk kekasihnya nanti. Kekasihnya harus lebih cantik dan lebih menggemaskan dari eommanya. Jika tidak jangan harap Sehun akan menyukainya.

"Sehunie sebenartar lagi kau akan ke Itali. Apa boleh eomma ikut?" tanyanya yang membuat sehun langsung terduduk kaget.

"Eomma...!" rengeknya manja "Aku ke sana untuk bekerja bukan untuk liburan, jangan mengganggu ku oke!?"

"Justru itu. Eomma tidak akan mengganggumu karena saat kau bekerja eomma akan berjalan-jalan. Boleh ya sehunie.. Eomma ingin pergi ke Venezuela naik gondola" bujuk jaejoong pada Sehun. Berharap jika anaknya itu akan mengiyakan permintaanya.

"No.. No.. No..! Tidak eomma. Bagaimana dengan appa? Pria tua itu akan setres saat tidak menemukan istri cantiknya di atas ranjang, awww..."

"Mulut mu Oh Sehun.. Belajar dari mana? Apa dari Kai?"

Sehun meringis pedih sambil mengusap perutnya yang baru saja mendapat cubitan dari sang ibu.

Tidak, cubitan ibunya tidak sakit sama sekali di perut berototnya. Tapi ibunya mencubitnya di tempat terlarangnya. Ibunya mencubitnya di perut bagian kanannya. Yang membuatnya mati-matian mempertahankan wajah datarnya agar eommanya tidak curiga.

"Eommah.. Aku istirahat dulu ya? Aku lelah" ujarnya dan langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. Berharap eommanya tidak curiga dengan kelakuannya.

Jaejoong menatap penuh selidik pada sehun. Wajah anaknya tiba-tiba menjadi pucat hanya karena cubitan kecilnya.

"Sehunie, apa cubitan eomma sakit sayang? Maafkan eomma hm?" ia mendekati sehun dan duduk di ranjang anaknya.

Sehun menolehkan kepalanya pada ibunya yang berwajah cemas "Tidak eomma, jari eomma tidak pernah menyakiti ku" ujarnya sambil menggenggam tangan ibunya "Aku hanya sedang lelah dan mengantuk" bohongnya pada ibunya yang masih belum bisa bernafas lega.

"Eomma.."

"Arasseo.. Eomma percaya" jaejoong menunduk dan mengecup kening sehun "Selamat beristirahat sehunie" dan mulai berjalan keluar dari kamar putranya.

Setelah kepergian jaejoong sehun bernafas lega, dan sedikit bergeser dengan susah payah untuk mengambil obatnya yang ada di laci nakas, meneguknya langsung beberapa butir berharap sakitnya akan segera hilang. Keringatnya sudah membanjiri keningnya.

Saat ini dia hanya berharap jika ia tidak akan pingsan. Karena akan lebih kacau jika ia pingsan di dalam rumah dan ibunya yang menemukannya. Maka tidak hanya ia yang masuk ruang operasi, namun ibunya sudah di pastikan akan lebih sekarat darinya.

.

.

.

Suasana kamar milik ketiga gadis cantik itu yang sepi senyap mendadak jadi bising saat Phonsel berwarna keemasan di nakas berdering dengan suara ribut yang memelas; berkali-kali hingga terdengar menyebalkan di telinga si gadis bermata sipit. Salah satu tubuh mungil di atas ranjang yang terbalut selimut tebal itu bergeming saat suara itu semakin tinggi dan menganggu, bahkan suaranya mengalahkan dengkuran salah satu temannya yang keras.

Angin malam menerobos masuk dari sela-sela jendela kaca yang terbuka, tirai berwarna keemasannya melambai indah dan menyejukkan kamar gelap itu.

Ponsel di atas nakas itu terus menyala berkerlap-kerlip dengan suara ribut yang membuat salah satu gadis di sana mendengus kesal.

Sedangkan gadis satunya yang di atas ranjang hanya menggeliat kecil merespon suara berisik itu lalu meraih boneka rusanya; memeluknya dan kembali memasuki alam mimpi untuk bertemu pangeran-pangeran berkuda putih impiannya.

"AAAHHHH, XI LUHAN!" gadis bermata sipit yang mendengus tadi terduduk di atas ranjang dengan lingernie berbahan sutranya, rambut hitam panjang acak-acakan, dan mata sipit yang masih terpejam rapat.

Gadis bermata sipit itu menyentakkan selimut tebalnya dan setelah itu melemparkan selimut itu kearah pemilik phonsel yang masih berdering ribut. Dan dengan kepalan tangan dan suara serak khas bangun tidurnya dia berteriak nyaring.

"XI LUHAN MATIKAN PHONSEL SIALAN ITU ATAU KU HANCURKAN SEKARANG JUGA!" Gadis itu rasa, dia sudah mengeluarkan suara melengkingnya senyaring mungkin. Namun, tetap tidak ada jawaban dan itu membuat kepala gadis cantik itu berdenyut sakit. Dia mendesah sementara suara dering phonsel tidak juga berniat untuk berhenti. Dengan marah dia mencoba untuk membangunkan Luhan dengan cara menggoyang-goyangkan tubuh gadis itu, namun nihil.. Si pemilik phonsel justru semakin meringkuk nyaman.

Gadis bermata sipit itu berdecak kesal dan bergegas menghampiri nakas yang terisi phonsel Luhan yang masih berdering ribut. Dia mengangkat ponsel itu dengan sebal lalu merasakan telinganya berdenging akibat mendengar suara ringisan dari seberang sana.

Dia menghela napas dan mendesah panjang. Kedua tangannya berkacak pinggang dengan mata melotot menatap ranjang yang terisi seonggok daging bernama Xi Luhan yang masih mendengkur halus. Dengan sebal dia mengeluarkan jurus judonya dan menendang bokong berbalut selimut tebal itu. Karena tidak kunjung berhasil, gadis cantik itu menarik kuat selimut yang membalut tubuh Luhan sehingga membuat si pemilik phonsel nyarus jatuh dari ranjangnya.

"XI LUHAN!" teriaknya dengan suara melengking kebanggaannya.

Luhan mengeluarkan suara samar sebagai reaksinya. "Apa-apaan sih, baek," gerutunya sebal dengan bibir mengerucut imut "Ini masih tengah malam,"

"Phonselmu bodoh.., Ada yang menelpon!"

Luhan menguap dan menegakkan tubuhnya sambil mengucek matanya yang masih berat. Ia menguap dengan begitu lebar namun tetap terlihat cantik di mata Baekhyun.

Luhan, wanita itu menggunakan lingernie merah transparan sama seperti milik Baekhyun. Wajah cantiknya begitu terlihat menggemaskan saat rambut coklat keemasannya jatuh menutupi sebagian wajah cantik itu. Dia melirik ponselnya dengan matanya yang berat menahan kantuk.

"Siapa menelpon di tengah malam seperti ini?" gumamnya parau dan kembali menguap "Kenapa kau berteriak di tengah malam begini baekie?"

Mendengar pertanyaan itu mata sipit Baekhyun melotot ke arahnya "Tanyakan itu pada phonsel sialanmu itu, Luhan!" lalu dia mengeluarkan suara menggerutu sebal dan beranjak keluar dari kamar Luhan menuju kamar si kembar; meninggalkan Luhan yang menatapnya dengan mata mengantuk dan alis yang berkerut.

"Siapa sih..?" gumamnya dan mengangkat phonselnya yang kembali berdering ribut. Seharusnya dia mengatur silent mode sebelum dia tidur tadi.

"Yeoboseyo.." Sapanya serak, tidak tahu siapa yang menelponnya karena tidak ada nama yang tertera di sana.

"Dokter Xi.. " terdengar suara ringisan di seberang sana, nafasnya tersengal bersahutan.

"Siapa ini?" Tanyanya sedikit panik saat mendengar geraman kesakitan dari si penelpon.

"Sehun.. Oh sehun"

"Astaga sehun-ssi apa yang terjadi?" Luhan langsung bangkit dan mengambil mantel untuk menutupi lingernienya, memasang sepatu ket dan mempersiapkan tas alat kesehatannya dengan phonsel masih menempel di telinganya.

"Dokter Xi.." Panggil Sehun di seberang sana benar-benar terdengar sekarat.

"Tuan.. Katakan sesuatu tuan?! " Ujarnya tidak sabaran, dia sudah mengambil konci mobilnya dan menuruni tangga. Karena ia yakin jika seorang pasien menelponnya tengah malam begini pastilah itu darurat, sangat darurat.

"Datang kemari, ke alamat yang ku kirim. Dan jangan katakan pada siapapun yang kau temui nanti jika kau seorang dokter"

"Tapi tuan.. "

"Katakan kepada orang-orang yang kau temui nanti kalau kau adalah temanku. Kemarilah dokter Xi.. Jangan memakai seragam doktermu. Jangan sampai ada yang tahu jika kau seorang dokter, dokter Xi" jelas sehun susah payah, ringisannya berhasil membuat bulu-bulu halus Luhan meremang. Dia bisa membayangkan betapa kesakitannya pria itu saat ini.

"Arasseo..arasseo aku mengerti. Kirimkan alamatnya hm? Aku kesana sekarang"

Pip..

Luhan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi di tengah malam seperti ini. Jalanan begitu lengang membuatnya cepat sampai ke alamat yang di kirimkan Sehun padanya.

Luhan menutup pintu bugattinya dengan perasaan campur aduk. Dia sudah berada di depan sebuah rumah besar nan mewah ini sejak lima menit yang lalu.

Rumah ini begitu mewah. Nyaris semewah rumah orang tuanya sendiri yang berada di China.

Lupakan orang tua mu Luhan...!

Luhan menghela napas dan berkaca untuk kesekian kalinya di jendela bugattinya untuk mengecek penampilannya sebelum bertemu Sehun. Tidak mengerti juga kenapa ia harus mengecek penampilannya hanya karena pria menyebalkan seperti itu.

Luhan melirik alamat yang diberikan Sehun, alamat yang menghantarkan Luhan ke rumah mewah ini. Rumah megah raksasa yang menakjubkan. Luhan meluruskan coatnya lalu melangkah ke beranda; sepatu ketnya yang bergesekan dengan marmer menimbulkan suara saat dia melangkah. Suasana sepi dan temaram di sini membuatnya sempat bergidik takut.

"Ada yang bisa kami bantu nona?"

Luhan di buat terkejut dan takjub oleh mewahnya rumah ini, namun gadis cantik yang sedang menahan hawa dingin itu di buat lebih takjub lagi saat tengah malam seperti ini masih ada para maid yang menyambutnya. Belum lagi mereka semua masih berpakaian seragam dengan begitu rapi.

'Apa mereka tidak tidur?' pikirnya.

Sangat wajar jika para penjaga atau security masih terjaga di tengah malam seperti ini. Tapi ini maid, maid!

"Saya ingin bertemu Oh Sehun..." Jawabnya agak gugup karena menyebut nama pria itu dengan begitu lantang.

"Tuan muda Sehun?" tanya maid itu. Mungkin dia sedikit heran karena selama ia bekerja di sini belum pernah sekalipun dia melihat teman perempuan sehun berkunjung ke sini. Semua orang juga tahu jika tuan muda mereka itu hanya memiliki teman sebanyak tiga biji, dan itu semuanya bergender laki-laki. Bukan perempuan cantik seperti ini.

Dan akhirnya otak penasaran mereka bertanya 'Apa ini kekasih tuan muda sehun?' Perempuan cantik berkunjung ke rumah pria di jam selarut ini, siapa lagi jika bukan orang terdekat tuannya?.

"Maaf nona. Sepertinya Tuan Sehun sudah terlelap" Jawabnya begitu sopan sambil melihat jam yang bertengger pongah menunjuk ke angka satu dini hari.

Mendengar itu Luhan tersenyum, ternyata pria tampan yang sedang sekarat itu benar-benar merahasiakan penyakitnya meskipun ia sedang sekarat seperti ini.

"Dia yang meminta saya datang ke mari bibi. Katanya itu penting" Jawab Luhan sedikit gugup, dia tidak pernah pandai berbohong, apa lagi harus membohongi wanita tua seperti ini.

"Baiklah.. Ikut saya nona..!" Ujar pelayan itu dan mulai membawa Luhan melalui beberapa belokan sebelum akhirnya tiba di depan pintu kamar berwarna putih dengan aksen keemasan di setiap ukirannya.

"Silahkan nona, ini kamar Tuan Sehun" Ujar wanita tua itu dan langsung pergi meninggalkan Luhan. Dia masih sayang pekerjaannya untuk mengetuk pintu terlarang itu. Pintu yang boleh di buka oleh orang-orang tertentu saja, dan dia tidak termasuk dalam golongan orang-orang beruntung tersebut.

Setelah kepergian maid itu Luhan terdiam, seumur hidupnya dia belum pernah mengunjungi rumah pria asing, apa lagi sampai harus memasuki kamarnya, di tengah malam pula. Dan Luhan berani bertaruh jika beberapa maid tadi pasti berfikir yang tidak-tidak tentangnya.

Dengan ragu, Luhan mendorong gagang pintu itu. Namun terkunci, 'astagaaa... Apa pria itu berniat mati membusuk seorang diri?' gumamnya begitu salut dengan usaha pria itu untuk menyembunyikan penyakitnya.

Terpaksa Luhan harus mengepalkan tangan menggigilnya untuk mengetuk pintu ini.

Tok.. Tok.. Tok...

Dia mengetuknya dengan cepat, tidak sabar.

Cklek..

"Dokter Xi.."

Luhan berjengit kaget saat melihat tubuh menjulang Sehun yang ada di hadapannya.

Jika di lihat dari betapa cepatnya pria ini membukakan pintu untuknya, maka sudah di pastikan jika ia sudah merangkak sedari tadi di depan pintu untuk menunggu kedatangannya.

"Tuan.."

"Ssstt.. Masuklah" Ujarnya sedikit membungkuk untuk menahan perutnya yang luar biasa sakit.

Luhan mengikuti Sehun ke arah ranjang mewahnya, bahkan ranjangnya lebih besar dari ranjang yang mereka gunakan untuk tidur bertiga di rumah Kyungsoo. Sial.., Luhan tiba-tiba merinding memikirkan betapa kayanya pria ini.

Setibanya di ranjang, Sehun langsung tersungkur sambil mengerang sakit. Dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk merangkak membukakan pintunya yang sengaja ia kunci. Dan sekarang perutnya yang sakit semenjak mendapatkan cubitan ibunya tadi sore semakin sakit.

"Tuan.. " Luhan berlari mengejar sehun dan duduk di samping pria itu yang sedang meringkuk kesakitan. Luhan bahkan di buat meringis melihat betapa sakitnya jika di lihat dari ekspresi pria ini.

"Ssshhhh telingaku ikut sakit mendengar mu yang selalu memanggilku dengan panggilan pak tua itu" gerutunya sebal.

'Dasar keparat. Sedang sekarat seperti ini saja masih sempat-sempatnya menggerutu'

"Baiklah maaf sudah membuat telingamu sakit" Luhan menghela nafasnya, dia harus memberi pelajaran pada pria ini, sudah kepalang tanggung.

"Oh Sehun berbaring telentang!" perintahnya dengan nada galak yang jarang sekali ia keluarkan. Bahkan ia sudah meninggalkan embel-embel ssi, anda dan kalimat formal lainnya. Bukankah sehun menyuruhnya begitu?

Sehun yang mendengar nada galak itu melotot tak percaya. Wanita ini.. Untung sehun sedang sekarat. Jika tidak dengan senang hati sehun akan membekap mulut kurang ajarnya dan mengikatnya di atas ranjang.., eh?

Dengan perlahan dan bantuan dari tangan halus yang membuatnya berdesir itu, Sehun berhasil menelentangkan tubuhnya. Dan semakin sakit saat wanita cantik itu menekan perut sensitifnya. Sialan.. Sepertinya wanita ini sengaja.

Saat Sehun sudah berbaring dengan benar, tanpa suara Luhan memeriksakan kondisi pria itu "Pasang infus lagi yaa.. Kita masukkan obatnya dari sana" Ujarnya kembali menjadi Luhan si dokter cantik yang begitu lembut dan perhatian, sekesal apa pun ia, ia tetaplah wanita yang memiliki jiwa seorang dokter, seorang yang tidak pernah tega melihat pasiennya kesakitan.

"Sshhhhhh... "

"Tahan Oh Sehun, ini hanya jarum kecil..!" Ujarnya kembali menjadi Luhan yang ketus. Sehun di buat menghela nafas mendengarnya. Wanita ini mentang-mentang Sehun menyuruhnya untuk tidak terlalu formal dengannya bukan bearti dia bebas membentak sehun seenaknya kan?

"Sudah berapa jam kau sekarat seperti ini?"

Mulut cantik itu astagaa...

"Sejak aku pulang dari mengantarmu tadi sore" Jawabnya lemah yang membuat Luhan membelalak kaget.

"MWO! Selama itu? Kau sudah menahan sakitnya lebih dari enam jam? Waaah.." Tanya Luhan tidak percaya dengan kelakuan pria ini. Luhan harus memberinya penghargaan karena kekuatan pria ini yang begitu tahan menahan rasa sakitnya "Kenapa tidak menghubungi ku sejak tadi?" Tanyanya lagi, terdengar begitu mengharap jika Sehun akan langsung menghubunginya.

"Tadi eommaku belum tidur.." Jawabnya lagi. Masih memiliki tenaga karena sepertinya obat yang dokter cantik ini masukkan ke dalam infusnya sudah bekerja dengan baik.

Mendengar itu Luhan mengangguk mengerti. Pria ini benar-benar menyayangi ibunya. Membuatnya sedikit iri karena dia tidak memiliki seorang ibu.

Luhan mengelap bintik-bintik keringat di kening Sehun "Lalu, apa yang membuat perutmu sakit? Apa kau salah makan lagi?" Tanyanya begitu perhatian, tidak sadar jika perlakuannya membuat dada Sehun berdesir hangat. Bagimana pun Sehun paling suka dengan wanita yang perhatian, maksudnya yang tulus, bukan yang perhatian karena ingin mencari muka padanya.

Sehun menggeleng, bukan karena salah makan perutnya menjadi kumat begini.

"Lalu? Karena apa jika bukan salah makan? Apa tadi kau habis berolahraga?" Tebaknya asal, karena tidak mungkin sehun berolahraga dengan pakaian necis khas kantorannya. Sekarang Luhan semakin tahu betapa sakitnya perut pria ini, dia bahkan tidak bisa mengganti bajunya.

"Eommaku mencubit perutku.." Jawabnya enggan, karena hal itu terdengar sangat memalukan di telinganya.

Tapi tidak untuk Luhan, hal itu tidak terdengar memalukan sama sekali. Justru ia iri, benar-benar iri karena jangankan merasakan cubitannya, melihat wajah ibunya saja Luhan tidak pernah.

Luhan menatap Sehun dengan senyuman hangatnya "Kau sedikit demam.." Katanya tanpa menghentikan usapannya di kening berkeringat Sehun "Haruskah aku mengompresmu?"

Sehun mengangguk, menerima dengan senang hati niat baik wanita ini yang mau repot-repot merawatnya. Apa semua dokter memiliki jiwa setulus ini? Jika iya, maka sehun akan mengencani seorang dokter saja. Dokter yang berparas cantik jelita pastinya.

"Ambil saja komoresannya di bawah, tanyakan pada salah satu pelayan yang masih terjaga" Jelasnya yang langsung di angguki oleh Luhan.

Setelah itu Luhan langsung bangun dari posisi duduknya, ingin segera keluar dan mengambil kompresan untuk pasiennya yang sedang demam. Tapi sebelum itu, suara pria tampan itu menghentikan langkahnya "Jika ada yang bertanya katakan saja aku sedang demam, jangan katakan apa pun tentang ususku!" Kata Sehun pada Luhan yang langsung mengangguk mengerti dan memberikan senyuman menawannya untuk Sehun.

"Baiklah.. Tunggu sebentar ya..?!" Dan setelah itu Luhan benar-benar keluar, tubuh mungilnya sudah menghilang di balik pintu yang membuat sehun tiba-tiba merasa sepi.

Sedangkan Luhan yang baru saja keluar dari kamar Sehun sedikit bingung. Dia harus kemana? Dia tidak tahu di mana letak dapur Sehun. Apa lagi rumah ini begitu besar, tidak bisa di sebut rumah karena bangunannya yang begitu luas dan megah, rumah ini sudah setara dengan sebuah mansion.

Dengan ragu Luhan melangkah ke arah kanan, menuruni tangga bergaya klasik yang meliuk begitu cantik. Membuat Luhan berharap jika suatu saat nanti dia bisa membangun rumah mewah yang bergaya modern klasik seperti rumah Sehun.

Setelah Luhan menuruni anak tangga ia di buat bingung lagi, harus kemana ia. Netranya tidak melihat satu pun keberadaan pelayan.

"Nona..!"

Luhan terlonjak kaget, benar-benar kaget saat seseorang menepuk bahunya dari belakang. Untungnya Luhan tidak pernah menonton film horor, sehingga dia tidak berfantasi jika tangan halus yang sedang menepuk bahu kanannya adalah tangan hantu.

Perlahan Luhan membalikkan tubuhnya, dan di hadapkan dengan wajah wanita yang ia tebak berumur di atas empat puluhan yang masih begitu cantik, tubuhnya di balut piama tidur berbahan sutra yang membuat Luhan iri. Wajahnya begitu cantik dengan senyum manis terukir di bibir mungilnya.

"Maaf mengagetkan.." Ujar Jaejoong, si pelaku yang membuat Luhan kaget "Anda siapa nona? Kenapa berkeliaran di rumah saya?"

Mendengar itu Luhan jadi gugup. Rumah saya? Apa wanita ini noonanya Oh Sehun, atau ibunya Oh Sehun? "Em.. Saya Xi Luhan, saya temannya Oh Sehun" Jawabnya gugup dan sedikit lirih saat ia menyebutkan nama sehun. Dia belum terbiasa.

Mendengar jawaban gugup dari wanita cantik ini Jaejoong tersenyum. Sejujurnya dia memang sengaja mengikuti Luhan. Beberapa saat lalu salah satu maidnya yang memang ia tugaskan untuk mengawasi Sehun mengetuk pintu kamarnya, dan langsung melaporkan jika ada wanita cantik yang mengunjungi putra tampannya. Dan memang dasarnya Jaejoong adalah makhluk yang begitu kepo jika sudah menyangkut tentang putranya, maka ia langsung saja meninggalkan suaminya mendengkur sendiri di dalam kamar mereka dan mulai mencari tahu siapa gerangan wanita cantik yang di maksud maidnya.

Dan ternyata wanita cantik ini adalah wanita yang putranya ajak untuk makan siang bersama tadi siang. Membuat Jaejoong tersenyum dan sedikit berharap. Berharap semoga anaknya mengabulkan keinginannya untuk segera mempunyai menantu dan menimang cucu seperti teman-temannya yang lain.

Masih dengan senyuman cantiknya jaejoong menatap wajah cantik Luhan yang sedang menunduk takut "Jangan takut..!" Ujarnya lagi "Aku adalah ibunya Oh sehun"

Dan Luhan semakin di buat takut lagi saat mengetahui jika wanita cantik ini adalah ibunya Oh Sehun. Ibunya yang katanya memiliki jantung yang lemah, yang membuat sehun mati-matian menyembunyikan penyakitnya.

Sebesar itu kah kasih sayang seorang ibu kepada anaknya? Dan sebesar itukah kasih sayang seorang anak kepada ibunya?

Jujur saja Luhan tidak tahu, karena ia tidak pernah merasakan perasaan seperti itu.

"Ada keperluan apa kau kemari? Sepertinya kau sedang mencari sesuatu?" Tanya Jaejoong lagi. Sedikit geli melihat jari-jari mungil wanita ini yang sedang memilin-milin coatnya.

"Emm anu.." ah sialan.. Luhan benar-benar gugup. Dia takut keceplosan tentang penyakit Sehun "Saya sedang mencari dapur Nyonya" Jawabnya setelah ia bisa mengendalikan kegugupannya.

"Dapur?.." Tanyanya lagi "Apa kau lapar atau haus sayang? Apa Sehunie tidak memperlakukan mu dengan baik hm?"

Tuhan...! Hati Luhan berdesir hangat. Pantas saja Sehun begitu menyayangi dan menjaga ibunya dengan baik. Wanita ini benar-benar hangat, benar-benar sosok ibu yang di impikan semua orang. Luhan ingin menangis rasanya saat wanita cantik ini memanggilnya sayang.

"Anio Nyonya.. " Luhan menggeleng lucu "Aku tidak lapar dan tidak haus juga. Aku hanya ingin mengambil sesuatu di dapur" jawabnya lagi.

"Sesuatu? Apa itu sayang? Biar eomma ambilkan hm?"

Ya Tuhan.. Air mata sudah menggenang di pelupuk mata Luhan. Seumur hidupnya baru kali ini ia mendengar kata 'eomma' dengan begitu hangat.

Jasper dengan Dennis memang selalu memanggilnya eomma. Tapi ini berbeda rasanya. Ini berbeda ceritanya.

"Ayo ikuti eomma sayang.." ujar Jaejoong sambil menuntun Luhan ke arah dapur. Dia begitu senang saat mendapati ada seorang gadis di rumahnya yang 'sepi' ini. Demi Tuhan ini pertama kalinya putra tampannya itu membawa seorang gadis ke rumah ini. Apa lagi di tengah malam seperti ini.

Dan jangan salahkan Luhan jika ia benar-benar menitikkan air matanya saat tangan hangat wanita ini menggenggam tangannya. Sudah ia katakan kan sebelumnya jika ia memiliki dua kelemahan di dalam hidupnya.

Orang tua ( ibu ) dan pria tampan yang kaya raya. Meskipun jenis kelemahannya dalam konteks yang berbeda.

Luhan buru-buru menghapus air matanya saat wanita yang berstatus sebagai ibunya Oh sehun ini membalikkan badannya menghadapnya "Sampai.." ujar Jaejoong begitu ceria yang mengundang senyuman manis di wajah Luhan "Sekarang apa yang kau butuhkan sayang?" Tanyanya lagi.

"Emh itu.." Luhan menundukkan kepalanya "Aku butuh kompresan Nyonya"

"Kompres..?" Tanya Jaejoong agak kaget.

Luhan mengangguk "Em.. Kompres"

"Untuk siapa sayang?" Tanyanya lagi, perasaannya sudah mulai tidak enak.

"Untuk Sehun.." Jawabnya lemah, yang membuat jaejoong langsung cemas.

"Apa yang terjadi dengan anakku..?" Tanyanya cemas. Dan Luhan langsung menggenggam tangan wanita itu yang sudah berniat ingin pergi menemui sehun sepertinya.

Sekarang Luhan tahu, pantas saja Sehun mati-matian menyembunyikan penyakitnya. Baru mendengar kata kompres saja wanita ini sudah pucat pasi, apa lagi jika ia mendengar pisau bedah dan lainnya. Luhan bergidik ngeri tidak bisa membayangkan betapa shocknya wanita ini nanti.

"Nyonya.. Sehun bilang dia hanya sedikit demam. Tubuhnya tidak terlalu panas kok, dia hanya sedikit lelah" Jelasnya untuk mengurangi kecemasan yang sedang menghampiri wanita ini.

"Pantas saja tadi sore wajahnya begitu pucat " Lirih Jaejoong dan mulai mengisi baskom stanlis dengan air dingin dan handuk khusus kompresan.

"Ini sayang.. Ayo eomma temani!"

"Tidak perlu nyonya. Biarkan saya saja yang merawat Sehun hm?" Ujar Luhan lagi. Sebenarnya ia agak geli mengatakan kalimat itu. Merawat orang memang sudah menjadi pekerjaannya, tapi ini jelas berbeda. Yang sedang ia rawat adalah Sehun, Oh Sehun.

Mendengar itu Jaejoong tersenyum. Di pikirannya saat ini adalah jika Sehunnya sedang ingin berduaan dengan kekasihnya dan merasakan perhatian dari sang kekasih.

"Baiklah.., panggil eomma saja jika kau butuh sesuatu ya..?"

"Ne nyonya.." Jawab Luhan begitu lega dan mulai melangkahkan kakinya untuk kembali ke kamar Sehun. Karena ia tebak jika pria itu pasti sudah menggerutu sebal karena ia yang begitu lama.

Cklek...

Tebakan Luhan salah, pria itu bukannya sedang menggerutu, justru ia sedang tertidur begitu damai. Kelopak matanya yang di bingkai alis tebal itu sedang terpejam begitu pulas. Wajah pucatnya terlihat begitu polos. Berbeda sekali dengan wajah dingin dan pongahnya yang selalu Luhan lihat.

Dengan hati-hati Luhan mendudukkan dirinya di samping Sehun, dan dengan halus ia menempelkan handuk kompresan itu di kening berkeringatnya. Sesekali ia akan menghapus keringat pria itu yang berada di pipi dan lehernya. Yang mana hal itu membuat Sehun yang hanya sedang memejamkan matanya jadi merinding karenanya.

Cukup lama Luhan melakukan hal itu dalam diam. Mata beningnya menatap wajah Sehun yang benar-benar tampan jika di lihat dari jarak sedekat ini.

Rambut hitam arangnya yang lebat, kening sempitnya yang begitu mempesona, mata hazel yang memiliki alis tebal yang menukik tajam, hidung mancungnya yang benar-benar memiliki pahatan yang sempurna, di tambah lagi dengan rahang tegasnya yang membuat pria ini benar-benar terlihat mempesona. Belum lagi bibir tipis namun berisi itu yan berwarna merah alami, begitu kontras dengan kulitnya yang berwarna putih tulang nyaris pucatnya. Luhan akui, pria ini benar-benar tampan, sangat tampan.

Luhan pikir, Tuhan terlalu pilih kasih dengan pria ini. Tampan, kaya raya, berasal dari keluarga terpandang dan memiliki orang tua yang begitu menyayanginya. Andai saja pria ini memiliki hati sesempurna wajahnya, maka sudah di pastikan ia akan jatuh cinta padanya. Ya.. Andai saja, karena Luhan sudah muak dengan pria tampan yang kaya raya namun tidak mempunyai hati.

Luhan membawa matanya untuk melirik pada jam dinding yang menggantung sempurna di kamar Sehun "Hampir jam tiga.." gumamnya lesu. Itu artinya dia tidak mempunyai waktu lagi untuk tidur jika tidak ingin terlambat datang ke kliniknya besok pagi.

Lagi, dengan gerakan yang teramat hati-hati Luhan membereskan semua peralatan kesehatannya. Dan mulai memasukkannya ke dalam tas. Setelah itu ia berdiri dan berniat hendak pulang, namun cekalan di tangan kanannya membuatnya menghentikan langkahnya.

"Mau kemana..?" Tanya Sehun serak.

Luhan memberikan senyuman manisnya pada Sehun dan membasahi lagi handuk kompres itu "Aku harus pulang. Ini sudah hampir pagi" jawabnya sambil mengompres kening Sehun.

Mendengar itu Sehun menggeleng tidak setuju "Bagaimana jika perutku sakit lagi?"

"Aku sudah memberikan banyak antibiotik padamu. Berdoa saja semoga perutmu baik-baik saja" jelasnya yang langsung di tanggapi gelengan lemah oleh Sehun.

"Sebentar lagi pagi, istirahat saja dulu di sini. Nanti aku akan mengantarmu pulang" Ujar Sehun lagi, matanya langsung menatap bola mata cantik Luhan, yang membuat wanita cantik itu langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.

Luhan melirik ke sana kemari, ia sedang berfikir bagaimana caranya agar dia bisa pulang dan terbebas dari pria berbahaya ini.

"Kemari, tidurlah sebentar. Bukankah kau sudah berjanji untuk merawatku dengan baik?" Ujar Sehun sambil menggeser tubuhnya ke pinggir dan menyuruh Luhan untuk tidur di ranjangnya yang luas, Luhan tebak jika ranjang ini bisa di tiduri oleh empat bahkan lima orang sekaligus.

Luhan menghela nafasnya, jujur saja dia sedikit mengantuk "Aku akan tetap di sini menjagamu. Kau tidur saja" ujarnya lagi, tidak lupa senyum manis selalu terukir di wajah cantiknya.

"Janji tidak akan pulang?" Tanya Sehun kekanakan. Sebenarnya apa sih yang dia mau?

"Em aku janji.. Tidurlah..!" balas Luhan lagi dan mulai menyelimuti pria itu. Meskipun ia sedikit ragu karena pria ini masih menggunakan pakaiannya tadi siang "Sehun.., mau mengganti baju? Kau pasti tidak nyaman?" Tanyanya lagi, masih sempatnya memikirkan kenyamanan orang yang sudah membuatnya repot dan melewatkan waktu tidurnya.

Mendengar itu Sehun mengangguk senang, wanita ini kenapa peka sekali? Apa ia tahu jika betapa tidak nyamannya Sehun karena masih memakai kemeja kerjanya ini.

"Mau mengambilkan baju untukku?"

"Di mana..?"

"Sebelah sana, itu lemarinya" jawab Sehun sambil menunjuk lemari panjang berwarna coklat kayu yang menyatu dengan dinding.

"Oke.." jawab Luhan dan mulai memilih baju apa yang biasa Sehun pakai untuk tidur "T-shirt tipis saja Luhan" Ujar Sehun saat ia melihat wajah cantik itu berkerut bingung.

Kebetulan sekali, Luhan mengangguk senang saat di tangannya sudah ada tshirt putih yang Sehun maksud.

"Ini.." Ia langsung memberikan kaos itu pada Sehun dan menoleh ke arah lain. Tidak mau melihat otot perut sempurna sehun walaupun dalam hati ia berharap bisa melihatnya, ayolah dia tidak selugu Kyungsoo, dia wanita dewasa yang sudah berumur dua puluh empat tahun.

"Selesai...berbaliklah Luhan..!"

"Ne.. " Luhan membalikkan tubuhnya dan mendudukkan dirinya lagi di ranjang Sehun "Kau tidurlah.. Aku yakin jika kau belum tertidur sedetikpun sejak sore tadi" ujarnya yang lagi-lagi membuat Sehun tahu betapa peka dan perhatiannya wanita cantik ini.

Setelah itu tidak ada yang bersuara. Sehun memilih untuk mengikuti saran Luhan untuk tertidur, berharap saat bangun nanti perutnya tidak akan sakit lagi. Begitupun dengan Luhan. Ia lebih memilih duduk termenung menjaga sang pasien spesial, dan sesekali ia akan mengecek cairan infus Sehun. Takut jika cairannya habis maka jarum itu akan menyedot darah Sehun.

Cukup lama Luhan terdiam memandangi wajah damai Sehun seorang diri, sehingga membuatnya tidak bisa lagi menahan penyangga matanya yang sejak tadi ingin terpejam. Karena sudah lelah dan tidak tahu lagi harus melakukan apa, jadi wanita cantik yang masih menggunakan mantel hangatnya itu meringkuk di kasur sehun. Memilih untuk memejamkan matanya yang sudah tidak bisa lagi di ajak kerjasama. Berharap jika pagi nanti ia akan membuka mata lebih dulu dari Sehun, dan bisa pergi bekerja untuk merawat pasiennya yang lain yang membutuhkannya.

'Selamat tidur Luhan-ah/Selamat tidur Sehun-ah'

.

.

.

Tbc

Terima kasih untuk semuanya yang sudah follow, favorite and sampe repot2 mau review. Sekali lagi terima kasih. And ada yang nanya kenapa aku up di ffn gg secepat saat aku up di wattpad. Jawabannya adalah jujur saja aku lebih nyaman di wattpad soalnya di sana udh banyak temen and bisa balas komentar kalian di sana. Di sini kan agak susah bales komennya. Maafin ya teman-teman. 520